Tim nasional sepak bola Italia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Italia
Lambang asosiasi
Julukan Azzurri (Biru Langit)
Asosiasi Federasi Sepak Bola Italia
(Federazione Italiana
Giuoco Calcio
)
Pelatih Bendera Italia Cesare Prandelli
Penampilan terbanyak Paolo Maldini (126)
Pencetak gol terbanyak Gigi Riva (35)
Kostum kandang
Kostum tandang
Pertandingan internasional pertama
Italia 6 - 2 Perancis
(Milan, Italia; 15 Mei 1910)
Kemenangan terbesar
Italia 9 - 0 Amerika Serikat
(Brentford, Inggris; 2 Agustus 1948)
Kekalahan terbesar
Hongaria 7 - 1 Italia
(Budapest, Hongaria; 6 April 1924)
Piala Dunia
Penampilan 17 (pertama kali pada 1934)
Hasil terbaik Juara, 1934, 1938, 1982, 2006
Piala Eropa
Penampilan 7 (pertama kali pada 1968)
Hasil terbaik Juara, 1968

Tim nasional sepak bola Italia telah 17 kali ikut dalam Piala Dunia FIFA. Mereka absen hanya pada 1930 dan 1958.

Federasi Sepak Bola Italia (Federazione Italiana Giuoco Calcio; FIGC) berdiri pada 1898 dan bergabung dengan FIFA pada 1905. Italia adalah negara kedua setelah Brasil yang paling sering menjuarai kejuaraan bergengsi Piala Dunia dengan empat raihan trofi. Masing-masing diraih pada tahun 1934, 1938, 1982 dan 2006. Selain itu, pada 1968 Italia juga berhasil menjuarai Piala Eropa sebagai satu-satunya raihan trofi Henri Delauney yang pernah direbut. Tim Italia dijuluki Gli Azzurri atau "si biru langit" mengacu pada kostum utama mereka yang berwarna biru.

Prestasi Awal[sunting | sunting sumber]

Tim nasional Italia pertama kali mencuat secara internasional pada tahun 1934 seiring dengan gelaran Piala Dunia yang diadakan di sana. Italia, yang saat itu di bawah komando Benito Mussolini berhasil meraih trofi mereka dengan bantuan beberapa Oriundi, atau pemain keturunan Italia yang pernah membela negara lain, terutama Argentina ada yang unik di Tim Italia yaitu 9 dari 11 pemain yang membela Gli Azzuri berasal dari klub Juventus seperti Giampiero Combi, Virginio Rosetta, Luigi Bertolini, Felice Borel, Umberto Caligaris, Giovanni Ferrari, Luis Monti, Raimundo Orsi dan Mario Varglien.

Empat tahun berselang Italia berhasil mempertahankan gelar dalam hajatan yang diadakan di Perancis. Sukses beruntun Italia tersebut tak lepas dari peran pelatih Vitorio Pozzo dan kapten tim Giuseppe Meazza. Sayangnya, Perang Dunia II memupus harapan Italia untuk mencetak hattrick setelah dibatalkannya Piala Dunia 1942. Menjelang Piala Dunia 1950, Italia mempunyai tim yang dihormati di kancah Eropa, di mana mayoritas pemainnya berasal dari klub Torino dengan bintangnya Valentino Mazzola. Sayangnya, sebuah kecelakaan pesawat merampas nyawa seluruh punggawa klub Torino, yang juga berarti mengurangi kekuatan Italia secara signifikan di ajang Piala Dunia yang digelar di Brazil pada 1950.

Trofi Eropa[sunting | sunting sumber]

"Battle of Santiago" di Piala Dunia 1962 di Cili

Selepas tragedi tersebut, Italia tidak pernah berprestasi maksimal. Beberapa ajang Piala Dunia bahkan mencatat sejarah buruk Azzurri, di antaranya yang dikenal dengan "Battle of Santiago" pada Piala Dunia 1962 di Cili. Partai antara tuan rumah Cili dan Italia tersebut dikenang sebagai salah satu partai terbrutal dalam sejarah Piala Dunia menyusul banyaknya insiden antar pemain. Kekalahan memalukan selanjutnya adalah ketika Italia tersisih di tangan wakil Asia, Korea Utara di ajang Piala Dunia 1966 di Inggris.

