Pupuk

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Pupuk kandang, ditumpuk di tepi ladang.

Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik.[1] Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk berbeda dari suplemen. Pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Meskipun demikian, ke dalam pupuk, khususnya pupuk buatan, dapat ditambahkan sejumlah material suplemen.

Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan. Pupuk dapat diberikan lewat tanah ataupun disemprotkan ke daun. Salah satu jenis pupuk organik adalah kompos.

Macam-macam pupuk[sunting | sunting sumber]

Dalam praktik sehari-hari, pupuk biasa dikelompok-kelompokkan untuk kemudahan pembahasan. Pembagian itu berdasarkan sumber bahan pembuatannya, bentuk fisiknya, atau berdasarkan kandungannya.

Pupuk berdasarkan sumber bahan[sunting | sunting sumber]

Dilihat dari sumber pembuatannya, terdapat dua kelompok besar pupuk: (1) pupuk organik atau pupuk alami (misal pupuk kandang dan kompos) dan (2) pupuk kimia atau pupuk buatan. Pupuk organik mencakup semua pupuk yang dibuat dari sisa-sisa metabolisme atau organ hewan dan tumbuhan, sedangkan pupuk kimia dibuat melalui proses pengolahan oleh manusia dari bahan-bahan mineral. Pupuk kimia biasanya lebih "murni" daripada pupuk organik, dengan kandungan bahan yang dapat dikalkulasi. Pupuk organik sukar ditentukan isinya, tergantung dari sumbernya; keunggulannya adalah ia dapat memperbaiki kondisi fisik tanah karena membantu pengikatan air secara efektif.

Pupuk berdasarkan bentuk fisik[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan bentuk fisiknya, pupuk dibedakan menjadi pupuk padat dan pupuk cair. Pupuk padat diperdagangkan dalam bentuk onggokan, remahan, butiran, atau kristal. Pupuk cair diperdagangkan dalam bentuk konsentrat atau cairan. Pupuk padatan biasanya diaplikan ke tanah/media tanam, sementara pupuk cair diberikan secara disemprot ke tubuh tanaman.

Pupuk berdasarkan kandungannya[sunting | sunting sumber]

Terdapat dua kelompok pupuk berdasarkan kandungan: pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal mengandung hanya satu unsur, sedangkan pupuk majemuk paling tidak mengandung dua unsur yang diperlukan. Terdapat pula pengelompokan yang disebut pupuk mikro, karena mengandung hara mikro (micronutrients). Beberapa merk pupuk majemuk modern sekarang juga diberi campuran zat pengatur tumbuh atau zat lainnya untuk meningkatkan efektivitas penyerapan hara yang diberikan.

Pupuk organik[sunting | sunting sumber]

Kotak pengomposan di halaman rumah
Pembuatan pupuk kompos skala komersial

Pupuk organik mencakup semua bahan yang dihasilkan dari makhluk hidup dan bisa digunakan untuk menyuburkan tanaman, seperti kotoran hewan, kotoran cacing, kompos, rumput laut, guano, dan bubuk tulang. Kotoran hewan merupakan limbah yang seringkali menjadi masalah lingkungan, sehingga penggunaan kotoran hewan sebagai pupuk dapat menguntungkan secara lingkungan dan pertanian. Tulang hewan sisa penyembelihan hewan bisa dijadikan bubuk tulang yang kaya kandungan fosfat.

Manfaat pupuk organik[sunting | sunting sumber]

Pupuk organik diketahui mampu meningkatkan keanekaragaman hayati pertanian dan produktivitas tanah secara jangka panjang.[2][3] Pupuk organik juga dapat menjadi sarana sekuestrasi karbon ke tanah.[4][5][6]

Nutrisi organik meningkatkan keanekaragaman hayati tanah dengan menyediakan bahan organik dan nutrisi mikro bagi organisme penghuni tanah seperti jamur mikoriza yang membantu tanaman menyerap nutrisi,[7] dan dapat mengurangi input pupuk.[8]

Kerugian pupuk organik[sunting | sunting sumber]

Pupuk organik merupakan pupuk yang bersifat kompleks karena ketersediaan senyawa yang ada pada pupuk tidak berupa unsur ataupun molekul sederhana yang dapat diserap oleh tanah secara langsung. Kadar nutrisi yang tersedia sangat bervariasi dan tidak dalam bentuk yang tersedia secara angsung bagi tanaman sehingga membutuhkan waktu lama untuk diserap oleh tanaman.[9]

