Margono Djojohadikusumo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Margono Djojohadikusumo
Margono Djojohadikusomo (duduk kanan), Hashim S. Djojohadikusumo (duduk tengah), Siti Katoemi Wirodihardjo (duduk kiri), Prabowo Subianto (kanan atas) pada tahun 1963 di Kuala Lumpur.
Ketua DPAS
Masa jabatan
25 September 1945 – 6 Nopember 1945
Didahului oleh Jabatan Baru
Digantikan oleh Raden Aria Adipati Wiranatakoesoema V
Informasi pribadi
Lahir 16 Mei 1894
Bendera Belanda Banyumas, Jawa Tengah, Hindia Belanda
Meninggal 25 Juli 1978 (umur 84)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Suami/istri Siti Katoemi Wirodihardjo
Anak - Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo
- Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikusumo
- Taruna Soejono Djojohadikusumo
Agama Islam

Raden Mas Margono Djojohadikusumo (lahir 16 Mei 1894 – meninggal 25 Juli 1978 pada umur 84 tahun) adalah pendiri Bank Negara Indonesia. Ia adalah orang tua dari Begawan Ekonomi Indonesia, Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo, dan juga ayah dari dua pemuda yang gugur dalam peristiwa "Pertempuran Lengkong": Kapten Anumerta Soebianto Djojohadikusumo dan Taruna Soejono Djojohadikusumo[1]. Ia juga adalah kakek dari politikus dan mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad, Letnan Jenderal (Purn) Prabowo Subianto, serta kakek dari pengusaha Hashim S. Djojohadikusumo.

Margono Djojohadikusomo yang lahir pada tanggal 16 Mei 1894 di Purwokerto, adalah cucu buyut dari Raden Tumenggung Banyakwide atau lebih dikenal dengan sebutan Panglima Banyakwide, pengikut setia dari Pangeran Diponegoro, dan anak dari asisten Wedana Banyumas. Ia bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) Banyumas, adalah sebuah Sekolah Dasar pada zaman kolonial Belanda di Banyumas, dari tahun 1900-1907[2].

Anggota BPUPKI[sunting | sunting sumber]

R.M. Margono Djojohadikusomo menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI pada tanggal 29 April 1945. Badan ini dibentuk sebagai upaya mendapatkan dukungan bangsa Indonesia dengan janji Jepang akan membantu proses kemerdekaan Indonesia.

Ketua DPAS[sunting | sunting sumber]

Sehari setelah pelantikan Soekarno dan Hatta menjadi Presiden dan Wapres, dibentuk Kabinet Presidentil dan Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS). Sebagai Ketua DPAS yang pertama ditunjuklah R.M. Margono Djojohadikusomo[3].

Bank BNI[sunting | sunting sumber]

Sebagai Ketua DPAS, Margono mengusulkan supaya dibentuk sebuah Bank Sentral atau Bank Sirkulasi seperti yang dimaksud dalam UUD '45. Soekarno-Mohammad Hatta kemudian memberikan mandat kepada Margono untuk membuat dan mengerjakan persiapan pembentukan Bank Sentral (Bank Sirkulasi) Negara Indonesia pada tanggal 16 September 1945.

Pada tanggal 19 September 1945, sidang Dewan Menteri Republik Indonesia memutuskan untuk membentuk sebuah bank milik negara yang berfungsi sebagai "Bank Sirkulasi".

Akhirnya Pada 15 Juli 1946, terbitlan Perpu nomor 2 tahun 1946 tentang pendirian Bank Negara Indonesia, dan penunjukan R.M. Margono Djojohadikusomo sebagai Direktur Utama Bank Negara Indonesia (BNI)[4].

Selama ia menjadi dirut Bank BNI, pada 1970, status hukum Bank BNI dinaikkan menjadi persero.

Hak angket[sunting | sunting sumber]

Dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia, "Hak Angket" pertama kali digunakan DPR pada tahun 1950-an. Ihwalnya berawal dari usul resolusi oleh R.M. Margono Djojohadikusomo agar DPR mengadakan "Hak Angket" atas usaha memperoleh devisa dan cara mempergunakan devisa.

Panitia angket yang kemudian dibentuk beranggota 13 orang yang diketuai Margono. Tugasnya adalah menyelidiki untung-rugi mempertahankan devisen-regime berdasarkan Undang-Undang Pengawasan Devisen tahun 1940 dan perubahan-perubahannya[5][6].

Mangkat[sunting | sunting sumber]

R.M. Margono Djojohadikusomo meninggal pada tanggal 25 Juli 1978 di Jakarta, dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Dawuhan, Banyumas, Jawa Tengah[7][8].

Penghargaan[sunting | sunting sumber]

Gedung R.M. Margono Djojohadikusomo di Universitas Gajah Mada dinamakan sesuai dengan nama beliau.

Nama R.M. Margono Djojohadikusomo juga diabadikan menjadi nama jalan di Jakarta.

Kisah kehidupannya menjadi inspirasi pembuatan film Merah Putih[9].

Bibliografi[sunting | sunting sumber]

  • (Belanda) R.M. Margono Djojohadikusomo (1941) "Tien jaren cooperatie-voorlichting vanwege de overheid 1930-1940", Batavia: Volkslectuur
  • (Indonesia) R.M. Margono Djojohadikusomo (1946) "Kenang-kenangan dari tiga zaman", Jakarta: Indira
  • (Inggris) R.M. Margono Djojohadikusomo (1969) "Reminiscences from three historical periods a family tradition put in writing", Jakarta: Indira
  • (Indonesia) R.M. Margono Djojohadikusomo (1975) "Catatan-catatan dari lembaran kertas yang kumal DR. E.F.E. Douwes Dekker (DR. Danudirja Setiabudi), seorang yang tak gentar menjunjung tinggi suatu cita-cita hidup kemerdekaan politik Indonesia", Jakarta: Bulan Bintang
  • (Indonesia) Sugiarta Sriwibawa (1994) "100 tahun Margono Djojohadikusomo", Jakarta: Pustaka Aksara

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]