Kesehatan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Sehat)
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Manusia Vitruvian karya Leonardo da Vinci yang menggambarkan proporsi ideal tubuh manusia.

Kesehatan adalah kondisi kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang lengkap dan bukan sekadar tidak adanya penyakit atau kelemahan.[1] Pemahaman tentang kesehatan telah bergeser seiring dengan waktu. Berkembangnya teknologi kesehatan berbasis digital telah memungkinkan setiap orang untuk mempelajari dan menilai diri mereka sendiri, dan berpartisipasi aktif dalam gerakan promosi kesehatan. Berbagai faktor sosial berpengaruh terhadap kondisi kesehatan, seperti perilaku individu, kondisi sosial, genetik dan biologi, perawatan kesehatan, dan lingkungan fisik.

Definisi[sunting | sunting sumber]

Makna kesehatan telah berkembang seiring dengan waktu. Dalam perspektif model biomedis, definisi awal kesehatan difokuskan pada kemampuan tubuh untuk berfungsi. Kesehatan dipandang sebagai kondisi tubuh yang berfungsi normal yang dapat terganggu oleh penyakit dari waktu ke waktu.[2]

Pada tahun 1948, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai "kesejahteraan fisik, mental, dan sosial, dan bukan hanya tidak adanya penyakit dan kelemahan".[3] Meskipun definisi ini disambut baik oleh beberapa orang dan dipandang inovatif, definisi ini juga dikritik karena tidak jelas, terlalu luas, dan tidak diuraikan dengan terukur.[2] Beberapa ilmuwan mengajukan definisi kesehatan yang lain, misalnya "kondisi yang ditandai dengan integritas anatomi; kemampuan untuk melakukan peran dalam keluarga, pekerjaan, dan masyarakat, yang dihargai secara pribadi; kemampuan untuk menghadapi tekanan fisik, biologis, dan sosial; perasaan sejahtera; dan kebebasan dari risiko penyakit dan kematian sebelum waktunya."[4]

Semakin lama, penyakit tidak lagi dipandang sebagai sebuah kondisi, tetapi sebuah proses. Pergeseran sudut pandang ini juga terjadi pada kesehatan. Pada awal 1980-an, WHO mendorong perkembangan gerakan promosi kesehatan. Gerakan ini memungkinkan orang-orang meningkatkan kendali atas kesehatan mereka dan memperbaiki status kesehatan mereka masing-masing. Untuk mewujudkan kondisi kesejahteraan fisik, mental, dan sosial yang lengkap, sebagaimana definisi WHO tentang kesehatan, seseorang atau sekelompok orang perlu memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi dan mewujudkan aspirasi, memenuhi kebutuhan, serta mengubah atau mengatasi lingkungannya. Kesehatan dipandang sebagai sumber daya untuk kehidupan sehari-hari, bukan tujuan hidup.[5] Untuk mewujudkannya, ada beberapa prasyarat yang perlu dipenuhi, yaitu perdamaian, tempat tinggal, pendidikan, makanan, pendapatan, ekosistem yang stabil, sumber daya berkelanjutan, serta keadilan sosial dan kesetaraan.[6]

Gerakan promosi kesehatan memungkinkan kesehatan untuk diajarkan, dipelajari, dan diperkuat. Pemahaman konsep kesehatan sebagai "kemampuan untuk beradaptasi dan mengatur diri sendiri" dan berkembangnya teknologi kesehatan berbasis digital telah membuka pintu bagi setiap orang untuk menilai diri mereka sendiri.[7] Hal ini juga memungkinkan setiap orang untuk merasa sehat, bahkan ketika mereka memiliki berbagai penyakit kronis atau berada dalam kondisi terminal.[8][9] Belakangan, istilah "sehat" juga banyak digunakan dalam berbagai konteks organisasi tak hidup yang memengaruhi kepentingan manusia, seperti dalam komunitas sehat, kota sehat, atau lingkungan sehat.

