Kantor Berita Radio 68H

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Jenis Lembaga penyiaran publik
Negara Indonesia
Tanggal siar pertama
29 April 1999
Jangkauan Indonesia, Asia, Australia
Slogan Tepercaya, Menjangkau Nusantara
Markas Jakarta
Wilayah siar
Nasional
Pemilik PT Media Lintas Inti Nusantara
Tokoh penting
Goenawan Mohamad, Komisaris Utama, Tosca Santoso, Direktur Utama
Didirikan 1999
Situs resmi
www.portalkbr.com

Kantor Berita Radio KBR, atau sering disebut KBR merupakan lembaga kantor penyedia berita radio independen pertama di Indonesia. KBR berdiri pada 1999, setelah berakhirnya kekuasaan Orde Baru. Berakhirnya pemerintahan Orde Baru juga menandai berakhirnya pembelengguan dan pengekangan media informasi oleh pemerintah. KBR memproduksi berita dan disiarkan melalui radio jaringan, menggunakan satelit.

KBR berkembang cepat seiring dengan kebutuhan berita yang bisa diakses secara cepat dan berbiaya murah. Pada awal berdiri, hanya tujuh radio yang memanfaatkan berita produksi KBR. Kini sudah ada 600 radio yang berjaringan dan memanfaatkan layanan informasi dari KBR, di seluruh wilayah Indonesia, Asia dan Australia. KBR berada di bawah pengelolaan PT Media Lintas Inti Nusantara.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kelahiran lembaga penyiaran KBR dibidani sejumlah aktivis yang tergabung dalam Komunitas Utan Kayu. Komunitas ini berkegiatan Jl Utan Kayu No 68H, Jakarta Timur.

Pada penghujung 1998 setelah Presiden Soeharto dilengserkan, para aktivis di Komunitas Utan Kayu bergerak cepat untuk menyambut pencabutan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), dan datangnya kebebasan media. Salah satu komponen penting di Komunitas Utan Kayu adalah Institut Studi Arus Informasi (ISAI). ISAI memutuskan membuat program baru: layanan berita untuk radio. Radio dipilih karena dianggap sebagai sektor media yang paling lemah menangkap peluang kebebasan. Selama bertahun-tahun, radio tak boleh memproduksi berita sendiri, dan hanya wajib merelai berita dari radio pemerintah hampir setiap jam sehari.

Salah seorang aktivis ISAI, Santoso (Tosca) saat itu merancang mekanisme penyebaran radio hanya di atas kertas bekas amplop. Santoso membuat coretan-coretan kasar untuk menggambarkan jaringan kerja pertama begitu berita radio mulai diproduksi.

Pada saat itu, 1999, di Indonesia terdapat sekitar 700 radio swasta, di luar radio milik pemerintah. Namun banyak aturan pemerintah yang menghambat perkembangan radio-radio swasta, terutama dalam penyebaran informasi yang independen. Radio-radio di Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto wajib menyiarkan berita versi pemerintah 18 kali sehari. Karena itu masyarakat hanya mendapat informasi sepihak dan satu versi saja dari pemerintah. Akibatnya kemampuan jurnalis radio sangat minimal.

Latar belakang nama[sunting | sunting sumber]

Pembahasan pendirian radio dilakukan di Kedai Tempo, salah satu tempat di Komunitas Utan Kayu. Pada awal proses kelahiran, gagasan ini hanya diperkuat enam orang reporter radio yang baru saja direkrut. Dalam buku Kantor Berita Radio, KBR68H: Gelombang Kebebasan, halaman 3, Santoso menulis, "...Setelah cukup panjang berdiskusi tentang tema berita, bagaimana akan diproduksi, kami sampai pada soal nama. Apa nama lembaga yang akan melayani radio-radio ini? Sebagai bentuk pertanggung jawaban..."

Seseorang kemudian mengusulkan nama "68H" sebagai nama radio. Nama ini diambil dari Jl Utan Kayu 68H, Jakarta, tempat studio kecil mereka berlokasi. Nama ini disepakati, dan lahirlah Kantor Berita Radio 68H. Berita pertama dikirim pada 29 April 1999 yang kemudian menjadi hari ulang tahun KBR.

