Tiga Dara

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Tiga Dara
Tiga Dara (1956, obverse, wiki).jpg
Selebaran dari film Tiga Dara
Sutradara Usmar Ismail
Penulis
Pemeran
Musik Sjaiful Bachri
Sinematografi Max Tera
Penyunting Soemardjono
Distributor Perfini
Tanggal rilis
  • Agustus 1957 (1957-08)
Durasi
10,400 kaki[1]
Negara Indonesia
Bahasa Indonesia

Tiga Dara adalah sebuah film komedi musikal berbahasa Indonesia tahun 1957 yang dibintangi oleh Chitra Dewi, Mieke Wijaya, dan Indriati Iskak. Disutradarai oleh Usmar Ismail untuk Perfini.

Diproduksi menggunakan dana pemerintah dan ditulis dalam upaya membangkitkan Perfini dari keterpurukan, Tiga Dara ditujukan untuk komersial meskipun Ismail tidak setuju dengan karya-karya semacam itu. Setelah dirilis pada bulan Agustus 1957, film tersebut meraih ketenaran yang tinggi, meluncurkan karier-karier para bintangnya, masuk box office tertinggi dari film Perfini manapun, dan ditayangkan di bioskop-bioskop kelas satu. Namun, meskipun Tiga Dara ditampilkan di Festival Film Venesia 1959 dan meraih Tata Musik Terbaik di Festival Film Indonesia 1960, Ismail menganggap karya tersebut melenceng dari visi awalnya untuk Perfini.

Sejak perilisannya, Tiga Dara dianggap menjadi karya klasik dari perfilman Indonesia, dengan tema-tema yang masih relevan dengan masyarakat Indonesia modern. Film tersebut diremake dengan judul Tiga Dara Mencari Cinta pada 1980 oleh Djun Saptohadi dan mempengaruhi Pacar Ketinggalan Kereta (1989) karya Teguh Karya. Sebuah remake kedua, Ini Kisah Tiga Dara, yang diproduksi oleh Nia Dinata dan direncanakan dirilis pada September 2016. Pada 2015 Tiga Dara direstorasi dan dikonversi dalam bentuk digital 4K oleh Laboratorium L'immagine Ritrovata dan rencananya akan tayang di bioskop pada bulan Agustus 2016.

Alur[sunting | sunting sumber]

Tiga bersaudari—Nunung (Chitra Dewi), Nana (Mieke Wijaya) dan Nenny (Indriati Iskak)—dibesarkan oleh nenek mereka (Fifi Young) di Jakarta setelah ibu mereka meninggal dunia. Meskipun ayah mereka, Sukandar (Hassan Sanusi) tinggal bersama mereka, ia terlalu sibuk dalam pekerjaannya sendiri sehingga tidak memberikan perhatian kepada anak-anaknya.

Sementara tiga dara berjalan-jalan dengan pacar Nana, Herman (Bambang Irawan), sang nenek mengungkapkan kekhawatirannya kepada Sukandar bahwa Ia mungkin tidak sempat melihat Nunung menikah. Sukandar akhirnya setuju untuk mengundang koleganya ke rumah, dan saat itu, Nunung tampil mengesankan dengan permainan piano dan nyanyiannya. Sayangnya, pertemuan itu hanya dihadiri para pria berusia lanjut, dan nenek ingin Sukandar mencarikan pria yang lebih muda. Nenny (yang sengaja menguping) menyarankan untuk mengadakan pesta; yang juga gagal, Nunung tidak tertarik dengan keramaian.

Nana kemudian diminta pergi ke pesta bersama Nunung. Namun sementara Nana berpesta, Nunung hanya duduk dan akhirnya pulang ke rumah bersama Herman. Saat ditanya sang nenek, Nunung berargumen bahwa dirinya terlalu tua, tidak cocok di antara para anak muda di pesta, dan balik bertanya mengenai alasan mengapa ia diminta pergi ke pesta. Nenny, yang lagi-lagi menguping, spontan menjawab nenek mereka sedang mencarikan suami untuk Nunung. Meskipun Nunung awalnya marah, Ia mengerti niat baik neneknya.

Indriati Iskak, Chitra Dewi, dan Mieke Wijaya dalam film Tiga Dara

Hari berikutnya, Nunung terserempet skuter milik Toto (Rendra Karno). Walau pun kakinya terluka, Nunung bersikeras pulang naik becak; dengan Toto mengikuti di belakang tanpa sepengetahuannya. Toto meminta maaf kembali, dan, meskipun Nunung memperlakukannya kasar, Toto cepat akrab dengan Nana dan neneknya. Nana meminta Toto untuk sering-sering datang, dan selama beberapa hari berikutnya Nana menjauhkan Herman. Nenny, sementara itu, malah mendekati Herman. Saat Nana mengabarkan bahwa ia dan Toto berencana bertunangan, Sang nenek marah; jika Nana menikah sebelum Nunung, Nunung tidak akan pernah menikah.

