Pakta Pertahanan Atlantik Utara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Fakta Pertahanan Atlantik Utara
North Atlantic Treaty Organization (NATO)
Organisation du traité de l'Atlantique nord (OTAN)
NATO OTAN landscape logo.svg
Logo Pakta Pertahanan Atlantik Utara
NATO flag.svg
Bendera Pakta Pertahanan Atlantik Utara[1]
North Atlantic Treaty Organization (orthographic projection).svg
Negara-negara anggota NATO ditampilkan dengan warna hijau.
SingkatanNATO, OTAN
Tanggal pendirian4 April 1949
TipePersekutuan militer
Kantor pusatBrussels, Belgia
Jumlah anggota
Bahasa resmi
Inggris
Prancis[2]
Jens Stoltenberg
Ketua Komite Militer NATO
Laksamana Rob Bauer, Angkatan Laut Kerajaan Belanda
Komandan Sekutu Tertinggi Eropa
Marsekal Tod D. Wolters, Angkatan Udara Amerika Serikat
Komandan Sekutu Tertinggi Transformasi
Marsekal Philippe Lavigne, Angkatan Udara dan Antariksa Prancis
Situs webnato.int

Pakta Pertahanan Atlantik Utara (bahasa Inggris: North Atlantic Treaty Organization atau NATO; bahasa Prancis: Organisation du traité de l'Atlantique nord atau OTAN) atau juga disebut Aliansi Atlantik Utara, adalah sebuah organisasi militer internasional yang terdiri dari 2 negara Amerika Utara, 27 negara Eropa, dan 1 negara Eurasia yang bertujuan untuk keamanan bersama yang didirikan pada tahun 1949, sebagai bentuk dukungan terhadap Persetujuan Atlantik Utara yang ditanda tangani di Washington, DC pada 4 April 1949. NATO awalnya bertujuan untuk menekan pengaruh komunis dari Uni Soviet dengan aliansi saingannya yaitu Pakta Warsawa pada era Perang Dingin.

Pasal utama persetujuan tersebut adalah Pasal V, yang berisi:

Para anggota setuju bahwa sebuah serangan bersenjata terhadap salah satu atau lebih dari mereka di Eropa maupun di Amerika Utara akan dianggap sebagai serangan terhadap semua anggota. Selanjutnya mereka setuju bahwa, jika serangan bersenjata seperti itu terjadi, setiap anggota, dalam menggunakan hak untuk mepertahankan diri secara pribadi maupun bersama-sama seperti yang tertuang dalam Pasal ke-51 dari Piagam PBB, akan membantu anggota yang diserang jika penggunaan kekuatan semacam itu, baik sendiri maupun bersama-sama, dirasakan perlu, termasuk penggunaan pasukan bersenjata, untuk mengembalikan dan menjaga keamanan wilayah Atlantik Utara.

Pasal ini diberlakukan agar jika sebuah anggota Pakta Warsawa melancarkan serangan terhadap para sekutu Eropa dari PBB, hal tersebut akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota (termasuk Amerika Serikat sendiri), yang mempunyai kekuatan militer terbesar dalam persekutuan tersebut dan dengan itu dapat memberikan aksi pembalasan yang paling besar. Tetapi kekhawatiran terhadap kemungkinan serangan dari Eropa Barat ternyata tidak menjadi kenyataan. Pasal tersebut baru mulai digunakan untuk pertama kalinya dalam sejarah pada 12 September 2001, sebagai tindak balasan terhadap peristiwa serangan teroris 11 September 2001 terhadap AS yang terjadi sehari sebelumnya.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pada tanggal 4 Maret 1947, Traktat Dunkirk ditandatangani oleh Perancis dan Inggris sebagai Treaty of Alliance and Mutual Assistance dalam hal kemungkinan serangan oleh Jerman atau Uni Soviet setelah Perang Dunia II. Pada tahun 1948, aliansi ini diperluas untuk mencakup negara-negara Benelux, dalam bentuk Western Union, juga disebut sebagai Organisasi Perjanjian Brussel (BTO), yang didirikan oleh Perjanjian Brussel.[3] Pembicaraan untuk aliansi militer baru, yang juga dapat mencakup Amerika Utara, menghasilkan penandatanganan Perjanjian Atlantik Utara pada tanggal 4 April 1949 oleh negara-negara anggota Western Union ditambah Amerika Serikat, Kanada, Portugal, Italia, Norwegia, Denmark, dan Islandia.[4]

