Kabupaten Pidie Jaya

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Pidie Jaya)
Lompat ke: navigasi, cari
Kabupaten Pidie Jaya
كابوڤاتين ڤيدي جاي
Kabupaten Pidie Jaya
Lambang Kabupaten Pidie Jaya
كابوڤاتين ڤيدي جاي
Moto: Peugah Lagèe Buet Peubuet Lagèe Na


Lokasi Aceh Kabupaten Pidie Jaya.svg
Peta lokasi Kabupaten Pidie Jaya
كابوڤاتين ڤيدي جاي di Aceh
Koordinat: 4°54' 15,702"N sampai 5° 18' 2,244"N dan 96°1' 13,656"E sampai 96°22' 1,007"E
Provinsi Aceh
Dasar hukum UU No. 7 Tahun 2007
Tanggal peresmian 2 Januari 2007
Ibu kota Meureudu
Pemerintahan
 - Bupati Tgk. H. Aiyub Abbas
 - DAU Rp. 350.574.172.000.-(2013)[1]
Luas 1.073,6 km2
Populasi
 - Total 154.795
 - Laki laki : 75.418
 - Wanita   : 79.377 [2]
 - Kepadatan 145
Demografi
 - Kode area telepon 0653
Pembagian administratif
 - Kecamatan 8
 - Kelurahan 222
Simbol khas daerah
Situs web http://www.pidiejayakab.go.id/

Koordinat: 5°7′LU 96°12′BT / 5,117°LU 96,2°BT / 5.117; 96.200

Kabupaten Pidie Jaya adalah salah satu kabupaten di Aceh, Indonesia. Ibukotanya adalah Meureudu. Kabupaten ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2007 pada tanggal 2 Januari 2007, merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Pidie.

Kabupaten Pidie Jaya adalah 1 dari 16 usulan pemekaran kabupaten/kota yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat pada tanggal 8 Desember 2006.

Letak Geografi dan Topografi[sunting | sunting sumber]

Letak Georafi Kabupaten Pidie Jaya berada pada 4°54' 15,702"N  sampai  5° 18' 2,244" N  dan 96°1' 13,656"E   sampai 96°22'1,007"E. Secara Topografi Kabupaten Pidie Jaya berada pada ketinggian 0 mdpl s.d 2300 mdpl dengan tingkat kemiringan lahan antara 0 sampai 40%. Wilayah Kecamatan Jangkabuya secara keseluruhan merupakan dataran rendah antara 0 mdpl s.d 20 mdpl, Kecamatan Bandar Dua berada pada 10 mdpl s.d. 2300 mdpl sedangkan Kecamatan Ulim, Meurah Dua, Meureudu, Trienggadeng, Pante Raja, dan Bandar Baru berada pada 0 mdpl s.d 2.300 mdpl terbentang dari Pesisir Selat Malaka hingga Puncak Gunong Peuet Sagoe pada Gugusan Bukit Barisan. Secara keseluruhan Kabupaten Pidie Jaya rawan terhadap banjir dan erosi. Dari klasifikasi lereng, Kabupaten Pidie Jaya merupakan daerah dataran tinggi yang memiliki daerah kelas lereng sampai dengan 40%[3].

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Utara Selat Malaka
Selatan Kabupaten Pidie
Barat Kabupaten Pidie
Timur Kabupaten Bireuen

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Negeri Meureudu sudah terbentuk dan diakui sejak zaman Kerajaan Aceh. Ketika Sultan Iskandar Muda berkuasa (1607-1636) Meureudu semakin diistimewakan. Menjadi daerah bebas dari aturan kerajaan. Hanya satu kewajiban Meureudu saat itu, menyediakan persediaan logistik (beras) untuk kebutuhan kerajaan Aceh. Sampai Kerajaan Aceh runtuh, Meureudu masih sebuah negeri bebas.

