Tapal Kuda, Jawa Timur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kawasan Tapal Kuda di Jawa Timur

Tapal Kuda adalah nama sebuah daerah di provinsi Jawa Timur, tepatnya di bagian timur provinsi tersebut. Dinamakan Tapal Kuda, karena bentuk kawasan tersebut dalam peta mirip dengan bentuk tapal kuda. Kawasan Tapal Kuda meliputi Pasuruan (bagian timur), Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.

Menurut sejarahnya, daerah Tapal Kuda ini dahulu disebut dengan Blambangan atau dalam budaya Jawa (dalam hal ini Jawa baku atau Jawa Mataraman) disebut daerah brang wetan (seberang timur), karena kawasan ini tidak pernah menjadi bagian dari kerajaan Mataram sama sekali, sampai akhirnya imigran dari kawasan Mataraman berpindah mengisi beberapa wilayah kawasan pesisir selatan sekitar abad ke-15. Namun kini, istilah Blambangan hanya ditujukan untuk wilayah yang sekarang masuk Kabupaten Banyuwangi.[1]

Di kawasan Tapal Kuda terdapat tiga pegunungan besar: Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru (dengan puncak tertingginya Gunung Semeru / 3.676 mdpl), Pegunungan Iyang (dengan puncak tertingginya Gunung Argopuro / 3.088 mdpl), dan Pegunungan Ijen (dengan puncak tertingginya Gunung Raung / 3.344 mdpl).

Ciri khas kawasan ini adalah dihuni oleh Suku Madura dan Suku Jawa dengan budaya Pendalungan, serta berbahasa Jawa dialek timuran bercampur dengan Bahasa Madura, kecuali wilayah Banyuwangi yang memiliki suku dan bahasa sendiri yaitu suku Osing dan bahasa Osing. Suku Madura bahkan merupakan mayoritas di sebagian besar wilayah ini (kecuali Banyuwangi), khususnya di sepanjang pesisir Pasuruan dan Probolinggo, serta sebelah timur kota Probolinggo hingga seluruh Situbondo dan Bondowoso. Bahkan sebagian besar tidak bisa berbahasa Jawa, meskipun tinggal di tanah Jawa.

Kawasan Tapal Kuda seringkali dianggap sebagai daerah yang cukup tertinggal di Jawa Timur, karena berdasarkan peta Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Jawa Timur, beberapa daerah di kawasan ini berada pada jajaran yang rendah.

Kota-kota besar di kawasan Tapal Kuda adalah Probolinggo, Jember, dan Banyuwangi. Kawasan pantai utara Tapal Kuda juga merupakan salah satu lokasi paling strategis secara ekonomi di Indonesia, karena dilewati jalur penghubung utama antara Pulau Jawa dan Pulau Bali. Secara geografis, daerah Panarukan yang merupakan ujung timur dari Jalan Raya Pos yang dibangun oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels, terletak di kawasan Tapal Kuda ini. Di kawasan ini juga terdapat PLTU Paiton yang merupakan salah satu PLTU terbesar di Indonesia yang mengalirkan listrik Jawa-Bali. Sebagai salah satu pembangkit listrik terbesar di Indonesia, aspek sosial masyarakat sekitar PLTU Paiton juga dapat menjadi hal yang menarik bagi para peneliti.

Definisi[sunting | sunting sumber]

Kawasan Tapal Kuda mencakup delapan wilayah administrasi, terdiri atas satu kota dan tujuh kabupaten.

Wilayah Tapal Kuda
No Nama Ibu Kota Keterangan
1 Kota Probolinggo -
2 Kabupaten Banyuwangi Banyuwangi
3 Kabupaten Bondowoso Bondowoso
4 Kabupaten Jember Jember
5 Kabupaten Lumajang Lumajang
6 Kabupaten Pasuruan Bangil Bagian timur
7 Kabupaten Probolinggo Kraksaan
8 Kabupaten Situbondo Situbondo

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Kawasan Tapal Kuda menawarkan sejuta keindahan alam luar biasa yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia. Beberapa tempat pariwisata unggulan di daerah Tapal Kuda adalah:

Kebudayaan[sunting | sunting sumber]

Kebudayaan di daerah Tapal disebut pula dengan kebudayaan Pendalungan, yang merupakan sintesis antara kebudayaan Jawa Timuran, Madura, dan Islam, mengingat banyaknya penduduk Suku Madura yang berada di wilayah ini, meskipun secara geografis masih termasuk wilayah Pulau Jawa. Kebudayaan Pendalungan ini mendapat pengaruh terbesar dari budaya Madura dan Islam. Bahasa sehari-hari masyarakat di wilayah ini pada umumnya adalah bahasa Jawa dialek timuran (dalam hal ini bahasa Arekan atau Jawa Surabayaan) yang bercampur dengan bahasa Madura. Kesenian yang berkembang di wilayah ini adalah bercorak Mataraman yang berpadu dengan budaya asli Pendalungan, namun "Pendalungan" lebih dominan. Ciri khas kebudayaan Pendalungan adalah dasar-dasar nilai ke-Islaman yang sangat kuat dalam berbagai corak kesenian dan perilaku sehari-hari masyarakatnya.

Khusus di Kabupaten Banyuwangi, kebudayaan Pendalungan hanya terdapat di daerah paling utara kabupaten ini (kecamatan Wongsorejo, daerah Baluran) dan di daerah perbatasan dengan Kabupaten Jember (kecamatan Kalibaru dan Glenmore). Sedangkan wilayah tengah Banyuwangi didominasi oleh kebudayaan Suku Osing. Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah Bahasa Osing. Bahkan di beberapa wilayah paling timur Banyuwangi, juga dijumpai penduduk suku Bali dengan bahasa Bali.

Lain-lain[sunting | sunting sumber]

Dalam bahasa Inggris daerah ini disebut sebagai The Eastern Salient dan dalam bahasa Belanda sebagai De Oosthoek yang keduanya berarti Pojok Timur.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]