Humanisme
Humanisme adalah sebuah pandangan filosofis yang menekankan potensi individu maupun sosial, serta daya kehendak manusia, yang dipandang sebagai titik mula bagi perenungan moral dan filsafat yang mendalam.
Makna dari istilah "humanisme" senantiasa bergeser seiring arus pemikiran yang mengusungnya. Pada masa Renaisans Italia, para cendekiawan yang terilhami oleh khazanah klasik Yunani melahirkan gerakan Humanisme Renaisans. Memasuki Zaman Pencerahan, nilai-nilai humanistik diperkokoh oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, menumbuhkan keyakinan manusia dalam menyingkap misteri dunia. Menjelang abad ke-20, lahirlah organisasi-organisasi yang mendedikasikan diri pada humanisme di Eropa dan Amerika Serikat, lalu berkembang ke seluruh penjuru dunia. Pada awal abad ke-21, istilah ini umumnya merujuk pada perhatian terhadap kesejahteraan manusia serta memperjuangkan kebebasan, kebahagiaan, otonomi, dan kemajuan. Humanisme memandang umat manusia bertanggung jawab atas pengembangan diri dan sesamanya, menjunjung tinggi martabat yang setara dan melekat pada setiap insan, serta menitikberatkan kepedulian terhadap manusia dalam hubungannya dengan dunia. Para humanis kerap mengedepankan hak asasi manusia, kebebasan berpendapat, kebijakan progresif, serta demokrasi.
Sejak abad ke-20, gerakan humanis yang terorganisasi hampir seluruhnya bersifat nir-religius dan berpaut erat dengan sekularisme. Dalam pemakaiannya kini, humanisme sebagai filsafat berpijak pada pandangan non-teistik yang menempatkan manusia sebagai pelaku utama, bersandar pada ilmu pengetahuan dan nalar, bukan pada wahyu dari sumber ilahi, untuk memahami dunia. Pandangan dunia humanis dengan sendirinya menegaskan bahwa agama bukanlah syarat bagi moralitas; karenanya, humanis menolak keterlibatan agama yang berlebihan dalam pendidikan maupun negara.
Banyak organisasi humanis sekuler dewasa ini bernaung di bawah Humanists International. Beberapa asosiasi humanis yang ternama antara lain Humanists UK dan American Humanist Association.
Etimologi
[sunting | sunting sumber]Kata "humanisme" berakar dari bahasa Latin, yakni humanitas, yang pertama kali digunakan di Roma kuno oleh Cicero dan para pemikir lain untuk menggambarkan nilai-nilai yang berkaitan dengan pendidikan liberal.[1] Jejak etimologis ini masih bertahan dalam gagasan universitas modern mengenai humaniora—yang mencakup seni, filsafat, sejarah, sastra, dan disiplin sejenis. Istilah ini kembali muncul di Italia pada masa Renaisans sebagai umanista, lalu masuk ke dalam bahasa Inggris pada abad ke-16,[2] tepatnya pada tahun 1589.[3] Kata "humanis" ketika itu dipakai untuk menyebut sekelompok pelajar sastra klasik dan para pengusung pendidikan klasik.[4] Pada akhir abad ke-14, para humanis mulai menggunakan istilah studia humanitatis untuk merujuk pada kumpulan disiplin yang mereka tekuni: retorika, tata bahasa, puisi, sejarah, dan filsafat moral.[5]
Pada tahun 1755, dalam karya besar Samuel Johnson, A Dictionary of the English Language, istilah humanist didefinisikan sebagai seorang ahli filologi atau ahli tata bahasa, yang diturunkan dari bahasa Prancis humaniste.[a] Dalam edisi berikutnya, makna tambahan muncul sebagai "sebuah istilah yang digunakan di sekolah-sekolah Skotlandia".[6] Pada dekade 1780-an, Thomas Howes termasuk di antara banyak penentang Joseph Priestley dalam sengketa Unitarian yang terkenal.[7] Karena perbedaan makna doktrinal dari istilah Unitarian dan Unitarianisme, Howes memilih menyebut mereka seperti Priestley—yang mempertahankan "kemurnian kemanusiaan" Kristus—dengan sebutan yang lebih tepat: humanists dan humanism.[8][2] Namun, akar teologis dari istilah humanisme ini kini dianggap usang.[9][b]