Dalam perjalanan tugas Iskandar Muda ke daerah Semenanjung Melayu (kini Malaysia) tahun 1613, dia singgah di Meureudu, menjumpai Teungku Muhammad Jalaluddin, yang terkenal dengan sebutan Tgk. Ja Madainah. Dalam percaturan politik Kerajaan Aceh negeri Meureudu juga memegang peranan penting.

Hal itu sebegaimana tersebut dalam Qanun al-Asyi atau Adat Meukuta Alam, yang merupakan Undang-undang Kerajaan Aceh. Saat Aceh dikuasai Belanda dan Masjid Indra Puri direbut, dokumen undang-undang kerajaan itu jatuh ke tangan Belanda. Oleh K.F van Hangen dokumen itu kemudian diterbitkan dalam salah satu majalah yang terbit di negeri Belanda.

Dalam pasal 12 Qanun Al-Asyi disebutkan, Apabila uleebalang dalam negeri tidak menuruti hukum, maka sultan memanggil Teungku Chik Muda Pahlawan Negeri Meureudu, menyuruh pukul uleebalang negeri itu atau diserang dan uleebalang diberhentikan atau diusir, segala pohon tanamannya dan harta serta rumahnya dirampas.

Kutipan undang-undang Kerajaan Aceh itu, mensahihkan tentang keberadaan Negeri Meureudu sebagai daerah kepercayaan sultan untuk melaksanakan segala perintah dan titahnya dalam segala aspek kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan keamanan Kerajaan Aceh Darussalam.

Malah karena kemampuan tersebut, Meureudu pernah dicalonkan sebagai ibu kota kerajaan. Caranya, dengan menimbang air Krueng Meureudu dengan air Krueng Aceh. Hasilnya air Krueng Meureudu lebih bagus. Namun konspirasi elit politik di Kerajaan Aceh mengganti air tersebut. Hasilnya ibu kota Kejaan Aceh tetap berada di daerah Banda Aceh sekarang (seputar aliran Krueng Aceh). Untuk mempersiapkan pemindahan ibu kota kerajaan tersebut, sebuah benteng pernah didirikan Sultan Iskandar Muda di Meureudu. Benteng itu sekarang ada di tepi sungai Krueng Meureudu.

Peranan Negeri Meureudu yang sangat strategis dalam percaturan politik pemerintahan Kerajaan Aceh. Ketika Sultan Iskandar Muda hendak melakukan penyerangan (ekspansi) ke Semenanjung Melayu (Malaysia-red). Ia mengangkat Malem Dagang dari Negeri Meureudu sebagai panglima perang, serta Teungku Ja Pakeh-juga putra Meureudu-sebagai penasehat perang, mendampingi Panglima Malem Dagang.

Setelah Semenanjung Melayu, yakni Johor berhasil ditaklukkan oleh Pasukan Pimpinan Malem Dagang, Sultan Iskandar Muda semakin memberikan perhatian khusus terhadap Negeri Meureudu. Kala itu sultan paling tersohor dari Kerajaan Aceh itu mengangkat Teungku Chik di Negeri Meureudu, putra bungsu dari Meurah Ali Taher yang bernama Meurah Ali Husein, sebagai perpanjangan tangan sultan di Meureudu.

Negeri Meureudu negeri yang langsung berada di bawah Kesultanan Aceh dengan status nanggroe bibeueh (negeri bebas-red). Di mana penduduk negeri Meureudu dibebaskan dari segala beban dan kewajiban terhadap kerajaan. Negeri Meureudu hanya punya satu kewajiban istimewa terhadap Kerajaan Aceh, yakni menyediakan bahan makanan pokok (beras-red), karena Negeri Meureudu merupakan lumbung beras utama kerajaan.

Keistimewaan Negeri Meureudu terus berlangsung sampai Sultan Iskandar Muda diganti oleh Sultan Iskandar Tsani. Pada tahun 1640, Iskandar Tsani mengangkat Teuku Chik Meureudu sebagai penguasa definitif yang ditunjuk oleh kerajaan. Ia merupakan putra sulung dari Meurah Ali Husein, yang bermana Meurah Johan Mahmud, yang digelar Teuku Pahlawan Raja Negeri Meureudu.

