Gereja Kristen Protestan Simalungun

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Gereja Kristen Protestan Simalungun
Logo gkps1.gif
Logo GKPS
Klasifikasi Protestan
Pimpinan Gereja Ephorus Pdt. Jaharianson Saragih, STh, MSc, PhD.[1]
Wilayah Penyebaran Indonesia
Situs web resmi www.gkps.or.id
Perkembangan
Didirikan 1 September 1963 di Pematang Siantar, Sumatera Utara[2]
Memisahkan diri dari HKBP
Statistik
Kumpulan Ibadah 638 jemaat2012 [3]
Anggota 213.042 jiwa2012 [3]

Gereja Kristen Protestan Simalungun (disingkat GKPS) adalah sebuah Gereja Kristen dari daerah Simalungun yang dirintis oleh zendelling (pengabar Injil) dari Rheinische Missionsgesellschaft (RMG), sebuah badan pengabaran Injil dari Jerman sebagai bagian dari upayanya menyebarkan Injil bagi Suku Simalungun. Semenjak tahun 1900-an RMG mendirikan gereja-gereja di Simalungun sebagai bagian dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dengan menggunakan bahasa Toba sebagai bahasa pengantar. Kesadaran diri di kalangan suku Simalungun untuk meningkatkan usaha pengabaran Injil mempercepat laju penyebaran Injil di suku Simalungun terutama setelah digunakannya bahasa Simalungun sebagai pengantar. Kemandirian ini berlanjut sampai jemaat HKBP di Simalungun memandirikan dirinya menjadi satu distrik hingga akhirnya mandiri total menjadi GKPS dan memberikan pelayanan bagi lingkungan sekitarnya di berbagai bidang (bukan hanya pelayanan agama).

Masuknya Injil ke Simalungun[sunting | sunting sumber]

Pengabaran Injil di daerah Simalungun sedikit terlambat dibandingkan daerah-daerah tetangganya seperti Karo (1899) dan Tapanuli (1861). RMG menjadikan Simalungun sebagai daerah penginjilan setelah Angkola, Mandailing dan Tapanuli Utara.[4]

Awalnya RMG mengenal Simalungun dari laporan ekspedisi pejabat-pejabat kolonial Belanda. Laporan-laporan tersebut rata-rata mengkhawatirkan resistensi suku Simalungun dan derasnya pengaruh Islam ke daerah Simalungun Bawah (Asahan Hulu dan Tanah Djawa) yang sebenarnya dipicu oleh proses aneksasi Belanda terhadap wilayah dalam kerajaan-kerajaan Simalungun yang menciptakan sentimen negatif dari orang Simalungun terhadap orang Eropa.[5]

Ludwig Ingwer Nommensen, pimpinan RMG di Sumatera Utara, Ephorus HKBP 1881-1918

Kontak pertama RMG dengan Simalungun dilakukan melalui Henri Guillaume yang ditempatkan RMG di Kuta Bukum, Karo (1899).[6] Selama masa tugasnya ia sering berinteraksi dengan rakyat hingga penguasa tradisional Simalungun terutama dalam perjalanannya ke Tapanuli untuk menghadiri rapat-rapat tahunan missionaris. Atas pengalamannya itu, Guillaume mengusulkan kepada L.I. Nommensen (pimpinan RMG di Sumatera Utara) agar Simalungun diinjili.[7]

Usaha penginjilan kongkrit pertama pada orang Simalungun justru dilakukan oleh Pardongan Mission Batak (PMB), lembaga pengabaran Injil Batak Toba yang terdiri dari penginjil-penginjil Batak Toba. Pada tanggal 12 Februari 1900 Pendeta Samuel Panggabean dan Friederich Hutagalung diutus ke daerah-daerah sekitar Danau Toba yang belum diinjili, dan tiba di Sipolha pada tanggal 14 Februari namun dilarang untuk masuk oleh Tuan Sipolha Damanik.[8] Keesokannya mereka tiba di Siboro (Partuanan Purba) dan sempat berkhotbah di Pasar yang ada di daerah itu. Pada hari Jumat, 16 Februari 1900 mereka berkeliling di sekitar Tiga Langgiung mengabarkan Injil pada masyarakat yang sedang berbelanja di pekan (pasar mingguan). Selanjutnya mereka pergi ke Pematang Purba untuk menemui Tuan Rahalim Purba Pakpak (Raja Purba) dan baru berhasil menemuinya keesokan harinya, 17 Februari, setelah menanti semalaman. Di sini mereka menyampaikan maksud mereka untuk mengabarkan Injil dan membacakan nats Alkitab bagi Raja Purba. Walaupun belum mendapat tanggapan positif darinya namun para penginjil tersebut menemui sikap bersahabat dari Raja Purba.[9] Usaha selama 4 hari ini kurang berhasil terutama karena penggunaan bahasa Toba sebagai pengantar yang kurang dipahami oleh masyarakat Simalungun.

Setelah menerima permintaan dari Guillaume, RMG mengutus G.K. Simon bersama beberapa penginjil Toba dari PMB untuk melakukan peninjauan ke Simalungun. Karena melihat pengaruh Islam yang sudah masuk hingga Siantar, G.K. Simon meminta agar RMG secepat mungkin menginjili Simalungun.[10]

Laporan G.K. Simon dan Guillaume ditambah laporan dari pejabat-pejabat Belanda dibahas pada rapat missionar RMG di Laguboti, Tapanuli pada 21-25 Januari 1903 yang dihadiri 42 penginjil RMG, dengan keputusan:[11]

  1. Pemberitaan Injil di Simalungun harus segera dilaksanakan.
  2. Segera dikirim surat ke Direktur RMG Schreiber di Barmen untuk meminta persetujuan dan rekomendasi RMG dalam memperluas lapangan penginjilan ke Simalungun.
  3. Segera dilakukan langkah-langkah penginjilan ke Simalungun.