Pada awal abad ke-19, istilah humanismus dipakai di Jerman dengan beragam makna, dan dari sanalah ia kembali memasuki bahasa Inggris dengan dua arti yang berbeda: pertama, sebagai istilah akademik yang terkait dengan studi sastra klasik; dan kedua, sebagai makna umum yang menandakan pandangan hidup nir-religius yang berseberangan dengan teisme.[13] Besar kemungkinan teolog asal Bavaria, Friedrich Immanuel Niethammer, adalah pencetus istilah humanismus untuk menggambarkan kurikulum klasik baru yang ia rancang bagi sekolah menengah di Jerman.[14] Tak lama kemudian, para sarjana lain seperti Georg Voigt dan Jacob Burckhardt mengadopsinya.[15] Pada abad ke-20, istilah ini semakin dimurnikan, hingga memperoleh makna kontemporer sebagai pendekatan hidup yang naturalistis, dengan penekanan pada kesejahteraan dan kebebasan manusia.[16]
Definisi
[sunting | sunting sumber]Tidak ada satu definisi tunggal yang diterima secara luas mengenai humanisme; para sarjana memberikan makna yang berbeda-beda atas istilah ini.[17] Bagi filsuf Sidney Hook, yang menulis pada tahun 1974, seorang humanis menolak pemaksaan satu budaya atas peradaban lain, tidak terikat pada gereja atau agama resmi, tidak mendukung kediktatoran, dan tidak membenarkan penggunaan kekerasan demi reformasi sosial. Hook juga menegaskan bahwa humanis mengupayakan penghapusan kelaparan serta peningkatan kesehatan, perumahan, dan pendidikan.[18] Pada karya yang sama, filsuf humanis H. J. Blackham berpendapat bahwa humanisme adalah gagasan yang berfokus pada perbaikan kondisi sosial manusia dengan cara meningkatkan otonomi dan martabat setiap insan.[19] Sementara itu, pada tahun 1999, Jeaneane D. Fowler menegaskan bahwa definisi humanisme harus mencakup penolakan atas keilahian, serta penekanan pada kesejahteraan dan kebebasan manusia. Ia juga menambahkan bahwa humanisme tidak memiliki sistem kepercayaan atau doktrin bersama; tetapi secara umum, para humanis berusaha meraih kebahagiaan dan pemenuhan diri.[20]
Pada tahun 2015, humanis terkemuka Andrew Copson merumuskan definisi humanisme sebagai berikut:
- Humanisme bersifat naturalistis dalam memahami alam semesta; ilmu pengetahuan dan penyelidikan bebas akan menuntun kita memahami lebih banyak tentangnya.
- Pendekatan ilmiah ini tidak merendahkan manusia menjadi sekadar sesuatu yang kurang dari kemanusiaannya.
- Humanis menempatkan pentingnya pencarian hidup yang bermakna, ditentukan sendiri, dan penuh kebahagiaan.
- Humanisme bersifat moral; moralitas adalah jalan bagi manusia untuk memperbaiki kehidupannya.
- Humanis terlibat dalam tindakan nyata demi memperbaiki kondisi pribadi maupun sosial.[21]
Menurut International Humanist and Ethical Union:
Humanisme adalah sebuah sikap hidup yang demokratis dan etis, yang menegaskan bahwa manusia memiliki hak sekaligus tanggung jawab untuk memberi makna dan arah pada hidupnya sendiri. Humanisme berpihak pada pembangunan masyarakat yang lebih manusiawi melalui etika yang berlandaskan pada nilai-nilai manusiawi dan alami, dengan semangat rasionalitas dan penyelidikan bebas melalui kemampuan manusia. Humanisme bukanlah teistik, dan ia tidak menerima pandangan supranatural tentang realitas.[22]
Kamus-kamus umumnya mendefinisikan humanisme sebagai sebuah pandangan dunia atau sikap filosofis. Menurut Merriam Webster Dictionary, humanisme adalah " ... sebuah doktrin, sikap, atau cara hidup yang berpusat pada kepentingan atau nilai-nilai manusia; khususnya: sebuah filsafat yang umumnya menolak supranaturalisme dan menekankan martabat serta nilai seorang individu, beserta kapasitasnya untuk mewujudkan diri melalui nalar".[23]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Para Pendahulu
[sunting | sunting sumber]Jejak-jejak humanisme dapat ditelusuri dalam filsafat Yunani kuno.[24] Para filsuf pra-Sokratik adalah pemikir Barat pertama yang berusaha menjelaskan dunia melalui nalar manusia dan hukum alam, tanpa bergantung pada mitos, tradisi, atau agama.[25] Protagoras, yang hidup di Athena sekitar ca 440 BCE, mengemukakan gagasan-gagasan humanis mendasar, meski hanya serpihan karyanya yang bertahan. Salah satu fragmen mencatat pernyataannya yang agnostik: "Tentang para dewa, aku tidak mampu mengetahui apakah mereka ada atau tidak, atau bagaimana rupa mereka: banyak hal menghalangiku untuk mengetahuinya, baik karena kegelapannya maupun singkatnya usia manusia".[26]
