Tokoh wanita dalam Alquran

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Tokoh-tokoh wanita dalam Al Qur'an adalah tokoh-tokoh wanita yang pernah disebutkan baik namanya ataupun ciri-cirinya dalam Al Qur'an ataupun hadits Rasulullah S.A.W yang dihormati ataupun dicela (dikutuk) dalam Islam. Beberapa wanita yang dapat menjadi teladan dalam Al Qur'an lebih banyak dibdaning wanita-wanita yang tercela. Bahkan dalam Al Qur'an ada sebuah Surah yang artinya "Wanita" yakni Surah An-Nisa. Semua tokoh wanita tidak di sebutkan namanya, kecuali Maryam (مريم) dalam Al Qur'an sebagai ibu dari Nabi Isa AS dan nama sebuah Surah yakni Surah Maryam [1]

Walaupun Al Qur'an tidak pernah menyebutkan nama-nama mereka, tetapi Allah menyebutkan mereka dengan ciri-ciri dan perbuatan yang telah mereka lakukan atau orang-orang terdekat atau yang melengkapi kisah-kisah dari para tokoh laki-laki dalam Al Qur'an (Para Rasul, Nabi atau orang-orang saleh)[2]

Hawa[sunting | sunting sumber]

Hawa seperti tokoh-tokoh wanita dalam Al Qur'an yang lain, Hawa tidak disebutkan namanya dalamAl Qur'an. Namun hadits Rasulullah S.A.W menyebutkan istri Nabi Adam ini sebagai Hawa. Dia disebutkan dalam tiga Surah, yang merupakan wanita pertama di muka Bumi sekaligus ibu dari seluruh manusia.

"Maka Kami berkata: Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka; "
—  Al Qur'an, Surah 20 (Ta-Ha), ayat 117[3]

Kata bercetak tebal diatas merujuk kepada Hawa. Ia diusir oleh Allah dari surga karena memakan buah khuldi dan dipindahkan ke bumi beserta setan-setan dan iblis [4] dan kisah pengusiran dan penurunan mereka ini juga sipercayai oleh umat Nasrani dan Yahudi .[5][6]

Istri Nuh dan Lut[sunting | sunting sumber]

Dalam tiga versi, Al Qur'an pernah menyebutkan mengenai istri Nuh dan Luth. Dalam Al Qur'an mereka dikisahkan tidak beriman kepada Allah, menentang ajaran suaminya dan banyak membantu orang-orang kafir.

"Allah membuat perumpamaan orang-orang kafir istri Nuh dan istri Luth, keduanya berada dibawah pengawasan dua hamba saleh diantara hamba-hamba Kami. Lalu keduanya berkhianat kepada suaminya, tetapi kedua suaminya tidak dapat membantu dari siksa Allah. Dan dikatakan kepada mereka: "masuklah kamu ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)"."
—  Al Qur'an Surah At-Tahrim, ayat 10[7]

Dalam masalah nama-nama mereka, menurut riwayat nama istri Nuh adalah Amzura dan istri Lut adalah Wā‘ila.[8].Kebangkangan dan kekafiran mereka sendiri banyak tercantum dalam Al Qur'an. Istri Nabi Nuh sangat membangkang kepada suaminya sendiri bahkan menganggap suaminya sendiri sudah gila , hingga akhirnya ia tenggelam oleh air bah bersama dengan orang-orang kafir.[9] sedangkan istri Lut membocorkan amanah dari suaminya agar tidak memberitahukan kedatangan dua laki-laki yang bertamu ke rumah mereka (Malaikat Azab) kepada kaum Sodom untuk diserahkan kepada mereka[8]

Anak-anak perempuan Lut[sunting | sunting sumber]

Anak-anak perempuan Lut pernah disebutkan dalam Surah Hud ketika kaum Sodom yang melakukan homoseksual sesama jenis. Anak-anak perempuan Luth dalam hal ini membantu ayahnya dalam meluruskan dari kaum Sodom.

