Heraldik gerejawi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Lambang Kardinal Agostino Bausa di halaman wisma keuskupan agung Firenze.

Heraldik gerejawi (bahasa Inggris: ecclesiastical heraldry) mengacu pada penggunaan heraldik di dalam Gereja Kristen bagi keuskupan-keuskupan dan para rohaniwan Kristen. Heraldik gerejawi pada awalnya digunakan untuk menandai dokumen, kemudian berkembang sebagai suatu sistem untuk mengidentifikasi tokoh dan keuskupan. Heraldik gerejawi paling diformalkan penggunaannya di dalam Gereja Katolik; kebanyakan uskup, termasuk Paus, memiliki sebuah lambang personal. Kaum rohaniwan atau klerus dalam gereja-gereja Anglikan, Lutheran, Katolik Timur, dan Ortodoks Timur mengikuti kebiasaan serupa, sebagaimana yang diterapkan institusi-institusi seperti sekolah dan keuskupan.

Heraldik gerejawi utamanya berbeda dari heraldik lainnya dalam hal penggunaan insignia di sekitar perisai untuk mengindikasikan peringkat dalam suatu gereja atau denominasi. Di antara insignia-insignia tersebut yang paling dikenal adalah topi gerejawi yang pendek dan bertepi lebar, umumnya galero Roma. Warna dan pengornamenan topi ini mengindikasikan peringkat. Kardinal dikenal karena "topi merah"-nya, namun jabatan lainnya dan gereja lainnya memiliki warna-warna topi yang khas, seperti hitam untuk klerus biasa dan hijau untuk uskup, biasanya dengan sejumlah jumbai yang jumlahnya semakin banyak seiring dengan peringkatnya.

Insignia lainnya meliputi salib, mitra, dan tongkat gembala. Tradisi-tradisi Timur menggunakan tongkat gembala dan penutup kepala dengan gaya tersendiri, dan penggunaan mantiya atau jubah ketimbang topi gerejawi. Moto dan bentuk perisai tertentu lebih umum digunakan dalam hearaldik gerejawi, sedangkan penunjang dan mercu kurang umum digunakan. Lambang kepausan memiliki tradisi heraldik tersendiri, khususnya Tiara Kepausan (atau mitra), kunci Santo Petrus, dan umbraculum (payung). Paus Benediktus XVI mengganti penggunaan Tiara Kepausan dalam lambangnya dengan sebuah mitra. Ia menjadi Sri Paus pertama yang melakukannya, terlepas dari kenyataan bahwa Paus Paulus VI adalah Sri Paus terakhir yang dimahkotai dengan tiara. Lambang-lambang institusi memiliki tradisi yang sedikit berbeda, lebih sering menggunakan mitra dan tongkat gembala daripada lambang-lambang personal, meskipun terdapat variasi penggunaan yang luas dalam masing-masing gereja. Lambang yang digunakan oleh organisasi-organisasi disebut lambang impersonal atau korporat.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Segel abad ke-12 Stefan dari Uppsala
Reproduksi dari Segel Kesatria Templar abad pertengahan
Segel pribadi Martin Luther dari 1530, sekarang menjadi lambang Lutheranisme

Lambang berkembang di Eropa pada Abad Pertengahan dari akhir abad ke-11, awalnya sebagai sistem lencana pribadi dari kelas prajurit, yang dijadikan sebagai identifikasi medan tempur selain keperluan lainnya. Lambang yang sama digunakan pada segel untuk mengidentifikasikan dokumen. Segel-segel awal mewakili pemilik dari segel tersebut, dengan mencantumkan tameng dan tanda lambang.[1] Seiring waktu, segel digantikan dengan tameng.

Gereja juga mengidentifikasikan asal muasalnya dan kepemilikan dokumen dan bangunan dengan segel, yang biasanya berbentuk yang disebut vesica untuk membedakannya dari segel bundar dalam penggunaan non-agamis.[2] Pada 1307, Edward I dari mensyaratkan seluruh dokumen hukum harus menyertakan sebuah segel.[3] Segel-segel tersebut awalnya menggambarkan seseorang, namun karena segel-segel sekuler hanya menggambarkan sebuah tameng, rohaniwan menggunakan segel dengan tanda lambang.[4] Segel-segel pribadi uskup dan abbas masih digunakan setelah mereka wafat, yang secara pribadi menjadikannya segel impersonal.[3] Rohaniwan memutuskan untuk mengganti hiasan militer dengan hiasan klerik. Tamengnya dipertahankan, namun ketopong dan koronetnya seringkali diganti topi gerejawi. Dalam beberapa lambang keagamaan, ketopong digantikan tengkorak.[5]

Struktur lambang Gereja berkembang signifikan pada abad ke-17 saat sistem untuk topi gerejawi diatributkan kepada Pierre Palliot yang menggunakannya.[6] Sistem lambang penuh di sekitaran tameng giat dilakukan dalam Gereja Katolik menurut surat Paus Pius X Inter multiplices curas dari tanggal 21 Februari 1905, sementara komposisi tamengnya sendiri diatur melalui Komisi Lambang Kuria Roma sampai badan tersebut dibubarkan oleh Paus Yohanes XXIII pada 1960.[7] Annuario Pontificio menerbitkan lambang-lambang Kardinal dan Sri Paus sebelumnya setelah tahun 1969. Hukum nasional dan kebiasaan internasional mengatur batas aspek dari lambang Gereja, namun komposisi tameng saat ini sebagian besar dipandu oleh nasehat pakar. Uskup Agung Bruno Heim, seorang perancang lambang gerejawi, berkata

