Air Terjun Nokan Nayan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Air Terjun Nokan Nayan
Nokan Nayan Waterfall.jpg
Air Terjun Nokan Nayan
LokasiDesa Deme, Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia
Koordinat0°08′52.5″S 113°08′33.3″E / 0.147917°S 113.142583°E / -0.147917; 113.142583Koordinat: 0°08′52.5″S 113°08′33.3″E / 0.147917°S 113.142583°E / -0.147917; 113.142583
TipePlunge
Tinggi total180 meter (591 ft)
Jumlah titik2 (Dua)
Anak sungaiSungai Melawi

Air Terjun Nokan Nayan (bahasa Uud Danum: Nohkan Lonanyan) adalah sebuah air terjun yang berada di pedalaman Pulau Kalimantan. Air Terjun Nokan Nayan merupakan salah satu air terjun tertinggi dan terbesar di Indonesia dengan tinggi lebih dari 180 Meter[butuh rujukan]. Nohkan dalam Bahasa Ot Danum berarti air terjun dan Lonayan adalah nama sungai dimana Air Terjun Nokan Nayan terbentuk. Air Terjun Nokan Nayan terdiri dari dua air terjun dengan dua sumber sungai berbeda namun jatuh dalam satu tempat diujung sebuah lembah, yaitu Air Terjun Nokan Nayan dan Air Terjun Jongonoi. Air Terjun Jongonoi terbentuk tepat disisi Air Terjun Nokan Nayan dari aliran Sungai Jongonoi. Kedua air terjun tersebut memiliki ketinggian yang hampir sama. Debit air kedua air terjun yangberada di ketinngian 200 Mdpl ini sangat besar terlebih saat musim penghujan sehingga bisa memunculkan kabut yang membumbung tinggi dan membentuk pelangi abadi dibawahnya saat siang terik.

Lokasi[sunting | sunting sumber]

Air Terjun Nokan Nayan terletak di Desa Deme, Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia

Mitos[sunting | sunting sumber]

Cerita keindahan Air Terjun Nokan Nayan bukan hanya soal keindahan alam tapi juga mitos cerita ghaib. Masyarakat percaya Air Terjun Nokan Nayan merupakan kampung mahluk halus. Air Terjun Nokan Nayan juga dijadikan tempat ritual adat tertentu oleh masyarakat sehingga terdpat beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar.

Aksesbilitas[sunting | sunting sumber]

Dari pusat kota Kabupaten Sintang bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan roda empat umum lainnya hingga Nanga Pinoh di Kabupaten Melawi. Selanjutnya menuju Kemangai, ibukota Kecamatan Ambalau menggunakan speedboat menyelusuri selama 6 Jam atau 2-3 hari dengan perahu kecil. Dari Kemangai kembali harus menggunakan speedboat menyelusuri Sungai Jengonoi merupakan Sungai Melawi hulu menuju Dusun Ukai, sebuah kampung sebelum Desa Nanga Menantak. Dari Kampung Ukay harus berjalan kaki sekira 1,5 Jam ke Desa Nanga Menantak. Dari Desa Menantak lalu menggunakan perahu ke Desa Demen selama 3 Jam. Dari Desa Deme perjalanan dilanjutkan dengan perahu kecil menuju titik terahir penambatan perahu (Tolian Ponohkak) selama 3 jam dengan kondisi air sungai pasang.

Perjalalan ke Air Terjun Nokan Nayan kemudian berjalan kaki dengan mulai menaiki tanjakan Tuhkat Pasang yang merupakan dinding lembah Sungai Jongonoi atau bibir dataran tinggi Jongonoi. Perjalanan selanjutnya relatif mudah hingga menemukan spot untuk melihat Air Terjun Nokan Nayan. Jika ingin menuju puncak air terjun harus menyebrangi derasnya Sungai Jongonoi dan Sungai Lonanyan yang sangat berbahaya jika debit air sedang tinggi. Belum diketahui rute untuk menuju bagian bawah air terjun tersebut dari Tolian Ponohkak. Untuk menuju air terjun ini harus melalui dan berhenti di titik tersebut selain untuk menyiapkan tenaga serta perbekalan juga meminta izin kepada masyarakat dan ketua adat untuk meminta beberapa masyarakat sebagai petunjuk jalan.

Pemanfaatan[sunting | sunting sumber]

Air Terjun Nokan Nayan belum dimanfaatkan baik untuk pariwisata maupun lainnya. Namun Pemerintah Kabupaten Sintang menargetkan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Air Terjun Nokan Nayan dan Air Terjun Nokan Jengonoi pada Tahun 2019 mendatang. Kedua air terjun ini nantinya akan menghasilkan kekuatan 2x50 Mega Watt (MW) atau setara 100 MW. Sumber listrik digadang-gadang dapat menerangi kebutuhan listrik sekira 110 ribu rumah. Jika lokasi PLTA sudah ditentukan di daerah Kecamatan Serawai atau Kecamatan Ambalau. Jika lokasi PLTA sudah ditentukan di daerah Serawak atau Ambalau. Bendung nantinya tidak semata-mata hanya berfungsi sebagai pembangkit listrik. Namun, bisa sebagai sumber air baku, kegiatan pertanian, perikanan serta objek wisata.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]