Kopenhagen

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Copenhagen)
Lompat ke: navigasi, cari
Kopenhagen
København
Searah jarum jam: Istana Christiansborg, Gereja Frederik, Taman Tivoli, Lapangan Balaikota
Searah jarum jam: Istana Christiansborg, Gereja Frederik, Taman Tivoli, Lapangan Balaikota
Logo resmi Kopenhagen
Coat of arms
Kopenhagen berlokasi di Denmark
Kopenhagen
Kopenhagen
Lokasi Denmark
Koordinat: 55°40′34″N 12°34′06″E / 55.67611°LU 12.56833°BT / 55.67611; 12.56833Koordinat: 55°40′34″N 12°34′06″E / 55.67611°LU 12.56833°BT / 55.67611; 12.56833
Negara Denmark
Region Hovedstaden
Pertama disebut abad ke-11
Sebagai kota abad ke-13
Pemerintahan
 • Lord Mayor Frank Jensen (S)
Area
 • Kota 88,25 km2 (3,407 mil²)
 • Kota 455,61 km2 (17,591 mil²)
 • Metro 3.030 km2 (1.170 mil²)
Populasi (2010 untuk area urban dan 2011 untuk area metro dan munisipalitas)[2]
 • Kota 539.542
 • Kepadatan Bad rounding here0.061/km2 (Bad rounding here0.16/sq mi)
 • Kota 1.181.239
 • Kepadatan kota Bad rounding here2.6×10−5/km2 (Bad rounding here6.7×10−5/sq mi)
 • Metro 1.914.865
 • Kepadatan metro Bad rounding here0.63/km2 (Bad rounding here1.6/sq mi)
Zona waktu CET (UTC+1)
 • Musim panas (DST) CEST (UTC+2)
Situs web www.kk.dk/english

Kopenhagen ((IPA /ˌkpənˈhɡən/;[3] bahasa Denmark: København [kʰøb̥m̩ˈhɑʊ̯ˀn] (Tentang suara ini listen)) adalah ibu kota dan kota terbesar di Denmark dengan jumlah penduduk kawasan urban (per Januari 2015) 1.263.698 jiwa dan kawasan metropolitan sebesar 2.013.009 jiwa. Nama ini berasal dari kata Købmandshavn, yang berarti "pelabuhan saudagar". Kopenhagen terletak di pesisir timur pulau (Sjælland) di tepi sungai Sont. Kota ini terbagi menjadi beberapa munisipalitas. Bagian inti "Munisipalitas Kopenhagen" misalnnya berisi enklav Frederiksberg, sebuah munisipalitas yang memiliki haknya sendiri.

Didirikan sebagai perkampungan perikanan di abad ke-10, Kopenhagen menjadi ibukota Denmark-Norwegia diawal abad ke-15. Di awal abad ke-17, di bawah Christian IV dari Jerman, Kopenhagen berkembang menjadi pusat regional Eropa yang penting, mengkonsolidasikan posisinya sebagai ibukota Denmark dan Norwegia dengan sumber daya dari kedua kerajaan. Berbagai arsitektur megah didirikan dan menjadi tempat atraksi turis hingga hari ini, seperti Børsen (Bursa), Rundetårn (Menara Bundar), Kastil Rosenborg dan Frederiksstaden. Setelah mengalami efek akibat wabah dan kebakaran di abad ke-18, kota ini mengalami sebuah periode pembangunan ulang. Hal ini termasuk diantaranya pembangunan distrik prestisius Frederiksstaden dan pendirian beberapa institusi budaya seperti Teater Kerajaan dan Royal Academy of Fine Arts. Setelah menghadapi bencana di awal abad 19 ketika Nelson menyerang armada Dano-Norwegian dan menghancurkan kota, pembangunan ulang pada Zaman Keemasan Denmark membawa tampilan Neoklasik pada tampilan arsitektur kota. Setelah Perang Dunia II, Finger Plan mengembangkan lebih jauh pusat bisnis dan kawasan hunian sepanjang jalur kereta sampai keluar dari pusat kota.