Setelah Nana dan Nunung bertengkar, ayah mereka memutuskan untuk memindahkan Nunung ke rumah pamannya Tamsil (Usmar Ismail) di Bandung dan berisitirahat. Dalam suratnya kepada sang ayah selama di Bandung, Nunung menyampaikan bahwa Joni selalu memberikan kecupan selamat malam setiap hari. Berita ini menggelitik Nenny dan memancing kecemburuan Toto. Nana memaksa Toto untuk memilih antara dirinya dan Nunung. Toto menemui Nunung dan menyatakan cintanya, yang dibalas Nunung dengan sinis dan menambahkan dirinya tidur dengan Joni setiap malam.

Herman, atas desakan Nana, mengantar keluarganya ke Bandung. Saat Tamsil memperkenalkan anak-anaknya, diketahui bahwa Joni ternyata seorang anak kecil. Nunung dan Toto berpelukan, sementara Nana dan Herman berbaikan.

Produksi[sunting | sunting sumber]

Usmar Ismail, sutradara dan produser Tiga Dara

Tiga Dara disutradarai dan diproduksi oleh Usmar Ismail untuk Perusahaan Film Nasional (lebih dikenal sebagai Perfini).[2] Meskipun Ismail ingin "tidak akan mempertimbangkan segi komersial" pembuatan film ketika ia mendirikan Perfini pada 1950,[3] ia terpaksa mengakui kebutuhan untuk membuat sebuah film yang menguntungkan karena Perfini masih kekurangan uang. Setelah kegagalan Lagi-Lagi Krisis (1955) dan Tamu Agung (1955), situasi keuangan perusahaan tersebut bergejolak, dan Ismail memberhentikan sejumlah stafnya.[4] Dengan hanya sedikit bantuan keuangan dari pemerintah untuk produksi berikutnya,[a][5] Ismail berkolaborasi dengan M. Alwi Dahlan untuk menulis sebuah film yang akan menjadi populer di kalangan audien.[2] Cerita yang dihasilkan, yang terinspirasi oleh film komedi musikal 1936 Three Smart Girls (Tiga Gadis Cerdas),[6] adalah Tiga Dara.[2]

Produksi Tiga Dara dimulai pada Maret 1956. Chitra Dewi, Mieke Wijaya, dan Indriati Iskak berperan sebagai pemeran utama.[4] Chitra Dewi sebelumnya muncul dalam Tamu Agung,[7] dan Mieke Wijaya telah melakukan debutnya dalam film Gagal dari Perusahaan Film Palembang pada tahun sebelumnya.[8] Indriati Iskak, putri dari sutradara Raden Iskak yang pada waktu itu berusia 14 tahun, membuat debut film fiturnya pada film Tiga Dara.[9] Para pemeran pendukungnya diisi oleh Fifi Young, Rendra Karno, Hassan Sanusi, Bambang Irawan, dan Roosilawaty.[2] Untuk peran Joni, Ismail memerankan putra kehidupan nyatanya, Irwan Usmar Ismail.[6]

Karena film-film musikal populer di kalangan penonton Indonesia, Tiga Dara dibuat dalam genre ini. Film tersebut menampilkan tujuh lagu karya Sjaiful Bachri (yang juga bertugas sebagai penyuntingan suara) serta satu oleh Ismail Marzuki dan dua oleh Oetjin Noerhasjim.[10] Hanya Wijaya yang menyediakan vokalnya sendiri; aktor-aktor lainnya di-isi suara-nya oleh Sam Saimun, Elly Sri Kudus, Bing Slamet, Djuita, S. Effendy, dan Sitti Nurochma.[11] Kameramen jangka panjang Perfini Max Tera menangani sinematografi untuk film hitam-putih tersebut, menggunakan peralatan yang tersedia di perusahaan tersebut, dan Soemardjono bertugas dalam penyuntingannya.[12]

Perilisan dan sambutan[sunting | sunting sumber]

