Lompat ke isi

Zaman Sengoku

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Zaman Sengoku (戦国時代, sengoku jidai, zaman negara-negara berperang) (Abad ke-15 - Abad ke-16) adalah salah satu pembagian periode dalam sejarah Jepang yang dimulai sekitar tahun 1493 Peristiwa Meiōnoseihen (pergolakan di dalam klan Ashikaga untuk menentukan pewaris jabatan shogun) sampai shogun ke-15 Ashikaga Yoshiaki ditaklukkan oleh Oda Nobunaga yang menandai akhir zaman Muromachi dan mengawali zaman Azuchi Momoyama. Zaman Sengoku adalah akhir dari zaman Muromachi. Ada juga pendapat yang mengatakan zaman Azuchi Momoyama atau disebut juga zaman Shokuhō (織豊時代, shokuhō jidai, zaman Oda Nobunaga-Toyotomi Hideyoshi-Akechi Mitsude) sudah dimulai sejak Oda Nobunaga mulai bertugas di Kyoto sebagai pengikut Ashikaga Yoshiaki.

Ringkasan

[sunting | sunting sumber]

Selama zaman Sengoku, walaupun Kaisar Jepang secara resmi merupakan penguasa negeri dan seluruh bangsawan telah bersumpah setia kepadanya, Kaisar seringkali hanyalah dianggap sebagai tokoh seremonial, marginal, dan keagamaan yang mendelegasikan kekuasaannya kepada Syogun, seorang bangsawan yang kurang lebih setara dengan seorang general. Beberapa tahun sebelum zaman Sengoku, keshogunan secara perlahan kehilangan pengaruh dan kendalinya terhadap para daimyōs (bangsawan lokal). Walaupun keshogunan Ashikaga telah mengembalikan struktur dari keshogunan Kamakura dan melembagakan sistem pemerintahan prajurit berdasarkan hak dan kewajiban sosial dan ekonomi yang sama yang dibangun oleh Klan Hōjō dengan Goseibai Shikimoku di tahun 1232,[butuh klarifikasi] keshogunan gagal mendapatkan kesetiaan sebagian besar daimyō, terutama para daimyō yang letak wilayahnya cukup jauh dari ibu kota Kyoto. Sebagian besar daimyō tersebut mulai berperang dengan daimyō lain untuk merebut kendali wilayah dan pengaruh dari keshogunan. Bersamaan dengan meningkatnya perdagangan dengan Dinasti Ming, perekonomian pun berkembang, dan penggunaan uang meluas dengan semakin banyaknya pasar dan kota perdagangan. Digabungkan dengan perkembangan di bidang agrikultural dan perdagangan skala kecil, seluruh aspek-aspek tersebut berujung pada keinginan otonomi daerah yang lebih besar dari setiap tingkat sosial masyarakat. Pada awal abad ke-15, penderitaan yang disebabkan oleh gempa bumi dan kelaparan sering kali memicu pemberontakan bersenjata oleh para petani yang bosan dengan utang dan pajak.[butuh rujukan]

Sejarahwan seringkali menganggap zaman Sengoku berawal pada Perang Ōnin (1467–1477), konflik sepuluh tahun yang disebabkan oleh ketidakstabilan politik, yang pada akhirnya memicu masa yang kemudian disebut zaman Sengoku. Perang saudara ini jelas merupakan contoh melemahnya otoritas keshogunan Ashikaga atas pemerintahan keshogunannya, daimyō provinsinya, dan Jepang secara keseluruhan; dengan demikian gelombang konflik yang tak terkendali akan menyebar ke seluruh Jepang dan menghancurkan negara-negara bagian di era perang. Para pakar dan penulis berpendapat bahwa “perselisihan penerus ini mungkin tidak akan berujung pada perang jika bukan karena kurangnya kepemimpinan shogun.”[1][2]

