Alam semesta
Gambar Hubble Ultra Deep Field menunjukkan beberapa galaksi paling jauh yang terlihat dengan teknologi saat ini, masing-masing terdiri dari miliaran bintang. | |
| Usia (dalam Model Lambda-CDM) | 13,787 ± 0,020 miliar tahun[1] |
|---|---|
| Diameter | Tidak diketahui.[2] Alam semesta teramati: 8,8×1026 m (28,5 Gpc atau 93 Gly)[3] |
| Massa (materi biasa) | 1053 kg[4] |
| Massa jenis rata-rata (termasuk kontribusi dari energi) | 9,9 x 10−27 kg/m3[5] |
| Suhu rata-rata | 2,72548 K (-270,4 °C atau -454,8 °F)[6] |
| Isi | Materi umum (barionik) (4,9%) Materi gelap (26,8%) Energi gelap (68,3%)[7] |
| Bentuk | Datar dengan batas kesalahan 0,4%[8] |
Alam semesta merupakan keseluruhan dari ruang dan waktu[a] beserta seluruh isinya.[9] Alam semesta mencakup seluruh eksistensi, setiap bentuk interaksi fundamental, proses fisika, serta konstanta fisika. Karena itu, ia meliputi semua bentuk materi dan energi beserta struktur yang terbentuk darinya, mulai dari partikel subatom hingga keseluruhan filamen galaksi. Sejak awal abad ke-20, bidang kosmologi menetapkan bahwa ruang dan waktu muncul secara bersamaan dalam peristiwa Dentuman Besar sekitar 13,787±0,020 Ga yang lalu,[10] dan sejak saat itu alam semesta terus mengembang. Bagian alam semesta yang dapat diamati manusia diperkirakan memiliki diameter sekitar 93 miliar tahun cahaya, tetapi keseluruhan ukuran alam semesta sebenarnya masih belum diketahui.[11]
Beberapa model kosmologis paling awal tentang alam semesta dikembangkan oleh para filsuf Yunani kuno dan India, yang bersifat geosentris, menempatkan Bumi sebagai pusat alam semesta.[12][13] Seiring berjalannya waktu, pengamatan astronomis yang semakin akurat menuntun Nicolaus Copernicus untuk merumuskan model heliosentris, yang menempatkan Matahari di pusat Tata Surya. Dalam mengembangkan hukum gravitasi universal, Isaac Newton membangun teori tersebut dengan landasan pemikiran Johannes Kepler tentang hukum gerak planet serta hasil pengamatan Tycho Brahe.
Kemajuan dalam pengamatan lebih lanjut kemudian menyingkap bahwa Matahari hanyalah salah satu dari ratusan miliar bintang dalam Bima Sakti, yang pada gilirannya merupakan satu di antara ratusan miliar galaksi dalam alam semesta teramati. Banyak bintang di dalam galaksi juga diketahui memiliki planet sendiri. Dalam skala terbesar, galaksi-galaksi tersebar secara seragam ke segala arah, menandakan bahwa alam semesta tidak memiliki tepi maupun pusat. Pada skala yang lebih kecil, galaksi-galaksi berkumpul membentuk gugus galaksi dan supergugus yang tersusun menjadi filamen raksasa dan ruang hampa luas, menciptakan struktur besar menyerupai busa kosmik.[14] Penemuan-penemuan pada awal abad ke-20 mengindikasikan bahwa alam semesta memiliki permulaan dan terus mengalami perluasan sejak saat itu.[15]
Menurut teori Dentuman Besar, energi dan materi yang ada pada awal mula semakin menipis kerapatannya seiring mengembangnya alam semesta. Setelah fase percepatan luar biasa yang disebut inflasi sekitar 10−32 detik setelah awal mula, serta terpisahnya empat interaksi fundamental yang kini dikenal, alam semesta perlahan mendingin dan terus mengembang, memungkinkan terbentuknya partikel subatom pertama serta atom-atom sederhana. Awan raksasa hidrogen dan helium kemudian tertarik menuju wilayah dengan kepadatan materi lebih tinggi, membentuk galaksi-galaksi, bintang-bintang, dan segala struktur yang kini kita kenal.
Melalui kajian tentang pengaruh gravitasi terhadap materi dan cahaya, ditemukan bahwa alam semesta mengandung jauh lebih banyak materi daripada yang dapat diamati, seperti bintang, galaksi, nebula, dan gas antarbintang. Materi tak kasatmata ini dikenal sebagai materi gelap.[16] Dalam model kosmologis yang paling luas diterima, yaitu ΛCDM, materi gelap diperkirakan menyusun sekitar 25,8%±1,1% dari total massa dan energi alam semesta, sementara sekitar 69,2%±1,2% terdiri atas energi gelap, bentuk energi misterius yang diyakini menyebabkan percepatan ekspansi alam semesta.[17] Sementara itu, materi biasa ('barionik') hanya mencakup sekitar 4,84%±0,1% dari keseluruhan alam semesta,[17] dan bintang, planet, serta awan gas tampak hanya membentuk kira-kira 6% dari bagian materi biasa ini.[18]
Terdapat berbagai hipotesis yang saling bersaing mengenai nasib akhir alam semesta dan apa yang mendahului Dentuman Besar, jika ada. Sementara sebagian fisikawan dan filsuf enggan berspekulasi lebih jauh, karena meragukan bahwa informasi mengenai keadaan sebelumnya dapat diakses. Beberapa ilmuwan fisika telah mengajukan berbagai hipotesis multisemesta, yang menyatakan bahwa alam semesta kita mungkin hanyalah salah satu dari sekian banyak alam semesta lain.[11][19][20]
| Bagian dari seri |
| Kosmologi fisik |
|---|
Definisi
[sunting | sunting sumber](video 00:50; 2 Mei 2019)
Alam semesta fisik didefinisikan sebagai keseluruhan dari ruang dan waktu[a] (yang secara kolektif disebut ruang-waktu) beserta seluruh isinya.[9] Isi tersebut mencakup seluruh bentuk energi dalam berbagai wujudnya, termasuk radiasi elektromagnetik dan materi, yang karenanya meliputi planet-planet, bulan, bintang, galaksi, dan segala sesuatu yang berada di dalam ruang antargalaksi.[21][22][23] Alam semesta juga mencakup hukum fisika yang memengaruhi energi dan materi, seperti hukum kekekalan, mekanika klasik, serta relativitas.[24]
Alam semesta kerap didefinisikan sebagai "keseluruhan eksistensi", yakni segala sesuatu yang ada, yang pernah ada, dan yang akan ada.[24] Bahkan, sejumlah filsuf dan ilmuwan mendukung pandangan bahwa gagasan serta konsep-konsep abstrak, seperti matematika dan logika, turut termasuk dalam pengertian alam semesta.[26][27][28] Kata alam semesta juga kerap digunakan untuk merujuk pada konsep seperti kosmos, dunia, dan alam.[29][30]
Etimologi
[sunting | sunting sumber]Dalam bahasa Indonesia, istilah alam semesta berasal dari gabungan kata alam dan semesta. Kata alam diserap dari bahasa Arab ālam (عالَم) yang berarti "dunia", "jagat raya" atau "seluruh makhluk",[31] sedangkan kata semesta diserap dari bahasa Sansekerta samasta (समस्त) yang berarti "seluruh", "keseluruhan" atau "bersama".[32] Gabungan dari keduanya secara harfiah dapat diartikan sebagai "keseluruhan dunia" atau "seluruh jagat raya".
Sinonim
[sunting | sunting sumber]Dalam tradisi para filsuf Yunani kuno sejak masa Pythagoras, istilah yang digunakan untuk menyebut alam semesta antara lain adalah τὸ πᾶν (tò pân) yang berarti "keseluruhan", didefinisikan sebagai seluruh materi dan seluruh ruang; serta τὸ ὅλον (tò hólon) yang berarti "segala sesuatu", meskipun tidak selalu mencakup kehampaan atau ruang kosong.[33][34] Sinonim lainnya adalah ὁ κόσμος (ho kósmos) yang berarti "dunia" atau "kosmos".[35]
Istilah-istilah serupa juga ditemukan dalam karya penulis Latin, seperti totum, mundus, dan natura.[36] Istilah-istilah ini masih lestari dalam berbagai bahasa modern, misalnya dalam bahasa Jerman: Das All, Weltall, dan Natur yang semuanya bermakna "alam semesta". Sinonim serupa juga terdapat dalam bahasa Inggris, seperti everything (misalnya dalam istilah teori segala sesuatu), cosmos (seperti dalam kosmologi), world (seperti dalam interpretasi banyak-dunia), dan nature (seperti dalam hukum alam atau filsafat alam).[37]
Kronologi dan Dentuman Besar
[sunting | sunting sumber]−13 — – −12 — – −11 — – −10 — – −9 — – −8 — – −7 — – −6 — – −5 — – −4 — – −3 — – −2 — – −1 — – 0 — |
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Model yang paling banyak diterima untuk menjelaskan evolusi alam semesta adalah teori Dentuman Besar (Big Bang).[38][39] Menurut model ini, keadaan awal alam semesta merupakan kondisi yang luar biasa panas dan padat, yang kemudian mengalami pengembangan dan pendinginan seiring waktu. Model ini berlandaskan pada teori relativitas umum serta sejumlah asumsi penyederhanaan, seperti homogenitas dan isotropi ruang. Salah satu versi yang paling sederhana, yang mencakup konstanta kosmologis (Lambda) serta materi gelap dingin, dikenal sebagai model Lambda-CDM, dan merupakan model yang paling berhasil menjelaskan berbagai pengamatan mengenai alam semesta.

Keadaan awal yang sangat panas dan padat ini disebut Era Planck (Planck epoch), berlangsung dari waktu nol hingga satu satuan waktu Planck, sekitar 10−43 detik. Pada masa ini, seluruh bentuk materi dan energi terkonsentrasi dalam keadaan amat rapat, dan gravitasi, yang kini merupakan yang terlemah di antara empat interaksi fundamental, diduga memiliki kekuatan yang setara dengan gaya-gaya fundamental lainnya, bahkan mungkin menyatu dalam satu gaya tunggal. Fisika yang mengatur masa amat awal ini (termasuk gravitasi kuantum pada Zaman Planck) masih belum dipahami sepenuhnya, sehingga kita tidak dapat memastikan, jika ada, apa yang terjadi sebelum waktu nol. Sejak Zaman Planck, perluasan alam semesta berlangsung hingga mencapai skala seperti saat ini, didahului oleh masa singkat tetapi sangat cepat yang dikenal sebagai inflasi kosmik, yang diduga terjadi dalam sekitar 10−32 detik pertama.[40] Masa inflasi inilah yang menjelaskan mengapa ruang tampak sangat datar hingga kini.
Dalam sebagian detik pertama setelah terciptanya alam semesta, keempat gaya fundamental mulai terpisah. Ketika alam semesta mendingin dari keadaan luar biasa panas itu, berbagai partikel elementer mulai berasosiasi membentuk struktur yang lebih besar dan stabil seperti proton dan neutron, yang selanjutnya bergabung menjadi inti atom melalui proses fusi nuklir.[41][42]
Proses ini, yang dikenal sebagai nukleosintesis Dentuman Besar (Big Bang nucleosynthesis), berlangsung sekitar 17 menit dan berakhir kira-kira 20 menit setelah Dentuman Besar. Karena waktu yang sangat singkat, hanya reaksi paling cepat dan sederhana yang terjadi. Sekitar 25% dari proton dan seluruh neutron di alam semesta, berdasarkan massa, berubah menjadi helium, bersama sejumlah kecil deuterium (bentuk hidrogen berisotop) dan jejak litium. Unsur kimia lain hanya terbentuk dalam jumlah yang sangat kecil. Sekitar 75% proton sisanya tetap sebagai inti hidrogen.[41][42]: 27–42
Setelah nukleosintesis berakhir, alam semesta memasuki tahap yang dikenal sebagai era foton (photon epoch). Pada masa ini, suhu alam semesta masih terlalu tinggi bagi materi untuk membentuk atom netral, sehingga terbentuk plasma padat dan panas yang terdiri atas elektron bermuatan negatif, neutrino netral, dan inti positif. Sekitar 377.000 tahun kemudian, alam semesta cukup mendingin sehingga elektron dan inti dapat bersatu membentuk atom stabil pertama. Proses ini disebut rekombinasi, walau sesungguhnya penggabungan ini terjadi untuk pertama kalinya. Tidak seperti plasma, atom netral bersifat tembus cahaya terhadap banyak panjang gelombang, sehingga untuk pertama kalinya alam semesta menjadi transparan. Foton-foton yang "lepas" pada masa ini masih dapat diamati hingga kini sebagai radiasi latar gelombang mikro kosmik (cosmic microwave background, CMB).[42]: 15–27
Seiring pengembangan alam semesta, kepadatan energi radiasi elektromagnetik berkurang lebih cepat dibandingkan materi, karena energi setiap foton menurun akibat pergeseran merah kosmologis. Sekitar 47.000 tahun setelah Dentuman Besar, kepadatan energi materi menjadi lebih besar daripada foton dan neutrino, dan mulai mendominasi perilaku alam semesta dalam skala besar. Peristiwa ini menandai akhir dari era dominasi radiasi dan awal era dominasi materi.[43]: 390
Pada tahap-tahap awal ini, fluktuasi kecil dalam kepadatan alam semesta menyebabkan terbentuknya filamen materi gelap. Materi biasa, tertarik oleh gravitasi ke daerah padat ini, membentuk awan gas besar yang akhirnya melahirkan bintang dan galaksi di wilayah paling padat, serta rongga-rongga besar di daerah paling jarang. Sekitar 100 hingga 300 juta tahun kemudian,[43]: 333 lahirlah bintang-bintang pertama, yang dikenal sebagai bintang Populasi III. Bintang-bintang ini kemungkinan sangat besar, terang, miskin logam, dan berumur pendek. Mereka berperan penting dalam pengionan kembali alam semesta antara sekitar 200 juta hingga 1 miliar tahun, serta menaburkan unsur-unsur lebih berat dari helium melalui nukleosintesis bintang.[44]
Alam semesta juga mengandung suatu bentuk energi misterius, kemungkinan berupa medan skalar, yang disebut energi gelap, dengan kepadatan yang tidak berubah terhadap waktu. Sekitar 9,8 miliar tahun setelah Dentuman Besar, alam semesta telah mengembang cukup jauh sehingga kepadatan materi menjadi lebih kecil dibanding kepadatan energi gelap, menandai awal era dominasi energi gelap yang kita alami kini.[45] Dalam era ini, pengembangan alam semesta berlangsung semakin cepat akibat pengaruh energi gelap.