Pada tahun 1952, jabatan Sekretaris Jenderal NATO ditetapkan sebagai kepala organisasi sipil. Tahun itu juga sebagai latihan maritim NATO besar pertama, Exercise Mainbrace dan aksesi Yunani dan Turki ke organisasi tersebut.[5][6] Setelah Konferensi London dan Paris, Jerman Barat diizinkan untuk dipersenjatai kembali secara militer, ketika mereka bergabung dengan NATO pada Mei 1955, yang pada gilirannya, merupakan faktor utama dalam pembentukan Pakta Warsawa yang didominasi Uni Soviet, yang menggambarkan dua sisi yang berlawanan dari Perang Dingin.

Bergabungnya Jerman Barat ke NATO menyebabkan dibentuknya organisasi tandingan Pakta Warsawa selama Perang Dingin

Pada tahun 1982, Spanyol yang baru demokratis bergabung dengan aliansi ini.[7]

Revolusi 1989 di Eropa menyebabkan NATO mengevaluasi ulang tujuan strategis, sifat, tugas, dan fokusnya di benua itu. Pada Oktober 1990, Jerman Timur menjadi bagian dari Republik Federal Jerman, dan pada November 1990, aliansi tersebut menandatangani Traktat tentang Angkatan Bersenjata Konvensional di Eropa (CFE) di Paris dengan Uni Soviet. Traktat ini mengamanatkan pengurangan militer khusus di seluruh benua, yang berlanjut setelah runtuhnya Pakta Warsawa pada Februari 1991 dan runtuhnya Uni Soviet pada Desember di tahun yang sama, yang menyingkirkan musuh utama NATO secara de facto.[8] Hal ini menandai dimulainya penarikan personel dan peralatan militer di Eropa. Perjanjian CFE memungkinkan penandatangan untuk menghapus 52.000 buah persenjataan konvensional dalam enam belas tahun berikutnya,[9] dan memungkinkan pengeluaran militer oleh anggota NATO Eropa menurun sebesar 28% dari tahun 1990 hingga 2015.[10]

Secara politis, organisasi tersebut mencari hubungan yang lebih baik dengan negara-negara Eropa Tengah dan Eropa Timur yang baru otonom, dan forum diplomatik untuk kerja sama regional antara NATO dan tetangganya didirikan selama periode pasca-Perang Dingin ini, termasuk Kemitraan untuk Perdamaian (Partnership for Peace) dan inisiatif Dialog Mediterania di 1994, Dewan Kemitraan Euro-Atlantik pada 1997, dan Dewan Gabungan Permanen NATO-Rusia pada 1998. Pada KTT Washington 1999, Hongaria, Polandia, dan Republik Ceko secara resmi bergabung dengan NATO, dan organisasi tersebut juga mengeluarkan pedoman baru untuk keanggotaan dengan NATO. "Rencana Aksi Keanggotaan" individual. Pedoman ini mengatur penambahan anggota aliansi baru: Bulgaria, Estonia, Latvia, Lituania, Rumania, Slowakia, dan Slovenia pada 2004, Albania dan Kroasia pada 2009, Montenegro pada 2017, dan Makedonia Utara pada 2020.

