Kabupaten Sarmi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Kabupaten Sarmi
Lambang Kabupaten Sarmi.png
Lambang Kabupaten Sarmi
Moto: -


-
Peta lokasi Kabupaten Sarmi
Koordinat: 138°05’ – 140°30’ BT dan 1°35’ – 3°35’ LS
Provinsi Papua
Dasar hukum UU No. 26 Tahun 2002
Tanggal 12 April 2003
Pemerintahan
 - Bupati Drs. Mesak Manibor, MMT
 - Wakil Bupati Ir. Alberthus Suripno
 - DAU Rp. 566.914.711.000.-(2013)[1]
Luas 17.740 km2
Populasi
 - Total 30.438 jiwa (2000)
 - Kepadatan 1,72 jiwa/km2
Demografi
 - Kode area telepon 0966
Pembagian administratif
 - Kecamatan 10 Distrik
 - Kelurahan 84 Kampung, 2 Kelurahan
 - Situs web http://www.sarmikab.go.id/

Kabupaten Sarmi adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Sarmi. Nama Sarmi adalah singkatan dari nama suku-suku besar, yakni Sobey, Armati, Rumbuai, Manirem, dan Isirawa. Keberadaan mereka telah lama menjadi perhatian antropolog Belanda, Van Kouhen Houven, yang kemudian memberikan nama Sarmi.

Singkatan Sarmi sebenarnya belum mencerminkan suku-suku di sana mengingat di wilayah ini terdapat 87 bahasa yang dipergunakan. Dari bahasa yang ada, paling tidak bisa disimpulkan terdapat 87 suku, dan setiap suku mempunyai bahasa sendiri-sendiri.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Sarmi memiliki luas wilayah 35.587 km2. Terbagi menjadi 8 kecamatan dengan Sarmi sebagai ibu kota kabupaten. Wilayahnya sendiri berbatasan dengan Samudera Pasifik di sebelah utara, kabupaten Tolikara di sebelah Selatan, Kabupaten Puncak Jaya dan Kabupaten Waropen di sebelah Barat, dan kabupaten Jayapura di sebelah Timur.

Perekonomian[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar penduduk Sarmi menggantungkan kebutuhan hidup mereka pada kemurahan alam. Hutan menyediakan kebutuhan mereka. Sagu sebagai makanan pokok penduduk tumbuh subur di hampir semua wilayah kabupaten ini. Potensi lahan yang tersedia untuk tanaman bahan pangan dan hortikultura sedemikian luas. Pengembangan komoditas pertanian seperti padi, palawija, dan sayuran masih dalam skala kecil untuk kebutuhan sendiri. Lahan yang sudah diolah dan menghasilkan tanaman bahan pangan terdapat di Distrik Bongo. Hanya didistrik ini padi sudah dapat dituai hasilnya. Demikian juga produksi palawija Kabupaten Sarmi sebagian besar dihasilkan di Bonggo. Komoditas wilayah ini yang berhasil menembus ke pasar luar daerah adalah kakao dan kelapa dalam yang sudah dikeringkan dalam bentuk kopra. Komoditas ini di kirim ke Surabaya dan Makassar. Kelapa tumbuh tidak tidak hanya di daratan Sarmi, tetapi juga disejumlah pulau di depan Sarmi. Sarmi memang menjadi satu satunya kabupaten di Papua yang memiliki potensi kelapa rakyat sangat luas menyusul Kabupaten Biak Numfor. Meskipun kelapa ini sebagian besar tumbuh secara alamiah di pesisir pantai, dan sungai-sungai, tumbuhan ini terlihat sangat teratur dan terkesan seperti perkebunan luas.

Suasana jalan raya di Kabupaten Sarmi

Potensi hutan daerah ini juga sangat menjanjikan. Luas hutan produksi diperkirakan 54.000 hektare. Kabupaten ini sangat mengharapkan datangnya investor mengingat potensi lahan pertanian, perkebunan, pertambangan dan kelautan yang masih belum diolah. Diketahui bahwa di perut bumi Sarmi terdapat bijih besi yang jika dieksploitasi mampu menghasilkan 60.000 ton pasir besi setiap bulannya. Sementara itu, menurut survei dari Kanada di distrik Pantai Barat, Pantai Timur, dan Mamberamo Hilir terdapat kandungan minyak bumi.

Laut yang bersinggungan dengan enam dari delapan distrik di Sarmi juga menyimpan kekayaan tersendiri. Wilayah Sarmi terletak di pinggir pantai Samudera Pasifik dan memiliki sejumlah sungai dan danau yang dapat digunakan sebagai tempat penyimpanan ikan dan udang. Sebuah gudang pelabuhan pendaratan ikan dan pelabuhan utama pendaratan ikan telah dibangun di Sarmi. Hal ini semakin membuka peluang investasi di sektor perikanan.

Pembagian Daerah Administrasi[sunting | sunting sumber]

  1. Distrik Sarmi
    1. Kelurahan Sarmi (ibu kota)
    2. Kelurahan Mararena
    3. Kampung Sarmo
    4. Kampung Sawar
    5. Kampung Bagaiserwar
    6. Kampung Amsira
    7. Kampung Siaratesa
    8. Kampung Liki
  2. Distrik Sarmi timur
    1. Kampung Holmafen
    2. Kampung Sewan
    3. Kampung Bagaiserwar II
    4. Kampung Binyer
    5. Kampung Tanjung Batu
  3. Distrik Sarmi Selatan
    1. Kampung Kasukwe
    2. Kampung Munukania
    3. Kampung Wapouwania (ibu kota)
  4. Distrik Pantai Barat
    1. Martewar
    2. Samorkena
    3. Arbais (ibu kota)
    4. Kapesa
    5. Maseb
    6. Nisro
    7. Aruswar
    8. Teminawaren
    9. Waim
    10. Subu
    11. Karfasia
  5. Distrik Pantai Timur
    1. Timron
    2. Vinyambor
    3. Betaf (ibu kota)
    4. Arare
    5. Dabe
    6. Nyamben
    7. Ansudu
    8. Komra
  6. Distrik Pantai Timur Barat
    1. Burtin (ibu kota)
    2. Nengke
    3. Takar
    4. Sunum
    5. Arare
    6. Ampera
    7. Keder Lama
    8. Keder Baru
  7. Distrik Bonggo
    1. Armapora (ibu kota)
    2. Anus
    3. Taronta Srum
    4. Krim
    5. Kiren
    6. Bebon Jaya
    7. Teton
    8. Maweswares
    9. Rotea
  8. Bonggo Timur
    1. Mawesdai
    2. Kapitiau
    3. Gwin Jaya
    4. Tamar Sari
    5. Tarwasi Maringgi
    6. Mawes Mukti (ibu kota)
  9. Distrik Tor Atas
    1. Bora-Bora
    2. Tonggonfo
    3. Samanente (ibu kota)
    4. Konderjan
    5. Omte
    6. Safron
  10. Distrik Apawer Hulu
    1. Murara
    2. Aurumi (ibu kota)
    3. Sasawapece
    4. Wamariri
    5. Tamaja
    6. Airoran

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses 2013-02-15.