Socrates menegaskan pentingnya "mengenali dirimu sendiri"; pemikirannya menggeser fokus filsafat pada zamannya—dari alam menuju manusia dan kesejahteraannya.[27] Ia seorang teis yang dihukum mati atas tuduhan ateisme, tetapi ia menelaah hakikat moralitas dengan bertumpu pada nalar.[28] Aristoteles (384–322 SM) mengajarkan rasionalisme dan sistem etika yang bersandar pada kodrat manusia, yang selaras dengan gagasan humanis.[29]
Pada abad ke-3 SM, Epikuros mengembangkan filsafat yang berpusat pada manusia, dengan tujuan mencapai eudaimonia. Para Epikurean melanjutkan teori atomis Demokritos—sebuah gagasan materialistis bahwa unsur dasar semesta adalah atom yang tak terbagi. Kebahagiaan manusia, hidup yang baik, persahabatan, serta penghindaran dari sikap berlebihan adalah inti ajaran Epikurean, yang berkembang pesat di dunia Helenistik maupun sesudahnya.[29] Banyak sarjana sepakat bahwa ciri-ciri humanistik dalam pemikiran Yunani kuno inilah yang menjadi akar humanisme dua ribu tahun kemudian.[30]
Gerakan lain yang dapat dianggap sebagai pendahulu humanisme Barat modern juga muncul dalam filsafat Tiongkok dan agama-agama seperti Taoisme dan Konfusianisme.[31]
Terjemahan karya-karya sastra Yunani kuno ke dalam bahasa Arab pada masa Kekhalifahan Abbasiyah pada abad ke-8 dan 9 berpengaruh besar pada para filsuf Islam. Banyak pemikir Muslim abad pertengahan menempuh jalan pemikiran humanistik, rasional, dan ilmiah dalam pencarian mereka akan pengetahuan, makna, dan nilai. Ragam tulisan Islam tentang cinta, puisi, sejarah, dan teologi filosofis menunjukkan bahwa pemikiran Islam abad pertengahan terbuka pada gagasan humanistik: individualisme, sekularisme sesekali, skeptisisme, liberalisme, dan kebebasan berpendapat. Berbagai institusi akademik didirikan di Baghdad, Basra, dan Isfahan.[32]
Renaisans
[sunting | sunting sumber]
Pada Abad Pertengahan, prinsip-prinsip inti humanisme mulai muncul dan diperkaya oleh budaya religius melalui sintesis karya klasik dan gagasan teologis.[33] Humanisme Renaisans merupakan kelanjutan dari kemajuan humanistik pada Abad Pertengahan, khususnya dari skolastisisme Italia dan Prancis.[5] Gerakan intelektual ini pertama kali tumbuh di Italia, dan kemudian memberi pengaruh besar pada kebudayaan Barat, baik pada zamannya maupun di era modern.[34] Kebangkitan minat terhadap sastra dan seni tampak sejak abad ke-13, dengan Firenze sebagai pusat utamanya.[35] Para sarjana Italia menemukan kembali pemikiran Yunani Kuno, terutama Aristoteles, melalui terjemahan Arab dari Afrika dan Spanyol.[36] Pusat-pusat lain berkembang di Verona, Napoli, dan Avignon.[37]
Sosok penting dalam babak ini adalah Petrarca, yang kerap dijuluki sebagai bapak humanisme.[38] Ia dibesarkan di Avignon, dengan kecenderungan belajar sejak usia dini, ditempa oleh ayahnya yang juga berpendidikan tinggi. Semangat Petrarca terhadap teks-teks klasik membawanya menemukan naskah-naskah penting, seperti Pro Archia karya Cicero dan De Chorographia karya Pomponius Mela, yang berpengaruh besar bagi lahirnya Renaisans.[39]
Petrarca menulis puisi Latin seperti Canzoniere dan De viris illustribus, yang mencerminkan gagasan-gagasan humanis.[40] Kontribusi terbesarnya adalah menyusun daftar bacaan yang merumuskan empat disiplin utama—retorika, filsafat moral, puisi, dan tata bahasa—yang kemudian menjadi dasar dari studi humanistik (studia humanitatis). Daftar ini sangat bergantung pada penulis-penulis klasik, khususnya Cicero, sehingga sarjana klasik Berthold Ullman menyebut Cicero sebagai "kakek humanisme".[41]