Di abad ke-21, Kopenhagen semakin berkembang, didukung oleh investasi ke infrastruktur dan institusi yang ada. Kota ini menjadi pusat budaya, ekonomi, dan politik Denmark, juga salah satu pusat keuangan di Eropa Utara dengan adanya Bursa Saham Kopenhagen. Semenjak selesainya Jembatan Øresund, kawasan metropolitan Kopenhagen terhubung dengan provinsi Scania di Swedia, dengan kota terbesarnya Malmö. Marka tanah terkenal di Kopenhagen diantaranya Taman Tivoli, Patung Little Mermaid, Istana Amalienborg dan Christiansborg, Kastil Rosenborg, dan Gereja Frederik.

Kopenhagen memiliki lebih dari 94.000 siswa yang terdaftar di universitas maupun institusi lain, seperti Universitas Kopenhagen, Universitas Teknik Denmark dan Sekolah Bisnis Kopenhagen. Universitas Kopenhagen, berdiri 1479, adalah universitas tertua di Denmark. Kopenhagen juga merupakan markas dari klub sepak bola FC København dan Brøndby, serta tim hoki es Rødovre Mighty Bulls, Herlev Eagles dan Hvidovre Ligahockey. Kopenhagen adalah salah satu kota terbaik bagi para pesepeda. Kopenhagen Metro melayani pusat kota bersama dengan jaringan S-train yang terkoneksi ke borough di sekitarnya. Bandar Udara Kopenhagen adalah bandar udara terbesar di antara negara Nordik.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Rekonstruksi Kopenhagen kr. 1500

Awal sejarah[sunting | sunting sumber]

Meskipun rekaman sejarah tertua di Kopenhagen berasal dari akhir abad ke-12, para arkeologis terbaru menemukan adanya sisa reruntuhan bangunan dekat Kongens Nytorv yang berasal dari sekitar tahun 1020, tidak lepas berkat pengembangan jaringan rel kereta dalam kota. Pengerukan di Pilestræde juga menemukan sebuah sumur dari akhir abad 12. Sisa-sisa dari sebuah gereja kuno, dengan kuburan dari abad ke-11, juga ditemukan dekat Strøget.

Penemuan ini menunjukkan bahwa asal mula kota ini paling tidak dari abad ke-11.

Perang Dunia II[sunting | sunting sumber]

Ketika Perang Dunia II di Denmark, Kopenhagen diduduki oleh tentara Jerman beserta seluruh wilayah negara mulai 9 April 1940 sampai 4 Mei 1945. Adolf Hitler berharap bahwa Denmark dapat menjadi sebuah "model protektorat"[4] dan otoritas Nazi datang bertujuan untuk bersepakat dengan pemerintah Denmark. Pemilihan parlemen Denmark 1943 juga diperbolehkan, terkecuali Partai Komunis Denmark dilarang ikut serta. Namun bulan Agustus 1943, setelah kerjasama pemerintah dengan pendudukan pasukan asing jatuh, beberapa kapal ditenggelamkan dengan sengaja di Pelabuhan Kopenhagen oleh Angkatan Laut Kerajaan Denmark agar tidak digunakan oleh pasukan Jerman. Ketika itu, Nazi mulai menangkapi para Yahudi, meski sebagian besar melarikan diri ke Swedia.[5]

RAF mengebom kantor pusat Gestapo bulan Maret 1945 dikoordinasikan dengan gerakan resistensi Denmark

Tahun 1945 Ole Lippman, pemimpin Eksekutif Operasi Khusus Denmark, mengundang Angkatan Udara Kerajaan Inggris untuk membantu operasi mereka dengan menyerang kantor pusat Nazi di Kopenhagen. Air Vice-Marshal Basil Embry kemudian menyusun rencana untuk menyerang gedung Sicherheitsdienst dan Gestapo, bekas kantor milik Shell Oil Company. Tawanan politik dijaga di loteng untuk menghindari serangan udara, sehingga RAF hanya mengebom bagian bawah gedung.[6]