Sifat fisik
[sunting | sunting sumber]Dari empat interaksi fundamental di alam semesta, gravitasi merupakan kekuatan yang paling dominan pada skala panjang astronomis. Efek gravitasi bersifat kumulatif; sedangkan efek muatan positif dan negatif cenderung saling meniadakan, sehingga elektromagnetisme menjadi relatif tidak signifikan pada skala kosmik. Dua interaksi lainnya, yakni gaya lemah dan gaya nuklir kuat, menurun sangat cepat terhadap jarak; pengaruh keduanya terbatas hampir seluruhnya pada skala panjang subatomik.[46]: 1470
Alam semesta tampak memiliki lebih banyak materi dibandingkan dengan antimateri, suatu asimetri yang kemungkinan berkaitan dengan fenomena pelanggaran CP.[47] Ketidakseimbangan antara materi dan antimateri inilah yang sebagian menjelaskan keberadaan seluruh materi yang ada saat ini. Sebab, apabila jumlah materi dan antimateri yang tercipta dalam Dentuman Besar sama banyaknya, keduanya akan saling melenyapkan dan meninggalkan hanya foton sebagai sisa dari interaksi tersebut.[48]
Ukuran dan wilayah
[sunting | sunting sumber]
Karena kecepatan cahaya bersifat terbatas, ada suatu batas yang dikenal sebagai cakrawala partikel, yakni sejauh mana cahaya dapat menempuh jarak sepanjang usia alam semesta. Wilayah ruang dari mana kita dapat menerima cahaya disebut alam semesta teramati. Jarak sebenarnya (yang diukur pada waktu tertentu) antara Bumi dan tepi alam semesta teramati adalah sekitar 46 miliar tahun cahaya[49][50] (14 miliar parsec), sehingga diameter alam semesta teramati mencapai sekitar 93 miliar tahun cahaya (28 miliar parsec).[49] Meskipun jarak yang ditempuh cahaya dari tepi alam semesta teramati mendekati hasil perkalian usia alam semesta dengan kecepatan cahaya, yakni sekitar 138 miliar tahun cahaya (42×109 pc), jarak sebenarnya lebih besar karena tepi alam semesta teramati dan Bumi telah saling menjauh akibat pengembangan ruang.[51]
Sebagai perbandingan, diameter rata-rata sebuah galaksi adalah sekitar 30.000 tahun cahaya (9.198 parsec), dan jarak rata-rata antara dua galaksi terdekat adalah sekitar 3 juta tahun cahaya (919,8 kiloparsec).[52] Sebagai contoh, Bima Sakti memiliki diameter sekitar 87.400 tahun cahaya,[53] dan galaksi terdekat yang bersaudara dengannya, yaitu Galaksi Andromeda, terletak kira-kira 2,5 juta tahun cahaya dari Bumi.[54]
Karena manusia tidak dapat mengamati ruang di luar batas alam semesta teramati, sejauh ini tidak diketahui apakah keseluruhan alam semesta bersifat hingga atau tak hingga.[11][55][56] Sebuah perkiraan tahun 2011 menunjukkan bahwa jika prinsip kosmologi berlaku, maka keseluruhan alam semesta harus setidaknya 250 kali lebih besar dari sebuah bola Hubble.[57] Beberapa perkiraan lain, meski masih diperdebatkan, menyebutkan bahwa jika alam semesta memilki sifat berhingga, ukurannya bisa mencapai megaparsek, sebagaimana diimplikasikan oleh salah satu penyelesaian yang diusulkan terhadap Proposal Tanpa-Batas Hartle–Hawking.[58][b]
Usia dan perluasan
[sunting | sunting sumber]Dengan mengasumsikan bahwa model Lambda-CDM adalah benar, berbagai pengukuran terhadap parameternya melalui beragam teknik dan eksperimen menunjukkan bahwa usia terbaik alam semesta adalah sekitar 13,799 ± 0,021 miliar tahun, sebagaimana hasil perhitungan hingga tahun 2015.[59]
Seiring berjalannya waktu, alam semesta beserta isinya telah mengalami evolusi. Sebagai contoh, populasi relatif antara kuasar dan galaksi telah berubah,[60] dan perluasan alam semesta pun terus berlangsung. Perluasan ini disimpulkan dari pengamatan terhadap pergeseran merah pada cahaya galaksi-galaksi jauh, yang menunjukkan bahwa galaksi-galaksi tersebut sedang menjauh dari kita. Analisis terhadap supernova Tipe Ia memperlihatkan bahwa laju pengembangan tersebut justru mengalami percepatan.[61][62]
Semakin banyak materi yang terdapat di alam semesta, semakin kuat pula gaya gravitasi timbal balik antarunsurnya. Jika alam semesta memiliki kerapatan yang terlalu tinggi, maka ia akan runtuh kembali menjadi sebuah singularitas gravitasi. Namun, bila jumlah materinya terlalu sedikit, gravitasi internalnya tidak akan cukup kuat untuk membentuk struktur-struktur astronomis seperti galaksi atau planet. Sejak Dentuman Besar, alam semesta terus mengembang secara monoton. Mungkin tidak mengherankan, alam semesta kita memiliki kerapatan massa–energi yang tepat, setara dengan sekitar lima proton per meter kubik, cukup untuk memungkinkannya mengembang selama 13,8 miliar tahun terakhir, sehingga memberi waktu bagi pembentukan struktur kosmik seperti yang kita amati kini.[63][64]
Terdapat gaya-gaya dinamis yang bekerja pada partikel-partikel di alam semesta yang memengaruhi laju pengembangannya. Sebelum tahun 1998, para ilmuwan memperkirakan bahwa laju pengembangan alam semesta akan semakin menurun seiring waktu akibat pengaruh gravitasi; oleh karena itu, dikenal suatu besaran teramati tambahan dalam kosmologi yang disebut parameter perlambatan, yang diharapkan bernilai positif dan berhubungan dengan kerapatan materi alam semesta. Namun, pada tahun 1998, dua kelompok peneliti secara independen mengukur bahwa nilai parameter tersebut ternyata negatif, kira-kira −0,55. Hal ini secara teknis menunjukkan bahwa turunan kedua dari faktor skala kosmik bernilai positif selama 5–6 miliar tahun terakhir.[65][66]
Ruang waktu
[sunting | sunting sumber]Fisika modern memandang peristiwa sebagai sesuatu yang tersusun dalam suatu kesatuan yang disebut ruang waktu.[67] Gagasan ini berasal dari teori relativitas khusus, yang memprediksi bahwa jika seorang pengamat melihat dua peristiwa terjadi di tempat berbeda pada waktu yang sama, maka pengamat kedua yang bergerak relatif terhadap pengamat pertama akan melihat kedua peristiwa tersebut terjadi pada waktu yang berbeda.[68]: 45–52 Kedua pengamat akan berbeda pendapat mengenai waktu di antara kedua peristiwa tersebut, dan juga mengenai jarak yang memisahkannya, tetapi mereka akan sepakat mengenai kecepatan cahaya dan akan mengukur nilai yang sama untuk kombinasi .[68]: 80 Akar kuadrat dari nilai mutlak besaran ini disebut interval antara dua peristiwa. Interval tersebut menggambarkan seberapa jauh dua peristiwa terpisah—bukan hanya dalam ruang atau waktu, melainkan dalam kesatuan ruang waktu.[68]: 84, 136 [69]
Teori relativitas khusus menggambarkan ruang waktu datar. Penerusnya, teori relativitas umum, menjelaskan gravitasi sebagai kelengkungan ruang waktu akibat kandungan energinya. Jalur melengkung seperti orbit bukanlah hasil dari gaya yang membelokkan benda dari lintasan lurus ideal, melainkan akibat upaya benda tersebut untuk jatuh bebas melalui ruang waktu yang telah melengkung karena keberadaan massa lain. Sebuah pernyataan terkenal dari John Archibald Wheeler merangkum teori ini: "Ruang waktu memberi tahu materi bagaimana bergerak; materi memberi tahu ruang waktu bagaimana melengkung",[70][71] sehingga tidak ada gunanya memandang salah satunya tanpa yang lain.[15] Hukum gravitasi universal Newton merupakan pendekatan yang baik terhadap prediksi relativitas umum ketika efek gravitasi lemah dan benda-benda bergerak lambat dibandingkan dengan kecepatan cahaya.[72]: 327 [73]
Hubungan antara distribusi materi dan kelengkungan ruang waktu dijelaskan oleh persamaan medan Einstein, yang diekspresikan menggunakan kalkulus tensor.[74]: 43 [75] Alam semesta tampak sebagai suatu kontinum ruang waktu yang halus, terdiri dari tiga dimensi ruang dan satu dimensi temporal (waktu). Oleh karena itu, suatu peristiwa dalam ruang waktu alam semesta fisik dapat diidentifikasi melalui empat koordinat: (x, y, z, t).
Bentuk
[sunting | sunting sumber]
Kosmolog sering bekerja dengan irisan ruang-waktu yang bersifat serupa ruang (space-like), yaitu permukaan dengan waktu konstan dalam koordinat comoving. Geometri irisan ruang tersebut ditentukan oleh parameter kerapatan, Omega (Ω), yang didefinisikan sebagai rata-rata kerapatan materi alam semesta dibagi dengan nilai kritisnya. Nilai ini menentukan salah satu dari tiga kemungkinan geometri, tergantung pada apakah Ω sama dengan, kurang dari, atau lebih besar dari 1. Masing-masing disebut sebagai alam semesta datar, terbuka, dan tertutup.[76]
Pengamatan, termasuk dari Cosmic Background Explorer (COBE), Wilkinson Microwave Anisotropy Probe (WMAP), dan peta CMB dari wahana antariksa Planck, menunjukkan bahwa alam semesta bersifat tak berhingga dalam luasnya tetapi memiliki usia berhingga, sebagaimana dijelaskan oleh model Friedmann–Lemaître–Robertson–Walker (FLRW).[77][78][79][80] Model FLRW ini mendukung teori inflasi serta model standar kosmologi, yang menggambarkan alam semesta datar, homogen, dan saat ini didominasi oleh materi gelap dan energi gelap.[81][82]
Dukungan bagi kehidupan
[sunting | sunting sumber]Hipotesis alam semesta yang disetel dengan cermat (fine-tuned universe) merupakan gagasan bahwa kondisi yang memungkinkan keberadaan kehidupan yang dapat diamati di alam semesta hanya dapat terjadi apabila sejumlah konstanta fisika dasar universal berada dalam rentang nilai yang sangat sempit. Menurut hipotesis ini, seandainya beberapa konstanta fundamental tersebut sedikit saja berbeda, maka alam semesta kemungkinan besar tidak akan mendukung terbentuknya dan berkembangnya materi, struktur astronomi, keberagaman unsur, ataupun kehidupan sebagaimana yang kita kenal.
Apakah hal ini benar adanya, bahkan apakah pertanyaan tersebut secara logis bermakna untuk diajukan, masih menjadi bahan perdebatan yang hangat.[83]
Gagasan ini dibahas di kalangan filsuf, ilmuwan, teolog, serta para pendukung kreasionisme.[84]
Komposisi
[sunting | sunting sumber]Alam semesta tersusun hampir sepenuhnya dari energi gelap, materi gelap, dan materi biasa. Komponen lainnya meliputi radiasi elektromagnetik (diperkirakan menyumbang sekitar 0,005% hingga mendekati 0,01% dari total ekuivalensi massa–energi alam semesta) serta antimateri.[85][86][87]
Proporsi dari semua jenis materi dan energi telah berubah sepanjang sejarah alam semesta.[88] Jumlah total radiasi elektromagnetik yang dihasilkan di alam semesta telah menurun hingga setengahnya selama 2 miliar tahun terakhir.[89] Saat ini, materi biasa—yang mencakup atom, bintang, galaksi, dan kehidupan—hanya menyumbang sekitar 4,9% dari total isi alam semesta.[7] Kerapatan rata-rata jenis materi ini sangat rendah, kira-kira 4,5 × 10−31 gram per sentimeter kubik, yang setara dengan hanya satu proton untuk setiap empat meter kubik ruang.[5]
Sifat dari energi gelap dan materi gelap masih belum diketahui. Materi gelap, bentuk misterius dari materi yang belum teridentifikasi, menyumbang sekitar 26,8% dari isi kosmos. Energi gelap, yaitu energi dari ruang hampa yang menyebabkan percepatan perluasan alam semesta, menyumbang sekitar 68,3% sisanya.[7][90][91]


Materi, materi gelap, dan energi gelap terdistribusi secara homogen di seluruh alam semesta pada skala panjang lebih dari sekitar 300 juta tahun cahaya (ly).[92] Namun, pada skala yang lebih kecil, materi cenderung menggumpal secara hierarkis: banyak atom membentuk bintang, sebagian besar bintang bergabung dalam galaksi, sebagian besar galaksi bergabung menjadi gugus galaksi dan supergugus, lalu membentuk filamen galaksi berskala besar.
Alam semesta teramati diperkirakan mengandung sekitar 2 triliun galaksi[93][94][95] dan total hingga 1024 bintang,[96][97] lebih banyak bintang (dan planet mirip Bumi) daripada seluruh butiran pasir di Bumi;[98][99][100] tetapi jumlah ini masih jauh lebih sedikit dibanding perkiraan jumlah atom di alam semesta, yaitu sekitar 1082.[101] Jumlah bintang di alam semesta inflasioner (teramati dan tidak teramati) bahkan diperkirakan mencapai 10100.[102] Galaksi pada umumnya memiliki beragam ukuran, mulai dari galaksi katai yang hanya berisi sekitar sepuluh juta[103] (107) bintang, hingga galaksi raksasa yang mengandung sekitar satu triliun[104] (1012) bintang. Di antara struktur-struktur besar ini terdapat wilayah-wilayah kosong yang disebut kekosongan, yang umumnya berdiameter antara 10 hingga 150 Mpc (sekitar 33 juta–490 juta tahun cahaya).
Bima Sakti sendiri merupakan bagian dari Grup Lokal galaksi, yang pada gilirannya berada di dalam Supergugus Laniakea.[105] Supergugus ini membentang lebih dari 500 juta tahun cahaya, sedangkan Grup Lokal mencakup wilayah lebih dari 10 juta tahun cahaya.[106]
Alam semesta juga memiliki kawasan luas yang hampir sepenuhnya kosong; kekosongan terbesar yang pernah diketahui terbentang sejauh 1,8 miliar tahun cahaya (550 Mpc).[107]

Alam semesta teramati bersifat isotropik pada skala yang jauh lebih besar daripada supergugus, yang berarti sifat statistik alam semesta sama ke segala arah bila diamati dari Bumi. Alam semesta dipenuhi oleh radiasi mikrogelombang elektromagnetik yang sangat isotropik dan sesuai dengan spektrum benda hitam pada keseimbangan termal sekitar 2,72548 kelvin.[6] Hipotesis bahwa alam semesta berskala besar bersifat homogen dan isotropik dikenal sebagai prinsip kosmologi.[109] Alam semesta yang homogen dan isotropik tampak sama dari semua titik pandang dan tidak memiliki pusat.[110][111]
Energi gelap
[sunting | sunting sumber]Penjelasan mengenai alasan mengapa perluasan alam semesta semakin cepat masih belum diketahui secara pasti. Fenomena ini sering dikaitkan dengan pengaruh gravitasi dari "energi gelap", suatu bentuk energi tak dikenal yang diduga meresapi seluruh ruang.[112] Berdasarkan ekuivalensi massa–energi, kerapatan energi gelap (~ 7 × 10−30 g/cm3) jauh lebih kecil dibandingkan dengan kerapatan materi biasa atau materi gelap di dalam galaksi. Namun, pada masa dominasi energi gelap saat ini, energi gelap menjadi komponen utama massa–energi alam semesta karena penyebarannya yang seragam di seluruh ruang.[113][114]
Dua bentuk utama energi gelap yang diajukan adalah konstanta kosmologis, yaitu kepadatan energi yang konstan dan mengisi ruang secara homogen,[115] dan medan skalar seperti kuintessens atau moduli, yaitu besaran dinamis yang kerapatannya dapat berubah seiring waktu dan ruang, tetapi tetap cukup menyebar untuk menyebabkan laju perluasan alam semesta sebagaimana diamati. Kontribusi dari medan skalar yang konstan di ruang biasanya juga dianggap bagian dari konstanta kosmologis. Konstanta kosmologis ini dapat dirumuskan sebagai bentuk dari energi vakum.
Materi gelap
[sunting | sunting sumber]Materi gelap adalah jenis materi hipotetis yang tidak dapat dideteksi melalui seluruh spektrum elektromagnetik, tetapi diyakini menyusun sebagian besar materi di alam semesta. Keberadaan dan sifat-sifat materi gelap disimpulkan dari efek gravitasinya terhadap materi tampak, radiasi, serta struktur berskala besar alam semesta. Selain neutrino, yang merupakan bentuk dari materi gelap panas, materi gelap belum pernah terdeteksi secara langsung, menjadikannya salah satu misteri terbesar dalam astrofisika modern.
