Perdagangan budak Arab

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Perdagangan budak Arab adalah praktik perbudakan di dunia Arab, terutama di Asia Barat, Afrika Utara, Afrika Tenggara, Tanduk Afrika dan sebagian Eropa (misalnya Iberia dan Sisilia) selama masa penaklukan Arab. Perdagangan ini berpusat di Timur Tengah, Afrika Utara dan Tanduk Afrika. Budak yang diperdagangkan beragam ras, etnis, dan agamanya.[1]

Selama abad ke-8 dan ke-9 pada masa Kekhalifahan Fatimiyah, sebagian besar budak adalah orang Eropa (disebut Sakaliba) yang diculik dari pantai-pantai Eropa atau ditawan saat perang.[2] Sejarawan memperkirakan antara tahun 650 sampai 1900, sekitar 10 hingga 18 juta orang diperbudak oleh pedagang budak Arab dan dibawa dari Eropa, Asia, dan Afrika melintasi Laut Merah, Samudra Hindia, dan gurun Sahara.[3] Namun, budaknya berasal dari beragam wilayah dan meliputi orang Mediterania, orang Persia, orang dari kawasan pegunungan Kaukasus (contohnya Georgia, Armenia dan Sirkasia) serta sebagian Asia Tengah dan Skandinavia, orang Inggris, Belanda dan Irlandia, orang Berber dari Afrika Utara, dan berbagai suku bangsa lainnya.

Pada abad ke-18 dan ke19, aliran budak Zanj (Bantu) dari Afrika Tenggara meningkat dengan menguatnya Kesultanan Oman, yang berbasis di Zanzibar, Tanzania. Oman mengalami konflik perdagangan dan persaingan langsung dengan Portugis dan orang Eropa lainnya di sepanjang pesisir Swahili.[4] Negara-negara Berber Afrika Utara melakukan perompakkan terhadap kapal-kapal Eropa dan memperbudak ribuan orang Kristen Eropa. Mereka memperoleh uang dari hasil tebusan. Pada banyak kasus di Britania, gereja desa dan masyarakat lokal harus menggalang dana untuk mengumpulkan uang tebusan karena pemerintah tidak menebus warganya.

Cakupan[sunting | sunting sumber]

Karena sifat perdagangan budak Arab, mustahil memperkirakan secara tepat jumlah budak yang diperdagangkan.[5][6][7] Sejarawan Eropa dan Amerika berpendapat bahwa antara abad ke-8 dan ke-19, 10 juta hingga 18 juta orang diperdagangkan oleh pedagang budak Arab dan diambil dari seberang Laut Merah, Samudra Hindia, dan gurun Sahara.[3][8][9][10] Istilah "Arab" saat digunakan pada dokumen bersejarah seringkali menunjukkan istilah etnis, karena banyak pedagang budak "Arab", contohnya Tippu Tip dan yang lainnya, secara fisik tidak dapat dibedakan dari "orang Afrika" yang mereka jual-belikan.

Orang Arab juga memperbudak orang Eropa. Menurut Robert Davis, antara 1 juta hingga 1,25 juta orang Eropa diculik antara abad ke-16 dan ke-19 oleh perompak Berber, yang merupakan bawahan Kesultanan Utsmaniyah, dan dijadikan budak.[11][12] Budak-budak ini diculik terutama dari desa-desa pesisir di Italia, Spanyol, Portugal serta dari tempat yang lebih jauh seperti Prancis atau Inggris, Belanda, Irlandia, dan bahkan Islandia. Budak juga diperoleh dari kapal-kapal yang diserang oleh perompak.[13] Efek dari serangan-serangan ini amat parah; Prancis, Inggris, dan Spanyol masing-masing kehilangan ribuan kapal. Bentangan panjang pantai Spanyol dan Italia nyaris seluruhnya ditinggalkan oleh penduduknya, karena seringnya serangan perompak. Serbuan perompak ini menyulitkan pemukiman pantai hingga abad ke-19.[14][15]

Ekspedisi penyerbuan Arab secara berkala yang dilancarkan dari Iberia Islam untuk menyerang kerajaan-kerajaan Iberia Kristen, membawa hasil berupa harta dan budak. Contohnya, dalam sebuah serbuan ke Lisbon pada 1189, khalifah Muwahidun, Abu Yusuf Yakub al-Mansur, membawa tawanan sebanyak 3.000 perempuan dan anak-anak, sedangkan gubernurnya di Córdoba, dalam serangan selanjutnya ke Silves pada 1191, memperbudak 3,000 orang Kristen.[16]

