Otis Hahijary

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Otis Hahijary
LahirOtis Hahijary
12 Desember 1969 (umur 54)
Jakarta, Indonesia
KebangsaanIndonesia
PekerjaanDirektur Pengatur (antv)
Wakil Direktur Utama (antv)
Tahun aktif2003-sekarang
Tempat kerjaPasaraya Departement Store (2003)
tvOne (2003-2016)
antv (2013-sekarang)
Dikenal atasantv dan tvOne

Dr. Otis Hahijary, S.Pd (lahir 12 Desember 1969) adalah salah satu tokoh pertelevisian Indonesia. Beliau merupakan tokoh di Visi Media Asia, induk perusahaan media yang membawahi antv, tvOne, dan portal berita VIVAnews.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Karier[sunting | sunting sumber]

Era Lativi (2003-2008)[sunting | sunting sumber]

Sebelum terjun di dunia penyiaran, Otis sempat bekerja di Pasaraya Departement Store, sebuah perusahaan ritel di bawah naungan ALatief Corporation milik pengusaha Abdul Latief sebagai Managing Director pada tahun 2000 hingga 2003. Ketika bekerja di Pasaraya Departement Store, Otis dituntut untuk cermat dalam mengelola tata ruangan produk fashion dan kosmetik, agar produk tersebut dapat lebih mudah dijangkau oleh pelanggan.[1] Pada tahun 2003, Otis hengkang dari Pasaraya Departement Store dan bergabung dengan Lativi (kala itu sahamnya juga dimiliki oleh ALatief Corporation) untuk membenahi program-program di stasiun televisi tersebut. Beberapa program Lativi saat itu yang populer di tangan Otis antara lain kartun Nickelodeon, Lativi Kids, Karbol, Komedi Tengah Malam, Layar Komedi, Pildacil, hingga program gulat bebas World Wrestling Entertainment (RAW, Smackdown, ECW). Pada masa itu, Otis terbilang berani menempatkan tayangan World Wrestling Entertainment pada jam keluarga yakni dimulai pada pukul 21.00 WIB (dan pernah pula tayang secara marathon mulai pukul 20.00 hingga 05.00 WIB pada momen libur lebaran).

Sayangnya setelah terjadinya kasus pada anak berusia 9 tahun yang tewas seusai menyaksikan Smackdown pada akhir tahun 2006, pada tahun 2007 Lativi berpindah kepemilikan ke VIVA, anak perusahaan Grup Bakrie karena telah terbebas dari kepungan kewajiban hutang ke Bank Mandiri sebagai dampak dari kredit macet yang terungkap ke publik pada Mei 2005.

Setelah Lativi bergabung dengan VIVA, Otis kemudian merubah tubuh programming Lativi dengan menghadirkan rerun film layar lebar milik Warkop DKI dan sinetron-sinetron lawas mereka seperti Aladdin (sebelumnya tayang di SCTV), Untung Ada Jinny (sebelumnya tayang di antv), Tuyul dan Mbak Yul (sebelumnya tayang di RCTI dan TPI) serta menambahkan sinetron produksi baru saat itu yakni Duyung Kembar Ketemu Tuyul yang diproduksi oleh Imperial Pictures. Konsep ini juga kemudian diterapkan oleh ANTV sejak Juli 2016, 3 tahun setelah Otis bergabung dengan ANTV.

Di era inilah, Otis juga memperluas divisi programnya dengan menghadirkan program Kabar (program berita), Telusur (Investigasi), Panji Sang Penakluk (dokumenter) dan Nuansa 1000 Pulau (dokumenter). Empat program ini masih berlanjut tayang setelah berganti nama menjadi tvOne.