Penentu sosial[sunting | sunting sumber]

Secara umum, latar belakang dan konteks kehidupan seseorang sangat memengaruhi status kesehatan dan kualitas hidupnya. Kesehatan tidak hanya dipertahankan dan ditingkatkan melalui kemajuan dan penerapan ilmu kesehatan, tetapi juga melalui gaya hidup oleh suatu individu dan masyarakat sekitarnya. Menurut WHO, penentu sosial kesehatan adalah kondisi yang dialami seseorang ketika dilahirkan, tumbuh, bekerja, hidup, dan menua, serta serangkaian kekuatan dan sistem yang lebih luas yang membentuk kondisi kehidupan sehari-hari. Kondisi ini dibentuk oleh distribusi uang, kekuasaan, dan sumber daya di tingkat global, nasional, dan lokal. Kondisi tersebut sangat bertanggung jawab atas kesenjangan kesehatan, baik di dalam suatu negara maupun di antara negara-negara.[10][11]

Faktor-faktor kunci lebih spesifik yang memengaruhi apakah seseorang sehat atau tidak sehat meliputi penghasilan dan status sosial, jaringan dukungan sosial, pendidikan dan literasi, ketenagakerjaan/kondisi kerja, lingkungan sosial, lingkungan fisik, praktik kesehatan pribadi dan keterampilan mengatasi masalah, perkembangan masa kanak-kanak yang sehat, kondisi biologis dan genetik, perawatan kesehatan, gender, dan budaya.[12][13]

Visualisasi faktor-faktor penentu sosial kesehatan, yang meliputi perilaku individu, kondisi sosial, genetik dan biologi, perawatan kesehatan, dan lingkungan fisik.

Semakin banyak penelitian dan laporan yang meneliti keterkaitan antara kesehatan dan berbagai faktor, termasuk gaya hidup, lingkungan, fasilitas pelayanan kesehatan, dan kebijakan kesehatan. Salah satu kebijakan spesifik yang dibuat banyak negara dalam beberapa tahun terakhir adalah pengenaan pajak terhadap gula. Minuman manis juga mulai dikenakan pajak dan mulai ditargetkan oleh gerakan antiobesitas akibat semakin banyaknya bukti yang menunjukkan hubungan antara minuman bergula tinggi dengan kegemukan.[14]

Sebuah studi mengungkapkan bahwa seseorang dapat meningkatkan kesehatan mereka melalui latihan fisik, tidur yang cukup, membatasi konsumsi alkohol, tidak merokok, menjaga berat badan, dan sarapan dengan rutin.[15] Lingkungan sering disebut sebagai faktor penting yang memengaruhi status kesehatan individu, termasuk lingkungan hidup, lingkungan binaan, dan lingkungan sosial. Panduan tempat tinggal telah diterbitkan oleh WHO untuk memperbaiki kondisi tempat tinggal sehingga dapat menyelamatkan jiwa, mencegah penyakit, meningkatkan kualitas hidup, mengurangi kemiskinan, dan membantu mengurangi perubahan iklim.[16] Penelitian menunjukkan bahwa kurangnya ruang rekreasi, termasuk lingkungan alam, akan menurunkan tingkat kepuasan pribadi dan meningkatkan tingkat obesitas, dan dikaitkan dengan rendahnya kesehatan dan kesejahteraan secara umum.[17] Sementara itu, semakin banyak waktu yang dihabiskan di lingkungan alam akan berdampak positif pada kesehatan.[18]

Genetik, atau sifat bawaan dari orang tua, juga berperan dalam menentukan status kesehatan individu dan populasi. Hal ini mencakup kecenderungan terhadap penyakit dan kondisi kesehatan tertentu, serta kebiasaan dan perilaku yang dikembangkan oleh seseorang akibat gaya hidup keluarga mereka.[19] Sebagai contoh, genetik dapat memengaruhi cara seseorang mengatasi stres, baik mental, emosional, atau fisik. Misalnya, kegemukan adalah masalah signifikan yang berkontribusi terhadap kesehatan mental yang buruk dan menyebabkan stres dalam kehidupan banyak orang.[20]

Kesehatan global[sunting | sunting sumber]

Kesehatan global merupakan penelitian dan tindakan kolaboratif lintas negara untuk mempromosikan kesehatan untuk semua.[21] Masalah kesehatan yang melampaui batas negara atau memiliki dampak politik dan ekonomi global sering kali ditekankan. Seri Laporan Kesehatan Dunia yang diterbitkan oleh WHO berfokus pada masalah kesehatan global, termasuk akses untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan upaya meningkatkan kesehatan masyarakat, terutama di negara-negara berkembang.[22]

Agenda Ketahanan Kesehatan Global (GHSA) merupakan upaya multisektor oleh lebih dari 60 negara dan sejumlah organisasi internasional yang berfokus untuk membangun ketahanan kesehatan dalam menghadapi ancaman penyakit infeksi.[23] Sementara itu, pada tahun 2000, anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan Tujuan Pembangunan Milenium yang berisi tantangan yang akan diwujudkan umat manusia pada tahun 2015. Target ini kemudian dilanjutkan oleh Tujuan Pembangunan Berkelanjutan berupa 17 target yang akan dicapai pada tahun 2030, termasuk kehidupan sehat dan sejahtera.[24]