Materi gelap tidak memancarkan maupun menyerap cahaya atau bentuk radiasi elektromagnetik lainnya dalam tingkat yang berarti. Materi gelap diperkirakan menyumbang sekitar 26,8% dari total massa–energi alam semesta dan sekitar 84,5% dari total materi di alam semesta.[90][116]
Materi biasa
[sunting | sunting sumber]Sekitar 4,9% dari total massa–energi alam semesta terdiri atas materi biasa, yaitu atom, ion, elektron, serta objek-objek yang terbentuk darinya. Materi ini mencakup bintang-bintang, yang memancarkan hampir seluruh cahaya yang kita lihat dari galaksi, serta gas antarbintang dalam medium antarbintang dan medium antar galaksi, planet, dan semua benda kehidupan sehari-hari yang dapat kita sentuh, tekan, atau rasakan.[117] Sebagian besar materi biasa di alam semesta tidak terlihat, karena bintang-bintang tampak dan gas di dalam galaksi serta gugus galaksi hanya menyumbang kurang dari 10 persen dari total kontribusi materi biasa terhadap kerapatan massa–energi alam semesta.[118][119][120]
Materi biasa umumnya terdapat dalam empat keadaan (atau fase): padat, cair, gas, dan plasma.[121] Namun, kemajuan dalam teknik eksperimental telah mengungkap fase-fase baru yang sebelumnya bersifat teoretis, seperti kondensat Bose–Einstein dan kondensat fermionik.[122][123]
Materi biasa tersusun atas dua jenis partikel elementer: kuark dan lepton.[124] Misalnya, proton terbentuk dari dua kuark atas dan satu kuark bawah; neutron terdiri atas dua kuark bawah dan satu kuark atas; sedangkan elektron merupakan jenis lepton. Sebuah atom tersusun dari inti atom yang terdiri atas proton dan neutron (keduanya termasuk barion), serta elektron yang mengorbit di sekitarnya.[46]: 1476
Tak lama setelah Dentuman Besar, proton dan neutron primordial terbentuk dari plasma kuark–gluon alam semesta awal ketika suhunya turun di bawah dua triliun derajat. Beberapa menit kemudian, dalam proses yang dikenal sebagai nukleosintesis Dentuman Besar, inti atom terbentuk dari proton dan neutron primordial tersebut. Nukleosintesis ini menghasilkan unsur-unsur ringan, yaitu unsur dengan nomor atom kecil hingga litium dan berilium, sementara kelimpahan unsur yang lebih berat menurun drastis seiring peningkatan nomor atom. Sebagian kecil boron mungkin terbentuk pada masa ini, tetapi unsur berikutnya, karbon, belum terbentuk dalam jumlah yang signifikan. Nukleosintesis Dentuman Besar berhenti sekitar 20 menit kemudian karena penurunan cepat suhu dan kerapatan akibat perluasan alam semesta. Pembentukan unsur-unsur berat berikutnya terjadi melalui nukleosintesis bintang dan nukleosintesis supernova.[125]
Partikel
[sunting | sunting sumber]
Materi biasa dan gaya-gaya yang bekerja padanya dapat dijelaskan dalam kerangka partikel elementer.[126] Partikel-partikel ini kerap disebut fundamental, karena struktur dalamannya belum diketahui, dan belum ada kepastian apakah mereka tersusun dari entitas yang lebih kecil dan lebih mendasar.[127][128] Dalam sebagian besar model modern, partikel-partikel tersebut dianggap sebagai titik-titik di dalam ruang.[129] Semua partikel elementer sejauh ini paling baik dijelaskan melalui mekanika kuantum, dan menampilkan sifat dualitas gelombang–partikel: perilaku mereka dapat menyerupai partikel maupun gelombang, dengan ciri tertentu yang mendominasi tergantung pada konteks pengamatan.[130]
Pusat dari pemahaman ini adalah Model Standar, sebuah teori yang memaparkan interaksi elektromagnetik, serta interaksi lemah dan kuat pada tingkat nuklir.[131] Model Standar didukung oleh bukti eksperimental mengenai keberadaan partikel-partikel penyusun materi, kuark dan lepton, beserta pasangan "antimateri"-nya, serta partikel-partikel pembawa gaya yang menengahi interaksi fundamental: foton, boson W dan Z, dan gluon.[127] Model Standar juga memprediksi keberadaan boson Higgs yang baru ditemukan, sebuah partikel yang merupakan perwujudan medan di alam semesta yang memberikan massa pada partikel-partikel lain.[132][133] Karena keberhasilannya menjelaskan beragam hasil percobaan, Model Standar sering dianggap sebagai "teori tentang hampir segala sesuatu".[131] Namun, Model Standar belum mencakup gravitasi, dan sejauh ini belum ada "teori segalanya" yang berhasil mempersatukan seluruh gaya dan partikel dalam satu kerangka tunggal.[134]
Hadron
[sunting | sunting sumber]Hadron adalah partikel majemuk yang tersusun dari kuark-kuark yang terikat bersama oleh gaya kuat. Hadrons terbagi menjadi dua keluarga besar: barion (seperti proton dan neutron) yang terdiri atas tiga kuark, serta meson (seperti pion) yang terdiri atas satu kuark dan satu antikuark. Dari semua jenis hadron, proton merupakan partikel yang stabil, sementara neutron yang terikat di dalam inti atom juga stabil. Hadron lainnya bersifat tidak stabil pada kondisi biasa dan karena itu tidak menjadi komponen signifikan dari alam semesta modern.[135]: 118–123
Sekitar 10−6 detik setelah Dentuman Besar, pada suatu masa yang dikenal sebagai masa hadron, suhu alam semesta menurun cukup rendah sehingga kuark-kuark dapat bergabung membentuk hadron, dan massa alam semesta pada saat itu didominasi oleh hadron tersebut. Pada mulanya, suhu yang sangat tinggi memungkinkan pembentukan pasangan hadron–antihadron, yang menjaga keseimbangan termal antara materi dan antimateri. Namun, seiring pendinginan alam semesta, pasangan hadron–antihadron tak lagi dapat terbentuk. Sebagian besar hadron dan antihadron kemudian saling musnah dalam reaksi anihilasi partikel–antipartikel, menyisakan hanya sejumlah kecil hadron ketika alam semesta berumur sekitar satu detik.[135]: 244–266
Lepton
[sunting | sunting sumber]Lepton adalah partikel elementer dengan putaran bilangan setengah yang tidak mengalami interaksi kuat, namun tunduk pada prinsip pengecualian Pauli, yakni dua lepton sejenis tidak dapat berada dalam keadaan yang sama pada waktu yang sama.[136] Terdapat dua golongan utama lepton: lepton bermuatan (sering disebut lepton mirip elektron), dan lepton netral yang lebih dikenal sebagai neutrino. Elektron adalah lepton bermuatan yang stabil dan paling melimpah di alam semesta, sedangkan muon dan tau merupakan partikel tidak stabil yang dengan cepat meluruh setelah terbentuk dalam tumbukan energi tinggi, seperti yang terjadi pada sinar kosmik atau di pemercepat partikel.[137][138] Lepton bermuatan dapat bergabung dengan partikel lain membentuk berbagai partikel majemuk seperti atom dan positronium. Elektron memegang peran utama dalam seluruh bidang kimia, karena keberadaannya di dalam atom secara langsung menentukan sifat-sifat kimia suatu unsur. Neutrino, di sisi lain, sangat jarang berinteraksi dengan materi, sehingga hampir tak terdeteksi. Neutrino mengalir melintasi alam semesta dalam jumlah besar, tetapi hampir tak pernah berinteraksi dengan materi biasa.[139]
Era lepton adalah suatu tahap dalam evolusi awal alam semesta ketika lepton mendominasi massa totalnya. Masa ini dimulai sekitar satu detik setelah Dentuman Besar, setelah sebagian besar hadron dan antihadron saling musnah pada akhir era hadron. Pada masa lepton, suhu alam semesta masih cukup tinggi untuk memungkinkan terciptanya pasangan lepton–antilepton, sehingga keduanya tetap berada dalam kesetimbangan termal. Sekitar sepuluh detik setelah Dentuman Besar, suhu alam semesta menurun hingga tidak lagi memungkinkan terbentuknya pasangan baru lepton–antilepton.[140] Sebagian besar lepton dan antilepton kemudian saling musnah melalui reaksi anihilasi, menyisakan sejumlah kecil lepton. Setelah itu, massa alam semesta didominasi oleh foton, menandai dimulainya era foton berikutnya.[141][142]
Foton
[sunting | sunting sumber]Foton adalah kuantum dari cahaya dan seluruh bentuk radiasi elektromagnetik. Ia merupakan pembawa gaya bagi gaya elektromagnetik. Dampak dari gaya ini dapat dengan mudah diamati baik pada skala mikroskopik maupun skala makroskopik, karena foton memiliki massa diam nol; sifat ini memungkinkan terjadinya interaksi fundamental jarak jauh.[46]: 1470
Era foton dimulai setelah sebagian besar lepton dan antilepton saling memusnahkan pada akhir era lepton, sekitar sepuluh detik setelah Dentuman Besar. Inti atom mulai terbentuk dalam proses nukleosintesis yang terjadi pada menit-menit pertama masa foton. Sepanjang sisa masa ini, alam semesta berisi plasma panas dan padat yang terdiri atas inti atom, elektron, dan foton. Sekitar 380.000 tahun setelah Dentuman Besar, suhu alam semesta turun hingga memungkinkan inti-inti atom bergabung dengan elektron membentuk atom-atom netral. Akibatnya, foton tidak lagi sering berinteraksi dengan materi dan alam semesta menjadi tembus cahaya. Foton-foton yang sangat bergeser merah dari masa ini kini membentuk radiasi latar gelombang mikro kosmik (cosmic microwave background). Variasi kecil dalam suhu CMB mencerminkan perbedaan kerapatan di alam semesta awal, benih-benih pertama yang kelak melahirkan seluruh pembentukan struktur kosmik yang ada sekarang.[135]: 244–266
Kelayakhunian
[sunting | sunting sumber]Frekuensi kemunculan kehidupan di alam semesta telah lama menjadi pokok penyelidikan dalam bidang astronomi dan astrobiologi. Pertanyaan ini dikaji melalui persamaan Drake dan beragam pandangan yang menyertainya, mulai dari pengenalan atas paradoks Fermi, yakni keadaan di mana belum ditemukan tanda-tanda keberadaan kehidupan luar bumi, hingga pada argumen yang mendukung gagasan kosmologi biofisik, yaitu pandangan bahwa kehidupan merupakan bagian yang melekat dalam kosmologi fisik alam semesta.[143]
Model kosmologis
[sunting | sunting sumber]Model alam semesta berdasarkan relativitas umum
[sunting | sunting sumber]Relativitas umum adalah teori geometrik tentang gravitasi yang dipublikasikan oleh Albert Einstein pada tahun 1915, dan merupakan penjelasan paling mutakhir mengenai gravitasi dalam fisika modern. Teori ini menjadi dasar bagi model-model kosmologi fisik alam semesta masa kini. Relativitas umum memperluas relativitas khusus dan hukum gravitasi universal Newton, dengan memberikan deskripsi terpadu tentang gravitasi sebagai sifat geometris dari ruang dan waktu, atau ruang waktu. Secara khusus, kelengkungan ruang waktu berhubungan langsung dengan energi dan momentum dari materi serta radiasi yang ada di dalamnya.[144]
Hubungan tersebut dijabarkan melalui persamaan medan Einstein, yaitu sistem persamaan diferensial parsial. Dalam relativitas umum, distribusi materi dan energi menentukan geometri ruang waktu, yang pada gilirannya menjelaskan percepatan dari materi itu sendiri. Karena itu, solusi dari persamaan medan Einstein menggambarkan evolusi alam semesta. Ketika dikombinasikan dengan hasil pengamatan terhadap jumlah, jenis, dan distribusi materi di alam semesta, persamaan-persamaan relativitas umum mampu menjelaskan bagaimana alam semesta berkembang seiring waktu.[144]
Dengan mengasumsikan prinsip kosmologi bahwa alam semesta bersifat homogen dan isotropik di setiap tempat, muncul solusi khusus dari persamaan medan yang menggambarkan alam semesta, yaitu tensor metrik yang dikenal sebagai metrik Friedmann–Lemaître–Robertson–Walker:
di mana (r, θ, φ) menunjukkan sistem koordinat bola. Metrik ini hanya memiliki dua parameter bebas. Yang pertama adalah faktor skala tak berdimensi R, yang menggambarkan ukuran alam semesta sebagai fungsi waktu (peningkatan R berarti pengembangan alam semesta),[145] dan yang kedua adalah indeks kelengkungan k yang menjelaskan bentuk geometri ruang tersebut. Nilai k hanya dapat berupa salah satu dari tiga kemungkinan: 0, yang mewakili geometri Euclid datar; 1, yang menggambarkan ruang dengan kelengkungan positif; atau −1, yang menunjukkan kelengkungan negatif.[146] Nilai R sebagai fungsi waktu t bergantung pada k serta konstanta kosmologis Λ.[144] Konstanta kosmologis ini merepresentasikan rapat energi dari kekosongan ruang dan dapat berkaitan dengan energi gelap.[91] Persamaan yang menggambarkan bagaimana R berubah terhadap waktu dikenal sebagai persamaan Friedmann, diambil dari nama penemunya, Alexander Friedmann.[147]
Solusi untuk R(t) bergantung pada nilai k dan Λ, tetapi beberapa ciri kualitatif dari solusi tersebut bersifat umum. Pertama dan terpenting, skala panjang R alam semesta hanya dapat tetap konstan jika dan hanya jika alam semesta benar-benar isotropik dengan kelengkungan positif (k = 1) serta memiliki kerapatan yang sama di seluruh ruang—hal ini pertama kali disadari oleh Albert Einstein.[144]
Kedua, seluruh solusi menunjukkan bahwa pada masa lampau pernah terjadi suatu singularitas gravitasi, ketika R menyusut menjadi nol dan materi serta energi mencapai kerapatan tak terhingga. Sekilas kesimpulan ini tampak meragukan karena didasarkan pada asumsi yang ideal, yakni homogenitas dan isotropi sempurna (prinsip kosmologis), dan mengabaikan interaksi lain selain gravitasi. Namun, teorema singularitas Penrose–Hawking menunjukkan bahwa singularitas semacam itu seharusnya muncul dalam kondisi yang sangat umum. Karena itu, berdasarkan persamaan medan Einstein, R tumbuh sangat cepat dari keadaan yang tak terbayangkan panas dan padat sesaat setelah singularitas tersebut (ketika R bernilai kecil tetapi terbatas); inilah inti dari model Dentuman Besar. Memahami singularitas asal Dentuman Besar kemungkinan memerlukan teori gravitasi kuantum, yang hingga kini belum dirumuskan.[148]
Ketiga, indeks kelengkungan k menentukan tanda dari kelengkungan permukaan ruang pada waktu konstan,[146] jika dirata-ratakan pada skala panjang yang sangat besar (lebih dari satu miliar tahun cahaya). Jika k = 1, maka kelengkungannya positif dan alam semesta memiliki volume terbatas.[149] Alam semesta dengan kelengkungan positif sering divisualisasikan sebagai bola tiga dimensi yang tertanam dalam ruang empat dimensi. Sebaliknya, jika k bernilai nol atau negatif, maka alam semesta memiliki volume tak terbatas.[149] Meskipun tampak berlawanan dengan intuisi bahwa alam semesta yang tak berhingga tetapi sangat rapat dapat muncul seketika saat R = 0, justru itulah yang diprediksi secara matematis ketika k tidak positif dan prinsip kosmologis terpenuhi. Sebagai analogi, bidang datar memiliki kelengkungan nol tetapi luas tak berhingga, sedangkan silinder tak berhingga bersifat terbatas dalam satu arah, dan torus terbatas dalam dua arah.
