Gamelan Bali


Gamelan Bali adalah salah satu jenis gamelan yang ada di Indonesia. Gamelan ini memiliki perbedaan dengan gamelan jawa yaitu bentuk wilah (bilah pada saron) lebih tebal, bentuk pencon (bentuk gamelan seperti bonang) lebih banyak daripada wilah, ritme lebih cepat.[1] Gamelan Bali sangat khas terutama melalui bunyinya yang meledak-ledak, berkecepatan tinggi, serta bagian gending yang lebih dinamis. Ritme musik yang cepat terutama disebabkan oleh perangkat berbentuk seperti simbal berukuran kecil yang biasa disebut Ceng-Ceng.[2] Gamelan Bali digunakan dalam berbagai kegiatan, antara lain upacara keagamaan, pertunjukan tari, pertunjukan wayang, serta pertunjukan khusus seni suara.[3][4]
Sejarah Gamelan
[sunting | sunting sumber]Dalam pengkategorian Gamelan Bali telah disebutkan bahwa Gamelan Wayah adalah jenis yang paling tua dari Gamelan Bali, yakni telah ada sebelum abad ke XV. Terdapat beberapa gamelan yang termasuk dalam golongan ini. Salah satunya yakni Gamelan Gambang.[5]
Keberadaan Gamelan Gambang dimulai dari konflik yang terjadi dalam tubuh kerajaan Gelgel. Bermula dari Gusti Ngurah Klanting salah satu putra dari Dalem Waturenggong (1460-1550) yang tidak bisa menerima kakaknya menjadi raja, I Gusti Ngurah Tabanan. Mengetahui hal tersebut, Dalem memerintahkan kepada Gusti Ngurah Klanting sebuah tugas yang tidak masuk akal dengan maksud menghukum, yakni mencari lontar milik wong gamang (orang halus). Singkat cerita, diluar dugaan Dalem Waturenggong, Gusti Ngurah klanting bisa memenuhi permintaan ayahandanya. Lontar yang diminta telah didapatkan dan betapa terkejutnya Dalem karena memang lontar itulah yang diinginkannya.[6]
Melalui kejadian itu, kemudian kerajaan dibagi menjadi dua. Sayangnya sebelum dinobatkan menjadi raja, Gusti Ngurah Klanting diminta membuat seperangkat gamelan yang gending-gendingnya di ambil dari lontar tersebut. Terciptalah gamelan gambang yang namanya diambil dari lontar wong gamang. Gamelan tersebut difungsikan sebagai sarana perlengkapan di dalam upacara Ngaben (Pitra Yadnya). Sejak saat itu atau melalui petunjuk dari I Gusti Ngurah Klanting, mulailah orang-orang mempergunakan Gambelan gambang sebagai pengiring prosesi Ngaben.
Disisi lain, salah seorang keluarga Arya Simpangan (sekaa gambang sekarang) yang dulunya pernah tinggal di kerajaan Tabanan, merasa senang dengan gambelan tersebut. Selanjutnya ia tertarik juga untuk membuat gamelan ketika pulang ke Sembuwuk. Sejak saat itulah Gambelan Gambang ada juga di Banjar Sembuwuk Desa Pejeng Kaja.[7]
Jenis Gamelan
[sunting | sunting sumber]Terkait dengan bahan pembuatannya, orang-orang Bali telah mengkategorikan alat musik mereka. Ada gamelan perunggu yang lebih dikenal sebagai gamelan krawang karena dirakit oleh pande krawang (ahli perunggu). Ada juga gamelan yang terbuat dari bambu, serta ada juga Gamelan Slonding yang terbuat dari besi. Dari ketiganya, gamelan slonding adalah yang paling antik dan langka karena jarang digunakan. Gamelan Bali sangatlah beragam, termasuk pada prinsip memainkannya, terlebih pada jenis-jenis gamelan pada masa pra Hindu-Jawa (Bali Aga).[6]
Di Bali bagian timur, prinsip permainan gamelan agak berbeda dengan yang ada di Bali selatan dan utara yang memang berkaitan dengan lingkungan keraton yang sebagian masih terpengaruh budaya Jawa. Sejauh ini, setidaknya ada kurang lebih 25-30 genre karawitan Bali yang dibedakan berdasarkan jenis-jenis instrumen, fungsi, dan bahasa. Mengingat banyaknya jenis, Gamelan Bali telah dibagi menjadi tiga kelompok besar menurut zamannya, di antaranya sebagai berikut:
