Kejadian 1:5

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
ayat 4       Kejadian 1:5       ayat 6
Genesis on egg cropped

Pasal pertama kitab B'reshit, atau Kitab Kejadian, ditulis pada sebutir telur, koleksi Museum Israel.
Kitab: Kitab Kejadian
Bagian Alkitab: Perjanjian Lama
Kitab ke- 1
Kategori: Taurat

Kejadian 1:5 adalah ayat kelima dari pasal pertama Kitab Kejadian, yaitu kitab pertama dalam Alkitab Ibrani maupun Alkitab Kristen. Memuat catatan penciptaan terang oleh Allah.

Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama. Kejadian 1:5 (Terjemahan Baru)

Bahasa Kuno[sunting | sunting sumber]

Lukisan pada Stained-glass yang menggambarkan penciptaan pada hari pertama, di Sainte-Madeleine Church, Troyes.

Bahasa Ibrani[sunting | sunting sumber]

Teks Masoret

(dari kanan ke kiri): :ויקרא אלהים ׀ לאור יום ולחשך קרא לילה ויהי־ערב ויהי־בקר יום אחד׃ פ

Transliterasi

(dari kiri ke kanan): wa-yiq-rā ’ĕ-lō-hîm lā-’ō-wr yō-wm, wə-la-khō-sheḵ qā-rā lā-yə-lāh; way-hî-‘e-reḇ way-hî-ḇō-qer yō-wm ’e-khāḏ p̄.

Terjemahan harfiah:

Dan menyebutlah Allah terang_itu "hari" (="siang"); dan kegelapan disebut "malam"; dan ada petang dan ada pagi, hari satu.

Bahasa Yunani[sunting | sunting sumber]

Septuaginta

καὶ ἐκάλεσεν ὁ θεὸς τὸ φῶς ἡμέραν καὶ τὸ σκότος ἐκάλεσεν νύκτα καὶ ἐγένετο ἑσπέρα καὶ ἐγένετο πρωί ἡμέρα μία[1]

Transliterasi

kai ekalesen o deos to fos emeran kai to skotos ekalesen nykta kai egeneto espera kai egeneto proi emera mia.

Bahasa Latin[sunting | sunting sumber]

Vulgata (abad ke-4 M)

appellavitque lucem diem et tenebras noctem factumque est vespere et mane dies unus

Bahasa Indonesia[sunting | sunting sumber]

Kejadian 1 yang pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Pdt. Daniel Brouwerius (1662)
Versi Kejadian 1:5
Terjemahan Baru (1974) Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.[2]
BIS (1985) dan dinamakan-Nya terang itu "Siang" dan gelap itu "Malam". Malam lewat, dan jadilah pagi. Itulah hari yang pertama.[3]
Terjemahan Lama (1958) Maka dinamai Allah akan terang itu siang dan akan gelap itu malam. Setelah petang dan pagi, maka itulah hari yang pertama.[3]
AYT Draft Allah menyebut terang itu “siang” dan gelap itu “malam”. Jadilah petang, dan jadilah pagi. Inilah hari yang pertama.[3]
MILT (2008) Allah menyebut terang itu siang dan gelap itu malam. Dan jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.[3]

Bahasa asing[sunting | sunting sumber]

Bahasa Inggris[sunting | sunting sumber]

Versi Raja James (1610)

And God called the light Day, and the darkness he called Night. And the evening and the morning were the first day.

Referensi silang[sunting | sunting sumber]

Analisis[sunting | sunting sumber]

Siang dan malam[sunting | sunting sumber]

Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam

Komentator Paul Kissling menulis bahwa dengan menamai "siang" dan "malam", Allah menyatakan kekuasaan mutlak atas mereka, memandang terang dan kegelapan di sini semata-mata jasmaniah.[5] Dalam dunia Timur Dekat kuno, "tindakan memberi nama bermakna, di atas segalanya, menerapkan hak kekuasaan."[6] Galia Patt-Shamir menunjukkan bahwa "kuasa atas nama dan penamaan" ditunjukkan di sini, dan kemudian kuasa penamaan ini juga diberikan kepada Adam, manusia pertama.[7]