Rebranding Lativi menjadi tvOne (2008-2017)[sunting | sunting sumber]

Setahun setelah Karni Ilyas bergabung dengan Lativi sebagai pemimpin redaksi, pada tahun 2008, Otis membuat gebrakan baru di dunia pertelevisian Indonesia yakni melakukan peluncuran ulang terhadap stasiun televisi Lativi menjadi tvOne tepat pada 14 Februari 2008.[2] Dengan mengusung tema sebagai televisi berita, olahraga, dan hiburan (secara selektif), Otis berhasil menjadikan tvOne sebagai referensi utama pemirsa Indonesia dalam mencari informasi teraktual serta disajikan secara lebih atraktif dibandingkan pendahulunya, Metro TV maupun penerusnya di kemudian hari, yakni Kompas TV, BTV, CNN Indonesia dan iNews.[3] Target pasar utama yang dibidik Otis untuk tvOne adalah pria berusia 15 tahun ke atas dengan status ekonomi sosial menengah ke atas. Otis pun mengubah tampilan dan penyajian tayangan berita di layar kaca tvOne seperti halnya tayangan berita di saluran FOX News, serta menambahkan konten olahraga dan hiburan di dalamnya. Sehingga, tvOne secara konsisten sukses menjadi televisi berita nomor satu di Indonesia (berdasarkan data dari AC Nielsen) serta menjadi rujukan utama sejumlah media asing untuk memperoleh informasi penting dari Indonesia. Program berita dan talkshow unggulan seperti Kabar Petang, Apa Kabar Indonesia, Indonesia Lawyers Club (pada tahun 2021 digantikan oleh Catatan Demokrasi) dan Breaking News tvOne yang sukses memimpin pasar dibandingkan program sejenis di televisi berita lainnya merupakan bukti dari hasil tangan dingin Otis bersama Karni Ilyas selaku pemimpin redaksi tvOne. Beberapa program olahraga yang ditayangkan oleh tvOne juga sukses menarik perhatian pemirsa, seperti Liga Inggris, Liga Spanyol, Indonesia Super League, Live World Boxing, Piala Dunia 2014, Ultimate Fighting Championship dan Bundesliga Jerman (tvOne lebih sering menyebutnya sebagai Bundesliga Seru). tvOne juga sukses dalam menggelar ajang One Pride MMA sejak tahun 2016 hingga kini. Otis juga berhasil membawa tvOne sukses menayangkan program religi Islam bertajuk Damai Indonesiaku yang kerap menghadirkan ceramah dari ulama Ahlusunnah Wal Jamaah yang dikemas secara ringan dan menarik bagi pemirsa namun tidak mengurangi esensi acara itu sendiri.

Selama Otis bergabung dengan tvOne, Otis tidak sepenuhnya memegang tvOne selama Karni Ilyas menjadi pemimpin redaksi tvOne. Selain itu, tvOne juga menjadi stasiun televisi kedua yang menyajikan tayangan liputan seputar pemilu dan pilkada sekaligus menyiarkan Quick Count (hitung cepat) hasil cepat dari berbagai survei seperti Litbang Kompas, Indo Barometer, Charta Politika Indonesia, Lembaga Survei Indonesia, dan masih banyak lagi terhitung sejak pemilihan umum 2009 dan berlanjut dalam tahap Pemilu ataupun Pilkada berikutnya setiap 5 tahun.

Reposisi antv (2013-sekarang)[sunting | sunting sumber]