Nasib akhir alam semesta masih belum diketahui karena sangat bergantung pada nilai indeks kelengkungan k dan konstanta kosmologis Λ. Jika alam semesta cukup rapat, maka k akan bernilai +1, yang berarti kelengkungan rata-ratanya positif dan alam semesta pada akhirnya akan runtuh kembali dalam suatu Remukan Besar (Big Crunch),[150] yang mungkin diikuti oleh kelahiran alam semesta baru melalui Pantulan Besar (Big Bounce). Sebaliknya, jika kerapatan alam semesta tidak mencukupi, maka k akan bernilai 0 atau −1, dan alam semesta akan terus mengembang tanpa batas, mendingin, hingga mencapai Pembekuan Besar (Big Freeze) dan akhirnya mengalami kematian panas alam semesta.[144] Data pengamatan modern menunjukkan bahwa alam semesta kini mengembang semakin cepat; bila percepatan ini terus berlanjut dengan laju tertentu, alam semesta mungkin akan berakhir dalam peristiwa Robekan Besar (Big Rip). Secara observasional, alam semesta tampak datar (k = 0), dengan kerapatan total yang sangat dekat dengan nilai kritis antara keruntuhan kembali dan pengembangan abadi.[151]
Hipotesis multisemesta
[sunting | sunting sumber]Sejumlah teori spekulatif mengusulkan bahwa alam semesta kita hanyalah satu dari sekumpulan himpunan alam semesta yang terpisah satu sama lain, yang secara kolektif disebut multisemesta. Gagasan ini menantang sekaligus memperluas batasan definisi tradisional tentang alam semesta.[19][152] Max Tegmark mengembangkan suatu skema klasifikasi empat tingkat yang menjelaskan berbagai jenis multisemesta yang pernah diusulkan ilmuwan sebagai jawaban atas sejumlah persoalan mendalam dalam fisika. Salah satu contohnya adalah multisemesta yang dihasilkan dari model inflasi kacau pada masa awal alam semesta.[153]
Contoh lain ialah multisemesta yang muncul dari interpretasi banyak dunia dalam mekanika kuantum. Dalam kerangka ini, dunia-dunia paralel terbentuk melalui proses yang mirip dengan superposisi kuantum dan dekohesi, di mana seluruh kemungkinan keadaan dari fungsi gelombang terwujud di dunia yang berbeda-beda. Dengan demikian, dalam interpretasi banyak dunia, multisemesta berkembang sebagai suatu fungsi gelombang universal. Jika Dentuman Besar yang melahirkan multisemesta kita juga menciptakan himpunan multisemesta lain, maka fungsi gelombang dari seluruh himpunan itu akan saling terjerat secara kuantum.[154] Masih menjadi perdebatan panjang apakah konsep ini memungkinkan penurunan probabilitas yang bermakna secara ilmiah, dan terdapat pula berbagai versi dari interpretasi banyak dunia.[155][156][157] Topik tentang bagaimana seharusnya mekanika kuantum ditafsirkan sendiri merupakan wilayah yang sarat perbedaan pandangan.[158][159][160]
Kategori yang paling tidak kontroversial, meskipun tetap diperdebatkan, dalam klasifikasi Tegmark adalah multiverse Tingkat I. Multisemesta pada tingkat ini terdiri dari peristiwa ruang waktu yang sangat jauh tetapi masih termasuk "alam semesta kita" sendiri. Tegmark dan beberapa ilmuwan lain[161] berargumen bahwa jika ruang benar-benar tak berhingga, atau cukup besar dan seragam, maka sejarah lengkap volume Hubble Bumi akan berulang secara identik di tempat lain, murni karena kebetulan statistik. Tegmark menghitung bahwa "kembaran" terdekat kita berada sejauh 1010115 meter dari sini, jarak yang merupakan fungsi eksponensial ganda jauh lebih besar dari googolplex.[162][163] Meski demikian, argumen-argumen semacam ini masih bersifat sangat spekulatif.[164]
Kita juga dapat membayangkan adanya ruang waktu yang sepenuhnya terputus satu sama lain, masing-masing ada namun tak dapat berinteraksi sedikit pun.[162][165] Analogi yang mudah divisualisasikan untuk konsep ini adalah sekumpulan gelembung sabun yang terpisah, di mana para pengamat yang hidup pada satu gelembung tidak mungkin, bahkan secara teori, berinteraksi dengan mereka yang berada di gelembung lain.[166] Dalam terminologi yang umum digunakan, setiap "gelembung sabun" ruang waktu disebut sebagai sebuah alam semesta, sementara ruang waktu tempat manusia berada disebut alam semesta—sebagaimana kita menyebut satelit alami Bumi sebagai Bulan.[19] Keseluruhan kumpulan ruang waktu yang terpisah ini disebut multisemesta.[19]
Dalam pengertian ini, setiap alam semesta tidak memiliki hubungan kausal satu sama lain.[19] Secara teoretis, setiap alam semesta lain yang tak terhubung bisa saja memiliki dimensi dan topologi ruang waktu yang berbeda, bentuk materi dan energi yang berbeda, bahkan hukum fisika dan konstanta fisika yang tidak sama—meskipun kemungkinan-kemungkinan ini sepenuhnya bersifat spekulatif.[19] Beberapa ilmuwan juga menganggap bahwa gelembung-gelembung yang tercipta melalui proses inflasi kacau merupakan alam semesta tersendiri, meskipun dalam model ini semua alam semesta tersebut memiliki asal kausal yang sama.[19]
Penggambaran sejarah
[sunting | sunting sumber]Sepanjang sejarah, manusia telah melahirkan beragam gagasan tentang alam semesta (kosmologi) dan asal-usulnya (kosmogoni). Teori tentang alam semesta yang tidak dipersonifikasikan dan diatur oleh hukum-hukum fisika pertama kali dikemukakan oleh para pemikir Yunani dan India kuno.[13] Filsafat Tiongkok kuno juga mencakup gagasan tentang alam semesta yang mencakup keseluruhan ruang dan waktu.[167] Selama berabad-abad, kemajuan dalam pengamatan astronomi serta teori tentang gerak dan gravitasi telah menghasilkan deskripsi alam semesta yang semakin akurat. Era modern kosmologi dimulai dengan lahirnya teori relativitas umum Albert Einstein pada tahun 1915, yang memungkinkan perhitungan kuantitatif mengenai asal mula, evolusi, dan nasib akhir alam semesta secara keseluruhan. Sebagian besar teori kosmologi modern yang diterima kini berpijak pada relativitas umum, khususnya pada prediksi mengenai Dentuman Besar.[168]
Mitologi
[sunting | sunting sumber]Banyak kebudayaan di dunia memiliki kisah tentang asal-usul dunia dan alam semesta. Umumnya, kebudayaan-kebudayaan tersebut menganggap kisah-kisah ini mengandung suatu bentuk kebenaran. Namun, di antara mereka yang meyakini asal mula adikodrati, terdapat banyak perbedaan pandangan mengenai bagaimana kisah tersebut harus dipahami, mulai dari keyakinan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta secara langsung sebagaimana adanya sekarang, hingga gagasan bahwa Tuhan hanya "memutar roda awal" melalui mekanisme seperti Dentuman Besar dan evolusi.[169]
Para etnolog dan antropolog yang meneliti mitos telah mengembangkan berbagai sistem klasifikasi untuk mengelompokkan tema-tema umum yang muncul dalam kisah penciptaan.[170][171] Dalam salah satu jenis kisah, dunia lahir dari sebuah telur kosmik; contoh kisah ini antara lain terdapat dalam puisi epik Kalevala dari Finlandia, kisah Pangu dari Tiongkok, serta Brahmanda Purana dari India. Dalam kisah lain, alam semesta diciptakan oleh satu entitas yang memancar atau memunculkan segala sesuatu dari dirinya sendiri, sebagaimana dalam konsep Adi-Buddha dalam Buddhisme Tibet, kisah Gaia (Ibu Pertiwi) dalam mitologi Yunani, dewi Coatlicue dalam mitologi Aztek, kisah dewa Atum dalam agama Mesir Kuno, serta narasi penciptaan dalam Kitab Kejadian di mana Tuhan Abrahamik menciptakan alam semesta.
Dalam jenis kisah lainnya, alam semesta lahir dari penyatuan dewa dan dewi, seperti kisah Rangi dan Papa dalam mitologi Māori. Ada pula kisah di mana alam semesta dibentuk dari bahan-bahan yang telah ada sebelumnya, misalnya dari jasad dewa yang telah mati, seperti Tiamat dalam epos Babilonia Enûma Elish atau raksasa Ymir dalam Mitologi Nordik, atau dari materi kacau, sebagaimana kisah Izanagi dan Izanami dalam Mitologi Jepang. Dalam tradisi lain, alam semesta dipandang sebagai pancaran dari prinsip-prinsip dasar seperti Brahman dan Prakrti, atau seperti dalam Mitos penciptaan Serer dari bangsa Serer.[172]
Model-model filsafat
[sunting | sunting sumber]Para filsuf Yunani pra-Sokratik dan filsuf India mengembangkan beberapa konsep filsafat paling awal tentang alam semesta.[13][173] Filsuf Yunani awal menyadari bahwa penampakan dapat menipu, dan mereka berusaha memahami realitas mendasar yang tersembunyi di balik penampakan itu. Secara khusus, mereka mencatat kemampuan materi untuk berubah bentuk (misalnya es menjadi air lalu uap), dan sejumlah filsuf mengusulkan bahwa seluruh materi fisik di dunia merupakan bentuk-bentuk berbeda dari satu zat asal tunggal, atau arche. Yang pertama mengemukakan hal ini adalah Thales, yang menganggap zat asal tersebut adalah air. Muridnya, Anaximander, berpendapat bahwa segala sesuatu berasal dari sesuatu yang tak terbatas yang disebut apeiron. Anaximenes mengusulkan bahwa zat asal itu adalah udara, karena sifatnya yang dapat menarik dan menolak sehingga menyebabkan arche mengembun atau terurai menjadi bentuk-bentuk lain. Anaxagoras memperkenalkan asas Nous (Akal), sedangkan Herakleitos mengusulkan api dan berbicara tentang logos. Empedokles mengajukan empat unsur dasar: tanah, air, udara, dan api. Model empat unsur ini menjadi sangat berpengaruh. Seperti halnya Pythagoras, Plato percaya bahwa segala sesuatu tersusun atas angka, dengan unsur-unsur Empedokles mengambil bentuk padatan Platonik. Demokritos, dan kemudian filsuf lain seperti Leukippos, mengemukakan bahwa alam semesta tersusun dari atom yang tak terbagi, yang bergerak dalam kekosongan (vakum). Aristoteles menolak gagasan ini, sebab menurutnya udara, seperti air, memberikan hambatan terhadap gerak. Udara akan segera mengalir untuk mengisi kekosongan, dan tanpa hambatan, hal itu akan berlangsung tanpa batas kecepatan.[13]
Meskipun Herakleitos menegaskan bahwa perubahan adalah abadi,[174] sezamannya, Parmenides, menekankan ketakberubahan. Puisinya, On Nature, ditafsirkan sebagai pernyataan bahwa segala perubahan hanyalah ilusi; bahwa realitas sejati yang mendasari alam semesta bersifat abadi, tak berubah, dan tunggal dalam hakikatnya — atau setidaknya bahwa inti dari segala sesuatu yang ada haruslah kekal, tanpa awal, perubahan, maupun akhir.[175] Muridnya, Zeno dari Elea, menantang gagasan umum tentang gerak melalui serangkaian paradoks terkenal. Aristoteles menanggapi paradoks-paradoks tersebut dengan mengembangkan gagasan tentang potensi ketakterhinggaan yang dapat dihitung, serta konsep kontinuum yang dapat dibagi tanpa batas.[176][177]
Dalam tradisi filsafat India, filsuf Kanada, pendiri mazhab Vaisheshika, mengembangkan gagasan tentang atomisme dan berpendapat bahwa cahaya dan panas merupakan bentuk-bentuk dari substansi yang sama.[178] Pada abad ke-5 Masehi, filsuf Buddhisme atomis Dignāga berpendapat bahwa atom bersifat tanpa ukuran, tanpa durasi, dan tersusun dari energi. Ia menolak keberadaan materi substansial dan mengajukan bahwa gerak merupakan rangkaian kilatan sekejap dari arus energi.[179]
Gagasan tentang finitisme temporal terinspirasi oleh doktrin penciptaan yang dianut oleh tiga agama Abrahamik: Yahudi, Kristen, dan Islam. Filsuf Kristen Yohanes Filoponus mengemukakan argumen-argumen filosofis menentang pandangan Yunani kuno tentang masa lalu dan masa depan yang tak berujung. Argumennya ini kemudian diadopsi oleh filsuf Islam awal Al-Kindi (Alkindus), filsuf Yahudi Saadia Gaon (Saadia ben Joseph), serta teolog Islam Al-Ghazali (Algazel).[180]
Panteisme adalah keyakinan filsafat sekaligus agama bahwa alam semesta itu sendiri identik dengan ketuhanan dan merupakan makhluk tertinggi atau entitas ilahi.[181] Dengan demikian, alam semesta fisik dipahami sebagai dewa yang imanen dan meliputi segala sesuatu.[182] Istilah 'panteis' merujuk pada seseorang yang meyakini bahwa segala sesuatu membentuk satu kesatuan, dan bahwa kesatuan itu bersifat ilahi—terwujud dalam sosok dewa atau dewi yang merangkum seluruh eksistensi.[183][184]
Konsep-konsep astronomi
[sunting | sunting sumber]
Catatan tertulis paling awal yang dapat diidentifikasi sebagai cikal bakal astronomi modern berasal dari Mesir Kuno dan Mesopotamia, sekitar tahun 3000 hingga 1200 SM.[185][186] Para astronomi Babilonia pada abad ke-7 SM memandang dunia sebagai sebuah cakram datar yang dikelilingi oleh lautan.[187][188]
Para filsuf Yunani Kuno kemudian, dengan mengamati gerakan benda-benda langit, berupaya mengembangkan model alam semesta yang lebih berlandaskan bukti empiris. Model koheren pertama diajukan oleh Eudoxus dari Cnidus, seorang murid Plato yang mengikuti gagasan gurunya bahwa gerakan benda-benda langit haruslah melingkar. Untuk menjelaskan kerumitan gerak planet yang diketahui, terutama gerak retrograd, model Eudoxus menggunakan 27 bola langit: empat untuk setiap planet yang tampak oleh mata telanjang, tiga untuk Matahari dan Bulan, serta satu untuk bintang-bintang. Semua bola ini berpusat pada Bumi, yang dianggap tetap diam sementara bola-bola tersebut berputar selamanya. Aristoteles mengembangkan model ini lebih lanjut, menambah jumlah bola menjadi 55 untuk menjelaskan detail tambahan dari gerak planet. Bagi Aristoteles, materi biasa sepenuhnya berada di dalam lingkup bumi, dan tunduk pada hukum yang sangat berbeda dari materi langit.[189][190]
Risalah pasca-Aristoteles De Mundo (dengan penulis dan tanggal yang tidak pasti) menyatakan: "Lima unsur, tersusun dalam bola-bola pada lima wilayah, yang lebih kecil selalu dikelilingi oleh yang lebih besar, yakni bumi dikelilingi oleh air, air oleh udara, udara oleh api, dan api oleh eter, membentuk keseluruhan alam semesta."[191] Model ini kemudian disempurnakan oleh Callippus, dan setelah konsep bola konsentris ditinggalkan, model tersebut disesuaikan hampir sempurna dengan pengamatan astronomi oleh Ptolemaeus.[192] Keberhasilan model ini sebagian besar disebabkan oleh fakta matematis bahwa setiap fungsi (seperti posisi planet) dapat diuraikan menjadi sekumpulan fungsi melingkar, yaitu modus Fourier. Cendekiawan Yunani lainnya, seperti filsuf Pythagoreanisme Philolaus, menurut catatan Stobaeus, berpendapat bahwa di pusat alam semesta terdapat "api pusat", dan bahwa Bumi, Matahari, Bulan, dan planet berputar mengelilinginya dalam gerakan melingkar seragam.[193]
Astronom Yunani Aristarchus dari Samos adalah orang pertama yang diketahui mengemukakan model heliosentris alam semesta. Meskipun teks aslinya telah hilang, sebuah rujukan dalam karya Archimedes berjudul The Sand Reckoner menggambarkan model heliosentris Aristarchus. Archimedes menulis:
"Engkau, Raja Gelon, tentu mengetahui bahwa alam semesta adalah nama yang diberikan oleh kebanyakan astronom untuk bola yang pusatnya bertepatan dengan pusat Bumi, sedangkan jari-jarinya sama dengan garis lurus yang menghubungkan pusat Matahari dan pusat Bumi. Itulah pandangan umum sebagaimana engkau mendengarnya dari para astronom. Namun Aristarchus telah menerbitkan sebuah buku yang memuat sejumlah hipotesis, di mana tampak bahwa alam semesta jauh lebih besar daripada yang baru saja disebutkan. Hipotesisnya adalah bahwa bintang-bintang tetap dan Matahari tidak bergerak; bahwa Bumi berputar mengelilingi Matahari di sepanjang lingkaran dengan Matahari di tengah orbitnya; dan bahwa bola bintang-bintang tetap, yang berpusat sama dengan Matahari, begitu luas sehingga lingkaran yang menjadi jalur orbit Bumi hanya menempati proporsi sekecil jarak antara pusat bola dengan permukaannya."[194]
Aristarchus berpendapat bahwa bintang-bintang terletak pada jarak yang sangat jauh, dan inilah sebabnya mengapa paralaks bintang tidak pernah teramati, yakni bintang-bintang tidak tampak bergeser posisinya satu sama lain ketika Bumi bergerak mengelilingi Matahari. Pada kenyataannya, jarak bintang-bintang memang jauh melampaui perkiraan umum pada zaman kuno, sehingga paralaks bintang hanya dapat terdeteksi dengan instrumen yang sangat presisi. Model geosentris, yang konsisten dengan konsep paralaks planet, pada masa itu dianggap sebagai penjelasan bagi tidak teramatinya paralaks bintang.[195]

Satu-satunya astronom lain dari zaman kuno yang diketahui mendukung model heliosentris Aristarchus adalah Seleucus dari Seleukia, seorang astronom Helenistik yang hidup sekitar satu abad setelah Aristarchus.[196][197][198] Menurut Plutarch, Seleucus adalah orang pertama yang membuktikan sistem heliosentris melalui penalaran, meskipun argumen yang digunakannya tidak diketahui. Kemungkinan besar, pembuktiannya terkait dengan fenomena pasang surut.[199] Menurut Strabo (1.1.9), Seleucus adalah orang pertama yang menyatakan bahwa pasang surut disebabkan oleh gaya tarik Bulan, dan bahwa tinggi rendahnya pasang bergantung pada posisi Bulan terhadap Matahari.[200] Sebagai alternatif, mungkin ia membuktikan heliosentrisme dengan menentukan konstanta dari model geometris untuk sistem tersebut, serta mengembangkan metode untuk menghitung posisi planet berdasarkan model itu—pendekatan yang kelak menyerupai metode Nicolaus Copernicus pada abad ke-16.[201] Pada Abad Pertengahan, model heliosentris juga diajukan oleh para astronom Persia seperti Albumasar[202] dan Al-Sijzi.[203]
Model Aristoteles diterima di Dunia Barat selama kurang lebih dua milenium, hingga Nicolaus Copernicus menghidupkan kembali pandangan Aristarchus bahwa data astronomi dapat dijelaskan dengan lebih masuk akal bila Bumi dianggap berputar pada porosnya dan Matahari ditempatkan di pusat alam semesta.[204]
Di pusatnya bersemayam Matahari. Sebab siapakah yang akan menempatkan pelita di kuil yang sangat indah ini di tempat lain atau yang lebih baik daripada posisi di mana ia dapat menerangi segalanya sekaligus?
