Silikosis

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Silikosis
SpesialisasiPulmonologi Sunting ini di Wikidata

Silikosis adalah penyakit yang disebabkan karena menghirup debu silika kristalin dan dapat diidentifikasi dari peradangan dan lesi nodular di lobus atas paru-paru. Penyakit ini merupakan sejenis pneumokoniosis.[1] Gejala silikosis (terutama yang akut) adalah sesak napas, batuk, demam dan sianosis (kulit kebiruan). Kadang-kadang terjadi kesalahan diagnosis karena gejalanya mirip dengan edema paru (cairan di paru-paru), pneumonia, atau tuberkulosis. Silikosis mengakibatkan kematian 46.000 orang pada tahun 2013, walaupun jumlahnya sudah menurun dari 55.000 kematian pada tahun 1990.[2]

Jenis[sunting | sunting sumber]

Silikosis akut[sunting | sunting sumber]

Silokosis akut memiliki nama lain yaitu silicopronteinosis.[3] Silikosis akut disebabkan oleh paparan debu silika dengan jumlah yang besar, paparannya terbilang lama dari rentang waktu mingguan hingga bertahun-tahun. Namun kasus silosis akut masih jarang ditemukan.[4]

Silikosis yang dipercepat[sunting | sunting sumber]

Silikosis yang dipercepat bisa terpapar dalam kurun waktu sepuluh tahun, dengan tingkat paparan tingkat menengah hingga tinggi. Perkembangan penyakit silikosis bisa terus terjadi, meskipun sudah tidak terkena lagi paparan debu silika.[3]

Silikosis kronis[sunting | sunting sumber]

Silikosis kronis bisa terpapar karena debu silika dalam intensitas rendah hingga sedang.[3]

Faktor risiko[sunting | sunting sumber]

Beberapa aktivitas memiliki risiko yang tinggi terhadap penyakit silikosis. Contohnya para pekerja pabrik, tukang batu, dan pekerja tambang. Hal tersebut dikarenakan pekerjaan-pekerjaan tersebut berhubungan langsung dengan silika, faktor utama penyebab silikosis.[5] Debu silika yang dihirup dan masuk ke dalam paru-paru juga bisa berakibat terserang penyakit bronkitis kronis dan emfisema, tanpa ditemukan gejala dari penyakit silikosis ketika melakukan diagnosis radiologi.[6] Debu silika merupakan permasalahan utama bagi kesehatan pekerja industri di seluruh dunia. Sekitar dua juta orang di Amerika Serikat terpapar debu silika, tiga juta orang terpapar debu silika di Eropa. Di Asia, 23 juta pekerja di Cina terpapar debu silika, dan 10 juta pekerja Cina terpapar debu silika di lingkungan kerjanya.[7] Silika yang terdapat dalam debu biasanya terbentuk ketika para pekerja melakukan aktivitas memotong, menggunakan gergaji, menggiling, melakukan aktivitas bor, dan aktivitas menghancurkan kaca, menghancurkan tanah, batu, dan beton yang biasanya digunakan untuk dibuat pasir industri.[8] Bagi pemilik industri, sebaiknya selalu menyediakan alat pelindung diri (APD). dan masker 95, karena debu silika bisa meyebabkan silikosis dan fungsi paru-paru akan terganggu karena paparannya.[9] Debu yang terhirup masuk ke dalam saluran nafas memicu respon pertahanan non spesifik berupa batuk, bersin, gangguan transport fimbria mukus, dan gangguan fagositosis makrofag. Sistem silia mukosa juga terganggu, menyebabkan peningkatan produksi lendir dan iritasi otot polos di sekitar saluran udara, yang mengakibatkan stenosis. Dengan bertambahnya mukus dengan mekanisme yang tidak lengkap maka terjadi resistensi jalan napas berupa obstruksi jalan napas. Ini secara umum dapat dijelaskan sebagai penurunan kapasitas vital.[10] Berdasarkan kebijakan yang dikeluarkan oleh Occupational Safety and Health Administration (OSHA), debu silika yang standar ada di linkungan kerja yaitu 10 mg/m. Sedangkan Mine Safety and Health Administration sebuah organisasi kesehatan dan keselamatan tambang di Amerika Serikat memperbaiki jumlah tersebut, menjadi 0,05 mg/m^3 total debu silika di perusahaan.[11]

