Sindangheula, Banjarharjo, Brebes

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Sindangheula
Desa
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenBrebes
KecamatanBanjarharjo
Kodepos52265
Luas8,23 km²
Jumlah penduduk... jiwa
Kepadatan... jiwa/km²

Sindangheula adalah desa di kecamatan Banjarharjo, Brebes, Jawa Tengah, Indonesia. Desa Sindangheula termasuk dua desa paling selatan di kecamatan Banjarharjo. Desa Sindangheula berjarak 13 Km berkendara dari pusat kecamatan Banjarharjo melalui Malahayu. Serta berjarak 47 Km dari pusat Kabupaten Brebes melalui Tanjung-Kersana-Banjarharjo. Desa Sindangheula mempunyai luas wilayah 822,54 Hektar yang terbagi atas 6 pedukuhan, 1 RW dan 17 RT.

Batas-batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Pembagian Wilayah[sunting | sunting sumber]

Desa Sindangheula terdiri dari 6 pedukuhan/ dusun/ kampung yaitu:

  1. Dukuh Buadil
  2. Dukuh Cijambe
  3. Dukuh Pasirsalem
  4. Dukuh Sindanghayu
  5. Dukuh Sindangheula
  6. Dukuh Sindangsari

Legenda[sunting | sunting sumber]

Asal mula desa ini dapat diceritakan melalui legenda pendek ketika Nini Kanang dan Aki Kanang mencari tempat bermukim. Kebetulan di sekitar tempat dia berdiri ada cangehgar (ayam hutan). Ayam itu lari kencang dan terbang. Diikutinyalah ayam itu. Ayam itu hinggap di suatu tempat, tepatnya yang sekarang di sana terdapat rumah Ki Raksabajing, sebelah utara bale dayeuh (balai desa)sekarang. Maka Aki Kanang dan Nini Kanang menetapkan untuk membuat rumah di situ. Inilah rumah pertama di Sindangheula. Mengapa dinamakan Sindangheula? Hal ini berkaitan dengan ketika suatu waktu dua orang Pangeran (orang keramat) bernama Pangeran Papak dan Pangeran Panjunan sindang (singgah; mampir) heula (beberapa saat) di suatu tempat di selatan desa (yang dinamakan Tabet) dan melakukan sembahyang di sana.

Bekas sembahyangnya berbekas telapak kaki. Keduanya beristirahat ketika akan dan atau telah pergi dari tempat keramat Gunung Kumbang. Akan tetapi sayang ketika ada banjir bandang dari lamping (lereng) Tajursereh tahun 1987, tempat ini tergerus air banjir sungai Cigora. Lama-lama lokasi Sindangheula tempat bermukim Aki Kanang dan Nini Kanang ini kemudian menjadi pemukiman berpenduduk banyak, sehingga perlu adanya pengaturan kependudukan dengan adanya seorang pemimpin. Menurut bapa kolot Kartaatmadja (1909-2004; kuwu hormat 1945-1967; kuwu kedua belas), yang menjadi kuwu (kepala desa) pertama desa ini adalah Buyut Roda dengan istrinya yang bernama Nini Bendi. Dinamai demikian karena konon dia mempunyai kendaraan roda (bendi, kereta kuda). Demikian keterangan dari bapa kolot Kartaatmadja.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Wilayah Desa Sindangheula sebagian besar merupakan perbukitan hingga pegunungan dengan ketinggian antara 70-1.200 meter diatas permukaan air laut (Mdpl). Disebelah utara merupakan lereng perbukitan dengan kontur agak curam. Dan disebelah selatan merupakan rangkaian Pegunungan Lio yang memiliki kontur curam, dengan puncaknya Gunung Kumbang (1.218 Mdpl) berbatasan dengan Kecamatan Salem dan Kecamatan Ketanggungan. Sejumlah gunung dan bukit lainnya seperti Gunung Puncakpayung (842 Mdpl), Bukit Garaga (424 Mdpl), dan Bukit Pasircabe (376 Mdpl). Desa Sindangheula juga merupakan daerah hulu dari sejumlah sungai yaitu Sungai Cigora, Sungai Ciblandongan, Sungai Cicaruy, dan Sungai Cilimus. Diutara Desa Sindangheula, Sungai Cigora bertemu dengan Sungai Ciblandongan dan mnejadi Sungai Kebuyutan yang mengalir ke pantai utara jawa. Desa Sindagheula yang beriklim tropis dengan dua musim dalam satu tahunnya yaitu musim kemarau dan penghujan, dengan suhu udara pada siang hari berkisar antara 24 - 31 derajat Celcius.