[sunting | sunting sumber]

Seiring dengan meluasnya layanan, sejak 3 Mei 2014 KBR68H memutuskan mengubah nama menjadi KBR. Tanpa embel-embel 68H. Perubahan nama KBR, adalah untuk penyederhanaan. “Kalau dulu panjang KBR68H, sekarang lebih pendek KBR. Dengan begitu akan lebih mudah diingat pendengar,” kata Direktur Utama KBR, Tosca Santoso.  

Perubahan nama ini diiringi dengan perubahan logo. Logo baru KBR akan menjadi lebih warna warni, menggambarkan semangat baru untuk memproduksi program yang lebih beraneka, dan melayani masyarakat yang lebih beragam. Tidak hanya produk-produk jurnalisme, tetapi juga hiburan yang menyegarkan.  Misalnya : musik, olahraga, buku audio dan sejenisnya.  Program baru itu, nantinya, diharap akan mendekatkan KBR dengan khalayak yang lebih muda.

“Perubahan ini menandai KBR memasuki tahap kedua perkembangannya. Setelah 15 tahun, KBR akan lebih beragam, lebih muda dan dinamis melayani publiknya,” tambah Tosca Santoso.

Penyebaran dan Produksi[sunting | sunting sumber]

Internet dan ojek[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya KBR hanya memproduksi berita-berita pendek berdurasi 30 hingga 60 detik. Berita-berita tersebut kemudian disebarkan melalui internet. Produksi berita dan penyuntingan sudah dilakukan secara digital menggunakan komputer dan program peranti lunak pengolah suara. KBR juga melibatkan reporter radio jaringan di daerah untuk mengikuti pelatihan produksi berita radio secara digital.

Tujuh radio pertama yang menjadi jaringan KBR kemudian dilibatkan dalam latihan produksi berita secara digital, antara lain: DMWS FM Kupang, Nebula FM Palu, RPK FM Jakarta, Top FM Denpasar, SPFM Makassar, Nikoya FM Banda Aceh dan Radio Unisi FM Yogyakarta. Tujuannya agar reporter radio jaringan juga bisa memproduksi berita dari daerah. Selanjutnya berita dari daerah kemudian disunting di Jakarta dan disebarkan melalui internet.

Namun penyebaran lewat internet hanya efektif ketika program yang disebarkan masih berjumlah sedikit dengan durasi singkat. Setelah KBR memproduksi program dengan durasi lebih panjang seperti paket 30 menit Buletin Sore, proses mengunduh berkas audio dari internet memakan waktu lama. Radio jaringan di Sulawesi dan Nusa Tenggara butuh waktu mengunduh berkas lebih dari delapan jam. Berita pun menjadi basi untuk ukuran radio.

Untuk mengatasi masalah itu, KBR sempat menggunakan jasa kurir ojek sepeda motor, terutama untuk wilayah Jakarta. KBR menyalin data paket Buletin Sore dalam kaset, lalu mengantarkannya menggunakan ojek ke radio jaringan. Di Jakarta, saat itu radio swasta yang sudah berjaringan adalah Radio Pelita Kasih. Siaran Buletin Sore mengudara pukul 16.00 WIB.

Pada suatu ketika, Radio Pelita Kasih tidak bisa mengudarakan Buletin Sore hingga pukul 18.00 WIB. Ternyata kaset program siaran tidak sampai di kantor RPK, karena kurir ojek mengalami musibah tabrakan, dan kaset rusak,hingga saat ini Radio Pelita Kasih mengudarakan program Kabar Baru.

Selanjutnya, penyebaran menggunakan satelit dan sekarang bisa di dengarkan melalui siaran streaming.

Jalur satelit[sunting | sunting sumber]

Rendahnya kualitas dan kecepatan internet saat itu menghambat proses pengiriman berita dari KBR ke radio jaringan. Proses mengunduh berkas suara berita radio terus berlangsung lambat, bahkan memakan waktu hingga delapan jam. Sementara kondisi geografis Indonesia tersebar di berbagai wilayah dengan tingkat akses telepon maupun internet yang tidak merata. Karena itu satelit menjadi pilihan yang paling masuk akal.