Beberapa limbah yang dikomposkan, jika tidak diolah secara tepat, dapat menjadi sarana pertumbuhan patogen yang merugikan tanaman.[10]

Perbandingan dengan pupuk anorganik[sunting | sunting sumber]

Kadar nutrisi, tingkat kelarutan, dan laju pelepasan nutrisi pupuk organik umumnya lebih rendah dibandingkan pupuk anorganik.[11][12] Secara umum, keberadaan nutrisi pada pupuk organik lebih terlarut ke antara molekul tanah, namun juga tidak lebih tersedia dalam wujud yang bisa dimanfaatkan secara langsung oleh tanaman.

Berdasarkan studi dari Universitas California, semua pupuk organik diklasifikasikan sebagai pupuk dengan laju pelepasan yang lambat (slow release fertliizer) sehingga tidak menyebabkan memar (burn) pada tanaman meski kadar nitrogen pada pupuk organik berlebih.[13] Gejala burn merupakan gejala umum yang ditemukan pada tanaman ketika pemberian pupuk kimia dilakukan secara berlebihan.

Kualitas pupuk organik dari kompos dan sumber lainnya dapat bervariasi dari satu proses produksi ke proses produksi berikutnya.[14] Tanpa pengujian secara sampling terlebih dahulu, tingkat nutrisi yang akan diterima tanaman tidak bisa diketahui secara pasti.

Sumber pupuk organik[sunting | sunting sumber]

Hewan[sunting | sunting sumber]

Kotoran hewan yang terdekomposisi merupakan sumber pupuk organik

Urea dari kotoran hewan (dan juga manusia) dapat digunakan untuk menjadi sumber pupuk organik.[15] Sebuah firma di Belanda telah mampu mengubah urin manusia menjadi struvite yang dapat digunakan sebagai pupuk.[16]

Namun limbah perkotaan yang kemungkinan telah tercampur obat-obatan, polusi, hormon buatan, logam berat, plastik, dan sebagainya tidak dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk untuk digunakan pada usaha pertanian organik.[17][18][19]

Penelitian yang dilaukan oleh Agricultural Research Service (ARS) mennjukan bahwa kotoran ayam dapat menjadikan kondisi tanah lebih baik bagi pertumbuhan tanaman dibandingkan dengan penggunaan pupuk anorganik. ARS melakukan studi tersebut kepada perkebunan kapas dan menemukan bahwa kapas menghasilkan 12% lebih banyak dibandingkan dengan penggunaan pupuk anorganik. ARS juga memperkirakan harga kotoran ayam saat ini hanya $17 per ton, jauh lebih murah dibandingkan dengan jumlah manfaat yang dapat disediakan pupuk anorganik pada kemampuan pengkondisian tanah yang setara yang sebesar $78 per ton.[20]

Tepung tulang, tepung darah, tepung ikan, dan emulsi ikan juga dapat digunakan sebagai pupuk.[21][22]

Tumbuhan[sunting | sunting sumber]

Tanaman penutup legum (misal alfalfa) seringkali ditumbuhkan di sela-sela tanaman perkebunan untuk memperkaya tanah dengan nitrogen melalui proses pengikatan nitrogen dari atmosfer[23] dan memperkaya kandungan fosfor melalui mobilisasi nutrisi.[24]

Salah satu studi yang dilakukan ARS menemukan bahwa alga dapat digunakan untuk menangkap nitrogen dan fosfor yang dilepaskan lahan usaha tani ke lingkungan melalui aliran air permukaan (surface runoff). Alga ini dapat digunakan untuk menyaring limbah pertanian, yang lalu dapat dikembalikan lagi ke tanah sebagai pupuk. Laju pelepasan nutrisinya setara dengan pupuk anorganik sehingga dapat digunakan pada pembibitan.[25]

Limbah industri kayu seperti serbuk gergaji dan kepingan kayu, juga dapat digunakan sebagai pupuk.[26]

Pupuk anorganik[sunting | sunting sumber]

Secara umum, tumbuhan hanya menyerap nutrisi yang diperlukan jika terdapat dalam bentuk senyawa kimia yang mudah terlarut. Nutrisi dari pupuk organik hanya dilepaskan ke tanah melalui pelapukan yang dapat memakan waktu lama. Pupuk anorganik memberikan nutrisi yang langsung terlarut ke tanah dan siap diserap tumbuhan tanpa memerlukan proses pelapukan.

