Abraham Lunggana

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Abraham Lunggana

HajiLulung.jpg
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
Masa jabatan
1 Oktober 2019 – 6 September 2021
PenggantiDian Istiqomah[1]
Grup parlemenFraksi Partai Amanat Nasional
Daerah pemilihanDKI Jakarta III
Mayoritas69.782 (2019)
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta
Masa jabatan
11 September 2009 – 20 November 2018
PenggantiIchwan Jayadi
Informasi pribadi
Lahir24 Juli 1959
Jakarta, Indonesia
Meninggal14 Desember 2021(2021-12-14) (umur 62)
Jakarta, Indonesia
KebangsaanIndonesia
Partai politik
Suami/istriHj. Emma Mutmainah
Anak
  • Guruh Tirta Lunggana
  • Lista Puspa Indah
  • Sutera Cendikia Gana Cipta
PekerjaanPolitikus
Pengusaha

H. Abraham Lunggana, S.H. atau lebih populer dengan julukan Haji Lulung (24 Juli 1959 – 14 Desember 2021)[4] adalah seorang politikus Indonesia yang pernah menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk daerah pemilihan DKI Jakarta III (Kepulauan Seribu, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara) dari 2019 hingga 2021 di Komisi VII.

Sebelumnya, ia merupakan Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta sejak tahun 2014 hingga pengunduran dirinya pada 2018. Selain berpolitik, Haji Lulung juga merupakan seorang pengusaha yang memiliki sejumlah perusahaan yang mengelola keamanan, perparkiran, dan penagihan utang di wilayah Tanah Abang.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Lulung lahir di Jakarta pada tanggal 24 Juli 1959 sebagai anak ketujuh dari sebelas bersaudara, berdarah campuran Betawi-Banten. Ayahnya Ibrahim Tjilang adalah seorang bintara berpangkat Pembantu Letnan Satu (Peltu) di Badan Keamanan Rakyat (BKR).[5][6] Seorang Muslim sejak lahir, ia menerima nama depannya Abraham dari seorang pria di Papua yang membantu ayahnya ketika yang terakhir terluka di sana, di samping ketertarikan ayahnya dengan Abraham Lincoln.[7] Ayahnya meninggal pada tahun 1975, membawanya mengais-ngais di pasar Tanah Abang.[6] Dia kemudian melanjutkan pendidikannya di sekolah perdagangan, lulus pada tahun 1981.[5]

Ibunya merupakan keturunan dari KH. Abdullah Syafi'i, pendiri Perguruan Islam Asy-Syafiiyyah.[4]

Karier[sunting | sunting sumber]

Bisnis[sunting | sunting sumber]

Pada usia 20 tahun, ia menjadi "bos barang bekas" mengikuti perluasan pasar, dan berpartisipasi dalam organisasi yang terkait dengan Tanah Abang. Pada tahun 1997, ia membangun kios-kios kecil di samping tembok bangunan utama Tanah Abang.[5]

Kemudian, ia akan memiliki firma hukum dan berbagai perusahaan yang terkait dengan parkir, keamanan, dan penagihan utang.[8][9] Dalam wawancara dengan Tempo, ia menyebut dirinya sebagai "The Godfather, yang bukan jahat".[6] Pada tahun 2005, setelah pembunuhan seorang pemimpin geng, perusahaan Lulung akan menyerap banyak anggota geng, yang katanya untuk menghindari pengikut yang tidak terkait dari menyebabkan masalah.[10]

Sebagai pengusaha, Haji Lulung memiliki PT Putraja Perkasa, PT Tirta Jaya Perkasa, koperasi Kobita, PT Tujuh Fajar Gemilang, dan PT Satu Komando Nusantara yang bergerak dalam bidang jasa keamanan, perparkiran, dan penagihan utang. Dalam berorganisasi, Haji Lulung aktif di PPM, AMPI, Karang Taruna, serta turut mendirikan ormas Gerak Betawi dan menjadi Sekretaris Jenderal Bamus Betawi. Saat ini, Ia resmi sebagai Ketua Umum Bamus Betawi 2018-2023.[4]

Politik[sunting | sunting sumber]

