Kejadian 7

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Kejadian 7 (disingkat Kej 7) adalah bagian dari Kitab Kejadian dalam Alkitab Ibrani dan Perjanjian Lama di Alkitab Kristen. Termasuk dalam kumpulan kitab Taurat yang disusun oleh Musa.[1][2]

Teks[sunting | sunting sumber]

Struktur[sunting | sunting sumber]

Ayat 1[sunting | sunting sumber]

Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: "Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini.[3]
  • "Masuklah"

Panggilan Allah kepada Nuh ini begitu lembut, seperti seorang ayah yang memanggil anak-anaknya untuk masuk ke dalam rumah, karena melihat angin ribut akan segera datang. Ayat ini menunjukkan bahwa saat itu Allah sudah berada di dalam bahtera. Nuh tidak masuk ke dalam bahtera, sampai Allah memanggilnya masuk, meskipun ia tahu tempat itu memberikan keamanan. Sungguh melegakan melihat Allah berjalan di depan setiap langkah yang akan kita ambil. Nuh sudah bersusah payah membangun bahtera dan sekarang ia akan dilindungi nyawanya di dalamnya. Jika kita mematuhi perintah Allah dan dalam iman, kita akan mendapat kelegaan. Panggilan Allah ini mengingatkan pada panggilan untuk orang-orang berdosa. Kristus ada di dalam bahtera, yang di dalamnya kita akan aman, ketika kematian dan penghakiman mendekat. Roh berkata: "Masuklah ke dalam bahtera".[4]

Ayat 11[sunting | sunting sumber]

Pada waktu umur Nuh enam ratus (600) tahun, pada bulan yang kedua (ke-2), pada hari yang ketujuh belas (ke-17) bulan itu, pada hari itulah terbelah segala mata air samudera raya yang dahsyat dan terbukalah tingkap-tingkap di langit.[5]

Dua peristiwa yang membawa perubahan besar mempercepat terjadinya air bah: ledakan tempat-tempat penyimpanan air yang besar di bawah tanah, mungkin disebabkan oleh gempa bumi dengan gelombang-gelombang pasang yang besar dari samudera, dan hujan yang amat lebat selama 40 hari (ayat 12).

  1. Demikianlah, semua makhluk hidup di luar bahtera yang biasanya hidup di tanah kering mati, baik manusia maupun hewan (Kejadian 7:21-22; Matius 24:37-39; 1 Petrus 3:20; 2 Petrus 2:5).
  2. Air naik begitu tinggi sehingga "ditutupinyalah segala gunung tinggi di seluruh kolong langit" (Kejadian 7:19-20); yaitu, seluruh bumi terendam air. Kenyataan ini menunjuk suatu banjir menyeluruh dan bukan sekadar banjir lokal di tempat tertentu saja (bandingkan 2 Petrus 3:6). Air mulai surut setelah 150 hari (ayat 24). Bahtera Nuh akhirnya terdampar di salah satu puncak gunung Ararat (sekarang Armenia), 800 kilometer dari tempat semula (Kejadian 8:4).
  3. Bumi mulai mengering, dan Nuh meninggalkan bahtera 377 hari setelah air bah dimulai (Kejadian 8:13-14).
  4. Rasul Petrus menyatakan bahwa dunia sebelum air bah "binasa" (2 Petrus 3:6). Ini menunjukkan bahwa oleh karena suatu pergolakan topografikal yang sangat besar, bumi pra-air bah berubah secara radikal, baik secara fisik maupun secara geologis, menjadi bumi sebagaimana adanya saat ini.[6]

Ayat 12[sunting | sunting sumber]

Dan turunlah hujan lebat meliputi bumi empat puluh (40) hari empat puluh (40) malam lamanya.[7]

Ayat 13[sunting | sunting sumber]

Pada hari itu juga masuklah Nuh serta Sem, Ham dan Yafet, anak-anak Nuh, dan isteri Nuh, dan ketiga isteri anak-anaknya bersama-sama dengan dia, ke dalam bahtera itu,[8]

Ayat 17[sunting | sunting sumber]

Empat puluh (40) hari lamanya air bah itu meliputi bumi; air itu naik dan mengangkat bahtera itu, sehingga melampung tinggi dari bumi.[9]

Ayat 24[sunting | sunting sumber]

Dan berkuasalah air itu di atas bumi seratus lima puluh (150) hari lamanya.[10]

Lebih dari satu saksi mata[sunting | sunting sumber]

Dalam cerita "air bah", Graf-Wellhausen mengidentifikasi 2 narator, sedangkan Jean Astruc menemukan 3 narator dalam catatan Kitab Kejadian pasal 7. Dari frasa toledot (artinya "riwayat" atau "keturunan") di akhir seluruh kisah "air bah", yakni di Kejadian 10:1, dapat dilihat bahwa catatan riwayat ini ditulis dan dimiliki oleh ketiga putra Nuh, yaitu Sem, Ham dan Yafet. Jadi merupakan catatan saksi mata, apalagi karena mereka termasuk 8 orang yang benar-benar mengalami hal itu.[11] Jean Astruc melihat bahwa ada 3 "pernyataan" yang berulang dalam cerita air bah ini, misalnya pada pasal 7 di ayat-ayat berikut:

  • Kejadian 7:18: "Ketika air itu makin bertambah-tambah dan naik dengan hebatnya di atas bumi...".
  • Kejadian 7:19: "Dan air itu sangat hebatnya bertambah-tambah meliputi bumi...".
  • Kejadian 7:20: "Sampai 15 hasta di atasnya bertambah-tambah air itu..."

Juga:

  • Kejadian 7:21: "Lalu mati binasalah segala yang hidup, yang bergerak di bumi..."
  • Kejadian 7:22: "Matilah segala yang ada nafas hidup dalam hidungnya, segala yang ada di darat.".
  • Kejadian 7:23: "Demikianlah dihapuskan Allah segala yang ada, segala yang di muka bumi".

Hal in dapat dijelaskan dari 2 fakta penting yang dikemukakan oleh Wiseman:

  1. Akhir dari lempengan ini menunjukkan lebih dari satu orang yang menulis kisah ini, karena inilah riwayat dari "ketiga putra Nuh".
  2. Berbagai pengulangan dalam kisah ini mencerminkan kesaksian sejumlah saksi mata.[11]

Sejumlah pakar beranggapan cerita air bah di Alkitab meminjam dari mitos Babel, tetapi dari perbandingan kedua dokumen itu, nyatalah bahwa dokumen dari Alkitab lebih sederhana dan berisi fakta yang lebih konkrit daripada kisah supernatural di dokumen Babel.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ W.S. LaSor, D.A. Hubbard & F.W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 1. Diterjemahkan oleh Werner Tan dkk. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 2008. ISBN 979-415-815-1, 9789794158159
  2. ^ J. Blommendaal. Pengantar kepada Perjanjian Lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 979-415-385-0, 9789794153857
  3. ^ Kejadian 7:1
  4. ^ Matthew Henry's Concise Commentary. Genesis 7:1-12
  5. ^ Kejadian 7:11
  6. ^ The Full Life Study Bible. Life Publishers International. 1992. Teks Penuntun edisi Bahasa Indonesia. Penerbit Gandum Mas. 1993, 1994.
  7. ^ Kejadian 7:12
  8. ^ Kejadian 7:13
  9. ^ Kejadian 7:17
  10. ^ Kejadian 7:24
  11. ^ a b Wiseman, P.J. Ancient records and the structure of Genesis: A case for literary unity. T. Nelson Publishers. 1985. ISBN 978-0-8407-7502-3

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]