Perang Utsmaniyah di Eropa dan serbuan Tatar membawa banyak budak Kristen Eropa ke dunia Muslim.[17][18][19] Pada 1769, sebuah serangan besar terakhir Tatar memperbudak 20.000 orang Rusia dan Polandia.[20]

Perdangan budak 'Oriental' atau 'Arab' terkadang disebut perdagangan budak 'Islam', namun menurut Patrick Manning, seorang profesor sejarah dunia, perintah agama bukanlah pendorong perbudakan. Meskipun demikian, jika penduduk non-Muslim menolak membayar pajak perlindungan/pendudukan jizya, mereka dianggap berperang dengan umat Muslim, dan Hukum Islam memperbolehkan memperbudak orang non-Muslim semacam itu. Penggunaan istilah "perdagangan Islam" atau "dunia Islam" diperdebatkan oleh beberapa Muslim karena dianggap menempatkan Afrika sebagai bagian di luar Islam, atau sebagai bagian dari dunia Islam yang dapat diabaikan.[21] Menurut sejarawan Eropa, para penyebar Islam di Afrika seringkali menampilkan sikap hati-hati terhadap masuknya orang Afrika ke agama Islam karena pengaruhnya dalam mengurangi jumlah orang yang dapat diperbudak.[22]

Dari sudut pandang Barat, topik ini bercampur dengan perdagangan budak Oriental, yang mengikuti dua jalur utama pada Abad Pertengahan. Yang pertama adalah jalur darat melintasi gurun Maghreb dan Masyrik (jalur trans-Sahara),[23] dan yang kedua adalah jalur laut ke timur Afrika melalui Laut Merah dan Samudra Hindia (jalur Oriental).[24][25]

Perdagangan budak Arab bermula sebelum Islam dan berlangsung selama lebih dari satu milenium.[26][27][28] Pedagang Arab memperbudak orang Afrika di sepanjang Samudra Hindia mulai dari Pesisir Swahili di Kenya, Mozambik, dan Tanzania modern,[29] dan di tempat lainnya di Afrika Tenggara dan dari Eritrea dan Ethiopia di Tanduk Afrika ke Irak, Iran, Kuwait, Somalia, Turki modern serta wilayah-wilayah lainnya di Timur Tengah[30] dan Asia Selatan (terutama Pakistan dan India). Berbeda dari perdagangan budak trans-Atlantik ke Dunia Baru, orang Arab mengirimkan budak Afrika ke dunia Arab, yang pada pucaknya membentang di lebih dari tiga benua dari Atlantik ke Timur Jauh. Demi memenuhi kebutuhan untuk pekerja perkebunan, budak Zanj yang ditangkap dikapalkan ke Jazirah Arab dan Timur Dekat, selain wilayah-wilayah lainnya.[31]

Sumber dan historiografi[sunting | sunting sumber]

Hambatan dalam sejarah perdagangan budak Arab adalah terbatasnya sumber yang masih ada. Ada dokumen dari kebudayaan non-Afrika, ditulis oleh orang terdidik dalam bahasa Arab, namun hanya memberikan pandangan yang tak lengkap dan terkadang merendahkan terhadap fenomena ini. Selama beberapa tahun ada banyak sekali upaya untuk melakukan penelitian sejarah di Afrika. Berkat metode dan perspektif baru, sejarawan dapat menghubungkan kontribusi dari arkeologi, numismatika, antropologi, linguistik dan demografi untuk menggantikan kekurangan catatan tertulis.

Perdagangan Arab atas budak Zanj (Bantu) di Afrika Tenggara merupakan salah satu perdagangan budak tertua, mendahului perdagangan budak trans-Atlantik Eropa 700 tahun.[32][33][34] Budak pria sering dijadikan pelayan, tentara, atau buruh oleh tuannya, sedangkan budak perempuan, termasuk budak dari Afrika, lama diperdagangkan ke negara dan kerajaan Timur Tengah oleh pedagang Arab dan Oriental sebagai selir dan pelayan. Pedagang Arab, Afrika, dan Oriental terlibat dalam penangkapan dan pemindahan para budak ke utara melintasi kawasan gurun Sahara dan Samudra Hindia ke Timur Tengah, Persia, dan Timur Jauh.[33][34]

