Serai dapur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Serai dapur
Cymbopogon citratus
Taksonomi
DivisiTracheophyta
SubdivisiSpermatophytes
KladAngiospermae
Kladmonocots
Kladcommelinids
OrdoPoales
FamiliPoaceae
SubfamiliPanicoideae
TribusAndropogoneae
SubtribusAndropogoninae
GenusCymbopogon
SpesiesCymbopogon citratus
Stapf
Tata nama
BasionimAndropogon citratus (en)

Serai dapur (Cymbopogon citratus) / daun sereh adalah tumbuhan anggota suku rumput-rumputan yang dimanfaatkan sebagai bumbu dapur untuk mengharumkan makanan. Serai dapur berbeda dengan serai wangi.

Taksonomi[sunting | sunting sumber]

Nama taksa dari serai dapur adalah Cymbopogon citratus. Kedudukannya dalam taksonomi berada dalam famili Gramineae. Serai dapur merupakan terna yang dapat tumbuh sepanjang tahun. Penanamannya banyak dikembangkan di daerah tropis dan sub tropis seperti Asia, Afrika dan Amerika. Di Asia, serai dapur tersebar di India, Srilanka, Indonesia dan Malaysia. Serai dapur tergolong dalam tanaman C4.[2]

Pertumbuhan[sunting | sunting sumber]

Serai adalah bagian dari keluarga rumput (Poaceae). Mereka memiliki pelepah dan daun hijau kebiruan sederhana dengan tepi linier. Masing-masing helai daun biasanya sepanjang 18–36 inci. Seperti beberapa jenis rumput lainnya, serai bertulang daun sejajar.[3]

Serai dapur merupakan salah satu dari lima tanaman yang utama di daerah tropis, terutama sebagai bumbu dapur maupun jamu. Pertumbuhannya bersama dengan tanaman topis lainnya, antara lain kunyit, temulawak, kencur, akar wangi dan lengkuas.[4] Ketinggian lahan untuk pertumbuhan serai yang ideal adalah antara 100 sampai 400 meter di atas permukaan laut.[5]

Tanaman ini mudah dibudidayakan di pekarangan atau pot yang terkena cahaya matahari langsung. Apabila bibit baru tidak dapat tumbuh atau mengering mungkin akarnya tidak tumbuh berkembang, semaikan dulu batang serai misalnya dengan semai air dalam gelas, setelah tumbuh akar dan tunas kecil baru pindahkan tanaman.

Ciri fisik dan aroma[sunting | sunting sumber]

Serai dapur memiliki aroma yang harum. Bentuknya menyerupai alang-alang.[6] Akar dari serai berjenis akar serabut yang berimpang pendek. Sedangkan batangnya tumbuh bergerombol. Bagian pelepah kulit serai dapur berwarna putih keunguan. Di dalam lapisan batang terdapat umbi. Bagian pucuk umbi berwarna putih kekuningan. Daun serai dapur dari ujung pelepah memanjang dan bersifat kasar dan kesat. Daunnya mirip dengan daun alang-alang. Ukuran panjang daunnya antara 50 sampai 100 sentimeter. Sementara lebar daunnya sekitar 2 sentimeter. Daunnya tipis dengan bagian permukaan dan bagian dalam bertekstur halus.[5]

Pemanfaatan[sunting | sunting sumber]

tanaman serai bumbu masakan

Pengobatan[sunting | sunting sumber]

Serai dapur dapat digunakan sebagai bahan obat. Pemakaiannya dalam bentuk bubuk atau berwujud padat. Bubuk serai lebih umum digunakan karena kadar airnya lebh rendah. Serai dapur dijadikan sebagai obat herbal. Bubuk diperoleh melalui hasil pengeringan.[7]

Minyak atsiri[sunting | sunting sumber]