Perang Ōnin, yang menghancurkan dua per tiga Kyoto, adalah peristiwa yang menimbulkan kekacauan di seluruh Jepang.[1] Selain konfrontasi militer antar negara, juga terjadi dampak domestik. Karena menghina keshogunan, daimyo yang terpaksa tetap tinggal di Kyoto malah kembali ke provinsinya. Akibatnya, beberapa daimyo menyadari bahwa pengikut atau shugodai yang mereka tunjuk, sebagai perwakilan daimyō ketika berhalangan, naik kekuasaan untuk menguasai wilayah tersebut atau memproklamirkan kemerdekaan sebagai wilayah terpisah.[2]

Selain itu, kelelahan akibat perang, kerusuhan sosio-ekonomi, dan perlakuan buruk aristokrat memicu kemarahan kelas petani. Petani, pengrajin, pedagang, dan bahkan penduduk desa mengorganisir pemberontakan (dikenal sebagai “ikki”) melawan kelas penguasa. Contoh luar biasa dari hal ini dapat diamati dalam Pemberontakan Kaga, di mana ikki setempat melancarkan pemberontakan besar-besaran dengan dukungan Jōdo Shinshū (sehingga membentuk istilah ikkō ikki) dan mengambil kendali atas seluruh provinsi Kaga.[2][3]

Zaman Sengoku mencapai puncaknya dengan serangkaian tiga panglima perang – Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi, dan Tokugawa Ieyasu – yang secara bertahap menyatukan Jepang. Setelah kemenangan terakhir Tokugawa Ieyasu dalam pengepungan Osaka pada tahun 1615, Jepang berada dalam masa damai selama lebih dari 200 tahun di bawah Keshogunan Tokugawa.

Garis waktu

[sunting | sunting sumber]

Perang Ōnin pada tahun 1467 umumnya dianggap sebagai titik awal zaman Sengoku. Terdapat beberapa peristiwa yang dapat dianggap sebagai akhir zaman sengoku: Masuknya Nobunaga ke Kyoto (1568)[4] atau dibubarkannya Keshogunan Muromachi (1573)[5] atau Nobunaga memasuki Istana Azuchi (1576), Pengesahan Sōbujirei oleh Hideyoshi (ja) yang merupakan aturan yang melarang perang antar klan (1587), Pengepungan Odawara (1590), Pertempuran Sekigahara (1600), dibentuknya Keshogunan Tokugawa (1603), Pengepungan Osaka (1615), atau penindasan Pemberontakan Shimabara (1638).[6][7]