Tiga senyawa utama dalam pupuk anorganik yaitu nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K). Kandungan NPK dihitung dengan pemeringkatan NPK yang memberikan label keterangan jumlah nutrisi pada suatu produk pupuk anorganik.

Secara umum, nutrisi NPK yang siap diserap oleh tanaman pada pupuk anorganik mencapai 64%, jauh lebih tinggi dibandingkan pupuk organik yang hanya menyediakan di bawah 1% dari berat pupuk yang diberikan.[27] Inilah yang menyebabkan mengapa pupuk organik harus diberikan dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan pupuk organik.

Pupuk nitrogen dibuat dengan menggunakan proses Haber yang ditemukan pada tahun 1915. Proses ini menggunakan gas alam sebagai sumber hidrogen, dan gas nitrogen dari udara pada temperatur dan tekanan yang tinggi dengan bantuan katalis menghasilkan amonia sebagai produknya. AMonia dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk lainnya seperti amonium nitrat dan urea. Pupuk ini dapat dilarutkan terlebih dahulu dengan air. Sebelum ditemukannya proses Haber, mineral seperti natrium nitrat ditambang untuk dijadikan sumber pupuk nitrogen anorganik. Mineral ini masih ditambang sampai sekarang.

Proses lainnya dalam pembuatan pupuk organik adalah proses Odda yang disebut juga dengan proses nitrofosfat. Bebatuan fosfat dengan kadar fosfor hingga 20% dilarutkan ke asam nitrat untuk menghasilkan asam fosfat dan kalsium nitrat. Bebatuan fosfat juga bisa diproses menjadi mineral P2O5 dengan bantuan asam sulfat. Melalui tungku listrik, mineral fosfat juga bisa direduksi menjadi fosfat murni, namun proses ini sangat mahal.

Kalium secara komersial dapat ditemukan di berbagai tempat mulai dari bebatuan di dalam bumi hingga sedimen di dasar laut. Bebatuan yang mengandung kalium seringkali berada dalam bentuk kalium klorida yang juga ditemukan bersamaan dengan mineral natrium klorida. Bebatuan yang mengandung kalium ditambang dengan bantuan air panas sehingga larut. Larutan ini diuapkan dengan bantuan sinar matahari. Senyawa amina digunakan untuk memisahkan KCl dengan NaCl.[28]

Penggunaan pupuk organik secara komersial telah berkembang dan meningkat hingga 20 kali lipat dibandingkan 50 tahun yang lalu dengan jumlah konsumsi saat ini mencapai 100 juta ton nitrogen anorganik per tahun.[29] Tanpa pupuk anorganik, diperkirakan sepertiga bahan pangan saat ini tidak dapat berproduksi.[30] Penggunaan pupuk fosfat juga meningkat dari 9 juta ton (1960) menjadi 40 juta ton (2000). Setiap hektare tanaman jagung membutuhkan antara 30 hingga 50 kilogram pupuk fosfat, sedangkan kedelai membutuhkan 20-25 kg.[31] Yara International merupakan produsen pupuk nitrogen anorganik terbesar di dunia.[32]

Pengguna utama pupuk nitrogen anorganik[33]
Negara Total penggunaan nitrogen

(Metrik ton per tahun)

Penggunaan untuk bahan pangan
dan produksi pakan ternak

(Metrik ton per tahun)

China 18.7 3.0
Amerika Serikat 9.1 4.7
Prancis 2.5 1.3
Jerman 2.0 1.2
Brazil 1.7 0.7
Kanada 1.6 0.9
Turki 1.5 0.3
Inggris 1.3 0.9
Meksiko 1.3 0.3
Spanyol 1.2 0.5
Argentina 0.4 0.1

Penerapan[sunting | sunting sumber]

Pupuk anorganik digunakan di semua jenis tanaman pertanian dengan jumlah pemberian bergantung pada jenis tanaman dan tingkat kesuburan tanah saat ini. Misal tanaman pertanian jenis legum (seperti kedelai) tidak membutuhkan pupk nitrogen anorganik sebanyak tanaman lain karena mampu mengikat nitrogen.

