Gempa bumi Jawa 2006

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Gempa bumi Jawa Juli 2006)
Jump to navigation Jump to search
Gempa Jawa Juli 2006
Gempa bumi Jawa 2006 is located in Jawa
Jakarta
Jakarta
Pangandaran
Pangandaran
Pameungpeuk
Pameungpeuk
Gempa bumi Jawa 2006
Waktu UTC 2006-07-17 08:19:26
ISC 10699442
USGS-ANSS ComCat
Tanggal setempat 17 Juli 2006 (2006-7-17)
Waktu setempat 15:19:26 WIB
Kekuatan 6.8 SR (BMKG)
7.7 Mw (USGS)
Kedalaman <30 km (19 mi)
Wilayah bencana  Indonesia
Provinsi Jawa Barat
Provinsi Jawa Tengah
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Intensitas maks. V MMI
Korban 668 tewas
9.299 luka-luka[1]

Gempa Bumi Jawa 2006 ialah gempa Bumi berkekuatan 6,8 Skala Richter[2] yang melanda pulau Jawa pada 17 Juli 2006, pukul 15.19 WIB. Pusat gempa berada di Samudera Hindia lepas pantai Jawa Barat, berjarak sekitar 225 Km Barat Daya Kabupaten Pangandaran. Gempa bumi ini menyebabkan tsunami setinggi 5 meter yang menghancurkan rumah di pesisir selatan Jawa, menewaskan setidaknya 668 jiwa.

Guncangan gempa bumi[sunting | sunting sumber]

Guncangan gempa bumi ini dilaporkan USGS dapat dirasakan masyarakat di sebagian besar pulau Jawa. Guncangan gempa bumi terkuat berada di pesisir Jawa Barat dan Jawa Tengah seperti Kabupaten Pangandaran, Kabupaten Tasikmalaya, Kabupaten Cianjur selatan dan Kabupaten Cilacap berupa guncangan IV-V MMI. Kemudian III-IV MMI di Kota Bandung, Kabupaten Ciamis, Kabupaten Kebumen, Banten, Jakarta, Yogyakarta daan II-III MMI di Jawa Timur. Di Jakarta, guncangan berlangsung selama lebih dari satu menit dan membuat gedung-gedung tinggi bergoyang-goyang[3].

Dengan memperhatikan lokasi episentrum dan kedalaman hiposentrum gempa bumi, tampak bahwa gempa bumi terjadi di zona subduksi dipicu pergerakan vertikal (dip-slip) kerak bumi pada dua lempeng benua Indo-Australia dan Eurasia pada kedalaman kurang dari 30 km.

Tsunami[sunting | sunting sumber]

Peta gambar lokasi episenter

Gempa bumi ini memicu Tsunami yang menghantam desa-desa di pesisir selatan Jawa Barat di Cipatujah, Tasikmalaya dan Pangandaran, Ciamis, Jawa Tengah meliputi Kabupaten Cilacap, Kabupaten Kebumen, dan Kabupaten Purworejo serta Kabupaten Bantul di Daerah Istimewa Yogyakarta[4]. BMKG telah menyatakan adanya kemungkinan tsunami lokal yang dapat memengaruhi pesisir yang terletak tidak lebih daripada 100 kilometer dari pusat gempa, menandakan ketidakmungkinan tsunami skala besar, seperti yang terjadi pada 26 Desember 2004[5].

Meski begitu, India masih mengeluarkan peringatan tsunami untuk Kepulauan Andaman, yang terletak di Teluk Benggala.[6] Kepulauan ini menderita kerusakan parah akibat tsunami 26 Desember 2004. Peringatan juga dikeluarkan pemerintah Australia untuk kawasan Australia Barat[7] dan Pulau Natal. Sebuah tsunami 60 cm tercatat di alat pengukuran pasang surut Bureau of Meteorology di pulau itu. Namun menurut laporan tak ada kerusakan akibat tsunami[8].

Menurut warga, tsunami datang sekitar 15-20 menit setelah gempa bumi terjadi. Sebelum tsunami datang, warga melihat air laut surut hingga 2-3 kali[9]. Hal ini mengagetkan masyarakat pesisir karena mereka umumnya tidak merasakan guncangan gempa yang kuat. Seorang warga Pangalengan mengatakan bahwa gelombang datang ke arah pesisir dengan kecepatan 40 kilometer per jam.[10] Ia juga berkata bahwa tsunami itu berketinggian setidaknya 5 meter. Warga lain mengatakan puluhan nelayan basah kuyup karena gelombang besar itu. Sementara itu warga Kebumen mendengar suara dentuman sebelum tsunami terjadi[11]. Hasil penelitian mengungkap tinggi tsunami lebih dari 4,8 meter dengan jarak luncur ke daratan sekitar 500 meter.

Dampak dan korban[sunting | sunting sumber]

Gempa dan tsunami ini merenggut 668 korban jiwa, 65 hilang (diasumsikan meninggal dunia) dan 9.299 lainnya luka-luka[12]. Sementara menurut BMKG korban tewas mencapai 665 orang, 9.275 luka-luka dan 65 hilang[13] tersebar di 9 kabupaten, 3 provinsi. Sebagian besar korban tewas dan kerusakan merupakan akibat terjangan gelombang tsunami. Korban terbanyak berada di Ciamis-Pangandaran yakni 415 orang. Disusul sebanyak 157 orang di Cilacap, 62 orang di Tasikmalaya, 15 orang di Kota Banjar, 10 orang di Kebumen, 3 orang di Gunung Kidul dan Bantul serta 1 orang di Garut dan Banyumas. Korban hilang terbanyak di Kebumen yakni 33 orang. Dilaporkan tempat liburan pantai di Pangandaran mengalami rusak parah.[14]. Ribuan rumah dan perahu nelayan hancur.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]