Gamelan Wayah (gamelan tua)
[sunting | sunting sumber]Jenis ini diperkirakan telah ada sebelum abad ke-15 M. Umumnya didominasi oleh alat-alat berbentuk bilahan dan belum dilengkapi oleh kendang. Kalaupun ada kendang, peranannya tidak begitu menonjol. Beberapa gamelan yang masuk pada jenis ini meliputi;[6]
- Angklung[8]
- Gender Wayang
- Baleganjur
- Genggong
- Bebonangan
- Geng Beri
- Caruk
- Gong Luwang
- Gambang
- Selonding[9]
Gamelan Madya
[sunting | sunting sumber]Jenis ini diperkirakan muncul pada kisaran abad ke-16 s.d ke-19 M. Ini adalah barungan gamelan di mana kendang sudah digunakan bersma dengan instrumen-instrumen berpencon. Keberadaan kendang dalam kategori ini telah memainkan peranan penting. Beberapa gamelan yang termasuk dalam golongan madya antara lain;
- Batel Barong
- Bebarongan
- Joged Pingitan
- Penggambuhan
- Gong Gede
- Pelegongan
- Semar Pagulingan
Gamelan Anyar (gamelan baru)
[sunting | sunting sumber]Jenis ini diperkirakan ada pada kisaran abad ke-20 dengan ciri-ciri yang lebih menonjolkan permainan kendang. Beberapa gamelan dalam kategori ini termasuk;[7]
Alat Musik
[sunting | sunting sumber]
Alat musik dalam gamelan bali disebut juga dengan rincikan dan berikut adalah nama alat musik tersebut:[10]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Gamelan Bali dan Jawa berkembang di Mancanegara". Kompas.com. Oase Kompas. 23 Juni 2009. Diarsipkan dari asli tanggal 2010-01-12. Diakses tanggal 2012-10-06.
- ↑ "Ceng-Ceng, Simbal Kecil yang Meriahkan Gamelan Bali". www.indonesia.travel. Diakses tanggal 2026-01-22.
- ↑ Sugiarto, R. Toto (2016-01-01). Ensiklopedi Seni Dan Budaya 2: Alat Musik Tradisional. Media Makalangan. hlm. 14. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Shadily, Hassan; Sitompul, Binsar; Burhan, Firdaus; Suharto, Suharto; Sumaryo, Sumaryo; Sudharsono, Sudharsono; Suwondo, Bambang; Yunus, Ahmad (1979-01-01). Ensiklopedi musik indonesia seri a-e. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan. hlm. 19–20. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Sanjayanti, Ni Putu Ayu Hervina (2022-09-29). Model Pembelajaran IPA Bermuatan Kearifan Lokal Bali untuk Meningkatkan Karakter dan Literasi Sains. Nilacakra. hlm. 80. ISBN 978-623-5412-68-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- 1 2 3 "Gamelan Bali, Ragam Keindahan Selaras Zaman". Indonesia Kaya. Diakses tanggal 2026-01-22.
- 1 2 Kulo, Blog (2018-05-26). "Gambelan (Gamelan) Bali - Alat Musik Tradisional Khas Budaya Bali". Blog Kulo. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-02-17. Diakses tanggal 2019-02-17.
- ↑ Anggreni, N. L. E., Apriani, L., & Arjana, I. B. M. (2021). Bunyi Gamelan Angklung dalam Upacara Pitra Yadnya di Kota Mataram (Ditinjau dari Perspektif Sosiologi). Widya Sundaram: Jurnal Pendidikan Seni dan Budaya, 4(2), 56–67.
- ↑ Muis, Muhammad (2009). Pendefinisian lema alat musik di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001. Rawamangun, Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. hlm. 55. ISBN 978-979-685-792-0. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
- ↑ Sadra,Wayan.1996.Teknik Bermain Gamelan:Karawitan Bali.ISI Press.Surakarta.