Deportasi Tatar Krimea

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Monumen Deportasi Paksa Tatar Krimea di Sudak.

Deportasi Tatar Krimea (Tatar Krimea: Qırımtatar sürgünligi; Rusia: Депортация крымских татар; Ukraina: Депортація кримських татар) adalah pembersihan etnis dari setidaknya 191.044 Tatar dari Krimea pada Mei 1944. Peristiwa tersebut dilakukan oleh Lavrentiy Beria, kepala polisi rahasia dan keamanan negara Soviet, yang bertindak atas perantara Joseph Stalin. Dalam tiga hari, NKVD pimpinan Beria memakai kereta-kereta sepi untuk mendeportasi wanita, anak-anak, lansia, Komunis dan anggota Tentara Merah ke Uzbekistan, yang berjarak beberapa ribu kilometer. Mereka adalah salah satu dari sepuluh suku bangsa yang terkena dampak kebijakan perpindahan populasi di Uni Soviet yang dilakukan oleh Stalin.

Deportasi tersebut ditujukan sebagai hukuman kolektif untuk beberapa Tatar Krimea yang berkolaborasi dengan Jerman Nazi, meskipun ini juga sebenarnya dipandang terjadi karena rencana Soviet untuk meraih akses ke Dardanelles dan mengakuisisi teritorial di Turki dimana Tatar memiliki kekerabatan etnis. Meskipun sumber-sumber Soviet menyatakan mereka sebagai pengkhianat, sebuah opini yang masih muncul sampai saat ini, kaum nasionalis Tatar membantahnya. Meskipun Nazi awalnya memandang negatif Tatar Krimea, kebijakan mereka berubah dalam menghadapi pemberontakan Soviet. Beberapa tahanan perang Soviet direkrut oleh Wehrmacht dalam unit-unit dukungan. Sementara itu, 15.000 sampai 20.000 Tatar Krimea didorong untuk membentuk batalion pertahanan diri untuk melindungi desa-desa Tatar Krimea dari serangan-serangan partisan Soviet serta memburuh mereka, dengan unit-unit tersebut berpihak dengan siapa yang terkuat di sebuah wilayah. Selain itu, Komite Muslim juga dibentuk, memberikan mereka pemerintahan diri terbatas. Ini meningkatkan kecurigaan meskipun sukarelawan pertahanan diri dalam jumlah yang sama juga bergabung dengan Tentara Merah dan ribuan orang masih bertugas saat pasukan Soviet menyerang Berlin, dengan sejumlah Tatar Krimea juga bergabung dengan partisan-partisan tersebut. Kebanyakan hiwis dan keluarga mereka, bersama dengan orang-orang yang berasosiasi dengan Komite Muslim kemudian dievakuasi, dengan para pejabat Soviet menyepakatinya. Namun, tawaran untuk menghukum mereka makin timbul.

Sekitar 8.000 Tatar Krimea tewas saat deportasi, dengan sepuluh ribu orang sekarat akibat kondisi pengasingan yang keras pada tahun-tahun berikutnya. Pengasingan Ttaar mengakibatkan kehilangan 80.000 rumah tangga dan 360.000 hektare lahan. Stalin berniat untuk menghapus seluruh jejak Tatar Krimea dan pada sensus-sensus berikutnya melarang penyebutan apapun dari suku bangsa tersebut. Pada 1956, pemimpin Soviet yang baru Nikita Khrushchev mengecam kebijakan-kebijakan Stalin, termasuk deportasi berbagai suku bangsa, namun tidak mengangkat pengarahan larangan pemulangan Tatar Krimea. Mereka kemudian terpaksa menetap di Asia Tengah selama beberapa dekade dan tak sampai era Perestroika pada akhir 1980-an, 260.000 Tatar diijinkan untuk pulang ke Krimea. Pengasingan mereka berlangsung selama 45 tahun. Larangan pemulangan mereka secara resmi dideklarasikan berakhir dan tak berlaku, dan Pengadilan Tinggi Krimea mendeklarasikan pada 14 November 1989 bahwa deportasi tersebut merupakan tindakan kejahatan.

Pada 2004, jumlah Tatar yang pulang ke Krimea meliputi 12 persen dari populasi semenanjung tersebut. Otoritas lokal tak membantu pemulangan mereka atau mengganti rugi lahan mereka yang hilang. Federasi Rusia, negara penerus USSR, tak memberikan perbaikan, mengganti rugi orang-orang yang dideportasi untuk harta benda yang hilang, atau pemprosesan hukum berkas melawan para pelaku dari pemindahan paksa tersebut. Deportasi tersebut merupakan peristiwa krusial dalam sejarah Tatar Krimea, dan telah dipandang sebagai lambang keburukan dan penindasan dari kelompok-kelompok etnis kecil oleh Uni Soviet.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Krimea diwarnai merah di peta Laut Hitam

Tatar Krimea menguasai Kekhanan Krimea dari 1441 sampai 1783, saat Krimea dianeksasi oleh Kekaisaran Rusia sebagai target ekspansionisme Rusia. Populasi pemakai bahasa Turkic di Krimea kebanyakan menganut Islam pada abad ke-14, setelah perpindahan agama Ozbeg Khan dari Gerombolan Emas. Ini adalah negara yang paling lama bertahan dari Gerombolan Emas.[1] Mereka sering mengadakan konflik dengan Moskwa—dari tahun 1468 sampai abad ke-17, Tatar Krimea hampir sering mengadakan pencaplokan tahunan terhadap wilayah-wilayah Slavik, menangkap beberapa orang untuk dipakai dalam perdagangan budak[2]—dan sangat berhadapan dengan kekuasaan Rusia yang baru. Sehingga, Tatar mulai meninggalkan Krimea dalam beberapa arus emigrasi. Antara 1784 dan 1790, dari total populasi sekitar satu juta, sekitar 300.000 Tatar Krimea pindah ke Kekaisaran Utsmaniyah.[3]

Perang Krimea menimbulkan eksodus massal lainnya terhadap Tatar. Antara 1855 dan 1866, sekitar 500.000 Muslim, dan mungkin 900.000, meninggalkan Kekaisaran Rusia dan beremigrasi ke Kekaisaran Utsmaniyah. Dari angka tersebut, sekitar sepertiganya berasal dari Krimea, sementara sisanya berasal dari Kaukausus. Para emigran tersebut terdiri dari 15–23% dari total populasi Krimea. Kekaisaran Rusia memakainya untuk makin me-Rusifikasi-kan "Rusia Baru".[4] Kemudian, Tatar Krimea menjadi minoritas di Krimea; pada 1783, mereka terdiri dari 98% dari populasi,[5] namun pada 1897, angkanya turun menjadi 34,1%.[6] Saat Tatar Krimea beremigrasi, pemerintah Rusia mendorong Rusifikasi semenanjung tersebut, mendudukinya dengan orang Rusia, orang Ukraina dan kelompok etnis Slavik lainnya; Rusifikasi tersebut berlanjut pada era Soviet.[6]

Jumlah Tatar di Krimea[7][5]
Tahun Jumlah Persentase
1783 500.000 98%
1897 186.212 34,1%
1939 218.879 19,4%
1959
1979 5.422 0,3%
1989 38.365 1,6%

Setelah Revolusi Oktober 1917, Krimea diberi status otonomi di dalam USSR pada 18 Oktober 1921,[8] namun kolektivisasi pada 1920-an berujung pada bencana kelaparan dimana lebih dari 100.000 orang Krimea sekarat saat tanaman mereka dibawa ke kawasan-kawasan yang "lebih berpengaruh" di Uni Soviet.[9] Pada satu perkiraan, tiga per empat korban bencana kelaparan adalah Tatar Krimea.[8] Status mereka makin menurun setelah Joseph Stalin menjadi pemimpin Soviet dan mulai menerapkan beberapa penindasan yang akan berujung pada kematian sekitar 5,2 juta warga Soviet antara 1927 dan 1938.[10]

Pada 1940, Republik Sosialis Soviet Krimea memiliki sekitar 1,126,800 penduduk, dimana 218.000 orang, atau sekitar 19,4% dari populasi, adalah Tatar.[11] Pada 1941, Jerman Nazi menginvasi Eropa Timur, menganeksasi sebagian besar barat USSR. Hukuman mati dipakai untuk hukuman kolektif bagi mereka yang telah berkolaborasi dengan pasukan pendudukan Jerman pada Perang Dunia Kedua.[12] Catatan-catatan Soviet dari akhir 1940an menyatakan bahwa Tatar adalah suku bangsa pengkhianat, tanpa meninggalkan keraguan terhadap alasan-alasan untuk deportasi mereka. Opini ini menyebar sepanjang periode Soviet dan masih timbul sampai saat ini. Klaim-klaim tersebut disangkal oleh para nasionalis Tatar Krimea.[13]

Menurut sumber-sumber Soviet, lebih dari 20.000 Tatar Krimea didaftarkan dan dikirim untuk bertarung melawan pasukan Nazi pada serangan Jerman di Uni Soviet. Beberapa Tatar Krima yang ditangkap yang bertugas dalam Tentara Merah dikirim ke kamp-kamp tahanan peran setelah pasukan Rumania dan Nazi menduduki Krimea. Meskipun awalnya Nazi menyerukan pembunuhan seluruh "ras rendah Asiatik", kebijakan tersebut direvisi saat menghadapi pemberontakan dari Tentara Merah. Mereka mulai merekrut pada tahanan Soviet pada 1942. Dalam mode ini, tentara Jerman membuat beberapa angkatan pendukung berbeda dari para tahanan perang Soviet.[14] Dari November 1941, otoritas Jerman mengijinkan mereka untuk mendirikan Komite Muslim di berbagai kota sebagai pengakuan simbolik terhadap beberapa otoritas pemerintahan lokal, meskipun mereka tak diberi kekuasaan politik apapun.[15]