Kesehatan mental[sunting | sunting sumber]

Mental merupakan salah satu unsur yang dimasukkan oleh WHO dalam definisi kesehatan. Kesehatan mental atau kesehatan jiwa didefinisikan WHO sebagai "Kondisi kesejahteraan ketika individu menyadari kemampuannya sendiri, dapat mengatasi tekanan kehidupan yang normal, dapat bekerja secara produktif dan bermanfaat, dan mampu memberikan kontribusi kepada komunitasnya".[25] Kesehatan jiwa bukan hanya ketiadaan gangguan jiwa.[26]

Berbagai faktor sosial, psikologis, dan biologis menentukan kesehatan jiwa seseorang. Kekerasan dan tekanan ekonomi yang persisten berisiko mengganggu kesehatan jiwa, sementara kekerasan seksual merupakan faktor yang paling diasosiasikan dengan kesehatan jiwa yang buruk. Faktor lain yang berpengaruh di antaranya perubahan sosial yang cepat, kondisi kerja yang penuh tekanan, diskriminasi gender, pengucilan sosial, gaya hidup tidak sehat, kesehatan fisik yang buruk, dan pelanggaran hak asasi manusia.[26]

Gangguan jiwa hadir dalam berbagai bentuk, yang umumnya dicirikan dengan kombinasi antara pemikiran, persepsi, emosi, perilaku serta hubungan dengan orang lain yang abnormal.[27] Pada 2001, WHO memperkirakan bahwa satu dari empat orang pernah menderita gangguan jiwa atau gangguan saraf pada satu titik dalam kehidupannya.[28]

Pemeliharaan[sunting | sunting sumber]

Diet[sunting | sunting sumber]

Cara penting untuk menjaga kesehatan pribadi adalah memiliki diet dan pola makan yang sehat. Diet sehat mencakup berbagai makanan nabati dan hewani yang menyediakan nutrien bagi tubuh. Nutrien akan diubah menjadi energi untuk pertumbuhan, perkembangan, perbaikan, dan pemeliharaan tubuh. Nutrien makro dikonsumsi dalam jumlah yang relatif besar, yang mencakup protein, karbohidrat, dan lemak. Nutrien mikro, seperti vitamin dan mineral, dikonsumsi dalam jumlah yang relatif lebih kecil tetapi sangat penting untuk proses tubuh.[29] Panduan gizi seimbang merupakan panduan makanan sehat berbentuk piramida yang dibagi menjadi beberapa bagian. Setiap bagian menunjukkan asupan yang disarankan untuk setiap kelompok makanan (misalnya protein, lemak, karbohidrat, dan gula). Konsumsi diet sehat dapat menurunkan risiko penyakit jantung, mencegah perkembangan beberapa jenis kanker, dan menjaga berat badan yang sehat.[30] Diet mediterania umumnya dikaitkan dengan meningkatnya kesehatan karena diet ini mengandung banyak senyawa bioaktif seperti senyawa fenolik, isoprenoid, dan alkaloid.[31]

Latihan fisik[sunting | sunting sumber]

Latihan fisik meningkatkan atau mempertahankan kebugaran fisik dan kesehatan, serta kesejahteraan secara keseluruhan. Kegiatan ini memperkuat otot dan meningkatkan kinerja sistem kardiovaskular. Menurut Institut Kesehatan Nasional, ada empat jenis latihan fisik: daya tahan, kekuatan, fleksibilitas, dan keseimbangan.[32]

Tidur[sunting | sunting sumber]

Jam tidur yang diperlukan oleh setiap kelompok usia.[33]
Usia dan kondisi Kebutuhan tidur
Baru lahir (0–3 bulan) 14 sampai 17 jam
Bayi (4–11 bulan) 12 sampai 15 jam
Batita (1–2 tahun) 11 sampai 14 jam
Balita (3–4 tahun) 10 sampai 13 jam
Anak usia sekolah (5–12 tahun) 9 sampai 11 jam
Remaja (13–17 tahun) 8 sampai 10 jam
Dewasa (18–64 tahun) 7 sampai 9 jam
Lanjut usia (65 tahun ke atas) 7 sampai 8 jam