Penyembuhan[sunting | sunting sumber]

Silikosis bisa disembuhkan dengan cara mengurangi gejala yang timbul dari penyakit tersebut. Contohnya dengan meminum obat batuk, yang bertujuan untuk mengurangi efek batuk yang timbul karena paparan silika. Selain itu untuk membantu mempermudah bernapas, bisa menggunakan inhaler, atau menggunakan masker oksigen agar mempermudah pernapasan. Hal yang harus diperhatikan yaitu ketika sudah diagnosis silikosis, harus berhati-hati dengan risiko tuberkulosis, karena memiliki kesamaan gejala. Yang membutuhkan perawatan secara intensif yaitu sikosis yang parah, kadang para penderita membutuhkan transpalantasi paru-paru untuk sembuh dari penyakit tersebut.[12]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Prasanda, Aditya (2021). "Mengenal Bahaya Silika, Penyebab Silikosis Paru". klikdokter.com. Diakses tanggal 2022-02-28. 
  2. ^ GBD 2013 Mortality and Causes of Death Collaborators (2014). "Global, regional, and national age-sex specific all-cause and cause-specific mortality for 240 causes of death, 1990-2013: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2013". Lancet. 385: 117–71. doi:10.1016/S0140-6736(14)61682-2. PMC 4340604alt=Dapat diakses gratis. PMID 25530442. 
  3. ^ a b c Endang, Desi Ratnasari (2020). "Karakteristik Pekerja yang Berisiko Menderita Silikosis di Beberapa Industri di Indonesia Periode Tahun 2011 sampai dengan Tahun 2019" (PDF). Repository Unibos. hlm. 8-9. 
  4. ^ Koesoemoprodjo, Winariani; Merinda, Vinodini (2016). "Seorang Penderita Siliko Tuberkulosis dengan Penyulit Pneumotoraks". E-Journa Unair. hlm. 78-79. 
  5. ^ Handayani, Verury Verona (2019). "Jangan Salah, ini Bedanya Asbestosis dan Silikosis". Halodoc. Diakses tanggal 2022-02-28. 
  6. ^ Ilmiawati, Cimi; Reza, Mohamad; Russilawati (2017). "Edukasi Pencegahan Penyakit Paru Akibat Paparan Debu Silika pada Pengrajin Batu Akik di Kota Padang". Logista Fafeta. hlm. 2. 
  7. ^ Wijaya, I. Putu Eka Krisnha; Rai, Ida Bagus Ngurah; Andrika, I. Putu (2019-07-01). "Hubungan antara Pajanan Debu Silika dengan Transforming Growth Factor-ß1 Serum pada Pekerja Industri Pengolahan Batu". Jurnal Penyakit Dalam Indonesia. 6 (2): 65. doi:10.7454/jpdi.v6i2.311. 
  8. ^ Jannah, Baiq Raudatul (2018). "Analisis Risiko Silikosis Akibat Paparan Debu Silika pada Pekerja Tambangn Bawah Tanah PT. X di Papua" (PDF). Dspace UII. hlm. 12. 
  9. ^ Apsari, Laeila; Budiyono, Budiyono; Setiani, Onny (2018). "Hubungan Paparan Debu Terhirup dengan Gangguan Fungsi Paru pada Pekerja Pertambangan Pasir dan Batu Perusahaan X Rowosari Kota Semarang". Jurnal Kesehatan Masyarakat (Undip) (dalam bahasa Inggris). 6 (4): 473. ISSN 2356-3346. 
  10. ^ Anugrah, Yuma (2014). "Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kapasitas Vital Paru pada Pekerja Penggilingan Divisi Batu Putih di PT. Sinar Utama Karya". Jurnal Unnes. hlm. 2. 
  11. ^ Sari, Marini Puspita (2019). "Hubungan Masa Kerjaj terhadap Gejala Respirasi dan Hasil Foto Dada Pekerja Industri Keramik Perusahaan X Mabar Medan" (PDF). Repositori USU. hlm. 16. 
  12. ^ Widyawinata, Yusra (2018). "Penyakit Silikosis: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan • Hello Sehat". Hello Sehat. Diakses tanggal 2022-02-28.