Keterlibatan Yahudi yang paling signifikan dalam perdagangan budak ini terjadi di Spanyol Islam (Al-Andalus).[35] Menurut sejarawan Alan W. Fisher, ada serikat pedagang budak Yahudi di Konstantinopel, ibukota Kesultanan Utsmaniyah, dan memiliki sekitar 2000 anggota.[20] Kota tersebut adalah pusat utama perdagangan budak sejak abad ke-15. Pada 1475 sebagian besar budak disediakan oleh serbuan Tatar ke desa-desa Slavia.[20] Hingga abad ke-18, Kekhanan Krimea menjalin perdagangan budak yang besar dengan Kesultanan Utsmaniyah dan Timur Tengah, mengekspor sekitar 2 juta budak dari Polandia-Lithuania dan Rusia selama periode 1500–1700.[36]

650 hingga abad ke-20[sunting | sunting sumber]

Kira-kira sejak 650 hingga 1960-an, perdagangan budak Arab berlanjut dalam satu bentuk atau lainnya. Catatan dan rujukan sejarah tentang bangsawan pemilik budak di Arab, Yaman dan tempat-tempat lainnya sering muncul hingga awal 1920-an.[32] Pada 1953, para syekh yang ditemani para budak dari Qatar menghadiri penobatan Ratu Elizabeth II dan mereka melakukannya lagi saat kunjungan lainnya lima tahun kemudian.[9]

Pada 1950-an, populasi budak Saudi Arabia diperkirakan sebanyak 450.000 — sekitar 20% dari jumlah penduduk.[37] Selama Perang Saudara Sudan Kedua, banyak orang yang diperbudak; perkiraan penculikan berkisar dari 14.000 hingga 200.000 orang.[38] Perbudakan di Mauritania secara resmi dilarang oleh hukum yang disahkan pada 1905, 1961, dan 1981.[39] Akhirnya perbudakan menjadi tindak kejahatan pada Agustus 2007.[40] Diperkirakan hingga 600.000 orang Mauritania, atau 20% dari jumlah penduduk Mauritania, saat ini berada dalam kondisi yang banyak dianggap sebagai "perbudakan," contohnya, banyak orang yang harus menjalani kerja paksa akibat kemiskinan.[41]

Perdagangan budak Arab di Samudra Hindia, Laut Merah, dan Laut Tengah mendahului kedatangan orang Eropa dalam jumlah besar di benua Afrika.[32][42]

David Livingstone menulis tentang perdagangan budak di kawasan Danau Besar Afrika saat ia mengunjungi tempat itu pada pertengahan abad ke-19:[43]

Kami melewati seorang budak perempuan yang ditembak dan ditusuk tubuhnya dan terbaring di jalanan. [Orang yang menonton] mengatakan bahwa seorang Arab yang lewat sebelumnya pagi itu telah melakukan tindakan tersebut karena marah akibat kehilangan harga yang telah ia bayarkan untuk budak tersebut, karena budak itu tak mampu lagi berjalan.[44]

Beberapa keturunan budak Afrika yang dibawa ke Timur Tengah selama perdagangan budak masih hidup hingga saat ini, dan sadar akan asal-usul Afrika mereka. Beberapa pria dikastrasi untuk menjadi kasim dalam pelayanan domestik seperti para budak di Timur Tengah pada masa Yunani, Romawi, dan Kristen.[30][45]

Pasar budak Afrika Utara juga memperdagangkan budak Eropa, yang diculik oleh para perompak Berber dalam serbuan budak terhadap kapal-kapal dan penyerbuan ke kota-kota pantai dari Italia hingga Spanyol, Portugal, Prancis, Inggris, Belanda, dan hingga sejauh Islandia. Pria, wanita dan anak-anak diculik dengan cakupan secara amat parah hingga banyak sekali kota pantai yang ditinggalkan

Dosen sejarah di Universitas Negara Bagian Ohio, Robert Davis, menggambarkan bahwa perdagangan budak kulit putih diremehkan oleh sebagian besar sejarawan modern. Robert memperkirakan bahwa 1 juta hingga 1,25 juta orang Eropa Kristen kulit putih diperbudak di Afrika Utara, sejak awal abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-18, oleh pedagang budak dari Tunis, Aljir, dan Tripoli saja (jumlah ini tidak mencakup orang Eropa yang diperbudak oleh penyergap dan pedagang budak Maroko ataupun dari pesisir Laut Tengah lainnya,[46] serta sekitar 700 orang Amerika diperbudak di daerah ini antara 1785 dan 1815.[47] Statistik bea cukai abad ke-16 dan ke-17 menunjukkan bahwa impor budak tambahan Istanbul dari Laut Hitam mungkin berjumlah kira-kira 2,5 juta dari 1450 hingga 1700.[48] Pasar menurun setelah kekalahan pada Perang Berber dan akhirnya perbudakan di kawasan tersebut dihapuskan pada 1830-an ketika tempat itu dikuasai oleh Prancis.