Tidur merupakan komponen penting untuk menjaga kesehatan. Bagi anak-anak, tidur juga penting untuk pertumbuhan dan perkembangan. Kekurangan tidur dikaitkan dengan peningkatan risiko beberapa masalah kesehatan kronis. Selain itu, kurang tidur terbukti berkorelasi dengan peningkatan kerentanan terhadap penyakit dan memperlambat waktu pemulihan dari penyakit.[34] Dalam sebuah penelitian, orang dengan kekurangan tidur yang kronis, yaitu sebagai enam jam tidur dalam semalam atau kurang, ditemukan empat kali lebih mungkin terserang pilek dibandingkan dengan orang-orang yang melaporkan tidur malam selama tujuh jam atau lebih.[35] Karena tidur juga berperan dalam mengatur metabolisme, kekurangan tidur juga dapat berperan dalam penambahan berat badan atau, sebaliknya, menghambat penurunan berat badan.[36] Selain itu, pada tahun 2007, Badan Internasional untuk Penelitian Kanker, yang merupakan lembaga penelitian kanker untuk WHO, menyatakan bahwa "jam kerja yang melibatkan gangguan ritme sirkadian mungkin bersifat karsinogen bagi manusia."[37] Pada 2015, Yayasan Tidur Nasional menerbitkan rekomendasi terbaru tentang persyaratan durasi tidur berdasarkan usia dan menyimpulkan bahwa, "Orang yang terbiasa tidur di luar kisaran normal mungkin menunjukkan tanda atau gejala masalah kesehatan yang serius atau, jika dilakukan atas kehendak sendiri, dapat membahayakan kesehatan dan kesejahteraan mereka."[33][38]

Dalam bekerja[sunting | sunting sumber]

Selain risiko keselamatan, banyak pekerjaan juga berisiko memunculkan penyakit dan masalah kesehatan jangka panjang lainnya. Contoh penyakit akibat pekerjaan yang paling umum adalah berbagai bentuk pneumokoniosis, seperti silikosis dan pneumokoniosis pekerja batu bara (penyakit paru-paru hitam). Asma adalah penyakit pernapasan lain yang rentan dialami pekerja. Pekerja juga rentan terhadap penyakit kulit, termasuk eksim, dermatitis, urtikaria, bakaran matahari, dan kanker kulit.[39] Penyakit terkait pekerjaan lainnya misalnya sindrom lorong karpal dan keracunan timbal.

Karena jumlah pekerjaan di sektor jasa di negara-negara maju semakin banyak, gaya hidup kurang bergerak juga semakin meluas. Hal ini menghadirkan masalah kesehatan yang berbeda dibandingkan dengan masalah kesehatan pada industri manufaktur dan sektor primer. Masalah kontemporer, seperti meningkatnya tingkat obesitas dan masalah yang berkaitan dengan stres dan pekerjaan berlebih di banyak negara, semakin mempersulit interaksi antara pekerjaan dan kesehatan.