Sebelum rapat ini Nommensen juga telah mengirim permohonan tenaga penginjil baru ke pimpinan RMG di Jerman sehubungan rencananya memperluas daerah penginjilan ke Samosir, Dairi dan Simalungun, namun secara strategi, Simalungun dijadikan prioritas utama dari ketiga daerah tersebut karena sudah derasnya pengaruh Islam di daerah ini hingga ke Siantar.[12]

Pendeta August Theis, penginjil RMG yang merintis penyebaran Injil di daerah Simalungun.

Pada tanggal 16 Maret 1903, Dr. Schreiber dari RMG secara resmi mengirim telegram singkat yang merekomendasikan pengabaran Injil ke Timorlanden (sebutan bagi Simalungun).[13] Setelah menerima telegram yang berisi Tole den Timorlanden das Evangelium (perintah menyebarkan injil di tanah Timur) maka pada tanggal 2 September 1903 sekelompok penginjil dari RMG yang dipimpin oleh Pendeta August Theis tiba di Pematang Raya untuk menyebarkan Injil.[14]

Tanggal 2 September sampai saat ini diperingati setiap tahunnya oleh anggota GKPS di seluruh dunia sebagai hari olob-olob (bahasa Simalungun untuk "suka cita") untuk mensyukuri masuknya ambilan na madear (bahasa Simalungun untuk Firman-Firman Alkitab/ajaran Kristen) di Simalungun.

Pada 1 Januari 1904 dimulailah Zending Simalungun yang bertempat tinggal di Pematang Raya[15] dan Pdt. Guilllaume berada di Purba Saribu (1905) untuk melayani pemberitaan injil di Simalungun Raya di bagian Barat. Sebagai hasil pertama dari pemberitaan injil di Simalungun baru pada tanggal 19 September 1909[16] diadakan permandian suci (Pandidion na parlobei) di Pematang Raya oleh Pdt. Theis, kemudian di Parapat juga ada 38 orang yang menerima permandian suci.

Sampai 1910, sudah berdiri 17 Gereja di daerah Simalungun yang menjadi cikal bakal GKPS saat ini, yaitu di:

Penyebaran Injil oleh para Misionaris RMG dilakukan menggunakan bahasa pengantar bahasa Toba dengan anggapan bahwa Simalungun merupakan bagian dari sub Etnik Toba.[17] Hal ini menyebabkan perkembangan penyebaran injil di Simalungun kurang pesat. Resistansi Masyarakat Simalungun terhadap Kaum Barat dan kekurang-mengertian mereka terhadap bahasa Toba mengurangi efektifitas kegiatan RMG. Seorang Zendeling RMG, Bregenstroth, pada akhirnya menyadari bahwa orang Simalungun bukanlah bagian dari Batak.[18]

Pekabaran Injil oleh Orang Simalungun[sunting | sunting sumber]

Jubileum 25 Tahun Injil di Simalungun: Comite Na Ra Marpodah Simalungun[sunting | sunting sumber]

Pada 1 September 1928 di Pematang Raya diadakan pesta peringatan 25 tahun pemberitaan injil di Simalungun. Momen ini dijadikan tonggak untuk meningkatkan pengabaran Injil di Simalungun. Sebagai salah satu caranya adalah dengan melakukan pengabaran Injil menggunakan pengantar bahasa Simalungun, bukan bahasa Toba yang digunakan oleh para Misionaris RMG. Beberapa Guru dan Sintua bersepakat untuk membentuk sebuah komite bernama Comite Na Ra Marpodah Simalungun yang bekerja untuk membuat Agenda Gereja, buku nyanyian "Haleluya", dan Alkitab dalam bahasa Simalungun (yang diterbitkan pertamakali pada 16 Januari 1977[2]) dilengkapi dengan sebuah buku renungan harian "Manna."

Rintisan pendirian lembaga ini diadakan pada tanggal 13 Oktober 1928 dalam suatu pertemuan di rumah Djaoedin Saragih di Pematang Raya yang dihadiri oleh 14 tokoh-tokoh Kristen Simalungun.[19] Dalam pertemuan inilah disepakati pendirian badan yang memiliki tujuan untuk melestarikan dan memberdayakan bahasa Simalungun dengan nama di atas. 12 dari 14 tokoh yang menghadiri pertemuan tersebut adalah:[20]

Pendeta Djaulung Wismar Saragih, suku Simalungun pertama yang menjadi pendeta, tokoh perintis kemandirian GKPS.
  1. Djaulung Wismar Saragih Sumbayak, kandidat Pendeta dari Sipoholon, Redaktur.
  2. Jason Saragih, Guru Zending dari Raya Tongah, Voorziter Ihoetan.
  3. Jacoboes Sinaga, Krani Tiga Raya dari Pematang Raya, Secretaris/Peeningmeester.
  4. Djaoedin Saragih, Pangoeloebalei Raja dari Pematang Raya, Commissaris.
  5. Djotti Saragih, Parbapaan dari Raya Usang, Commissaris.
  6. Bendjamin Damanik, Sintoea dari Pematang Raya, Commissaris.
  7. Augustin Sinaga, Guru Zending dari Dalig Raya, Commissaris.
  8. Djainoes Saragih, Guru Zending dari Raya Usang, Commissaris.
  9. Kenan Saragih, Guru Zending dari Jandi Mauli, Commissaris.
  10. Lamsana Saragih, Guru Zending dari Huta Baru, Commissaris.
  11. Kilderik Saragih, Guru Zending dari Pematang Raya, Commissaris.
  12. Djonas Purba Girsang, Guru Zending dari Sondi Raya, Commissaris.

Secara resmi 3 tujuan dari lembaga ini yaitu:didasari pada Alkitab, I Pet 2:17[21]

  1. Mengasihi sesama manusia (mangkaholongi hasoman jolma).
  2. Takut pada Tuhan (pengkabiari Naibata).
  3. Menghormati Raja/Pemerintah (pasangapkon Raja).