Tahun Peristiwa
1467 Dimulainya Perang Ōnin
1477 Akhir Perang Ōnin. Kemerdekaan Iga ikki resmi diakui
1485 Pemberontakan Yamashiro menghasilkan pembentukan Yamashiro Ikki
1487 Pertempuran Magari: Rokkaku Takayori, membantu para ninja Iga dan Kōka ikki dalam mengalahkan Ashikaga Yoshihisa
1488 Pemberontakan Kaga membentuk Kaga ikki
1493 Hosokawa Masamoto menjadi pimpinan klan dalam Kudeta Meio
Hōjō Sōun merebut Provinsi Izu
Keshogunan Ashikaga menghancurkan Yamashiro ikki
1507 Awal dari Perang Ryo Hosokawa (perselisihan penerus dalam keluarga Hosokawa)
1520 Hosokawa Takakuni mengalahkan Hosokawa Sumimoto
1523 Tiongkok menghentikan seluruh hubungan dagang dengan Japan dikarenakan konflik
1531 Hosokawa Harumoto mengalahkan Hosokawa Takakuni
1535 Pertempuran Idano: Pasukan Matsudaira mengalahkan pemberontak Masatoyo
1543 Orang Portugis berlabuh di Tanegashima, menjadi orang Eropa pertama yang datang ke Jepang, dan memperkenalkan Senapan sundut ke dalam peperangan Jepang
1546 Pengepungan Istana Kawagoe: Hojo Ujiyasu mengalahkan Klan Uesugi dan menjadi penguasa WIlayah Kantō
1549 Miyoshi Nagayoshi mengkhianati Hosokawa Harumoto
Jepang secara resmi mengakhiri pengakuan atas hegemoni kawasan Tiongkok dan membatalkan pemberian upeti lebih lanjut
1551 Insiden Tainei-ji: Sue Harukata mengkhianati Ōuchi Yoshitaka, mengambil alih kendali Honshu Barat
1554 perjanjian tripartit antara Takeda, Hōjō dan Imagawa ditanda tangani
1555 Pertempuran Itsukushima: Mōri Motonari mengalahkan Sue Harukata dan kemudian menggantikan Ōuchi sebagai daimyo terkemuka di Honshu barat
1560 Pertempuran Okehazama: Oda Nobunaga yang kalah jumlah mengalahkan dan membunuh Imagawa Yoshimoto dalam sebuah serangan kejutan
1561 Pertempuran Kawanakajima keempat: Pertempuran melegenda antara Takeda Shingen dan Uesugi Kenshin
Kapal Portugis menggempur Moji atas permintaan Otomo Sorin, yang gagal merebut wilayah tersebut dalam sebuah pengepungan.
1562 Omura Sumitada memeluk agama Kristen, menjadi Daimyo pertama yang menganut agama tersebut.
1565 Kapal Portugis dan Jepang milik klan Matsura bentrok pada Pertempuran Teluk Fukuda.
1568 Oda Nobunaga bergerak menuju Kyoto, memaksa Matsunaga Danjo Hisahide melepas kendali kota.
1570 Pertempuran Anegawa dan awal dari Perang Ishiyama Hongan-ji
1571 Nagasaki didirikan sebagai pelabuhan perdagangan bagi para saudagar Portugis, dengan izin dari daimyo Ōmura Sumitada
1573 Akhir dari Keshogunan Ashikaga
1574 Klan Rokkaku dan Kōka ikki menyerah kepada Oda Nobunaga
1575 Pertempuran Nagashino: Oda Nobunaga dan Tokugawa Ieyasu mengalahkan kavaleri klan Takeda dengan taktik senapan sundut inovatif
1577 Pertempuran Tedorigawa: Pertempuran besar antara Uesugi Kenshin melawan Oda Nobunaga
1578 Kekaisaran menobatkan Oda Nobunaga sebagai Menteri Besar Negara (Daijo daijin)
1580 Akhir dari Perang Ishiyama Hongan-ji. Oda Nobunaga menyatukan wilayah Jepang tengah di bawah kekuasaannya
1581 Perang Tenshō Iga berakhir dengan hancurnya Iga ikki.
1582 Akechi Mitsuhide membunuh Oda Nobunaga pada Insiden Honnoji; Hashiba Hideyoshi mengalahkan Akechi pada Pertempuran Yamazaki
1583 Chosokabe Motochika memperluas kekuasaannya ke seluruh Pulau Shikoku
1584 Shimazu Yoshihisa menjadi penerus daimyo untuk Wilayah Kyushu
1585 Hashiba Hideyoshi diberikan gelar Kampaku, menetapkan otoritas dominannya; Ia diberi nama keluarga Toyotomi setahun setelahnya.
1587 Toyotomi Hideyoshi mengumumkan dekrit anti-Kristen yang pertama.
1590 Pengepungan Odawara (1590): Toyotomi Hideyoshi mengalahkan klan Hōjō, menyatukan Jepan di bawah kekuasaannya
1592 Invasi Korea Pertama
1597 Invasi Korea Kedua
1598 Toyotomi Hideyoshi meninggal
1600 Pertempuran Sekigahara: Pasukan Timur di bawah Tokugawa Ieyasu mengalahkan Pasukan Barat yang terdiri dari loyalis Toyotomi.
1603 Tokugawa Ieyasu menyatukan seluruh Jepang di bawah kekuasaannya dan membentuk Keshogunan Tokugawa
1614 Agama Katolik secara resmi dilarang dan seluruh penginjil diperintahkan untuk meninggalkan Jepang
1615 Siege of Osaka: Oposisi Toyotomi terakhir terhadap Keshogunan Tokugawa ditumpaskan