Beberapa Tatar Krimea juga dihimpun dalam brigade-brigade Schutzmannschaft (batalion kepolisian) dan Selbstschutz (pertahanan diri) untuk melindungi desa-desa Tatar Krimea dari serangan-serangan partisan serta mematahkan partisan-partisan Soviet. Namun, unit-unit tersebut biasanya berpihak pada siapapun yang terkuat di sebuah kawasan. Partisan-partisan tersebut juga menyerbu desa-desa mereka untuk meraih kolaborasi.[16] Menurut bukti Jerman dan Tatar Krimea, pasukan Jerman menghimpun antara 15.000 dan 20.000 Tatar Krimea untuk membentuk batalion-batalion pertahanan diri.[17]

Kebanyakan hiwis (pemberi bantuan), keluarga mereka dan seluruh orang yang berkaitan dengan Komite Muslim dievakuasi ke Jerman dan Hongaria atau Dobruca oleh Wehrmacht dan tentara Rumania dimana mereka bergabung dengan divisi Turkic Timur. Beberapa perwira Soviet juga mengakui hal ini dan menolak klaim bahwa mereka mengkhianati Uni Soviet secara massal. Namun, dengan penarikan Jerman, suara-suara yang menuntut penghukuman orang-orang Tatar makin bertumbuh. Selain itu, keberadaan Komite Muslim yang diorganisir dari Berlin oleh Edige Kirimal dan para anggota diaspora Turki dan Dobrucan lainnya utamanya nampak dipandang buruk pemerintah Soviet. Hubungan Tatar dengan Turki oleh para nasionalis juga makin dicurigai.[18]

Namun, tak semua orang dari kelompok etnis tersebut ikut dalam kolaborasi; contohnya, Ahmet Özenbaşlı sangat menentang pendudukan dan mejalin kontak rahasia dengan gerakan pemberontakan Soviet untuk memberi mereka informasi politik dan strategis bernilai.[15] Beberapa Tatar Krimea juga bertarung di sisi partisan seperti gerakan Tarhanov dari 250 Tatar yang bertarung sepanjang 1942 sampai kehancuran mereka.[19] Pendakwaan terhadap Tatar Krimea berkembang disamping ribuan orang dari mereka masih bertugas dalam Tentara Merah saat tentara tersebut menyerang Berlin.[20] Ini juga dipandang benar-benar terjadi karena rencana Stalin untuk meraih kekuasaan bulat atas Krimea. Soviet berencana untuk meraih akses ke Dardanelles dan menguasai wilayah di Turki dimana Tatar Krimea memiliki kekerabatan etnis, juga berujung pada kembalinya mereka dipandang berpotensi tak setia.[21]

Lebih dari 130.000 orang tewas saat pendudukan Krimea oleh Blok Poros.[22] Nazi menerapkan penindasan brutal, menghancurkan lebih dari 70 desa yang diduduki oleh sekitar 25% populasi Tatar Krimea. Ribuan Tatar Krimea dipaksa dipindah untuk bekerja sebagai Ostarbeiter di pabrik-pabrik Jerman di bawah naungan Gestapo di apa yang disebut sebagai "loka-loka karya budak", mengakibatkan hilangnya seluruh dukungan Tatar Krimea.[23] Nazi menganggap Tatar Krimea dan berbagai suku bangsa lainnya sebagai "ras rendah".[24] Pada April 1944, Tentara Merah memukul mundur pasukan Blok Poros dari semenanjung tersebut dalam Serangan Krimea.[25]

Deportasi[sunting | sunting sumber]

"Kami berkata bahwa kami diusir dan diberi waktu 15 menit untuk hengkang. Kami menumpangi gerbong-gerbong – masing-masing ada 60 orang, namun tak ada yang tau kemana kami akan dibawa. Untuk ditembak? Digantung? Tangis dan panik menyelimuti."[26]
— Saiid, yang dideportasi dengan keluarganya dari Yevpatoria saat ia berusia 10 tahun

Karena dakwaan kolaborasi Blok Poros pada Perang Dunia II, hukuman dan dakwaan kolektif diterapkan pada sepuluh suku bangsa oleh pemerintah Soviet, salah satunya adalah Tatar Krimea. Beberapa suku bangsa tersebut dihukum dengan dideportasi ke kawasan-kawasan jauh Asia Tengah dan Siberia.[27]

Pada 10 Mei 1944, Lavrentiy Beria merekomendasikan kepada Stalin bahwa Tatar Krimea harus dideportasi jauh dari kawasan perbatasan karena "tindakan-tindakan pengkhianatan" mereka .[28] Disamping kenyataan bahwa 25.033 Tatar Krimea bertarung dalam Tentara Merah pada Perang Dunia II,[29] sekitar 15.000 sampai 20.000 didorong untuk bergabung dalam unit-unit pertahanan diri yang melindungi desa-desa Tatar dan juga memburu para partisan.[17][18] Delapan Tatar Krimea bahkan dianugerahi penghargaan Pahlawan Uni Soviet.[21] Ini juga menghiraukan bahwa mayoritas kolaborator telah dievakuasi dari Krimea oleh Wehrmacht yang beretret. Menurut sumber-sumber Soviet, 20.000 Tatar Krimea dievakuasi dengan pasukan Jerman yang beretret. Beberapa perwira negara kemudian mengklaim bahwa Tatar Krimea yang singgah di semenanjung tersebut semuanya adalah orang-orang yang tak mengkhianati Uni Soviet. Bahkan meskipun Tatar Volga sebenarnya ikut serta dalam kolaborasi dalam jumlah melebihi Tatar Krimea, dengan 35.000–40.000 sukarelawan bertarung dengan Blok Poros, mereka terhindar dari jenis hukuman kolektif apapun.[17] Beberapa etnisitas lainnya juga menjadi kolaborator Nazi, bahkan sejumlah Rusia dan Yahudi, yang menandakan bahwa beberapa orang di kawasan yang diduduki telah dicanangkan secara paksa.[18]

Orang-orang yang dideportasi dipindahkan dalam gerbong-gerbong kereta tersegel

Stalin mengeluarkan Perintah GKO No. 5859ss, yang menghimpun pemindahan Tatar Krimea.[30] Deportasi tersebut hanya berlangsung dalam tiga hari,[31] 18–20 Mei 1944, dimana para agen NKVD datang dari rumah ke rumah untuk mengumpulkan Tatar Krimea di bawah ancaman pistol dan memaksa mereka memasuki kereta-kereta sapi tersegel[32] yang akan memindahkan mereka sejauh hampir 3.200 kilometres (2.000 mi)[33] ke lokasi-lokasi terpencil di Republik Sosialis Soviet Uzbek. Tatar diijinkan untuk membawa 500 kg harta benda mereka per keluarga.[34] Pada pukul 08.00 di hari pertama, NKVD membawa 90.000 Tatar Krimea ke 25 kereta.[35] Keesokan harinya, 136.412 orang lainnya di bawah ke gerbong kereta.[35] Mereka diantar ke gerobak-gerobak penuh sesak selama beberapa pekan dan mengalami kekurangan pangan dan air.[36] Diperkirakan sekitar 228.392 orang dideportasi dari Krimea, dimana setidaknya 191.044 adalah Tatar Krimea[37] dalam 47.000 keluarga.[38] Semenjak 7.889 orang diantar dalam pemindahan panjang di gerbong-gerbong tersegel, NKVD mendaftarkan 183.155 Tatar Krimea yang datang ke tempat tujuan mereka di Asia Tengah.[39] Mayoritas orang yang dideportasi berasal dari pinggiran Krimea. Hanya 18,983 orang yang diasingkan berasal dari kota-kota Krimea.[40]

Pada 4 Juli 1944, NKVD resmi memberitahukan Stalin bahwa pemindahan telah rampung.[41] Namun, tak lama setelah laporan tersebut, NKVD menemukan bahwa salah satu unitnya lupa untuk mendeportasi orang-orang dari Daratan Sempit Arabat. Disamping menyiapkan perpindahan tambahan dalam kereta-kereta, NKVD memasukkan ratusan Tatar Krimea ke sebuah perahu tua, membawa mereka ke tengah-tengah Laut Azov, dan menenggelamkan kapal tersebut, menenggelamkan seluruh orang di dalamnya pada 20 Juli. Orang-orang yang tidak tenggelam dihabisi oleh senapan mesin.[42]