Baru pada 1968, melalui pemain seperti Sandro Mazzola (putra dari Valentino Mazzola), Luigi Riva dan Omar Sivori, Italia merebut gelar prestisus Kejuaraan Eropa setelah mengalahkan Yugoslavia dalam partai puncak. Keberuntungan menaungi Italia ketika di semifinal mereka menyisihkan tim kuat Uni Sovyet melalui undian koin!

Tim yang memenangi Euro 1968 tersebut dipertahankan pada Piala Dunia 1970 di Meksiko. Italia melaju ke final setelah melewati partai yang dikenang sebagai pertandingan terbaik sepanjang masa oleh World Soccer melawan Jerman Barat yang dimenangi Italia dengan skor 4-3 setelah melewati dua kali perpanjangan waktu. Di final, Italia takluk di tangan tim Samba, Brasil, yang diperkuat bintang seperti Pele, Carlos Alberto dan sebagainya.

Sepanjang dekade 70-an, Italia hampa gelar. Satu-satunya prestasi terbaik setelah 1970 adalah tampilnya Italia di semifinal Piala Dunia 1978 di Argentina. Saat itu Italia dilatih oleh Enzo Bearzot dan masih menampilkan Dino Zoff, kiper yang merebut gelar Euro 1968 sebagai penjaga gawang utama.

Era Enzo Bearzot[sunting | sunting sumber]

Menyongsong Piala Dunia 1982 yang digelar di Spanyol, kesebelasan Italia diguncang skandal setelah beberapa pemain dan klub lokal terlibat judi totonero. Di antara pemain yang terhukum adalah striker Paolo Rossi yang juga tampil di Argentina 78. Meski tidak banyak bermain di kompetisi akibat hukuman, Bearzot tetap memanggil Rossi sebagai salah satu pemain di Piala Dunia 1982. Bearzot juga masih mempertahankan Dino Zoff sebagai penjaga gawang, yang sekaligus mengukir rekor pemain tertua yang berlaga di Piala Dunia dengan usia lebih dari 40 tahun.

Italia memulai Piala Dunia dengan tidak meyakinkan setelah hanya lolos dari penyisihan Grup 1 dengan modal 3 kali seri. Di pertandingan pertama, kekuatan baru Eropa saat itu, Polandia berhasil menahan seri Italia. Tetapi, melawan tim yang dianggap kelas dua, Peru, Italia kembali hanya bisa memaksakan hasil imbang. Gol Bruno Conti dibalas Peru tujuh menit jelang pertandingan usai. Pertandingan selanjutnya lebih parah. Melawan Kamerun, yang notabene merupakan debutan di Piala Dunia, lagi-lagi Italia bermain seri 1-1. Gol dicetak oleh Francesco Graziani, striker Fiorentina pada saat itu. Mengumpulkan nilai 3 dari tiga kali imbang, poin Italia disamai oleh Kamerun. Italia beruntung punya tabungan mencetak gol yang lebih banyak daripada Kamerun.

Di babak selanjutnya, Italia tergabung bersama Grup C, grup maut yang dihuni oleh juara bertahan Argentina dan tim kuat Brasil yang diperkuat pemain handal macam Socrates dan Falcao. Italia beruntung bisa mengalahkan Argentina dengan skor 2-1. Dua gol dicetak oleh gelandang Marco Tardelli dan Antiono Cabrini. Hal itu memicu kecaman terhadap taktik Bearzot, dan stok penyerang yang dibawanya. Bearzot menerapkan taktik catenaccio, mengutamakan pertahanan yang ketat. Salah satu episode terkenal adalah penjagaan ekstraketat dari Claudio Gentile terhadap bintang Argentina, Diego Maradona.