Serai dapur dapur merupakan salah satu jenis tanaman yang dapat dibuat sebagai minyak atsiri.[8] Kualitas minyak serai dapur lebih rendah dibandingkan dengan minyak serai wangi. Namun, harganya lebih murah sehingga lebih banyak dijual di pasaran.[9] Jenis minyak tanaman serai dapur yang diperdagangkan di dunia ada dua jenis. Pertama, minyak serai dapur Hindia Barat. Minyak ini dibuat dari spesies Cymbopogon flexuosus. Kedua, minyak serai dapur Hindia Barat yang dibuat dari spesies Cymbopogon citratus.[2] Pembuatan minyak atsiri dari sera dapur dilakukan dengan metode distilasi uap air pada bagian batang dan daunnya.[10] Produsen utama minyak atsiri dari serai dapur di dunia adalah India dan Guatemala. Pada tahun 1993, produksinya mencapai 500 ton per tahun.[11]

Bahan makanan dan minuman[sunting | sunting sumber]

Serai dapur merupakan jenis bumbu dapur, rempah-rempah sekaligus herbal yang paling umum digunakan di Asia.[12] Dalam makanan tradisional Indonesia, serai dapur merupakan salah satu bumbu masak yang utama.[6] Serai dapur dijadikan bahan utama maupun bahan tambahan dalam masakan Indonesia. Jenis makanan Indonesia yang memerlukan serai dapur antara lain nasi uduk, gulai dan sambal. Penggunaan serai dapur sebagai bumbu masak juga dipengaruhi oleh aromanya yang meningkatkan selera makan.[13] Serai dapat dapat dijadikan sebagai minuman. Caranya dengan merebus beberapa tangkainya. Air hasil rebusannya bersifat menyegarkan.[6]

Serai berlimpah di Filipina dan Indonesia, di Filipina ia dikenal sebagai tanglad. Daunnya yang harum secara tradisional digunakan dalam masakan, terutama untuk membumbui lechon dan ayam panggang.[14]

Daun serai kering juga dapat diseduh menjadi teh, atau hanya sebagai bahan penyedap dalam teh lain. Serai memberikan nuansa rasa yang sekilas mirip lemon tetapi dengan rasa manis ringan dan tanpa rasa asam.

Di Sri Lanka, serai dikenal sebagai sera (සේර). Di sana serai digunakan sebagai bumbu masakan, selain digunakan juga untuk membuat minyak esensial.[15]

Serai di Thailand disebut takhrai (ตะไคร้). Di Thialand serai adalah bahan penting dalam pembuatan tom yam dan tom kha kai. Irisan tipis batang serai segar juga digunakan dalam pembuatan miangpla, sejenis makanan ringan.

Pengusir nyamuk[sunting | sunting sumber]

Serai dapur merupakan salah satu tumbuhan yang dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan pestisida.[16] Di dalam serai dapur terdapat senyawa kimia yang dapat mengusir nyamuk.[17] Zat ini bernama sitronela.[6]

Limbah[sunting | sunting sumber]