Sumber Arab Abad Pertengahan[sunting | sunting sumber]

Sumber-sumber Arab berikut disusun secara kronologis. Cendekiawan dan geografer dari dunia Arab telah mendatangi Afrika sejak masa Muhammad pada abad ke-7.

  • Al-Masudi (meninggal 957), Muruj adh-dhahab atau Padang Rumput Emas, manual rujukan untuk para geografer dan sejarawan dunia Muslim. Al-Masudi telah berkelana mengelilingi dunia Arab bahkan hingga ke Timur Jauh.
  • Ya'kubi (abad ke-9), Kitab al-Buldan atau Buku Tentang Negara-Negara
  • Abraham ben Jacob (Ibrahim bin Yakub) (abad ke-10), pedagang Yahudi dari Córdoba[35]
  • Al-Bakri, penulis Kitāb al-Masālik wa'l-Mamālik atau Buku Tentang Jalan dan Kerajaan, diterbitkan di Córdoba sekitar 1068, memberikan informasi mengenai orang Berber dan kegiatan mereka; ia mengumpulkan catatan saksi mata mengenai jalur kafilah Sahara.
  • Muhammad al-Idrisi (meninggal sekitar 1165), Deskripsi Afrika dan Spanyol
  • Ibnu Battuta (meninggal sekitar 1377), geografer Maroko yang berkelana ke Afrika sub-Sahara, ke Gao dan Timbuktu. Karya utamanya adalah Hadiah Bagi Mereka Yang Merenungi Keindahan Kota-Kota dan Keajaiban Perjalanan.
  • Ibnu Khaldun (meninggal 1406), sejarawan dan filsuf dari Afrika Utara. Terkadang ia disebut sebagai sejarawan masyarakat Arab, Berber, dan Persia. Dia menulis Mukaddimah atauvPendahuluan Sejarah dan Sejarah Bangsa Berber.
  • Al-Maqrizi (meninggal 1442), sejarawan Mesir. Kontribusi utamanya adalah deskripsinya mengenai pasar-pasar Kairo.
  • Leo Africanus (meninggal 1548), penulis Descrittione dell’ Africa atau Deskripsi Tentang Afrika.
  • Rifa'a al-Tahtawi (1801–1873), yang menerjemahkan karya-karya Abad Pertengahan mengenai geografi dan sejarah. Karya utamanya adalah mengenai Mesir.
  • Joseph Cuoq, penyusun Kumpulan sumber Arab mengenai Afrika Barat antara abad ke-8 dan ke-16.

Sumber Eropa (abad ke-16 hingga ke-19)[sunting | sunting sumber]

Sumber lain[sunting | sunting sumber]

  • Manuskrip bersejarah seperti Tarikh al-Sudan, Futuh al-Habasy dari Adal, Kebra Nagast dari Abyssina, dan beragam dokumen Arab dan Ajam
  • Tradisi lisan Afrika
  • Risalah Kilwa (fragmen abad ke-16)
  • Numismatika: analisis koin dan difusinya
  • Arkaeologi: arsitektur pos perdagangan dan kota yang berkaiatan dengan perdagangan budak
  • Ikonografi: miniatur Arab dan Persia di perpustakaan besar
  • Ukiran Eropa, yang kontemporer dengan perdagangan budak, dan sebagian yang lebih modern
  • Foto dari dari abad ke-19 dan masa selanjutnya

Konteks sejarah dan geografis[sunting | sunting sumber]

Dunia Islam[sunting | sunting sumber]

Agama Islam muncul pada abad ke-7. Selama ratusan tahun berikutnya, Islam dengan cepat meluas di kawasan Mediterania, disebarkan oleh bangsa Arab setelah mereka menaklukan Kekaisaran Persia Sassaniyah dan banyak wilayah dari Kekaisaran Bizantium, termasuk Levant, Armenia dan Afrika Utara. Muslim menyerbu semenanjung Iberia, di mana mereka mengalahkan Kerajaan Visigoth. Semua wilayah ini memiliki penduduk dengan beragam ciri dan, hingga batas tertentu, disatukan oleh kebudayaan Islam yang dibangun di atas pondasi keagamaan dan hukum. Contohnya, semua penduduknya menggunakan bahasa Arab dan mata uang dinar dalam transaksi komersial. Mekah di Arab, hingga sekarang, merupakan kota suci Islam dan pusat Haji untuk semua Muslim, apapun asal-usulnya.

