Koplo

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Musik koplo atau dikenal juga Dangdut koplo adalah sebuah sub aliran dalam musik dangdut. Dengan ciri khas irama yang cepat dari gendangnya. Aliran ini dipopulerkan oleh grup musik orkes melayu atau yang biasa disingkat dengan OM. Grup musik ini merajai pentas panggung rakyat di pulau Jawa, terutama di daerah Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, serta Banten.

Awal mula[sunting | sunting sumber]

Pada era tahun 2000-an seiring dengan kejenuhan musik dangdut yang asli, maka di awal era ini musisi di wilayah Jawa Timur di daerah pesisir Pantura mulai mengembangkan jenis musik dangdut baru yang disebut dengan musik koplo.

Musik koplo merupakan mutasi dari musik dangdut setelah era Congdut yang bertambah kental irama tradisionalnya ditambah dengan masuknya unsur seni musik kendang kempul yang merupakan seni musik dari daerah Banyuwangi dan irama tradisional lainya seperti Jaranan, Gamelan dan Jaipongan pengaruh dari Musik Sunda.[1]

Perkembangan[sunting | sunting sumber]

Penampilan koplo oleh Tasya Rosmala.

Dangdut Koplo lahir di Indonesia lahir pada tahun 2000an yang dipromotori oleh kelompok-kelompok musik Jawa Timur. Namun saat itu masih belum menasional seperti sekarang ini. 2 tahun kemudian, variasi atau cabang baru bagi musik Dangdut ini semakin fenomenal, setelah area kekuasaannya meluas ke beberapa wilayah seperti di DI Yogyakarta dan beberapa kota di Jawa Tengah lainnya.

Salah satu hal yang membuat genre ini sukses dalam memperlebar daerah kekuasannya adalah VCD bajakan yang begitu mudah dan murah didapatkan masyarakat sebagai alternatif hiburan masyarakat dari VCD original artis-artis nasional yang dinilai kurang ekonomis. Kesuksesan VCD bajakan tersebut juga dibarengi dengan fenomena "Goyang Ngebor" Inul Daratista.

Fenomena itulah yang sebenarnya membuat popularitas Dangdut Koplo semakin meningkat di se-antero Indonesia. Apalagi setelah kontroversi "Goyang Ngebor" milik Inul Daratista itu tercium oleh beberapa media-media televisi swasta nasional. Oleh karenanya, masyarakat Indonesia semakin mengenal Dangdut Koplo dan juga Inul itu sendiri.

Namun, popularitas koplo tidak berkurang. Koplo semakin berkembang menjadi bentuk turunan yang lebih mudah diakses yang dikenal sebagai pop-koplo dengan memasukkan gaya musik musik pop dan gaya busana yang banyak dipengaruhi oleh K-Pop. Artis koplo gelombang baru juga menikmati popularitas YouTube dan media sosial lainnya.

Artis yang mengusung pop koplo antara lain Via Vallen, Nella Kharisma, Siti Badriah, dan Ayu Ting Ting hingga Happy Asmara. Lagu hit Via Vallen "Sayang" secara khas menggunakan elemenreggaeton dan rap dan ketukan gendang koplo dimainkan hanya selama chorus dan bridge, membatasi sensibilitas pop generik generasi muda.

Koplo dan senimannya dianggap menikmati masa keemasan di penghujung 2010-an. Hingga Maret 2021, video musik lagu Siti Badriah "Lagi Syantik" telah ditonton lebih dari 635 juta kali di YouTube. Via Vallen dengan "Meraih Bintang", sebuah lagu pop dengan unsur dangdut, untuk lagu tema resmi Asian Games 2018. Pada 2020, Happy Asmara merilis "Apakah Itu Cinta" yang juga mendapat sambutan baik dan mendapat popularitas di YouTube.

Kontroversi[sunting | sunting sumber]

Penyanyi koplo di Yogyakarta.

Fenomena "Goyang Ngebor" milik Inul Daratista menjadi fenomena yang paling terkenal. Tapi, fenomena itu bukan berarti tak ada masalah. Sang Raja Dangdut Indonesia, Rhoma Irama adalah seniman Dangdut senior pertama yang nyata-nyata menentang Inul karena goyangannya tersebut.

Penentangan Rhoma terhadap aksi Inul dan beberapa tokoh dangdut lain ternyata mendapat sambutan dari para pembela Inul. Baik itu masyarakat umum atau para seniman Indonesia lain dengan bahkan melibatkan pakar hukum. Sejak itulah pro-kontra terhadap Inul menjadi sorotan di media-media di Indonesia bahkan Internasional, salah satunya BBC News.

Pro-kontra dan kontroversi itu ternyata semakin mempopulerkan Inul itu sendiri, Dangdut Koplo dan artis-artis Dangdut lain. Munculnya Inul tersebut diikuti oleh munculnya artis-artis pendatang baru yang juga membawa identitas goyangan, seperti "Goyang Ngecor" milik Uut Permatasari dan "Goyang Patah-patah" milik Anisa Bahar.


Artis[sunting | sunting sumber]

  • Alvi Ananta
  • Brodin
  • Dike Sabrina
  • Eny Sagita
  • Gerry Mahesa
  • Happy Asmara
  • Lilin Herlina
  • Putri Kristya
  • Riska Octavia
  • Safira Inema
  • Sasya Arkhisna
  • Shepin Misa
  • Tasya Rosmala
  • Woro Widawati
  • Yeni Inka
  • Yuni Vebra

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Musik Dangdut : sejarah sosial dan musik popular Indoesia". Musik Dangdut : sejarah sosial dan musik popular Indoesia (dalam bahasa Indonesia). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2017-03-30. Diakses tanggal 29 Maret 2017. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]