Penis manusia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Penis manusia
UR UF2.jpg
Penis pada saat tidak ereksi (kiri) dan sedang ereksi (kanan).
Penis Anatomy2 numbers.svg
Anatomi penis. 1. Kandung kemih (uretra), 2. Tulang selangkang (Os pubis), 3. Kelenjar prostat, 4. Corpus cavernosum, 5. Glans penis, 6. Kulup (praeputium), 7. Mulut penis, 8. Kantung zakar (scrotum), 9. Testis (buah zakar), 10. Epididimis, 11. Vas deferens (saluran sperma).

Penis manusia adalah organ pada bagian antara pangkal paha yang berfungsi sebagai saluran keluarnya air seni (urin) dan air mani (sperma). Dengan demikian, penis adalah bagian dari sistem reproduksi laki-laki (manusia berjenis kelamin jantan) sekaligus bagian dari sistem ekskresi. Selain penis, sistem organ reproduksi laki-laki mencakup pula epididimis (pelir) yang terlindung dalam kantung pelir '(buah zakar atau scrotum) ditambah beberapa kelenjar dan saluran.

Fungsi[sunting | sunting sumber]

Penis manusia memiliki fungsi dan asal usul perkembangan (ontogeni) yang sama dengan penis mamalia jantan lainnya. Dalam keadaan tanpa rangsangan, penis lemah dan menggantung. Pada saat demikian fungsi sebagai alat urinasi (membuang urin) adalah optimal. Apabila terkena rangsangan yang dikendalikan oleh otak, baik seksual maupun non-seksual, penis membesar ukurannya dan menegang. Keadaan ini dikenal sebagai ereksi. Pada kondisi ereksi penuh, penis tidak siap untuk saluran pembuangan urin dan akan siap sebagai saluran penyaluran cairan sperma.

Ada beberapa kekhasan penis manusia. Secara perbandingan, proporsi penis manusia lebih besar daripada mamalia lainnya. Penis manusia tidak memiliki kulit pelindung yang menyembunyikannya di saat "istirahat". Selain itu, penis manusia sama sekali tidak memiliki baculum atau tulang penis, sehingga untuk penetrasi ke dalam vagina, dalam ereksi penis mengandalkan sepenuhnya pada pasokan darah ke dalam kantung-kantung (corpora) yang ada di dalam batang penis.

Manusia juga menyadari bahwa penis memiliki fungsi rekreasi (hiburan), namun hal ini juga ditemukan pada sejumlah primata. Tanpa alasan reproduksi, manusia menjadikan penis sebagai objek kesenangan, seperti melalui masturbasi.

Bagian dan struktur[sunting | sunting sumber]

Anatomi batang penis manusia

Penis manusia tersusun dari dua bagian utama, yaitu pangkal/akar (radix) dan tubuh/batang (corpus). Pangkal penis terletak di dalam badan, terdiri dari gelembung penis (bulbus penis) dan sepasang crus penis di kedua sisinya. Permukaan kulit yang melindungi pangkal penis biasanya memiliki rambut kemaluan. Tubuh penis memiliki dua sisi permukaan: dorsal (bagian yang tampak dari depan jika penis "istirahat") dan ventral atau uretral (mengarah ke dalam/testis).

Penis manusia (tidak dikhitan). Preputium (kulup) menutupi sebagian glans penis.

Struktur tubuh penis disokong oleh tiga kantung: sepasang corpora cavernosus dan corpus spongiosus di antara keduanya, terletak di sisi ventral dan melindungi saluran kemih (uretra). Di bagian ujung batang terdapat glans penis yang berbentuk agak meruncing pada ujungnya, yang memudahkan penetrasi di saat hubungan seksual. Apabila seseorang tidak dikhitan (sirkumsisi), glans penis tertutup oleh pemanjangan kulit batang penis yang disebut kulup atau preputium. Pada saat ereksi, glans penis biasanya akan keluar dari kulit penutup tersebut.

Uretra adalah saluran bagi semen (cairan sperma atau mani) sekaligus urin (air seni atau kencing). Bagian ujung dari uretra, yang tampak pada glans penis disebut meatus. Urin melewati uretra apabila katup di bagian bawah kandung kemih dibuka. Mani melewati uretra pada saat ejakulasi. Semprotan pada ejakulasi tidak dikendalikan oleh uretra tetapi oleh otot yang berada di sekeliling pangkal penis.

Pada bagian ventral dari batang penis terlihat raphe, segaris guratan dari belakang glans penis menuju anus melewati scrotum. Raphe pada perempuan berkembang menjadi lubang vagina.