Rakyat merayakan pembebasan Denmark di Strøget, Kopenhagen, 5 Mei 1945. Jerman menyerah 2 hari kemudian

Serangan ini, dikenal dengan "Operasi Carthage", dimulai 22 Maret 1945 dengan 3 gelombang. Pada gelombang pertama, keenam pesawat (masing-masing membawa bom) mengenai sasaran, namun satu pesawat jatuh dekat Sekolah Perempuan Frederiksberg. Akibat jatuhnya pesawat ini, 4 pesawat di gelombang berikutnya mengira bahwa sekolah itu adalah target militer, dan mengarahkan bom ke sekolah itu yang menyebabkan kematian 123 warga sipil, 87 diantaranya adalah siswa.[6] Namun, 18 dari 26 tahanan politik di Gedung Shell berhasil melarikan diri sedangkan arsip Gestapo rusak total.[6]

Tanggal 8 Mei 1945 Kopenhagen secara resmi dibebaskan oleh tentara Inggris yang dikomandani oleh Field Marshal Bernard Montgomery yang juga menangani 30.000 tentara Jerman yang menyerah.[7]

Dekade pasca-perang[sunting | sunting sumber]

Tidak lama setelah perang berakhir, proyek pengembangan kota yang disebut Finger Plan muncul tahun 1947, mendorong pembangunan pembangunan kawasan hunian dan pusat bisnis yang tersebar dari sepanjang pusat kota menuju rute-rute S-train.[8][9] Selain itu, sekolah, rumah sakit, fasilitas olahraga juga kembali dibangun. Sebagai akibat kerusuhan mahasiswa akhir 1960an, Bådsmandsstræde Barrack di Christianshavn diduduki, dan mendorong pendirian Freetown Christiania bulan September 1971.[10]

Lalu lintas jalan di kota ini naik drastis dan tahun 1972 trem kota digantikan oleh bus. Dari tahun 1960-an, berkat inisiatif dari arsitek muda Jan Gehl, jalur pedestrian dan sepeda dibangun di pusat kota.[11] Bandar Udara Kopenhagen juga diperbesar, menjadi penghubung untuk negara-negara Nordik. Tahun 1990-an, pembangunan perumahan skala besar direalisasikan di kawasan pelabuhan dan sebelah barat Amager.[12] The national library's Black Diamond building on the waterfront was completed in 1999.[13]

2000-sekarang[sunting | sunting sumber]

Sejak musim panas 2000, Kopenhagen dan kota Malmö di Swedia terhubung oleh Jembatan Øresund, yang terdiri dari jalur kereta dan jalan raya. Maka, Kopenhagen menjadi pusat metropolitan baru bagi kedua negara. Jembatan ini membawa perubahan cukup besar pada sistem transportasi umum dan pengembangan kawasan Amager secara ekstensif.[10] Sektor jasa dan perdagangan di kota ini telah berkembang dan sejumlah institusi perbankan dan finansial tersedia. Institusi pendidikan juga menjadi bagian penting, terutama [[Universitas Kopenhagen dengan 35.000 mahasiswanya.[14] Pembangunan penting lain di kota ini adalah Copenhagen Metro, sistem angkutan cepat yang dibuka tahun 2000 yang pada tahun 2011 telah mengangkut 54 juta penumpang per tahunnya.[15]

Copenhagen Opera House, hadiah pemberian dari pengusaha Mærsk Mc-Kinney Møller, selesai tahun 2004.[16] In December 2009 Copenhagen gained international prominence when it hosted the worldwide climate meeting COP15.[17] Templat:Clear all