— Nicolaus Copernicus, Bab 10, Buku 1 dari De Revolutionibus Orbium Coelestium (1543)
Seperti dicatat oleh Copernicus, gagasan bahwa Bumi berputar sesungguhnya telah sangat tua, setidaknya sejak zaman Philolaus (ca 450 SM), Heraclides Ponticus (ca 350 SM), dan Ecphantus sang Pitagorean. Sekitar satu abad sebelum Copernicus, sarjana Kristen Nicholas dari Cusa juga mengemukakan bahwa Bumi berputar pada porosnya dalam karyanya On Learned Ignorance (1440).[205] Al-Sijzi[206] pun pernah mengusulkan hal yang sama. Bukti empiris mengenai rotasi Bumi pada porosnya, dengan menggunakan fenomena komet, diberikan oleh Tusi (1201–1274) dan Ali Qushji (1403–1474).[207]
Pandangan kosmologis ini kemudian diterima oleh Isaac Newton, Christiaan Huygens, dan para ilmuwan sesudahnya.[208] Newton menunjukkan bahwa hukum-hukum gerak dan gravitasi yang sama berlaku baik bagi benda di Bumi maupun bagi benda langit, sehingga menjadikan pembagian Aristoteles antara keduanya usang. Edmund Halley (1720)[209] dan Jean-Philippe de Chéseaux (1744)[210] secara terpisah mencatat bahwa jika ruang semesta diasumsikan tak berhingga dan dipenuhi bintang secara merata, maka langit malam seharusnya secerah Matahari sendiri; hal ini kelak dikenal sebagai Paradoks Olbers pada abad ke-19.[211] Newton menegaskan bahwa ruang tak berhingga yang dipenuhi materi secara seragam akan menimbulkan gaya tak terhingga dan ketidakstabilan yang akan menyebabkan seluruh materi runtuh ke dalam akibat gravitasinya sendiri.[208] Ketidakstabilan ini kemudian dijelaskan secara matematis pada tahun 1902 melalui kriteria ketidakstabilan Jeans.[212] Salah satu solusi yang diajukan terhadap paradoks-paradoks ini adalah alam semesta Charlier, di mana materi tersusun secara hierarkis, sistem benda-benda yang saling mengorbit dan pada gilirannya mengorbit dalam sistem yang lebih besar, ad infinitum, dalam pola fraktal sehingga kerapatan keseluruhannya sangat kecil. Model kosmologis serupa sebenarnya telah diajukan lebih awal, pada tahun 1761, oleh Johann Heinrich Lambert.[52][213]
Astronomi ruang angkasa dalam
[sunting | sunting sumber]Pada abad ke-18, Immanuel Kant berspekulasi bahwa nebula mungkin merupakan seluruh galaksi yang terpisah dari Bima Sakti.[209] Pada tahun 1850, Alexander von Humboldt menyebut galaksi-galaksi terpisah itu sebagai Weltinseln, atau "pulau dunia", istilah yang kemudian berkembang menjadi "alam semesta pulau" (island universes).[214][215]
Pada tahun 1919, ketika Teleskop Hooker selesai dibangun, pandangan umum kala itu menyatakan bahwa alam semesta hanya terdiri atas Galaksi Bima Sakti. Dengan menggunakan teleskop tersebut, Edwin Hubble berhasil mengidentifikasi bintang variabel Cepheid di beberapa nebula spiral, dan pada tahun 1922–1923 ia membuktikan secara meyakinkan bahwa Nebula Andromeda dan Nebula Triangulum, di antara yang lainnya, merupakan galaksi-galaksi utuh di luar galaksi kita sendiri. Penemuan ini menjadi bukti bahwa alam semesta tersusun atas banyak galaksi.[216]
Berdasarkan temuan tersebut, Hubble merumuskan konstanta Hubble, yang untuk pertama kalinya memungkinkan perhitungan usia alam semesta serta ukuran alam semesta teramati. Seiring dengan kemajuan pengukuran, nilai-nilai ini menjadi semakin akurat, mulanya hanya sekitar 2 miliar tahun dan 280 juta tahun cahaya, hingga pada tahun 2006, data dari Teleskop Luar Angkasa Hubble memungkinkan estimasi usia dan ukuran alam semesta yang sangat presisi.[217]
Era modern kosmologi fisik dimulai pada tahun 1917, ketika Albert Einstein untuk pertama kalinya menerapkan teori relativitas umum dalam memodelkan struktur dan dinamika alam semesta.[218] Penemuan-penemuan besar dari masa ini, beserta pertanyaan-pertanyaan yang masih belum terjawab, dijabarkan dalam bagian-bagian sebelumnya.
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]- Kronologi alam semesta
- Kalender kosmik
- Latte kosmik
- Kosmos
- Garis waktu logaritmik terperinci
- Lokasi Bumi di alam semesta
- Kosmologi esotrik
- Vakum palsu
- Masa depan alam semesta yang mengembang
- Kematian panas alam semesta
- Sejarah Pusat Alam Semesta
- Proyek Illustris
- Multisemesta (Hipersemesta, Megasemesta atau Omnisemesta)
- Kosmologi non-standar
- Hipotesis Bumi Langka
- Kosmologi agama
- Ruang dan kelangsungan hidup
- Garis waktu peristiwa jauh di masa depan
- Garis waktu pembentukan alam semesta
- Garis waktu dalam waktu dekat
- Asal vakum
- Alam semesta tanpa energi
Referensi
[sunting | sunting sumber]Catatan kaki
- 1 2 Menurut fisika modern, khususnya teori relativitas, ruang dan waktu saling terikat secara hakiki sebagai satu kesatuan yang disebut ruang-waktu.
- ↑ Meskipun angka tersebut dinyatakan dalam megaparsek oleh sumber yang dikutip, nilainya begitu luar biasa besar sehingga perbedaan satuan konvensional apa pun, baik nanometer maupun gigaparsek, akan menjadi tidak berarti, sebab selisihnya tenggelam dalam ketidakpastian angka tersebut.
Kutipan
- ↑ Collaboration, Planck; Ade, P. A. R.; Aghanim, N.; Arnaud, M.; Ashdown, M.; Aumont, J.; Baccigalupi, C.; Banday, A. J.; Barreiro, R. B. (2016-06-17), Planck 2015 results. XIII. Cosmological parameters, doi:10.48550/arXiv.1502.01589, diakses tanggal 2025-10-27
- ↑ Greene, Brian (2011). The Hidden Reality. Alfred A. Knopf. ISBN 978-0307265630. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Itzhak Bars; John Terning (November 2009). Extra Dimensions in Space and Time. Springer. hlm. 27–. ISBN 978-0-387-77637-8. Diakses tanggal 2011-05-01.
- ↑ Paul Davies (2006). The Goldilocks Enigma. First Mariner Books. hlm. 43ff. ISBN 978-0-618-59226-5.
- 1 2 NASA/WMAP Science Team (January 24, 2014). "Universe 101: What is the Universe Made Of?". NASA. Diakses tanggal February 17, 2015.
- 1 2 Fixsen, D. J. (2009). "The Temperature of the Cosmic Microwave Background". The Astrophysical Journal. 707 (2): 916–20. arXiv:0911.1955. Bibcode:2009ApJ...707..916F. doi:10.1088/0004-637X/707/2/916.
- 1 2 3 "First Planck results: the universe is still weird and interesting". Matthew Francis. Ars technica. 21 Maret 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 Mei 2019. Diakses tanggal 21 Agustus 2015.
- ↑ NASA/WMAP Science Team (January 24, 2014). "Universe 101: Will the Universe expand forever?". NASA. Diakses tanggal April 16, 2015.
- 1 2 Zeilik, Michael; Gregory, Stephen A. (1998). Introductory Astronomy & Astrophysics (Edisi 4th). Saunders College. ISBN 978-0-03-006228-5.
The totality of all space and time; all that is, has been, and will be.
- ↑ Planck Collaboration; Aghanim, N.; Akrami, Y.; Ashdown, M.; Aumont, J.; Baccigalupi, C.; Ballardini, M.; Banday, A. J.; Barreiro, R. B.; Bartolo, N.; Basak, S. (September 2020). "Planck 2018 results: VI. Cosmological parameters". Astronomy & Astrophysics. 641: A6. arXiv:1807.06209. Bibcode:2020A&A...641A...6P. doi:10.1051/0004-6361/201833910. ISSN 0004-6361. S2CID 119335614.
- 1 2 3 Greene, Brian (2011). The Hidden Reality. Alfred A. Knopf.
- ↑ Dold-Samplonius, Yvonne (2002). From China to Paris: 2000 Years Transmission of Mathematical Ideas. Franz Steiner Verlag.
- 1 2 3 4 Glick, Thomas F.; Livesey, Steven; Wallis, Faith (2005). Medieval Science Technology and Medicine: An Encyclopedia. Routledge. ISBN 978-0-415-96930-7.
- ↑ Carroll, Bradley W.; Ostlie, Dale A. (2013). An Introduction to Modern Astrophysics (Edisi International). Pearson. hlm. 1173–1174. ISBN 978-1-292-02293-2. Diakses tanggal May 16, 2018.
- 1 2 Hawking, Stephen (1988). A Brief History of Time. Bantam. hlm. 43. ISBN 978-0-553-05340-1.
- ↑ Redd, Nola. "What is Dark Matter?". Space.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 1, 2018. Diakses tanggal February 1, 2018.
- 1 2 "Planck 2015 results, table 9". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 27, 2018. Diakses tanggal May 16, 2018.
- ↑ Persic, Massimo; Salucci, Paolo (September 1, 1992). "The baryon content of the Universe". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 258 (1): 14P – 18P. arXiv:astro-ph/0502178. Bibcode:1992MNRAS.258P..14P. doi:10.1093/mnras/258.1.14P. ISSN 0035-8711. S2CID 17945298.
- 1 2 3 4 5 6 7 Ellis, George F. R.; Kirchner, U.; Stoeger, W. R. (2004). "Multiverses and physical cosmology". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 347 (3): 921–936. arXiv:astro-ph/0305292. Bibcode:2004MNRAS.347..921E. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.07261.x. S2CID 119028830.
- ↑ "'Multiverse' theory suggested by microwave background". BBC News. August 3, 2011. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 14, 2023. Diakses tanggal February 14, 2023.
- ↑ "Universe". Encyclopaedia Britannica online. 2012. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 9, 2021. Diakses tanggal February 17, 2018.
- ↑ "Universe". Merriam-Webster Dictionary. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 22, 2012. Diakses tanggal September 21, 2012.
- ↑ "Universe". Dictionary.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 23, 2012. Diakses tanggal September 21, 2012.
- 1 2 Schreuder, Duco A. (2014). Vision and Visual Perception. Archway Publishing. hlm. 135. ISBN 978-1-4808-1294-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 22, 2021. Diakses tanggal January 27, 2016.
- ↑ Mermin, N. David (2004). "Could Feynman Have Said This?". Physics Today. 57 (5): 10. Bibcode:2004PhT....57e..10M. doi:10.1063/1.1768652.
- ↑ Tegmark, Max (2008). "The Mathematical Universe". Foundations of Physics. 38 (2): 101–150. arXiv:0704.0646. Bibcode:2008FoPh...38..101T. doi:10.1007/s10701-007-9186-9. S2CID 9890455. Versi singkatnya tersedia di Fixsen, D. J. (2007). "Shut up and calculate". arΧiv:0709.4024 [physics.pop-ph]. yang merujuk pada kutipan terkenal David Mermin: "diam dan hitung saja!"[25]
- ↑ Holt, Jim (2012). Why Does the World Exist?. Liveright Publishing. hlm. 308.