Dj. Wismar Saragih menerangkan bahwa penggunaan kata "Comite" memiliki makna bahwa organisasi ini bersifat nirlaba. "Na Ra Marpodah" bermakna bahwa tiap pengurus/anggota memiliki rasa tanggungjawab dan kewajiban untuk mendukung kelangsungan comite dengan kontribusi dana, pengetahuan dan lain-lain secara sukarela demi kemajuan orang Simalungun baik dalam kekristenan maupun pendidikan.[22] Anggaran Dasar lembaga ini disahkan oleh asisten Resident G.W. Meindersma pada tanggal 5 Februari 1929. Tanggal 2 September 1928 ditetapkan sebagai hari kelahiran comite.[23]

Dukungan terhadap Comite ini antara lain terwujud dalam bentuk bantuan dana dari pemerintah swapraja Simalungun melalui landschapskas Simaloengoen sebesar 300 gulden, dari rakyat, pengusaha dan pegawai pemerintah melalui taken-list, dari Raja-raja Simalungun sebesar 400 gulden,[24] dan dari penyelidik bahasa Simalungun (taalambtenaar, ditugaskan oleh pemerintah Belanda atas permintaan raja-raja Simalungun), P. Voorhoeve, sebesar 5 gulden tiap tahunnya.

Akhirnya pada tanggal 15 Desember 1929 ditahbiskanlah seorang Pendeta yang pertama dari suku Simalungun yaitu Pdt. Djaulung Wismar Saragih,[25] yang tetap memperkuat perjuangan Comite ini.

Perjuangan Comite untuk menggunakan bahasa Simalungun sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah zending di seluruh daerah yang didiami suku Simalungun mengalami banyak tantangan, terutama karena derasnya arus imigrasi suku Toba ke Simalungun sehingga domisili suku Simalungun semakin terbatas. J. Warneck menjelaskan pada suratnya ke Raja-raja Simalungun bahwa tuntutan tersebut juga sulit dipenuhi karena terbatasnya jumlah pengajar yang mengerti bahasa Simalungun dan rendahnya minat orang Simalungun untuk masuk ke sekolah guru yang telah dibuka sejak 1931 di Kota Pematangsiantar.[26] Tetapi gencarnya tuntutan Comite Na Ra Marpodah Simalungun ini, disertai dengan usaha mereka dalam menerjemahkan dan menerbitkan buku-buku pelajaran berbahasa Simalungun memaksa RMG untuk menyesuaikan pelayananannya dengan menggunakan bahasa Simalungun.

Kongsi Laita[sunting | sunting sumber]

Kesuksesan Comite Na Ra Marpodah Simalungun dalam meningkatkan penyebaran Injil bagi orang Simalungun dengan digunakannya penggunaan bahasa Simalungun sebagai bahasa pengantar, turut menumbuhkan semangat seluruh orang Kristen Simalungun di berbagai daerah untuk turut menyebarkan Injil, dan untuk itu diperlukan komunitas yang terorganisir.

Seusai kebaktian minggu pada tanggal 15 November 1931, beberapa orang Kristen-Simalungun dari Sondi Raya sepakat untuk mengadakan rapat di rumah Gomar Saragih untuk membentuk suatu organisasi pekabaran Injil. Malam itu juga didirikanlah Kongsi Laita dengan susunan kepengurusan:[27]

  • Ketua: Guru Williamar Sumbayak
  • Sekretaris/Bendahara: St. Parmenas Purba Tambak
  • Komisaris:
    • St. Jonas Purba
    • Melanthon Saragih
    • Mailam Purba

Selanjutnya pekan kelahiran Kongsi Laita ini diperingati sebagai "Minggu Bapa," di mana seluruh pelayanan di Gereja pada hari Minggu itu ditangani oleh anggota Seksi Bapa. Nama Kongsi Laita juga diabadikan sebagai nama salah satu GKPS di Sondi Raya.

Parguru Saksi Kristus[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1938 diadakan Fonds Saksi Kristus[28] atau yang sering dikenal orang Simalungun sebagai Parguru Saksi Kristus. Gerakan ini bertujuan untuk memperkenalkan Injil dari rumah ke rumah, dan umumnya dijalankan oleh anggota jemaat dari kalangan pemuda. Parguru Saksi Kristus sangat efektif dalam menghadapi larangan berkumpul yang diterbitkan pemerintahan penjajahan Jepang selama menduduki Indonesia.

Kemandirian GKPS[sunting | sunting sumber]

HKBP di Simalungun[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1929 dibentuk badan pengurus sinode HKBP yang anggotanya berasal dari wakil tiap distrik HKBP yang mewakili etnis penghuni distrik tersebut. Namun karena hingga tahun 1933 Simalungun tidak memiliki wakil dalam badan ini, Sinode Distrik Simalungun-Pesisir Timur mengajukan tuntutan agar suku Simalungun memiliki wakil dalam badan pengurus sinode HKBP agar dapat lebih mengetahui dan mewakili daerah asalnya. Selanjutnya Djaoedin Saragih (Pangulubalei -pejabat kerajaan, kakak dari Dj. Wismar Saragih) juga mengirimkan surat pada Ephorus HKBP, Landgrebe, yang menekankan perlunya terpelihara identitas etnis dan budaya Simalungun dalam lingkungan gereja. Tuntutan ini tidak dipenuhi dengan dipilihnya J. Hutapea dari HKBP Pematang Siantar sebagai wakil Distrik Simalungun-Pesisir Timur.

Seiring semakin tingginya populasi Kristen-Simalungun di Pematang Siantar, Djaoedin Saragih juga menuntut agar diadakan kebaktian khusus berbahasa Simalungun,[29] yang dikabulkan RMG dengan diadakannya kebaktian tersendiri di gedung sekolah Jl. Toba No. 35, dilayani oleh Gr. Djahia Simandjuntak atau Pasman Panggabean yang memahami bahasa Simalungun. Ibadah ini berlangsung hingga terhenti pada tahun 1941 karena kedatangan tentara penjajahan Jepang.