Sebagai respon terhadap kritik, Paolo Rossi yang masuk tim secara kontroversial memperlihatkan ketajamannya, di antaranya menjebol tiga kali gawang Brazil di pertandingan kedua Grup C. Rossi membobol gawang Brazil dari menit ke-5, dan disamakan oleh Socrates pada menit ke-12. Rossi membawa Italia unggul sampai babak pertama berakhir ketika pada menit ke-25 dia mencetak gol keduanya di turnamen. Brazil membalas di babak kedua, dengan Falcao memjebol gawang Dino Zoff di menit 68. Selang 6 menit kemudian, Rossi melengkapi hattricknya dan membawa Italia unggul sampai pertandingan selesai. Kemenangan 3-2 itu membawa Italia memuncaki grup dan kembali menantang Polandia di semifinal.

Duel di semifinal yang merupakan ulangan duel di awal turnamen berhasil dimenangi Italia 2-0. Paolo Rossi mencetak gol keempat dan kelimanya di turnamen dengan memborong dua gol atas Polandia yang di antaranya diperkuat Zbigniew Boniek. Di lain pihak, Jerman Barat sukses menghempaskan Perancis lewat adu penalti setelah skor imbang 3-3. Dua partai semifinal menghasilkan pertemuan klasik antara Jerman Barat dan Italia, ulangan semifinal Piala Dunia 1970 yang seru.

Duel antar juara dua kali Piala Dunia tersebut berakhir dengan kemenangan Azzurri. Magi Rossi kembali membawa tuah bagi Italia ketika dia mencetak gol keenam di turnamen ini sekaligus membuka skor. Marco Tardelli menambah keunggulan Italia, yang dilengkapi dengan gedoran Alessandro Altobelli untuk membawa negeri spaghetti itu memimpin 3 gol. Jerman hanya memperkecil kedudukan melalui satu gol Paul Breitner. Hasil akhir 3-1 untuk kemenangan Italia. Itu menjadi titel dunia ketiga bagi Italia sekaligus menyamai raihan titel Brasil. Paolo Rossi tampil sebagai pemain terbaik turnamen dan meraih sepatu emas dengan 6 gol-nya.

Ironisnya, Italia justru tidak lolos ke putaran final Euro 1984, meski masih bermaterikan tim juara dunia dan pelatih Enzo Bearzot. Prestasi Italia juga tidak meyakinkan selama sisa dekade 80-an, dan baru bangkit pada 1990 ketika mereka menjadi tuan rumah Piala Dunia. Italia terhenti di semifinal oleh Argentina bersama Diego Maradona, yang merupakan juara bertahan, dalam drama adu penalti. Di playoff, Italia berhasil mengalahkan Inggris dan merebut gelar hiburan sebagai peringkat ketiga.

Skuat Italia di Piala Dunia 1982

Dekade 90-an[sunting | sunting sumber]

Pada 1994, Italia yang diperkuat bintang Juventus, Roberto Baggio dan beberapa pemain AC Milan berhasil melaju sampai final menghadapi Brasil. Baggio menjadi bintang ketika mencetak rangkaian gol penentu menuju final. Sayangnya, justru Baggio pula yang menjadi biang kekalahan Italia ketika dirinya gagal mencetak gol dalam drama adu penalti. Selain Baggio, kapten Italia dan AC Milan, Franco Baresi juga gagal. Raihan Italia kembali disalip oleh Brasil dengan empat titel.

Tahun 1996 dan 1998 adalah catatan kegagalan Italia, masing-masing di Euro 96 (yang digelar di Inggris) dan Perancis 98. Italia tersisih di penyisihan grup setelah kalah dalam selisih gol dengan Republik Ceko. Di Piala Dunia 1998, Italia gagal di tangan Perancis melalui adu penalti. Perancis kemudian meraih gelar juara Piala Dunia.

Duel antara Italia dan Perancis kembali berulang di final Piala Eropa 2000 yang digelar di Belanda-Belgia. Di final, Italia unggul 1-0 sampai menit terakhir injury time ketika penyerang Perancis Sylvain Wiltord membawa malapetaka dengan membobol gawang kiper Italia Francesco Toldo untuk memaksakan perpanjangan waktu. Di babak perpanjangan waktu, David Trezeguet berhasil mencetak gol untuk Perancis. Saat itu sistem permainan menggunakan sistem Sudden Death, sehingga Italia dipastikan kalah di final. Kekalahan tragis itu membayangi Italia di Piala Dunia 2002 setelah mereka dipukul oleh tuan rumah Korea Selatan. Pasca kekalahan di Piala Dunia 2002, kapten Paolo Maldini mengundurkan diri sekaligus mengukir rekor sebagai pemain dengan 126 caps, terbanyak sepanjang masa.