Sejak Meurah Johan Mahmud hingga kedatangan kolonial Belanda, negeri Meureudu telah diperintah oleh sembilan Teuku Chik, dan selama penjajahan Belanda, Landschap Meureudu telah diperintah oleh tiga orang Teuku Chik (Zelfbeestuurders).

Kemudian pada zaman penjajahan Belanda, Negeri Meureudu diubah satus menjadi Kewedanan (Orderafdeeling) yang diperintah oleh seorang Controlleur. Selama zaman penjajahan Belanda, Kewedanan Meureudu telah diperintah oleh empat belas orang Controlleur, yang wilayah kekuasaannya meliputi dari Ulee Glee sampai ke Panteraja.

Setelah tentara pendudukan Jepang masuk ke daerah Aceh dan mengalahkan tentara Belanda, maka Jepang kemudian mengambil alih kekuasaan yang ditinggalakan Belanda itu dan menjadi penguasa baru di Aceh. Pada masa penjajahan Jepang, masyarakat Meureudu dipimpin oleh seorang Suntyo Meureudu Sun dan Seorang Guntyo Meureudu Gun.

Sesudah melewati zaman penjajahan, sejak tahun 1967, Meureudu berubah menjadi Pusat Kawedanan sekaligus pusat kecamatan. Selama Meureudu berstatus sebagai kawedanan, telah diperintah oleh tujuh orang Wedana. Pada tahun 1967, Kewedanan Meureudu dipecah menjadi empat kecamatan yaitu Ulee Glee, Ulim, Meureudu dan Trienggadeng Penteraja, yang masing-masing langsung berada di bawah kontrol Pemerintah Daerah Kabupaten Pidie.

Kini daerah Kawedanan Meureudu menjelma menjadi Kabupaten Pidie Jaya, dengan Meureudu sebagai ibu kotanya.

Makna Lambang Daerah[sunting | sunting sumber]

  1. Wadah Perisai: Perlindungan kepada segenap masyarakat Pidie Jaya dalam menghadapi berbagai tantangan guna menuju masyarakat yang adil dan makmur.
  2. Untaian Padi dan Rangkaian Tandan Kapas: Kemakmuran rakyat Pidie Jaya yang adil dan merata.
  3. Buku/Kitab dan Pena: Peningkatan SDM atau cita-cita agar Kabupaten Pidie Jaya senantiasa mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi.
  4. Rencong: Kepahlawanan dan keperkasaaan serta menjunjung tinggi nilai budaya leluhur.
  5. Timbangan dan Neraca: Pemerintah yang adil di Kabupaten Pidie Jaya.
  6. Kubah Masjid dengan Bintang Bulan: Syariat Islam yang merupakan falsafah hidup bagi masyarakat Pidie Jaya.
  7. Delapan (8) Pintu di Bawah Kubah: Kabupaten Pidie Jaya memiliki delapan (8) kecamatan dalam wilayahnya.
  8. Pita Merah bertuliskan "Pidie Jaya": Masyarakat Pidie Jaya berani manghadapi tantangan kemajuan daerah.
  9. Warna Dasar Biru Tua: Potensi laut di seluruh wilayah Pidie Jaya.
  10. Warna Dasar Biru Muda: Bagian atas bermakna warna angkasa yang bersih sebagai cita-cita warga Pidie Jaya[4][5].