Lambang gerejawi tidak ditentukan oleh para pemegang lambang itu sendiri, namun juga oleh faktor doktrinal, liturgikal dan kanonikal. Lambang gerejawi tak hanya memprodiksi lambang yang menandakan para anggota gerejawi namun juga menampilkan pangkat pemegangnya.... Dalam sudut pandang gereja, lambang gerejawi menentukan siapa yang berhak memegang sebuah lambang gerejawi dan kondisi dimana lambang berbeda diakuisisi atau hilang... Rancangan lambang prelatial seringkali berbeda dari pemilik lambang, jika hanya ditentukan oleh selera.[8]

Sistem serupa untuk Gereja Inggris disetujui pada 1976.[9] Tradisi lambang Gereja Timur memiliki regulasi yang kurang berkembang. Lambang sekuler timur seringkali terdiri dari tameng yang dipakaikan mantel dan sebuah mahkota. Rohaniwan Timur seringkali memakai lambang menurut gaya tersebut dengan mahkota digantikan dengan topi yang digunakan dalam liturgi.

Penanda dokumen merupakan penggunaan labang paling umum dalam Gereja saat ini. Lambang uskup Katolik Roma awalnya dilukiskan pada miniatur barel wine dan dipersembahkan pada penahbisan.[10][11] Kardinal menempatkan lambang mereka di luar gereja dari gelar mereka di Roma.[12] Lambang impersonal seringkali digunakan sebagai spanduk sekolah atau komunitas keagamaan.

Tameng[sunting | sunting sumber]

Lambang seoranh abbess yang meliputi sebuah lozenge dengan crosier menghadap ke kiri

Tameng adalah hiasan normal bagi sebuah lambang. Rohaniwan menggunakan bentuk yang kurang militer seperti cartouche oval, namun tameng selalu menjadi opsi rohanjwn. Rohaniwan di Italia biasanya menggunakan tameng berbentuk seperti wajah kuda. Rohaniwan di Afrika Selatan terkadang mengikuti gaya nasional menggunakan tameng Nguni.[13] Wanita biasanya menghias lambang mereka dengan lozenge berbentuk berlian; abbess mengikuti tradisi ini atau menggunakan cartouche.

Rancangan pribadi[sunting | sunting sumber]

Dalam Gereja Katolik Roma, bila seorang uskup baru memiliki sebuah lambang keluarga, ia biasanya mengadopsi dalam simbol tamengnya yang mengindikasikan kepentingannya atau pelayanan masa lampaunya. Devosi kepada sebagian orang kudus diwakili oleh simbol yang didirikan dalam ikonografi dan tradisi lambang. Di Gereja Inggirs, uskup-uskup baru biasanya memiliki sebuah lambang yang secara keseluruhan tampak tak rohaniwan, setidaknya karena agar keturunan mereka dapat menggunakan kembali lambang tersebut, dan beberapa diantara mereka tampaknya menjadi rohaniwan.

Aturan lambang pertama adalah aturan tingtur: "Warna harus muncul pada warna, atau metal di atas metal."[14] Metal lambang adalah emas dan perak, biasanya diwakili dengan warna kuning dan putih, sementara merah, hijau, biru, ungu dan hitam biasanya terdiri dari warna-warna tersebut. Lambang yang disematkan ditujukan untuk pengakuan pada sebuah jarak (dalam pertempuran), dan sebuah kontras dari metal muda melawan warna gelap dilakukan. Prinsip yang sama dapat dilihat dalam pemilihan warna untuk sebagian besar plat lisensi.

Aturan tingtur ini seringkali terpecah dalam lambang-lambang rohaniwan: bendera dan lambang Kota Vatikan biasanya kuning (emas) dan putih (perak) yang ditempatkan bersamaan. Dalam tradisi Bizantium, warna-warna memiliki tafsiran mistis. Karena emas dan perak mengekspresikan sublimitas dan solemnitas, kombinasi dari dua warna tersebut seringkali menggunakan aturan tingtur.[15]

Marshalling[sunting | sunting sumber]

Lambang seorang uskup Anglikan yang di-marshall-kan dengan lambang keuskupan (tameng kiri) dan pasangan (tameng kanan)

Jika seorang uskup adalah uskup diokesan, biasanya ia mengkombinasikan lambang keuskupannya sesuai aturan lambang.[3] Hal ini mengkomibasikan istilah marshalling, dan biasanya diikuti oleh impalement, yang menempatkan lambang keuskupan di sisi kiri (dexter dalam lambang) dan lambang pribadi di sisi kanan. Lambang Thomas Arundel diketahui mengimpalkan lambang Tahta Canterbury dalam sebuah dokumen dari tahun 1411.[16] Di Jerman dan Swiss, quartering adalah norma ketimbang impalement. Guy Selvester, seorang pakar lambang gerejawi Amerika, berkata bahwa jika lambang tidak dirancang dengan perawata, marshalling dapat berujung pada "kesumpekan", yang memahkotai tameng. Pemahkotaan dapat dikurangi dengan penempatan tameng yang lebih kecil yang menutupi tameng yang lebih besar, yang dikenal sebagai inescutcheon atau escutcheon surtout. Pada lambang Heinrich Mussinghoff, Uskup Aachen, lambang pribadinya ditempatkan di depan lambang diokesan, namun aransemen berlawanan ditemukan di depan lambang Paul Gregory Bootkoski, Uskup Metuchen.[17][18] Para Kardinal terkadang mengkombinasikan lambang pribadi mereka dengan lambang Sri Paus yang mengangkat mereka menjadi Kardinal. Sebagai Prefek Rumah Tangga Kepausan, Jacques Martin mengimplakan lambang pribadinya dengan lambang dari tiga Paus berturut-turut.[19] Seorang uskup Gereja Inggris yang menikah mengkombinasikan lambangnya dengan lambang istrinya dan keuskupan pada dua tameng terpisah yang ditempatkan accollé, atau sisi per sisi.[20]