Uzbekistan, tujuan utama orang-orang yang dideportasi

Secara resmi, tak ada Tatar Krimea yang tersisa di Krimea. Deportasi melibatkan setiap orang berdarah Tatar Krimea, termasuk anak-anak, wanita dan lansia, dan bahkan orang-orang yang telah menjadi anggota Partai Komunis atau Tentara Merah. Pada Maret 1949, sebanyak 8.995 mantan prajurit Tentara Merah berdarah Tatar Krimea didaftarkan dalam pemukiman istimewa. Di antara para veteran tersebut, terdapat 534 perwira, 1.392 sersan, dan 7.079 prajurit. Terdapat juga 742 anggota Partai Komunis Uni Soviet dan 1.225 anggota Komsomol.[43] Menurut seorang saksi mata Rusia dari deportasi tersebut, beberapa pria masih berpihak di front Timur, namun deportasi tersebut menunggu mereka pada akhir perang.[44] Ini secara khusus melucuti para pahlawan perang; contohnya, Ilyas Ablayev berjuang pada berbagai front dalam perang dan bertugas dalam Tentara Merah sampai Mei 1947, kemudian diasingkan ke kawasan Tashkent.[45]

Pada pengusiran massal ini, otoritas Soviet merampas sekitar 80.000 rumah, 500.000 sapi, 360.000 hektare lahan, dan 40.000 ton hasil pertanian yang ditinggalkan Tatar Krimea.[46] Selain itu, seluruh Tatar Krimea dipecat dari Tentara Merah. Disamping 191.000 Tatar Krimea yang dideportasi, otoritas Soviet juga mengusir 9.620 orang Armenia, 12.420 orang Bulgaria, dan 15.040 orang Yunani dari semenanjung tersebut. Semuanya secara kolektif dicap sebagai pengkhianat dan menjadi warga kelas dua selama berdekade-dekade di USSR.[46] Diantara orang-orang yang dideportasi, terdapat juga 283 orang dari suku bangsa lainnya, orang Italia, orang Rumania, orang Karaim, orang Kurdi, orang Ceko, orang Hongaria, dan orang Kroasia.[47] Pada 1947 dan 1948, 2.012 veteran lainnya yang pulang dideportasi dari Krimea oleh MVD lokal.[11]

151.136 Tatar Krimea dideportasi ke RSS Uzbek; 8.597 ke Republik Sosialis Soviet Otonom Mari; dan 4.286 ke Republik Sosialis Soviet Kazakh; dan 29.846 sisanya dikirim ke berbagai wilayah pinggiran di RSFS Rusia.[48] Saat Tatar Krimea datang ke tempat tujuan mereka di RSS Uzbek, mereka dihadapkan dengan penentangan dari para warga lokal Uzbek yang melempari batu ke mereka, bahkan anak-anak mereka, karena mereka mendengar bahwa Tatar Krimea adalah "pengkhianat" dan "kolaborator fasis."[49] Orang-orang Uzbek juga memandang sinis karena mereka tak ingin menjadi "tanah buangan untuk bangsa-bangsa pengkhianat." Pada tahun-tahun berikutnya, beberapa serangan terhadap penduduk Tatar Krimea tercatat, beberapa bersifat fatal.[49]

Lavrentiy Beria, ketua NKVD Soviet

Deportasi massal Krimea diorganisir oleh Lavrentiy Beria, ketua kepolisian rahasia Soviet, NKVD, dan para bawahannya Bogdan Kobulov, Ivan Serov, B. P. Obruchnikov, M.G. Svinelupov, dan A. N. Apolonov. Operasi-operasi lapangannya dilakukan oleh G. P. Dobrynin, Kepala deputi sistem Gulag; G. A. Bezhanov, Kolonel Keamanan Negara; I. I. Piiashev, Mayor Jenderal; S. A. Klepov, Komisar Keamanan Negara; I. S. Sheredega, Letnan Jenderal; B. I. Tekayev, Letnan Kolonel Keamanan Negara; dan dua pemimpin lokal, P. M. Fokin, kepala NKGB Krimea, dan V. T. Sergjenko, Letnan Jenderal.[11] Dalam rangka mengeksekusi deportasi tersebut, NKVD mengerahkan 5.000 agen bersenjata dan NKGB mengalokasikan 20.000 pasukan bersenjata tambahan, bersama dengan beberapa ribu prajurit reguler.[30] Dua pengarahan Stalin dari Mei 1944 menyatakan bahwa setiap aspek pemerintah Soviet, dari keuangan sampai transit, terlibat dalam eksekusi operasi tersebut.[11]

Pada 14 Juli 1944 GKO memerintahkan imigrasi 51.000 orang, kebanyakan orang Rusia, ke 17.000 lahan kolektif kosong di Krimea. Pada 30 Juni 1945, ASSR Krimea ditiadakan dan dimasukkan ke SFSR Rusia.[30]

Propaganda Soviet berusaha untuk menyembunyikan transfer populasi tersebut dengan mengklaim bahwa Tatar Krimea telah "secara sukarela berpindah ke Asia Tengah".[50] Pada kenyataannya, Krimea "dibersihkan secara etnis."[36] Setelah tindakan tersebut, istilah "Tatar Krimea" dilarang dari pencatatan Rusia-Soviet, dan semua toponim Tatar (nama-nama kota, desa dan gunung) di Krimea diubah menjadi nama-nama Rusia di seluruh peta. Makam-makam Muslim dan obyek-obyek keagamaan di Krimea dihancurkan atau diubah menjadi tempat-tempat sekuler.[36] Pada pemerintahan Stalin, tak ada orang yang diijinkan untuk menyatakan bahwa suku bangsa tersebut pernah ada di USSR. Ini lebih lanjut membuat beberapa orang dilarang menyatakan dirinya sendiri sebagai Tatar Krimea pada sensus-sensus Soviet 1959, 1970, dan 1979. Mereka hanya dapat menyatakan diri mereka sendiri sebagai orang Tatar. Pelarangan tersebut baru diangkat pada Sensus Soviet 1989.[51]

Akibat[sunting | sunting sumber]

Kematian dan korban tewas[sunting | sunting sumber]

Kematian Tatar Krimea yang dideportasi menurut berkas-berkas NKVD[52]
Tahun Jumlah korban tewas
Mei 1944 – 1 Januari 1945 13,592
1 Januari 1945 – 1 Januari 1946 13,183

Total tingkat kematian akibat deportasi Tatar Krimea masih menjadi bahan persengketaan, sebagian karena NKVD menyimpan catatan-catatan tak lengkap dari tingkat kematian di kalangan suku bangsa yang dipindahkan dan tinggal di pengasingan. Seperti suku bangsa lainnya yang dideportasi, Tatar Krimea ditempatkan di bawah rezim pemukiman khusus. Beberapa orang yang dideportasi dijadikan buruh paksa; tugas-tugas mereka meliputi bekerja di pertambangan-pertambangan batubara dan batalion-batalion konstruksi; di bawah naungan NKVD. Para pembangkang dihukum dengan hukuman mati.[53] Para pemukim khusus rutin bekerja sebelas sampai dua belas jam sehari, dengan tanpa hari libur.[54] Disamping kesulitan buruh fisik tersebut, Tatar Krimea hanya diberi roti seberat sekitar 200 grams (7,1 oz)[55] sampai 400 grams (14 oz) per hari.[56] Akomodasi-akomodasi tak mencukupi; beberapa orang dipaksa tinggal di gubuk-gubuk lumpur dimana "tak ada pintu atau jendela, tak ada, bahkan berbaring" di lantai saat tidur.[57]

Transportasi tunggal ke kawasan-kawasan terpencil dan koloni-koloni buruh sama buruknya. NKVD memasukkan 50 orang ke setiap gerbong kereta, bersama dengan harta benda mereka. Mereka hanya memiliki satu lubang di lantai gerbong yang dipakai sebagai toilet.[58] Seorang saksi mengklaim bahwa 133 orang dikunci dalam gerobaknya.[59] Kondisi dalam gerbong-gerbong kereta penuh sesak tersebut diperburuk dengan kurangnya higenitas, yang menyebabkan terjadinya tifus.[58] Karena kereta-kereta hanya berhentu untuk membuka pintu-pintu gerbong kereta pada saat-saat tertentu dalam perjalanan tersebut, orang sakit tak jarang menulari orang-orang lainnya di gerbong-gerbong tersebut.[58] Hanya saat mereka datang ke tempat tujuan mereka di SSR Uzbek, Tatar Krimea dibebaskan dari gerbong-gerbong kereta tersegel tersebut.[58] Orang-orang pertama yang dideportasi mula-mula datang ke SSR Uzbek pada 29 Mei 1944 dan kebanyakan datang pada 8 Juni 1944.[60] Selain itu, beberapa orang dialihkan ke tempat-tempat tujuan lainnya di Asia Tengah dan melanjutkan perjalanan mereka. Beberapa saksi mengklaim bahwa mereka dibawa dalam gerbong-gerbong tersegel selama 24 hari berturut-turut.[61] Pada masa itu, mereka diberi makanan dan air yang sangat sedikit saat terjebak di dalamnya.[36] Tak ada udara segar, karena pintu-pintu dan jendela-jendela ditutup rapat. Di SSR Kazakh, para garda transportasi hanya membuka pintu untuk mengeluarkan jasad-jasad di sepanjang perjalanan. Tatar Krimea menyebut gerbong-gerbong tersebut sebagai "krematoria berroda."[62] Catatan-catatan menunjukkan bahwa sekitar 7,889 Tatar Krimea tewas saat perjalanan panjang tersebut, meliputi sekitar 4% dari seluruh etnisitas mereka.[63]