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Pidie Jaya terbagi dalam 8 (delapan) kecamatan, 34 Mukim dan 222 gampong (desa).[6]. Berikut ini merupakan daftar Kecamatan yang ada di Kabupaten Pidie Jaya beserta luas dan jumlah Mukim dan Gampong (Desa) yang dimilikinya.[6][4][7][8]

Kecamatan Ibukota Luas Darat (Km2) Persentase (%) Mukim Gampong (Desa) Dusun (Subvillages)
Bandar Dua Ulee Glee 174,32 14,99 5 45 121
Bandar Baru Leung Putu 220,47 24,19 8 43 113
Jangka Buya Jangka Buya 9,35 2,55 2 18 47
Meurah Dua Meurah Dua 287,07 25,13 3 19 63
Meureudu Meureudu 124,79 13,48 4 30 96
Panteraja Pante Raja 15,00 3,44 2 10 30
Trienggadeng Trienggadeng 79,37 11,01 5 27 101
Ulim Ulim 41,75 5,22 5 30 78
Pidie Jaya 952,12 100,00 34 222 649

Nama-nama Gampong menurut Kecamatan di Kabupaten Pidie Jaya adalah sebagai berikut:[8]

Kecamatan Mukim Gampong
Meureudu Beuracan, Beuriweuh, Manyang, Meureudu Dalam Meunasah Mulieng, Lampoh Lada, Glumpang Tutong, Rungkom, Blang Awe, Manyang Lancok, Pohroh, Kudrang, Meunasah Hagu, Deah Tuha, Rumpuen, Meunasah Kulam, Rambong, Grong-grong, Kuta Trieng, Pulo U, Manyang Cut, Beurawang, Dayah Timu, Bunot, Teupin Peuraho, Geulidah, Meunasah Lhok, Masjid Tuha, Rhing Mancang, Rhing Krueng, Rhing Blang, Meuraksa, Meunasah Balek, Kota Meureudu
Meurah Dua Kuta Simpang, Kuta Baroh, Kuta Reuntang Seunong, Lhok Sandeng, Sarah Mane, Lancok, Meunasah Kulam, Teungoh, Genteng, Meunasah Bie, Meunasah Raya, Dayah Usen, Blang, Blang Cut, Dayah Kruet, Beuringen, Mancang, Pante Beureune, Jurong, Buangan, Lueng Bimba
Bandar Dua Ulee Glee Dalam, Ulee Glee Barat, Ulee Glee Tunong, Ulee Glee Timu, Jangka Buya Timu Gaharu, Kumba, Blang Mirou, Beurasan, Cot Keng, Krueng Kiran, Asan Kumbang, Pulo Gapu, Cot Geurefai, Alue Sane, Lhok Pusong, Alue Keutapang, Jeulanga Barat, Jeulanga Mata ie, Jeulanga Masjid, Meunasah Paku, Meurandeh Alue, Reudeup Meulayui, Paya Pisang Klat, Alue Mee, Drien Tujoh, Blang Kuta, Seunong, Pohroh, Babah Krueng, Uteun Bayu, Meuko Buloh, Drien Bungong, Meugit Sagoe, Meugit Kayee Panyang, Adan, Muko Dayah, Keude Ulee Gle, Pulo, Kampung Baro, Ulee Gle, Muko Kuthang, Peulakan Tunong, Peulakan Tambo, Kuta Krueng, Paya Tunong, Paya Baroh, Blang Dalam, Meuko Baroh, Peulakan Ceubrek
Jangka Buya Jangka Buya Barat, Jangka Buya Baroh Muko Jurong, Buket Teungoh, Jurong Ara, Jurong Teungoh, Jurong Binje, Reului Mangat, Meunasah Me, Meunasah Kumbang, Kuta Baroh, Meuko Meugit, Meunasah Raya, Kiran Dayah, Kiran Baroh, Kiran Krueng, Meunasah Lueng, Keude Jangka Buya, Cot, Meunasah Beureumbang
Ulim Ulim Teunong, Paya Seutui, Ulim Baroh, Nanggroe, Blang Rheu Alue Keumiki, Lhok Gajah, Blang Rheue, Cot Seutui, Meunasah Masjid, Blang Cari, Bidok, Balee Ulim, Pantang Cot Baloi, Nanggroe Barat, Reuleut, Sambong Baro, Dayah Baroh, Meunasah Pupu, Nanggroe Timu, Meunasah Kumbang, Masjid Ulim Tunong, Siblah Coh, Pulo Ulim, Grong-grong Capa, Tanjong Ulim, Krueng, Keude Ulim, Dayah Leubue, Masjid Ulim Baroh, Meunasah Bueng, Geulanggang, Tijien Husen, Pulo Lhok, Tijien Daboh
Trienggadeng Trienggadeng, Peulandok, Pangwa, Peuduek Baroh, Peuduek Tunong Panton Raya, Peulandok Tunong, Peulandok Teungoh, Buloh, Dayah Ujong Baroh, Matang, Dee, Dayah Teumanah, Tampui, Reusep, Masjid Peuduek, Tuha, Paya, Masjid Trienggadeng, Tung Kluet, Mee Pangwa, Rawasari, Cot Makaso, Kuta Pangwa, Meucat Pangwa, Dayah Pangwa, Cot Lheu Rheung, Meuee, Keude Trienggadeng, Raya, Me Peudeuk Baroh, Sagoe
Panteraja Panteraja Barat, Panteraja Timu Tunong Panteraja, Lhok Puuk, Muka Blang, Teungoh Panteraja, Peurade, Reudeup, Masjid Panteraja, Hagu, Tu, Keude Panteraja
Bandar Baru Lueng Putu, Nyong, Langien, Musa, Cubo, Lancok, Tanoh Mirah, Jalan Rata Aki Neungoh, Abah Lueng, Jijiem, Sarah Panyang, Blang Sukon, Kayee Jatoe, Blang Baro, Blang Iboih, Langien, Blang Krueng, Alue, Tanoh Mirah, Ujong Leubat, Tualada, Cot Langien, Sagoe, Baroh Cot, Bale, Teungoh, Baroh Musa, Paru Keude, Lancang, Udeung,, Ara, Blang Glong, Keude, Puep/Lueng Nibong, Daboih, Pulo Rheng, Meunasah Gampong, Dayah Nyong, Beurandeh, Kayee Raya, Siren, Tutong, Manyang, Baroh Lancok, Masjid Lancok, Pulo Pueb, Sawang, baro Nyong, Cut Nyong, Paru Cot