Uskup-uskup Katolik Roma di Inggris dulunya hanya menggunakan lambang pribadi mereka, karena keuskupan yang didirikan oleh Tahta Roma tidak menjadi bagian dari negara resmi Gereja Inggris dan tidak diakui hukum,[21][10] meskipun di Skotlandia, situasi hukum berbeda dan beberapa keuskupan Katolik Roma memiliki lambang. Jika seorang uskup suffragan atau auksilier memiliki sebuah lambang pribadi, ia tak dapat mengkombinasikannya dengan lambang keuskupan yang ia layani.[2]

Di sekitaran tameng[sunting | sunting sumber]

Lambang Uskup Agung abad kedelapan belas Arthur-Richard Dillon dengan galero (topi) hijau dan salib Patriarkhal di atas tameng, dan Ordo Jiwa Kudus di bawahnya, dan menampilkan lima belas tassel melebihi sepuluh yang menjadi standar

Tameng adalah inti dari lambang, namun unsur-unsur lainnya ditempatkan di atasnya, di bawahnya, dan di di sekitaran tameng, dan biasanya secara kolektif disebut ornamen eksternal.[2] Keseluruhan komposisi tersebut disebut prestasi lambang atau penyematan lambang. Beberapa aksesoris bersifat unik pada lambang Gereja atau berbeda dari lambang-lambang biasanya yang dicantumkan pada sebuah tameng.

Topi gerejawi[sunting | sunting sumber]

Topi gerejawi merupakan bagian khas dari pencapaian lambang rohaniwan Katolik. Topi tersebut, yang disebut galero (atau gallero), aslinya merupakan topi peziarah mirip sombrero. Topi tersebut diberi warna merah untuk kardinal oleh Paus Innosensius IV di Konsili Lyon Pertama pada abad ke-13, dan diadopsi dalam hampir seluruh lambang pada masa setelahnya. Galero dalam beragam warna dan bentuk digunakan dalam pencapaian lambang yang dimulai dengan pengadopsiannya dalam lambang-lambang para uskup pada abad ke-16. Pada abad ke-19, galero dipandang sebagai lambang khusus "Katolik",[22] namun Pendaftaran Lambang Publik di Skotlandia menunjukkan bahwa seluruh rohaniwan Katolik Roma, Gereja Prebiterian Skotlandia dan Episkopalian Anglikan menggunakan topi yang dimahkotai rendah. Galero dihias dengan tassel (juga disebut houppes atau fiocchi) yang menandakan tempat rohaniwan saat ini dalam hierarki; nomor menjadi signifikan pada permulaan abad ke-16, dan pengartiannya diteguhkan, bagi rohaniwan Katolik, pada 1832.[23] Galero uskup berwarna hijau dengan enam tassel di setiap sisi; warnanya bermula dari Spanyol dimana awalnya topi hijau sebenarnya dikenakan oleh para uskup.[24] Abbas teritorial setara dengan uskup dan menggunakan galero hijau. Galero uskup agung berwarna hijau namun memiliki sepuluh tassel. Para uskup di Swiss awalnya menggunakan sepuluh tassel seperti uskup agung karena mereka berada di bawah yuridiksi langsung Tahta Suci dan bukan bagian dari provinsi episkopal agung.[25] Baik patriarkh maupun kardinal memiliki topi dengan lima belas tassel. Topi kardinal berwarna merah atau scarlet sementara patrikah yang juga bukan kardinal menggunakan topi hijau; tassel-tassel patriarkh berwarna emas.[2] Primat menggunakan ornamen eksternal yang sama dengan patriarkh.[26][27]

Penggambaran galero pada lambang dapat sangat beragam tergantung pada gaya artisnya. Bagian atas topi ditampilkan datar atau bundar. Terkadang brim ditampilkan dalam keadaan lebih sempit; dengan bagian atas berkubah tampak seperti cappello romano dengan tassel, namun dalam lambang masih disebut galero. Tassel diwakili sebagai ikat simpul.

Lambang Uskup Joseph Zen dari Hong Kong dengan salib Latin sederhana, dan galero violet (sebelum ia diangkat menjadi kardinal imam)

Sebuah pengecualian dibuat bagi uskup-uskup Tiongkok, yang seringkali menghindari penggunaan topi hijau dalam lambang mereka semenjak "pengenaan topi hijau" dijadikan penanda pria yang menikahi istri pezina bagi Tiongkok.[28] Selain hijau, uskup-uskup menggunakan beragam warna dari violet dan hitam sampai biru, atau scarlet jika seorang kardinal. Salib di belakang tameng menandakan seorang uskup.

