Nasionalisme Bayern

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search

Nasionalisme Bayern adalah ide atau gagasan dari orang-orang Bayern (sebuah wilayah di Jerman) yang menginginkan pemisahan diri (separatisme) atau tuntutan untuk mendapatkan hak otonomi yang lebih besar atas wilayah Bayern dari Jerman.[1][2][3][4][5]

Bendera Negara Bagian Bayern

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pra - Perang Dunia I[sunting | sunting sumber]

Ide tentang nasionalisme Bayern muncul sekitar tahun 1871. Ide ini berkembang karena memiliki keterkaitan dengan konflik antara Austria yang saat itu didominasi oleh Katholik dengan Prusia yang mayoritas Protestan, orang-orang Bayern sendiri secara kultural dan tradisi lebih dekat dengan Austria Katholik ketimbang Prusia Protestan. Saat perang terjadi, Etnis Bayern mendukung pihak Austria melawan Prusia, namun perang tersebut kemudian berakhir pada 1871 dan Prusia keluar sebagai pihak pemenang. Sebagai pihak pemenang, Prusia menuntut pihak yang kalah (termasuk Bayern) untuk membayar ganti rugi perang, yaitu dengan menganeksasi wilayah Bayern ke dalam wilayah Prusia yang kemudian tergabung menjadi Kekaisaran Jerman. Meskipun telah bersatu dengan Kekaisaran Jerman, Etnis Bayern tetap menolak dominasi Prusia atas sistem sosial-politik di Jerman. Oleh karena itulah Bayern secara tegas terus melawan Prusia - Jerman dan menuntut kemerdekaan atas wilayah Bayern dikembalikan seperti sebelum Perang Austro-Prusian.[6]

Pasca - Perang Dunia I[sunting | sunting sumber]

Saat meletus Perang Dunia I (1914-1918) antara Pihak Sentral yang terdiri dari Kekaisaran Jerman, Austria - Hungaria, Ottoman Turki, Bulgaria, dan Italia (Italia kemudian keluar dan bergabung dengan Blok Sekutu) melawan Blok Sekutu atau yang juga disebut Triple Entente yang terdiri dari Britania Raya (dan koloninya), Perancis (dan koloninya), dan Rusia (dan koloninya) yang kemudian diikuti oleh negara-negara lainnya seperti, Amerika Serikat, Jepang, Italia, dan lain-lain.[7]

Pihak Jerman dan Austria yang sempat berperang pada 1871 justru menjadi sekutu Pada Perang Dunia I, hal ini berdampak terhadap sikap politik Etnis Bayern yang sebelumnya menolak Jerman, menjadi pendukung Jerman. Namun, ketika Perang Dunia I berakhir pada 1918 dan dimenangkan oleh Blok Sekutu, muncul revolusi di negara-negara yang kalah perang, termasuk di Jerman. Revolusi di Jerman memaksa Kaisar Wilhelm turun tahta dan Kerajaan Jerman runtuh dan berubah menjadi Republik Weimar, selain itu juga sentimen separatisme Bayern kembali muncul dan mengancam integrasi Jerman.[5]

Pra - Nazi Jerman[sunting | sunting sumber]

Pada 1923, Bayern mendapatkan hak otonominya dan menjadi sebuah "kerajaan' di dalam Republik Weimar, pemerintahan Bayern dipimpin oleh Gustav Ritter von Kahr dan Partai Rakyat Bayern. Dibawah kepemimpinan von Kahr, Bayern secara politis menyatakan diri bebas dari Jerman, kemudian berupaya untuk melakukan kudeta terhadap kekuasaan Jerman di tanah Bayern, namun usaha von Kahr dan Partai Rakyat Bayern menemui kegagalan karena munculnya Partai Nazi yang saat itu sudah dipimpin oleh Adolf Hitler menggantikan Anton Drexler sudah mulai besar dan bergerak untuk merebut pemerintahan Bayern dan melawan pemerintahan Republik Weimar, atau yang dikenal sebagai peristiwa Beer Hall Putsch. Akhirnya Partai Rakyat Bayern harus berkompetisi dengan Partai Nazi untuk mendapatkan simpati warga Bayern yang memang membenci Pemerintah Jerman saat itu.[5]

Periode Nazi Jerman dan Perang Dunia II[sunting | sunting sumber]

Saat Partai Nazi memenangkan Pemilu 1932 dan Adolf Hitler naik menjadi Kanselir Jerman pada 1933, kemudian Republik Weimar dibubarkan. Banyak orang-orang Bayern kemudian mendukung Partai Nazi, karena kebencian mereka pada komunisme dan anti-Semitisme tertampung dalam manifesto perjuangan Nazi. Dukungan Etnis Bayern terhadap Nazi juga terus berlangsung selama Perang Dunia II, terutama saat Jerman memutuskan untuk menyudahi hubungan dengan Uni Soviet dan melakukan kampanye ke Rusia. Namun ketika Perang Dunia II berakhir dan Jerman menjadi salah satu pihak yang kalah (bersama-sama Italia dan Jepang), Etnis Bayern tidak lagi bersimpati pada Nazi dan justru mencari dukungan dari pihak Sekutu agar mau menekan pemerintahan Jerman yang baru untuk memberikan kemerdekaan pada Bayern.[5]

Periode Jerman Barat[sunting | sunting sumber]

Pada 1950-an wilayah Bayern yang masuk kedalam wilayah Jerman Barat cukup memberikan kontribusi dalam politik Jerman saat itu. Sekitar 5% sampai 20% pemilih di Bayern memilih Partai Bayern , partai ini juga menjadi salah satu anggota koalisi pemerintahan federal pada 1954 sampai 1957, dibawah kepemimpinan Wilhelm Hoegner.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "How is Bavaria different from the rest of Germany? - Quora". www.quora.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-11-06. 
  2. ^ Millar, Joey (2017-07-18). "German independence shock bid: One-third of Bavarians want to quit Angela Merkel's Germany". Express.co.uk (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-11-04. 
  3. ^ (www.dw.com), Deutsche Welle. "A free and independent Free State of Bavaria? | Germany | DW | 18.09.2014". DW.COM (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-11-06. 
  4. ^ "Bavarian Separatism and the Franconian Issue". GeoCurrents (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-11-06. 
  5. ^ a b c d e Minahan, James (2002-05-30). Encyclopedia of the Stateless Nations: Ethnic and National Groups Around the World A-Z [4 Volumes] (dalam bahasa Inggris). ABC-CLIO. ISBN 9780313076961. 
  6. ^ "Seven Weeks' War | 1866". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-11-07. 
  7. ^ Napoleon. "Sejarah Perang Dunia I". Harian Sejarah (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-11-04.