HKBP Distrik Simalungun[sunting | sunting sumber]

Seiring dengan meluasnya daerah tujuan imigrasi suku Toba hingga ke Dairi dan Aceh, tata gereja HKBP tahun 1940 mengubah nama distrik Simalungun-Pesisir Timur (Simalungun-Oostkust) menjadi "Sumatera Timur, Aceh dan Dairi." Perubahan nama ini sebenarnya sudah diprotes oleh J. Wismar Saragih dalam suratnya tanggal 27 Oktober 1937 ke penginjil H. Volmer di Saribudolog,[30] tetapi Tata Gereja tersebut tetap disahkan.

Keberatan yang secara berkelanjutan diajukan oleh komunitas Kristen-Simalungun akhirnya membuahkan hasil ketika Sinode am HKBP yang diadakan pada tanggal 10-11 Juli 1940 di Pearaja membicarakan keberatan mereka dan memutuskan agar Kerkbestuur HKBP membicarakan hal tersebut dengan jemaat Simalungun. Pembicaraan tersebut kemudian diadakan di Raya, Saribudolog dan Nagoridolog pada tanggal 26 September 1940[16] dan memutuskan agar komunitas Simalungun diberi satu distrik tersendiri bernama Distrik Simalungun dengan wakil orang Simalungun di sinode HKBP.[31] Pada tanggal 22 Oktober 1940 Pdt. J.V. Mulywijk dari Kabanjahe dipilih menjadi Praeses pertama, yang kemudian digantikan oleh Pdt. Kerpianus Purba (Pendeta HKBP Nagoridolog) sampai tahun 1952.[32]

HKBP Simalungun[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 5 Oktober 1952 anggota Sinode Distrik Simalungun bersidang agar Simalungun berdiri sendiri dan terpisah dari HKBP, serta mengangkat pengurus harian dan majelis Gereja di HKBPS. Pemisahan ini dilakukan secara sepihak oleh HKBP distrik Simalungun, dan baru diakui oleh wakil-wakil HKBP pada rapat bersama antara delegasi HKBP dan Pengurus Harian HKBP Simalungun tentang pandjaeon (pemisahan) HKBP Simalungun di Pematang Siantar, 21-22 Januari 1953 yang keputusannya ditandatangani pada tanggal 22 Januari 1953.[33] Pihak-pihak yang hadir pada rapat itu adalah:

  1. Pdt. J. Wismar Saragih (HKBP Simalungun).
  2. Pdt. A. Wilmar Saragih (HKBP Simalungun).
  3. Pdt. Kerpianus Purba (HKBP Simalungun).
  4. Ds. K. Sitompul (HKBP).
  5. Pdt. K. Sirait (HKBP).
  6. Pdt. J. Togatorop (HKBP).
  7. Pdt. M. L. Siagian (HKBP).
  8. Pdt. C. Simanjuntak (HKBP).

Untuk memudahkan urusan Gereja ini pada 30 November 1952 HKBPS dibagi menjadi tiga Distrik dan Kantor pusat GKPS didirikan di Pematang Siantar. Kantor pusat bermula menumpang dalam satu rumah sewa di Jl. Pantuan Nagari Martoba, Pematang Siantar. Setelah mendapat sebidang tanah di Jl. Sudirman maka Kantor pusat HKBPS berdiri sendiri (20 September 1955).[2]

HKBP Simalungun menjadi GKPS[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 1 September 1963 HKBP Simalungun resmi berganti nama dengan GKPS.[2] Surat resminya ditandatangani Pdt. G.H.M. Siahaan (wakil HKBP) dan Pdt. Jenus Purba Siboro (mewakili HKBPS) di HKBPS Jalan Sudirman Pematang-siantar.[34] Setahun setelah itu didirikan pusat pendidikan GKPS di Pematang Raya dan pembangunan Asrama Putra dan Putri dan tahun 1964 itu juga GKPS menjadi anggota Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI).[2]

Kerjasama Internasional[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 15 Januari 1964 GKPS mendirikan pusat pelatihan pertanian di Pematang Siantar (PELPEM GKPS) dan satu tahun kemudian GKPS menjadi anggota wilayah PGI-Wilayah SUMUT serta menjalin kerja sama dengan gereja-gereja Lutheran lain, seperti Evangelical Lutheran Church in America (ELCA, sejak 1969) dan Lutheran Church of Australia (LCA, sejak September 1973[2]). GKPS juga menjadi anggota beberapa organisasi gereja di tingkat dunia dan regional, seperti Dewan Gereja-gereja se-Dunia (WCC, sejak Agustus 1973)[35], Dewan Gereja-gereja Asia (CCA, 31 Mei 1977)[36] dan Federasi Lutheran se-Dunia (LWF, sejak 1968)[37]. Karena semakin berkembangnya jemaat GKPS didirikanlah Kantor pusat/kursus Zentrum GKPS dan mulai menjalin kerja sama dengan Gereja Mulheim Jerman.

Mitra-mitra GKPS di luar negeri yaitu:

  • UEM (United Evangelical Mission, sejak Juni 1996[2])
  • Evangelische Kirche in Hessen un Nassau(EKHN)
  • Dekanat Bad Marienberg, Saxony
  • Evangelische Kirche in Rheinland (EKiR)
  • EZE (Evangelische Zentralstelle für Entwicklunghilfe)
  • Kirchenkreis Solingen
  • Evangelische Kirche in Westfalen (EKiW)
  • Kirchenkreis Hagen
  • Evangelische Entwicklungs Dients (EED)
  • Lutheran World Federation
  • World Council of Churches
  • Ecumenical Advocacy Alliance
  • Lutheran Church of Australia
  • Evangelical Lutheran Church in America
  • Evangelische Zentralstelle fur Entwicklunghilfe
  • Brot für die Welt
  • Christian Conference of Asia
  • Kirche Hachenburg, Rhineland-Palatinate
  • Gereja Müllheim (25 November 1980)[2].

