Bank Ekspor Impor Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Bank Ekspor-Impor Indonesia
Badan Usaha Milik Negara
Sektor Perbankan
Nasib Digabung bersama Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya dan Bank Pembangunan Indonesia membentuk Bank Mandiri
Penerus Bank Mandiri
Didirikan 1824 sebagai N.V. Nederlandsche Handels Maatschappij
Ditutup Juli 1999
Markas Jakarta, Indonesia
Wilayah operasi
Indonesia
Produk Jasa keuangan
Pemilik Pemerintah Indonesia
Induk Kementerian BUMN

Bank Ekspor Impor Indonesia (disingkat Bank Exim) adalah sebuah bank pemerintah yang pernah ada di Indonesia. Spesialisasinya adalah dalam bidang pembiayaan perdagangan. Bank ini dimerger dengan tiga bank lainnya (Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, dan Bank Pembangunan Indonesia) pada Juli 1999 menjadi Bank Mandiri.

Bank Ekspor Impor Indonesia berawal dari perusahaan dagang Belanda N.V. Nederlansche Handels Maatschappij yang didirikan pada tahun 1824[1] dan mengembangkan kegiatannya di sektor perbankan pada tahun 1870. Pemerintah Indonesia menasionalisasi perusahaan ini pada tahun 1960, dan selanjutnya pada tahun 1965 perusahan ini digabung dengan Bank Negara Indonesia menjadi Bank Negara Indonesia Unit II. Pada tahun 1968 Bank Negara Indonesia Unit II dipecah menjadi dua unit, salah satunya adalah Bank Negara Indonesia Unit II Divisi Expor – Impor, yang akhirnya menjadi Bank Exim, bank pemerintah yang membiayai kegiatan ekspor dan impor.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Perusahaan dagang Nederlandsche Handel Maatsehappij (NHM) didirikan berkat restu dari Raja Belanda Willem I yang mengeluarkan Surat Keputusan Raja Tanggal 29 Maret 1824 nomor 163. Pada tahun 1824, perusahaan ini membuka kantor cabangnya di Betawi yang dikenal sebagai Factorij.[2] Menurut Alexander Claver[3], NHM dengan cepat tumbuh menjadi besar dengan Amsterdam menjadi pangkalan komoditas dagang besarnya. NHM juga mengoperasikan kapal-kapal untuk memuat dagangan sejak 1830.

NHM mendapat hak istimewa dari Raja dan Pemerintah Belanda untuk mengangkut serta menjual hasil bumi Indonesia yang sebagian besar diperoleh dari hasil Cultuurstelsel atau tanam paksa.[4] Anthony Reid dalam bukunya A History of Southeast Asia: Critical Crossroads menyebut NHM sebagai Kompeni Kecil.[5]

Seperti saudara tuanya VOC , ada pegawai-pegawai NHM yang terlibat penyelundupan.[6] NHM juga mulai melakukan diversifikasi usaha. Sebelum tanam paksa dihapus pada 1870, mulai dari awal 1850-an, NHM mulai membiayai perkebunan di Hindia Belanda. Skema pembiayaannya berupa uang muka panen, pinjaman hipotek dan penyertaan modal. [7] Pembiayaan usaha yang dibantu NHM di antaranya adalah bisnis tekstil. Pemerintah Belanda mendukung industri yang masih muda dengan menciptakan gerai buatan untuk produknya di Hindia Belanda. Pada sebuah pukulan pena, keputusan dibuat untuk melipatgandakan ekspor tekstil ke koloni tersebut, dan NHM diberi kontrak pertamanya pada tahun 1835.[3] NHM juga aktif dalam perdagangan valuta asing. Pada tahun 1880, NHM akhirnya menjadikan valas sebagai bisnis pentingnya. Kegiatan lainnya adalah, transaksi surat berharga, transfer via telegraf, dan pembiayaan impor di Hindia Belanda. Diversifikasi ke perbankan terutama dilakukan melalui De Factorij dan agen Singapura. NHM memiliki kelompok kegiatan ketiga, yang terkait dengan perannya yang lebih penting: berpartisipasi dalam pendirian industri.[7] NHM sendiri punya pabrik-pabrik gula dan memiliki lebih dari 17 pabrik gula.[8]