Banyak pemerintah negara yang memandang kesehatan kerja sebagai tantangan sosial dan membentuk organisasi publik untuk memastikan kesehatan dan keselamatan pekerja. Di Britania Raya, Eksekutif Kesehatan dan Keselamatan dibentuk.[40] Sementara di Amerika Serikat, Institut Nasional untuk Kesehatan dan Keselamatan Kerja melakukan penelitian tentang kesehatan dan keselamatan kerja, sedangkan Administrasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja menangani regulasi dan kebijakan yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan bagi pekerja.[41][42]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Organisasi Kesehatan Dunia (2020). "Constitution of the World Health Organization". Basic Documents (PDF) (edisi ke-49). Jenewa: Organisasi Kesehatan Dunia. hlm. 1. ISBN 978-92-4-000051-3. 
  2. ^ a b "Definitions of Health". AFMC. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 Agustus 2016. 
  3. ^ Organisasi Kesehatan Dunia (1958). The First ten years of the World Health Organization. Jenewa: Organisasi Kesehatan Dunia. hlm. 459. ISBN 9241560142. "Health is a state of complete physical, mental and social well-being and not merely the absence of disease or infirmity". 
  4. ^ Stokes, Joseph; Noren, Jay; Shindell, Sidney (1982). "Definition of terms and concepts applicable to clinical preventive medicine". Journal of Community Health. 8 (1): 33–41. doi:10.1007/BF01324395. ISSN 0094-5145. A state characterized by anatomic integrity; ability to perform personally valued family, work, and community roles; ability to deal with physical, biological and social stress; a feeling of well-being; and freedom from the risk of disease and untimely death. 
  5. ^ Organisasi Kesehatan Dunia (1984). Health Promotion: A Discussion Document on the Concept and Principles: Summary Report of the Working Group on Concept and Principles of Health Promotion, Copenhagen, 9–13 July 1984. Kopenhagen: WHO Regional Office for Europe. Health promotion is the process of enabling people to increase control over, and to improve, their health. To reach a state of complete physical, mental and social well-being, an individual or group must be able to identify and to realize aspirations, to satisfy needs, and to change or cope with the environment. Health is, therefore, seen as a resource for everyday life, not the objective of living. 
  6. ^ Organisasi Kesehatan Dunia. "The Ottawa Charter for Health Promotion". WHO. Diakses tanggal 22 Juni 2020. 
  7. ^ Jadad, Alejandro R. (November 2016). "Creating a pandemic of health: What is the role of digital technologies?". Journal of Public Health Policy. 37 (S2): 260–268. doi:10.1057/s41271-016-0016-1. ISSN 0197-5897. 
  8. ^ Kotha, S.R.; Jadad, A.R.; Hu, H. (2015). "Creating a Pandemic of Health: Opportunities and Lessons for a University Initiative at the Intersection of Health, Equity, and Innovation". Harvard Public Health Review: A Student Publication. Diakses tanggal 22 Juni 2020. 
  9. ^ Jadad, A.R. (2013). "On Living a Long, Healthy, and Happy Life, Full of Love, and with no Regrets, until Our Last Breath". Verhaltenstherapie. 23 (4): 287–289. doi:10.1159/000357490. ISSN 1423-0402. 
  10. ^ Organisasi Kesehatan Dunia. "Social Determinants of Health". WHO. Diakses tanggal 22 Juni 2020. 
  11. ^ Organisasi Kesehatan Dunia. "About Social Determinants of Health". WHO. Diakses tanggal 23 Juni 2020. 
  12. ^ "Social Determinants of Health and Health Inequalities". Government of Canada. Diakses tanggal 22 Juni 2020. 
  13. ^ Lalonde, Marc (1981). A New Perspective on the Health of Canadians: A Working Document (PDF). Ottawa: Minister of Supply and Services Canada. ISBN 0-662-50019-9. 
  14. ^ Andreyeva, Tatiana; Chaloupka, Frank J.; Brownell, Kelly D. (Juni 2011). "Estimating the Potential of Taxes on Sugar-sweetened Beverages to Reduce Consumption and Generate Revenue". Preventive Medicine. 52 (6): 413–416. doi:10.1016/j.ypmed.2011.03.013. 
  15. ^ Wingard, Deborah L.; Berkman, Lisa F.; Brand, Richard J. (November 1982). "A Multivariate Analysis of Health-Related Practices". American Journal of Epidemiology. 116 (5): 765–775. doi:10.1093/oxfordjournals.aje.a113466. ISSN 1476-6256. 
  16. ^ Organisasi Kesehatan Dunia (23 November 2018). "WHO Housing and health guidelines". WHO. Diakses tanggal 23 Juni 2020. 
  17. ^ Bjork, J; Albin, M; Grahn, P; Jacobsson, H; Ardo, J; Wadbro, J; Ostergren, P-O; Skarback, E (1 April 2008). "Recreational values of the natural environment in relation to neighbourhood satisfaction, physical activity, obesity and wellbeing". Journal of Epidemiology & Community Health. 62 (4): e2–e2. doi:10.1136/jech.2007.062414. ISSN 0143-005X. 
