Nabaga

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Dalam mitologi Hindu, Nabaga (Dewanagari: नाभाग,IASTNābhāga, नाभाग) adalah seorang pangeran, putra Waiwaswata Manu, Raja Kosala. Nabaga mencintai seorang wanita berkasta wesya bernama Supraba. Ayah Supraba tidak merestui hubungan mereka karena Nabaga adalah seorang pangeran. Ia menganggap seorang pangeran tidak layak untuk menikahi putri seorang wesya, dan ia takut bila sang raja marah sebab ia menikahkan putrinya dengan pangeran Nabaga. Karena terus didesak oleh Nabaga, ayah Supraba melaporkan hal tersebut kepada sang raja. Sang raja merundingkan masalah tersebut dengan para penasehatnya. Penasehat sang raja menyarankan agar Nabaga menikah dengan wanita yang sederajat dengannya, lalu ia boleh menikahi Supraba sebagai istri kedua. Sang raja menyetujui saran itu, namun Nabaga menolaknya. Ia tidak mau menikah dengan wanita selain Supraba. Akhirnya, Nabaga menculik Supraba, kemudian mereka kawin lari.

Raja Manu segera mengerahkan pasukannya untuk menjemput Nabaga pulang, namun pasukan yang dikerahkan berhasil dikalahkan oleh Nabaga. Akhirnya sang raja sendiri yang turun tangan menghadapi Nabaga. Maka terjadilah pertarungan antara ayah dan anak. Resi Narada(orang bijak yang suka mengembara) menengahi pertarungan tersebut. Dia menjelaskan bahwa Nabaga telah menikah dengan Supraba (gadis wesya) sehingga Nabaga telah menjadi seorang wesya. Maka dari itu, Nabaga tidak layak bertarung dengan ayahnya, yang masih merupakan seorang kesatria. Akhirnya pertarungan pun dihentikan. Raja Manu kembali ke kerajaannya, sementara Nabaga dibiarkan hidup sebagai seorang wesya, yang hidup dari hasil bertani, beternak, dan berdagang.

Nabaga dan Supraba memiliki putra yang diberi nama Banandana. Setelah Banandana beranjak dewasa, ayahnya memerintahkannya untuk menjadi pengembala sapi yang menguasai seluruh ternak. Banandana menyangka bahwa perintah itu adalah suatu kiasan agar ia menaklukkan seluruh kerajaan di bumi. Maka Banandana menaklukkan kerajaan-kerajaan di bumi setelah mempelajari ilmu perang dari Resi Nipa. Banandana meminta agar Nabaga menjadi raja, namun Nabaga menolaknya karena ia adalah seorang wesya. Kemudian Supraba menjelaskan bahwa Nabaga bukanlah seorang wesya, melainkan seorang kesatria, karena Supraba merupakan kesatria. Supraba menjelaskan bahwa sesungguhnya ia dan ayahnya merupakan seorang kesatria, namun dikutuk menjadi seorang wesya oleh Resi Pramati. Kutukan itu akan berakhir bila Supraba menikah secara paksa dengan seorang kesatria. Nabaga adalah kesatria tersebut, sehingga Supraba memperoleh kembali statusnya sebagai kesatria, demikian pula Nabaga.

Meskipun Supraba sudah menjelaskan bahwa kini keluarganya adalah kaum kesatria, Nabaga tetap menolak untuk menjadi raja. Akhirnya, Banandana diangkat menjadi raja.

Referensi[sunting | sunting sumber]