Namun penerapan pupuk anorganik berlebih mampu menyebabkan peningkatan keasaman tanah karena mineral yang tidak dimanfaatkan mampu bereaksi dengan air yang ada di tanah membentuk senyawa asam. Untuk mencegah hal ini, status nutrisi dari tanaman dan tanah perlu dinilai sebelum penerapan pupuk anorganik.

Masalah lingkungan[sunting | sunting sumber]

Dampak negatif pupuk anorganik[sunting | sunting sumber]

Polusi air[sunting | sunting sumber]

Nutrisi pada pupuk anorganik, terutama nitrat, dapat mencemari lingkungan alam dan mengganggu kehidupan manusia jika terbilas oleh air hujan dan mengalir dari lahan pertanian hingga ke perairan setempat dan air tanah.[34][35][36] Jumlah pupuk anorganik yang masuk ke perairan cenderung sulit untuk dihitung dan diperkirakan dampaknya secara kuantitatif.[37]

Sindrom bayi biru[sunting | sunting sumber]

Pembilasan pupuk nitrogen dari kawasan pertanian mampu mencemari air tanah.[38][39][40] Penggunaan amonium nitrat anorganik secara umum bersifat membahayakan air tanah karena tanaman lebih mudah menyerap ion amonium dibandingkan ion nitrat untuk mendapatkan nitrogen, sehingga ion nitrat yang berlebih tersebut akan terbilas dan mencemari air tanah.[41] Kadar nitrat di atas 10 miligram per liter (10 ppm) pada air tanah mampu menyebabkan sindrom bayi biru.[42]

Kontaminasi zat pengotor[sunting | sunting sumber]

Setiap pupuk anorganik berbahan dasar mineral dapat mengandung zat pengotor berupa fluorida dan logam berat seperti kadimum dan uranium tergantung dari di mana dan bagaimana bahan mineral ditambang. Bahan pengotor tersebut dapat dihilangkan, namun akan meningkatkan biaya prduksi secara signifikan sehingga tidak dilakukan oleh sebagian besar industri pupuk. Senyawa pengotor ini dapat mempengaruhi kualitas tanah hingga meracuni tanaman.

Ketergantungan terhadap pupuk anorganik[sunting | sunting sumber]

Petani secara tidak sadar menjadi "kecanduan" pupuk anorganik karena penggunaan pupuk anorganik secara jangka panjang mematikan organisme tanah yang bermanfaat sehingga penyediaan nutrisi secara organik tidak akan secepat tanah biasa. Organisme tanah seperti mikoriza, fungi, dan berbagai bakteri mampu menguraikan senyawa organik. Ketidakseimbangan nutrisi tanah akibat pupuk anorganik mematikan sebagian besar organisme tanah dan menyebabkan peningkatan keasaman tanah.[43]

Hilangnya unsur mikro[sunting | sunting sumber]

Berbagai pupuk anorganik tidak mengandung unsur hara mikro karena dibuat dalam bentuk murni. Unsur hara mikro ini dapat secara bertahap menghilang dari tanah karena diserap oleh tumbuhan. Hilangnya unsur mikro telah dikaitkan dengan studi turunnya kandungan mineral pada buah dan sayur yang dihasilkan suatu usaha tani.[44] Di Australia, defisiensi seng, tembaga, mangan, besi, dan molibden menjadi pembatas jumlah hasil pertanian dan peternakan yang dihasilkan pada tahun 1940 sampai 1950an.[45] Sejak kejadian ini, nutrisi hara mikro mulai ditambahkan pada produksi pupuk anorganik.[45]

Berbagai tanah di seluruh dunia yang kekurangan nutrisi seng terkait pula dengan defisiensi seng pada asupan nutrisi manusia yang hidup di sekitarnya.[46]

Pemupukan berlebih[sunting | sunting sumber]

Memar (burn) karena pupuk berlebih

Pemupukan berlebih dapat berakibat sama buruknya dengan kekurangan nutrisi.[47] Gejala seperti fertilizer burn terjadi karena pupuk diberikan terlalu banyak, sehingga menyebabkan daun mengering hingga menyebabkan kematian tanaman.[48] Tingkat gejala memar terkait dengan indeks kadar garam pada pupuk dan tanah.[49]

