Hukum makanan dalam Islam

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Yurisprudensi Islam menentukan mana makanan yang halāl (حَلَال) dan mana yang harām (حَرَامْ). Hukum ini berasal dari perintah-perintah yang ditemukan dalam Qur'an, kitab suci Islam serta Hadits dan Sunnah, perpustakaan mengkatalogkan hal-hal yang dilaporkan telah dikatakan dan dilakukan oleh nabi Islam Muhammad. Perluasan dari putusan-putusan ini dikeluarkan sebagai fatwa, oleh mujtahid, dengan tingkat ketegasan yang berbeda-beda, tetapi mujtahid tidak selalu dianggap sebagai pihak yang paling berhak menentukan.

Menurut Quran, satu-satunya makanan yang dilarang secara eksplisit adalah daging dari hewan yang mati karena dirinya sendiri, darah, daging babi, dan makanan apa pun yang dipersembahkan kepada selain Allah.

Namun, seseorang tidak akan berdosa jika dalam situasi yang sangat terpaksa harus mengkonsumsi apa yang dinyatakan melanggar hukum. (Quran 2:173) ayat ini adalah tentang "hukum keadaan terpaksa", dalam hukum Islam: "Dalam keadaan terpaksa membuat yang terlarang diizinkan."

Sejak pergantian abad ke-21, telah ada upaya untuk menciptakan organisasi yang menyatakan produk makanan sebagai produk halal bagi konsumen Muslim di Amerika Serikat.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Welcome halaladvocates.org - blueHost.com". halaladvocates.org. Diakses tanggal 2012-07-17. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]