  18. ^ White, Mathew P.; Alcock, Ian; Grellier, James; Wheeler, Benedict W.; Hartig, Terry; Warber, Sara L.; Bone, Angie; Depledge, Michael H.; Fleming, Lora E. (Desember 2019). "Spending at least 120 minutes a week in nature is associated with good health and wellbeing". Scientific Reports. 9 (1): 7730. doi:10.1038/s41598-019-44097-3. ISSN 2045-2322. PMC 6565732alt=Dapat diakses gratis. PMID 31197192. 
  19. ^ Institute of Medicine (US) Committee on Assessing Interactions Among Social, Behavioral, and Genetic Factors in Health (2006). "3. Genetics and Health". Dalam Hernandez, L.M.; Blazer, D.G. Genes, Behavior, and the Social Environment: Moving Beyond the Nature/Nurture Debate. Washington DC: National Academies Press. 
  20. ^ Rajan, Tm; Menon, V (2017). "Psychiatric disorders and obesity: A review of association studies". Journal of Postgraduate Medicine. 63 (3): 182. doi:10.4103/jpgm.JPGM_712_16. ISSN 0022-3859. PMC 5525483alt=Dapat diakses gratis. PMID 28695871. 
  21. ^ Beaglehole, Robert; Bonita, Ruth (Desember 2010). "What is global health?". Global Health Action. 3 (1): 5142. doi:10.3402/gha.v3i0.5142. ISSN 1654-9716. PMC 2852240alt=Dapat diakses gratis. PMID 20386617. 
  22. ^ Organisasi Kesehatan Dunia. "World Health Report". WHO. Diakses tanggal 22 Juni 2020. 
  23. ^ "Global Health Security Agenda". Global Health Security Agenda. Diakses tanggal 24 Juni 2020. 
  24. ^ "About the Sustainable Development Goals". United Nations Sustainable Development. Diakses tanggal 24 Juni 2020. 
  25. ^ Organisasi Kesehatan Dunia (2004). Promoting Mental Health: Summary Report (PDF). Jenewa: Organisasi Kesehatan Dunia. hlm. 12. ISBN 9241591595. 
  26. ^ a b "Mental health: strengthening our response". WHO. 30 Maret 2018. Diakses tanggal 24 Juni 2020. 
  27. ^ "Mental disorders: Key facts". WHO. 28 November 2019. Diakses tanggal 24 Juni 2020. 
  28. ^ "Mental disorders affect one in four people". WHO. 4 Oktober 2001. Diakses tanggal 24 Juni 2020. 
  29. ^ "Nutrients". WHO. Diakses tanggal 19 Juli 2020. 
  30. ^ "Healthy Eating". New South Wales Government. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 Februari 2014. 
  31. ^ Garrido M; González-Flores D; Marchena AM; Propr E; García-Parra J; Barriga C; Rodríguez A.B. (2013). "A lycopene-enriched virgin olive oil enhances antioxidant status in humans". Journal of the Science of Food and Agriculture. 93 (8): 1820–26. doi:10.1002/jsfa.5972. PMID 23225211. 
  32. ^ "Four Types of Exercise Can Improve Your Health and Physical Ability". National Institutes of Health. Diakses tanggal 19 Juli 2020. 
  33. ^ a b Hirshkowitz, Max; Whiton, Kaitlyn; et al. (14 January 2015). "National Sleep Foundation's sleep time duration recommendations: methodology and results summary". Sleep Health. 1 (1): 40–43. doi:10.1016/j.sleh.2014.12.010. PMID 29073412. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 November 2017. Diakses tanggal 4 February 2015. 
  34. ^ Pilkington, Stephanie (7 Agustus 2013). "Causes and consequences of sleep deprivation in hospitalised patients". Nursing Standard. 27 (49): 35–42. doi:10.7748/ns2013.08.27.49.35.e7649. ISSN 0029-6570. 
  35. ^ Rea, Shilo (31 Agustus 2015). "New Research Confirms Lack of Sleep Connected To Getting Sick - News - Carnegie Mellon University". Carnegie Mellon University. Diakses tanggal 19 Juli 2020. 
  36. ^ Patel, Sanjay R.; Hu, Frank B. (2008). "Short Sleep Duration and Weight Gain: A Systematic Review". Obesity. 16 (3): 643–653. doi:10.1038/oby.2007.118. ISSN 1930-739X. PMC 2723045alt=Dapat diakses gratis. PMID 18239586. 
  37. ^ "IARC Monographs Programme finds cancer hazards associated with shiftwork, painting and firefighting". International Agency for Research on Cancer. 5 Desember 2007. Diarsipkan dari versi asli tanggal 21 Juli 2011. 
  38. ^ Hirshkowitz, Max; Whiton, Kaitlyn; Albert, Steven M.; Alessi, Cathy; Bruni, Oliviero; DonCarlos, Lydia; Hazen, Nancy; Herman, John; Katz, Eliot S. (Maret 2015). "National Sleep Foundation's sleep time duration recommendations: methodology and results summary". Sleep Health. 1 (1): 40–43. doi:10.1016/j.sleh.2014.12.010. 
  39. ^ "Skin Exposures and Effects". CDC. Diakses tanggal 5 Juli 2020. 
  40. ^ "HSE: Information about health and safety at work". HSE. Diakses tanggal 5 Juli 2020. 
  41. ^ "The National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH)". CDC. Diakses tanggal 5 Juli 2020. 
  42. ^ "Occupational Safety and Health Administration". OSHA. Diakses tanggal 5 Juli 2020. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]