Konsumsi energi tinggi[sunting | sunting sumber]

Di Amerika Serikat, 317 miliar kaki kubik gas alam dikonsumsi untuk memproduksi amonia setiap tahunnya.[50] Secara keseluruhan di seluruh dunia, konsumsi gas alam untuk produksi amonia diperkirakan mencapai 5% dari total gas alam yang dikonsumsi, yang kurang lebih setara dengan 2% total kebutuhan energi dunia.[51]

Amonia diproduksi dengan memanfaatkan gas alam dalam jumlah besar dengan kebutuhan energi yang tinggi pula untuk meningkatkan tekanan dan temperatur dalam prosesnya. Biaya pembelian gas alam memakan biaya produksi amonia sebesar 90%.[52] Peningkatan harga gas alam tidak terlepas dari peningkatan permintaan komoditas ini untuk memproduksi pupuk sehingga ikut meningkatkan harga pupuk.[53]

Kontribusi terhadap perubahan iklim[sunting | sunting sumber]

Gas rumah kaca (GRK) berupa karbon dioksida, metana, dan nitro oksida ketiganya dihasilkan dari industri pupuk, baik disengaja maupun tidak. Metana dan nitro oksida merupakan senyawa gas rumah kaca yang lebih berbahaya dibandingkan gas karbon dioksida, dan dampak keduanya dapat disetarakan dengan karbon dioksida. Diperkirakan setiap kilogram amonium nitrat yang dihasilkan, dua kilogram GRK setara karbon dioksia dilepaskan oleh industri.[54] Selain itu, pupuk nitrogen yang sudah terlarut ke dalam tanah mampu dilepaskan oleh bakteri menjadi nitro oksida melalui proses denitrifikasi. Semakin banyak nitrogen di dalam tanah yang tersedia, laju proses denitrifikasi menjadi lebih cepat sesuai dengan kesetimbangan kimia.

Dampak terhadap mikoriza[sunting | sunting sumber]

Tumbuhan tidak lagi bergantung pada mikoriza dalam pemecahan senyawa organik dan penyerapan nutrisi karena ketersediaan nutrisi lebih banyak didapatkan dari pupuk anorganik. Hubungan simbiosis ini dapat terlepas dan mempengaruhi ekosistem tanah secara keseluruhan.[55]

Eutrofikasi[sunting | sunting sumber]

Pupuk secara umum mengandung senyawa yang mampu mempercepat pertumbuhan tumbuhan. Eutrofikasi adalah gejala peningkatan laju pertumbuhan tumbuhan air. Pupuk yang terbilas aliran air permukaan mampu diserap oleh tumbuhan air dan menyebabkan eutrofikasi. Hal ini membahayakan perairan karena ketika tumbuhan mati, proses dekomposisi oleh bakteri yang terjadi di bawah air mampu menyebabkan hilangnya oksigen dan menyebabkan kebinasaan ikan dan hewan air lainnya.[56] Dan air mampu berubah menjadi keruh dan berwarna kehijauan (atau merah, coklat, kuning, tergantung jenis alga yang mengalami eutrofikasi di perairan).

Sekitar setengah danau di Amerika Serikat kini bersifat eutrofik dan jumlah kawasan mati (dead zone) meningkat hingga ke pinggir pantai.[57]

Peningkatan keasaman tanah[sunting | sunting sumber]

Pupuk organik dan anorganik yang kaya nitrogen dapat menyebabkan peningkatan keasaman tanah ketika diberikan.[58][59] Keasaman tanah yang meningkat mampu mengikat beberapa senyawa nutrisi mikro sehingga menjadi tidak tersedia bagi tumbuhan untuk diserap. Pengapuran tanah dapat menurunkan tingkat keasaman tanah.