Pada 2000, KBR mulai menerapkan teknologi satelit dalam penyebaran informasi radio. KBR mendapat kanal di saluran Satelit Palapa C2 yang belum terpakai. Radio-radio yang berminat mendapatkan informasi dari KBR cukup menggunakan antena parabola dan peralatan penerima. Cara semacam ini juga dipakai radio-radio asing seperti VOA, BBC, Radio Nederland dan Deutsche Welle. Hanya saja KBR menggunakan satelit domestik.

Perusahaan[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya KBR dikelola di bawah lembaga swadaya masyarakat (LSM) Institut Studi Arus Informasi (ISAI). Kantor berita KBR merupakan satu unit kegiatan LSM yang aktif untuk meningkatkan kualitas jurnalisme dan lancarnya arus informasi di Indonesia. Kegiatan operasional KBR awalnya mengandalkan bantuan dari lembaga donor seperti Media Development Loan Fund, The Asia Foundation, Open Society Institute, Free Voice, dan Kedutaan Besar Belanda.

Selanjutnya, ISAI membentuk perusahaan untuk mengelola secara mandiri KBR, karena jumlah staf KBR terus bertambah dan biaya operasional terus membengkak. Perusahaan ini diberi nama PT Media Lintas Inti Nusantara (Melin). Saham perusahaan dimiliki Koperasi Utan Kayu, Yayasan ISAI, lembaga dan individu. Komisaris Utama PT Melin dipercayakan pada Goenawan Mohammad.

Asia Calling[sunting | sunting sumber]

Sejak 2003, KBR memproduksi program Asia Calling, yang menyajikan informasi-informasi terkini dari kawasan regional Asia dalam dwibahasa, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Hingga 2013, Asia Calling merupakan satu-satunya program radio di Indonesia yang mengangkat isu-isu kawasan, baik di bidang politik, ekonomi, sosial, keberagaman budaya dan lain-lain. Sekitar 30 koresponden menyajikan liputan program-program pemerintah yang mempengaruhi kehidupan masyarakat banyak. Pada Juni 2013, Asia Calling diterjemahkan ke dalam 10 bahasa di Asia dan disiarkan di 321 stasiun radio di kawasan Asia. Laporan Asia Calling memenangkan sejumlah penghargaan jurnalistik. Pada 2009, koresponden Asia Calling di Beijing Cina, Elise Potaka memenangkan penghargaan kedua dalam Asia Pacific Environmental Journalism Award, melalui tulisannya yang berjudul "The Murky World of Coal Mining in China" (Suramnya Dunia Pertambangan Batubara di Cina).[1]

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Penghargaan Lembaga[sunting | sunting sumber]

  • 2009, King Baudouin Foundation International Development Prize]], dari Kerajaan Belgia, atas usahanya memajukan taraf hidup masyarakat melalui penguatan demokrasi, pengembangan toleransi dan partisipasi aktif masyarakat dengan cara memproduksi dan menyebarkan informasi berkualitas lewat radio jaringan di daerah. [2]
  • 2004, penghargaan dari Gateway Foundation, Jerman.
  • 2003, penghargaan dari Gateway Foundation, Jerman.
  • 2003, The Tech Museum Award, atas perannya membuka akses informasi untuk masyarakat luas, dengan menggunakan perkembangan teknologi.

Penghargaan Karya Jurnalistik[sunting | sunting sumber]

Karya-karya jurnalistik KBR banyak meraih penghargaan, baik yang diberikan lembaga Aliansi Jurnalis Independen AJI, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), lembaga-lembaga internasional, hingga ajang apresiasi jurnalistik yang diadakan kementerian, BUMN dan perusahaan swasta.

Karya-karya jurnalistik KBR banyak mengangkat laporan mendalam/investigasi tentang hukum, keadilan, kesetaraan, keadilan sosial, diskriminasi, intoleransi dan lain-lain. Laporan-laporan mendalam tersebut disiarkan dalam program "SAGA", salah satu program unggulan program KBR.