Tiga Dara tayang perdana pada bulan Agustus 1957 di Capitol Theatre, Jakarta.[13] Didistribusikan oleh Perfini, film tersebut meraih ketenaran yang tinggi[14] dan ditayangkan selama delpan minggu berturut-turut di bioskop-bioskop di seluruh kepulauan tersebut.[15] Karya tersebut masuk beberapa bioskop kelas satu yang berafiliasi dengan American Motion Picture Association of Indonesia (AMPAI) dan sebagian besar menampilkan film-film impor.[b][16] Pada 20 September 1957, Presiden Sukarno menyelenggarakan penayangan pribadi film tersebut di Istana Presidensial di Bogor untuk hari ulang tahun istrinya, Hartini.[17] Kompetisi "Tiga Dara" antara kelompok tiga bersaudari diadakan di seluruh Jawa,[4] dan istilahnya menjadi banyak digunakan sebagai nama produk-produk batik, toko-toko, dan minuman-minuman.[18] Film ini memenangkan penghargaan di Festival Film Indonesia tahun 1960 untuk tata musik terbaik (Sjaiful Bachri).[2]

Negotiasi untuk mengirimkan Tiga Dara ke Malaya dimulai setelah perilisannya, dan film tersebut diekspor, kembali meraih kesuksesan, dalam pertukaran untuk impor film Malaya Mega Mendung.[c][19] Pada akhir 1950an, film tersebut ditayangkan di beberapa kota Italia, termausk Roma, serta di Yugoslavia.[20] Setelah Floris Ammannati melihat penayangan Roma-nya, ia mengundang Ismail untuk menampilkan Tiga Dara di Festival Film Venesia 1959; Ismail menyepakatinya, meskipun ia menganggap penayangan Venesia-nya gagal.[d][21] Tiga Dara ditayangkan di Nugini Belanda pada Agustus 1960[22] dan di Suriname pada Agustus 1963.[23]

Dampak[sunting | sunting sumber]

Tiga Dara adalah film Perfini paling menguntungkan yang meraih keuntungan sebesar Rp 10 juta dalam penjualan tiket,[18] atau profit sebesar Rp 3,080,000, [24] Namun, kesuksesan tersebut berdampak kecil bagi situasi keuangan Perfini.[4] Lebih lanjut, Ismail menganggap Tiga Dara tidak sejalan dengan tujuannya ketika ia mendirikan Perfini.[14] Menurut sutradara Perfini sejawatnya D. Djajakusuma:

Usmar [Ismail] sangat malu dengan film itu. Niatnya menjual Tiga Dara ketika masih dalam tahap pembikinan memperlihatkan betapa beratnya bagi dia menerima kenyataan bahwa harus membuat film seperti itu. ... meskipun uang masuk, Perfini toh tidak lagi membikin film-film seperti yang dicita-citakan Usmar semula.
—D. Djajakusuma, dalam Said (1982)

Pada tahun-tahun berikutnya, Perfini merilis sejumlah film yang berorientasi komersial, seperti Delapan Pendjuru Angin (1957) dan Asrama Dara (1958).[25] Meskipun tidak yang mengalami kegagalan komersial,[26] tidak ada yang menandingi Asrama Dara yang melampaui kesuksesan keuangan Tiga Dara. Ismail berupaya untuk membangun dirinya sebagai sutradara film berkualitas non-profit melalui film Pedjuang (1960),[25] yang ditayangkan dalam kompetisi di Festival Film Internasional Moskwa ke-2 pada 1961.[27] Namun, tahun-tahun tersebut membuat ia menjadi semakin melenceng dari tujuan-tujuan awalnya dan membuat upaya untuk memasuki perbankan, industri klub malam, dan parlemen pada waktu menjelang kematiannya pada 1971.[25]

Dewi dan Wijaya menjadi tenar setelah kesuksesan Tiga Dara. Dewi melanjutkan akting untuk empat dekade berikutnya, muncul dalam film fitur terakhirnya, Pedang Ulung, pada 1993, lima belas tahun sebelum kematiannya.[7] Peran film paling terkini Wijaya muncul dalam Ayat-Ayat Cinta (2008).[28] Selain itu, Iskak, yang dipuji karena memiliki gaya akting paling naturalistik ketimbang aktor-aktor sejawatnya, menjadi semakin tenar.[4] Ia membuat grup vokal wanita, Baby Dolls, bersama dengan Rima Melati, Gaby Mambo, dan Baby Huwae, dan berakting dalam delapan film berikutnya sebelum pensiun dari perfilman pada 1963.[29]

Warisan[sunting | sunting sumber]

Tiga Dara telah diakui sebagai karya klasik pada perfilman Indonesia dan sering disiarkan di televisi.[30] Sebuah retrospektif 1989 tentang Perfini dalam majalah Tempo menyatakan bahwa film tersebut masih menampilkan pesona kejujuran dan kenyataan umum dalam karya Ismail sebelumnya,[31] dan dalam sebuah buku memorial 1991 untuk Ismail, Rosihan Anwar menyatakan bahwa tema-tema Tiga Dara masih sejalan bagi bangsa Indonesia.[32] Pendapat yang sama diutarakan oleh sutradara film Nia Dinata pada 2016.[33]

Nia Dinata membuat ulang Tiga Dara dengan judul Ini Kisah Tiga Dara pada 2016.