Setelah wafatnya Petrarca, kebangkitan kembali karya klasik berlanjut. Kanselir Firenze sekaligus humanis Coluccio Salutati menjadikan kota itu sebagai pusat humanisme Renaisans. Lingkarannya meliputi tokoh-tokoh seperti Leonardo Bruni, yang menemukan kembali, menerjemahkan, dan menyebarluaskan teks-teks kuno.[42]
Para humanis sangat memengaruhi dunia pendidikan.[43] Vittorino da Feltre dan Guarino Veronese mendirikan sekolah-sekolah berdasarkan prinsip humanistik; kurikulum mereka diterapkan luas, hingga pada abad ke-16 paideia humanistik menjadi pandangan dominan dalam pendidikan pra-universitas.[44]
Sejalan dengan pendidikan, humanisme Renaisans berkembang dalam bidang filsafat, matematika, dan studi keagamaan. Dalam filsafat, Angelo Poliziano, Nicholas of Cusa, dan Marsilio Ficino memperdalam pemahaman tentang filsuf klasik, sementara Giovanni Pico della Mirandola mengguncang dominasi Aristotelianisme dengan menghidupkan kembali skeptisisme Sextus Empiricus. Studi keagamaan pun berubah ketika Paus Nikolaus V memprakarsai penerjemahan teks-teks Alkitab berbahasa Ibrani dan Yunani, serta karya-karya lain, ke dalam bahasa Latin kontemporer.[45]
Nilai-nilai humanis menyebar dari Italia pada abad ke-15. Para pelajar dan sarjana berbondong-bondong ke Italia, lalu kembali ke tanah air mereka membawa gagasan humanistik. Percetakan-percetakan khusus teks klasik berdiri di Venesia, Basel, dan Paris.[44] Menjelang akhir abad ke-15, pusat humanisme bergeser ke Eropa utara, dengan Erasmus dari Rotterdam sebagai tokoh utama.[46]
Warisan terpenting humanisme Renaisans ialah kurikulum dan metode pendidikannya. Para humanis menegaskan pentingnya literatur klasik untuk membentuk disiplin intelektual, standar moral, dan rasa estetis yang beradab bagi kaum terpelajar—suatu pendekatan pendidikan yang bertahan hingga era modern.[47] Dunia politik pun turut dipengaruhi, misalnya oleh lingkaran humanis Spanyol dan Italia yang mengelilingi Raja Spanyol sekaligus Kaisar Romawi Suci Karl V, termasuk Mercurino di Gattinara, Alfonso de Valdés, Juan Luis Vives, dan Antonio de Guevara.[48]
Humanis Spanyol Francisco de Vitoria, pendiri Mazhab Salamanca, memberi pengaruh mendalam pada lahirnya hukum internasional dan pemikiran ekonomi tentang pasar bebas.[49]
Catatan
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Kristeller 1978, hlm. 3.
- 1 2 Harper.
- ↑ Copson 2015, hlm. 1.
- ↑ Mann 1996; Copson 2015, hlm. 1–2.
- 1 2 Monfasani, John (2021). "Humanism and the Renaissance". The Oxford Handbook of Humanism. Oxford University Press. ISBN 9780190921538.
- ↑ Johnson, Samuel (1785) A Dictionary of the English language. Sixth Edition, Volume 1, p. 981.
- ↑ Chandler, D. (2001) A Bibliographical History of Thomas Howes' "Critical Observations" (1776–1807) and His Dispute with Joseph Priestley. Studies in Bibliography, Vol. 54, pp. 285–295.
- ↑ Howes, T. (1776–1800) Critical Observations on Books, Antient and Modern. Vol IV., pp. 17–18.
- 1 2 Gibbs, Robert (2015). "Of Time and Pages". College Literature. 42 (2): 259–260. ISSN 0093-3139. JSTOR 24544107. Diakses tanggal 14 September 2023.
- ↑ Schafer, R. (1930) What is Humanism?. The Virginia Quarterly Review, vol. 6, no. 2, p. 198. JSTOR.
- ↑ Giustiniani 1985, hlm. 173.
- ↑ Adams, Hazard; Behler, Ernst; Birus, Hendrik; Derrida, Jacques; Iser, Wolfgang; Krieger, Murray; Miller, Hillis; Pfeiffer, Ludwig; Readings, Bill; Wang, Ching-Hsien; Yu, Pauline (2019). "Hendrik Birus's "The Archeology of 'Humanism'"". Surfaces. 6. doi:10.7202/1064841ar. S2CID 233039844.
- ↑ Copson 2015, hlm. 1–2; Fowler 1999, hlm. 18–19.
- ↑ Davies 1997, hlm. 9.
- ↑ Davies 1997, hlm. 9–10.
- ↑ Copson 2015, hlm. 3–4.
- ↑ Davies 1997, hlm. 3–5.
- ↑ Hook 1974, hlm. 31–33.
- ↑ Blackham 1974, hlm. 35–37.
- ↑ Fowler 1999, hlm. 9.
- ↑ Copson 2015, hlm. 6–24.
- ↑ IHEU (1996) IHEU Minimum Statement on Humanism. Humanists International, General Assembly.
- ↑ Cherry 2009, hlm. 26.
- ↑ Law 2011, chapter History of Humanism, #Ancient Greece; Freeman 2015See also Foreword of the book, p xi; Lamont 1997, hlm. 68; Davies 1997, hlm. 9.
