Sutojayan, Blitar
Sutojayan
ꦱꦸꦠꦗꦪꦤ꧀ | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Blitar | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Edy Setiono, S.Sos., MM | ||||
| Populasi | |||||
| • Total | 52.623 jiwa | ||||
| Kode pos | 66172 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.05.12 | ||||
| Kode BPS | 3505060 | ||||
| Luas | 44,20 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 11 | ||||
| |||||
Sutojayan (Hanacaraka: ꦱꦸꦠꦗꦪꦤ꧀ ) atau yang lebih dikenal dengan nama Lodoyo, adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Blitar yang terletak di selatan Sungai Brantas. Sutojayan adalah pusat ekonomi Blitar selatan dengan kawasan perkotaan yang berkembang pesat serta memiliki fasilitas penunjang seperti Pasar Lodoyo, rumah sakit, alun-alun, terminal kecil, dan lainnya.[1][2] Beberapa lokasi ikonik lain di Sutojayan antara lain hutan jati dan saluran irigasi Lodagung, Candi Bacem, Prasasti Jaring, serta sisi selatan dari Bendungan Serut (PLTA Lodoyo) dan Bendungan Wlingi Raya.[3][4]
Sutojayan merupakan pusat dari kawasan bernama Lodoyo yang mencakup seluruh Blitar selatan. Dalam kisah Reog Ponorogo, Kerajaan Lodoyo pernah bertempur melawan Kerajaan Bantarangin dari Ponorogo untuk memperebutkan Dewi Songgolangit dari Kediri.[5][6] Pada zaman Kesultanan Mataram, hutan Lodoyo yang terkenal angker dibuka oleh Pangeran Prabu yang diasingkan oleh Pakubuwana I. Kisah tersebut melahirkan tradisi yang sekarang masih dilestarikan di Sutojayan seperti Jamasan Gong Kiai Pradah dan Jaranan Jur Ngasinan.[7][8]
Di zaman Belanda, Sutojayan menjadi pusat dari Kawedanan Lodoyo yaitu daerah pembantu bupati yang mencakup semua kecamatan di Blitar Selatan.[9] Kemudian pada tahun 1992, 5 desa di selatan Sutojayan dimekarkan menjadi kecamatan baru bernama Wonotirto, sehingga sekarang Sutojayan tersisa 11 desa / kelurahan serta tidak lagi memiliki wilayah pantai.[10]
Geografi
[sunting | sunting sumber]
(Sutojayan terletak di selatan-tengah)
Sutojayan atau Lodoyo adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Blitar yang terletak di selatan Sungai Brantas. Sutojayan merupakan kecamatan terkecil tetapi paling berkembang pesat di kawasan Blitar selatan. Pusat kecamatan ini berada di dataran rendah yang subur yang sekarang telah banyak menjadi kawasan perkotaan. Sutojayan dipisahkan dari Kademangan di barat oleh kawasan hutan jati yang dikelola Perhutani. Sedangkan, areal perbukitan memisahkan kecamatan ini dengan Wonotirto di selatan. Sutojayan berjarak cukup dekat dengan Kota Blitar serta ibu kota kabupaten di Kanigoro. Masyarakat dapat menyeberang ke utara Brantas dengan adanya Jembatan Glondong di pusat kecamatan atau melalui bendungan yaitu Bendungan Serut dan Bendungan Wlingi Raya.[11]