Beberapa penghargaan bergengsi yang diraih para jurnalis KBR, di antaranya:

  • 2013
    • Yudi Rachman meraih Juara I kategori Radio dalam Apresiasi Jurnalistik Jakarta, yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen AJI Jakarta. Laporannya berjudul berjudul "Bidan Bergaji Rp 15 Ribu". [3]
    • Yudi Rachman meraih Juara II kategori Radio dalam Apresiasi Jurnalistik Pertamina 2013 untuk laporan berjudul "Salah Siapa Gas Bersubsidi Langka?"
    • Irvan Imamsyah meraih penghargaan Anugerah Adinegoro 2012, untuk laporan berjudul "Petaka Tambang Pasir di Tasik Selatan." [4]
  • 2012
    • Erick Permana meraih Juara I kategori Radio, penghargaan MH Thamrin Award (PWI Award), dengan laporan berjudul "Rugi Triliunan Rupiah Akibat Macet. Solusinya?"
    • KBR menyapu bersih penghargaan Jusuf Ronodipuro Award 2012 dalam ajang Indonesia Radio Award 2012. Nur Azizah meraih juara I dengan laporan berjudul “Birahi di Balik Jubah Habib". Mellie Cyntia meraih juara II dengan laporan berjudul "Keadilan untuk Perempuan Penyintas". Muhammad Irham meraih juara III dengan laporan berjudul "Sekolah Memaksaku Beragama".[5]
    • Quinawaty Pasaribu meraih penghargaan I Apresiasi Jurnalis Jakarta 2012 dari Aliansi Jurnalis Independen AJI Jakarta, dengan laporan berjudul "Restorasi Hutan Jambi."
    • Yudi Rachman meraih juara II Kategori Radio, dalam Penghargaan Jurnalistik Akses Keadilan dan HAM, dari UNDP dan Bappenas, dengan laporannya berjudul "Buruh Menantang Ajal."
    • Ikhsan Raharjo, meraih penghargaan Juara I kategori Radio, dalam Penghargaan ILO-AJI Jakarta, bertema Pekerja Anak dan Pendidikan. Laporan yang menang berjudul "Kisah Anak Perut Bumi."
    • Quinawaty Pasaribu meraih juara I dalam Jurnalis Award untuk Perlindungan Buruh Migran, dengan laporan berjudul "Surat Bodong TKI". Guruh Dwi Rianto meraih juara III, dengan mengangkat cerita "Buruh Migran Rentan Tertular HIV/AIDS".
  • 2011
    • Taufik Wijaya meraih penghargaan Anugerah Adinegoro 2011 dengan laporan berjudul "Suap di Penjara". [6]
    • Liza Desylanhi meraih penghargaan Karya Jurnalistik Terbaik tentang Anak, dari AJI-UNICEF, dengan laporan berjudul "Anak-anak Cisalada dalam Trauma", sebuah liputan tentang anak-anak Ahmadiyah di Kampung Cisalada, Bogor, Jawa Barat.
    • KBR meraih juara I dan II penghargaan Jusuf Ronodipuro Award 2011 untuk kategori Feature Jurnalistik, dalam ajang Indonesia Radio Award 2011. Laporan berjudul "Siksa Tahanan Politik di Balik Jeruji Besi" karya Radot Gurning/Muhammad Irham meraih juara I. Sedangkan laporan Johanna Purba berjudul "Orang Amadiyah di Lombok: Warga Negara yang Tidak Diakui Negara" meraih juara II. Juara III diraih jurnalis Green Radio (Grup KBR), Eka Fikriyah dengan laporan berjudul "Racun Aki di Darah Anak Curug". [7]
  • 2010
    • Shinta Ardhany meraih penghargaan Karya Jurnalistik Terbaik Anak, AJI-UNICEF dengan laporan yang mengangkat kisah "Kawin Paksa Sumba Tengah".
    • Heriyanto meraih juara I penghargaan Jusuf Ronodipuro Award, dalam ajang Indonesia Radio Award 2010, dengan laporan berjudul "Semunying Melawan". Laporan itu mengangkat kisah perlawan masyarakat Semunying Jaya terhadap aksi pembabatan hutan adat suku Dayak di Kalimantan Selatan.
  • 2009
    • Kontributor Asia Calling KBR di Cina, Elise Potaka meraih penghargaan juara dua, dari Forum Wartawan Lingkungan se-Asia Pasifik, APEFJ. [8]