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Kopenhagen adalah pusat keuangan dan ekonomi Denmark. Statistik tahun 2010 menunjukkan bahwa sekitar 350.000 orang bekerja di Kopenhagen, sebagian besar bekerja di sektor jasa, terutama transportasi, komunikasi, perdagangan, dan keuangan, sedangkan kurang dari 10.000 bekerja di industri manufaktur. Angkatan kerja pada sektor umum sekitar 110.000 orang, termasuk pendidikan dan kesehatan.[18] Tahun 2006 sampai 2011, pertumbuhan ekonomi tercatat 2.5%, sedangkan di bagian Denmark lain tercatat penurunan hingga 4%.[19]

Pada survei kerja Dansk Industri tahun 2013 di 96 munisipalitas Denmark, Kopenhagen menempati urutan pertama untuk kualifikasi pendidikan dan perkembangan perusahaan swasta. Tahun 2012, Kopenhagen menempati urutan ketiga sebagai kota terkaya di dunia dalam hal pendapatan kotor, turun dari nomor 1 tahun 2009.[20] Tahun 2011, survei UBS tentang harga dan pendapatan, Kopenhagen turun ke urutan kelima untuk tingkat harga dan menempati posisi ketiga untuk tingkat pendapatan.[21]

Kopenhagen adalah kantor pusat bagi sejumlah perusahaan internasional seperti A.P. Møller-Mærsk, Novo Nordisk, Carlsberg dan Novozymes.[22] Kota ini juga memiliki beberapa sektor bisnis inovatif di bidang teknologi informasi, bioteknologi, farmasi, dan teknologi bersih.[23]

Pariwisata juga menjadi sektor penting bagi perekonomian kota, puncaknya tahun 2012.[24] Jumlah kamar terisi mencapai 8,1 juta, naik 25% dari 2008.

Kopenhagen adalah kota dengan ekonomi berorientasi jasa. Ilmu kehidupan adalah sektor utama dengan aktivitas penelitian dan pengembangan yang begitu ekstensif. Dengan kolaborasi dengan Swedia, Medicon Valley sedang dikembangkan sebagai magnet disekitar Kawasan Øresund. Sebagian besar perusahaan biotek utama Denmark seperti Novo Nordisk dan Lundbeck, juga ada di kota ini.[25] Perkapalan juga menjadi sektor penting, Maersk sebagai perusahaan kapal terbesar dunia juga berkantor pusat disini.

Kopenhagen termasuk dalam kota yang memiliki penghasilan kotor tertinggi di dunia.[26] Namun disertai pula dengan pajak yang tinggi. Disisi lain, kota ini juga merupakan salah satu kota termahal di Eropa.[27][28]

Medicon Valley[sunting | sunting sumber]

Kantor pusat kawasan Skandinavia milik perusahaan farmasi Swiss Ferring Pharmaceuticals dengan metro di depannya

Kopenhagen banyak memiliki perusahaan dan institusi yang berfokus pada penelitian dan pengembangan bioteknologi dan biologi.[29] Kawasan Medicon Valley, adalah kerjasama kolaboratif yang didukung oleh Denmark dan Sweden, yang bertujuan untuk menguatkan posisi kawasan dan meningkatkan kerjasama antara perusahaan dan akademisi. Ratusan perusahaan ada di kawasan ini, sebagian besar ada di kawasan Denmark.[30][31]

Cleantech[sunting | sunting sumber]

Diluncurkan 2010, Copenhagen Cleantech Cluster adalah titik utama dari sebuah usaha bersama antara otoritas umum, universitas, institusi penelitian, dan perusahaan teknologi. Usaha ini akan melibatkan 533 perusahaan di kawasan Kopenhagen. Sektor utama adalah sektor jasa, dengan 44% jumlah perusahaan, diikuti ritel dan grosir (22%) dan produksi (20%).[32] Universitas Kopenhagen, Sekolah Bisnis Kopenhagen,[33] Risø DTU National Laboratory for Sustainable Energy dan Technical University of Denmark adalah beberapa institusi penting yang terlibat.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Statistik pada kuarter keempat 2013 menunjukkan bahwa 439.824 (77.3%) penduduk Munisipalitas Kopenhagen adalah orang Denmark, 41.423 imigran dan 4.628 keturunan dari negara-negara barat (8.1%), 56.026 imigran dan 27.099 keturunan dari negara non-Barat (14.6%).[34]

Agama[sunting | sunting sumber]

Church of Our Lady, the National Cathedral of Denmark.