Mereka menjawab: Sesungguhnya kamu bahwa kami tidak memiliki keinginan terhadap puteri-puterimu , dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang kami kehendaki.
— Al Qur'an, surah Hud), ayat 79[10]

Bahkan dalam surah lain, anak-anak perempuan Luth bersedia menjadi pelurus dalam hal Akidah kaum Sodom [8]

Luth berkata: inilah puteri-puteriku, jika kamu hendak melakukannya.
— Al Qur'an, Surah 15 (al-Hijr), ayat 71[11]

Anak-anak perempuan Luth dalam Al-Quran hanya ada dalam dua surah saja, dan mereka mencerminkan sifat yang baik dalam hal menfukung ayahnya dalam meluruskan kaidah agama.[8]

Sarah, istri Nabi Ibrahim[sunting | sunting sumber]

Nama Sarah, istri Nabi Nabi Ibrahim, telah terlebih dahulu disebutkan dalam Perjanjian Lama dan Taurat. Al Qur'an menjelaskan bahwa Sarah adalah ibu dari Nabi Ishak, yang dilahirkannya pada usia tua.[8]

Istrinya berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak, padahal aku seorang perempuan tua dan ini suamiku pun dalam keadaan yang tua pula, sesunguhnya ini benar-benar sesuatu yang aneh"
— Al Qur'an, Surah 11 (Hud), ayat 72[12]

Dalam hadits Rasulullah S.A.W, nama sarah juga tidak terlalu mencolok, tapi justru nama Hajar lebih banyak disebutkan karena merupakan ibu dari Nabi Ismail.[13] Hajar dan Ismail juga diketahui secara luas bahwa mereka berdua adalah penduduk kota Mekah[14] yang pertama kali . Mereka juga merupakan nenek moyang dari bangsa Arab, sedangkan keturunan Sarah menjadi bangsa Israel melalui keturunannya, yaitu Ishak dan Ya'qub .[14]

Istri Aziz (Zulaykha) dan wanita sekelilingnya[sunting | sunting sumber]

Kisah Yusuf dan Zulaykha, istri Aziz, adalah bagian kecil dari bagian tokoh-tokoh wanita dalam Al Qur'an.[8]

Dan wanita yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukan dirinya dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah kesini", Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zhalim tidak akan beruntung"
— Al Qur'an, Surah Yusuf, ayat 23[15]

Ibu dan saudari Musa[sunting | sunting sumber]

Ibu Nabi Musa adalah satu-satunya wanita dalam Al Qur'an yang menerima wahyu.[16] Tuhan mengirimkan wahyu kepada ibu Musa untuk membantu Musa agar tetap hidup .[16]

"Dan Kami ilhamkan kepada Ibu Musa; "susuilah ia dan apabila kamu khawatir terhadapnya jatuhkanlah dia ke sungai (Nil) . Janganlah kamu khawatir dan janhanlah bersedih hati, karena sesungguhnya kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya dari para rasul"
—  Al Qur'an, (Surah Al-Qasas), ayat 7[17]

Peti yang dihanyutkan ibu Musa ternyata menepi di pemandian istana Firaun yang kemudian diasuh oleh keluarga Firaun. Disisi lain ibu Musa merasa hatinya menjadi kosong dan hampa.[18]

Dan kosonglah hati ibu Musa, sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah)
—  Al Qur'an, Surah Al-Qasas, ayat 10[17]

Kemudian setelah saudari Musa melihat bahwa Musa menolak susu demi susu yang diberikan perawat, Dia menyarankan untuk Musa disusui oleh ibunya.

"Dan Kami cegah Musa menyusu kepada perempuan-perempuan yang menyusui sebelum itu; maka berkatalah saudari Musa: "maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?"
—  Al Qur'an, Surah Al-Qasas, ayat 12[19]

Akhirnya Musa kembali ke pangkuan ibundanya, walaupun hanya sampai Musa berhenti menyusu.[20]

istri Musa[sunting | sunting sumber]

Istri Musa adalah seorang wanita, anak dari seorang Nabi yang diutus untuk kaum Madyan, yaitu Nabi Syuaib. Musa harus bekerja kepada Nabi Syuaib selama delapan hingga sepuluh tahun untuk menikahi anak-anak Nabi Syuaib.

Salah seorang dari dua wanita itu berkata: "Ya, bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita) karena sesungguhnya orang yang paling baik bagi kamu yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang-orang yang dapat dipercaya". Berkatalah dia (Syuaib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku atas dasar bahwa kamu bekerja delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik."
—  Al Qur'an, Surah Al-Qasas, ayat 26-27[21]

Namanya tidak disebut dalam Al Qur'an, tetapi beberapa qisas al-anbiya’ menduga bahwa namanya adalah Zipporah.[18] . Kisah-kisah selanjutnya mengenai istri Musa juga dijabarkan dalam surah Al-Qasas [22]

Istri Fir'aun, dikenal sebagai Asiyah, yang menjadi ibu angkat dari Nabi Musa.[18]

Dari sekian panjang kisah perjalanan hidup Musa, Istri Firaun memegang peranan penting di dalamnya, karena Musa diasuh dan dibesarkan oleh keluarga Firaun berkat Asiyah.[23] Kebenaran Asiyah sebagai wanita beriman juga tercantum dalam Al-Qur'an .