Kantor pusat[sunting | sunting sumber]

Kantor Pusat GKPS di Jalan Pendeta J. Wismar Saragih, beroperasi sejak 2 Maret 1992.

Berhubungan dengan lokasi Kantor Pusat GKPS yang ada di Jl. Sudirman, Pematang Siantar, sangat sempit dan suasana Kantor tersebut yang berketepatan dekat dengan jalan raya sehingga para pegawai sulit dalam berkonsentrasi pada pekerjaannya, maka mulai tanggal 4 September 1988 dimulai pengembangan Kantor Pusat GKPS Pematang Siantar.[16] Kantor pusat GKPS berpindah ke secara resmi ke Jl. Pdt. J. Wismar Saragih pada tanggal 2 Maret 1992.[16]

Pimpinan dan Organisasi Pusat GKPS[sunting | sunting sumber]

Pimpinan Pusat[sunting | sunting sumber]

Sesuai Peraturan Rumah Tangga GKPS, pimpinan pusat terdiri atas Ephorus dan Sekretaris Jendral.[38] Pimpinan GKPS berada di tangan seorang Ephorus yang didampingi oleh seorang Sekretaris Jenderal.

Pada masa peralihan dari HKBP distrik Simalungun menjadi HKBP Simalungun (HKBPS), HKBPS tidak memiliki seorang Ephorus. Jabatan tertinggi saat itu adalah seorang Wakil Ephorus, yang didampingi oleh seorang Sekretaris Jendral.[39]

Selama periode 2010-2015, GKPS dipimpin oleh Ephorus Pdt. Jaharianson Saragih, STh, MSc, PhD, dan Sekjennya Pdt El Imanson Sumbayak, MTh.

Daftar Ephorus GKPS[sunting | sunting sumber]

No. Nama Dari Sampai Keterangan
1. Pdt. Jenus Purba Siboro 1 Sept 1963 1965  
2. Pdt. Jenus Purba Siboro 1965 1970  
3. Pdt. Lesman Purba 1970 1972 Seharusnya sampai 1975, tetapi meninggal dunia di Budapest pada tahun 1972
4. Pdt. Samuel Purba Dasuha 1972 1975 Terpilih dalam Synode Bolon Istimewa, 1 Juli 1972[40]
5. Pdt. Samuel Purba Dasuha 1975 1977 Seharusnya 1975-1980, tetapi meninggal dunia pada tahun 1977
6. Pdt. Dr.(HC) Armencius Munthe, MTh. 1977 1980  
7. Pdt. Dr.(HC) Armencius Munthe, MTh. 1980 1985  
8. Pdt. Dr.(HC) Armencius Munthe, MTh. 1985 1990  
9. Pdt. Jasiman Damanik 1990 1995  
10. Pdt. Jasiman Damanik 1995 2000  
11. Pdt. Dr. Edison Munthe, MTh 2000 2005  
12. Pdt. Belman Purba Dasuha, STh[41] 2005 2010 Terpilih pada Synode Bolon GKPS ke-38.
13. Pdt. Jaharianson Saragih, STh, MSc, PhD.[1] 2010 2015 Terpilih tanggal 2 Juli 2010 di Synode Bolon GKPS ke-40, dilantik tanggal 4 Juli 2010 oleh Pdt. Jasirman Sumbayak.[42]


Daftar Wakil Ephorus GKPS[sunting | sunting sumber]

  1. Pdt. Djaulung Wismar Saragih[43]Menjabat saat HKBPS dibentuk


Daftar Sekretaris Jenderal GKPS[sunting | sunting sumber]

No. Nama Dari Sampai Keterangan
1. Pdt. A. Wilmar Saragih 5 Oktober 1952 1963 Menjabat sejak saat HKBPS dibentuk
2. Pdt. Lesman Purba 1 Sept 1963 1965 Ditetapkan saat HKBPS menjadi GKPS
3. Pdt. Lesman Purba 1965 1970  
4. Pdt. Dr.(HC) Armencius Munthe, MTh.[44][45] 1970 1975  
5. Pdt. Dr.(HC) Armencius Munthe, MTh. 1975 1977  
6. Pdt. Hamonangan Girsang 1977 1980  
7. Pdt. Hamonangan Girsang 1980 1985  
8. Pdt. Hamonangan Girsang 1985 1990  
9. Pdt. Dr. (HC)Armencius Munthe, MTh. 1990 1995  
10. Pdt. Sahala A. Girsang 1995 2000  
11. Pdt. M. Rumanja Purba, MSi. 2000 2005  
12. Pdt. M. Rumanja Purba, MSi.[46] 2005 2010 Terpilih pada Synode Bolon GKPS ke-38.
13. Pdt. El Imanson Sumbayak, MTh.[1][47] 2010 2015 Terpilih tanggal 2 Juli 2010 di Synode Bolon GKPS ke-40, dilantik tanggal 4 Juli 2010 oleh Pdt. Jasirman Sumbayak.[42]


Organisasi[sunting | sunting sumber]

Di dalam pekerjaan sehari-hari, pimpinan Sinode GKPS dibantu oleh Departemen-departemen, yaitu:

  • Departemen Persekutuan
  • Departemen Kesaksian
  • Departemen Pelayanan

Selain itu ada pula Biro yang menangani urusan administrasi Gereja, yaitu:

  • Biro Keuangan
  • Biro Usaha

Terdapat dua buah badan yang setingkat dengan Biro, yaitu:

  • Badan Penelitian dan Pengembangan
  • Satuan Pengawasan Internal

Distrik[sunting | sunting sumber]

Di bawah pimpinan Sinode terdapat para Praeses yang mengepalai tiap Distrik atau wilayah pelayanan GKPS. Dalam sejarahnya saat HKBP Distrik Simalungun berubah menjadi HKBP Simalungun (cikal bakal GKPS), pelayanan gereja ini dibagi ke dalam 3 distrik, yaitu:[48]

  1. Huluan, berpusat di Saribudolog.
  2. Tonga-tonga, berpusat di Pamatang Raya.
  3. Kahean, berpusat di Tebing tinggi (kemudian dipindahkan ke Medan).