Sukses menjadikan tvOne sebagai televisi berita nomor satu di Indonesia, Otis pun ditugaskan oleh Visi Media Asia untuk melakukan pembenahan kinerja dan reposisi pasar pada stasiun televisi antv terhitung sejak Oktober 2013. Target pasar utama antv diubah dari yang semula menyasar kalangan remaja (yang identik dengan tayangan musik dan olahraga khususnya Liga Indonesia), menjadi televisi hiburan keluarga dengan penekanan pada pemirsa wanita (khususnya ibu rumah tangga) dan anak-anak.[3] Titik awal antv melejit menjadi salah satu televisi dengan jumlah penonton terbanyak di Indonesia dimulai dari meledaknya serial Mahabharata versi 2013 (pada tahun 2017 serial ini ditayangkan ulang di MNCTV), yang turut melambungkan popularitas Shaheer Sheikh di kalangan masyarakat Indonesia.[4] Sejak saat itulah, antv dikenal sebagai trendsetter penayangan serial India di Indonesia, dengan menghadirkan berbagai judul yang meledak di pasaran seperti Jodha Akbar, Uttaran, Thapki, Anandhi, Gopi, Archana Mencari Cinta, Lonceng Cinta, Mohabbatein, dan masih banyak lagi. Tidak cukup dengan serial India, Otis juga sukses menjadikan antv sebagai trendsetter penayangan serial Turki yang dimulai dari Abad Kejayaan, kemudian disusul dengan judul lainnya yakni Shehrazat, Cansu & Hazal, Antara Nur & Dia, Fatmagul, Bunga Yang Terluka, dan lain-lain. Namun mengingat adanya regulasi terhadap batasan konten dalam negeri dan luar negeri, Otis pun juga menghadirkan tayangan ulang beberapa sinetron produksi dalam negeri yang pernah berjaya di masanya seperti Jinny Oh Jinny, Tuyul dan Mbak Yul, Jin dan Jun, Duyung Kembar Ketemu Tuyul, Putri Duyung, Si Cecep, Warkop DKI versi Sinetron, UFO, Layar Komedi, dan lain-lain (beberapa di antaranya diproduksi ulang dalam versi baru oleh rumah produksi dari masing-masing judul). Termasuk juga menghadirkan sinetron dalam negeri yang menggabungkan artis Indonesia dengan beberapa artis India yang membintangi serial India yang ditayangkan oleh antv, serta mengembangkan beberapa program in-house seperti Pesbukers, yang pada tahun 2017 berhasil meraih prestasi tertinggi sepanjang sejarah penayangannya dengan sedikit memasukkan dan memodifikasi konsep program Yuk Keep Smile yang pada akhirnya juga mempopulerkan goyangan dengan nama "Chicken Dance" versi India. Otis juga sukses merebut hati pemirsa anak-anak dengan menghadirkan tayangan animasi asal Rusia yakni Masha & The Bear, serta beberapa tayangan animasi dari India seperti Shiva dan Burka Avenger. Selama menangani antv, Otis melakukan beberapa hal di antaranya menghidupkan kembali peran divisi programming, menjadikan setiap bagian waktu (daypart) merupakan primetime bagi setiap kelompok pemirsanya,[1] menerapkan strategi kombinasi program in-house dan out-house, menerapkan strategi pemasaran 360 derajat (dengan penekanan pada optimalisasi seluruh jaringan media sosial yang ada dan banyak digunakan pemirsa), serta meningkatkan nilai tambah bagi pemirsa antv (misalnya dengan menggelar program turunan dari serial India yang ditayangkan antv seperti Mahabharata Show).

Di masa reposisi ANTV sebagai stasiun televisi dengan penayangan series drama ini pula dimana pada tahun 2022 ANTV membangkitkan kembali program olahraga setelah 10 tahun vakum. Program tersebut ialah Lensa Olahraga dalam versi "reborn" dan berpindahnya One Pride MMA yang sebelumnya ditayangkan di tvOne. Untuk memperluas pemirsanya, strategi baru ANTV lainnya ialah menambahkan porsi tayangan olahraganya dengan menghadirkan tayangan Ultimate Fighting Championship (yang juga tayang di tvOne) yang mana ANTV dan tvOne juga menyiarkan program olahraga tersebut.

Rejuvenasi tvOne (2017-sekarang)[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2017, Otis memberikan kejutan di ranah pertelevisian dengan menghidupkan kembali program hiburan di layar kaca tvOne yang sempat mati suri serta peningkatan intensitas penayangan program olahraga di stasiun televisi yang sama, setelah tvOne sempat terlalu terfokus pada program berita dan olahraga (plus religi) (hanya saja saat itu porsi berita lebih banyak mendominasi) sepanjang tahun 2013 hingga 2016,[5][6] karena menurut kabar yang berhembus pada tahun 2012, Otis dan Karni Ilyas sempat berselisih mengenai alokasi jam tayang ketika program musik Radio Show mendominasi waktu menjelang tengah malam secara kejar tayang, dan sempat mengalami pengurangan durasi ketika penayangan Indonesia Lawyers Club melebihi batas waktu yang ditentukan programming, hingga akhirnya program tersebut harus dihentikan hingga tahun 2016 (dan kembali tayang sejak Januari 2017 namun tidak memiliki jadwal tetap).[7] Langkah ini diawali Otis dengan menghidupkan kembali program Radio Show, kemudian berlanjut dengan memindahkan beberapa program yang sebelumnya ditayangkan antv ke layar kaca tvOne yaitu berupa serial Turki dan program kuis Super Family 100. Otis juga kembali menghadirkan tayangan kompetisi sepak bola dengan mengambil kembali hak siar Liga Indonesia (Liga 1 dan Liga 2) untuk memuaskan pecinta SportOne (sebutan untuk penggemar tayangan olahraga di tvOne) serta menambah porsi tayangan Live World Boxing dengan membeli hak siar beberapa pertandingan tinju di benua Eropa.[6] Ke depan, tvOne diharapkan mampu menyalip peringkat kepemirsaan Trans TV dan Trans7 dalam peringkat televisi nasional (dengan lebih banyak merangkul pemirsa pria usia dewasa), meski sudah mapan menjadi televisi berita nomor 1 di Indonesia.[4]