Para prelatur Katolik Roma kecil menggunakan beragam warna. Topi violet sebenarnya sempat dipakai oleh monsinyur tertentu,[29] sehingga dalam lambang mereka menggunakan topi violet dengan tassel merah atau violet dalam beragam jumlah, biasanya enam pada masing-masing sisi. Monsinyur tingkat rendah, Chaplain Sri Paus, menggunakan topi hitam dengan tassel violet.[30] Superior umum dari sebuah ordo menghias galero hitam dengan enam tassel pada setiap sisi, sementara superior provinsial dan abbas menggunakan galero hitam dengan enam atau tiga tassel di setiap sisi, meskipun Norbertin (Kanon Putih) menggunakan galero putih. Meskipun imam jarang menggunakan lambang meskipun ia memiliki hak untuk membuat lambang rohaniwan independen, imam akan menggunakan topik gerejawi hitam dengan tassel tunggal pada setiap sisi. Imam yang memegang jabatan seperti rektor akan memiliki dua tassel di setiap sisi.[31]

Rohaniwan Gereja Inggris yang bukan uskup dulunya mengenakan lambang yang identik dengan kaum awam, dengan tameng, helm dan crest, dan bukannya tepi gerejawi. Di Inggris pada 1976, sebuah sistem untuk dean, deakon agung dan kanon diotoritasikan oleh College of Arms, yang membolehkan topi gerejawi hitam, tali hitam atau violet, dan tiga tassel violet atau merah di setiap sisi.[32][33][9] Imam menggunakan tali hitam dan putih dengan tassel tunggal di setiap sisi dan deakon menggunakan topi tanpa tassel. Doktor Divinitas memiliki tali berwarna merah dan topi yang diatur menurut derajat, dan para anggota Rumah Tangga Gerejawi menambahkan mawar Tudor di bagian atas topi. Menurut Boutell's Heraldry, sistem tersebut mewakili praktek Gereja di Inggris pada abad ke-16.[34]

Dalam lambang Gereja Presbiterian, topi pendeta berwarna hitam dengan tassel tunggal di setiap sisi, terkadang biru, melalui sebuah bonnet doktoral atau topi Jenewa menggantikan topi berbrim.[35] Rohaniwan dari Chapel Royal memakai tassel merah. Kantor moderator tak memiliki lambang korporat,[36] namun pada acara-acara resmi, moderator dapat menambahkan tassel pada lambang pribadinya untuk mengindikasikan paritas dengan jabatan-jabatan gereja lainnya: tiga untuk moderator presbiteri, dan enam untuk moderator sinode regional.[37] Moderator Sidang Umum Gereja Skotlandia sekarang menggunakan versi berbeda dari lambang Sidang Umum, dengan topi yang memiliki tali biru dan sepuluh tassel di setiap sisi, dan juga menampilkan staf moderator, crosier Keltik emas, di belakang tameng seperti yang dapat dilihat dalam volume 41, halaman 152 dari Scots Public Register.

Salib[sunting | sunting sumber]

Lambang Uskup Antônio de Castro Mayer, yang diukir di sebuah pintu kayu sebuah Gereja.

Dalam Gereja Katolik, hiasan salib hanya di balik terbatas pada para uskup sebagai tanda dignitas mereka.[38] Salib dari seorang uskup biasa memiliki persegi garis memanjang dan garis melebar tunggal, yang juga salib Latin. Seorang patriarkh menggunakan salib patriarkhal dengan dua garis memanjang, yang juga disebut salib Lorraine. Salib kepausan memiliki tiga garis memanjang, namun tak pernah disematkan di balik lambang kepausan.

Bermula pada abad ke-15, salib dengan garis memanjang ganda tampak pada lambang-lambang uskup agung, dan berkaitan dengan salib prosesional mereka dan yuriskdiksi yang dilambangkan.[39][40] Kecuali untuk kardinal Kuria Roma, kebanyakan kardinal mengepalai sebuah keuskupan agung dan menggunakan salib episkopal agung pada lambang mereka. Kardinal lainnya menggunakan salib Latin sederhana,[41] seperti yang ditemukan dalam lambang Kardinal Joseph Zen, uskup emeritus Hong Kong, karena Hong Kong bukanlah sebuah keuskupan agung.

Saat ini, seluruh kardinal disyaratkan menjadi uskup, namun para imam yang diangkat menjadi kardinal karena lanjut usia seringkali membuat petisi kepada Sri Paus untuk mengecualikan aturan tersebut. Bruno Heim berkata bahwa semenjak salib adalah sebuah lambang yang hanya uskup saja yang memiliki hak untuk menyematkannya, kardinal yang bukan uskup tak dapat menggunakannya.[42][43] Contoh-contoh terkenalnya adalah Kardinal Albert Vanhoye dan Avery Dulles; lambang Dulles berisi sebuah salib.[44]

Mitre dan pallium[sunting | sunting sumber]

Lambang Gereja Ortodoks Suryani: crozier Timur disilangkan dengan salib berkat di bawah sorban uskup Suryani
Lambang Francis de Sales, uskup Jenewa terdiri dari sebuah tameng oval dengan mitre dan galero di atasnya, dan motto di bawahnya
Lambang Uskup tampak seperti sebelum aturan diubah pada 1969. Ini bukanlah versi resmi.