Iklim[sunting | sunting sumber]

Jumlah Hari Hujan Kabupaten Pidie Jaya tahun 2015[8]

Bulan Curah Hujan (mm³) Hari Hujan
Januari 1.223 9
Februari 504 4
Maret 793 5
April 300 5
Mei 711 5
Juni 501 4
Juli 516 7
Agustus 278 4
September 1.016 8
Oktober 1.549 10
November 1.736 11
Desember 2.007 12

Kependudukan[sunting | sunting sumber]

Jumlah Penduduk Kabupaten Pidie Jaya menurut BPS Pidie Jaya pada tahun 2015 adalah sebanyak 148.719 jiwa yang terdiri dari 72.703 laki-laki dan 76.016 jiwa perempuan.[8]

Kecamatan Jumlah Penduduk ( x 000) Laju Pertumbuhan Penduduk per Tahun (%)
2010 2014 2015 2010-2015 2014-2015
1 Meureudu 18.521 20.134 20.657 2,12 2,15
2 Meurah Dua 10.164 11.048 11.287 2,12 2,16
3 Bandar Dua 23.825 25.901 26.460 2,12 2,16
4 Jangka Buya 8.776 9.541 9.747 2,12 2,16
5 Ulim 13.432 14.604 14.919 2,12 2,16
6 Trienggadeng 20.048 21.793 22.261 2,12 2,15
7 Panteraja 7.588 8,249 8.426 2,12 2,15
8 Bandar Baru 31.564 34.314 35.052 2,12 2,15
Pidie Jaya 133.918 145.584 148.719 2,12 2,15

Referensi[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]