Di awal karier politiknya, Abraham merupakan anggota Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebelum akhirnya berpindah partai menjadi Partai Bintang Reformasi (PBR) ketika PPP mengalami konflik internal, sekaligus mencalonkan diri sebagai anggota legislatif pada Pemilu 2004, namun ia dikalahkan. Bahkan, ia sempat menjabat sebagai Ketua DPC PBR Jakarta Barat.[11]

Kembali ke PPP dan menjadi Anggota DPRD DKI Jakarta (2009-2017)[sunting | sunting sumber]

Potret Lulung sebagai Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta

Setelah pemilu 2004, ia kembali menjadi kader PPP dan terpilih menjadi Ketua DPC PPP Jakarta Pusat. Kemudian, ia mencalonkan diri sebagai anggota DPRD DKI Jakarta pada Pemilu 2009 dan berhasil memenangkan pemilihan. Pada 2009, ia diangkat sebagai Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta. Ia diusulkan sebagai calon pasangan Alex Noerdin dalam pemilihan gubernur 2012, tetapi tidak mencalonkan diri pada akhirnya.[12] Dia terpilih kembali pada tahun 2014, dan mempertahankan posisinya sebagai wakil ketua.[13][14] Akan tetapi, ia diberhentikan sebagai kader setelah memihak kepada kubu Djan Faridz, setelah itu tidak mendukung Basuki Tjahaja Purnama sebagai Gubernur DKI Jakarta pada Pilgub DKI Jakarta 2017.

Lulung sering berselisih paham dengan wakil gubernur saat itu Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, pada satu titik menyarankan agar Ahok mengikuti tes kejiwaan. Isu antara keduanya sebelum yang terakhir menjadi gubernur berpusat di sekitar relokasi pedagang kaki lima di Tanah Abang,[15][16] Ketika Joko Widodo mengundurkan diri dan Ahok menjadi gubernur, keduanya sekali lagi berselisih soal penganggaran kota, terutama mengenai item yang digelembungkan untuk suplai daya bebas gangguan (UPS).[17] Dalam kasus lain, ketika Ahok dituduh menggelembungkan harga tanah yang dibeli oleh pemerintah kota, Lulung menyatakan bahwa ia ingin Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Ahok sebagai tersangka.[18] Namun, ketika muncul gerakan di dewan kota untuk memakzulkan Ahok, Lulung membela gubernur.[19]

Untuk pemilihan gubernur 2017, Ahok awalnya menyatakan bahwa ia ingin mencalonkan diri sebagai calon independen, yang Lulung menyatakan bahwa ia akan "potong kuping" jika Ahok berhasil.[20] Ahok akhirnya mencalonkan diri sebagai kandidat yang didukung partai, didukung oleh partai Lulung, PPP. Meski begitu, Lulung tetap menentang Ahok selama pilkada.[21][22] Setelah Ahok kalah dalam pemilihan dan dipenjarakan karena penodaan agama, dia menyatakan bahwa dia "tidak memiliki masalah pribadi" dengan gubernur, tetapi menolak untuk mengunjunginya di penjara, dengan alasan bahwa kunjungan tersebut akan disalahartikan.[23]

Selama Anies Baswedan menjadi gubernur, Lulung telah mendukung dan menentang langkah gubernur, membela perombakan besar-besaran di pejabat tinggi pemerintah provinsi[24] sambil menentang penutupan Jalan M. H. Thamrin untuk lalu lintas sepeda motor, di antara lainnya.[25] Ia juga mengusulkan undang-undang yang akan menetapkan lokasi di mana minum alkohol akan diizinkan untuk mengurangi kematian akibat keracunan nabati.[26]

Pada tahun 2018, ia memutuskan untuk pindah ke Partai Amanat Nasional (PAN), dengan alasan pemecatannya dari ketua cabang Jakarta karena penentangannya terhadap Ahok. Ia mengklaim bahwa langkahnya akan mengayunkan 10 kursi untuk mendukung PAN.[21] Masa jabatannya di DPRD DKI Jakarta otomatis habis karena peraturan KPU pada 20 September 2018, saat ia resmi terdaftar sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).[27] Ia terpilih sebagai anggota DPR periode 2019–2024.[28] Ia kembali ke PPP pada September 2021, diangkat sebagai ketua partai cabang Jakarta dan karenanya kehilangan kursinya di DPR.[29][30]