"Kami dipaksa untuk memperbaiki tenda-tenda kami sendiri. Kami bekerja dan kami kelaparan. Beberapa orang menjadi sangat kelaparan sehingga mereka tak dapat bertahan.... Orang-orang kami berada di depannya dan tak ada satupun yang dapat menguburkan orang mati tersebut. Terkadang, jasad-jasad digeletakkan di antara kami selama beberap hari.... Beberapa anak Tatar Krimea membuat makam-makam kecil dan mengubur sedikit orang-orang kurang beruntung tersebut.[64]
— wanita Tatar Krimea anonim, yang mengisahkan kehidupan di pengasingan

Tingkat kematian yang tinggi berlanjut selama bertahun-tahun di pengasingan karena malnutrisi, eksploitasi buruh, penyakit, kurangnya perawatan medis, dan iklim gurun yang keras di Uzbekistan.[65] Orang-orang yang diasingkan tersebut kemudian ditempatkan di situs-situs konstruksi terberat. Fasilitas-fasilitas medis Uzbek diisi dengan Tatar Krimea yang terserang penyakit-penyakit Asia lokal, yang tak ditemukan di semenanjung Krimea dimana airnya lebih murni, yang meliputi demam kuning, distrofi, malaria dan penyakit intestinal.[40] Jumlah korban tewas tertinggi terjadi pada lima tahun pertama. Pada 1949, otoritas Soviet menghitung populasi kelompok etnis yang dideportasi yang tinggal di pemukiman khusus. Menurut catatan mereka, terdapat 44,887 kematian dalam lima tahun pertama 19.6% dari total grup tersebut.[66] Sumber-sumber lainnya menyebut angka 44,125 kematian pada masa itu,[67] sementara sebuah sumber ketiga, memakai arsip-arsip NKVD alternatif, memberikan angka 32,107 kematian.[68] Laporan-laporan tersebut meliputi seluruh orang yang dipindahkan dari Krimea (termasuk orang-orang Armenia, Bulgaria dan Yunani), namun Tatar Krimea membentuk mayoritas besar dalam kelompok ini. Ini terjadi selama lima tahun sampai jumlah kelahiran di kalangan orang yang dideportasi mulai melampaui jumlah kematian.[65] Arsip-arsip Soviet menyatakan bahwa antara Mei 1944 dan Januari 1945, sebanyak 13.592 Tatar Krimea meninggal di pengasingan, sekitar 7% dari seluruh populasi mereka.[52] Hampir separuh kematian (6.096) adalah anak-anak di bawah suai 16 tahun; 4.525 lainnya adalah wanita dewasa dan 2.562 adalah pria dewasa. Pada 1945, 13.183 orang lainnya meninggal.[52] Kemudian, pada akhir Desember 1945, sekitar 27.000 Tatar Krimea meninggal dalam pengasingan.[69] Seorang wanita Tatar Krimea yang tinggal di dekat Tashkent mengisahkan peristiwa-peristiwa dari tahun 1944:

Orangtuaku pindah dari Krimea ke Uzbekistan pada Mei 1944. Orangtuaku memiliki saudara dan saudari, namun saat mereka datang ke Uzbekistan, korban selamatnya hanyalah mereka sendiri. Para saudara dan saudari orangtuaku semuanya meninggal saat transit karena hawa dingin dan penyakit lainnya.... Ibuku benar-benar ditinggal sendiri dan pekan pertamanya adalah menebang pohon-pohon.[70]

Estimasi yang diproduksi oleh Tatar Krimea mengindikasikan angka kematian yang jauh lebih tinggi dan meliputi 46% dari populasi mereka yang tinggal di pengasingan.[71] Pada 1968, saat Leonid Brezhnev memimpin USSR, para penggiat Tatar Krimea dipersekusi karena memakai angka kematian yang tinggi di bawah anggapan bahwa ini adalah sebuah "fitnah terhadap USSR." Dalam rangka menunjukkan bahwa Tatar Krimea melebih-lebihkan, KGB menerbitkan angka yang menunjukkan bahwa "hanya" 22% dari kelompok etnis tersebut yang meninggal.[71] Hannibal Travis memperkirakan bahwa sebanyak 40.000–80.000 Tatar Krimea meninggal di pengasingan.[72] J. Otto Pohl mengutip angka Michael Rywkin yang menyatakan bahwa jumlah sekitar 42.000 Tatar Krimea yang meninggal antara 1944 dan 1951—ini menandakan bahwa sekitar 20% populasi mereka meninggal akibat kebijakan tersebut. Pohl menyebutnya sebagai "salah satu kasus terburuk dari pembunuhan massal bermoticasi etnis pada abad ke-20."[73] Komite Negara Krimea memperkirakan bahwa 45.000 Tatar Krimea meninggal antara 1944 dan 1948. Laporan NKVD resmi memperkirakan bahwa 27% dari etnisitas tersebut meninggal.[68]

Rehabilitasi[sunting | sunting sumber]

Kronologi kelompok etnis di Krimea. Penurunan drastis di kalangan Tatar terlihat setelah deportasi.
  Tatar Krimea

Pemerintah Stalin menolak hak pendidikan atau penerbitan dalam bahasa asli terhadap Tatar Krimea. Meskipun mereka belajar bahasa Rusia atau bahasa Uzbek, mereka masih menyimpan identitas kebudayaan mereka.[74] Pada 1956, pemimpin Soviet baru, Nikita Khrushchev, memajukan sebuah pidato dimana ia mengecam kebijakan-kebijakan Stalin, termasuk deportasi massal berbagai suku bangsa. Selain itu, bahkan meskipun beberapa orang diijinkan untuk kembali ke kampung halaman mereka, tiga kelompok dipaksa untuk menetap di pengasingan: Jerman Soviet, Turk Meskhetia dan Tatar Krimea.[75] Pada 1954, Khrushchev membolehkan Krimea untuk masuk dalam Republik Sosialis Soviet Ukraina karena Krimea memiliki hubungan daratan dengan Ukraina dan bukan dengan SFSR Rusia.[76] Pada 28 April 1956, perintah "Tentang Pencabutan Pembatasan terhadap Pemukiman Khusus Tatar Krimea... Terelokasi saat Perang Patriotik Besar" dikeluarkan, memerintah de-registrasi orang-orang yang dideportasi dari penaungan administratif. Namun, berbagai batasan lainnya masih dipertahankan dan Tatar Krimea tak diijinkan untuk kembali ke Krimea. Selain itu, pada tahun yang sama, Dewan Menteri Ukraina melarang Tatar, Yunani, Jerman, Armenia dan Bulgaria yang diasingkan untuk berrelokasi ke Oblast Kherson, Zaporizhia, Mykolaiv dan Odessa di SSR Ukraina.[77] Tatar tak diberi ganti rugi apapun untuk harta benda mereka yang hilang.[75]

Pada 1950-an, Tatar Krimea mulai aktif mengadvokasikan hak pemulangan. Pada 1957, mereka mengumpulkan 6.000 tanda tangan dalam sebuah petisi yang dikirim ke Soviet Tertinggi yang menuntut rehabilitasi politik mereka dan pulang ke Krimea.[64] Pada 1961, 25.000 tanda tangan dikumpulkan dalam sebuah petisi yang dikirim ke Kremlin.[75]

Mustafa Dzhemilev, yang baru berusia enam bulan saat keluarganya dideportasi dari Krimea, dibesarkan di Uzbekistan dan menjadi penggiat yang mendorong hak pemulangan Tatar Krimea. Pada 1966, ia ditangkap untuk pertama kalinya dan menjalani 17 tahun penjara pada era Soviet. Ini memberikannya julukan "Mandela Tatar Krimea."[78] Pada 1984, ia dihukum untuk keenam kalinya untuk "kegiatan anti-Soviet", namun diberi dukungan moral oleh pembangkang Soviet Andrei Sakharov yang mengikuti pengadilan keempat Dzhemilev pada 1976.[79] Saat para pembangkang lama ditangkap, generasi muda yang baru akan timbul untuk menggantikan mereka .[75]

Mustafa Dzhemilev, seorang penggiat Tatar Krimea, menjalani tahun-tahun di penjara untuk advokasinya

Pada 21 Juli 1967, para perwakilan Tatar Krimea, pimpinan pembangkang Ayshe Seytmuartova, diberi ijin untuk bertemu dengan para pejabat Soviet berpangkat tinggi di Moskwa, termasuk Yuri Andropov. Pada pertemuan tersebut, Tatar Krimea meminta koreksi seluruh ketidakadilan yang USSR lakukan terhadpa orang-orang mereka. Pada September 1967, Soviet Tertinggi mengeluarkan dekrit yang memberikan amnesti kepada Tatar Krimea terhadap tuduhan pengkhianatan massal pada Perang Dunia II dan juga memberikan mereka hak lebih di USSR. Selain itu, Tatar Krimea tak meraih apa yang sebagian besar mereka inginkan: hak pemulangan ke Krimea. Dekrit yang ditulis secara hati-hati menyatakan bahwa "Para warga negara berkebangsaan Tatar yang dulunya tinggal di Krimea […] telah beranak pinak di RSS Uzbek."[80] Para individual bersatu dan membentuk grup-grup yang menginginkan pemulangan ke Krimea pada 1968 atas kehendak mereka sendiri, tanpa ijin negara—hanya karena otorits Soviet sempat kembali mendeportasi 6.000 orang dari mereka.[81] Contoh paling terkenal dari resistensi semacam ini adalah penggiat Tatar Krimea Musa Mahmut, yang telah dideportasi saat ia berusia 12 tahun dan kembali ke Krimea karena ia ingin melihat kampung halamannya lagi. Saat kepolisian memberitahukannya bahwa ia akan diusir, ia melumuri minyak ke badannya dan membakar dirinya sendiri.[81] Disamping itu, 577 keluarga memutuskan untuk meminta ijin negara untuk menetap di Krimea.[82]