Gekokujō

[sunting | sunting sumber]
Jepang di tahun 1570

Pergolakan pada zaman Sengoku mengakibatkan semakin melemahnya otoritas pemerintah pusat, dan di seluruh Jepang, penguasa daerah, yang disebut daimyō, bangkit untuk mengisi kekosongan tersebut. Selama peralihan kekuasaan ini, klan-klan besar seperti Takeda dan Imagawa, yang memerintah di bawah kekuasaan bakufu Kamakura dan Muromachi, mampu memperluas wilayah pengaruh mereka. Namun banyak juga yang posisinya terkikis dan akhirnya diambil alih oleh klan yang lebih kuat. Fenomena meritokrasi sosial ini, di mana bawahan yang mampu menolak status quo dan dengan paksa menggulingkan aristokrasi yang dibebaskan, dikenal sebagai gekokujō (下克上), yang berarti "yang rendah mengalahkan yang tinggi".[8]

Salah satu contoh dari gekokujo tersebut adalah Hōjō Sōun, yang berasal dari keluarga sederhana dan pada akhirnya menguasai Provinsi Izu di tahun 1493. Melanjutkan pencapaian Sōun, klan Hōjō menjadi kekuatan besar di wilayah Kantō sampai mereka ditundukkan oleh Toyotomi Hideyoshi pada akhir zaman Sengoku. Beberapa contoh terkenal lainnya adalah pergantian kekuasaan dari klan Hosokawa oleh klan Miyoshi, klan Toki oleh klan Saitō, dan klan Shiba oleh klan Oda, yang kemudian digantikan oleh bawahannya, Toyotomi Hideyoshi yang merupakan putra dari seorang petani tanpa nama keluarga.[9]

Kelompok agama yang terorganisasi dengan baik juga memperoleh kekuatan politik saat ini dengan menyatukan para petani dalam perlawanan dan pemberontakan melawan kekuasaan daimyō. Para biksu Buddha dari sekte Buddha Tanah Murni Kebenaran membentuk beberapa Ikkō-ikki, yang paling berhasil yaitu di provinsi Kaga, merdeka selama hampir 100 tahun.

Penyatuan

[sunting | sunting sumber]
Jepang di akhir abad ke-16

Setelah hampir satu abad mengalami peperangan dan ketidakstabilan politik, Jepang berada di ambang penyatuan oleh Oda Nobunaga yang muncul dari ketidakjelasan di provinsi Owari (kini Prefektur Aichi) untuk mendominasi Jepang tengah. Pada tahun 1582, ketika berdiam di kuil di Honnō-ji, Oda Nobunaga melakukan seppuku ketika kuil tersebut diinvasi oleh salah satu jenderal Oda, Akechi Mitsuhide, untuk membunuh Oda. Kejadian tersebut membuka kesempatan bagi Toyotomi Hideyoshi untuk memantapkan dirinya sebagai penerus Oda setelah naik pangkat dari ashigaru (prajurit kaki) untuk menjadi salah satu jenderal paling tepercaya Oda. Toyotomi akhirnya mengkonsolidasikan kendalinya atas para daimyō yang tersisa tetapi memerintah sebagai Kampaku (Tetua Kekaisaran) karena statusnya yang lahir dari orang biasa menghalanginya mendapatkan gelar Sei-i Taishōgun. Selama masa kepemimpinannya yang singkat sebagai Kampaku, Toyotomi mencoba menginvasi Korea sebanyak dua kali. Pada percobaan pertama, yang berlangsung dari tahun 1592 sampai 1596, awalnya berjalan sukses namun mengalami kemunduran oleh Angkatan Laut Joseon dan berakhir buntu. Percobaan kedua di mulai di tahun 1597 namun kembali gagal karena Korea, terutama angkatan laut mereka yang dipimpin oleh Laksamana Yi Sun-Sin, telah siap sejak invasi pertama. Di tahun 1598, Toyotomi memerintahkan mundur dari Korea sebelum kematiannya.