Pada abad ke-20, perusahaan ini berkantor pusat di Jalan Stasiun Kota nomor 1, Jakarta di gedung bergaya Niew Zakelijk atau Art Deco Klasik, yang kini menjadi Gedung Museum Bank Mandiri. Gedung rancangan J.J.J de Bruyn, A.P. Smits dan C. van de Linde ini mulai dibangun tahun 1929 dan resmi dibuka pada 14 Januari 1933 oleh C.J Karel Van Aalst, Presiden NHM ke-10. Gedung Museum ini sekarang termasuk dalam kawasan cagar budaya Kota Tua Jakarta.[2]

Hingga 1950an, NHM masih menjadi salah satu dari The Big Eight dari perusahaan-perusahaan Belanda yang cukup berpengaruh di Indonesia. Dalam dunia perbankan di Indonesia saat itu, NHM, bersama Escompto Bank dan National Handel Bank adalah The Big Three Bank. Di sana, orang-orang Belanda masih berkuasa. Namun, pada tahun 1950an bukan masa tenang untuk mereka karena nasionalisasi perusahaan asing membuat banyak aset milik Belanda menjadi milik negara.[2]

NHM dinasionalisasi berdasarkan Peraturan Pemerintah No.44 tahun 1960 lalu dilebur menjadi Bank Koperasi Tani dan Nelayan pada 5 Desember 1960. Namun, pada 31 Desember 1968 kembali diubah Bank Ekspor Impor Indonesia (BEII) berdasarkan Undang-undang no. 22 tahun 1968 menyusul Undang-undang Pokok Perbankan pada era Orde Baru.

Bank Ekspor Impor Indonesia telah lama dikenal nasabah dan masyarakat umum dengan nama BankExim. Sehubungan dengan hal tersebut dan memperhatikan perkembangan Bank Ekspor Impor Indonesia, serta untuk kepentingan publikasi dalam menciptakan citra korporasi pada masyarakat, maka sejak awal tahun 1990, manajemen secara resmi telah menggunakan nama BankExim sebagai akronim.

Pada awalnya aktivitas BankExim adalah pembiayaan produksi dan pemasaran komoditas ekspor. Tetapi setelah dua dekade BankExim berkembang dan memperluas aktivitasnya meliputi perbankan ritel, pinjaman usaha (corporate lending), investasi, dan kegiatan perbankan internasional (international operations). BankExim menyediakan produk-produk jasa dibidang keuangan yang mencakup skala bisnis kecil, sedang dan besar dalam berbagai macam sektor di bidang ekonomi, khususnya yang mendukung kegiatan ekspor.[9]

Belakangan, bersama Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, dan Bank Pembangunan Indonesia, bank ini digabung menjadi Bank Mandiri pada 2 Oktober 1998.[2]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Matanasi, Petrik. "Bapindo: Penerus BIN Yang Digarong Eddy Tansil - Tirto.ID". tirto.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-04-09. 
  2. ^ a b c d Matanasi, Petrik. "NHM, "Kompeni Kecil" Cikal Bakal Bank Mandiri - Tirto.ID". tirto.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-04-09. 
  3. ^ a b Alexander., Claver,. Dutch commerce and Chinese merchants in Java : colonial relationships in trade and finance, 1800-1942. Leiden. ISBN 9004256571. OCLC 893909815. 
  4. ^ Dumadi, Sagimun Mulus (1988). Jakarta dari Tepian Air Ke Kota Proklamasi. Jakarta: Dinas Museum dan Sejarah Pemprov DKI Jakarta. 
  5. ^ 1939-, Reid, Anthony,. A history of Southeast Asia : critical crossroads. Chichester, West Sussex. ISBN 1118512936. OCLC 893202848. 
  6. ^ 1948-, Poelinggomang, Edward L. (Edward Lamberthus),. Makassar abad XIX : studi tentang kebijakan perdagangan maritim (edisi ke-Cetakan kedua). Jakarta. ISBN 602424164X. OCLC 962743140. 
  7. ^ a b Hubert,, Bonin,. Colonial and imperial banking history. London. ISBN 1317218914. OCLC 932622840. 
  8. ^ 1955-, Zed, Mestika, (2003). Kepialangan, politik, dan revolusi : Palembang, 1900-1950 (edisi ke-Cet. 1). Jakarta: LP3ES. ISBN 9793330015. OCLC 53305485. 
  9. ^ "Situs Bank Exim dari Archive.org". web.archive.org. Diakses tanggal 2018-08-08.