Pada 1968, ketegangan timbul di kalangan Tatar Krimea di kota Uzbek Chirchiq.[83] Pada Oktober 1973, penyair dan profesor Yahudi Ilya Gabay melakukan bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari sebuah gedung di Moskwa. Ia adalah salah satu pembangkang Yahudi signifikan di USSR yang memperjuangkan hak-hak orang tertindas, khususnya Tatar Krimea. Gabay ditangkap dan dikirim ke kamp buruh, namun masih gigih atas sebabnya karena ia mendakwa bahwa perlakuan Tatar Krimea oleh USSR masuk genosida.[84] Pada tahun yang sama, Dzhemilev juga ditangkap.[85]

Disamping proses de-Stalinisasi, tak sampai Perestroika dan kenaikan kekuasaan Mikhail Gorbachev pada akhir 1980an hal-hal tersebut mulai berubah. Pada 1987, para penggiat Tatar Krimea mengadakan unjuk rasa di pusat Moskwa dekat Kremlin.[64] Ini membuat Gorbachev membentuk sebuah komisi untuk menyoroti materi ini. Keputusan pertama komisi tersebut, yang dipimpin oleh anggota garis keras Andrei Gromyko, adalah "rak ada dasar untuk memperbaharui otonomi dan memberikan hak pemulangan kepada Tatar Krimea," namun Gorbachev memerintahkan komisi kedua yang merekomendasikan pembaharuan otonomi untuk Tatar Krimea.[86] Pada 14 November 1989, pelarangan pemulangan etnisitas-etnisitas yang dideportasi akhirnya resmi dideklarasikan berakhir dan tak berlaku sementara Dewan Tertinggi Krimea mengeluarkan sebuah deklarasi bahwa deportasi suku bangsa pada masa sebelumnya adalah sebuah kegiatan kriminal.[46] Ini memberi jalan bagi 260.000 Tatar Krimea untuk pulang ke kampung halaman mereka. Pada tahun yang sama, Dzhemilev pulang ke Krimea, dan pada 1 Januari 1992, sekitar 166.000 Tatar Krimea lainnya melakukan hal yang sama.[87] Hukum Rusia tahun 1991 Tentang Rehabilitasi Suku-suku yang Tertindas mengalamatkan rehabilitasi seluruh etnisitas yang tertindas di Uni Soviet. Ini mengadopsi ukuran-ukuran yang melibatkan "peniadaan seluruh hukum RSFSR sebelumnya terkait deportasi paksa ilegal" dan menyerukan untuk "restorasi dan pengembalian arsip-arsip dan nilai-nilai kebudayaan dan spiritual yang mewakili warisan suku yang tertindas."[88]

Pada 2004, Tatar Krimea meliputi 12% populasi Krimea.[89] Disamping itu, pemulangan Tatar Krimea bukanlah proses yang mudah—pada 1989, saat mereka memulai pemulangan massal mereka, berbagai nasionalis Rusia mengadakan unjuk rasa Krimea dengan slogan: "Tatar pengkhianat - Keluarlah dari Krimea!" Beberapa pertikaian antara warga lokal dan Tatar Krimea dikabarkan pada 1990 dekat Yalta, yang membuat tentara ikut campur untuk menenangkan keadaan. Otoritas Soviet lokal berulang kali membantu orang-orang Tatar Krimea yang pulang untuk menemukan pekerjaan atau tempat tinggal.[90] Orang-orang yang pulang menemukan bahwa 517 desa Tatar Krimea ditiadakan, namun birokrasi menghalangi upaya mereka untuk merestorasikannya.[64] Pada 1991, sekitar 117 keluarga Tatar Krimea tinggal di tenda-tenda dalam dua kelompok di dekat Simferopol, menunggu otoritas untuk memberikan tempat tinggal permanen kepada mereka.[91] Setelah pembubaran USSR, Krimea dijadikan bagian dari Ukraina, namun Kiev hanya memberi dukungan terbatas pada para pemukim Tatar Krimea. Sekitar 150.000 orang yang pulang diberi kewarganegaraan secara otomatis di bawah Hukum Kewarganegaraan Ukraina tahun 1991, namun 100.000 orang yang pulang setelah negara tersebut mendeklarasikan kemerdekaan menghadapi beberapa rintangan terutama proses birokratik berbiaya.[92] Karena pengasingan berlangsung hampir 50 tahun, beberapa Tatar Krimea memutuskan untuk menetap di Uzbekistan, yang berujung pada perpisahan keluarga yang telah berniat untuk pulang ke Krimea.[93] Pada tahun 2000, terdapat 46,603 catatan banding dari orang-orang yang pulang yang menuntut sebidang lahan. Kebanyakan tuntutan tersebut ditolak. Di sekitaran kota-kota besar, seperti Sevastopol, seorang Tatar Krimea rata-rata hanya diberi 0.04 hektar lahan, yang berkualitas rendah atau tak layak untuk pertanian.[94]

Pandangan modern dan warisan[sunting | sunting sumber]

Para kolaborator KGB menjadi khawatir saat kami mengumpulkan bukti statistik tentang Tatar Krimea yang diasingkan dan saat kami mengumpulkan material-material melawan para komandan sadis yang mendera suku bangsa tersebut pada zaman Stalin dan yang, menurut pandangan Pengadilan Nuremburg, harus diadili untuk kejahatan melawan kemanusiaan. Akibat dari kejahatan tahun 1944, aku kehilangan beribu-ribu saudara dan saudariku. Dan ini harus diingat![95]
— Mustafa Dzhemilev, 1966

Sejarawan Ukraina-Kanada Peter J. Potichnyj menyatakan bahwa penzaliman Tatar Krimea atas kehidupan mereka dalam cermin-cermin pengasingan atau gambaran besar dari kelompok-kelompok etnis non-Rusia di USSR menimbulkan ekspresi terbuka terhadap kemarahan mereka melawan ketidakadilan yang dilakukan oleh para ideologis Rusia Raya.[3] Pada 1985, sebuah esay karya jurnalis seorang Ukraina, Vasil Sokil, berjudul Forgetting Nothing, Forgetting No One diterbitkan dalan jurnal imigran Rusia Kontinent. Dalam sebuah gaya bahasa yang nyaris sarkastik, ini menyoroti para warga negara dan suku bangsa Soviet yang terlupakan secara selektif yang tertindas pada Perang Dunia II, selain mencemooh naratif Soviet resmi dari sebuah kemenangan heroik: "Beberapa orang mengalami semua penyiksaan dari kamp-kamp konsentrasi Hitler hanya untuk dikirim ke gulag Siberia. […] Apa yang sebenarnya seorang manusia butuhkan? Tak lebih. Hanya diakui sebagai manusia. Bukan sebagai seekor hewan." Sokil menempatkan Tatar Krimea sebagai contoh suku bangsa yang menyangkal pengakuan ini.[96]

Antara 1989 dan 1994, sekitar seperempat juta Tatar Krimea bermigrasi dari Asia Tengah ke Krimea—ini dipandang sebagai kemenangan simbolik dari upaya mereka untuk pulang ke kampung halaman mereka.[97] Mereka pulang setelah 45 tahun pengasingan.[98]

Tak ada salah satu dari sepuluh kelompok etnis yang dideportasi pada era Stalin yang meraih jenis ganti rugi apapun.[27] Beberapa kelompok dan penggiat Tatar Krimea menyerukan agar masyarakat Rusia memberikan dorongan terhadap Federasi Rusia, negara penerus USSR, untuk membiayai rehabilitas kelompok etnis tersebut dan memberi ganti rugi finansial untuk pemindahan paksa.[99]

Cendekiawan Walter Kolarz menuduh bahwa deportasi dan likuidasi Tatar Krimea sebagai sebuah etnisitas pada 1944 adalah tindakan akhir dari proses kolonisasi Rusia terhadap Krimea selama berabad-abad yang dimulai pada 1783.[3] Gregory Dufaud menganggap tuduhan Soviet terhadap Tatar Krimea sebagai alasan yang dibuat-buat untuk pemindahan paksa mereka agar Moskwa dapat mengakses selatan wilayah Laut Hitam tanpa halangan secara sepihak dan menyingkirkan bangsa-bangsa yang dianggap pemberontak pada masa itu.[100] Profesor Brian Glyn Williams menyatakan bahwa deportasi Turk Meskhetia meskipun tak pernah menutupi peristiwa tersebut dan tak pernah didakwa dengan dakwaan kejahatan apapun, keberadaan terkuatnya pada kenyataannya bahwa deportasi orang-orang Krimea dan Kaukasia adalah karena kebijakan luar negeri Societ melampaui "kejahatan massal universal" manapun yang sebenarnya.[101]