Menurut Yohanes Calvin, di sini Allah menetapkan "pergantian teratur siang dan malam" ("a regular vicissitude of days and nights").[8]

Di sisi lain, Zohar, menafsirkan ayat ini sebagai suatu "pancaran" ("emanation") yang akan menjadi "akar landasan kehidupan alam semesta."[9]

Petang dan pagi[sunting | sunting sumber]

Kata-kata "Jadilah petang dan jadilah pagi" diulang enam kali dalam Kejadian pasal 1 (Kejadian 1:5,8,13,19,23,31). Kata Ibrani untuk hari adalah yōm. Biasanya kata ini artinya suatu hari sepanjang 24 jam (bandingkan Kejadian 7:17; Matius 17:1), atau bagian siang dari suatu hari ("hari" sebagai lawan dari "malam"). Tetapi kata ini bisa juga dipakai untuk jangka waktu yang tidak tentu (misalnya: "musim panen," Amsal 25:13). Banyak orang percaya bahwa hari-hari penciptaan merupakan hari dalam arti 24 jam karena digambarkan sebagai terdiri atas "petang" dan "pagi" (Kejadian 1:5; bandingkan Keluaran 20:11). Yang lain percaya bahwa "petang" dan "pagi" hanya berarti bahwa suatu petang mengakhiri tahap penciptaan tersebut dan keesokan paginya merupakan awal yang baru lagi.[10]

Muncul pertanyaan bagaimana petang dan pagi dapat terjadi tanpa adanya "matahari" yang masih akan diciptakan pada hari keempat.

Augustinus dari Hippo, dalam karyanya City of God, menulis "hari-hari biasa kita tidak mempunyai petang selain dari terbenamnya matahari, dan tidak mempunyai pagi selain dari terbitnya matahari; tetapi tiga hari pertama semua berlalu tanpa adanya matahari, karena matahari ditulis dibuat pada hari keempat."[11] Ia menerangkan dilema ini dengan menafsirkan bahwa petang dan pagi dalam makna kiasan.[11][12]

Franz Delitzsch memandang petang dan pagi sebagai penandaan akhir suatu "hari" yang panjangnya meliputi banyak aeon,[13] sementara yang lain memandang sebagai penandaan suatu hari harfiah yang terdiri dari 24 jam.[14] Theistic evolution[15] dan "day-age creationism" mengikuti yang tafsiran pertama,[16] sedangkan Kreasionisme Bumi Muda mengikuti tafsiran kedua.[17] Pendapat lain memberi penafsiran harfiah bahwa di mana proses penciptaan digambarkan dalam istilah manusia, menggunakan analogi minggu kerja.[18] Dalam tradisi Yahudi, fakta bahwa "petang" ditulis terlebih dahulu membawa kepada ide bahwa suatu hari dimulai dari terbenamnya matahari.[19]

Daniel menyebut "petang pagi" untuk "hari" dalam nubuatannya pada Daniel 8:26. Rasul Paulus menyebut "malam siang" untuk "hari" pada 2 Korintus 11:25. Thales ketika ditanya yang mana diciptakan dulu, "malam" atau "siang", menjawab "malam" terjadi sebelum satu "siang" atau "hari".[20] Selain orang Yahudi, bangsa-bangsa lain juga memulai hari dari petang sebelumnya, misalnya: orang Atena dulu menghitung hari dari petang ke petang;[21] orang Romawi dari tengah malam sampai ke tengah malam, sebagaimana yang ditulis oleh Gellius.[22] Tacitus melaporkan bahwa orang Jerman kuno menghitung jumlah hari sebagai "jumlah malam", karena "malam" membawa kepada "hari".[23] Julius Caesar mengamati bahwa orang Druid kuno di Britania menghitung waktu bukan dengan jumlah hari, melainkan jumlah malam, dan merayakan ulang tahun, permulaan bulan mau pun tahun dari hari setelah malamnya (dalam bahasa Inggris masih dapat dilacak dari penggunaan kata "se'nnight" untuk hari ini, atau "this day fortnight).[24][25] Hari pertama penciptaan, menurut James Capellus, jatuh pada tanggal 18 April; tetapi menurut Bishop Usher, 23 Oktober; yang satu menganggap penciptaan dimulai pada musim semi, sedangkan yang lain musim gugur. Kata Ibrani "Ereb", yang diterjemahkan "petang", dipertahankan penggunaannya oleh sejumlah penyair Yunani, seperti Hesiod,[26] yang menulis: "dari "kekacauan" (chaos) muncullah "Erebus", dan malam gelap, lalu dari malam muncullah ether dan "hari" (="siang").[25]