Sutojayan dikenal sebagai awal dari Sungai Lodagung. Lodagung sendiri merupakan singkatan dari Lodoyo - Tulungagung yang membentang dari Bendungan Wlingi Raya (PLTA Wlingi / Jegu) di Sungai Brantas kemudian mengalir hingga Tulungagung untuk mengairi lahan pertanian di sepanjang alirannya. Sungai Lodagung yang melintasi hutan jati di barat kecamatan dikenal sebagai salah satu spot terindah dari sungai ini.[4] Bendungan Wlingi Raya di perbatasan dengan Talun juga berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air yang dinamai PLTA Wlingi (namun juga disebut PLTA Jegu karena letaknya di Desa Jegu). Di dekat PLTA tersebut juga ada PLTM (pembangkit listrik tenaga mikrohidro) Lodagung yang dibangun di Sungai Lodagung. PLTM adalah PLTA versi kecil tetapi berkontribusi besar untuk menambah pasokan listrik.[12]
Batas wilayah Kecamatan Sutojayan adalah sebagai berikut:[13]
| Utara | Kecamatan Kanigoro, Kecamatan Talun, dan Sungai Brantas |
| Timur | Kecamatan Kademangan |
| Selatan | Kecamatan Wonotirto dan Kecamatan Panggungrejo |
| Barat | Kecamatan Panggungrejo dan Kecamatan Binangun |
Sejarah dan legenda
[sunting | sunting sumber]
Sutojayan adalah pusat dari daerah Lodoyo yang wilayahnya mencakup Blitar selatan dan sekitarnya. Nama Lodoyo tercatat dalam berbagai cerita rakyat yang berkembang di masyarakat. Dalam salah satu versi Reog Ponorogo, Kerajaan Lodoyo adalah sebuah kerajaan yang menjadi perbatasan Kerajaan Kediri dan dipimpin oleh Singo Barong. Dalam kisah tersebut, Singo Barong dan pasukannya menghadang Raja Klono Sewandono dari Kerajaan Bantarangin (Ponorogo) yang ingin mempersunting Dewi Songgolangit dari Kediri. Singkat cerita, Klono Sewandono dibantu oleh patihnya yaitu Pujangga Anom (Bujang Ganong) bertempur melawan Singo Barong. Singo Barong adalah manusia sakti berkepala harimau yang dapat mengalahkan Bujang Ganong, tetapi kemudian kalah melawan Klono Sewandono yang memiliki pusaka Pecut Samandiman. Sehingga, Klono Sewandono dapat melanjutkan perjalanannya dan mempersunting Dewi Songgolangit.[5]
Sedangkan dalam kisah versi Kesultanan Mataram, Lodoyo adalah kawasan hutan lebat yang terkenal angker dan dipenuhi hewan buas. Lodoyo dijadikan tempat pengasingan Pangeran Prabu yang diusir oleh Sultan Pakubuwono I sekitar tahun 1700-an. Pangeran Prabu adalah saudara dari selir ayah Pakubuwono I. Pangeran Prabu marah karena bukan dia yang diangkat sebagai raja dan berniat membunuh saudaranya. Namun Pakubuwono I mengetahui niat tersebut kemudian mengasingkannya ke hutan Lodoyo. Pangeran Prabu dalam pengasingannya ditemani oleh istrinya Wandansari dan pengikutnya Ki Amat Tariman, serta membawa pusaka sakti berbentuk gong bernama Kyai Bicak atau Gong Kiai Pradah. Pusaka tersebut berfungsi sebagai tumbal untuk melindungi rombongan Pangeran Prabu dari marabahaya di hutan Lodoyo. Sesampainya di hutan Lodoyo mereka beristirahat di rumah seorang janda tua bernama Nyai Potrosuto. Pangeran Prabu memutuskan untuk bertapa dan menitipkan gong tersebut ke Nyai Potrosuto untuk dirawat. Setiap 1 Syawal dan 12 Maulud, gong tersebut harus dimandikan dan airnya dapat menyembuhkan penyakit. Kegiatan tersebut sampai sekarang masih dilakukan dan menjadi tradisi tahunan bernama Jamasan Gong Kiai Pradah.[8]