- ↑ Ferris, Timothy (1997). The Whole Shebang: A State-of-the-Universe(s) Report. Simon & Schuster. hlm. 400.
- ↑ Copan, Paul; William Lane Craig (2004). Creation Out of Nothing: A Biblical, Philosophical, and Scientific Exploration. Baker Academic. hlm. 220. ISBN 978-0-8010-2733-8.
- ↑ Bolonkin, Alexander (2011). Universe, Human Immortality and Future Human Evaluation. Elsevier. hlm. 3–. ISBN 978-0-12-415801-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 8, 2021. Diakses tanggal January 27, 2016.
- ↑ Russell, Jones (2008). Loan-Words In Indonesian And Malay. Yayasan Obor Indonesia. ISBN 978-602-433-174-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Monier-Williams, Monier (1899). A Sanskrit–English Dictionary: Etymologically and Philologically Arranged with Special Reference to Cognate Indo-European Languages. Motilal Banarsidass Publishing House. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Liddell; Scott. "A Greek-English Lexicon". lsj.gr. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 6, 2018. Diakses tanggal July 30, 2022.
πᾶς
- ↑ Liddell; Scott. "A Greek-English Lexicon". lsj.gr. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 6, 2018. Diakses tanggal July 30, 2022.
ὅλος
- ↑ Liddell; Scott. "A Greek–English Lexicon". lsj.gr. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 6, 2018. Diakses tanggal July 30, 2022.
κόσμος
- ↑ Lewis, C.T.; Short, S (1966) [1879]. A Latin Dictionary. Clarendon Press (aslinya diterbitkan oleh Oxford University Press). hlm. 1175, 1189–1190, 1881–1882. ISBN 978-0-19-864201-5.
- ↑ The Compact Edition of the Oxford English Dictionary. Vol. II. Oxford: Oxford University Press. 1971. hlm. 569, 909, 1900, 3821–3822. ISBN 978-0-19-861117-2.
- ↑ Silk, Joseph (2009). Horizons of Cosmology. Templeton Pressr. hlm. 208.
- ↑ Singh, Simon (2005). Big Bang: The Origin of the Universe. Harper Perennial. hlm. 560. Bibcode:2004biba.book.....S.
- ↑ Sivaram, C. (1986). "Evolution of the Universe through the Planck epoch". Astrophysics and Space Science. 125 (1): 189–199. Bibcode:1986Ap&SS.125..189S. doi:10.1007/BF00643984. S2CID 123344693.
- 1 2 Johnson, Jennifer A. (February 2019). "Populating the periodic table: Nucleosynthesis of the elements". Science (dalam bahasa Inggris). 363 (6426): 474–478. Bibcode:2019Sci...363..474J. doi:10.1126/science.aau9540. ISSN 0036-8075. PMID 30705182. S2CID 59565697.
- 1 2 3 Durrer, Ruth (2008). The Cosmic Microwave Background. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-84704-9.
- 1 2 Steane, Andrew M. (2021). Relativity Made Relatively Easy, Volume 2: General Relativity and Cosmology. Oxford University Press. ISBN 978-0-192-89564-6.
- ↑ Larson, Richard B. & Bromm, Volker (March 2002). "The First Stars in the Universe". Scientific American. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 11, 2015. Diakses tanggal June 9, 2015.
- ↑ Ryden, Barbara, "Introduction to Cosmology", 2006, eqn. 6.33
- 1 2 3 Urone, Paul Peter; et al. (2022). College Physics 2e. OpenStax. ISBN 978-1-951-69360-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Februari 2023. Diakses tanggal 13 Februari 2023.
- ↑ "Antimatter". Dewan Riset Fisika Partikel dan Astronomi. 28 Oktober 2003. Diarsipkan dari asli tanggal 7 Maret 2004. Diakses tanggal 10 Agustus 2006.
- ↑ Smorra C.; et al. (20 Oktober 2017). "A parts-per-billion measurement of the antiproton magnetic moment" (PDF). Nature. 550 (7676): 371–374. Bibcode:2017Natur.550..371S. doi:10.1038/nature24048. PMID 29052625. S2CID 205260736. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 30 Oktober 2018. Diakses tanggal 25 Agustus 2019.
- 1 2 Bars, Itzhak; Terning, John (2018). Extra Dimensions in Space and Time. Springer. hlm. 27–. ISBN 978-0-387-77637-8. Diakses tanggal 19 Oktober 2018.
- ↑ Crane, Leah (29 Juni 2024). de Lange, Catherine (ed.). "How big is the universe, really?". New Scientist. hlm. 31.
- ↑ Crockett, Christopher (20 Februari 2013). "What is a light-year?". EarthSky. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Februari 2015. Diakses tanggal 20 Februari 2015.
- 1 2 Rindler 1986, hlm. 196.
- ↑ Goodwin, S. P.; Gribbin, J.; Hendry, M. A. (Agustus 1998). "The relative size of the Milky Way". The Observatory. 118: 201–208. Bibcode:1998Obs...118..201G.
- ↑ Ribas, I.; Jordi, C.; Vilardell, F.; Fitzpatrick, E. L.; Hilditch, R. W.; Guinan, F. Edward (2005). "First Determination of the Distance and Fundamental Properties of an Eclipsing Binary in the Andromeda Galaxy". Astrophysical Journal. 635 (1): L37 – L40. arXiv:astro-ph/0511045. Bibcode:2005ApJ...635L..37R. doi:10.1086/499161. S2CID 119522151.
McConnachie, A.W.; Irwin, M.J.; Ferguson, A.M.N.; Ibata, R.A.; Lewis, G.F.; Tanvir, N. (2005). "Distances and metallicities for 17 Local Group galaxies". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 356 (4): 979–997. arXiv:astro-ph/0410489. Bibcode:2005MNRAS.356..979M. doi:10.1111/j.1365-2966.2004.08514.x. - ↑ Janek, Vanessa (20 Februari 2015). "How can space travel faster than the speed of light?". Universe Today. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 Desember 2021. Diakses tanggal 6 Juni 2015.
- ↑ "Is faster-than-light travel or communication possible? Section: Expansion of the Universe". Philip Gibbs. 1997. Diarsipkan dari asli tanggal 10 Maret 2010. Diakses tanggal 6 Juni 2015.
- ↑ Vardanyan, M.; Trotta, R.; Silk, J. (28 Januari 2011). "Applications of Bayesian model averaging to the curvature and size of the Universe". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society: Letters. 413 (1): L91 – L95. arXiv:1101.5476. Bibcode:2011MNRAS.413L..91V. doi:10.1111/j.1745-3933.2011.01040.x. S2CID 2616287.
- ↑ Don N. Page (2007). "Susskind's Challenge to the Hartle-Hawking No-Boundary Proposal and Possible Resolutions". Journal of Cosmology and Astroparticle Physics. 2007 (1): 004. arXiv:hep-th/0610199. Bibcode:2007JCAP...01..004P. doi:10.1088/1475-7516/2007/01/004. S2CID 17403084.
- ↑ Planck Collaboration (2016). "Planck 2015 results. XIII. Cosmological parameters". Astronomy & Astrophysics. 594: A13, Table 4. arXiv:1502.01589. Bibcode:2016A&A...594A..13P. doi:10.1051/0004-6361/201525830. S2CID 119262962.
- ↑ Berardelli, Phil (25 Maret 2010). "Galaxy Collisions Give Birth to Quasars". Science News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Maret 2022. Diakses tanggal 30 Juli 2022.
- ↑ Riess, Adam G.; Filippenko; Challis; Clocchiatti; Diercks; Garnavich; Gilliland; Hogan; Jha; Kirshner; Leibundgut; Phillips; Reiss; Schmidt; Schommer; Smith; Spyromilio; Stubbs; Suntzeff; Tonry (1998). "Observational evidence from supernovae for an accelerating universe and a cosmological constant". Astronomical Journal. 116 (3): 1009–1038. arXiv:astro-ph/9805201. Bibcode:1998AJ....116.1009R. doi:10.1086/300499. S2CID 15640044.
- ↑ Perlmutter, S.; Aldering; Goldhaber; Knop; Nugent; Castro; Deustua; Fabbro; Goobar; Groom; Hook; Kim; Kim; Lee; Nunes; Pain; Pennypacker; Quimby; Lidman; Ellis; Irwin; McMahon; Ruiz-Lapuente; Walton; Schaefer; Boyle; Filippenko; Matheson; Fruchter; et al. (1999). "Measurements of Omega and Lambda from 42 high redshift supernovae". Astrophysical Journal. 517 (2): 565–586. arXiv:astro-ph/9812133. Bibcode:1999ApJ...517..565P. doi:10.1086/307221. S2CID 118910636.
- ↑ Serway, Raymond A.; Moses, Clement J.; Moyer, Curt A. (2004). Modern Physics. Cengage Learning. hlm. 21. ISBN 978-1-111-79437-8.
- ↑ Fraknoi, Andrew; et al. (2022). Astronomy 2e. OpenStax. hlm. 1017. ISBN 978-1-951-69350-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Februari 2023. Diakses tanggal 14 Februari 2023.
- ↑ "The Nobel Prize in Physics 2011". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 April 2015. Diakses tanggal 16 April 2015.
- ↑ Overbye, Dennis (11 Oktober 2003). "A 'Cosmic Jerk' That Reversed the Universe". New York Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Juli 2017. Diakses tanggal 20 Februari 2017.
- ↑ Schutz, Bernard (2009). A First Course in General Relativity (Edisi 2nd). Cambridge University Press. hlm. 142, 171. ISBN 978-0-521-88705-2.
- 1 2 3 Mermin, N. David (2021) [2005]. It's About Time: Understanding Einstein's Relativity (Edisi Princeton Science Library paperback). Princeton University Press. ISBN 978-0-691-12201-4. OCLC 1193067111.
- ↑ Brill, Dieter; Jacobsen, Ted (2006). "Spacetime and Euclidean geometry". General Relativity and Gravitation. 38 (4): 643–651. arXiv:gr-qc/0407022. Bibcode:2006GReGr..38..643B. CiteSeerX 10.1.1.338.7953. doi:10.1007/s10714-006-0254-9. S2CID 119067072.
- ↑ Wheeler, John Archibald (2010). Geons, Black Holes, and Quantum Foam: A Life in Physics (dalam bahasa Inggris). W. W. Norton & Company. ISBN 978-0-393-07948-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Februari 2023. Diakses tanggal 17 Februari 2023.
- ↑ Kersting, Magdalena (Mei 2019). "Free fall in curved spacetime – how to visualise gravity in general relativity". Physics Education. 54 (3): 035008. Bibcode:2019PhyEd..54c5008K. doi:10.1088/1361-6552/ab08f5. hdl:10852/74677. ISSN 0031-9120. S2CID 127471222.
- ↑ Goldstein, Herbert; Poole, Charles P.; Safko, John L. (2002). Classical Mechanics (Edisi 3rd). San Francisco: Addison Wesley. ISBN 0-201-31611-0. OCLC 47056311.
- ↑ Goodstein, Judith R. (2018). Einstein's Italian Mathematicians: Ricci, Levi-Civita, and the Birth of General Relativity. Providence, Rhode Island: American Mathematical Society. hlm. 143. ISBN 978-1-4704-2846-4. OCLC 1020305599.
- ↑ Choquet-Bruhat, Yvonne (2009). General Relativity and the Einstein Equations. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-155226-7. OCLC 317496332.
- ↑ Prescod-Weinstein, Chanda (2021). The Disordered Cosmos: A Journey into Dark Matter, Spacetime, and Dreams Deferred (dalam bahasa American English). New York, New York: Bold Type Books. ISBN 978-1-5417-2470-9. OCLC 1164503847.
- ↑ "What is the Ultimate Fate of the Universe?". National Aeronautics and Space Administration. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 Desember 2021. Diakses tanggal 23 Agustus 2015.
- ↑ "WMAP – Shape of the Universe". map.gsfc.nasa.gov. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Maret 2019. Diakses tanggal 14 Februari 2023.
- ↑ Luminet, Jean-Pierre; Weeks, Jeffrey R.; Riazuelo, Alain; Lehoucq, Roland; Uzan, Jean-Philippe (9 Oktober 2003). "Dodecahedral space topology as an explanation for weak wide-angle temperature correlations in the cosmic microwave background". Nature (Naskah yang diajukan). 425 (6958): 593–595. arXiv:astro-ph/0310253. Bibcode:2003Natur.425..593L. doi:10.1038/nature01944. PMID 14534579. S2CID 4380713. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Mei 2021. Diakses tanggal 21 Agustus 2018.
- ↑ Roukema, Boudewijn; Buliński, Zbigniew; Szaniewska, Agnieszka; Gaudin, Nicolas E. (2008). "A test of the Poincare dodecahedral space topology hypothesis with the WMAP CMB data". Astronomy and Astrophysics. 482 (3): 747–753. arXiv:0801.0006. Bibcode:2008A&A...482..747L. doi:10.1051/0004-6361:20078777. S2CID 1616362.
- ↑ Aurich, Ralf; Lustig, S.; Steiner, F.; Then, H. (2004). "Hyperbolic Universes with a Horned Topology and the CMB Anisotropy". Classical and Quantum Gravity. 21 (21): 4901–4926. arXiv:astro-ph/0403597. Bibcode:2004CQGra..21.4901A. doi:10.1088/0264-9381/21/21/010. S2CID 17619026.
- ↑ Planck Collaboration (2014). "Planck 2013 results. XVI. Cosmological parameters". Astronomy & Astrophysics. 571: A16. arXiv:1303.5076. Bibcode:2014A&A...571A..16P. doi:10.1051/0004-6361/201321591. S2CID 118349591.
- ↑ "Planck reveals 'almost perfect' universe". Michael Banks. Physics World. 21 Maret 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 Maret 2013. Diakses tanggal 21 Maret 2013.
- ↑ Friederich, Simon (12 November 2021). "Fine-Tuning". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Center for the Study of Language and Information (CSLI), Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 Oktober 2023. Diakses tanggal 15 Februari 2022.
- ↑ Isaak, Mark, ed. (2005). "CI301: The Anthropic Principle". Index to Creationist Claims. TalkOrigins Archive. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 Juli 2014. Diakses tanggal 31 Oktober 2007.
- ↑ Fritzsche, Hellmut. "electromagnetic radiation | physics". Encyclopædia Britannica. hlm. 1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 Agustus 2015. Diakses tanggal 26 Juli 2015.
- ↑ "Physics 7: Relativity, Ruang Waktu dan Kosmologi" (PDF). University of California Riverside. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 5 September 2015. Diakses tanggal 26 Juli 2015.
- ↑ "Physics – for the 21st Century". learner.org. Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics Annenberg Learner. Diarsipkan dari asli tanggal 7 September 2015. Diakses tanggal 27 Juli 2015.
- ↑ "Dark matter – A history shapes by dark force". Timothy Ferris. National Geographic. 2015. Diarsipkan dari asli tanggal 4 Maret 2016. Diakses tanggal 29 Desember 2015.
- ↑ Redd, SPACE.com, Nola Taylor. "It's Official: The Universe Is Dying Slowly". Scientific American. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 Agustus 2015. Diakses tanggal 11 Agustus 2015.
- 1 2 Sean Carroll, Ph.D., Caltech, 2007, The Teaching Company, Dark Matter, Dark Energy: The Dark Side of the Universe, Guidebook Part 2. p. 46, Diakses 7 Oktober 2013, "...materi gelap: komponen materi tak terlihat yang pada dasarnya tidak berinteraksi, membentuk sekitar 25 persen dari kerapatan energi alam semesta... merupakan jenis partikel yang berbeda... sesuatu yang belum teramati di laboratorium..."