Pada Maret 2014, aneksasi Krimea oleh Federasi Rusia tak kesampaian, yang pada akhirnya dinyatakan ilegal oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (Resolusi Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa 68/262) dan berujung pada bertambahnya pengikisan hak Tatar Krimea. Bahkan meskipun Federasi Rusia mengeluarkan dekrit No. 268 "Tentang Ukuran-ukuran untuk Rehabilitasi Bangsa-bangsa Armenia, Bulgaria, Yunani, Tatar Krimea dan Jerman dan Dukungan Pemulihan dan Pembangunan Mereka" pada 21 April 2014,[102] pada kenyataannya, Tatar Krimea kurang diperhatikan. Kantor Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia mengeluarkan peringatan melawan Kremlin pada 2016 karena mereka "mengintimidasi, melecehkan dan menahan para perwakilan Tatar Krimea, seringkali atas tuduhan-tuduhan meragukan",[31] sementara Mejlis, badan perwakilan mereka, dicekal.[103]

Sebuah acara memperingati para korban deportasi Tatar Krimea di Kiev pada 2016

PBB melaporkan bahwa lebih dari 10.000 orang meninggalkan Krimea setelah aneksasi pada 2014, kebanyakan Tatar Krimea,[104] yang menyebabkan penurunan lebih dari komunitas rapuh mereka. Tatar Krimea menyatakan beberapa alasan untuk keberangkatan mereka, beberapa diantaranya adalah ketidakamanan, kekhawatiran, dan intimidasi dari otoritas Rusia yang baru.[105] Dalam laporannya tahun 2015, Kantor Komisioner Tinggi PBB untuk HAM menyatakan bahwa berbagai pelanggaran hak asasi manusia tercatat di Krimea, termasuk penghalangan Tatar Krimea untuk mengadakan peringatan ke-71 dari deportasi mereka.[106] Dzhemilev, yang berada di Turki saat aneksasi tersebut, dilarang masuk Krimea selama lima tahun oleh otoritas Rusia, yang menandai kedua kalinya ia diusir dari wilayah asalnya.[107]

Penafsiran-penafsiran modern oleh para cendekiawan dan sejarawan seringkali mengklasifikasikan deportasi massal warga sipil tersebut sebagai kejahatan melawan kemanusiaan,[108] pembersihan etnis,[109][97][36] depopulasi,[110] tindakan penindasan Stalinis[111] atau "etnosida", yang artinya tindakan memusnahkan identitas dan budaya dari sebuah bangsa.[112][100] Tatar Krimea menyebut peristiwa tersebut sebagai Sürgünlik ("pengasingan").[113]

Beberapa penggiat, politikus dan sejarawan bergerak lebih lanjut dan menganggap deportasi tersebut sebagai kejahatan genosida.[114] Para pembangkang Soviet, Ilya Gabay[84] dan Pyotr Grigorenko[115] sama-sama mengklasifikasikan peristiwa tersebut sebagai genosida. Pada 12 Desember 2015, Parlemen Ukraina mengeluarkan sebuah resolusi yang mengakui peristiwa tersebut sebagai genosida dan menjadikan 18 Mei sebagai "Hari Mengenang para korban genosida Tatar Krimea."[116] Beberapa akademisi tak sepakat dengan klasifikasi deportasi tersebut sebagai genosida; Profesor Alexander Statiev berpendapat bahwa pemerintahan Stalin tak memiliki tujuan genosida mutlak untuk menyingkirkan berbagai suku bangsa yang dideportasi, namun "budaya politik, penanaman yang rendah, ketergesa-gesaan, dan penipisan masa perang yang bertanggung jawab atas tingkat kematian genosidal di kalangan mereka." Ia kemudian menganggap deportasi tersebut sebagai contoh dari asimilasi Soviet dari "bangsa-bangsa yang tak diinginkan."[117] Menurut Profesor Amir Weiner, "...Ini adalah identitas teritorial mereka dan bukanlah keberadaan fisik mereka atau bahkan identitas etnis khas mereka yang rezim tersebut kemudian rampas."[118] Menurut Profesor Francine Hirsch, "meskipun rezim Soviet menerapkan politik diskriminasi dan eksklusi, ini bukanlah praktik yang orang-orang sezamannya anggap politik rasial." Baginya, deportasi massal tersebut berdasarkan pada konsep bahwa suku-suku bangsa tersebut adalah "kelompok-kelompok sosio-sejarah yang berbagi hati nurani dan bukannya kelompok-kelompok rasial-biologis".[119]

Dalam budaya populer[sunting | sunting sumber]

Jamala mendedikasikan lagunya 1944 untuk Tatar Krimea yang dideportasi.

Pada 2008, Lily Hyde, seorang jurnalis Inggris yang tinggal di Ukraina, menerbitkan sebuah novel berjudul Dreamland yang mengisahkan sebuah keluarga Tatar Krimea yang pulang ke kampung halaman mereka pada 1990an. Ceritanya dikisahkan dari sudut pandang seorang gadis berusia 12 tahun yang pindah ke sebuah desa yang dihancurkan dengan orangtuanya, saudaranya, dan kakeknya dari Uzbekistan. Kakeknya mengisahkannya cerita tentang para pahlawan dan korban di kalangan Tatar Krimea .[120]

Film Ukraina berbahasa Tatar Krimea tahun 2013 Haytarma mengisahkan pilot uji coba Tatar Krimea dan Pahlawan Uni Soviet Amet-khan Sultan melawan latar belakang deportasi tahun 1944.[121]

Pada 2015, Christina Paschyn merilis film dokumenter A Struggle for Home: The Crimean Tatars dalam sebuah kerjasama produksi Ukraina–Qatar. Film tersebut mengisahkan sejarah Tatar Krimea dari 1783 sampai 2014, dengan sorotan khusus pada deportasi massal tahun 1944.[122]