Selain menjadi pengusaha dan politikus, ia juga memiliki advokasi bernama Lunggana Advocate & Friends selaku pengacara yang berlokasi di Tanah Abang.[31]

Wafat[sunting | sunting sumber]

Pada 6 Desember 2021, Haji Lulung terkena serangan jantung dan dirawat di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta selama 2 minggu.[32] Pada 14 Desember 2021, Haji Lulung meninggal dunia pada pukul 10:51 WIB di Rumah Sakit Harapan Kita.[32] Jenazah Haji Lulung dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat selepas salat Asar, di dekat makam ibunya.[33]

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Haji Lulung menjadi terkenal setelah membawa Lamborghini ketika ia terpilih menjadi anggota DPRD DKI Jakarta 2014-2019, terlebih dengan slogannya "Meludah saja bisa jadi duit"[34] serta kontroversi dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Sebutan "Gila dan Psikopat"[sunting | sunting sumber]

Haji Lulung membuat kontroversial setelah menyebut Basuki Tjahaja Purnama mengalami gangguan kejiwaan.[35] Namun, Basuki mengklaim dirinya sehat secara jasmani dan rohani sehingga dinyatakan lolos saat tes kejiwaan ketika mengikuti seleksi calon Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 2012. Basuki justru menuding balik kepada Lulung yang memungkinkan mengalami gangguan jiwa. Sebelumnya, Lulung pernah menyebut Basuki sebagai psikopat setelah bertemu dua dokter yang mempublikasikan hasil pemeriksaan Basuki saat Pilkada 2012.[36][37]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Penggantian Antarwaktu Anggota DPR/MPR RI dari Partai Amanat Nasional atas nama H. Lulung, AL., S.H." simpaw.kpu.go.id. 17 November 2021. Diakses tanggal 15 Desember 2021. 
  2. ^ "Haji Lulung Keluar PAN Balik ke PPP: Desakan Para Ulama". CNN Indonesia. 2021-09-07. 
  3. ^ "Pindah Partai, Lulung jadi Calon Anggota DPR dari PAN". Kompas.com. 17 Juli 2018. 
  4. ^ a b c "Profil Abraham Lunggana". Jakarta.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-05-05. Diakses tanggal 24 April 2017. 
  5. ^ a b c "Profil Haji Lulung". Viva.co.id. 17 Februari 2017. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  6. ^ a b c Hasugian, Maria Rita (22 Agustus 2013). "Lulung: Saya The Godfather". Tempo. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  7. ^ "Kisah Asal Usul Panggilan "Haji Lulung" untuk Abraham Lunggana". KOMPAS. 9 Mei 2018. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  8. ^ "Mengintip Kantor Pengelola Lahan Parkir yang Disebut Milik Lulung". KOMPAS. 3 Mei 2016. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  9. ^ "Haji Lulung Berhenti Sekolah dan Jadi Pemulung". Tribun Timur. 10 Maret 2015. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  10. ^ Wilson, Ian Douglas (2015). The Politics of Protection Rackets in Post-New Order Indonesia: Coercive Capital, Authority and Street Politics (dalam bahasa Inggris). Routledge. hlm. 124. ISBN 9781135042097. 
  11. ^ "Lika-liku Politik Haji Lulung Hingga Pulang ke PPP". Detik.com. 2021-09-08. Diakses tanggal 11 September 2021. 