Di gereja-gerej barat, mitre ditempatkan di atas tameng seluruh orang yang mengenakan mitre, termasuk abbas. Hiasan tersebut tak hanya digunakan untuk menggantikan helmet dari busana militer, namun juga ditampilkan sebagai crest yang ditempatkan di atas helmet, seperti lambang Jerman pada umumnya.[2] Dalam Gereja-gereja Anglikan, mitre masih ditempatkan di atas lambang uskup dan bukannya topi gerejawi. Dalam Gereja Katolik Rama, penggunaan mitre di atas tameng pada lambang pribadi rohaniwan ditekankan pada 1969,[45] dan sekarang hanya ditemukan pada beberapa lambang korporat, seperti lambang-lambang keuskupan. Sebelumnya, mitre seringkali ditempatkan di bawah topi,[46] dan bahkan pada lambang kardinal, mitre tak ditampilkan seluruhnya.[47]

Mitre ditampilkan dalam seluruh warna. Lambang tersebut biasanya diwakilkan dengan warna emas atau berhias, warna emas lebih umum dalam lambang Inggris.[48] Bentuk mitre dengan coronet adalah perwujudan barang dari Uskup Durham karena perannya sebagai Pangeran-Uskup palatinate Durham.[49] Untuk alasan serupa, Uskup Durham dan beberapa uskup lainnya mencantumkan pedang di balik tameng, yang menunjukkan bekas yuridiksi sipil.[50][51]

Pallium adalah hiasan khas dari uskup agung metropolitan, dan ditemukan dalam penyematan mereka serta lambang-lambang korporat dari keuskupan agung, yang dicantumkan di atas atau di bawah tameng. Pallium terkadang tampak pada tameng itu sendiri. Dengan pengecualian York, keuskupan episkopal agung di Inggris dan Irlandia yang mencantumkan pallium di dalam tameng.[52]

Crosier[sunting | sunting sumber]

Lambang Franz Christoph von Hutten dari abad ke-18 dengan mitre, staff, dan pedang

Crosier dicantumkan sebagai simbol yurisdiksi pastoral oleh uskup, abbas, abbess, dan kardinal bahkan jika mereka bukan uskup. Crosier dari seorang uskup dicantumkan di luar atau pada bagian kanan. Selain itu, crosier dari seorang abbas atau abbess ditempatkan pada bagian dalam, baik di sebelah mitre atau di bagian kiri, namun kekhasan tersebut dipersengketakan dan bukannya aturan absolut.[53][54] Paus Aleksander VII mendekritkan pada 1659 bahwa crosier abbas meliputi sebuah sudarium atau selendang, namun hal tersebut bukanlah kebiasaan dalam lambang Inggris.[55] Selendang dapat dinaikkan karena abbas, tak seperti uskup, tak mengenakan busana tersebut saat membawa crosier yang sebenarnya.[56] Karena salib memiliki simbolisme serupa,[34] crosier ditekankan bagi kardinal dan uskup oleh Gereja Katolik pada 1969, dan sekarang hanya digunakan pada beberapa lambang korporat, dan lambang pribadi abbas dan beberapa abbess.[57] Dalam kebiasaan Inggris dan Gereja-gereja Anglikan, dua crosier seringkali ditemukan menyilang in saltire di balik tameng.[58][48] Dalam Gereja Swedia Lutheran, crosier dipasang dalam lambang uskup yang sedang menjabat namun dihapus saat sang uskup pensiun.

Sebuah rendisi dari lambang Keuskupan Cubao, yang menampilkan mitre, crozier, dan salib.

Bourdon atau staff terikat ditampilkan di balik lambang beberapa prior dan prioress sebagai lambang jabatan sebagai ganti dari crosier.[59][60] Lambang prior dari abad ke-15 memiliki sebuah spanduk yang mengitari tameng,[61] namun saat ini seringkali menggunakan rosario.[62]

Mantel[sunting | sunting sumber]

Mantel awalnya adalah sebuah potongan material yang menyertai helmet dan menutupi pundak, diyakini untuk melindungi dari matahari. Dalam lambang sekuler, mantel digambarkan berlekuk-lekuk, seperti jika dari pertempuran. Pada abad ke-17 dan ke-18, bentuk mantel lainnya disebut "jubah tuan tanah" menjadi hal berpengaruh.[63] Bentuk ini digunakan khususnya dalam Gereja-gereja Ortodoks, dimana uskup-uskupnya mencantumkan mantel yang dipasangan dengan cord dan tassel di atas tameng. Lambang mantel mirip dengan mantiya, dan mewakili otoritas uskup. Lambang tersebut juga digunakan dalam lambang Grand Master Ordo Militer Berdaulat Malta.[64]

Bagian luar mantel dapat diberi warna apapun, biasanya merah, sementara di bagian dalamnya berwarna putih atau terkadang kuning untuk membedakannya dari mantel sekuler.[65] David Johnson berpendapat bahwa mantel seluruh uskup harus putih bagian dalamnya, kecuali patriarkh yang hanya menggunakan ermine, untuk menandakan bahwa semua uskup adalah uskup yang setara.[66] Di atas mantle adalah mitre (dari gaya Timur) antara salib prosesional dan crosier. Contoh terawal dari lambang hierarki Ortodoks adalah memiliki salib sampai dekster mitre dan stadd uskup sampai sinister, namun berseberangan dengan contoh-contoh yang ada. Seorang abbas (archimandrite atau hegumen) harus mencantumkan staff abbas berselendang untuk membedakannya dari staff uskup.