Dan berkatalah Istri Fir'aun: "(ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kitaatau kita ambil ia menjadi anak" sedangkan mereka tidak menyadari.
—  Al Qur'an, Surah Al-Qasas, ayat 9[24]

Bahkan sebenarnya Asiyah justru berlindung kepada Allah dari kezaliman suaminya, Fir'aun.[2]

Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di Firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim
— Al Qur'an, Surah 66 (At-Tahrim), ayat 11[25]

Ratu Saba (Bilqis)[sunting | sunting sumber]

Istri Imran[sunting | sunting sumber]

Istri Imran (ayah Maryam) sekaligus nenek dari Nabi Isa [26] tidak disebutkan namanya secara spesifik dalam Al Qur'an.[27] Dalam tradisi Kristen dan Yahudi disebutkan sebagai Hannah. Menurut Al Qur'an, Imran dan istrinya berdoa agar dikaruniai seorang anak[28]

"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melampaui alam semesta, yang merupakan keturunan antara satu dengan yang lain, sungguh Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
—  Al Qur'an, Surah Ali Imran, ayat 33-34[29]

Maryam[sunting | sunting sumber]

Maryam merupakan satu dari empat wanita yang dianggap paling agung yang pernah hidup di dunia, di samping Aisyiah istri Firaun, Khadijah istri Nabi Muhammad SAW, dan Fatimah binti Muhammad dalam Islam. Maryam merupakan satu-satunya wanita yang namanya diabadikan dalam kitab suci Al-Quran. Bahkan salah satu surahnya, ada yang dinamai dengan surah Maryam, surah ke-19. Maryam disebut 34 kali dalam Al-Quran. Maryam menjadi panutan bagi wanita Islam di dunia. Dalam Al-Qur'an, Allah SWT memilih Maryam di atas semua perempuan di seluruh dunia.[30]

Istri-istri Muhammad[sunting | sunting sumber]

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka...

— QS. Al-Ahzab ayat 6[31]

Nabi Muhammad seringkali disebutkan menikah dengan 11 orang perempuan. Terdapat kisah bahwa ia menikah dengan dua orang perempuan lainnya, tetapi diceraikannya sebelum mereka sempat bersama-sama, yaitu Amrah binti Yazid dari Bani Qilab dan Asma binti Nu'man dari Bani Kindah.[32]

Bagian dari serial Islam
Muhammadwives.png
Ummahatul Mu'minin
Para istri Muhammad

Khadijah binti Khuwailid

Saudah binti Zum'ah

Aisyah binti Abu Bakar

Hafshah binti Umar

Zainab binti Khuzaimah

Hindun binti Abi Umayyah

Zainab binti Jahsy

Juwairiyah binti al-Harits

Ramlah binti Abu Sufyan

Shafiyah binti Huyay

Maimunah binti al-Harits

Maria binti Syama’un


Anak-anak perempuan Nabi Muhammad[sunting | sunting sumber]

Nabi Muhammad, memiliki empat anak perempuan dari istrinya, yaitu Khadijah binti Khuwailid, yaitu:

  1. Zainab,
  2. Umm Kultsum,
  3. Ruqayyah, dan
  4. Fatimah.

Wanita yang mengajukan gugatan kepada Nabi Muhammad[sunting | sunting sumber]

Al Qur'an menyebutkan wanita yang mengajukan gugatan karena pada awal surah ini disebutkan bantahan seorang perempuan yang menurut riwayat bernama Khaulah binti Tsa'labah terhadap sikap suaminya yang telah menzhiharnya. Hal ini diadukan kepada Rasulullah dan ia menuntut supaya dia memberikan putusan yang adil dalam persoalan itu.