Wilayah Lodoyo nantinya jatuh ke tangan Belanda dan dimasukkan ke Kabupaten Blitar. Kabupaten Blitar terbagi menjadi beberapa kawedanan atau daerah pembantu bupati yang dipimpin oleh seorang wedana. Kawedanan tersebut yaitu Kawedanan Blitar, Lodoyo, Srengat, dan Wlingi. Kawedanan Lodoyo mencakup beberapa kecamatan di selatan Sungai Brantas yaitu Sutojayan, Kademangan, Bakung, Panggungrejo, Wates, dan Binangun.[9] Beberapa tahun pasca kemerdekaan, sistem kawedanan dihapus sehingga nama Lodoyo dihapus dan Kecamatan Sutojayan berada langsung di bawah Kabupaten Blitar. Nama Lodoyo masih diabadikan sampai sekarang misalnya sebagai nama Pasar Lodoyo dan Polsek Lodoyo. Pada tahun 1992, 5 desa di selatan Sutojayan dimekarkan menjadi kecamatan baru bernama Wonotirto yang terdiri dari Desa Wonotirto, Sumberboto, Gununggede, Ngeni, dan Ngadipuro. Kelima desa tersebut bergabung dengan 3 desa dari Kecamatan Bakung sehingga Wonotirto berjumlah 8 desa.[10]
Daftar kelurahan, desa, dan dusun
[sunting | sunting sumber]Kecamatan Sutojayan terdiri dari 7 kelurahan dan 4 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan, yakni sebagai berikut:[13]
Daftar kelurahan
[sunting | sunting sumber]| No. | Nama Desa | Nama Dusun / Dukuh / Lingkungan | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Jegu | Jegu, Kebonsari, Papringan | [13] |
| 2 | Jingglong | Jingglong, Bening, Putukan | [13] |
| 3 | Kalipang | Brubuh, Bulu, Wonorejo | [13] |
| 4 | Kedungbunder | Kedungbunder, Dadapan, Karangmulyo, Perengan | [13] |
| 5 | Kembangarum | Kembangarum, Jaring, Kembangan / Sekaran | [13] |
| 6 | Sukorejo | Sukorejo, Pulerejo | [13] |
| 7 | Sutojayan | Sutojayan, Gondanglegi, Purworejo | [13] |
Daftar desa
[sunting | sunting sumber]| No. | Nama Desa | Nama Dusun atau Dukuh | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Bacem | Bacem / Krajan, Cungkup, Ganteran, Glentengan, Kandangan, Kebon, Lor Sawah, Nglungur, Soko | [13] |
| 2 | Kaulon | Kaulon, Babatan, Sumber | [13] |
| 3 | Pandanarum | Pandanarum, Klampok, Ponoragan, Sentul, Sumberjambe, Trincing | [13] |
| 4 | Sumberjo | Sumberjo | [13] |
Tempat terkenal
[sunting | sunting sumber]

- Alun-alun Lodoyo[2]
- Pasar Lodoyo
- Pasar Templek Bacem
- Terminal Lodoyo - terminal kecil untuk angkutan umum yang sekarang cenderung sepi dan beralih fungsi menjadi pasar kecil.[1]
- Jembatan Glondong di Sungai Brantas
- Masjid Besar Nurul Huda
- Lapangan Brubuh
- RS Umum Aulia
- Puskesmas Sutojayan
- Sungai Lodagung (jaringan irigasi Lodoyo - Tulungagung)
- Kawasan hutan jati Lodoyo - terdapat spot wisata seperti Kaloka Lodoyo
- Sisi selatan Bendungan Wlingi Raya, PLTA Wlingi, dan PLTM Wlingi di Desa Jegu
- Sisi selatan Bendungan Serut (PLTA Lodoyo)
- Candi Bacem
- Prasasti Jaring
- Kolam renang Dolphin
Kebudayaan
[sunting | sunting sumber]Jamasan Gong Kyai Pradah
[sunting | sunting sumber]