Pencemaran udara[sunting | sunting sumber]

Konsentrasi emisi metana dunia di dekat permukaan tanah dan di atmosfer tahun 2005. Perhatikan warna merah pada peta bagian atas menunjukan lokasi dengan emisi metana terbesar

Emisi metana dari lahan pertanian, terutama sawah penanaman padi meningkat dengan bertambahnya penerapan pupuk berbasis amonia. Emisi ini dapat berkontribusi secara signifikan pada perubahan iklim karena metana merupakan gas rumah kaca yang kuat.[60] Selain metana, nitro oksida telah menjadi gas rumah kaca dengan kontribusi pemanasan global ketiga di dunia karena meningkatnya penggunaan pupuk berbasis nitrogen.[61][62]

Emisi gas metana dari pupuk mencakup:

  • kotoran hewan dan urea melepaskan metana, nitro oksida, amonia, dan karbon dioksida pada jumlah yang bervariasi tergantung wujud dan kondisi lingkungna setempat.
  • pupuk berbasis asam nitrat atau amonium bikarbonat melepas nitro oksida, amonia, dan karbon dioksida ke atmosfer sejak proses produksi hingga penerapannya ke atmosfer. Amonia merupakan senyawa dengan titik didih yang rendah, sehingga mudah menguap segera setelah diberikan ke lahan pertanian akibat panas matahari.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Glossary of Soil Science Terms". Soil Science Society of America. Diakses May 10, 2011. 
  2. ^ Enwall, Karin; Laurent Philippot,2 and Sara Hallin1 (December 2005). "Activity and Composition of the Denitrifying Bacterial Community Respond Differently to Long-Term Fertilization". Applied and Environmental Microbiology (American Society for Microbiology) 71 (2): 8335–8343. doi:10.1128/AEM.71.12.8335-8343.2005. PMC 1317341. PMID 16332820. Diakses Feb 1, 2010. 
  3. ^ Birkhofera, Klaus; T. Martijn Bezemerb, c, d, Jaap Bloeme, Michael Bonkowskia, Søren Christensenf, David Duboisg, Fleming Ekelundf, Andreas Fließbachh, Lucie Gunstg, Katarina Hedlundi, Paul Mäderh, Juha Mikolaj, Christophe Robink, Heikki Setäläj, Fabienne Tatin-Frouxk, Wim H. Van der Puttenb, c and Stefan Scheua (September 2008). "Long-term organic farming fosters below and aboveground biota: Implications for soil quality, biological control and productivity". Soil Biology and Biochemistry (Soil Biology and Biochemistry) 40 (9): 2297–2308. doi:10.1016/j.soilbio.2008.05.007. Diakses Feb 1, 2010. 
  4. ^ Lal, R. (2004). "Soil Carbon Sequestration Impacts on Global Climate Change and Food Security". Science (Science (journal)) 304 (5677): 1623–7. Bibcode:2004Sci...304.1623L. doi:10.1126/science.1097396. PMID 15192216. 
  5. ^ Rees, Eifion (July 3, 2009). "Change farming to cut CO2 emissions by 25 per cent". The Ecologist. Diakses February 2, 2010. 
  6. ^ Fliessbach, A.; P Maeder(2), A Diop(3), LWM Luttikholt(1), N Scialabba(4), U Niggli(2), Paul Hepperly(3), T LaSalle(3) (2009). "ClimateChange: GlobalRisks,ChallengesandDecisions". P24.17 Mitigation and adaptation strategies – organic agriculture. IOPConf. Series: EarthandEnvironmentalScience6(2009)242025: IOP Publishing. Diakses February 2, 2010. 
  7. ^ PIMENTEL, David; PAUL HEPPERLY, JAMES HANSON, DAVID DOUDS, and RITA SEIDEL (July 2005). "Environmental, Energetic, and Economic Comparisons of Organic and Conventional Farming Systems". BioScience. hlm. ol. 55, No. 7, Pages 573–582. Diakses February 2, 2010. 
  8. ^ Mäder, Paul; Andreas Fliebach,,1 David Dubois,2 Lucie Gunst,2 Padruot Fried,2 Urs Niggli1 (May 31, 2002). "Soil Fertility and Biodiversity in Organic Farming". Science (Science) 296 (5573): 1694–1697. Bibcode:2002Sci...296.1694M. doi:10.1126/science.1071148. PMID 12040197. Diakses February 1, 2010. 