Lambang prelatus Katolik Timur yang mengkombinasikan lambang gerejawi Barat dan Timur

Imam agung dan imam akan menggunakan mantel yang kurang berornamen dalam lambang mereka, dan topi gerejawi dari gaya yang mereka jugakan saat litugri. Meskipun biarawan Ortodoks (bukan abbas) jarang menghias lambang pribadi, hiero-biarawan (biarawan yang ditahbiskan menjadi imam) akan mencantumkan topi monastik (klobuk) dan jubah hitam atau selendang dari busananya, dan hiero-deakon (deakon monastik) akan mencantumkan sebuah orari di balik tameng.

Tameng di depan mantel atau jubah ditemukan pada lambang-lambang uskup Gereja-gereja Katolik Timur.[67] Namun, beberapa ragam gerejawi Timur menghindari mantel namun mempertahankan mitre, salib dan staff.[68] Para uskup Maronit biasanya mencantumkan staff pastoral di balik tameng, sebuah globe dicantumkan pada bagian atas dan salib atau salib dalam sebuah globe.[69] Uskup-uskup Katolik Timur mengikuti gaya Romawi dalam pemahkotaan rendah, topi gerejawi berbrim lebar, meskipun tamengnya sendiri seringkali dihias dalam gaya artistik Bizantium, dan sebuah mitre jika terwakili dalam gaya liturgi yang disahkan.[70]

Motto[sunting | sunting sumber]

Motto adalah sebuah frase pendek yang biasanya ditampilkan di bawah tameng sebagai pernyataan kepercayaan. Uskup-uskup Katolik dan gereja-gereja Presbiterian menggunakan motto dalam lambang mereka,[71] meskipun jarang pada uskup-uskup Anglikan.[48][2] Pengecualian terkenal adalah motto pada lambang Rowan Williams, mantan Uskup Agung Canterbury.

Gustavo Testa, yang diangkat menjadi Kardinal pada Desember 1959, dengan cepat memilih tameng lambangnya dengan kata sola gratia tua dan motto et patria et cor dalam rangka memenuhi tanggal akhir penerbitan. Secara harfiah, frase-frase tersebut memiliki artinya "hanya oleh kemurahanmu" dan "baik tanah air maupun hati". Testa menjelaskan kepada Paus Yohanes XXIII bahwa tameng tersebut artinya "Aku seorang kardinal karena darimu sendiri", dan mottonya artinya "karena aku dari Bergamo dan seorang teman".[72]

Lambang kepausan[sunting | sunting sumber]

Lambang Paus Leo XI, lambang keluarga Medici

Santo Petrus diwakili memegang kunci pada awal abad kelima. Karena Gereja Katolik Roma menganggapnya Sri Paus dan uskup Roma pertama, kunci diadopsi sebagai lambang kepausan; mereka mula-mula muncul dengan lambang kepausan pada abad ke-13.[73] Dua kunci perpendikular seringkali digunakan pada koin, namun kemudian digunakan untuk mewakili Basilika Santo Petrus pada permulaan abad ke-15. Kunci-kunci perpendikular terakhir muncul dalam tameng kepausan pada 1555, setelah itu kunci yang disilangkan digunakan secara eksklusif.[74] Kunci-kuncinya berwarna emas dan perak, dengan kunci emas diletakkan di dekster (sisi kiri) pada lambang pribadi Sri Paus, meskipun dua kunci perak atau dua kunci emas digunakan pada akhir abad ke-16.[75] Kunci-kunci sebagai simbol Santo Petrus ditemukan dalam beberapa lambang; lambang Pangeran-Keuskupan Agung Bremen mencantumkan dua kunci menyilang argent (perak) karena Santo Petrus adalah santo pelindung katedral episkopal agung Bremian.

Tiara Kepausan atau triregnum merupakan mahkota tiga lapis yang digunakan oleh Sri Paus sebagai penguasa berdaulat. Tiara tersebut mula-mula ditemukan sebagai lambang independen pada abad ke-13, meskipun pada masa itu hanya dengan satu koronet.[76] Pada abad ke-15, tiara tersebut dikombinasikan dengan kunci-kunci di atas tameng kepausan. Tiara dan kunci-kunci sama-sama berada dalam sebuah bentuk tameng dari lambang Kota Vatikan. Dalam lambang, tiara putih digambarkan dengan bentuk bulbous dan dua strip merah yang disebut lappet atau infulae.[77] Lambang Paus Benediktus XVI menuai kontroversi karena mencantumkan mitre dan pallium menggantikan tiara yang biasanya.

Disamping Tahta Suci, tahta Katolik lainnya yang memiliki hak untuk menyematkan tiara tiga lapis dalam lambangnya adalah Kepatriarkhan Lisbon.[78] Gelar Patriarkh Lisbon dibuat pada 1716 dan dipegang oleh uskup agung Lisbon sejak 1740. Meskipun lambang Tahta Suci mengkombinasikan tiara dengan kunci menyilang Santo Petrus, Kepatriarkhan Lisbon mengkombinasikannya dengan salib prosesional dan staff pastoral.