Selanjutnya GKPS membagi wilayah pelayanannya ke dalam 4 distrik (I sampai IV), namun sejalan dengan perkembangan pelayanan, sejak 10 Juni 2000[16] jumlahnya dikembangkan menjadi 7 distrik.[49]

Setiap Distrik terdiri atas beberapa Resort, dan tiap Resort terdiri atas beberapa Gereja. Jumlah Resort keseluruhannya ada 106 buah, dengan 614 jemaat (gereja). Total keseluruhan anggota GKPS adalah sekitar 210.599 orang.(2007)[50]

Distrik I[sunting | sunting sumber]

Berkedudukan di Pematang Siantar, terdiri atas 28 resort, yang menaungi 132 jemaat.2012[3] Dipimpin oleh:

  • Pdt. Roeslend Munthe, STh (2005-2010).
  • Pdt. Abdi Jekri P. Damanik, M.Si. (16 Juli 2010-2015).[51]

Distrik II[sunting | sunting sumber]

Berkedudukan di Pematang Raya, terdiri atas 15 resort, yang menaungi 88 jemaat.2012[3] Dipimpin oleh:

  • Pdt. Abdi Jekri Damanik, MSi (2005-2010).
  • Pdt. Marlan Damanik, STh (16 Juli 2010-2015).[51]

Distrik III[sunting | sunting sumber]

Berkedudukan di Saribudolok, terdiri atas 23 resort, yang menaungi 124 jemaat.2012[3] Dipimpin oleh:

  • Pdt. Jameldin Sipayung, STh (2005-2010).
  • Pdt. Jusni Herlina Saragih, MTh (16 Juli 2010-2015).[51]

Distrik IV[sunting | sunting sumber]

Berkedudukan di Medan, terdiri atas 17 resort, yang menaungi 93 jemaat.2012[3] Dipimpin oleh:

  • Pdt. Jatalim Sitopu, STh (2005- 11 Juli 2009).[52].
  • Pdt. Pendi Jasman Sinaga, STh (11 Juli 2010 - 2010).[53][54]
  • Pdt. Hot Imanson Sinaga, STh (16 Juli 2010-2015).[51]

Distrik V[sunting | sunting sumber]

Berkedudukan di Tebing Tinggi, terdiri atas 18 resort, yang menaungi 99 jemaat.2012[3] Dipimpin oleh

  • Pdt. El Imanson Sumbayak, MTh (2005-2010).
  • Pdt. Almer Trivendi Purba, STh, MSi (16 Juli 2010-2015).[51]

Distrik VI[sunting | sunting sumber]

Berkedudukan di Pekanbaru, terdiri atas 11 resort, yang menaungi 52 jemaat.2012[3] Dipimpin oleh

  • Pdt. Hot Imanson Sinaga, STh (2005-2010).
  • Pdt. Jameldin Sipayung, STh, MA (16 Juli 2010-2015).[51]

Distrik VII[sunting | sunting sumber]

Berkedudukan di Jakarta, terdiri atas 12 resort, yang menaungi 50 jemaat.2012[3] Dipimpin oleh:

  • Pdt. Jacelsius Purba, STh (2005 - 27 Juni 2009).
  • Pdt. Enida Girsang (27 Juni 2009 - 2010).[55][56]
  • Pdt. Arihta Girsang (16 Juli 2010 - 15 Juni 2012).[51]
  • Pdt. Jhon Harapan Purba, STh, M.Min (16 Juni 2012 - ... ).[57]

Distrik VIII[sunting | sunting sumber]

Diresmikan pada Minggu, 23 Maret 2014, merupakan pemekaran Rayon Serdang (9 resort) dari Distrik IV. Berkedudukan di Galang, terdiri atas 9 resort, yang menaungi 93 jemaat.[58]

Pelayanan GKPS[sunting | sunting sumber]

Dalam menjalankan pelayanannya, GKPS mendirikan beberapa lembaga yang melayani masyarakat dalam berbagai bidang. Lembaga-lembaga tersebut yaitu:

Badan Kesehatan GKPS[sunting | sunting sumber]

Terdapat 2 rumah sakit yang dikelola oleh GKPS, yaitu:

  • R.S. GKPS Bethesda
Berlokasi di Jalan Sutomo, Saribudolok, yang didirikan pada tanggal 15 September 1953[59]
  • R.S. GKPS Pematang Raya
Berlokasi di Jalan Pendeta J. Wismar Saragih, Pematang Raya[59]

Badan Pendidikan GKPS[sunting | sunting sumber]

GKPS pertama mendirikan pusat pendidikannya di Sondi Raya pada tanggal 6 September 1964.[16] Kini Badan Pendidikan GKPS mengelola beberapa asrama dan sekolah GKPS, yang terdiri atas:[60]

  • 3 Taman Kanak-kanak
  • 20 Sekolah Dasar
  • 8 Sekolah Menengah Pertama
  • 5 Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SMA dan SMK)
  • 2 Asrama GKPS.

Pelayanan Pembangunan (Pelpem) GKPS[sunting | sunting sumber]

Didirikan pertama kali pada 15 Januari 1965 dengan nama Pusat Latihan Pertanian GKPS.[16] Kini Pelpem mengelola berbagai perkebunan dan lahan pertanian dan memberikan bantuan mengenai cara bertani/berkebun bagi masyarakat.