- 1 2 Peebles, P. J. E. & Ratra, Bharat (2003). "The cosmological constant and dark energy". Reviews of Modern Physics. 75 (2): 559–606. arXiv:astro-ph/0207347. Bibcode:2003RvMP...75..559P. doi:10.1103/RevModPhys.75.559. S2CID 118961123.
- ↑ Mandolesi, N.; Calzolari, P. (1986). "Large-scale homogeneity of the universe measured by the microwave background". Nature. 319 (6056): 751–753. doi:10.1038/319751a0.
- ↑ Gunn, Alistair (November 29, 2023). "How many galaxies are there in the universe? – Do astronomers know how many galaxies exist? How many can we see in the observable Universe?". BBC Sky at Night. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 3, 2023. Diakses tanggal December 2, 2023.
- ↑ "New Horizons spacecraft answers the question: How dark is space?". phys.org (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 15, 2021. Diakses tanggal January 15, 2021.
- ↑ Howell, Elizabeth (March 20, 2018). "How Many Galaxies Are There?". Space.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 28, 2021. Diakses tanggal March 5, 2021.
- ↑ Staff (2019). "How Many Stars Are There In The Universe?". European Space Agency. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 23, 2019. Diakses tanggal September 21, 2019.
- ↑ Marov, Mikhail Ya. (2015). "The Structure of the Universe". The Fundamentals of Modern Astrophysics. hlm. 279–294. doi:10.1007/978-1-4614-8730-2_10. ISBN 978-1-4614-8729-6.
- ↑ Mackie, Glen (February 1, 2002). "To see the Universe in a Grain of Taranaki Sand". Centre for Astrophysics and Supercomputing. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 30, 2012. Diakses tanggal January 28, 2017.
- ↑ Mack, Eric (March 19, 2015). "There may be more Earth-like planets than grains of sand on all our beaches – New research contends that the Milky Way alone is flush with billions of potentially habitable planets – and that's just one sliver of the universe". CNET. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 1, 2023. Diakses tanggal December 1, 2023.
- ↑ T. Bovaird, T.; Lineweaver, C.H.; Jacobsen, S.K. (March 13, 2015). "Using the inclinations of Kepler systems to prioritize new Titius–Bode-based exoplanet predictions". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 448 (4): 3608–3627. arXiv:1412.6230. doi:10.1093/mnras/stv221. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 1, 2023. Diakses tanggal December 1, 2023.
- ↑ Baker, Harry (July 11, 2021). "How many atoms are in the observable universe?". Live Science. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 1, 2023. Diakses tanggal December 1, 2023.
- ↑ Totani, Tomonori (February 3, 2020). "Emergence of life in an inflationary universe". Scientific Reports. 10 (1671) 1671. arXiv:1911.08092. Bibcode:2020NatSR..10.1671T. doi:10.1038/s41598-020-58060-0. PMC 6997386. PMID 32015390.
- ↑ "Mengungkap Rahasia Sebuah Galaksi Katai di Virgo". European Southern Observatory Press Release. ESO: 12. 3 Mei 2000. Bibcode:2000eso..pres...12. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Juli 2015. Diakses tanggal 3 Januari 2007.
- ↑ "Potret Galaksi Terbesar dari Hubble Menawarkan Pandangan Berdefinisi Tinggi Baru". NASA. 28 Februari 2006. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 Mei 2020. Diakses tanggal 3 Januari 2007.
- ↑ Gibney, Elizabeth (3 September 2014). "Alamat Baru Bumi: 'Tata Surya, Bima Sakti, Laniakea'". Nature. doi:10.1038/nature.2014.15819. S2CID 124323774. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Januari 2019. Diakses tanggal 21 Agustus 2015.
- ↑ "Grup Lokal". Fraser Cain. Universe Today. 4 Mei 2009. Diarsipkan dari asli tanggal 21 Juni 2018. Diakses tanggal 21 Agustus 2015.
- ↑ Devlin, Hannah (20 April 2015). "Astronom Menemukan Struktur Terbesar yang Diketahui di Alam Semesta Adalah ... Sebuah Lubang Besar". The Guardian. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 Februari 2017. Diakses tanggal 18 Desember 2016.
- ↑ "Content of the Universe – WMAP 9yr Pie Chart". wmap.gsfc.nasa.gov. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 September 2015. Diakses tanggal 26 Juli 2015.
- ↑ Rindler 1986, hlm. 202
- ↑ Liddle, Andrew (2003). An Introduction to Modern Cosmology (Edisi 2nd). John Wiley & Sons. ISBN 978-0-470-84835-7.. p. 2.
- ↑ Livio, Mario (2001). The Accelerating Universe: Infinite Expansion, the Cosmological Constant, and the Beauty of the Cosmos. John Wiley and Sons. hlm. 53. ISBN 978-0-471-43714-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 13, 2021. Diakses tanggal March 31, 2012.
- ↑ Peebles, P.J.E. & Ratra, Bharat (2003). "The cosmological constant and dark energy". Reviews of Modern Physics. 75 (2): 559–606. arXiv:astro-ph/0207347. Bibcode:2003RvMP...75..559P. doi:10.1103/RevModPhys.75.559. S2CID 118961123.
- ↑ Steinhardt, Paul J.; Turok, Neil (2006). "Why the cosmological constant is small and positive". Science. 312 (5777): 1180–1183. arXiv:astro-ph/0605173. Bibcode:2006Sci...312.1180S. doi:10.1126/science.1126231. PMID 16675662. S2CID 14178620.
- ↑ "Dark Energy". Hyperphysics. Diarsipkan dari asli tanggal 27 Mei 2013. Diakses tanggal 4 Januari 2014.
- ↑ Carroll, Sean (2001). "The cosmological constant". Living Reviews in Relativity. 4 (1) 1. arXiv:astro-ph/0004075. Bibcode:2001LRR.....4....1C. doi:10.12942/lrr-2001-1. PMC 5256042. PMID 28179856.
- ↑ "Planck captures portrait of the young universe, revealing earliest light". University of Cambridge. 21 Maret 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 April 2019. Diakses tanggal 21 Maret 2013.
- ↑ Davies, P. (1992). The New Physics: A Synthesis (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 1. ISBN 978-0-521-43831-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 Februari 2021. Diakses tanggal 17 Mei 2020.
- ↑ Persic, Massimo; Salucci, Paolo (1 September 1992). "The baryon content of the universe". Monthly Notices of the Royal Astronomical Society. 258 (1): 14P – 18P. arXiv:astro-ph/0502178. Bibcode:1992MNRAS.258P..14P. doi:10.1093/mnras/258.1.14P. S2CID 17945298.
- ↑ Shull, J. Michael; Smith, Britton D.; Danforth, Charles W. (1 November 2012). "The Baryon Census in a Multiphase Intergalactic Medium: 30% of the Baryons May Still Be Missing". The Astrophysical Journal. 759 (1): 23. arXiv:1112.2706. Bibcode:2012ApJ...759...23S. doi:10.1088/0004-637X/759/1/23. S2CID 119295243. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 21 September 2023. Diakses tanggal 27 Februari 2023.
- ↑ Macquart, J.-P.; Prochaska, J. X.; McQuinn, M.; Bannister, K. W. (28 Mei 2020). "A census of baryons in the Universe from localized fast radio bursts". Nature. 581 (7809): 391–395. arXiv:2005.13161. Bibcode:2020Natur.581..391M. doi:10.1038/s41586-020-2300-2. PMID 32461651. S2CID 256821489. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 November 2023. Diakses tanggal 27 Februari 2023.
- ↑ Flowers, Paul; et al. (2019). Chemistry 2e. OpenStax. hlm. 14. ISBN 978-1-947-17262-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Februari 2023. Diakses tanggal 17 Februari 2023.
- ↑ "The Nobel Prize in Physics 2001". NobelPrize.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 Februari 2023. Diakses tanggal 17 Februari 2023.
- ↑ Cohen-Tannoudji, Claude; Guery-Odelin, David (2011). Advances In Atomic Physics: An Overview (dalam bahasa Inggris). World Scientific. hlm. 684. ISBN 978-981-4390-58-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 Juni 2023. Diakses tanggal 17 Februari 2023.
- ↑ 't Hooft, G. (1997). In search of the ultimate building blocks (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 6. ISBN 978-0-521-57883-7.
- ↑ Clayton, Donald D. (1983). Principles of Stellar Evolution and Nucleosynthesis. The University of Chicago Press. hlm. 362–435. ISBN 978-0-226-10953-4.
- ↑ Veltman, Martinus (2003). Facts and Mysteries in Elementary Particle Physics. World Scientific. ISBN 978-981-238-149-1.
- 1 2 Braibant, Sylvie; Giacomelli, Giorgio; Spurio, Maurizio (2012). Particles and Fundamental Interactions: An Introduction to Particle Physics (Edisi 2nd). Springer. hlm. 1–3. ISBN 978-94-007-2463-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 26, 2016. Diakses tanggal January 27, 2016.
- ↑ Close, Frank (2012). Particle Physics: A Very Short Introduction. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-280434-1.
- ↑ Mann, Adam (August 20, 2022). "What Are Elementary Particles?". Live Science. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 17, 2023. Diakses tanggal August 17, 2023.
- ↑ Zwiebach, Barton (2022). Mastering Quantum Mechanics: Essentials, Theory, and Applications. MIT Press. hlm. 31. ISBN 978-0-262-04613-8.
- 1 2 Oerter, R. (2006). The Theory of Almost Everything: The Standard Model, the Unsung Triumph of Modern Physics (Kindle). Penguin Group. hlm. 2. ISBN 978-0-13-236678-6.
- ↑ Onyisi, P. (October 23, 2012). "Higgs boson FAQ". University of Texas ATLAS group. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 12, 2013. Diakses tanggal January 8, 2013.
- ↑ Strassler, M. (October 12, 2012). "The Higgs FAQ 2.0". ProfMattStrassler.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 12, 2013. Diakses tanggal January 8, 2013.
[Q] Why do particle physicists care so much about the Higgs particle?
[A] Well, actually, they don't. What they really care about is the Higgs field, because it is so important. [penekanan dalam teks asli] - ↑ Weinberg, Steven (2011). Dreams of a Final Theory: The Scientist's Search for the Ultimate Laws of Nature. Knopf Doubleday Publishing Group. ISBN 978-0-307-78786-6.
- 1 2 3 Allday, Jonathan (2002). Quarks, Leptons and the Big Bang (Edisi 2nd). IOP Publishing. ISBN 978-0-7503-0806-9.
- ↑ "Lepton (physics)". Encyclopædia Britannica. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 11, 2015. Diakses tanggal September 29, 2010.
- ↑ Harari, H. (1977). "Beyond charm". Dalam Balian, R.; Llewellyn-Smith, C.H. (ed.). Weak and Electromagnetic Interactions at High Energy, Les Houches, France, Jul 5 – Aug 14, 1976. Les Houches Summer School Proceedings. Vol. 29. North-Holland. hlm. 613.
- ↑ Harari H. (1977). "Three generations of quarks and leptons" (PDF). Dalam E. van Goeler; Weinstein R. (ed.). Proceedings of the XII Rencontre de Moriond. hlm. 170. SLAC-PUB-1974. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal May 13, 2020. Diakses tanggal May 29, 2020.
- ↑ "Experiment confirms famous physics model" (Press release). MIT News Office. April 18, 2007. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 5, 2013. Diakses tanggal June 2, 2015.
- ↑ "Thermal history of the universe and early growth of density fluctuations" (PDF). Guinevere Kauffmann. Max Planck Institute for Astrophysics. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal August 21, 2016. Diakses tanggal January 6, 2016.
- ↑ "First few minutes". Eric Chaisson. Harvard Smithsonian Center for Astrophysics. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 4, 2013. Diakses tanggal January 6, 2016.
- ↑ "Timeline of the Big Bang". The physics of the Universe. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 30, 2020. Diakses tanggal January 6, 2016.
- ↑ Dick, Steven J. (2020). "The Biophysical Cosmology: The Place of Bioastronomy in the History of Science". Space, Time, and Aliens. Cham: Springer International Publishing. hlm. 53–58. doi:10.1007/978-3-030-41614-0_4. ISBN 978-3-030-41613-3.
- 1 2 3 4 5 Zeilik, Michael; Gregory, Stephen A. (1998). "25-2". Introductory Astronomy & Astrophysics (Edisi 4th). Saunders College Publishing. ISBN 978-0-03-006228-5.
- ↑ (Raine & Thomas 2001, hlm. 12)
- 1 2 (Raine & Thomas 2001, hlm. 66)
- ↑ Friedmann, A. (1922). "Über die Krümmung des Raumes" (PDF). Zeitschrift für Physik. 10 (1): 377–386. Bibcode:1922ZPhy...10..377F. doi:10.1007/BF01332580. S2CID 125190902. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal May 15, 2016. Diakses tanggal August 13, 2015.
- ↑ (Raine & Thomas 2001, hlm. 122–123)
- 1 2 (Raine & Thomas 2001, hlm. 70)
- ↑ (Raine & Thomas 2001, hlm. 84)
- ↑ (Raine & Thomas 2001, hlm. 88, 110–113)
- ↑ Munitz, M. K. (1959). "One Universe or Many?". Journal of the History of Ideas. 12 (2): 231–255. doi:10.2307/2707516. JSTOR 2707516.
- ↑ Linde, A. (1986). "Eternal chaotic inflation". Mod. Phys. Lett. A. 1 (2): 81–85. Bibcode:1986MPLA....1...81L. doi:10.1142/S0217732386000129. S2CID 123472763. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 17, 2019. Diakses tanggal August 6, 2017.
Linde, A. (1986). "Eternally existing self-reproducing chaotic inflationary Universe" (PDF). Phys. Lett. B. 175 (4): 395–400. Bibcode:1986PhLB..175..395L. doi:10.1016/0370-2693(86)90611-8. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal November 27, 2013. Diakses tanggal March 17, 2011. - ↑ Everett, Hugh (1957). "Relative State Formulation of Quantum Mechanics". Reviews of Modern Physics. 29 (3): 454–462. Bibcode:1957RvMP...29..454E. doi:10.1103/RevModPhys.29.454. S2CID 17178479.
- ↑ Ball, Philip (February 17, 2015). "Too many worlds". Aeon.co. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 27, 2021. Diakses tanggal September 23, 2021.
- ↑ Peres, Asher (1995). Quantum Theory: Concepts and Methods. Kluwer Academic Publishers. hlm. 374. ISBN 0-7923-2549-4.
- ↑ Kent, Adrian (February 2015). "Does it Make Sense to Speak of Self-Locating Uncertainty in the Universal Wave Function? Remarks on Sebens and Carroll". Foundations of Physics (dalam bahasa Inggris). 45 (2): 211–217. arXiv:1408.1944. Bibcode:2015FoPh...45..211K. doi:10.1007/s10701-014-9862-5. ISSN 0015-9018. S2CID 118471198.
- ↑ Schlosshauer, Maximilian; Kofler, Johannes; Zeilinger, Anton (August 1, 2013). "A snapshot of foundational attitudes toward quantum mechanics". Studies in History and Philosophy of Science Part B: Studies in History and Philosophy of Modern Physics. 44 (3): 222–230. arXiv:1301.1069. Bibcode:2013SHPMP..44..222S. doi:10.1016/j.shpsb.2013.04.004. ISSN 1355-2198. S2CID 55537196.
- ↑ Mermin, N. David (July 1, 2012). "Commentary: Quantum mechanics: Fixing the shifty split". Physics Today. 65 (7): 8–10. Bibcode:2012PhT....65g...8M. doi:10.1063/PT.3.1618. ISSN 0031-9228.
New interpretations appear every year. None ever disappear.