"Bahwa orang-orang yang menzhihar istri-istri mereka kemudian mereka hendak menarik kembali perkara yang pernah mereka ucapkan; maka diharuskan membebaskan seorang budak sebelum mereka berdua bercampur, demikianlah hal yang diajarkan, sungguh Allah Maha Mengetahui tentang hal-hal yang kalian lakukan,

maka barangsiapa yang tidak menyanggupi, diharuskan berpuasa selama dua bulan terus-menerus sebelum keduanya bercampur, maka barangsiapa yang tidak sanggup, diharuskan memberi makan enam puluh orang yang membutuhkan, demikian itu supaya kalian beriman kepada Allah beserta UtusanNya, sebab demikian itu merupakan batasan-batasan peraturan dari Allah, sedangkan untuk golongan yang kafir telah disediakan Malapetaka pedih. (Ayat: 3-4)"

—  Al Qur'an, Surah Al-Mujadilah, ayat 3-4[33]

istri Abu Lahab[sunting | sunting sumber]

Al Qur'an menyebut istri Abu Lahab dalam Surah ke 111 , yaitu Surah Al-Lahab, tetapi tidak menyebutkan nama sebenarnya . Hadits Nabi meriwayatkan nama istri Abu Lahab bernama Umm Jamil binti Harb yang merupakan saudari Abu Sufyan.

"serta istrinya yang akan membawa kayu bakar;

yang leher perempuan itu dibelenggu tali berbahan sabut."

— Al Qur'an, Surah Al-Lahab, ayat 4-5[34]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "dari the article on Women dan Islam in Oxford Islamic Studies Online". Oxfordislamicstudies.com. 2008-05-06. doi:10.1093/0198297688.003.0006. Diakses tanggal 2012-08-22. 
  2. ^ a b Encyclopaedia of the Qur’an. Leidan: Brill, 2001. Print.
  3. ^ Qur'an 20:117
  4. ^ Chdan, M. (1991). Adam, eve, & satan in the garden of eden. The University of Singh Arts Research Journal, 30(1), 25-35.
  5. ^ Pregill, M. (2008). Isra'iliyyat, myth dan pseudepigraphy: Wabb b. Munabbih dan the early Islamic versions of the fall of Adam dan Eve. Jerusalem studies in bahasa Arab dan Islam,
  6. ^ Muhammad Mutawalli al-Sha’rawi, Qadaya al-mar’a al-muslima (Cairo: Dar al-Muslim, 1982), pp. 32-33 qtd
  7. ^ Qur'an 66:10
  8. ^ a b c d e f Encyclopaedia of the Qurʼān. Leiden: Brill, 2001. Print.
  9. ^ Maḥallī,Jalāl al-Dīn Muḥammad bin Aḥmad, Suyūṭī, & Hamza, F. (2008). Tafsīr al-jalālayn. Louisville, Ky.: Fons Vitae.
  10. ^ Qur'an 11:79
  11. ^ Qur'an 15:71
  12. ^ Qur'an 11:72
  13. ^ Trible, P., & Russell, L. M. (2006). Hagar, sarah, dan their children :Jewish, christian, dan muslim perspectives (1st ed.). Louisville, Ky.: Westminster John Knox Press.
  14. ^ a b Stowasser, B. F. (1994). Tokoh-tokoh wanita dalam Al-Al Qur'an, traditions, dan interpretation. New York: Oxford University Press.
  15. ^ Qur'an 12:23
  16. ^ a b Stowasser, B.F. (1994). Women in the qur’an, traditions, dan interpretation. New York: Oxford University Press, 57
  17. ^ a b Qur'an 28:7
  18. ^ a b c Stowasser, B.F. (1994). Women in the qur’an, traditions, dan interpretation. New York: Oxford University Press. 57
  19. ^ Qur'an 28:12
  20. ^ QS. Al-Qasas:13
  21. ^ Qur'an 66:26–27
  22. ^ Stowasser, B.F. (1994). Women in the qur’an, traditions, dan interpretation. New York: Oxford University Press. 60
  23. ^ Encyclopaedia of the Qur’an. Leidan: Brill, 2001. Print.; Stowasser, B.F. (1994). Women in the qur’an, traditions, dan interpretation. New York: Oxford University Press. 58
  24. ^ Qur'an 28:9
  25. ^ Qur'an 66:11
  26. ^ Encyclopaedia of the Qur’an. Leidan: Brill, 2001. Print
  27. ^ Encyclopaedia of the Qur’an. Leidan: Brill, 2001.
  28. ^ "Maryam", Encyclopaedia of Islam
  29. ^ Qur'an 3:33–34
  30. ^ Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu). —Quran, surah Ali 'Imran/3, ayat 42.
  31. ^ Surah Al-Ahzab ayat 6
  32. ^ Istri-istri Rasulallah di SDMutiaraIslam.com
  33. ^ Surah Al-Mujadilah ayat 3-4
  34. ^ Qur'an 111:4–5

Pranala luar[sunting | sunting sumber]