Menurut salah satu kabar, rata-rata, rating program drama Turki dan acara permainan yang disiarkan di tvOne berada di bawah 1 dan share-nya di bawah 3 (persen). Share 3 persen artinya, di antara semua orang yang menonton TV, 3 persen di antaranya menonton program yang dimaksud.

Satu minggu setelah reposisi, yakni 21 dan 24 April 2017, misalnya, “Orphan Flowers” hanya memiliki share 1,9 dan 2,3. “Shehrazat” hanya 2,7 dan 2,4. Saat itu, rate and share penayangan drama Turki “Winter Sun” lah yang justru sedikit lebih baik di 2,8 dan 3,0. Sedangkan “Torn Apart” berkisar 2,6 dan 2,3.

Berbeda dengan program-program berita yang disiarkan, yakni “Kabar Pagi” yang terkadang share programnya bisa mencapai 4,8. Atau tayangan olahraga tvOne seperti “Live World Boxing”, "Best World Boxing", "One Pride MMA" (pada tahun 2022 pindah ke antv) dan sepak bola yang bisa mencapai antara 6-8 persen. Bahkan program berita lainnya seperti “Bedah Kasus” (sekarang Ragam Perkara) saja mampu mendulang share hingga 3,2.

Namun sayangnya, proses reposisi tvOne harus terhenti per 31 Juli 2017 hingga batas waktu yang tidak ditentukan, diduga karena adanya friksi antara redaksi dengan programming mengenai penjadwalan.

Garis waktu[sunting | sunting sumber]

  • Direktur Pengatur PT Pasaraya Tosersajaya (2003)
  • Direktur Pemrograman & Pemasaran Lativi (2003-2008)
  • Direktur Pemasaran tvOne (2008-2016)
  • Direktur Strategis Visi Media Asia (2008-2021)
  • Wakil Direktur Utama antv (2013-2021)
  • Wakil Komisaris Utama Intermedia Capital (2020-2021)
  • Komisaris Intermedia Capital (2021-sekarang)
  • Komisaris antv (2021-sekarang)

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Pramudito, Achmad. "Otis Hahijary Berprinsip Tiap Waktu Adalah Primetime Bagi Sebuah Tayangan, Ini Maksudnya". Tribunnews.com. Diakses tanggal 2017-07-01. 
  2. ^ "tvOne, Nama Baru Lativi". detikcom. Diakses tanggal 2017-07-02. 
  3. ^ a b "Otis Hahijary, Pria di Balik Sukses Rejuvinasi ANTV - MIX Marcomm". MIX Marcomm (dalam bahasa Inggris). 2017-01-04. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-07-16. Diakses tanggal 2017-07-02. 
  4. ^ a b "Cerita Menarik dari Reposisi Antv | SWA.co.id". SWA.co.id. 2017-04-27. Diakses tanggal 2017-07-02. 
  5. ^ "Reposisi TVOne". www.marketing.co.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-07-02. 
  6. ^ a b "Ini Alasan tvOne Berubah Wajah dengan Menayangkan Serial Internasional". Tabloidbintang.com. Diakses tanggal 2017-07-02. 
  7. ^ "All About India Dramas on TV". www.lautanindonesia.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-08-11. Diakses tanggal 2017-07-02. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]