Surat Yohanes yang Ketiga

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Surat 3 Yohanes)
Langsung ke: navigasi, cari
2 Yohanes       Surat Yohanes yang Ketiga       Surat Yudas
Yohanes - Minuscule 482

Gambar Rasul Yohanes di minuscule 482.
Kitab: Surat 3 Yohanes
Bagian Alkitab: Perjanjian Baru
Kitab ke- 25
Kategori: Surat-surat Am

Surat Yohanes yang Ketiga adalah bagian dari Perjanjian Baru dalam Alkitab Kristen. Merupakan surat yang ditujukan untuk melawan para pemimpin palsu yang menganggu kehidupan jemaat.[1] Surat ini ditulis oleh "pemimpin jemaat" (Rasul Yohanes) kepada seorang pemuka jemaat yang bernama Gayus.[1] Penulis surat ini memuji Gayus karena bantuannya kepada orang-orang Kristen lainnya.[1] Ia juga memperingatkan Gayus terhadap seorang laki-laki bernama Diotrefes.[1] Gayus dalam 3 Yohanes tidak diketahui secara jelas, yang cukup jelas hanyalah ia memegang peranan penting dalam jemaat setempat.[2] Surat ini ditutup seperti 2 Yohanes. Dikirim salam dari teman-teman Gayus dan kepada sahabat-sahabat ditempat tinggal yang isinya adalah bagaimana seharusnya hidup berjemaat.[2]

Penulis[sunting | sunting sumber]

Surat 3 Yohanes sebetulnya merupakan sebuah kesatuan dengan surat 2 Yohanes.[3] Pengarang surat ini menyebut dirinya penatua (3 Yoh 1).[3] Sebutan penatua sebetulnya menunjuk pada dua kemungkinan:[1]

  1. Seorang anggota presbuterion yang tak dikenal, yang menggunakan sebutan itu dengan maksud tertentu dan tidak diketahui.[1]
  2. Seorang yang oleh Papias, Irenaeus, dan Klemens (Clemens) disebut sebagai penjaga tradisi apostolik.[1]

Waktu Penulisan[sunting | sunting sumber]

Surat ini diyakini ditulis antara tahun 60-65 M.[4] Pendapat lain memberi perkiraan tahun 90-100.[5]

Ayat-ayat terkenal[sunting | sunting sumber]

  • 3 Yohanes 1:5: Saudaraku yang kekasih, engkau bertindak sebagai orang percaya, di mana engkau berbuat segala sesuatu untuk saudara-saudara, sekalipun mereka adalah orang-orang asing.
  • 3 Yohanes 1:11: Saudaraku yang kekasih, janganlah meniru yang jahat, melainkan yang baik. Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah.

Sifat dan Maksud[sunting | sunting sumber]

Surat Yohanes yang ketiga memiliki permasalahan dan situasi yang sama dengan Surat 1 Yohanes dan 2 Yohanes.[6] Dalam surat ini juga terdapat pengajar-pengajar palsu yang mengajarkan ajaran yang bertentangan dengan kekristenan. [6] Dengan demikian, surat ini memiliki maksud untuk memperingatkan para pembacanya agar siap siaga menghadapi para pengajar sesat. [6]

Muatan Teologi[sunting | sunting sumber]

Mengambil Bagian Dalam Pekerjaan Gereja[sunting | sunting sumber]

Dalam surat ini, terdapat seorang tokoh yang berperan yaitu yang bernama Gayus.[7] Sang penatua dalam surat ini memuji kebaikan Gayus sebagai contoh yang patut ditiru.[7] Dia menyatakan tindakan menolong para utusan gerejawi merupakan tindakan yang seharusnya dilakukan seluruh umat Kristen.[7] Dalam hubungan ini, yaitu menolong para utusan, Gayus telah mengambil bagian dalam pekerjaan untuk kebenaran.[7]

Isi[sunting | sunting sumber]

  • Pendahuluan 1-4
  • Gayus dipuji 5-8
  • Diotrefes disalahkan 9-10
  • Demetrius dipuji 11-12
  • Penutup 13-15

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Surat Yohanes yang Ketiga
Didahului oleh:
Surat 2 Yohanes
Perjanjian Baru
Alkitab
Diteruskan oleh:
Surat Yudas

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f g Bambang Subandrijo. 2010. Menyingkap Pesan-pesan Perjanjian Baru 2. Bandung: Bina Media Informasi. Hal. 130.
  2. ^ a b C. Groenen. 1984. Pengantar ke Dalam Perjanjian Baru. Yogyakarta: Kanisius. Hlm.394-398.
  3. ^ a b M. E . Duyverman. 1992. Pembimbing ke Dalam Perjanjian Baru. Jakarta: BPK Gunung Mulia. hal. 200.
  4. ^ John Arthur Thomas Robinson (1919-1983). "Redating the New Testament". Westminster Press, 1976. 369 halaman. ISBN 10: 1-57910-527-0; ISBN 13: 978-1-57910-527-3
  5. ^ W. G. Kummel, "Introduction to the New Testament" (Heidelberg i963),ET 1966; 21975.
  6. ^ a b c D. Guthrie, dkk. 2003. Tafsiran Alkitab Masa Kini 3 Matius-Wahyu. Jakarta: Yayasan Bina Kasih/OMF. hal.877.
  7. ^ a b c d Samuel Benyamin Hakh. 2010. Perjanjian Baru: Sejarah, Pengantar dan pokok-pokok Teologisnya. Bandung: Bina Media Informasi. Hal. 367.

Pustaka tambahan[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]