Pendalungan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari

Pendalungan adalah istilah untuk menyebut kebudayaan hasil asimilasi antara budaya Jawa dan Madura. Asimilasi ini membentuk suatu komunitas yang tersebar di pesisir Pantai Utara Jawa Timur (sebagian Tuban, Lamongan, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, hingga Situbondo) dan sebagian Pesisir Selatan Jawa Timur bagian timur (Lumajang, Jember, dan sebagian Banyuwangi). Komunitas Pandalungan terbesar tinggal di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur, meliputi Kabupaten dan Kota Pasuruan, Kabupaten dan Kota Probolinggo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Jember, Kabupaten Bondowoso, dan Kabupaten Situbondo, serta sebagian utara dan selatan Kabupaten Banyuwangi. Matapencaharian masyarakat yang didiami oleh komunitas Pandalungan ini sebagian besar bertani, buruh tani, berkebun, dan nelayan. Pengaruh terbesar komunitas Pandalungan adalah budaya Madura dan Islam, dengan bahasa sehari-hari menggunakan campuran antara Bahasa Jawa dialek Suroboyoan dengan Bahasa Madura, bahkan di sebelah timur Kota Probolinggo hingga kecamatan Wongsorejo, paling utara Banyuwangi, hampir semua penduduk lokalnya hanya bisa berbahasa Madura dan sama sekali tidak bisa berbahasa Jawa. Kesenian yang tumbuh dan berkembang di wilayah ini bercorak Pandalungan dengan karakter dasar nilai Islam yang sangat kuat dalam berbagai corak kesenian rakyatnya.[1][2]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Konsep sebutan "Pendhalungan" mirip dengan konsep melting pot di Amerika Serikat, yaitu percampuran beberapa etnik dalam suatu wilayah. Pandhalungan berasal dari istilah Jawa ‘dhalung: periuk besar’ yang bermakna sebuah kawasan besar yang menampung dua atau lebih kelompok etnik dan melahirkan kebudayaan baru yang diadopsi dari unsur-unsur budaya pembentuknya.

Istilah "Pendalungan" ini selalu dikaitkan dengan sosial-budaya penduduk kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur, yang meliputi wilayah Pasuruan bagian timur, Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi, dimana sebagian besar penduduknya merupakan campuran etnis Jawa dan Madura. Bahkan pengaruh budaya Madura juga sangat kuat di wilayah ini, khususnya di wilayah pesisir Pasuruan hingga Probolinggo bagian timur, Situbondo, Bondowoso, sebagian besar Lumajang, sebagian besar Jember, dan sebagian kecil wilayah Banyuwangi. Kecuali Banyuwangi, yang memiliki kebudayaan sendiri, yaitu etnis Osing. Juga pegunungan Tengger yang memiliki suku Tengger.[1]

Dulunya, sampai akhir abad 17, seluruh wilayah ini dihuni oleh suku Jawa dan suku Osing di bagian timur, sebab wilayah Tapal Kuda bagian barat (seluruh wilayah Pasuruan-Probolinggo dan Pegunungan Tengger) menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit dan Medang Kamulan, sedangkan wilayah timur (yakni semua wilayah Karesidenan Besuki)adalah kekuasaan Kerajaan Blambangan yang merupakan pecahan dari Majapahit yang kemudian dipengaruhi kerajaan Mengwi dari Bali. Namun kemudian, sekitar awal abad ke 18, banyak orang Madura datang ke daratan Tapal Kuda dan akhirnya mendiami wilayah yang sekarang bernama Situbondo. Pada pendatang dari Madura itu kemudian menyebar hingga ke selatan sampai Jember dan Lumajang. Akibatnya, sebagian suku Jawa dan suku Osing yang awalnya mendiami semua wilayah itu pindah ke wilayah barat (Mataraman), selatan, dan timur (Blambangan). Penduduk suku Jawa pindah ke arah barat dan selatan, sedangkan penduduk Osing pindah ke arah timur dan sebagian menyeberang ke pulau Bali. Namun, tidak sedikit pula, terutama dari suku Jawa, yang berbaur dengan pendatang dari Madura dan akhirnya berkembang pesat penduduk berdarah Jawa-Madura yang kemudian disebut orang Pendalungan di kawasan Tapal Kuda sampai sekarang.[2]

Dialek bahasa[sunting | sunting sumber]

Bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa dialek Surabaya dan bahasa Madura. Bahasa Madura sendiri merupakan bahasa mayoritas di sebagian besar wilayah, khususnya wilayah pesisir utara dari kota Probolinggo sepanjang Jalan Raya Probolinggo-Situbondo hingga daerah sebelah utara pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Kebanyakan kosakatanya adalah kombinasi (campuran) bahasa Surabayaan dengan bahasa Madura.

Sedangkan wilayah pegunungan Tengger (Bromo-Semeru) memiliki bahasa sendiri, yaitu bahasa Tengger. Juga Banyuwangi, memiliki bahasa sendiri pula, yaitu bahasa Osing.

Beberapa kosakata yang digunakan cukup unik, karena hanya ditemukan di daerah Tapal Kuda saja dan tidak bisa ditemukan di daerah lain. Contoh kosakata khas Pendalungan sebagai berikut: (huruf ě dibaca seperti pada kata "emas")

  • ěběh, ungkapan heran (loh atau hah dalam bahasa Jawa baku atau Indonesia),
    • Contoh kalimat: "ěběh, kok iso?"="lo, kok bisa?"
  • cek e/cekno, artinya "biarkan".
  • cik, maknanya adalah "sangat" atau "betapa".
    • Contoh kalimat: "cik gětune aku!!"="betapa menyesalnya aku!".
  • godir (baca="goder") artinya "agar-agar" atau "jeli".
  • guděr (atau "guyon" dalam bahasa Jawa baku) artinya "bercanda".
  • tamběng, artinya, "nakal" atau "keras kepala".
  • mělěr, artinya sama seperti "tamběng".
  • ndak/gak ("ora" dalam bahasa Jawa baku) artinya "tidak".
  • iděp, artinya "bulu mata", tapi kata "ndak iděp" bermakna "tidak paham".
  • oměs, artinya "telaten", "sabar", atau "ulet" atau "peduli", tergantung pada penggunaan;
    • contoh kalimat: "pancen ndak oměs arek iki!"="memang tidak sabar anak ini!"

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]