Tradisi Siraman atau Jamasan Gong Kyai Pradah adalah tradisi yang turun-temurun dilakukan di wilayah Lodoyo yang dipusatkan di Kecamatan Sutojayan, tepatnya di kawasan Alun-alun Lodoyo dan sekitarnya. Tradisi ini dilaksanakan dua kali dalam setahun tepatnya di bulan Syawal dan bulan Maulud. Jamasan ini adalah salah satu ikon kebudayaan Blitar dan ramai dikunjungi pengunjung tiap tahunnya. Acara inti dari upacara ini terdiri dari kirab Gong Kyai Pradah dari Sanggar (tempat penyimpanan) kemudian diboyong ke Padusan (tempat penyiraman). Gong disiram dengan air kembang setaman dan sisa airnya diperebutkan oleh masyarakat yang menonton. Penyiraman diakhiri dengan pemukulan gong sebanyak tujuh kali dan dilanjutkan dengan pembacaan doa. Selain acara inti, juga terdapat acara lain seperti pertunjukan wayang. Tradisi Siraman Gong Kyai Pradah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) pada tahun 2016 dan 2017.[14]
Jamasan Gong Kyai Pradah berhubungan dengan legenda Pangeran Prabu dari Kesultanan Mataram yang diusir ke hutan Lodoyo oleh Pakubuwono I. Dalam kisah tersebut, Gong Kyai Pradah dijadikan tumbal oleh Pangeran Prabu untuk melindungi rombongannya dari marabahaya hutan Lodoyo yang terkenal angker. Selanjutnya Pangeran Prabu bertapa sendiri dan gongnya dititipkan ke Nyai Potrosuto untuk dirawat dengan cara disiram setiap bulan Syawal dan Maulud.[8]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- 1 2 Winanto (2024-06-29). "Mati Suri, Terminal Lodoyo Blitar Bakal Diubah Jadi Fasilitas Penunjang JLS". BERITA JATIM.
- 1 2 Yanu Aribowo (2025-03-27). "Alun-Alun Lodoyo Ini jadi Pusat Aktivitas Masyarakat di Blitar Selatan". BLITAR KAWENTAR - RADAR BLITAR.
- ↑ Widya Lestari Ningsih (2023-03-26). "Sejarah Candi Bacem di Blitar". KOMPAS.
- 1 2 Aunur Rofiq (2021-08-04). "Sungai Lodagung, Sungai Terindah di Kabupaten Blitar dengan Pemandangan Instagramable". JATIM TIMES.
- 1 2 Andini Idha, Atik Aminah, Hernin Diah, Sonia Laila, Yusmita Indrastuti, Darmadi. "SEJARAH DAN FILOSOFI REOG PONOROGO VERSI BANTARANGIN". Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran. 5 (1). Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ↑ Malik Naharul (2019-10-22). Sri Kurnia Mahiruni (ed.). "Cerita Tutur Kerajaan Lodoyo, Jejak Peradaban Kuno di Blitar Selatan". MALANG TIMES.
- ↑ Fajar Rahmad Ali Wardana (2024-09-25). "Mengenal Jaranan Jur, Kesenian Asli Blitar yang Usianya 1 Abad, Ternyata Ada Kaitan Erat dengan Gong Kiai Pradah". BLITAR KAWENTAR - RADAR BLITAR.
- 1 2 3 Erliana Riady (2023-02-16). "Legenda Gong Kiai Pradah, Pusaka Penakluk Angkernya Hutan Lodoyo Blitar". DETIK JATIM.
- 1 2 [Administratieve indeling van Java en Madoera] - sheet 3 (Oost Java). Leiden University Libraries Digital Collections. 1936.
- 1 2 "Pembentukan 18 (Delapan Belas) Kecamatan Di Wilayah Kabupaten-Kabupaten Daerah Tingkat II Blitar, Lumajang, Situbondo, Lamongan, Probolinggo, Malang, Bojonegoro, Dan Kotamadya Daerah Tingkat II Surabaya Dalam Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Jawa Timur".
- ↑ Hari Wibowo BT (2024-05-21). "Akses Bendungan Wlingi Raya Ditutup, Masyarakat Harus Sabar Dulu, Pilih Memutar Lewat Kanigoro". BLITAR TERKINI.
- ↑ Santika Aristi (2018-02-20). "PLTM Lodagung Tambah Pasokan Listrik PLN". PT PLN (Persero) - web.pln.co.id.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Kabupaten Blitar Dalam Angka 2012. BPS Kabupaten Blitar. 2012-08-16.
- ↑ Galy Hardyta, Adon. "Upacara Adat Siraman Gong Kyai Pradah Blitar". D'Travellers - travellersblitar.com. Diakses tanggal 2025-07-12.