Menurut data 2013, mayoritas penduduk yang tinggal di Kopenhagen adalah anggota Gereja Denmark Lutheran, sekitar 61.6% penduduk yang membayar pajak gereja masih dibawah rata-rata nasional 79.1%.[35] Sedangkan denominasi Kristen besar lainnya di kota ini adalah Katolik Roma.[36]

Agama terbesar kedua yang dianut penduduk adalah Islam, sekitar 10% populasi kota.[37][38][39] Meski tidak ada data resmi, diperkirakan ada sekitar 175.000-200.000 Muslim tinggal di kota ini, terbanyak di kawasan Nørrebro dan Vestegnen.[40] Ada juga 7.000 penganut Yahudi di Denmark, sebagian besar ada di kota ini.[41]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Region Hovedstaden" (dalam Danish). Region Hovedstaden. 
  2. ^ "General facts on The Øresund Region". Oresundsregionen.org. Diakses tanggal 2009-05-05. [pranala nonaktif]
  3. ^ "Copenhagen I Define Copenhaguen at Dictionary.com". dictionary.com. Random House Inc. Diakses tanggal 11 May 2015. 
  4. ^ Henning Poulsen, "Dansk Modstand og Tysk Politik" ("Danish opposition and German Politics") in Jyske Historiker 71(1995), p.10.
  5. ^ "The Occupation of Denmark" (dalam Danish). Denmark.dk. Diakses tanggal 15 November 2013. 
  6. ^ a b c Klaus Velschow (21 March 1945). "The Bombing of the Shellhus on March 21, 1945". Dansk Militærhistorie. Diakses tanggal 9 March 2013. 
  7. ^ "The Occupation of Denmark". Denmark.dk. Diakses tanggal 10 May 2014. 
  8. ^ Regional Development Policies in OECD Countries. OECD Publishing. 4 November 2010. p. 357. ISBN 978-92-64-08722-4. 
  9. ^ Cervero 1998, hlm. 132.
  10. ^ a b "Københavns historie" (dalam Danish). Københavns Kommune. Diakses tanggal 15 November 2013. [pranala nonaktif]
  11. ^ Elise Beacom (10 November 2012). "'Copenhagenizing' the world, one city at a time". the Copenhagen post. Diakses tanggal 24 November 2013. 
  12. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama K.C3.B8benhavns_historie_siden_1914
  13. ^ "The Black Diamond" (dalam Danish). Danish architecture guide. Diakses tanggal 15 November 2013. 
  14. ^ "København" (dalam Danish). Danmarkshistorien.dk. Diakses tanggal 15 November 2013. 
  15. ^ "Copenhagen Metro, Denmark". railwaytechnology.com. Diakses tanggal 23 November 2013. 
  16. ^ "The Opera in Copenhagen". Henning Larsen Architects. Diakses tanggal 16 November 2013. 
  17. ^ "Copenhagen Climate Change Conference - December 2009". United Nations. Diakses tanggal 15 November 2013. 
  18. ^ "Workplaces in Copenhagen by industry and residence of the employed, 1 January 2010". City of Copenhagen. Diakses tanggal 25 November 2013. 
  19. ^ "Udvalgte indikatorer for Københavns erhvervsmæssige præstationer og rammevilkår" (PDF) (dalam Danish). DAMVAD. 14 November 2013. Diakses tanggal 26 November 2013. [pranala nonaktif]
  20. ^ "The most expensive and richest cities in the world". City Mayors Economics. Diakses tanggal 18 November 2013. 
  21. ^ "Prices and earnings" (PDF) (dalam Danish). UBS. September 2012. Diakses tanggal 18 November 2013. [pranala nonaktif]
  22. ^ "The World's Biggest Public Companies". Forbes. 18 April 2012. Diakses tanggal 18 November 2013. 