  9. ^ Zublena, J.P.; J. V. Baird, J. P. Lilly (June 1991). "SoilFacts - Nutrient Content of Fertilizer and Organic Materials". North Carolina Cooperative Extension Service. Diakses 3 January 2013. 
  10. ^ Lemunier, Mélanie; Cédric Francou, Sandrine Rousseaux, Sabine Houot, Philippe Dantigny, Pascal Piveteau, Jean Guzzo (October 2005). "Long-Term Survival of Pathogenic and Sanitation Indicator Bacteria in Experimental Biowaste Composts". Applied and Environmental Microbiology 71 (10): 5779–5786. doi:10.1128/AEM.71.10.5779-5786.2005. Diakses 2 January 2013. 
  11. ^ "Acta Horticulturae". Actahort.org. Diakses 2010-08-25. 
  12. ^ "AZ Master Gardener Manual: Organic Fetilizers". Ag.arizona.edu. Diakses 2010-08-25. 
  13. ^ "Healthy Lawns—Fertilizers vs. soil amendments". Ipm.ucdavis.edu. Diakses 2010-08-25. 
  14. ^ "Crazy about Compost" (PDF). Diakses 2010-08-25. 
  15. ^ "In a natural organic system, nitrate in the soil is derived from the gradual breakdown of humus". Ecochem.com. Diakses 2010-08-25. 
  16. ^ "Human urine conversion to struvite". Irishtimes.com. 2010-06-06. Diakses 2012-06-17. 
  17. ^ "Organic Farming | Agriculture | US EPA". Epa.gov. Diakses 2010-08-25. 
  18. ^ "CalOrganic Farms News". Calorganicfarms.com. Diakses 2010-08-25. 
  19. ^ "Biosolids: Targeted National Sewage Sludge Survey Report". EPA.gov. 2009-01. 
  20. ^ "Researchers Study Value of Chicken Litter in Cotton Production". July 23, 2010. 
  21. ^ "Phosphorus Fertilizers for Organic Farming Systems". CO State Extension. 
  22. ^ "Maintaining Soil Fertility in an Organic Fruit and Vegetable Crops System". University of MN Extension. 
  23. ^ USA (2010-07-06). "Isolation and Study of Cultures of Chinese Vetch Nodule Bacteria". Pubmedcentral.nih.gov. Diakses 2010-08-25. 
  24. ^ Uphoff, Norman Thomas (2006). Biological approaches to sustainable ... – Google Books. ISBN 978-1-57444-583-1. Diakses 2010-08-25. 
  25. ^ "Algae: A Mean, Green Cleaning Machine". USDA Agricultural Research Service. May 7, 2010. 
  26. ^ "Organic Materials as *Nitrogen Fertilizers". CO State Extension. 
  27. ^ NPK ratios of common organic materials
  28. ^ Potash KCl fertilizer production
  29. ^ Glass, Anthony (September 2003). "Nitrogen Use Efficiency of Crop Plants: Physiological Constraints upon Nitrogen Absorption". Critical Reviews in Plant Sciences 22 (5): 453. doi:10.1080/713989757. 
  30. ^ Commercial fertilizers increase crop yields [1] Accessed 9 Apr 2012
  31. ^ Vance; Uhde-Stone & Allan (2003). "Phosphorus acquisition and use: critical adaptations by plants for securing a non renewable resource". New Phythologist (Blackwell Publishing) 157 (3): 423–447. doi:10.1046/j.1469-8137.2003.00695.x. JSTOR 1514050.  More than one of |author1= and |last= specified (help)
  32. ^ "Mergers in the fertiliser industry". The Economist. February 18, 2010. Diakses February 21, 2010. 
  33. ^ Livestock's Long Shadow: Environmental Issues and Options, Table 3.3 retrieved Jun 29, 2009 United Nations Food and Agriculture Organization
  34. ^ Defra. "Nitrates and watercourses". 
  35. ^ European Union. "Nitrates Directive". 
  36. ^ Defra. "Catchment-Sensitive Farming". 
  37. ^ "Polluted Runoff". EPA. Diakses 26 January 2013. 