Pasal 5 dari perjanjian Atlantik Utara mewajibkan negara-negara anggota untuk membantu negara anggota mana pun yang terkena serangan bersenjata, diterapkan untuk pertama kalinya dan satu-satunya setelah serangan 11 September,[11] setelah itu pasukan dikerahkan ke Afganistan di bawah misi ISAF yang dipimpin NATO. Organisasi tersebut telah menjalankan berbagai peran tambahan sejak saat itu, termasuk mengirim pelatih ke Irak, membantu dalam operasi kontra-pembajakan[12] dan pada tahun 2011 memberlakukan zona larangan terbang di atas Libya sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1973. Pasal 4, yang hanya meminta konsultasi di antara anggota NATO, telah dipanggil lima kali setelah insiden dalam Perang Irak, Perang Saudara Suriah, dan aneksasi Krimea oleh Rusia.[13]

NATO tidak mengutuk pembersihan 2016–2017 di Turki.[14] Sebagai akibat dari invasi Turki ke daerah-daerah berpenduduk Kurdi di Suriah, intervensi Turki di Libya dan sengketa zona maritim Siprus-Turki menyebabkan mulai munculnya tanda-tanda keretakan hubungan antara Turki dan anggota NATO lainnya.[15][16] Anggota NATO telah menolak Perjanjian Pelarangan Senjata Nuklir PBB, perjanjian yang mengikat untuk negosiasi penghapusan total senjata nuklir, yang didukung oleh lebih dari 120 negara.[17]

Keanggotaan NATO[sunting | sunting sumber]

Negara-negara anggota NATO

Anggota NATO[sunting | sunting sumber]

Negara-negara pendiri[sunting | sunting sumber]

Perkembangan NATO di Eropa

Negara-negara yang bergabung pada masa Perang Dingin[sunting | sunting sumber]

Negara-negara mantan anggota Blok Timur yang bergabung setelah Perang Dingin[sunting | sunting sumber]

Non-anggota NATO[sunting | sunting sumber]

Mitra Global[sunting | sunting sumber]

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "The official Emblem of NATO". NATO. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2012-05-27. Diakses tanggal 2008-02-20. 
  2. ^ "Bahasa Inggris & Prancis menjadi bahasa resmi bagi seluruh Pakta Pertahanan Atlantik Utara.", Final Communiqué following the meeting of the North Atlantic Council on September 17, 1949. "(..)the English and French texts [of the Treaty] are equally authentic(...)"The North Atlantic Treaty, Article 14
  3. ^ "The origins of WEU: Western Union - European organisations - CVCE Website". www.cvce.eu. Diakses tanggal 2021-09-30. 
  4. ^ NATO. "A short history of NATO". NATO (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-09-30. 
  5. ^ Baldwin, Hanson W. (1952-09-28). "NAVIES MEET THE TEST IN OPERATION MAINBRACE; Important Role in Defense of Europe Rests With the Combined Fleets". The New York Times (dalam bahasa Inggris). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 2021-09-30. 
  6. ^ "NATO: The Man with the Oilcan - TIME". web.archive.org. 2012-01-08. Diakses tanggal 2021-09-30. 
  7. ^ "Spain and NATO". countrystudies.us. Diakses tanggal 2021-09-30. 
  8. ^ "Kremlin tears up arms pact with Nato". the Guardian (dalam bahasa Inggris). 2007-07-15. Diakses tanggal 2021-09-30. 
  9. ^ "The Conventional Armed Forces in Europe (CFE) Treaty and the Adapted CFE Treaty at a Glance | Arms Control Association". www.armscontrol.org. Diakses tanggal 2021-09-30. 
  10. ^ Techau, Jan. "The Politics of 2 Percent: NATO and the Security Vacuum in Europe". Carnegie Europe (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-09-30. 
  11. ^ "NATO Update: Invocation of Article 5 confirmed - 2 October 2001". www.nato.int. Diakses tanggal 2021-09-30. 
  12. ^ NATO. "Counter-piracy operations (Archived)". NATO (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-09-30. 
  13. ^ NATO. "The consultation process and Article 4". NATO (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-09-30. 
  14. ^ "NATO declines to condemn arrests of Turkish legislators, journalists". dpa International (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-09-30. 
  15. ^ Stolton, Samuel. "Turkey's relationship with NATO tested over Syria operation". www.aljazeera.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-09-30. 
  16. ^ "Rough seas for NATO as Turkey clashes with allies". POLITICO (dalam bahasa Inggris). 2020-06-24. Diakses tanggal 2021-09-30. 
  17. ^ "122 countries adopt 'historic' UN treaty to ban nuclear weapons". CBC News. 7 Juli 2017. 

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Organisasi serupa[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]