    • KBR menyapu bersih penghargaan Jusuf Ronodipuro Award 2009, dalam ajang Indonesia Radio Award 2009. Erna Dwi Lidiawati meraih juara I dengan laporan berjudul "Menelusuri Jejak Penyelundup Eboni". Tatik Yuniati meraih juara II dengan laporan berjudul "Limbah Exxon di Aceh Utara". Vivi Zabkie meraih juara III dengan laporan berjudul "Tak Aman di Kantor Polisi".
    • Vivi Zabkie meraih penghargaan juara I dalam Peghargaan Jurnalisme untuk Akses terhadap Keadilan, yang diselenggaran Badan PBB untuk Program Pembangunan UNDP, dengan laporan berjudul "Tak Aman di Kantor Polisi".
    • Irvan Imamsyah meraih juara I Apresiasi Jurnalis Jakarta, yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen AJI Jakarta, dengan laporan berjudul "Privatisasi Mata Air Sukabumi".
  • 2008
    • Andreas Ronny meraih penghargaan juara I Penghargaan Jurnalistik untuk Liputan Isu Perburuhan, yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen AJI Indonesia, dengan laporan berjudul "Buruh Ambil Alih Pabrik". Irvan Imamsyah meraih juara II dengan laporannya berjudul "Nestapa di Terminal 4 TKI".
    • KBR meraih seluruh penghargaan untuk kategori radio di ajang Karya Jurnalistik Terbaik Anak, yang diselenggarakan AJI-UNICEF. Rachmat Jayadi meraih juara I melalui laporannya berjudul "Anak-anak Transito" yang mengangkat kisah anak-anak pengungsi Ahmadiyah di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Yudha Satriawan meraih juara II dengan mengangkat cerita berjudul "Dolanan Anak Tersingkir", dan Mustakim meraih juara III melalui laporan berjudul "Sekolah Inklusif Buat Semua".
    • Rebecca Henschke meraih juara I kategori Radio, dalam Apresiasi Jurnalis Jakarta, yang diselenggarakan AJI Jakarta, dengan laporannya berjudul "Pembakaran Mesjid Ancam Kebebasan Beragama di Indonesia"
    • Monique Rijkers meraih juara I Penghargaan Jurnalistik untuk Liputan Isu Perburuhan AJI Indonesia-ACILS-FES.
  • 2007
    • Tiga jurnalis KBR meraih penghargaan Karya Jurnalistik Terbaik Anak kategori Radio, yang diselenggarakan AJI Indonesia-UNICEF. Fariansyah meraih juara I dengan liputan berjudul "TK Seribu Perak". Sri Lestari memperoleh juara II untuk laporannya berjudul "Perdagangan Anak di Indramayu", dan Suryawijayanti merai juara III untuk karyanya berjudul "Perbudakan Anak di Sumba."
    • Rebecca Henscke meraih juara I Apresiasi Jurnalis Jakarta, untuk kategori Radio, yang diselenggarakan AJI Jakarta melalui tulisannya berjudul "Indonesia Smokes Out the Lungs of The World" dan "Bio-diesel Fuels Conflict in Central Kalimantan". [9]
  • 2005
    • Nita Rosita meraih juara II, ajang The Friedrich-Naumann-Stiftung Radio Award, melalui laporannya berjudul "Direct Local Election".
  • 2004
    • Ayu Purwaningsih meraih juara kategori Radio, dalam Tolerance Prize Southeast Asia International Federation of Journalists, dengan laporannya berjudul "Indonesian Migrant Worker, The Neglected Foreign Exchange Heroes"
  • 2003
    • Ayu Purwaningsih meraih juara kategori Radio, dalam Tolerance Prize Southeast Asia International Federation of Journalists dengan laporan berjudul "Racial Riots in May 1998: Four Years Gone By and Forgotten"
    • Dewi Safitri & Fuad Baktiar meraih juara I kategori talkshow radio, The Friedrich-Naumann-Stiftung Radio Award, melalui program "Dari Bilik Suara" Episode "Perempuan dalam Parlemen".
  • 2002
    • KBRH meraih juara II dan III, di ajang The Friedrich-Naumann-Stiftung Radio Award, melalui dua karya yaitu talkshow radio "Regional Autonomy" serta liputan berjudul "Our Member in Parliament".[10]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]