Rendisi lambang Paus Pius IX dengan tiara, kunci dan pendukung

Ombrellino atau pavilion berstrip merah dan emas awalnya adalah sebuah kanopi prosesional atau tempat berteduh dan dapat ditemukan pada penggambaran awal abad ke-12.[79] Penggunaan terawal dari ombrellino dalam lambang adalah pada 1420an dimana lambang tersebut ditempatkan di atas tameng Paus Martinus V. Hiasan tersebut lebih umum digunakan bersama dengan kunci-kunci, sebuah kombinasi yang mula-mula ditemukan di bawah kepemimpinan Paus Aleksander VI.[80] Hiasan tersebut mengkombinasikan lencana yang mewakili kekuasaan temporal Kota Vatikan antar masa pemerintahan Kepausan, sementara pelaksana jabatan kepala negara adalah kardinal Camerlengo. Lencana mula-mula muncul dalam lambang pribadi kardinal pada koin yang dibuat atas perintah Camerlengo, Kardinal Armellini, pada masa inter-regnum 1521. Pada abad ke-17 dan ke-18, hiasan tersebut ditampilkan pada koin-koin yang dibuat secara sede vacante oleh para legatus kepausan, pada koin-koin yang dibuat pada 1746 dan 1771 saat Sri Paus mengundurkan diri.[81] Ombrellino muncul dalam lambang basilika sejak abad ke-16, dengan ornamentasi untuk basilika-basilika besar. Jika ditemukan dalam lambang keluarga, ini mengindikasikan sebuah kekerabatan dengan Sri Paus.[82]

Lambang uskup agung Bremen (tameng kuno) dalam lambang Hagen i.B.

Lambang kepausan seringkali digambarkan dengan para malaikat sebagai pendukung.[83] Rohaniwan Katolik atau Anglikan lainnya tidak menggunakan pendukung selain mereka dianugerahi penghormatan pribadi, atau diwariskan dengan lambang keluarga.[48][2] Beberapa lambang katedral menggunakan kursi tunggal (cathedra) sebagai pendukung.[84]

Lambang kesatria[sunting | sunting sumber]

Rohaniwa Katolik Roma tidak mencantumkan lambang kekesatriaan dalam lambang mereka, kecuali penghargaan yang diraih dalam Ordo Makam Kudus atau Ordo Militer Berdaulat Malta. Jika digelari, rohaniwan Katolik Roma akan disematkan Salib Yerusalem merah untuk Ordo Makam Kudus dan salib Malta untuk Ordo Militer Berdaulat Malta di balik tameng, atau disematkan pita pangkat mereka dalam ordo tersebut.[85] Penolakan tersebut tidak diterapkan kepada kaum awam yang menjadi kesatria dalam ordo kepausan atau kerajaan manapun, yang menyematkan lambang paling mereka, baik lencana di dasar tameng atau rantai yang mengitari tameng.