Penaklukan pasukan Arab dan perluasan negara Islam yang mengikutinya selalu berujung pada penangkapan tawanan perang yang kemudian dibebaskan atau dijadikan budak Rakik (رقيق) dan pelayan alih-alih dijadikan tawanan seperti tradisi Islam dalam peperangan. Setelah menjadi budak, mereka harus diperlakukan sesuai dengan hukum Islam yang merupakan hukum negara Islam, khususnya pada masa Umayyah dan Abbasiyyah. Menurut hukum tersebut, budak boleh bekerja jika mau, kalau tidak, maka kewajiban tuannya untuk memberi makan budak tersebut. Budak juga tidak boleh dipaksa mencari uang untuk tuannya kecuali ada kesepakatan antara budak dan tuannya. Konsep ini disebut مخارجة (mukhārajah). Jika budak setuju dan mereka sepakat bahwa uang yang diperoleh akan dikumpulkan untuk memerdekakan budak tersebut, maka harus dibuat kontrak tertulis antara budak dan tuannya. Ini disebut مكاتبة (mukataba) dalam yurisprudensi Islam. Muslim percaya bahwa pemilik budak amat dianjurkan untuk melakukan mukataba dengan budak mereka seperti dinyatakan dalam Quran:

Kerangka peradaban Islam adalah jaringan yang berkembang dengan baik yang terdiri atas pusat perdagangan kota dan oase dengan pasar (souk, bazaar) di bagian intinya. Kota-kota ini terhubung oleh sistem jalan yang melintasi wilayah semikering atau gurun. Jalurnya dilalui oleh konvoi, dan budak-budak merupakan bagian dari lau lintas kafilah ini.

Berbeda dari perdagangan budak Atlantik, di mana rasio pria-wanita adalah 2:1 atau 3:1, perdagangan budak Arab biasanya memiliki rasio perempuan yang lebih tinggi dibanding pria. Ini menunjukkan rasa suka umum terhadap budak peremuan. Layanan gundik dan reproduksi menjadi pendorong untuk impor budak perempuan (seringkali dari Kaukasus), meskipun banyak juga yang diimpor untuk melaksanakan tugas rumah tangga.[50]

Pandangan Arab terhadap orang Afrika[sunting | sunting sumber]

Dalam Hadits, nabi Islam Muhammad, dan mayoritas ahli agama serta teolog Islam, semuanya menyatakan bahwa seluruh umat manusia memiliki asal-usul yang sama dan menolak gagasan bahwa kelompok etnis tertentu lebih baik dari yang lainnya.[51]

Meskipun demikian, beberapa prasangka etnis kemudian berkembang di antara orang Arab karena setidaknya dua alasan. Yang pertama, penaklukan dan perdagangan budak mereka yang luas,[51] dan yang kedua, pengaruh gagasan Aristoteles mengenai sebab akhir yang menyatakan bahwa budak adalah budak karena sudah secara alami begitu.[52] Pengembangan atas pandangan Aristoteles ini diajukan oleh filsuf Islam seperti Al-Farabi dan Ibnu Sinna, khususnya terkait dengan orang Turk dan kulit hitam;[51] serta pengaruh pemikiran Geonim Abad Pertengahan awal mengenai pembagian umat manusia antara tiga putra Nuh, di mana Talmud Babilonia menyatakan bahwa "keturunan Ham telah dikutuk menjadi berkulit hitam, dan bahwa [Talmud] menggambarkan Ham sebagai pendosa dan keturunannya sebagai orang-orang rendah."[53] Akan tetapi, prasangka etnis di antara beberapa orang Arab elite tidak terbatas pada orang berkulit gelap, tapi juga diarahkan pada orang berkulit terang (termasuk orang Persia, Turk, dan Eropa), sementara orang Arab menyebut diri mereka sendiri sebagai "kulit kehitam-hitaman".[54] Konsep identitas Arab sendiri belum ada hingga masa modern.[55] Menurut Arnold J. Toynbee, "Hilangnya kesadaran ras antar sesama Muslim merupakan salah satu pencapaian luar biasa Islam dan di dunia kontemporer, dan memang sedang terjadi, ada kebutuhan mendesak akan penganjuran kebaikan Islam ini.[56]

Penulis Arab Abad Pertengahan, Al-Muqaddasi, menulis bahwa bangsa Zanj memiliki kecerdasan rendah.[57] Al-Dimashqi (Ibnu al-Nafis), seorang polymat Arab, juga menggambarkan penduduk Sudan dan pesisir Zanj, selain beberapa bangsa lainnya, memiliki kecerdasan minim dan secara moral lebih dekat dengan sifat binatang.[58]