Drama berlanjut di Piala Eropa 2004. Pelatih Giovanni Trapattoni yang juga menangani Azzurri di Jepang-Korea 2002 gagal membawa Italia lolos penyisihan setelah hanya mengumpulkan nilai 5 dari tiga kali bertanding. Dua tim Skandinavia, Swedia dan Denmark menyisihkan Italia melalui hitung-hitungan selisih gol yang rumit. Kegagalan itu mengakibatkan Trapattoni mundur dan digantikan oleh Marcello Lippi.

Piala Dunia 2006[sunting | sunting sumber]

Pelatih Marcello Lippi membawa Italia lolos ke Piala Dunia 2006 yang digelar di Jerman. Italia lolos ke Jerman setelah menjuarai grup dalam Kualifikasi Piala Dunia, dan kemudian tergabung dalam Grup E bersama Republik Ceko, Amerika Serikat dan Ghana. Sebelum Piala Dunia, skandal kembali marak ketika dakwaan terhadap beberapa klub yang mengguncang persepak bolaan Italia digulirkan. Kasus yang populer dengan istilah calciopoli tersebut menyita konsentrasi sejumlah pemain Italia yang klubnya terlibat.

Pada pertandingan pertama, Italia berhasil mengatasi Ghana dengan skor 2-0. Andrea Pirlo dan Vincenzo Iaquinta mencetak gol-gol untuk Italia. Di pertandingan kedua, Italia bermain imbang dengan Amerika Serikat, 1-1. Alberto Gilardino mencetak gol untuk Italia sebelum Cristian Zaccardo membuat gol bunuh diri untuk membuat pertandingan imbang. Pertandingan penentuan melawan Republik Ceko berhasil dimenangkan ketika Marco Materazzi dan Filippo Inzaghi mencetak dua gol kemenangan Italia sekaligus meloloskan tim Azzurri ke babak selanjutnya.

Di fase knock-out, Italia bertemu dengan Australia yang keluar sebagai runner up Grup F. Pertandingan dimenangkan pada menit terakhir ketika Francesco Totti berhasil mengeksekusi penalti yang diberikan wasit akibat pelanggaran kepada bek Fabio Grosso oleh pemain Australia. Di perempat final, Italia menyisihkan Ukraina dengan skor 3-0. Luca Toni membuat dua gol, dan satu tambahan gol dari Gianluca Zambrotta membuat Italia melenggang ke semi final untuk pertama kalinya sejak 1994. Di semifinal, tuan rumah Jerman menantang Italia. Dalam pertandingan yang diadakan di Dortmund, kedua tim bermain terbuka dan atraktif sehingga banyak disebut sebagai pertandingan terbaik Piala Dunia. Italia mengulangi memori drama perpanjangan waktu Piala Dunia 1970, ketika jelang usai perpanjangan waktu kedua, Fabio Grosso mencetak gol mematikan dari dalam kotak penalti. Alessandro Del Piero menyempurnakan malam untuk Italia sekaligus mengirim Jerman ke playoff tempat ketiga. Di final, Italia menghadapi Perancis yang lolos setelah menyingkirkan favorit Brasil dan Portugal.

Final Piala Dunia 2006 berlangsung di Berlin. Perancis memimpin terlebih dahulu melalui penaltiZinedine Zidane setelah Florent Malouda terganjal Marco Materazzi. Tak lama kemudian, Materazzi membalas dengan mencetak gol sundulan menyambut tendangan pojok Andrea Pirlo. Materazzi pula yang menjadi aktor terusirnya bintang Perancis, Zidane, setelah dirinya ditanduk. Sampai berakhirnya dua kali perpanjangan waktu, kedua tim gagal mencetak gol dan pertandingan dilanjutkan dengan adu tendangan penalti. Kelima eksekutor Italia berhasil menyarangkan gol, sementara David Trezeguet gagal mencetak gol untuk Perancis. Italia akhirnya menjadi juara dunia untuk keempat kalinya. Italia mencatat hanya dua kali kebobolan, satu melalui gol bunuh diri Zaccardo, dan satu melalui penalti Zidane. Hasil itu membuktikan bahwa pertahanan masih menjadi tradisi Italia sesuai dengan pakem catenaccio yang mereka anut.