  38. ^ C. J. Rosen and B. P. Horgan (2009-01-09). "Preventing Pollution Problems from Lawn and Garden Fertilizers". Extension.umn.edu. Diakses 2010-08-25. 
  39. ^ "Journal of Contaminant Hydrology - Fertilizer-N use efficiency and nitrate pollution of groundwater in developing countries". ScienceDirect.com. Diakses 2012-06-17. 
  40. ^ "NOFA Interstate Council: The Natural Farmer. Ecologically Sound Nitrogen Management. Mark Schonbeck". Nofa.org. 2004-02-25. Diakses 2010-08-25. 
  41. ^ Roots, Nitrogen Transformations, and Jillesha Services Annual Review of Plant Biology Vol. 59: 341–363
  42. ^ Lynda Knobeloch, Barbara Salna, Adam Hogan, Jeffrey Postle, and Henry Anderson. "Blue Babies and Nitrate-Contaminated Well Water". Ehponline.org. Diakses 2010-08-25. 
  43. ^ "204.3.164.213/components/com_journal/files/jabs_1_1_6.pdf Ahmad Ali Khan, et. al., ''Phosphorus Solubilizing Bacteria: Occurrence, Mechanisms and their Role in Crop Production,'' J. AGRIC. BIOL. SCI. 1(1):48-58, 2009" (PDF). Diakses 2013-01-03. 
  44. ^ Lawrence, Felicity (2004). "214". In Kate Barker. Not on the Label. Penguin. hlm. 213. ISBN 0-14-101566-7. 
  45. ^ a b Moore, Geoff (2001). Soilguide - A handbook for understanding and managing agricultural soils. Perth, Western Australia: Agriculture Western Australia. hlm. 161–207. ISBN 0 7307 0057 7. 
  46. ^ "Zinc is Soils and Crop Nutrition". Scribd.com. 2010-08-25. Diakses 2012-06-17. 
  47. ^ "Nitrogen Fertilization: General Information". Hubcap.clemson.edu. Diakses 2012-06-17. 
  48. ^ "Avoiding Fertilizer Burn". Improve-your-garden-soil.com. Diakses 2012-06-17. 
  49. ^ "Understanding Salt index of fertilizers" (PDF). Diakses 2012-07-22. 
  50. ^ Aleksander Abram and D. Lynn Forster (2005). A Primer on Ammonia, Nitrogen Fertilizers, and Natural Gas Markets. Department of Agricultural, Environmental, and Development Economics, Ohio State University. hlm. 38. 
  51. ^ IFA – Statistics – Fertilizer Indicators – Details – Raw material reserves, (2002–10)
  52. ^ Sawyer JE (2001). "Natural gas prices affect nitrogen fertilizer costs". IC-486 1: 8. 
  53. ^ "Table 8—Fertilizer price indexes, 1960–2007.". 
  54. ^ Sam Wood and Annette Cowie (2004). A Review of Greenhouse Gas Emission Factors for Fertiliser Production. IEA Bioenergy IEA Bioenergy. 
  55. ^ Carroll and Salt, Steven B. and Steven D. (2004). Ecology for Gardeners. Cambridge: Timber Press. ISBN 9780881926118. 
  56. ^ "Rapid Growth Found in Oxygen-Starved Ocean ‘Dead Zones’", NY Times, Aug. 14, 2008
  57. ^ John Heilprin, Associated Press. "Discovery Channel :: News – Animals :: U.N.: Ocean 'Dead Zones' Growing". Dsc.discovery.com. Diakses 2010-08-25. 
  58. ^ http://www.sciencemag.org/cgi/content/full/324/5928/721-b#R1
  59. ^ http://soil.scijournals.org/cgi/content/full/72/1/238
  60. ^ Bodelier, Paul, L.E.; Peter Roslev3, Thilo Henckel1 & Peter Frenzel1 (November 1999). "Stimulation by ammonium-based fertilizers of methane oxidation in soil around rice roots". Nature 403 (6768): 421–424. Bibcode:2000Natur.403..421B. doi:10.1038/35000193. PMID 10667792. Diakses Feb 2, 2009. 
  61. ^ http://www.nature.com/nature/journal/v451/n7176/fig_tab/nature06592_F1.html An Earth-system perspective of the global nitrogen cycle Nicolas Gruber & James N. Galloway Nature 451, 293–296(17 January 2008) DOI:10.1038/nature06592
  62. ^ "Human alteration of the nitrogen cycle, threats, benefits and opportunities" UNESCO – SCOPE Policy briefs, April 2007

Pranala luar[sunting | sunting sumber]