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Penduduk Desa Sindagheula sebagian besar berbahasa dan berkebudayaan Sunda. Pekerjaannya mayoritas petani padi melalui pertanian sawah basah/ tadah hujan. Panen padi sepanjang tahun, karena beberapa sungai mengairi pesawahannya. Desa Sindangheula juga terkenal penduduknya dengan tingkat pendidikan yang mayoritas lulusan sekolah menengah dan banyak yang menjadi sarjana. Selain itu banyak yang sukses menjadi pejabat. Penduduk Sindangheula mayoritas perantau. Jadi tulangpunggung perekonomian warganya adalah pekerja bangunan di kota-kota besar, pelaut, juga TKW.

Potensi[sunting | sunting sumber]

Potensi yang belum dikembangkan adalah wirausaha, yaitu usaha makanan. Desa Sidangheula terkenal dengan krupuknya pada tahun 80-an masih banyak pengusaha kerupuk namun sekarang hanya tinggal satu keluarga yang masih mempertahankannya. Juga makanan khas peuyeum ketan yang dibungkus daun jambu air. Saat ini justru dikembangkan oleh penduduk adalah kungingn, rengginang, opak, dan yang lainnya.

Gempa Bumi 2013[sunting | sunting sumber]

Gempa bumi 2013 adalah sebuah gempa bumi tektonik berkekuatan 4,7 SR pada hari Sabtu tanggal 13 Juli 2013 pukul 08.10 WIB. Posisi gempa berada di 108,73 Bujur Timur (BT) dan 7,06 Lintang Selatan (LS) dengan kedalaman 10 km. Pusat gempa tepatnya masuk ke dalam Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat dan Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes. Diperkirakan sumber gempa dari Sesar kecil Argasoka. Di Desa Sindangheula, gempa itu memiliki skala 2-3 modified mercally intensity (MMI). Beberapa rumah rusak diantaranya 2 rumah rusak berat di Dukuh Sindangsari dan 7 rumah rusak ringan di Dukuh Pasirpalem. [1]. Desa Sindagheula merupakan desa yang bisa dikatakan rawan gempa bumi karna terdapat patahan/sesar naik membentang dari lembah hulu Sungai Cigora ke timur sebelah utara Bukit Garaga.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Desa Sindangheula mempunyai potensi pariwisata alam yakni beberapa air terjun atau Curug. Salah satunya Curug Tonjong yang terletak di Dusun Buadil. Curug setinggi kurang lebih 15 meter yang berada dalam aliran Sungai Cilimus tersembunyi di antara bebatuan besar, hingga menambah eksotisme yang memandang. Lokasi Curug mudah dijangkau dan berada tak jauh dari jalan Banjarharjo – Salem. Sepanjang perjalanan kita akan disuguhi panorama Pegunungan Lio yang menawan. Karcis masuk juga tergolong murah sekali, yakni dengan hanya merogoh kocek sebesar dua ribu rupiah kita bisa menikmati keindahan Curug Tonjong. Sudah lama Curug Tonjong ini ditemukan, namun baru sekitar tahun 2011 curug ini ramai dikunjungi. Berbagai usaha sudah dilakukan untuk mempermudah akses bagi pengunjung. Salah satunya adalah jalanan beton yang menuju lokasi[2].

Referensi[sunting | sunting sumber]