  23. ^ "Copenhagen - Open for Business" (dalam Danish). New European Economy. Diakses tanggal 18 November 2013. 
  24. ^ "A Record Year for Tourism: Annual Report 2012". Wonderful Copenhagen. Diakses tanggal 18 November 2013. 
  25. ^ "Copenhagen - Overview". Usatoday.Com. 19 May 2009. Diakses tanggal 9 March 2013. 
  26. ^ "World's richest cities". City Mayors. Diakses tanggal 5 May 2009. 
  27. ^ "World's most expensive cities (EIU)". City Mayors. Diakses tanggal 5 May 2009. 
  28. ^ "World's most expensive cities – Ranking". City Mayors. Diakses tanggal 5 May 2009. 
  29. ^ "Life Science in the Øresund Region". Copenhagen Capacity. Diakses tanggal 23 January 2014. [pranala nonaktif]
  30. ^ "Organisations" (dalam Danish). Medicon Valley Online. Diakses tanggal 19 November 2013. [pranala nonaktif]
  31. ^ "Medicon Valley Brochure". Medicon Valley. Diakses tanggal 23 January 2014. [pranala nonaktif]
  32. ^ "Monitor Copenhagen Cleantech Cluster 2012" (PDF). Copenhagen Cleantech Cluster. Diakses tanggal 20 November 2013. [pranala nonaktif]
  33. ^ "The win-win ways of Cleantech business". CBS Observer. 26 March 2009. Diakses tanggal 24 July 2009. 
  34. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama dstfolk1
  35. ^ "Medlemmer af folkekirken" (dalam Danish). Ministeriet for Ligestilling og Kirke. Diakses tanggal 26 November 2013. [pranala nonaktif]
  36. ^ "Nøgletal for sognene" (PDF). Katolsk.dk. Diakses tanggal 26 November 2013. 
  37. ^ Nydell, Margaret K. Understanding Arabs: a contemporary guide to Arab society. Boston, MA: Intercultural Press. p. 132. ISBN 9780983955801. In 2011 they constituted 25 percent of Rotterdam, Marseilles, and Amsterdam; 20% of Malmö; 15 percent of Brussels and Birmingham; and 10 percent of London, Paris, Copenhagen, and Vienna.
    Muslim in Western Europe originate from both Arab and non-Arab countries. Those in the United Kingdom are primarily from South Asia, in France from North and West Africa, in Germany from Turkey, in Belgium from Morocco, and in the Netherlands from Morocco and Turkey.
     
  38. ^ Farmer, Brian R. (2010). Radical Islam in the West: ideology and challenge. Jefferson, N.C.: McFarland & Co. p. 8. ISBN 9780786459537. Muslims living in the West are also concentrated in urban area. Muslims are currently estimated to compose almost one-forth of the population of Amsterdam. one-fifth of Marseilles, and 15 percent of Paris, Brussels, and Birmingham. Muslims are currently make up approximately 10 percent of the populations in London and Copenhagen. 
  39. ^ Micklethwait, John; Wooldridge, Adrian (2009). God is back how the global revival of faith is changing the world. New York: Penguin Press. ISBN 9781101032411. Muslims are highly concentrated—they make up 24 percent of the population in Amsterdam; 20 percent in Malmö and Marseille; 15 percent in Paris, Brussels, Bradford, and Birmingham; and 10 percent or more in London and Copenhagen. 
  40. ^ Muslimer i København (PDF) (dalam Danish). Open Society Foundations. 2011. pp. 24, 33–38. ISBN 978-1-936133-10-9. Diakses tanggal 26 November 2013. 
  41. ^ "Jødedom i Danmark" (dalam Danish). Religion-dk. Diakses tanggal 26 November 2013.