Cipajang, Banjarharjo, Brebes

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Cipajang
Desa
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenBrebes
KecamatanBanjarharjo
Kodepos52265
Luas512 km2
Jumlah penduduk5.478 (BPS 2002)
Kepadatan25 km2

Cipajang adalah desa di kecamatan Banjarharjo, Brebes, Jawa Tengah, Indonesia. Di bagian utara Desa Cipanjang terdapat sebuah waduk yaitu Waduk Malahayu. Penggenangan waduk oleh pemerintah Belanda menggunakan wilayah Desa Cipanjang, Desa Malahayu dan Desa Penanggapan. Namun kini sisa genangan hanya diwilayah Desa Malahayu saja akibat pendangkalan oleh sedimentasi bahan angkut Sungai Kebuyutan.

Batas-batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Pembagian Wilayah[sunting | sunting sumber]

Desa Cipanjang terdiri dari 2 pedukuhan/ dusun/ kampung yaitu:

  1. Dukuh Cipanjang
  2. Dukuh Rembet

Demografi[sunting | sunting sumber]

Penduduk keseluruhan Desa Cipanjang adalah 5.478 jiwa (BPS 2002), yang terdiri atas 2.472 pria dan 2.736 wanita. Kira-kira 80% tenaga kerja desa itu merantau ke [[Jakarta]]. Yang tercatat jelas anggota Pertugal 2.000 orang. Lapangan kerja mereka umumnya menyangkut pekerja kasar sebagaimana telah dikemukakan. Yang mengagumkan adalah kebersamaan mereka yang kukuh. Ke-2.000 orang itu terbagi menjadi 50 grup. Jadi setiap grup beranggota 40 orang. Mereka terikat dalam sesanti sederhana, yakni guyub rukun. Itu sesanti populer yang banyak dikenal dalam kehidupan masyarakat kita. Lewat wadah itulah mereka menyisihkan rezeki, mengumpulkan untuk mereka sumbangkan bagi pembangunan desa. Berapa rezeki yang mereka kumpulkan bisa kita bayangkan dari bidang kerja masing-masing.

Orang kecil, berpenghasilan kecil, tetapi bisa berbuat besar untuk desa mereka. Itulah yang dilakukan para anggota Persatuan Tukang Gali (Pertugal). Wadah itu didirikan para perantau dari Desa Cipajang, Brebes, yang bekerja di berbagai bidang di Jakarta. Yang menarik, semua lapangan kerja mereka tergolong kasar, yang biasa dikerjakan kelompok masyarakat kelas bawah. Ada yang bekerja sebagai tukang gali tanah untuk proyek telepon, listrik, pompa air, saluran air, pembangunan jalan, slup fondasi beton bangunan jangkung, dan lain-lain. Ada yang bekerja bukan di bidang pergalian. Misalnya di proyek-proyek bangunan dengan berbagai jenis tukang dan keterampilan. Ada pula tukang kayu, tukang batu, dan pengaduk semen.

- Kita bisa menghitung upah mereka sebagai pekerja kelas bawah. Umumnya jauh lebih rendah dibandingkan dengan orang yang bekerja di instansi pemerintah, lembaga keuangan, atau bisnis lain. Namun yang mengagumkan, para anggota Pertugal mampu membangun balai desa dan kantor kepala desa bernilai Rp 69 juta, masjid bernilai miliar rupiah, memperbaiki jalan desa, jalan lingkungan, dan lain-lain. Balai desa dua lantai itu konon yang termegah di Kabupaten Brebes. Bangunan itu bisa berdiri dengan biaya relatif sedikit karena warga desa mengerjakan secara sukarela. Mereka tak mengharapkan upah. Mungkin mereka sadar biaya untuk membangun dikumpulkan secara sukarela, hasil cucuran keringat sesama warga desa.

Tentang kisah orang-orang sukses dan membantu pembangunan desa tempat kelahiran, sekolah tempat dulu menuntut ilmu, dan lain-lain, sudah banyak kita dengar. Misalnya orang-orang yang berhasil mencapai kedudukan tinggi di pemerintahan dan memiliki rezeki cukup besar, sukses dalam bidang bisnis, pemborong bangunan, percetakan, dan lain-lain. Orang sukses itu menyisihkan sebagian rezeki untuk disumbangkan bagi berbagai pembangunan dan kegiatan sosial sudah makin biasa. Namun para pekerja kecil, yang untuk memperoleh upah beberapa ribu rupiah harus memeras tenaga dan mengucurkan keringat, dengan guyub rukun membangun desa jelas bernuansa lain. Apalagi Cipajang adalah desa terpencil, jauh di kawasan selatan Brebes. Desa kecil, namun warganya memiliki jiwa dan hati besar

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Penduduk Desa Cipajang dikenal juga dengan adat istiadatnya yang cukup kental, budaya kondangan tak lepas dari kehidupan masyarakat desa [[Cipajang]] dan yang menariknya boboko dan opak adalah ciri khas dari kondangan walaupun sekarang sudah dicanangkan untuk mengantinya dengan baskom.Coba bayangan berapa banyak uang yang berputar sehari saat musim kondangan apabila satu orang bisa menhabiskan uang sekitar min 10ribu untuk kondangan ke 1 tempat hajat. super sekali sangat luar biasa ternyata hartanya berlimpah sehingga habis dalam periode kondangan. Musim kondangan ada saat setelah [[Idul Fitri]] dan [[Idul Adha]]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pendidikan di desa Cipajang ini cukup bervariatif, tetapi lulusan sekolah menengah lebih mendominasi, tidak sedikit juga yang melanjutkannya ke perguruan tinggi. Karena bagi orang tua di desa cipajang pendidikan anak adalah nomor satu di atas apapun, meskipun masyarakat cipajang kebanyakan pekerja kasar tetapi pendidikan anak anak mereka tak lantas dilupakan. Biasanya pelajar di desa cipajang lebih suka bersekolah di sekolah menengah kejuruan, alasannya adalah ketika mereka lulus dan tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi mereka bisa bekerja dulu sesuai dengan kejuruan yang mereka tekuni dan suatu saat bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dengan biaya sendiri. Apabila di sekolah mereka juga terkenal akan prestasinya dalam hal pelajaran maupun olahraga.