Pada abad ke-14, banyak sekali budak yang berasal dari Afrika Sub-Sahara, menyebabkan prasangka terhadap orang kulit hitam dalam karya beberapa sejarawan dan geografer Arab, contihnya sejarawan Mesir Al-Absyibi (1388–1446) menulis: "Dikatakan bahwa ketika budak [kulit hitam] kenyang, maka ia bersetubuh, dan ketika ia lapar, maka ia mencuri."[59] Kesalahan penerjamahan para sejarawan dan geografer Arab dari periode ini telah menyebabkan banyak orang menghubungkan sikap rasis yang belum menyebar luas hingga abad ke-18 dan ke-19 dengan tulisan-tulisan yang dibuat beberapa abad yang lalu.[10][60]

Afrika: abad ke-8 hingga 19[sunting | sunting sumber]

Pada April 1998, Elikia M’bokolo, menulis dalam Le Monde diplomatique, "Benua Afrika direnggut sumber daya manusia melalui semua rute yang mungkin. Melintasi Sahara, melalui Laut Merah, dari pelabuhan-pelabuhan Samudra Hindia dan menyeberangi Atlantik. Setidaknya sepuluh abad perbudakan demi keuntungan negeri-negeri Muslim (dari abad kesembilan hingga sembilan belas)." Ia melanjutkan, "Empat juta budak diekspor melalui Laut Merah, empat juta lainnya melalui pelabuhan-pelabuhan Swahili di Samudra Hindia, mungkin sebanyak sembilan juta melalui jalur kafilah trans-Sahara, dan sebelah sampai dua puluh juta melalui (tergantung sumbernya) samudra Atlantik"[61]

Pada abad ke-8, Afrika didominasi oleh orang Arab-Berber di utara. Islam bergerak ke selatan sepanjang Nil dan sepanjang jalur gurun.

  • Sahara sedikit dihuni, meskipun demikian, sejak zaman kuno telah ada kota-kota yang hidup dari perdagangan garam, emas, budak, kain, serta pertanian yang dimungkinkan oleh irigasi. Kota-kota ini antara lain Tiaret, Oualata, Sijilmasa, Zaouila, dan lain-lain.
  • Pada Abad Petengahan, istilah Arab umum bilâd as-sûdân ("Negeri Orang Kulit Hitam") digunakan untuk kawasan Sudan yang amat luas (ungkapan yang menunjukkan Afrika Bara dan Tengah[62]), atau terkadang terbentang dari pesisir Afrika Barat hingga Sudan Bart.[63]). Kawasan ini menyediakan suplai tenaga manusia untuk Afrika Utara dan Sahara. Kawasan ini didominasi oleh negeri-negeri dan bangsa tertentu, di antaranya Kekaisaran Ghana, Kekaisaran Mali, Kekaisaran Kanem-Bornu, Fula dan Hausa
Sekelompo budak Zanj di Zanzibar (1889).
  • Di Afrika Timur, pesisir Laut Merah dan Samudra Hindia dikendalikan oleh Muslim lokal, dan bangsa Arab berperan penting sebagai

Topik terkini[sunting | sunting sumber]

Sejarah perdagangan budak Arab telah menimbulkan banyak perdebatan di antara para sejarawan. Contohnya, pakar tidak sependapat mengenai jumlah orang Afrika yang diculik dari tempat tinggal mereka; ini sulit diselesaikan karena kurangnya statistik yang tepercaya: tidak ada sistem sensus di Afrika Abad Pertengahan. Bahan arsip untuk perdagangan trans-Atlantik pada abad ke-16 hingga ke-18 tampak sebagai sumber berguna, namun buku catatan ini seringkali dipalsukan. Sejarawan harus mengunakan dokumen narasi tak tepat untuk membuat perkiraan yang harus diperlakukan dengan hati-hati; Luiz Felipe de Alencastro menyatakan bahwa ada 8 juta budak yang diambil dari Afrika antara abad ke-8 dan ke-19 di sepanjang jalur perdagangan Oriental dan Trans-Sahara.[64]