Tanpa meninggalkan pewaris tahta yang mumpuni, Jepang kembali masuk ke masa kekacauan politik, dan Tokugawa Ieyasu mengambil kesempatan dari keadaan tersebut.[10]

Ōzutsu (Senapan Besar)

Di ranjang kematiannya, Toyotomi menunjuk sekelompok bangsawan terkuat di Jepang—Tokugawa, Maeda Toshiie, Ukita Hideie, Uesugi Kagekatsu, dan Mōri Terumoto—untuk memerintah sebagai Dewan Lima Tetua sampai bayi laki-lakinya, Hideyori, mencapai usia dewasa. Perdamaian yang tidak menentu berlangsung hingga kematian Maeda pada tahun 1599. Setelah itu sejumlah tokoh tinggi, terutama Ishida Mitsunari, menuduh Tokugawa tidak setia kepada rezim Toyotomi.

Hal ini memicu krisis yang menyebabkan Pertempuran Sekigahara pada tahun 1600, di mana Tokugawa dan sekutunya mengalahkan pasukan anti-Tokugawa. Umumnya dianggap sebagai konflik besar terakhir pada zaman Sengoku, kemenangan Tokugawa di Sekigahara menjadikannya sebagai kekuatan utama di dalam rezim Toyotomi, sisa-sisa terakhir rezim Toyotomi akhirnya dihancurkan dalam pengepungan Osaka pada tahun 1615.

Tokoh terkenal

[sunting | sunting sumber]
Etalase toko pembuat senjata, Sakai, Osaka

Tiga pemersatu Jepang

[sunting | sunting sumber]
Tiga pemersatu Jepang: dari kiri ke kanan: Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi dan Tokugawa Ieyasu

Lihat juga

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. ^ a b Streich, Philip. "Ōnin War (1467–1477)." Japan at War: An Encyclopedia, edited by Louis G. Perez, ABC-CLIO, 2013, pp. 296-297. Gale eBooks, link.gale.com/apps/doc/CX2789100191/GVRL?u=psucic&sid=bookmark-GVRL&xid=56a79408. Accessed 21 Mar. 2023.
  2. ^ a b c Streich, Philip. "Civil Wars, Sengoku Era (1467–1570)." Japan at War: An Encyclopedia, edited by Louis G. Perez, ABC-CLIO, 2013, pp. 53-55. Gale eBooks, link.gale.com/apps/doc/CX2789100045/GVRL?u=psucic&sid=bookmark-GVRL&xid=3f87bd69. Accessed 21 Mar. 2023.
  3. ^ Thornton, Sybil. "Ikkō Ikki." Japan at War: An Encyclopedia, edited by Louis G. Perez, ABC-CLIO, 2013, pp. 138-140. Gale eBooks, link.gale.com/apps/doc/CX2789100096/GVRL?u=psucic&sid=bookmark-GVRL&xid=b19f37eb. Accessed 21 Mar. 2023.
  4. ^ Mypaedia 1996.
  5. ^ Hōfu-shi Rekishi Yōgo-shū.
  6. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama jp191129
  7. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama jk061222
  8. ^ "Sengoku period". Encyclopedia of Japan. Tokyo: Shogakukan. 2012. OCLC 56431036. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-08-25. Diakses tanggal 2012-08-15. 
  9. ^ Turnbull, Stephen (2010). Toyotomi HideyoshiAkses gratis dibatasi (uji coba), biasanya perlu berlangganan. Oxford: Osprey Publishing. hlm. 6. ISBN 978-1-84603-960-7. 
  10. ^ "誕". Kokushi Daijiten (dalam bahasa Jepang). Tokyo: Shogakukan. 2012. OCLC 683276033. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2007-08-25. Diakses tanggal 2012-08-15. 

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]
Didahului oleh:
Zaman Nanboku-chō (1334–1392)
(Zaman Muromachi)
Sejarah Jepang
Zaman Sengoku

1467–1573
(Zaman Muromachi)
Diteruskan oleh:
Zaman Azuchi–Momoyama
1573–1603