Bumi Keselamatan Margarita[sunting | sunting sumber]

Adalah sebuah panti asuhan bagi anak-anak Yatim/Piatu dan terlantar yang secara resmi mulai beroperasi sejak tanggal 24 Juli 2005. Berlokasi di daerah Marihat, Pematang Siantar dan didirikan atas donasi dana dari seorang Bapak atas wasiat dari istrinya (Ibu Margarita) yang namanya kemudian diabadikan sebagai nama Panti Asuhan tersebut.

Panti Karya Remaja GKPS[sunting | sunting sumber]

Logo GKPS[sunting | sunting sumber]

Penetapan Logo GKPS[sunting | sunting sumber]

Logo GKPS ditetapkan oleh Synode Bolon GKPS yang ke 32 di Parapat pada tanggal 4-8 Juli 1994.

Makna logo GKPS[sunting | sunting sumber]

  • Logo adalah huruf atau lambang yang mengandung atau makna, sebagai lambang.
  • Logo GKPS adalah melambangkan makna pewujudan GKPS sebagai bagian yang utuh dan tak terpisahkan dari gereja yang Esa, Kudus, Am/Katolik dan Rasuli di seluruh dunia, yang terpanggil dan disuruh untuk bersekutu, bersaksi dan melayani.

Huruf dan lambang logo GKPS[sunting | sunting sumber]

  1. Dalam Logo GKPS ada tiga hal yang dinampakkan
    1. Salib : Melambangkan pengakuan GKPS bahwa Yesus Kristus adalah Juru Selamat Dunia dan Kepala Gereja, Kebenaran dan Hidup, yang menghimpun dan menumbuhkan gereja sesuai dengan Firman Tuhan.
    2. Daun Sirih : Dua lembar daun sirih menghadap ke Salib melambangkan persekutuan yang sama-sama menyembah kepada Yesus Kristus. Daun sirih juga melambangkan tradisi masyarakat Simalungun dalam persekutuan dan kebersamaan yang saling melayani / menghormati dalam kedamaian demi kesejahteraan.
    3. Tulisan/huruf: Gereja Kristen Protestan Simalungun - GKPS - yang melingkar Salib dan Sirih, melambangkan kehadiran Injil di Simalungun mengantar Simalungun dari kegelapan kepada Terang Allah dan menemukan dalam gereja di Indonesia, yakni Gereja Kristen Protestan Simalungun.
  2. Logo GKPS menggunakan 3 (tiga) warna yaitu:
    1. Warna Putih: Adalah warna dasar. Warna melambangkan kesucian.
    2. Warna Biru : Adalah warna untuk Salib dan tulisan GEREJA KRISTEN PROTESTAN SIMALUNGUN - GKPS -. Warna biru melambangkan kesetiaan.
    3. Warna Hijau : Adalah warna untuk Daun Sirih, merupakan warna asli daun sirih. Warna - hijau melambangkan perdamaian