Pada Kontes Lagu Eurovision 2016, penyanyi Tatar Krimea Ukraina Jamala mementaskan lagu 1944 yang merujuk kepada deportasi Tatar Krimea pada tahun tersebut. Jamala, yang ia sendiri lahir dalam pengasingan di Kirgizstan, mendedikasikan lagu tersebut kepada nenek buyutnya yang dideportasi. Ia menjadi Tatar Krimea pertama yang pentas di Kontes Lagu Eurovision, yang ia menangkan mewakili Ukraina.[123]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Spring 2015, hlm. 228.
  2. ^ Fisher 2014, hlm. 27.
  3. ^ a b c Potichnyj 1975, hlmn. 302–319.
  4. ^ Fisher 1987, hlmn. 356–371.
  5. ^ a b Tanner 2004, hlm. 22.
  6. ^ a b Vardys (1971), p. 101
  7. ^ Drohobycky 1995, hlm. 73.
  8. ^ a b Smele 2015, hlm. 302.
  9. ^ Olson, Pappas & Pappas 1994, hlm. 185.
  10. ^ Rosefielde 1997, hlmn. 321–331.
  11. ^ a b c d Parrish 1996, hlm. 104.
  12. ^ Banerji, 23 October 2012
  13. ^ Williams (2001), p. 374–375
  14. ^ Williams (2001), p. 376
  15. ^ a b Fisher 2014, hlm. 157.
  16. ^ Williams (2001), p. 379
  17. ^ a b c Fisher 2014, hlm. 155.
  18. ^ a b c Williams (2001), pp. 382–384
  19. ^ Fisher 2014, hlm. 160.
  20. ^ Williams (2001), p. 384
  21. ^ a b Skutsch 2013, hlm. 1188.
  22. ^ Fisher 2014, hlm. 156.
  23. ^ Williams (2001), p. 381
  24. ^ Fisher 2014, hlmn. 151–152.
  25. ^ Allworth 1998, hlm. 177.
  26. ^ Colborne, 19 May 2016
  27. ^ a b Human Rights Watch 1991, hlm. 3.
  28. ^ Knight 1995, hlm. 127.
  29. ^ Buckley, Ruble & Hoffman (2008), p. 209
  30. ^ a b c Buckley, Ruble & Hoffman (2008), p. 231
  31. ^ a b Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights 2016.
  32. ^ Weiner 2003, hlm. 224.
  33. ^ Tweddell & Kimball 1985, hlm. 190.
  34. ^ Pohl (1999), p. 114
  35. ^ a b Pohl 2000, hlm. 3.
  36. ^ a b c d e Magocsi 2010, hlm. 690.
  37. ^ Garrard & Healicon 1993, hlm. 167.
  38. ^ Merridale 2007, hlm. 261.
  39. ^ Pohl (1999), p. 5
  40. ^ a b Williams 2015, hlm. 106.
  41. ^ Pohl (1999), p. 115
  42. ^ Levene 2013, hlm. 317.
  43. ^ Pohl 2000, hlm. 1.
  44. ^ Magocsi 2010, hlm. 691.
  45. ^ Studies on the Soviet Union 1970, hlm. 87.
  46. ^ a b c Sandole et al. 2008, hlm. 94.
  47. ^ Bugay 1996, hlm. 46.
  48. ^ Syed, Akhtar & Usmani 2011, hlm. 298.
  49. ^ a b Stronski 2010, hlmn. 132–133.
  50. ^ Williams (2001), p. 401
  51. ^ Buckley, Ruble & Hoffman (2008), p. 238
  52. ^ a b c Amnesty International 1973, hlmn. 160–161.
  53. ^ Pohl 2000, hlmn. 3–4.
  54. ^ Viola 2007, hlm. 99.
  55. ^ Kucherenko 2016, hlm. 85.
  56. ^ Reid 2015, hlm. 204.
  57. ^ Lillis 2014.
  58. ^ a b c d Pohl 2000, hlm. 4.
  59. ^ Reid 2015.
  60. ^ Kamenetsky 1977, hlm. 244.
  61. ^ Human Rights Watch 1991, hlm. 33.
  62. ^ Allworth 1998, hlm. 155.
  63. ^ Garrard & Healicon 1993, hlm. 168.
  64. ^ a b c d Human Rights Watch 1991, hlm. 37.
  65. ^ a b Pohl 2000, hlm. 7.
  66. ^ Buckley, Ruble & Hofmann (2008), p. 207
  67. ^ Human Rights Watch 1991, hlm. 9.
  68. ^ a b Ukrainian Congress Committee of America 2004, hlmn. 43–44.
  69. ^ Moss 2008, hlm. 17.
  70. ^ Dadabaev 2015, hlm. 56.
  71. ^ a b Human Rights Watch 1991, hlm. 34.
  72. ^ Travis 2010, hlm. 334.
  73. ^ Pohl 2000, hlm. 10.
  74. ^ Pohl 2000, hlm. 5.
  75. ^ a b c d Tanner 2004, hlm. 31.
  76. ^ Requejo & Nagel 2016, hlm. 179.
  77. ^ Bazhan 2015, hlm. 182.
  78. ^ Vardy, Tooley & Vardy 2003, hlm. 554.
  79. ^ Shabad, 11 Maret 1984
  80. ^ Williams 2015, hlm. 165.
  81. ^ a b Williams (2001), p. 425
  82. ^ Tanner 2004, hlm. 32.
  83. ^ Williams 2015, hlm. 127.
  84. ^ a b Fisher 2014, hlm. 150.
  85. ^ Williams 2015, hlm. 129.
  86. ^ Human Rights Watch 1991, hlm. 38.
  87. ^ Kamm, 8 February 1992
  88. ^ Bugay 1996, hlm. 213.
  89. ^ BBC News, 18 May 2004
  90. ^ Garrard & Healicon 1993, hlm. 173.
  91. ^ Human Rights Watch 1991, hlm. 44.
  92. ^ Prokopchuk, 8 June 2005
  93. ^ Uehling 2002, hlmn. 388–408.
  94. ^ Buckley, Ruble & Hoffman (2008), p. 237
  95. ^ Allworth 1998, hlm. 214.
  96. ^ Finnin 2011, hlmn. 1091–1124.
  97. ^ a b Williams 2002, hlmn. 323–347.
  98. ^ Williams (2001), p. 439
  99. ^ Allworth 1998, hlm. 356.
  100. ^ a b Dufaud 2007, hlmn. 151–162.
  101. ^ Williams (2002), p. 386
  102. ^ Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights 2014, hlm. 15.
  103. ^ Nechepurenko, 26 April 2016
  104. ^ UN News Centre, 20 May 2014
  105. ^ Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights 2014, hlm. 13.
  106. ^ Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights 2015, hlmn. 40–41.
  107. ^ Reuters, 22 April 2014
  108. ^ Wezel 2016, hlm. 225.
  109. ^ Requejo & Nagel 2016, hlm. 180.
  110. ^ Polian 2004, hlm. 318.
  111. ^ Lee 2006, hlm. 27.
  112. ^ Williams (2002), pp. 357–373
  113. ^ Zeghidour 2014, hlmn. 83–91.
  114. ^ Tatz & Higgins 2016, hlm. 28.
  115. ^ Allworth 1998, hlm. 216.
  116. ^ Radio Free Europe, 21 January 2016
  117. ^ Statiev 2010, hlmn. 243–264.
  118. ^ Weiner 2002, hlmn. 44–53.
  119. ^ Hirsch 2002, hlmn. 30–43.
  120. ^ O'Neil, 1 August 2014
  121. ^ Grytsenko, 8 July 2013
  122. ^ International Documentary Film Festival Amsterdam, 2016
  123. ^ John, 13 May 2016

Sumber[sunting | sunting sumber]