Olivier Pétré-Grenouilleau mengajukan angka 17 juta orang Afrika yang diperbudak berdasarkan tulisan Ralph Austen.[65] Paul Bairoch berpendapat bahwa sekitar 25 juta orang Afrika menjadi budak dalam perdagangan budak Arab, dibandingkan 11 juta yang tiba di benua Amerika pada perdagangan trans-Atlantik.[66] Sementara Ronald Segal memperkirakan antara 11,5 juta hingga 14 juta orang diperbudak pada perdagangan budak Arab.[67][68][69]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Confronting anti-black racism in the Arab world". Al-Jazeera. July 8, 2013. 
  2. ^ http://www.columbia.edu/itc/history/conant/mushin1998.pdf
  3. ^ a b Encyclopædia Britannica's Guide to Black History
  4. ^ Owen Alik Shahadah. "Arab Slave Trade". African Holocaust Society. Diakses tanggal 2007-01-04. 
  5. ^ "Arab Slave Trade:". African Holocaust Society. Diakses tanggal 2007-01-04. 
  6. ^ Queenae Taylor Mulvihill (2006). Warriors: Spiritually Engaged, page 253
  7. ^ Arab versus European: diplomacy and war in nineteenth-century east central Africa
  8. ^ "Focus on the slave trade", BBC
  9. ^ a b "The Unknown Slavery: In the Muslim world, that is — and it's not over", National Review
  10. ^ a b "Arab Slave Trade: Nominal Muslims". African Holocaust Society. Diakses tanggal 2007-01-04. 
  11. ^ Research News: "When Europeans were slaves: Research suggests white slavery was much more common than previously believed", Ohio State University
  12. ^ Davis, Robert. Christian Slaves, Muslim Masters: White Slavery in the Mediterranean, the Barbary Coast and Italy, 1500-1800. Based on "records for 27,233 voyages that set out to obtain slaves for the Americas". Stephen Behrendt, "Transatlantic Slave Trade", Africana: The Encyclopedia of the African and African American Experience (New York: Basic Civitas Books, 1999), ISBN 0-465-00071-1.
  13. ^ 17th-century Icelandic accounts of Barbary or "Turkish" raids, first in Turkish and then English.
  14. ^ BBC - History - British Slaves on the Barbary Coast
  15. ^ "Jefferson Versus the Muslim Pirates" by Christopher Hitchens, City Journal Spring 2007
  16. ^ Ransoming Captives in Crusader Spain: The Order of Merced on the Christian-Islamic Frontier
  17. ^ Supply of Slaves
  18. ^ Soldier Khan
  19. ^ "The living legacy of jihad slavery", American Thinker
  20. ^ a b c Mikhail Kizilov. "Slave Trade in the Early Modern Crimea From the Perspective of Christian, Muslim, and Jewish Sources". Oxford University. hlm. 7–28. 
  21. ^ Manning (1990) hlm. 10
  22. ^ Murray Gordon, Slavery in the Arab World, New Amsterdam Press, New York, 1989. Originally published in French by Editions Robert Laffont, S.A. Paris, 1987, page 28.
  23. ^ Battuta's Trip: Journey to West Africa (1351 - 1353)
  24. ^ The blood of a nation of Slaves in Stone Town
  25. ^ BBC Remembering East African slave raids
  26. ^ "Know about Islamic Slavery in Africa"
  27. ^ "The Forgotten Holocaust: The Eastern Slave Trade". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-10-25. 
  28. ^ Irfan Shahid, Byzantium and the Arabs in the Sixth Century, Dumbarton Oaks, 2002, hlm. 364 documents; Ghassanid Arabs seizing and selling 20,000 Jewish Samaritans as slaves in the year 529, before the rise of Islam.
  29. ^ Heart of Africa, vol. ii., chap. xv.
  30. ^ a b Labb¿, Theola (2004-01-11). "A Legacy Hidden in Plain Sight". The Washington Post. Diakses tanggal 2010-04-25. 
  31. ^ Proceedings of the Seminar for Arabian Studies, Volumes 21-22. 1991. hlm. 87. Diakses tanggal 17 January 2015. 
  32. ^ a b c Mintz, S. Digital History Slavery, Facts & Myths
  33. ^ a b Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Bagley
  34. ^ a b Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Ogot
  35. ^ a b Slave Trade. Jewish Encyclopedia
  36. ^ Darjusz Kołodziejczyk, as reported by Mikhail Kizilov (2007). "Slaves, Money Lenders, and Prisoner Guards:The Jews and the Trade in Slaves and Captivesin the Crimean Khanate". The Journal of Jewish Studies. hlm. 2. 
  37. ^ £400 for a Slave
  38. ^ "Slavery, Abduction and Forced Servitude in Sudan". US Department of State. 22 May 2002. Diakses tanggal 20 March 2014. 