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c (Indonesia) Webservant, GKPS.or.id, 3 Juli 2010, Pimpinan Pusat GKPS Periode 2010-2015, diakses 3 Juli 2010.
  2. ^ a b c d e f g h Susukkara 2007, Kolportase GKPS, 2007.
  3. ^ a b c d e f g h i Susukkara 2013, Kolportase GKPS, 2013, halaman 398.
  4. ^ J.R. Hutauruk, Sejarah Pengabaran Injil Sampai Tahun 1931 di Tanah Batak dalam Hidup Dalam Kristus (II), DGI Wilayah Sumut-Aceh, Pematangsiantar, 1981, hlm. 50.
  5. ^ Juandaha Raya P. Dasuha, Martin L. Sinaga, "Tole! Den Timorlanden das Evangelium!", Kolportase GKPS, Pematang Siantar, 2003, hlm. 104-107.
  6. ^ P. Sinuraya, Diakonia No.6 Sejarah Pelayanan GBKP di Tanah Karo, 1890-1940, Perc. Merga Silima, Medan, hlm.84-85 dalam Juandaha Raya P. Dasuha, Martin L. Sinaga, "Tole! Den Timorlanden das Evangelium!", Kolportase GKPS, Pematang Siantar, 2003, hlm. 108.
  7. ^ Pimpinan Pusat GKPS, 60 Tahun Injil Kristus di Simalungun, Luhur, Medan, 1963, hlm. 11.
  8. ^ J.T. Nommensen, Ompui Dr. I.L. Nommensen, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1974, hlm.187.
  9. ^ A. Munthe, "Bona ni Jubileum Haranggaol" dalam Jubileum 80 Tahun GKPS Haranggaol, Panitia Jubileum Haranggaol, 1986, hlm. 14.
  10. ^ Pimpinan Pusat GKPS, 60 Tahun Injil Kristus, hlm. 11.
  11. ^ A. Munthe, Pdt. Agust Theis Missionar Voller Hoffnung, Kolportase GKPS, Pematangsiantar, 1987, hlm. 9.
  12. ^ Paul Pedersen, Darah Batak dan Jiwa Protestan, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1975, hlm. 42-43.
  13. ^ J.T. Nommensen, Ompui Dr. I.L. Nommensen, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1974, hlm.191.
  14. ^ Susukkara 2000, Kolportase GKPS, 2000.
  15. ^ Susukkara 2005, Kolportase GKPS, 2005.
  16. ^ a b c d e f g Susukkara 2008, Kolportase GKPS, 2008, halaman 448.
  17. ^ Edwin M. Loeb, Sumatera: It's History and People, Oxford University Press, Singapore, Oxford dan New York, 1990, hlm.22.
  18. ^ J.R. Hutauruk, Kemandirian Gereja, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1993, hlm.163.
  19. ^ J. Wismar Saragih, Sinalsal, No.90/September 1938, hlm.6.
  20. ^ J. Wismar Saragih, sinalsal, No.99/September 1938.
  21. ^ Juandaha Raya P. Dasuha, Martin L. Sinaga, "Tole! Den Timorlanden das Evangelium!", Kolportase GKPS, Pematang Siantar, 2003, hlm. 185.
  22. ^ J. Wismar Saragih, Sinalsal, No.90/September 1938, hlm.5-6.
  23. ^ J. Wismar Saragih, Sinalsal, No.90/September 1938, hlm.8.
  24. ^ J. Wismar Saragih, Sinalsal, No.90/September 1938, hlm.9.
  25. ^ Susukkara 2001, Kolportase GKPS, 2001.
  26. ^ Jan Jahaman Damanik, Tunggul yang Bertunas (Tesis Magister Theologia STT HKBP -tidak dipublikasikan), Pematang Siantar, 1995, hlm.98-99.
  27. ^ Catatan J.D. Girsang dalam Juandaha Raya P. Dasuha, Martin L. Sinaga, "Tole! Den Timorlanden das Evangelium!", Kolportase GKPS, Pematang Siantar, 2003, hlm. 190.
  28. ^ Susukkara 2002, Kolportase GKPS, 2002.
  29. ^ Pucuk Pimpinan HKBP Simalungun, Jubileum 50 Tahun, hlm. 71.
  30. ^ Surat J. Wismar Saragih dalam Jan Jahaman Damanik, Tunggul yang Bertunas (Tesis Magister Theologia STT HKBP -tidak dipublikasikan), Pematang Siantar, 1995, hlm.128-129.
  31. ^ Paul Pedersen, Daerah Batak dan Jiwa Protestan, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1975, hlm. 106.
  32. ^ A. Munthe, Pandita August Theis (Missionar Voller Hoffnung), Kolportase GKPS, Pematang Siantar, 1987, hlm. 50.
  33. ^ Juandaha Raya P. Dasuha, Martin L. Sinaga, "Tole! Den Timorlanden das Evangelium!", Kolportase GKPS, Pematang Siantar, 2003, hlm. 232-234.
  34. ^ Terobosan Spektakuler Comite na ra Marpodah Simaloengoen dalam Memberdayakan dan Mengekalkan Bahasa dan Kebudayaan Simalungun, Pdt. Juandaha Raya Purba Dasuha, STh, Situs Resmi GKPS
  35. ^ Keanggotaan GKPS di situs resmi WCC, diakses 7 september 2008.
  36. ^ Keanggotaan GKPS di situs resmi CCA, diakses 7 september 2008.
  37. ^ Keanggotaan GKPS di situs resmi LWF, diakses 7 september 2008.
  38. ^ Peraturan Rumah Tangga GKPS Bab IX Pasal 45 Ayat 1, 25 Juli 1999, Pematang Siantar
  39. ^ Juandaha Raya P. Dasuha, Martin Lukito Sinaga, Tole! Den Timorlanden Das Evangelium!, Kolportase GKPS, 2003, hlm.229.
  40. ^ Profil Pendeta Samuel P. Dasuha di situs resmi GKPS, diakses 9 September 2008
  41. ^ (Indonesia) Haleluya, akhirnya Ephorus dan Sekjend 2005-2010 terpilih Situs Resmi GKPS, diakses 8 September 2008
  42. ^ a b (Indonesia) Webservant, GKPS.or.id, 6 Juli 2010, Pelantikan Pimpinan Pusat GKPS Periode 2010-2015, diakses 6 Juli 2010.
  43. ^ Keputusan Sinode Istimewa HKBP Distrik Simalungun, 5 Oktober 1952
  44. ^ Anugrah Tuhan yang Tak Terhingga, Jannerson Girsang, J. Anto
  45. ^ Riwayat singkat Pdt. Armencius Munthe, Weblog Armencius Munthe, diakses 11 September 2008
  46. ^ Haleluya, akhirnya Ephorus dan Sekjend 2005-2010 terpilih Situs Resmi GKPS, diakses 8 September 2008
  47. ^ Penetapan Ephorus dan Sekjen periode 2010-2015
  48. ^ Keputusan Sinode Istimewa HKBP Distrik Simalungun, 5 Oktober 1952, poin 4.
  49. ^ Organisasi GKPS: Praeses GKPS, Situs Resmi GKPS, diakses 16 September 2008.
  50. ^ Susukkara 2008, Kolportase GKPS, 2008, halaman 447.
  51. ^ a b c d e f g (Indonesia) Pdt Enny Purba, GKPS.or.id, 1 September 2010, Daftar Mutasi Penginjil & Vikar Pendeta GKPS Per 16 Juli 2010, diakses 6 September 2010.
  52. ^ Seharusnya menjabat hingga 2010, tapi diganti sebelum habis masa jabat karena memasuki Masa Persiapan Pensiun sejak 18 Mei 2009
  53. ^ Sesuai Surat Pimpinan GKPS No. 304/3-PP/2009 tertanggal 13 Juni 2009, seperti dimuat pada GKPS, Ambilan pakon Barita, Edisi 425, Pematang Siantar, September 2009, hlm. 52.
  54. ^ Menjadi Pelaksana Praeses Distrik IV hingga 2010 karena Praeses sebelumnya (Pdt. Jatalim Sitopu, STh) memasuki Masa Persiapan Pensiun. Serah terima di GKPS Teladan, Medan.
  55. ^ Situs resmi GKPS: Serah terima Praeses GKPS Distrik VII kepada Pimpinan Pusat GKPS, Sabtu, 27 Juni 2009 di GKPS Cikoko.
  56. ^ Menjadi Pelaksana Praeses hingga 2010 karena Praeses sebelumnya memasuki Masa Persiapan Pensiun
  57. ^ Ambilan Pakon Barita, 460/Agustus 2012, P. Siantar, 2012
  58. ^ Panitia Peresmian Distrik VIII, Proposal Peresmian Distrik VIII dan Pembangunan Rumah Distrik, Galang, 2014.
  59. ^ a b Susukkara 2008, Kolportase GKPS, 2008, halaman 462.
  60. ^ Susukkara 2013, Kolportase GKPS, 2013, halaman 407.