- ↑ Law 2011, chapter History of Humanism, #Ancient Greece:Menurut Law "Tiga filsuf awal Yunani – Thales, Anaximander, dan Anaximenes – sangat penting. Cara ketiga filsuf Milesian ini berpikir secara kritis dan mandiri, sebagian besar meninggalkan penjelasan mitologis dan religius, lalu mencoba mengembangkan gagasan serta teori mereka sendiri yang berakar pada pengamatan dan akal, jelas menjadikan mereka penting dari sudut pandang humanis. Mereka bersama-sama memperlihatkan beberapa ide dan nilai utama humanisme." Dalam paragraf berikutnya, ia juga menyebut Protagoras.; Lamont 1997, hlm. 41–42:Lamont menyebut Thales, Anaximander, dan Heraclitus sebagai tokoh yang condong pada materialisme dan naturalisme, tetapi baginya filsuf materialis sejati pertama adalah Demokritos dengan teori atomnya.; Barnes 1987, hlm. 17–18; Curd 2020:Sarjana Jonothan Banres menulis: "Pertama, dan yang paling sederhana, para pra-Sokratik menemukan ide tentang sains dan filsafat. Mereka menemukan cara pandang khusus terhadap dunia—cara pandang ilmiah dan rasional. Mereka melihat dunia sebagai sesuatu yang teratur dan dapat dipahami, dengan sejarah yang dapat dijelaskan dan bagian-bagiannya tersusun dalam sebuah sistem yang masuk akal. Dunia bukanlah sekadar kumpulan acak fragmen, dan sejarahnya bukan rangkaian peristiwa sewenang-wenang. Lebih jauh lagi, ia bukanlah sekadar rentetan peristiwa yang ditentukan oleh kehendak atau kesemena-menaan para dewa." Lihat keseluruhan subbab "First philosophy" hlm. 17–25.
- ↑ Law 2011, chapter History of Humanism, #Ancient Greece ":fragment (80B4 DK)"
- ↑ Lamont 1997, hlm. 34–35; Freeman 2015, hlm. 124–125.
- ↑ Lamont 1997, hlm. 34–35.
- 1 2 Law 2011, chapter History of Humanism, #Ancient Greece.
- ↑ Grayling 2015, hlm. 87; Crosson 2020, hlm. 4.
- ↑ Bingming, Xiong (April 1991). "At peace with the past". Perceptions of Time. UNESCO. hlm. 20. Diakses tanggal 2023-09-13.
- ↑ Goodman 2003, hlm. 155; Ljamai 2015, hlm. 153–56.
- ↑ Shook, John (2021). "Humanism in the Medieval World". The Oxford Handbook of Humanism. Oxford University Press. ISBN 9780190921538.
- ↑ Monfasani 2020, hlm. 1.
- ↑ Monfasani 2020, hlm. 4; Nederman 2020.
- ↑ Mann 1996, hlm. 14–15.
- ↑ Mann 1996, hlm. 8.
- ↑ Mann 1996, hlm. 8; Monfasani 2020, hlm. 1.
- ↑ Mann 1996, hlm. 8–14:Mann menulis "Antusiasme ini tercermin dalam pencariannya akan teks-teks baru, yang pertama kali tampak pada perjalanannya ke utara pada 1333, ketika ia menemukan naskah Cicero yang terlupakan di Liege, dan karya Propertius di Paris, berakar dari tradisi cendekiawan abad ke-13, Richard of Fournival."; Monfasani 2020, hlm. 8–10.
- ↑ Mann 1996, hlm. 8–14.
- ↑ Monfasani 2020, hlm. 8.
- ↑ Monfasani 2020, hlm. 9–10.
- ↑ Monfasani 2020:"Kemenangan Renaisans Humanisme terletak pada keberhasilannya menaklukkan pendidikan pra-universitas serta mengubah kesadaran masyarakat terdidik di Barat."
- 1 2 Monfasani 2020, hlm. 10.
- ↑ Monfasani 2020, hlm. 10–11.
- ↑ Monfasani 2020, hlm. 12–13.
- ↑ Kristeller 2008, hlm. 114.
- ↑ Callado Estela (2022), hlm. 58.
- ↑ Scott (2000), hlm. 28.
Sumber
[sunting | sunting sumber]- Baker, Joseph O. (2020). "The Politics of Humanism". Dalam Anthony B. Pinn (ed.). The Oxford Handbook of Humanism. Pemberton. hlm. 1–20. doi:10.1093/oxfordhb/9780190921538.013.20. ISBN 978-0-19-092153-8. Diakses tanggal 23 September 2021.
- Barnes, Jonathan (1987). Early Greek Philosophy. Penguin Books. ISBN 978-0-14-044461-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 11 November 2022.
- Blackham, H. J. (1974). "A definition of humanism". Dalam Paul Kurtz (ed.). The Humanist Alternative: Some Definitions of Humanism. Pemberton. ISBN 978-0-87975-013-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 8 July 2021.
- Butler, Philip (2020). "Humanism and the Conceptualization of Value and Well-Being". Dalam Anthony B. Pinn (ed.). The Oxford Handbook of Humanism. Pemberton. hlm. 644–664. doi:10.1093/oxfordhb/9780190921538.013.20. ISBN 978-0-19-092153-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 February 2022. Diakses tanggal 20 July 2021.