Skuat Italia di Piala Dunia 2006:

Paska Piala Dunia 2006[sunting | sunting sumber]

Setelah kemenangan di Piala Dunia, Marcello Lippi mengumumkan pengunduran dirinya. Roberto Donadoni, mantan pemain AC Milan dan pelatih klub Livorno ditunjuk sebagai pengganti Lippi. Pengunduran Lippi rupanya juga diikuti mundurnya dua pilar Azzurri di masa Lippi, Francesco Totti dan Alessandro Nesta. Hal itu menambah berat beban Donadoni untuk meloloskan Italia ke putaran final Euro 2008 di Swiss-Austria. Meski dengan awalan yang kurang sempurna, Italia akhirnya berhasil memastikan lolos ke putaran final Euro 2008 setelah memenangi laga melawan Skotlandia.

Di putaran final, Italia tergabung di Grup C bersama dua kandidat juara lainnya, Belanda dan Perancis, plus kuda hitam Rumania. Pada pertandingan pertama, Italia takluk 0-3 dari Belanda. Selanjutnya Italia ditahan Rumania 1-1 dan mengalahkan Perancis 2-0 untuk melaju ke perempat final melawan juara Grup D, Spanyol. Italia akhirnya tersingkir lewat drama adu penalti, setelah skor 0-0 bertahan hingga usai dua kali perpanjangan waktu. Spanyol yang mengalahkan Italia, akhirnya menjadi juara Piala Eropa 2008.

Buntut dari kegagalan di Piala Eropa 2008 adalah dengan dipecatnya pelatih Roberto Donadoni oleh Federasi Sepak Bola Italia (FIGC). FIGC kemudian menunjuk kembali mantan pelatih tim nasional Italia di Piala Dunia 2006, Marcello Lippi, untuk menangani Italia di kualifikasi Piala Dunia 2010.

Rekor Piala Dunia[sunting | sunting sumber]

Rekor Piala Eropa[sunting | sunting sumber]

Skuat[sunting | sunting sumber]

Skuat terbaru[sunting | sunting sumber]

Daftar nama pemain berikut adalah para pemain yang dipanggil untuk pertandingan persahabatan menghadapi Brazil pada 29 Februari 2012 dan melawan Malta pada Kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Eropa .