Buku
Allworth, Edward (1998). The Tatars of Crimea: Return to the Homeland: Studies and Documents. Durham: Duke University Press. ISBN 9780822319948. LCCN 97019110. OCLC 610947243. 
Bazhan, Oleg (2015). "The Rehabilitation of Stalin's Victims in Ukraine, 1953–1964: A Socio-Legal Perspective". Dalam McDermott, Kevin; Stibbe, Matthew. De-Stalinising Eastern Europe: The Rehabilitation of Stalin's Victims after 1953. Basingstoke: Palgrave Macmillan. ISBN 9781137368928. OCLC 913832228. 
Buckley, Cynthia J.; Ruble, Blair A.; Hofmann, Erin Trouth (2008). Migration, Homeland, and Belonging in Eurasia. Washington, D.C.: Woodrow Wilson Center Press. ISBN 9780801890758. LCCN 2008015571. OCLC 474260740. 
Bugay, Nikolay (1996). The Deportation of Peoples in the Soviet Union. New York City: Nova Publishers. ISBN 9781560723714. OCLC 36402865. 
Dadabaev, Timur (2015). Identity and Memory in Post-Soviet Central Asia: Uzbekistan's Soviet Past. Milton Park: Routledge. ISBN 9781317567356. LCCN 2015007994. 
Drohobycky, Maria (1995). Crimea: Dynamics, Challenges and Prospects. Lanham: Rowman & Littlefield. ISBN 9780847680672. LCCN 95012637. OCLC 924871281. 
Fisher, Alan W. (2014). Crimean Tatars. Stanford, California: Hoover Press. ISBN 9780817966638. LCCN 76041085. OCLC 946788279. 
Garrard, John; Healicon, Alison (1993). World War 2 and the Soviet People: Selected Papers from the Fourth World Congress for Soviet and East European Studies. New York City: Springer. ISBN 9781349227969. LCCN 92010827. OCLC 30408834. 
Kamenetsky, Ihor (1977). Nationalism and Human Rights: Processes of Modernization in the USSR. Littleton, Colorado: Association for the Study of the Nationalities (USSR and East Europe) Incorporated. ISBN 9780872871434. LCCN 77001257. 
Knight, Amy (1995). Beria: Stalin's First Lieutenant. Princeton, N.J.: Princeton University Press. ISBN 9780691010939. LCCN 93003937. 
Kucherenko, Olga (2016). Soviet Street Children and the Second World War: Welfare and Social Control under Stalin. London: Bloomsbury Publishing. ISBN 9781474213448. LCCN 2015043330. 
Lee, Jongsoo James (2006). The Partition of Korea After World War II: A Global History. New York City: Springer. ISBN 9781403983015. LCCN 2005054895. 
Levene, Mark (2013). The crisis of genocide: Annihilation: Volume II: The European Rimlands 1939-1953. New York City: OUP Oxford. ISBN 9780191505553. LCCN 2013942047. 
Magocsi, Paul R. (2010). A History of Ukraine: The Land and Its Peoples. Toronto: University of Toronto Press. ISBN 9781442610217. LCCN 96020027. OCLC 899979979. 
Merridale, Catherine (2007). Ivan's War: Life and Death in the Red Army, 1939-1945. New York City: Henry Holt and Company. ISBN 9780571265909. LCCN 2005050457. 
Moss, Walter G. (2008). An Age of Progress?: Clashing Twentieth-Century Global Forces. London: Anthem Press. ISBN 9780857286222. LCCN 2007042449. OCLC 889947280. 
Olson, James Stuart; Pappas, Lee Brigance; Pappas, Nicholas Charles (1994). An Ethnohistorical Dictionary of the Russian and Soviet Empires. Westport, Conn.: Greenwood Publishing Group. ISBN 9780313274978. OCLC 27431039. 
Parrish, Michael (1996). The Lesser Terror: Soviet State Security, 1939-1953. Westport, Conn.: Greenwood Publishing Group. ISBN 9780275951139. OCLC 473448547. 
Pohl, J. Otto (1999). Ethnic Cleansing in the Ussr, 1937-1949. Westport: Greenwood Publishing Group. ISBN 9780313309212. LCCN 98046822. OCLC 185706053. 
Polian, Pavel (2004). Against Their Will: The History and Geography of Forced Migrations in the USSR. Budapest; New York City: Central European University Press. ISBN 9789639241688. LCCN 2003019544. 
Reid, Anna (2015). Borderland: A Journey Through the History of Ukraine. New York City: Hachette, UK. ISBN 9781780229287. LCCN 2015938031. 
Requejo, Ferran; Nagel, Klaus-Jürgen (2016). Federalism Beyond Federations: Asymmetry and Processes of Resymmetrisation in Europe (edisi ke-repeated). Surrey, England: Routledge. ISBN 9781317136125. LCCN 2010033623. OCLC 751970998. 
Sandole, Dennis J.D.; Byrne, Sean; Sandole-Staroste, Ingrid; Senehi, Jessica (2008). Handbook of Conflict Analysis and Resolution. London: Routledge. ISBN 9781134079636. LCCN 2008003476. OCLC 907001072. 
Skutsch, Carl (2013). Encyclopedia of the World's Minorities. New York: Routledge. ISBN 9781135193881. OCLC 863823479. 
Smele, Jonathan D. (2015). Historical Dictionary of the Russian Civil Wars, 1916-1926. Lanham: Rowman & Littlefield. ISBN 9781442252813. OCLC 985529980. 
Spring, Peter (2015). Great Walls and Linear Barriers. Barnsley, South Yorkshire: Pen and Sword Books. ISBN 9781473853843. LCCN 2015458193. 
Studies on the Soviet Union (1970). Studies on the Soviet Union. Munich: Institute for the Study of the USSR. OCLC 725829715. 
Stronski, Paul (2010). Tashkent: Forging a Soviet City, 1930–1966. Pittsburgh: University of Pittsburgh Press. ISBN 9780822973898. LCCN 2010020948. 
Syed, Muzaffar Husain; Akhtar, Saud; Usmani, B.D. (2011). A Concise History of Islam. New Delhi: Vij Books India. ISBN 9789382573470. OCLC 868069299. 
Tanner, Arno (2004). The Forgotten Minorities of Eastern Europe: The History and Today of Selected Ethnic Groups in Five Countries. Helsinki: East-West Books. ISBN 9789529168088. LCCN 2008422172. OCLC 695557139. 
Tatz, Colin; Higgins, Winton (2016). The Magnitude of Genocide. Santa Barbara, CA: ABC-CLIO. ISBN 9781440831614. LCCN 2015042289. OCLC 930059149. 
Travis, Hannibal (2010). Genocide in the Middle East: The Ottoman Empire, Iraq, and Sudan. Durham, N.C.: Carolina Academic Press. ISBN 9781594604362. LCCN 2009051514. OCLC 897959409. 
Tweddell, Colin E.; Kimball, Linda Amy (1985). Introduction to the Peoples and Cultures of Asia. Englewood Cliffs, N.J.: Prentice-Hall. ISBN 9780134915722. LCCN 84017763. OCLC 609339940. 
Vardy, Steven Béla; Tooley, T. Hunt; Vardy, Agnes Huszar (2003). Ethnic Cleansing in Twentieth-century Europe. New York City: Social Science Monographs. ISBN 9780880339957. OCLC 53041747. 
Viola, Lynne (2007). The Unknown Gulag: The Lost World of Stalin's Special Settlements. Oxford: Oxford University Press. ISBN 9780195187694. LCCN 2006051397. OCLC 456302666. 
Weiner, Amir (2003). Landscaping the Human Garden: Twentieth-century Population Management in a Comparative Framework. Stanford, California: Stanford University Press. ISBN 9780804746304. LCCN 2002010784. OCLC 50203946. 
Wezel, Katja (2016). Geschichte als Politikum: Lettland und die Aufarbeitung nach der Diktatur. Berlin: BWV Verlag. ISBN 9783830534259. OCLC 951013191.  Templat:Ger
Williams, Brian Glyn (2001). The Crimean Tatars: The Diaspora Experience and the Forging of a Nation. Boston: BRILL. ISBN 9789004121225. LCCN 2001035369. OCLC 46835306. 
Williams, Brian Glyn (2015). The Crimean Tatars: From Soviet Genocide to Putin's Conquest. London, New York: Oxford University Press. ISBN 9780190494728. LCCN 2015033355. OCLC 910504522. 
Laporan berita maya
Banerji, Robin (23 October 2012). "Crimea's Tatars: A fragile revival". BBC News. Diakses tanggal 4 August 2017. 
Colborne, Michael (19 May 2016). "For Crimean Tatars, it is about much more than 1944". Al Jazeera. Diakses tanggal 4 August 2017. 
Grytsenko, Oksana (8 July 2013). "'Haytarma', the first Crimean Tatar movie, is a must-see for history enthusiasts". Kyiv Post. Diakses tanggal 2013-10-22. 
John, Tara (13 May 2016). "The Dark History Behind Eurovision's Ukraine Entry". Time. Diakses tanggal 4 August 2017. 
Kamm, Henry (8 February 1992). "Chatal Khaya Journal; Crimean Tatars, Exiled by Stalin, Return Home". New York Times. 
Lillis, Joanna (2014). "Uzbekistan: Long Road to Exile for the Crimean Tatars". EurasiaNet. Diakses tanggal 4 August 2017. 
Nechepurenko, Ivan (26 April 2016). "Tatar Legislature Is Banned in Crimea". New York Times. Diakses tanggal 4 August 2017. 
O'Neil, Lorena (1 August 2014). "Telling Crimea's Story Through Children's Books". npr.org. Diakses tanggal 4 August 2017. 
Pohl, J. Otto (2000). "The Deportation and Fate of the Crimean Tatars" (PDF). self-published. Diakses tanggal 4 August 2017. 
Shabad, Theodore (11 March 1984). "Crimean Tatar Sentenced to 6th Term of Detention". New York Times. Diakses tanggal 4 August 2017. 
"Crimean Tatars recall mass exile". BBC News. 18 May 2004. Diakses tanggal 4 August 2017. 
"A Struggle for Home: The Crimean Tatars". International Documentary Film Festival Amsterdam. 2016. Diakses tanggal 4 August 2017. 
"Ukraine's Parliament Recognizes 1944 'Genocide' Of Crimean Tatars". Radio Free Europe. 21 January 2016. Diakses tanggal 4 August 2017. 
"Crimea Tatars say leader banned by Russia from returning". Reuters. 22 April 2014. Diakses tanggal 4 August 2017. 
"The Ukrainian Quarterly, Volumes 60-61". Ukrainian Congress Committee of America. 2004. Diakses tanggal 4 August 2017. 
"Some 10,000 people in Ukraine now affected by displacement, UN agency says". UN News Centre. 20 May 2014. Diakses tanggal 4 August 2017. 
Artikel jurnal saintifik
Dufaud, Grégory (2007). "La déportation des Tatars de Crimée et leur vie en exil (1944-1956): Un ethnocide?". Vingtième Siècle. Revue d'histoire. 96 (1). JSTOR 20475182.  (Perancis)
Finnin, Rory (2011). "Forgetting Nothing, Forgetting No One: Boris Chichibabin, Viktor Nekipelov, and the Deportation of the Crimean Tatars". The Modern Language Review. 106 (4): 1091. doi:10.5699/modelangrevi.106.4.1091. JSTOR 10.5699/modelangrevi.106.4.1091. 
Fisher, Alan W. (1987). "Emigration of Muslims from the Russian Empire in the Years After the Crimean War". Jahrbücher für Geschichte Osteuropas. 35 (3). JSTOR 41047947. 
Hirsch, Francine (2002). "Race without the Practice of Racial Politics". Slavic Review. 61 (1): 30. doi:10.2307/2696979. JSTOR 2696979. 
Potichnyj, Peter J. (1975). "The Struggle of the Crimean Tatars". Canadian Slavonic Papers. 17 (2–3): 302. doi:10.1080/00085006.1975.11091411. JSTOR 40866872. 
Rosefielde, Steven (1997). "Documented homicides and excess deaths: New insights into the scale of killing in the USSR during the 1930s". Communist and Post-Communist Studies. 30 (3): 321–31. doi:10.1016/S0967-067X(97)00011-1. PMID 12295079. 
Statiev, Alexandar (2010). "Soviet ethnic deportations: intent versus outcome". Journal of Genocide Research. 11 (2–3): 243. doi:10.1080/14623520903118961. 
Uehling, Greta (2002). "Sitting on Suitcases: Ambivalence and Ambiguity in the Migration Intentions of Crimean Tatar Women". Journal of Refugee Studies. 15 (4): 388. doi:10.1093/jrs/15.4.388. 
Vardys, V. Stanley (1971). "The Case of the Crimean Tartars". The Russian Review. 30 (2): 101. doi:10.2307/127890. JSTOR 127890. 
Weiner, Amir (2002). "Nothing but Certainty". Slavic Review. 61 (1): 44. doi:10.2307/2696980. JSTOR 2696980. 
Williams, Brian Glyn (2002). "Hidden ethnocide in the Soviet Muslim borderlands: The ethnic cleansing of the Crimean Tatars". Journal of Genocide Research. 4 (3): 357. doi:10.1080/14623520220151952. 
Williams, Brian Glyn (2002). "The Hidden Ethnic Cleansing of Muslims in the Soviet Union: The Exile and Repatriation of the Crimean Tatars". Journal of Contemporary History. 37 (3): 323. doi:10.1177/00220094020370030101. JSTOR 3180785. 
Zeghidour, Sliman (2014). "Le désert des Tatars". Association Médium. 40 (3): 83. doi:10.3917/mediu.040.0083.  (Perancis)
Sumber internasional dan organisasi non-pemerintah
Prokopchuk, Natasha (8 June 2005). Vivian Tan, ed. "Helping Crimean Tatars feel at home again". UNHCR. Diakses tanggal 5 September 2017. 
Amnesty International (1973). "A Chronicle of Current Events - Journal of the Human Rights Movement in the USSR" (PDF). 
Human Rights Watch (1991). "Punished Peoples" of the Soviet Union: The Continuing Legacy of Stalin's Deportations" (PDF). 
Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights (2015). "Report on the human rights situation in Ukraine" (PDF). Diakses tanggal 4 August 2017. 
Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights (2014). "Report of the Special Rapporteur on minority issues, Rita Izsák - Addendum - Mission to Ukraine" (PDF). Diakses tanggal 4 August 2017. 
Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights (2016). Rupert Colville, ed. "Press briefing notes on Crimean Tatars". Geneva. Diakses tanggal 4 August 2017.