- Callado Estela, Emilio (2022). Tiempos de reforma: Pensamiento y religión en la época de Carlos V. ESIC. ISBN 9788411228411.
- Cherry, Matt (2009). "The Humanist Tradition". Dalam Heiko Spitzeck (ed.). Humanism in Business. Shiban Khan, Ernst von Kimakowitz, Michael Pirson, Wolfgang Amann. Cambridge University Press. hlm. 26–51. ISBN 978-0-521-89893-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 16 July 2021.
- Childers, Joseph W.; Hentzi, Gary (1995). The Columbia Dictionary of Modern Literary and Cultural Criticism. Columbia University Press. ISBN 978-0-231-07242-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 26 July 2021.
- Copson, Andrew (2015). "What is Humanism?". Dalam A. C. Grayling (ed.). The Wiley Blackwell Handbook of Humanism. Andrew Copson. John Wiley & Sons. hlm. 1–72. ISBN 978-1-119-97717-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 2 July 2021.
- Crosson, J. Brent (2020). "Humanism and Enlightenment". Dalam Anthony B. Pinn (ed.). The Oxford Handbook of Humanism. Pemberton. hlm. 1–35. doi:10.1093/oxfordhb/9780190921538.013.33. ISBN 978-0-19-092153-8. Diakses tanggal 23 September 2021.
- Curd, Patricia (2020). "Presocratic Philosophy". Dalam Edward N. Zalta (ed.). Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 11 November 2022.
- Davies, Tony (1997). Humanism. Psychology Press. ISBN 978-0-415-11052-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 27 May 2021.
- Dierksmeier, Claus (2011). "Kant's Humanist Ethics". Dalam C. Dierksmeier; W. Amann; E. Von Kimakowitz; H. Spitzeck; M. Pirson; Ernst Von Kimakowitz (ed.). Humanistic Ethics in the Age of Globality. Springer. hlm. 79–93. ISBN 978-0-230-31413-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 1 December 2021.
- Ellis, Brian (30 March 2010). "Humanism and Morality". Sophia. 50 (1). Springer Science and Business Media LLC: 135–139. doi:10.1007/s11841-010-0164-x. ISSN 0038-1527. S2CID 145380913.
- Engelke, Matthew (2015). "Humanist Ceremonies: The Case of Non-Religious Funerals in England". Dalam A. C. Grayling (ed.). The Wiley Blackwell Handbook of Humanism. Andrew Copson. John Wiley & Sons. hlm. 216–233. ISBN 978-1-119-97717-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 2 July 2021.
- Fowler, Jeaneane D. (1999). Humanism: Beliefs and Practices. Sussex Academic Press. ISBN 978-1-898723-70-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 6 July 2021.
- Fowler, Merv R (2015). "Ancient China". Dalam A. C. Grayling (ed.). The Wiley Blackwell Handbook of Humanism. Andrew Copson. John Wiley & Sons. hlm. 133–152. ISBN 978-1-119-97717-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 2 July 2021.
- Freeman, Charles R (2015). "Humanism in the Classical World". Dalam A. C. Grayling (ed.). The Wiley Blackwell Handbook of Humanism. Andrew Copson. John Wiley & Sons. hlm. 119–132. ISBN 978-1-119-97717-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 2 July 2021.
- Goodman, Lenn E. (2003). Islamic Humanism. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-988500-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 6 July 2021.
- Grayling, A.C. (2015). "The Good and Worthwhile Life". Dalam A. C. Grayling (ed.). The Wiley Blackwell Handbook of Humanism. Andrew Copson. John Wiley & Sons. hlm. 87–84. ISBN 978-1-119-97717-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 2 July 2021.
- Giustiniani, Vito (April–June 1985). "Homo, Humanus, and the Meanings of 'Humanism'". Journal of the History of Ideas. 46 (2): 167–195. doi:10.2307/2709633. JSTOR 2709633.
- Harper, Douglas. "Humanism". Online Etymological Dictionary. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 3 September 2022.
- Jakelić, Slavica (2020). "Humanism and Its Critics". Dalam Anthony B. Pinn (ed.). The Oxford Handbook of Humanism. Pemberton. hlm. 264–293. doi:10.1093/oxfordhb/9780190921538.013.8. ISBN 978-0-19-092153-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 February 2022. Diakses tanggal 19 July 2021.
- Hardie, Glenn M (2000). "Humanist history: a selective review". Humanist in Canada (132). Gale Academic OneFile: 24–29, 38. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 27 July 2021.
- Haworth, Alan (2015). "Humanism and the Political Order". Dalam A. C. Grayling (ed.). The Wiley Blackwell Handbook of Humanism. Andrew Copson. John Wiley & Sons. hlm. 255–279. ISBN 978-1-119-97717-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 2 July 2021.