Serai dapur menghasilkan limbah organik. Bagian yang menjadi limbah adalah bagian serai dapur yang tidak digunakan dalam masakan. Limbah organik ini berupa daun dan kulit terluar dari batang serai dapur.[18]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Cymbopogon citratus information from NPGS/GRIN". www.ars-grin.gov. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2009-01-20. Diakses tanggal 2008-03-02. 
  2. ^ a b Trisilawati, O., Seswita, D., dan Syakir, M. (2017). "Serapan Hara N, P, dan K pada Tujuh Nomor Harapan Serai Dapur pada Tanah Lasotol" (PDF). Jurnal Littri. 23 (2): 105. ISSN 2528-6870. 
  3. ^ Shah, Gagan; Shri, Richa; Panchal, Vivek; Sharma, Narender; Singh, Bharpur; Mann, AS (2011). "Scientific basis for the therapeutic use of Cymbopogon citratus, stapf (Lemon grass)". Journal of Advanced Pharmaceutical Technology & Research. 2 (1): 3–8. doi:10.4103/2231-4040.79796. ISSN 2231-4040. PMC 3217679alt=Dapat diakses gratis. PMID 22171285. 
  4. ^ Slamet, Supranto dan Rianto. "Studi Perbandingan Perlakuan Bahan Baku dan Metode Distilasi Terhadap Rendemen dan Kualitas Minyak Atsiri Sereh Dapur (Cymbopogon citratus)". ASEAN Journal of SystemsEngineering,. 1 (1): 25. 
  5. ^ a b Evama, Y., Ishak, dan Sylvia, N. (2021). "Ekstraksi Minyak Serai Dapur (Cymbopogon citratus) Menggunakan Metode Maserasi". Jurnal Teknologi Kimia Unimal. 10 (2): 58. 
  6. ^ a b c d Pattiradjawane, Bara (2017). Gretiani, Siti, ed. Cerita Dapur Nusantara dalam Rasa & Rupa. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. hlm. 8. ISBN 978-602-03-2879-9. 
  7. ^ Fadsy, A., Putra, B. S., dan Ratna (2019). "Karakteristik Pengeringan Serai Dapur (Cymbopogon citratus L.) Menggunakan Tray Dryer Berdasarkan Proses Blanching yang Berbeda". Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian. 4 (1): 588. ISSN 2615-2878. 
  8. ^ Komariah, dkk. (2022). "Pemanfaatan Limbah Serai Dapur sebagai Obat Kumur dan Hand Sanitizer untuk Meningkatkan Pemberdayaan Ekonomi" (PDF). Jurnal Abdi Moestopo. 5 (1): 75. ISSN 2599-249X. 
  9. ^ Habibi, Yusuf (2020). "Diagram Kontrol Kadar Sitral dalam Minyak Sereh Dapur sebagai Jaminan Mutu Kestabilan Optimasi Alat GCMS". Indonesian Journal of Chemical Analysis. 3 (2): 84. ISSN 2622-7126. 
  10. ^ Sufyan, Jayuska, A., dan Destiarti, L. (2018). "Bioaktivitas Minyak Atsiri Serai Dapur (Cymbopogon citratus (DC.) Stapf) Terhadap Rayap ((Coptotermes curvignathus sp)". Jurnal Kimia Khatulistiwa. 7 (3): 48. ISSN 2303-1077. 
  11. ^ Kawiji, Khasanah, L. U., dan Pramani, C. A. "Pengaruh Perlakuan Awal Bahan Baku dan Waktu Destilasi Serai Dapur (Cymbopogon citratus) Terhadap Karakteristik Fisikokimia Minyak Serai Dapur (Lemongrass Oil)". Jurnal Teknologi Hasil Pertanian. 1 (1): 60. 
  12. ^ Murni, S. W., Setyoningrum, T. M., dan Haryono, G. (2020). "Destilasi Uap Minyak Atsiri dari Tanaman Serai Dapur (Cymbopogon citratus) dengan Pretreatment menggunakan Microwave". Eksergi. 17 (1): 15. ISSN 1410-394X. 
  13. ^ Silalahi, Marina (2020). "Essential Oil pada Cymbopogon citratus (DC.) Stapf dan Bioaktivitasnya" (PDF). Titian Ilmu: Jurnal Ilmiah Multi Sciences. 12 (1): 7. 
  14. ^ "Tanglad / Lemongrass". Market Manila. August 21, 2006. Diakses tanggal July 27, 2011. 
  15. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-07-29. Diakses tanggal 2022-02-24. 
  16. ^ Pradani, F. Y., dan Nurindra, R. W. (2017). "Daya Proteksi Serai Dapur (Cymbopogon citratus) Terhadap Nyamuk Aedes Aegypti". Spirakel. 9 (2): 61. doi:10.22435/spirakel.v8i2.7648. 
  17. ^ "8 Manfaat Serai untuk Kesehatan". HerbalismeID. 2022-12-15. Diakses tanggal 2022-12-20. 
  18. ^ Murdiyah, Y., Murwanti, A., dan Oetopo, A. (2022). "Serat Limbah Serai Dapur (Cymbopogon citratus) sebagai Kertas Seni untuk Produk Pelengkap Interior". Serat Rupa Journal of Design. 6 (1): 41. ISSN 2477-586X.