Pada 2015, negatif-negatif selulosa asetat untuk Tiga Dara, yang disimpan di Sinematek Indonesia,[e][1] mengalami rusak berat. Negatif-negatif tersebut ada yang dalam keadaan robek, dan dinodai oleh jamur atau hilang. Untuk memperbaiki penyajian film tersebut untuk generasi mendatang, SA Films memutuskan agar Tiga Dara direstorasi oleh Laboratorium L'immagine Ritrovata yang berbasis di Bologna; film tersebut merupakan karya Ismail kedua yang direstorasi, setelah Lewat Djam Malam (1954) pada 2012. Pengerjaan restorasi, yang meliputi reinsersi adegan-adegan yang hilang menggunakan sisa-sisa salinan dari film tersebut dan penghilangan debu dan jamur, dimulai pada awal 2015 dan terselesaikan pada 8 Oktober 2015. Restorasi tersebut—yang dialihkan ke digital 4K—ditayangkan di Indonesia pada permulaan 11 Agustus 2016, dengan perilisan DVD dan Blu-ray pada tahun berikutnya.[34]

Beberapa film membuat ulang atau terinspirasi dari Tiga Dara. Sebuah remake, Tiga Dara Mencari Cinta, disutradarai oleh Djun Saptohadi dan dirilis pada 1980.[35] Film komedi tersebut dibintangi oleh Ingrid Fernandez, Nana Riwayatie, dan Winny Aditya Dewi sebagai tiga bersaudari[f] yang tinggal dengan ayah mereka dan dihadapkan dengan pertikaian dan godaan kencan.[36] Delapan tahun kemudian, ketika Teguh Karya menyutradarai Pacar Ketinggalan Kereta (1989), ia menyatakan bahwa para pemeran dan kru menonton Tiga Dara dalam upaya untuk melampai film tersebut.[37] Dalam majalah Tempo, penulis Putu Wijaya kemudian menyatakan bahwa Pacar Ketinggalan Kereta nampaknya berusaha untuk memperlihatkan kembali keluarga dan musikal yang dinamis dari cerita Ismail.[38] Pada 2004, film ini dikabarkan akan dibuat ulang oleh sutradara Rudi Soedjarwo dan diproduksi oleh rumah produksi Christine Hakim. Aktris yang sudah ditawari untuk main film terbaru dari Tiga Dara ini adalah Dian Sastrowardoyo, Siti Nurhaliza dan Krisdayanti. Namun hingga kini, rencana tersebut tak pernah terwujud.[39]

Pada tahun 2016, sutradara Nia Dinata berhasil me-remake film ini dengan judul Ini Kisah Tiga Dara, yang mengambil gambar antara 23 Februari dan 27 Maret 2016 di Maumere, Flores. Adapun yang berperan sebagai Tiga Dara adalah Shanty, Tara Basro dan Tatyana Akman. Film yang rencananya akan tayang bulan September 2016 ini akan tetap mengambil berbasis di tema seperti film aslinya namun disesuaikan dengan konteks kehidupan masa kini.[40]

Catatan penjelas[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Pada 1956, Perfini meraih Rp 2,500,000 untuk memdanai produksi film (Ismail 1958, hal. 9).
  2. ^ Hanya sedikit produksi domestik yang ditayangkan di bioskop kelas satu Indonesia. Film-film Indonesia lainnya yang ditayangkan di bioskop-bioskop yang berafiliasi dengan AMPAI pada 1950an meliputi Darah dan Doa (1950) dan Krisis (1953) karya Ismail, serta Djandjiku (1956) karya BK Raj (Imanda 2014, hal. 178).
  3. ^ Peristiwa tersebut tak lazim; umumnya tiga film Malaya diimpor untuk setiap film Indonesia yang diekspor (Java-Bode 1957).
  4. ^ Dalam laporannya tentang festival tersebut, Ismail menyatakan bahwa Tiga Dara gagal memukau para penonton karena film tersebut tidak memberikan subjudul apapun. Sehingga, para penonton tidak dapat mengikuti jalan ceritanya, meskipun mereka tetap menikmati musiknya (Ismail 1983, hal. 136).
  5. ^ Sinematek juga menyimpan salinan distribusi kualitas tinggi dari film tersebut (Masak 1986, hal. 62).
  6. ^ Dinamai Maya, Emma, dan Nuri dalam versi ini (Gemini Satria Film 1980).

Referensi[sunting | sunting sumber]

Karya yang dikutip[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]