- Heavens, Timothy (2013). "Confucianism as humanism" (PDF). CLA Journal (1): 33–41. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 2 February 2022. Diakses tanggal 2 July 2021.
- Hook, Sidney (1974). "The snare of definitions". Dalam Paul Kurtz (ed.). The Humanist Alternative: Some Definitions of Humanism. Pemberton. ISBN 978-0-87975-013-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 8 July 2021.
- Huang, Chun-chien (2020). "Humanism in East Asia". Dalam Anthony B. Pinn (ed.). The Oxford Handbook of Humanism. Pemberton. hlm. 1–29. doi:10.1093/oxfordhb/9780190921538.013.31. ISBN 978-0-19-092153-8. Diakses tanggal 23 September 2021.
- Hussain, Khuram (2020). "Humanism in the Middle East". Dalam Anthony B. Pinn (ed.). The Oxford Handbook of Humanism. Pemberton. hlm. 1–17. doi:10.1093/oxfordhb/9780190921538.013.35. ISBN 978-0-19-092153-8. Diakses tanggal 23 September 2021.
- Kline, David (2020). "Humanism Against Religion". Dalam Anthony B. Pinn (ed.). The Oxford Handbook of Humanism. Pemberton. hlm. 224–244. doi:10.1093/oxfordhb/9780190921538.013.20. ISBN 978-0-19-092153-8. Diakses tanggal 23 September 2021.
- Kristeller, Paul Oskar (1978). "HUMANISM". Minerva. 16 (4). Springer: 586–595. doi:10.1007/BF01100334. eISSN 1573-1871. ISSN 0026-4695. JSTOR 41820353. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 29 October 2022.
- Kristeller, Paul Oskar (2008). "Humanism". Dalam C. B. Schmitt; Quentin Skinner; Eckhard Kessler; Jill Kraye (ed.). The Cambridge Companion to Renaissance Philosophy. Cambridge University Press. hlm. 111–138. ISBN 978-1-139-82748-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 9 July 2021.
- Kurtz, P. (1973). "Epilogue: Is Everyone a Humanist?". Dalam Paul Kurtz (ed.). The Humanist Alternative: Some Definitions of Humanism. Pemberton. ISBN 0301-73041-5. Diakses tanggal 22 September 2023.
- Monfasani, John (2020). "Humanism and the Renaissance". Dalam Anthony B. Pinn (ed.). The Oxford Handbook of Humanism. Oxford University Press. hlm. 150–175. doi:10.1093/oxfordhb/9780190921538.013.30. ISBN 978-0-19-092153-8. Diakses tanggal 19 July 2021.
- Ljamai, Abdelilah (2015). "Humanistic Thought in the Islamic World of the Middle Ages". Dalam A. C. Grayling (ed.). The Wiley Blackwell Handbook of Humanism. Andrew Copson. John Wiley & Sons. hlm. 153–169. ISBN 978-1-119-97717-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 2 July 2021.
- Law, Stephen (2011). Humanism: A Very Short Introduction. OUP Oxford. ISBN 978-0-19-161400-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 27 May 2021.
- Law, Stephen (2015). "Science, Reason, and Scepticism". Dalam A. C. Grayling (ed.). The Wiley Blackwell Handbook of Humanism. Andrew Copson. John Wiley & Sons. hlm. 55–71. ISBN 978-1-119-97717-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 2 July 2021.
- Lamont, Corliss (1997). The Philosophy of Humanism. Continuum. ISBN 978-0-8044-6379-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 19 July 2021.
- Mann, Nicholas (1996). "The origins of humanism". Dalam Jill Kraye (ed.). The Cambridge Companion to Renaissance Humanism. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-43624-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 15 July 2021.
- Masolo, D.A. (2020). "Humanism in Africa". Dalam Anthony B. Pinn (ed.). The Oxford Handbook of Humanism. Pemberton. hlm. 1–30. doi:10.1093/oxfordhb/9780190921538.013.28. ISBN 978-0-19-092153-8. Diakses tanggal 23 September 2021.
- Morain, Lloyd; Morain, Mary (1998). Humanism as the Next Step. Humanist Press. ISBN 978-0-931779-09-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 15 July 2021.
- Nederman, Cary (8 September 2020). Edward N. Zalta (ed.). "Civic Humanism". Stanford Encyclopedia of Philosophy (Edisi Fall 2020). Diarsipkan dari asli tanggal 12 September 2021. Diakses tanggal 12 September 2021.
- Nida-Rümelin, Julian (2009). "Philosophical grounds of humanism in economics". Dalam Heiko Spitzeck (ed.). Humanism in Business. Shiban Khan, Ernst von Kimakowitz, Michael Pirson, Wolfgang Amann. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-89893-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 16 July 2021.
- Norman, Richard (2004). On Humanism. Routledge. ISBN 978-1-136-70659-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 2 July 2021.