No. Pos. Nama Pemain Tanggal lahir (umur) Tampil Gol Klub
1 GK Gianluigi Buffon 28 Januari 1978 (umur 36) 126 0 Bendera Italia Juventus
27 GK Federico Marchetti 7 Februari 1983 (umur 31) 8 0 Bendera Italia Lazio
24 GK Morgan De Sanctis 26 Maret 1977 (umur 37) 6 0 Bendera Italia Napoli
26 GK Salvatore Sirigu 12 Januari 1987 (umur 27) 4 0 Bendera Perancis Paris Saint-Germain
15 DF Andrea Barzagli 8 Mei 1981 (umur 32) 41 0 Bendera Italia Juventus
19 DF Leonardo Bonucci 1 Mei 1987 (umur 26) 26 2 Bendera Italia Juventus
2 DF Christian Maggio 11 Februari 1982 (umur 32) 23 0 Bendera Italia Napoli
17 DF Andrea Ranocchia 16 Februari 1988 (umur 26) 9 0 Bendera Italia Internazionale
7 DF Ignazio Abate 12 November 1986 (umur 27) 9 0 Bendera Italia Milan
13 DF Davide Astori 7 Januari 1987 (umur 27) 3 0 Bendera Italia Cagliari
3 DF Luca Antonelli 11 Februari 1987 (umur 27) 3 0 Bendera Italia Genoa
5 DF Mattia De Sciglio 20 Oktober 1992 (umur 21) 2 0 Bendera Italia Milan
21 MF Andrea Pirlo 19 Mei 1979 (umur 34) 97 11 Bendera Italia Juventus
16 MF Daniele De Rossi 24 Juli 1983 (umur 30) 84 14 Bendera Italia Roma
18 MF Riccardo Montolivo 18 Januari 1985 (umur 29) 43 2 Bendera Italia Milan
8 MF Claudio Marchisio 19 Januari 1986 (umur 28) 32 1 Bendera Italia Juventus
22 MF Alessandro Diamanti 2 Mei 1983 (umur 30) 10 0 Bendera Italia Bologna
23 MF Emanuele Giaccherini 5 Mei 1985 (umur 28) 8 0 Bendera Italia Juventus
20 MF Antonio Candreva 28 Februari 1987 (umur 27) 7 0 Bendera Italia Lazio
6 MF Andrea Poli 29 September 1989 (umur 24) 2 0 Bendera Italia Sampdoria
25 MF Alessio Cerci 23 Juli 1987 (umur 26) 2 0 Bendera Italia Torino
11 FW Alberto Gilardino 5 Juli 1982 (umur 31) 50 17 Bendera Italia Bologna
9 FW Mario Balotelli 12 Agustus 1990 (umur 23) 19 8 Bendera Italia Milan
12 FW Sebastian Giovinco 26 Januari 1987 (umur 27) 14 0 Bendera Italia Juventus
10 FW Pablo Osvaldo 12 Januari 1986 (umur 28) 8 3 Bendera Italia Roma
14 FW Stephan El Shaarawy 27 Oktober 1992 (umur 21) 6 1 Bendera Italia Milan

Baru dipanggil[sunting | sunting sumber]

Berikut merupakan para pemain yang juga dipanggil ke dalam skuat Italia dalam dua belas bulan terakhir dan masih dapat berpartisipasi untuk seleksi.

Pos. Pemain Tanggal lahir (Umur) Caps Gol Klub Panggilan terbaru
DF Andrea Ranocchia 16 Februari 1988 (umur 26) 8 0 Bendera Italia Internazionale v.  Uruguay, 15 November 2011
DF Mattia Cassani 26 Agustus 1983 (umur 30) 10 0 Bendera Italia Fiorentina v.  Irlandia Utara, 11 Oktober 2011
DF Alessandro Gamberini 27 Agustus 1981 (umur 32) 8 0 Bendera Italia Fiorentina v.  Republik Irlandia, 7 Juni 2011
MF Alberto Aquilani 7 Juli 1984 (umur 29) 21 3 Bendera Italia [ACF Fiorentina v.  Uruguay, 15 November 2011
MF Simone Pepe 30 Agustus 1983 (umur 30) 23 0 Bendera Italia Juventus v.  Uruguay, 15 November 2011
MF Luca Cigarini 20 Juni 1986 (umur 27) 0 0 Bendera Italia Atalanta v.  Irlandia Utara, 11 Oktober 2011
MF Angelo Palombo 25 September 1981 (umur 32) 22 0 Bendera Italia Internazionale v.  Spanyol, 10 Agustus 2011
FW Mario Balotelli 12 Agustus 1990 (umur 23) 7 1 Bendera Italia AC Milan v.  Uruguay, 15 November 2011
FW Pablo Osvaldo 12 Januari 1986 (umur 28) 2 0 Bendera Italia Roma v.  Uruguay, 15 November 2011
FW Antonio Cassano 12 Juli 1982 (umur 31) 28 9 Bendera Italia [F.C. Internazionale Milano v.  Irlandia Utara, 11 Oktober 2011
FW Giuseppe Rossi 1 Februari 1987 (umur 27) 27 6 Bendera Spanyol Villarreal v.  Irlandia Utara, 11 Oktober 2011
FW Alberto Gilardino 5 Juli 1982 (umur 31) 47 17 Bendera Italia Genoa v.  Slovenia, 6 September 2011

Pranala luar[sunting | sunting sumber]