Perkembangan, pertumbuhan dan ukuran[sunting | sunting sumber]

Distribusi kumulatif ukuran penis manusia, berdasarkan penelitian LifeStyle.

Penis berkembang pada saat penentuan kelamin di dalam rahim. Seperti ovarium (kandung telur), keduanya berkembang dari gonad, yang berkembang sebagai penebalan lapisan mesotelium pada peritoneum. Peritoneum sendiri berkembang dari mesoderm. Perbedaan kelamin mulai tampak setelah embrio berusia tujuh minggu.

Pada saat bayi laki-laki lahir, penis telah berkembang baik. Pada beberapa gangguan perkembangan dapat terjadi penis yang tersembunyi atau terjadi hermafroditisme, yaitu kedua organ kelamin terbentuk semua.

Pada pertumbuhan normal, penis dan kantung pelir mulai mengalami perkembangan pada saat pubertas (akil baligh dalam istilah keagamaan Islam). Hormon testosteron berperan dalam perkembangan ini. Proses inilah yang akan menentukan ukuran penis. Berdasarkan pengamatan terhadap ribuan contoh laki-laki berusia 17-18 tahun tidak ditemukan perbedaan rata-rata panjang penis antara usia 17 dan 19 tahun, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa perkembangan penis berhenti pada sekitar usia 17 tahun atau bahkan lebih awal.[1]

Panjang penis pada saat ereksi memiliki rata-rata 14-15 cm, mengabaikan ras manusia, berdasarkan hasil penelitian perusahaan pembuat kondom LifeStyle. Kisaran untuk sebagian besar manusia adalah 12 sampai 17 cm.

Aspek budaya[sunting | sunting sumber]

Dewa Priapus dalam lukisan dinding (fresko) di reruntuhan kota Pompeii.
Patung tanpa kepala yang sedang memegang penis yang ditindik. Lokasi di Candi Sukuh.

Kebudayaan manusia banyak memberi perhatian terhadap penis. Pada umumnya, penis dianggap merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan. Hal ini tampak pada berbagai kata-kata eufemisme untuk menyebutnya dalam percakapan sehari-hari. Orang Indonesia sering menyebut "burung" bagi penis, terutama kepada anak-anak. Kata asli dalam bahasa Indonesia[2] bahkan dianggap sebagai kata yang tidak pantas disampaikan di muka umum.

Penis yang ereksi, dikenal sebagai phallus, seringkali menjadi perlambang kesuburan. Kebudayaan Indik (yang terpengaruh Hinduisme) banyak mengadopsi perlambang ini dan diwujudkan dalam figur lingam atau lingga. Lingga juga diwujudkan dalam bentuk bangunan dan pahatan (arsitektur phallik), seringkali distilistik sehingga tidak tampak jelas.

Kebudayaan Yunani Kuna dan Romawi mengenal Dewa Priapus, yaitu dewa kesuburan yang digambarkan memiliki penis yang besar. Kepercayaan ini bahkan memasuki beberapa kelompok kultus "agama baru", sehingga terdapat "gereja" yang khusus dibangun untuk memujanya (Gereja St. Priapus) [3].

Beberapa kelompok etnis Dayak di Kalimantan dan orang Cebu di Luzon, Filipina[4], dilaporkan menjalankan tradisi menindik penis. Hal ini dilakukan sebagai simbol kedewasaan (rite de passage). Praktik menindik penis juga dikenal dalam Hinduisme. Beberapa patung di Candi Sukuh dan Candi Ceto, dua candi yang dibangun pada periode akhir Majapahit, memperlihatkan sosok patung dengan penis ditindik. Beberapa kelompok masyarakat modern juga mempraktikkan tindik dan rajah penis untuk alasan estetika dan rekreasi.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Ponchietti R, Mondaini N, Bonafè M, Di Loro F, Biscioni S, Masieri L (Februari 2001). "Penile length and circumference: a study on 3,300 young Italian males". European Urology 39 (2): 183–6. doi:10.1159/000052434. PMID 11223678. 
  2. ^ Bahasa Melayu dan bahasa Jawa mengenal kata "kontol".
  3. ^ Fritscher, Jack; Anton Szandor La Vey (2004). Popular witchcraft: straight from the witch's mouth. Popular Press. hlm. 161. ISBN 978-0-299-20304-7. 
  4. ^ Maria Clara and the Golden Tara By Peter Jaynul V. Uckung

Pranala luar[sunting | sunting sumber]