Tradisi Yahudi[sunting | sunting sumber]

Ayat ini merupakan bagian dari Bacaan Taurat Mingguan yang dinamai Bereshit (Kejadian 1:1-6:8).[27]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Blue Letter Bible - Genesis 1
  2. ^ Kejadian 1:5
  3. ^ a b c d SabdaWeb Kejadian 1:5
  4. ^ a b c d Biblehub - Hebrew - Gen 1:5
  5. ^ Kissling, Paul J., Genesis, Volume 1, College Press, 2004, ISBN 0-89900-875-5, p. 101.
  6. ^ von Rad, Gerhard, Genesis: A Commentary, Westminster John Knox Press, 1973, ISBN 0-664-22745-7, p. 53.
  7. ^ Patt-Shamir, Galia , To Broaden the Way: A Confucian-Jewish Dialogue, Lexington Books, 2006, ISBN 0-7391-1191-4, p. 128.
  8. ^ Calvin, Commentary on Genesis - Volume 1.
  9. ^ Zohar, Bereshith to Lekh Lekha: Or, Book of Light, Forgotten Books, ISBN 1-60506-746-6, pp. 89–90.
  10. ^ The Full Life Study Bible. Life Publishers International. 1992. Teks Penuntun edisi Bahasa Indonesia. Penerbit Gandum Mas. 1993, 1994.
  11. ^ a b Augustine, City of God, Book XI, Chapter 7.
  12. ^ MacDonald, Nathan, Elliott, Mark W., and Macaskill, Grant , Genesis and Christian Theology, Eerdmans, 2012, ISBN 0-8028-6725-1, p. 124.
  13. ^ Delitzsch, Franz, A New Commentary on Genesis , 1888, p. 84.
  14. ^ Berkhof, Louis, Systematic Theology, Eerdmans, 1996, ISBN 0-8028-3820-0, p. 155.
  15. ^ Kissling, Paul J., Genesis, Volume 1, College Press, 2004, ISBN 0-89900-875-5, p. 38.
  16. ^ Allison, Gregg, Historical Theology: An Introduction to Christian Doctrine, Zondervan, 2011, ISBN 0-310-23013-6, p. 273.
  17. ^ Merrill, Eugene H., Rooker, Mark, and Grisanti, Michael A., The World and the Word: An Introduction to the Old Testament, B&H Publishing Group, 2011, ISBN 0-8054-4031-3, p. 181.
  18. ^ Hamilton, Victor P., The Book of Genesis: Chapters 1-17, 7th ed., Eerdmans, 1990, ISBN 0-8028-2521-4, pp. 55–56.
  19. ^ Frojimovics, Kinga and Komoróczy, Géza, Jewish Budapest: Monuments, Rites, History, Central European University Press, 1999, ISBN 963-9116-37-8, p. 305.
  20. ^ Laert. in Vita Thaletis. p. 24.
  21. ^ Plin. Nat. Hist. l. 2. c. 77.
  22. ^ Noct. Attic. l. 3. c. 2.
  23. ^ Tacitus. De Mor. German. c. 11.
  24. ^ Commentar. l. 6. p. 141.
  25. ^ a b John Gill's Exposition of the Entire Bible, - Genesis 1:5
  26. ^ Hesiod. Theogonia.
  27. ^ Penanggalan parsyah

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Pustaka tambahan[sunting | sunting sumber]

  • Jewish Publication Society. The Torah: The Five Books of Moses (3rd ed). Philadelphia: 1999.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Didahului oleh:
Kejadian 1:4
Kitab Kejadian Diteruskan oleh:
Kejadian 2