  12. ^ Winarno, Hery H (8 March 2012). "Lulung Lunggana, calon wagub DKI dari Tanah Abang". Merdeka. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  13. ^ "Lulung Kembali Terpilih, Alaydrus "Pensiun" dari DPRD DKI". KOMPAS. 13 May 2014. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  14. ^ "Prasetyo Edi Marsudi Terpilih Jadi Ketua DPRD DKI Periode 2014-2019". Berita Satu. 16 September 2014. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  15. ^ "5 Cerita 'Perang Panas Dingin' Ahok Vs Haji Lulung". detiknews. 30 July 2013. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  16. ^ "Lulung's party tries to summon Ahok". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). 31 August 2013. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  17. ^ Moerti, Wisnoe (30 December 2015). "Perang Ahok vs Haji Lulung di kasus korupsi UPS". Merdeka. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  18. ^ Pratiwi, Priska Sari (14 June 2016). "Doa Lulung Terkabul Tak Ada Korupsi di Sumber Waras". CNN Indonesia. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  19. ^ "5 Momen 'Benci Tapi Rindu' Ahok Vs Lulung". liputan6. 26 December 2015. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  20. ^ "Yes, again: City councilman Haji Lulung promises to slice off his ears if Ahok runs as an independent". coconuts.co. 27 June 2016. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  21. ^ a b Ridhoi, M. Ahsan (18 July 2018). "Pindah PAN, Lulung Nilai PPP Bukan Lagi Partai Berbasis Umat". tirto.id. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  22. ^ Pratomo, Yulistyo (29 July 2016). "Ramalan Lulung soal Ahok terbukti benar". Merdeka. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  23. ^ Mediani, Mesha (13 October 2017). "Lulung Bicara soal Seteru dengan Ahok dan Jenguk di Penjara". CNN Indonesia. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  24. ^ Haq, Muhammad Fida Ul (17 July 2018). "Lulung Bela Anies soal Perombakan: Itu Biasa di Pemerintahan". detiknews. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  25. ^ "Loyal di Pilgub DKI, Haji Lulung kini vokal kritik Anies-Sandi". Merdeka. 8 November 2017. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  26. ^ "Kata Anies Baswedan soal Ide Haji Lulung tentang Perda Miras". suara.com. 31 May 2018. Diakses tanggal 1 September 2018. 
  27. ^ "Resmi Mundur dari Anggota DPRD DKI Jakarta Haji Lulung Kembalikan 2 Mobil hingga Macbook". Tribun Jakarta. 21 September 2018. Diakses tanggal 15 February 2019. 
  28. ^ Ikhsanudin, Arief (25 August 2019). "Terpilih Jadi Anggota DPR F-PAN, Lulung Janji Terus Kritis ke Pemerintah". detiknews. Diakses tanggal 26 August 2019. 
  29. ^ Gunawan, Deden (9 September 2021). "Siasat Lulung Kembalikan Kejayaan PPP di Jakarta". detiknews. Diakses tanggal 9 September 2021. 
  30. ^ "Haji Lulung: Saya Kembali Jadi Ketua PPP DKI". detiknews. 7 September 2021. Diakses tanggal 9 September 2021. 
  31. ^ "Profil Lulung Lunggana, Bisnis Keras di Tanah Abang". Tempo.co. 30 Juli 2013. Diakses tanggal 14 Desember 2021. 
  32. ^ a b "Politikus PPP Haji Lulung Meninggal Dunia". CNN Indonesia. Diakses tanggal 14 Desember 2021. 
  33. ^ Hapsari, Mita Amalia. Sari, Nursita, ed. "Sore Ini, Jenazah Haji Lulung Dimakamkan Dekat Makam Sang Ibu di TPU Karet Bivak". Diakses tanggal 15 Desember 2021. 
  34. ^ "Lulung: Saya Meludah Saja Jadi Duit". Tempo.co. 19 Agustus 2013. Diakses tanggal 14 Desember 2021. 
  35. ^ "Ahok Tak Terima Disebut Gila oleh Haji Lulung". CNN Indonesia. 2016-08-25. Diakses tanggal 2021-09-11. 
  36. ^ Paat, Yustinus (24 Agustus 2016). "Lulung Sebut Ahok Psikopat". Beritasatu.com. Diakses tanggal 15 Desember 2021. 
  37. ^ Cahya, Kahfi Dirga (24 September 2016). "Ahok: Dokter Bilang Saya Tidak Psikopat". Kompas.com. Diakses tanggal 15 Desember 2021. 
Jabatan politik
Didahului oleh:
?
Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta
2009–2018
Diteruskan oleh:
Ichwan Jayadi