Nasionalisme Jerman

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Reichsadler dari lambang Henry VI bertanggal 1304, Kaisar Romawi Suci dan Raja Jerman. Reichsadler, sekarang dikenal sebagai Bundeswappen, yang merupakan lambang Jerman.

Nasionalisme Jerman adalah sebuah pemikiran bahwa bangsa Jerman adalah sebuah negara dan mempromosikan kesatuan kebudayaan bangsa Jerman.[1] Asal muasal terawal dari nasionalisme Jerman dimulai dengan kelahiran nasionalisme Romantik saat Peperangan era Napoleon ketika Pan-Jermanisme mulai tumbuh. Advokasi dari sebuah negara Jerman mulai menjadi pasukan politik berpengaruh dalam menanggapi invasi wilayah Jerman oleh Prancis dibawah kepemimpinan Napoleon. Setelah kebangkitan dan kejatuhan Jerman Nazi yang melawan Yahudi dan golongan lainnya saat Perang Dunia II, nasionalisme Jerman secara umum dipandang di negara tersebut sebagai hal tabu.[2] Namun, saat Perang Dingin, nasionalisme Jerman bertumbuh dengan didukung penyatuan kembali Jerman Timur dan Barat yang terjadi pada 1990.[2]

Nasionalisme Jerman menghadapai kesulitan dalam mempromosikan identitas Jerman yang bersatu serta menghadapi pertentangan di Jerman. Perselisihan Katolik-Protestan di Jerman dari masa ke masa membuat perpecahan yang besar dan keretakan antara Jerman Katolik dan Protestan setelah 1871, seperti dalam menanggapi kebijakan Kulturkampf di Prusia oleh Kanselir Jerman dan Perdana Menteri Prusia Otto von Bismarck, yang berupaya untuk meredam budaya Katolik di Prusia, yang membuat terjadinya pertentangan dari Katolik Jerman dan mengakibatkan kebangkitan Partai Tengah dan Partai Rakyat Bavaria yang pro-Katolik.[3] Terdapat pula lawan-lawan nasionalis dari Jerman yang sebagian besar adalah nasionalis Bavaria yang mengklaim bahwa istilah Bavaria masuk ke Jerman pada 1871 secara kontroversial dan mengklaim bahwa pemerintah Jerman memiliki urusan domestik yang panjang dengan Bavaria.[4] Di luar Jerman pada masa sekarang yakni Austria, terdapat nasionalis Austria yang berupaya untuk melakukan penyatuan Austria dengan Jerman atas dasar menyelamatkan identitas keagamaan Katolik Austria dari ketakutan akan menjadi bagian dari Jerman yang mayoritas Protestan.[5]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Motyl 2001, hlm. 189.
  2. ^ a b Motyl 2001, hlm. 190.
  3. ^ Wolfram Kaiser, Helmut Wohnout. Political Catholicism in Europe, 1918-45. London, England, UK; New York, New York, USA: Routledge, 2004. P. 40.
  4. ^ James Minahan. One Europe, Many Nations: A Historical Dictionary of European National Groups. Greenwood Publishing Group, Ltd., 2000. P. 108.
  5. ^ Spohn, Willfried (2005), "Austria: From Habsburg Empire to a Small Nation in Europe", Entangled identities: nations and Europe, Ashgate, hlm. 61 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]