- Norman, Richard (2012). On Humanism. Second Edition. Routledge. ISBN 978-1-136-70659-2. Diakses tanggal 15 September 2023.
- Norman, Richard (2015). "Life Without Meaning?". Dalam A. C. Grayling (ed.). The Wiley Blackwell Handbook of Humanism. Andrew Copson. John Wiley & Sons. hlm. 325–246. ISBN 978-1-119-97717-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 2 July 2021.
- Rohlf, Michael (2020). Edward N. Zalta (ed.). "Immanuel Kant". Stanford Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 October 2022. Diakses tanggal 1 December 2021.
- Savage, David (2021). "The Development of Non-Religious Pastoral Support in the UK". Religions. 12 (10): 812. doi:10.3390/rel12100812.
- Schröder, Stefan (2020). "Humanism in Europe". Dalam Anthony B. Pinn (ed.). The Oxford Handbook of Humanism. Pemberton. hlm. 1–24. doi:10.1093/oxfordhb/9780190921538.013.32. ISBN 978-0-19-092153-8. Diakses tanggal 23 September 2021.
- Schuhmann, Carmen (2015). "Counselling and the Humanist Worldview". Dalam A. C. Grayling (ed.). The Wiley Blackwell Handbook of Humanism. Andrew Copson. John Wiley & Sons. hlm. 173–193. ISBN 978-1-119-97717-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 2 July 2021.
- Scott, James Brown (2000). The Spanish Origin of International Law: Francisco de Vitoria and His Law of Nations. The Lawbook Exchange, Ltd. ISBN 978-1-58477-110-4.
- Shook, John R (2015). "Humanism, Moral Relativism, and Ethical Objectivity". Dalam A. C. Grayling (ed.). The Wiley Blackwell Handbook of Humanism. Andrew Copson. John Wiley & Sons. hlm. 403–425. ISBN 978-1-119-97717-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 2 July 2021.
- Soper, Kate (1986). Humanism and Anti-humanism. Open Court. ISBN 978-0-8126-9017-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 26 July 2021.
- Trejo, A.G. Yasmin (2020). "Changing demographics of humanism". Dalam Anthony B. Pinn (ed.). The Oxford Handbook of Humanism. Pemberton. hlm. 1–25. doi:10.1093/oxfordhb/9780190921538.013.15. ISBN 978-0-19-092153-8. Diakses tanggal 23 September 2021.
- Walker, Corey D. B. (2020). "Humanism and the Modern Age". Dalam Anthony B. Pinn (ed.). The Oxford Handbook of Humanism. Pemberton. hlm. 1–18. doi:10.1093/oxfordhb/9780190921538.013.17. ISBN 978-0-19-092153-8. Diakses tanggal 23 September 2021.
- White, Carol Wyene (2020). "Humanism in the Americas". Dalam Anthony B. Pinn (ed.). The Oxford Handbook of Humanism. Pemberton. hlm. 1–40. doi:10.1093/oxfordhb/9780190921538.013.11. ISBN 978-0-19-092153-8. Diakses tanggal 23 September 2021.
- Wilson, Edwin H. (1974). "Humanism's many definitions". Dalam Paul Kurtz (ed.). The Humanist Alternative: Some Definitions of Humanism. Pemberton. ISBN 978-0-87975-013-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 8 July 2021.
- Yao, Xinzhong (2000). An Introduction to Confucianism. Cambridge University Press. hlm. 15–25. ISBN 978-0-521-64430-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 January 2023. Diakses tanggal 6 July 2021.
Bacaan lanjutan
[sunting | sunting sumber]- Cummings, Dolan (2018). Debating Humanism. Andrews UK Limited. ISBN 978-1-84540-690-5.
- Dacey, Austin (2003). The Case for Humanism An Introduction. Rowman & Littlefield. ISBN 978-0-7425-1393-8.
- Gay, Peter (1964). The Party of Humanity: Essays in the French Enlightenment. Borzoi book. Knopf. ISBN 978-90-10-04434-1. Diakses tanggal 24 October 2022.
- Levi, Albert William (1969). Humanism & Politics: Studies in the Relationship of Power and Value in the Western Tradition. Indiana University Press. ISBN 978-0-253-13900-9. Diakses tanggal 20 October 2022.
- Proctor, Robert E. (1998). Defining the Humanities: How Rediscovering a Tradition Can Improve Our Schools : with a Curriculum for Today's Students. Indiana University Press. ISBN 978-0-253-33421-3.
- Ranisch, Robert (2014). Post- and transhumanism: an introduction. Frankfurt am Main: Peter Lang. ISBN 9783631606629.
- Rockmore, Tom (1995). Heidegger and French Philosophy: Humanism, Antihumanism, and Being. Routledge. ISBN 978-0-415-11181-2.
- Wernick, A. (2001). Auguste Comte and the Religion of Humanity: The Post-theistic Program of French Social Theory. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-66272-7. Diakses tanggal 24 October 2022.