  39. ^ "Slavery still exists in Mauritania"
  40. ^ Mauritanian MPs pass slavery law
  41. ^ "The Abolition season", BBC World Service
  42. ^ Catherine Coquery-Vidrovitch, in Les Collections de l'Histoire (April 2001) says:"la traite vers l'Océan indien et la Méditerranée est bien antérieure à l'irruption des Européens sur le continent"
  43. ^ Kwame Anthony Appiah, Henry Louis Gates (2005). Africana: The Encyclopedia of the African and African-American Experience 5-Volume Set. Oxford University Press. hlm. 295. ISBN 0195170555. 
  44. ^ David Livingstone (2006). "The Last Journals of David Livingstone, in Central Africa, from 1865 to His Death". Echo Library. hlm. 46. ISBN 1-84637-555-X
  45. ^ Dr Susan
  46. ^ Davis, Robert. Christian Slaves, Muslim Masters: White Slavery in the Mediterranean, the Barbary Coast and Italy, 1500-1800.[1]
  47. ^ Adams, Charles Hansford (2005). The Narrative of Robert Adams: A Barbary Captive. New York: Cambridge University Press. hlm. xlv–xlvi. ISBN 978-0-521-603-73-7. 
  48. ^ The Cambridge World History of Slavery: Volume 3, AD 1420–AD 1804
  49. ^ Qur'an An-Nur:33
  50. ^ Ehud R. Toledano (1998), Slavery and abolition in the Ottoman Middle East, University of Washington Press, hlm. 13–4, ISBN 0-295-97642-X 
  51. ^ a b c Bernard Lewis (2003), "From Race and Slavery in the Middle East: An Historical Enquiry", dalam Kevin Reilly, Stephen Kaufman, Angela Bodino, Racism: A Global Reader, M.E. Sharpe, hlm. 52–8, ISBN 0-7656-1060-4 
  52. ^ Aristotle, Politics, Book I.
  53. ^ El Hamel, Chouki (2002), "'Race', slavery and Islam in Maghribi Mediterranean thought: the question of the Haratin in Morocco", The Journal of North African Studies, 7 (3): 29–52 [39–40], doi:10.1080/13629380208718472, Neither in the Quran nor in the Hadith is there any indication of racial difference among humankind. But as a consequence of the Arab conquest, a mutual assimilation between Islam and the cultural and the scriptural traditions of Christian and Jewish populations occurred. Racial distinction between humankind with reference to the sons of Noah is found in the Babylonian Talmud, a collection of rabbinic writings that dates back to the sixth century. 
  54. ^ Bernard Lewis (1992), Race and slavery in the Middle East: an historical enquiry, Oxford University Press, hlm. 18–9, ISBN 0-19-505326-5 
  55. ^ Lindsay, James E. (2005), Daily Life in the Medieval Islamic World, Greenwood Publishing Group, hlm. 12–5, ISBN 0-313-32270-8 
  56. ^ A. J. Toynbee, Civilization on Trial, New York, 1948, hlm. 205
  57. ^ Al-Muqaddasi, Kitab al-Bad' wah-tarikh vol.4
  58. ^ Andrew Reid, Paul J. Lane, African Historical Archaeologies, (Springer: 2004), p.166
  59. ^ Lewis, Bernard (2002), Race and Slavery in the Middle East, Oxford University Press, hlm. 93, ISBN 0-19-505326-5 
  60. ^ Translation and the Colonial Imaginary: Ibn Khaldun Orientalist, by Abdelmajid Hannoum 2003 Wesleyan University.
  61. ^ Please note : The numbers occurring in the source, and repeated here on Wikipedia include both Arab and European trade. The impact of the slave trade on Africa
  62. ^ International Association for the History of Religions (1959), Numen, Leiden: EJ Brill, hlm. 131, West Africa may be taken as the country stretching from Senegal in the west, to the Cameroons in the east; sometimes it has been called the central and western Sudan, the Bilad as-Sūdan, 'Land of the Blacks', of the Arabs 
  63. ^ Nehemia Levtzion, Randall Lee Pouwels, The History of Islam in Africa, (Ohio University Press, 2000), p.255.
  64. ^ Luiz Felipe de Alencastro, "Traite", in Encyclopædia Universalis (2002), corpus 22, page 902.
  65. ^ Ralph Austen, African Economic History (1987)
  66. ^ Paul Bairoch, Mythes et paradoxes de l'histoire économique, (1994). See also: Economics and World History: Myths and Paradoxes (1993)
  67. ^ Quoted in Ronald Segal's Islam's Black Slaves
  68. ^ Adam Hochschild (Mar 4, 2001). "Human Cargo". New York Times. Diakses tanggal Dec 20, 2012. 
  69. ^ Ronald Segal (2002), Islam's Black Slaves: The Other Black Diaspora, Farrar, Straus and Giroux, ISBN 978-0374527976