- ↑ Cabello, Adán (2017). "Interpretations of quantum theory: A map of madness". Dalam Lombardi, Olimpia; Fortin, Sebastian; Holik, Federico; López, Cristian (ed.). What is Quantum Information?. Cambridge University Press. hlm. 138–143. arXiv:1509.04711. Bibcode:2015arXiv150904711C. doi:10.1017/9781316494233.009. ISBN 978-1-107-14211-4. S2CID 118419619.
- ↑ Garriga, Jaume; Vilenkin, Alexander (2007). "Many Worlds in One". Physical Review D. 64 (4) 043511. arXiv:gr-qc/0102010v2. doi:10.1103/PhysRevD.64.043511. S2CID 119000743.
- 1 2 Tegmark, Max (2003). "Parallel universes. Not just a staple of science fiction, other universes are a direct implication of cosmological observations". Scientific American. 288 (5): 40–51. arXiv:astro-ph/0302131. Bibcode:2003SciAm.288e..40T. doi:10.1038/scientificamerican0503-40. PMID 12701329.
- ↑ Tegmark, Max (2003). "Parallel Universes". Scientific American. 288 (5): 40–51. arXiv:astro-ph/0302131. Bibcode:2003SciAm.288e..40T. doi:10.1038/scientificamerican0503-40. PMID 12701329.
- ↑ Gil, Francisco José Soler; Alfonseca, Manuel (2013). "About the Infinite Repetition of Histories in Space". Theoria: An International Journal for Theory, History and Foundations of Science. 29 (3): 361. arXiv:1301.5295. doi:10.1387/theoria.9951. hdl:10486/664735. S2CID 52996408.
- ↑ Ellis, G. F. (2011). "Does the Multiverse Really Exist?". Scientific American. 305 (2): 38–43. Bibcode:2011SciAm.305a..38E. doi:10.1038/scientificamerican0811-38. PMID 21827123.
- ↑ Moskowitz, Clara (August 12, 2011). "Weird! Our Universe May Be a 'Multiverse,' Scientists Say". livescience. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 5, 2015. Diakses tanggal May 4, 2015.
- ↑ Gernet, J. (1993–1994). "Space and time: Science and religion in the encounter between China and Europe". Chinese Science. Vol. 11. hlm. 93–102.
- ↑ Blandford R. D. (2015). "A century of general relativity: Astrophysics and cosmology". Science. 347 (6226): 1103–1108. Bibcode:2015Sci...347.1103B. doi:10.1126/science.aaa4033. PMID 25745165. S2CID 30364122.
- ↑ Leeming, David A. (2010). Creation Myths of the World. ABC-CLIO. hlm. xvii. ISBN 978-1-59884-174-9.
In common usage the word 'myth' refers to narratives or beliefs that are untrue or merely fanciful; the stories that make up national or ethnic mythologies describe characters and events that common sense and experience tell us are impossible. Nevertheless, all cultures celebrate such myths and attribute to them various degrees of literal or symbolic truth.
- ↑ Eliade, Mircea (1975) [1964]. Myth and Reality (Religious Traditions of the World). Harper & Row (originally published by Allen & Unwin). ISBN 978-0-04-291001-7.
- ↑ Leonard, Scott A.; McClure, Michael (2004). Myth and Knowing: An Introduction to World Mythology. McGraw-Hill. ISBN 978-0-7674-1957-4.
- ↑ (Henry Gravrand, "La civilisation Sereer -Pangool") [in] Universität Frankfurt am Main, Frobenius-Institut, Deutsche Gesellschaft für Kulturmorphologie, Frobenius Gesellschaft, "Paideuma: Mitteilungen zur Kulturkunde, Volumes 43–44", F. Steiner (1997), pp. 144–145, ISBN 3-515-02842-0
- ↑ Young, Louise B. (1993). The Unfinished Universe. Oxford University Press. hlm. 21. ISBN 978-0-195-08039-1. OCLC 26399171.
- ↑ (Inggris) Entri Heraclitus di Stanford Encyclopedia of Philosophy
- ↑ (Inggris) Entri Parmenides di Stanford Encyclopedia of Philosophy
- ↑ (Inggris) Entri Zeno of Elea di Stanford Encyclopedia of Philosophy
- ↑ Alam semesta catatan di Internet Encyclopedia of Philosophy
- ↑ Will Durant, Our Oriental Heritage:
"Two systems of Hindu thought propound physical theories suggestively similar to those of Greece. Kanada, founder of the Vaisheshika philosophy, held that the world is composed of atoms as many in kind as the various elements. The Jains more nearly approximated to Democritus by teaching that all atoms were of the same kind, producing different effects by diverse modes of combinations. Kanada believed light and heat to be varieties of the same substance; Udayana taught that all heat comes from the Sun; and Vachaspati, like Newton, interpreted light as composed of minute particles emitted by substances and striking the eye."
- ↑ Stcherbatsky, F. Th. (1930, 1962), Buddhist Logic, Volume 1, p. 19, Dover, New York:
"The Buddhists denied the existence of substantial matter altogether. Movement consists for them of moments, it is a staccato movement, momentary flashes of a stream of energy... "Everything is evanescent",... says the Buddhist, because there is no stuff... Both systems [Sānkhya, and later Indian Buddhism] share in common a tendency to push the analysis of existence up to its minutest, last elements which are imagined as absolute qualities, or things possessing only one unique quality. They are called "qualities" (guna-dharma) in both systems in the sense of absolute qualities, a kind of atomic, or intra-atomic, energies of which the empirical things are composed. Both systems, therefore, agree in denying the objective reality of the categories of Substance and Quality,... and of the relation of Inference uniting them. There is in Sānkhya philosophy no separate existence of qualities. What we call quality is but a particular manifestation of a subtle entity. To every new unit of quality corresponds a subtle quantum of matter which is called guna, "quality", but represents a subtle substantive entity. The same applies to early Buddhism where all qualities are substantive... or, more precisely, dynamic entities, although they are also called dharmas ('qualities')."
- ↑ Viney, Donald Wayne (1985). "The Cosmological Argument". Charles Hartshorne and the Existence of God. SUNY Press. hlm. 65–68. ISBN 978-0-87395-907-0.
- ↑ Pearsall, Judy (1998). The New Oxford Dictionary Of English (Edisi 1st). Oxford: Clarendon Press. hlm. 1341. ISBN 978-0-19-861263-6.
- ↑ Edwards, Paul (1967). Encyclopedia of Philosophy. New York: Macmillan. hlm. 34.
- ↑ Encyclopedia of Philosophy ed. Paul Edwards. New York: Macmillan and Free Press. 1967. hlm. 34.
- ↑ Reid-Bowen, Paul (April 15, 2016). Goddess as Nature: Towards a Philosophical Thealogy. Taylor & Francis. hlm. 70. ISBN 978-1-317-12634-8.
- ↑ Lindberg, David C. (2007). The Beginnings of Western Science: The European Scientific Tradition in Philosophical, Religious, and Institutional Context (Edisi 2nd). University of Chicago Press. hlm. 12. ISBN 978-0-226-48205-7.
- ↑ Grant, Edward (2007). "Ancient Egypt to Plato". A History of Natural Philosophy: From the Ancient World to the Nineteenth Century. Cambridge University Press. hlm. 1–26. ISBN 978-0-521-68957-1.
- ↑ Horowitz, Wayne (1988). "The Babylonian Map of the World". Iraq. 50: 147–165. doi:10.2307/4200289. JSTOR 4200289. S2CID 190703581.
- ↑ Keel, Othmar (1997). The Symbolism of the Biblical World. Eisenbrauns. hlm. 20–22. ISBN 978-1-575-06014-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Maret 2024. Diakses tanggal 26 Februari 2023.
- ↑ Wright, Larry (Agustus 1973). "The astronomy of Eudoxus: Geometry or physics?". Studies in History and Philosophy of Science. 4 (2): 165–172. Bibcode:1973SHPSA...4..165W. doi:10.1016/0039-3681(73)90002-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 Maret 2023. Diakses tanggal 27 Februari 2023.
- ↑ Dicati, Renato (2013), "The Ancients' Astronomy", Stamping Through Astronomy (dalam bahasa Inggris), Milano: Springer Milan, hlm. 19–55, doi:10.1007/978-88-470-2829-6_2, ISBN 978-88-470-2828-9, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Maret 2024, diakses tanggal 27 Februari 2023
- ↑ Aristotle; Forster, E. S.; Dobson, J. F. (1914). De Mundo. Oxford: The Clarendon Press. hlm. 2.
- ↑ Goldstein, Bernard R. (1997). "Saving the phenomena: the background to Ptolemy's planetary theory". Journal for the History of Astronomy. 28 (1): 1–12. Bibcode:1997JHA....28....1G. doi:10.1177/002182869702800101. S2CID 118875902.
- ↑ Boyer, C. (1968) A History of Mathematics. Wiley, hlm. 54.
- ↑ Heath, Thomas (2013). Aristarchus of Samos, the Ancient Copernicus: A History of Greek Astronomy to Aristarchus, Together with Aristarchus's Treatise on the Sizes and Distances of the Sun and Moon (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 302. ISBN 978-1-108-06233-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 Maret 2024. Diakses tanggal 26 Februari 2023.
- ↑ Kolkata, James J. (2015). Elementary Cosmology: From Aristotle's Universe to the Big Bang and Beyond. IOP Publishing. doi:10.1088/978-1-6817-4100-0ch4. ISBN 978-1-68174-100-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 Juni 2018. Diakses tanggal 27 Februari 2023.
- ↑ Neugebauer, Otto E. (1945). "The History of Ancient Astronomy Problems and Methods". Journal of Near Eastern Studies. 4 (1): 166–173. doi:10.1086/370729. JSTOR 595168. S2CID 162347339.
the Chaldaean Seleucus from Seleucia
- ↑ Sarton, George (1955). "Chaldaean Astronomy of the Last Three Centuries B. C.". Journal of the American Oriental Society. 75 (3): 166–173 [169]. doi:10.2307/595168. JSTOR 595168.
the heliocentrical astronomy invented by Aristarchos of Samos and still defended a century later by Seleucos the Babylonian
- ↑ William P. D. Wightman (1951, 1953), The Growth of Scientific Ideas, Yale University Press, hlm. 38, di mana Wightman menyebutnya Seleukos dari Kaldea.
- ↑ Lucio Russo, Flussi e riflussi, Feltrinelli, Milano, Italia, 2003, ISBN 88-07-10349-4.
- ↑ (Van Der Waerden 1987, p. 527)
- ↑ (Van Der Waerden 1987, pp. 527–529)
- ↑ (Van Der Waerden 1987, pp. 534–537)
- ↑ Nasr, Seyyed H. (1993) [1964]. An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines (Edisi 2nd). edisi pertama oleh Harvard University Press, edisi kedua oleh State University of New York Press. hlm. 135–136. ISBN 978-0-7914-1515-3.
- ↑ Frautschi, Steven C.; Olenick, Richard P.; Apostol, Tom M.; Goodstein, David L. (2007). The Mechanical Universe: Mechanics and Heat (Edisi Advanced). Cambridge [Cambridgeshire]: Cambridge University Press. hlm. 58. ISBN 978-0-521-71590-4. OCLC 227002144.
- ↑ Misner, Thorne, dan Wheeler, hlm. 754.
- ↑ Ālī, Ema Ākabara. Science in the Quran. Vol. 1. Malik Library. hlm. 218.
- ↑ Ragep, F. Jamil (2001), "Tusi and Copernicus: The Earth's Motion in Context", Science in Context, 14 (1–2): 145–163, doi:10.1017/s0269889701000060, S2CID 145372613
- 1 2 Misner, Thorne, dan Wheeler, hlm. 755–756.
- 1 2 Misner, Thorne, dan Wheeler, hlm. 756.
- ↑ de Cheseaux JPL (1744). Traité de la Comète. Lausanne. hlm. 223ff.. Diterbitkan ulang sebagai Lampiran II dalam Dickson, F. P. (1969). The Bowl of Night: The Physical Universe and Scientific Thought (dalam bahasa American English). Cambridge, Massachusetts: M.I.T. Press. ISBN 978-0-262-54003-2.
- ↑ Olbers HWM (1826). "Unknown title". Bode's Jahrbuch. 111.. Diterbitkan ulang sebagai Lampiran I dalam Dickson, F. P. (1969). The Bowl of Night: The Physical Universe and Scientific Thought (dalam bahasa American English). Cambridge, Massachusetts: M.I.T. Press. ISBN 978-0-262-54003-2.
- ↑ Jeans, J. H. (1902). "The Stability of a Spherical Nebula". Philosophical Transactions of the Royal Society A. 199 (312–320): 1–53. Bibcode:1902RSPTA.199....1J. doi:10.1098/rsta.1902.0012. JSTOR 90845.
- ↑ Misner, Thorne, dan Wheeler, hlm. 757.
- ↑ Jones, Kenneth Glyn (February 1971). "The Observational Basis for Kant's Cosmogony: A Critical Analysis". Journal for the History of Astronomy (dalam bahasa Inggris). 2 (1): 29–34. Bibcode:1971JHA.....2...29J. doi:10.1177/002182867100200104. ISSN 0021-8286. S2CID 126269712. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 27, 2023. Diakses tanggal February 27, 2023.
- ↑ Smith, Robert W. (February 2008). "Beyond the Galaxy: The Development of Extragalactic Astronomy 1885–1965, Part 1". Journal for the History of Astronomy (dalam bahasa Inggris). 39 (1): 91–119. Bibcode:2008JHA....39...91S. doi:10.1177/002182860803900106. ISSN 0021-8286. S2CID 117430789. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 27, 2023. Diakses tanggal February 27, 2023.
- ↑ Sharov, Aleksandr Sergeevich; Novikov, Igor Dmitrievich (1993). Edwin Hubble, the discoverer of the big bang universe. Cambridge University Press. hlm. 34. ISBN 978-0-521-41617-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 23, 2013. Diakses tanggal December 31, 2011.
- ↑ "Cosmic Times". Imagine the Universe!. December 8, 2017. Diakses tanggal October 31, 2024.
- ↑ Einstein, Albert (1917). "Kosmologische Betrachtungen zur allgemeinen Relativitätstheorie". Preussische Akademie der Wissenschaften, Sitzungsberichte. 1917. (part 1): 142–152.
Bacaan lanjutan
[sunting | sunting sumber]- Van Der Waerden, B. L. (June 1987). "The Heliocentric System in Greek, Persian and Hindu Astronomy". Annals of the New York Academy of Sciences (dalam bahasa Inggris). 500 (1): 525–545. Bibcode:1987NYASA.500..525V. doi:10.1111/j.1749-6632.1987.tb37224.x. ISSN 0077-8923. S2CID 222087224.
- Landau LD, Lifshitz EM (1975). The classical theory of fields. Course of theoretical physics (dalam bahasa Inggris). Vol. 2 (Edisi 4th rev. English). Oxford; New York: Pergamon Press. hlm. 358–397. ISBN 978-0-08-018176-9.
- Liddell, Henry George & Scott, Robert (1994). A Greek-English lexicon. Oxford: Clarendon Pr. ISBN 978-0-19-864214-5.
- Misner, Charles W.; Thorne, Kip S.; Wheeler, John Archibald; Kip; Wheeler; J.A. (2008). Gravitation (Edisi 27. printing). New York, NY: Freeman. hlm. 703–816. ISBN 978-0-7167-0344-0.
- Raine, Derek; Thomas, Edwin G. (2001). An introduction to the science of cosmology. Series in astronomy and astrophysics. Bristol: Institute of Physics Publ. ISBN 978-0-7503-0405-4.
- Rindler, Wolfgang (1986). Essential relativity: special, general, and cosmological. Texts and monographs in physics. New York Heidelberg: Springer. hlm. 193–244. ISBN 978-0-387-10090-6.
- Rees, Martin J.; DK Publishing, Inc; Smithsonian Institution, ed. (2012). Universe (Edisi Rev.). New York: DK Pub. ISBN 978-0-7566-9841-6. OCLC 809932784.