Rohaniwan Gereja Inggris menyematkan gelar kesatria. Kepala Westminster juga merupakan Kepala Paling Terhormat Order of the Bath, dan menyematkan lencana sipil pada ordo tersebut.[86]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Williamson, Debrett's Guide, p.14.
  2. ^ a b c d e f g Wikisource-logo.svg "Ecclesiastical Heraldry". Catholic Encyclopedia. 1913. 
  3. ^ a b c Rogers 1956, hlm. 134.
  4. ^ Boutell & Brooke-Little 1978, hlmn. 223-224.
  5. ^ Neubecker, Heraldry, p.237.
  6. ^ Selvester, Aspects of Heraldry.
  7. ^ Noonan, The Church Visible, p.188.
  8. ^ Heim 1978, hlmn. 43-45.
  9. ^ a b Boutell & Brooke-Little 1978, hlmn. 225-226.
  10. ^ a b Rogers 1956, hlm. 133.
  11. ^ Heim 1978, hlm. 115.
  12. ^ "Instruction", 1969, n.28–29.
  13. ^ von Volborth, Heraldry of the World, p.176.; Lihat lambang Botswana, dari Guateng, atau KwaZulu-Natal Provincial Government.
  14. ^ Heim 1978, hlm. 9.
  15. ^ Heim 1978, hlm. 102.
  16. ^ Woodcock, The Oxford Guide to Heraldry, p.119.
  17. ^ See arms of Heinrich Mussinghoff and Paul Bootkoski Archived September 28, 2007, di the Wayback Machine.
  18. ^ Heim 1978, hlmn. 56-57.
  19. ^ Martin, Heraldry in the Vatican, p.32.
  20. ^ Woodcock, Oxford Guide to Heraldry, p.119.
  21. ^ Fox-Davies, A Complete Guide to Heraldry, p.465
  22. ^ Selvester, Aspects of Heraldry.
  23. ^ Boutell & Brooke-Little 1978, hlmn. 226-227.
  24. ^ Heim 1978, hlm. 69.
  25. ^ Heim 1978, hlm. 95.
  26. ^ Heim 1978, hlm. 107.
  27. ^ Lartigue, Dictionnaire & Armorial, contains examples of 19th-century archiepiscopal arms with 30 tassels, e.g. Lyonnet (p.236b), De Breil (p.134b), Forcade (p.150b), Fruchaud (p.172a).
  28. ^ Judul dari film The Green Hat adalah awal dari penandaan tersebut, menurut ulasan dari Adelaide dan Tribeca film festivals. Accessed 2007-12-10.
  29. ^ Heim 1978, hlmn. 69–70, 118–119.
  30. ^ Heim 1978, hlmn. 119-121.
  31. ^ Heim 1978, hlmn. 124-125.
  32. ^ Heim 1978, hlmn. 135,139–142.
  33. ^ von Volborth, The Art of Heraldry, p.71.
  34. ^ a b Boutell & Brooke-Little 1978, hlm. 226.
  35. ^ Fox-Davies, A Complete Guide to Heraldry, p.470; See arms of Rev. Denis Towner. As can be seen in the Scots Public Register the term 'ecclesiastical hat' can be shown as a Geneva bonnet but this is done only rarely.
  36. ^ Innes of Learney, Scots Heraldry, p.143.
  37. ^ Innes of Learney, Scots Heraldry, p.35–37; "Ecclesiastical Heraldry", Encyclopædia Britannica.
  38. ^ Rogers 1956, hlm. 139.
  39. ^ Boutell & Brooke-Little 1978, hlm. 227.
  40. ^ Wikisource-logo.svg "Processional Cross". Catholic Encyclopedia. 1913. 
  41. ^ Noonan, The Church Visible, p.191–192,194.
  42. ^ Heim 1978, hlm. 74.
  43. ^ Selvester, Aspects of Heraldry.
  44. ^ Avery Cardinal Dulles, S.J. di Fordham University.
  45. ^ "Instruction", 1969, n.28.
  46. ^ Lartigue, Dictionnaire.
  47. ^ von Volborth, Heraldry of the World, p.171, shows the arms of Cardinal Francis Spellman with mitre in 1967, just two years before the 1969 Instruction.
  48. ^ a b c d Boutell & Brooke-Little 1978, hlm. 224.
  49. ^ Fox-Davies, A Complete Guide to Heraldry, p.467,469. The use of coronet by all archbishops is "mistaken" and "inaccurate".
  50. ^ Boutell & Brooke-Little 1978, hlm. 225.
  51. ^ Rogers 1956, hlmn. 142–143.
  52. ^ Fox-Davies, A Complete Guide to Heraldry, p.466–467. Lambang Keuskupan Agung Westminster dan versi-versi yang lebih lama dari lambang York juga memiliki pallium.
  53. ^ Fox-Davies, A Complete Guide to Heraldry, p.466
  54. ^ Heim 1978, hlm. 67.
  55. ^ Boutell & Brooke-Little 1978, hlm. 228.
  56. ^ Selvester, Aspects of Heraldry.
  57. ^ Noonan, The Church Visible, p.191.
  58. ^ "Ecclesiastical Heraldry", Encyclopædia Britannica; Fox-Davies, A Complete Guide to Heraldry, p.468.
  59. ^ Heim 1978, hlmn. 74-75.
  60. ^ "Ecclesiastical Heraldry" New Catholic Dictionary (1910).
  61. ^ von Volborth, Heraldry of the World, p.169.
  62. ^ von Volborth, Heraldry of the World, p.175.
  63. ^ von Volborth, The Art of Heraldry, p.64; von Volborth, Heraldry of the World, p.21,174.
  64. ^ Williamson, Debrett's Guide, p.49; Noonan, The Church Visible, p.195.
  65. ^ Heim 1978, hlm. 133.
  66. ^ Johnson, Orthodox Ecclesiastical Heraldry.
  67. ^ Lihat Eparkhi Agung Katolik Bizantium, Pittsburgh, Pennsylvania dan Eparkhi Katolik Bizantium Van Nuys.
  68. ^ Ukrainian Catholic Archdiocese of Philadelphia.
  69. ^ Arms of the bishop of the Eparchy of St. Maron of Brooklyn.
  70. ^ Lihat contoh-contohnya dari Eparkhi Katolik Ukraina Toronto dan Kanada Timur, Eparkhi Katolik Ukraina Stamford, dan Keuskupan Katolik Siro-Malabar CChicago; Gereja Siro-Malabar menggunakan mitre gaya barat dalam liturgi.
  71. ^ Lihat Gereja Presbiterian Santo Yakobus dan Santo Matius.
  72. ^ Martin, Heraldry in the Vatican, p.242.
  73. ^ Noonan, The Church Visible, p.189.
  74. ^ Galbreath, Papal Heraldry, p.6–7.
  75. ^ Galbreath, Papal Heraldry, p.12–13.
  76. ^ Galbreath, Papal Heraldry, p.22.
  77. ^ Noonan, The Church Visible, p.195.
  78. ^ Heim 1978, hlmn. 52, 94.
  79. ^ Galbreath, Papal Heraldry, p.27.
  80. ^ Galbreath, Papal Heraldry, p.31.
  81. ^ Galbreath, Papal Heraldry, p.34.
  82. ^ von Volborth, Heraldry of the World, p.172.
  83. ^ Vocabolario Araldico Ufficiale della Consulta Araldica (1907), gambar-gambar 384 dan 420.
  84. ^ See St. Paul's Cathedral.
  85. ^ Noonan, The Church Visible, p.195–196.
  86. ^ Heim 1978, hlm. 136.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Karya yang dikutip
Artikel ensiklopedia
Contoh online
Bacaan tambahan

Pranala luar[sunting | sunting sumber]