Tole Iskandar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Tole Iskandar
LahirKota Depok, Jawa Barat
Meninggal1947 di Sukabumi
Dikenal atasPahlawan Kemerdekaan Indonesia

Tole Iskandar (lahir di Depok, Jawa Barat, meninggal dalam pertempuran dengan sekutu di Cikasintu, Sukabumi, Jawa Barat pada tahun 1947) adalah salah seorang Pahlawan Kemerdekaan. Namanya diabadikan sebagai nama jalan di Kota Depok.[1]

Riwayat hidup[sunting | sunting sumber]

Orang Tua Tole Iskandar

Tole Iskandar adalah sulung dari tujuh bersaudara. Adiknya yaitu Tuti, Sukaesih, Sugito, Suyoto, Mulyati, dan Slamet Mulyono. Tole merupakan anak dari pasangan Raden Samidi Darmorahardjo bin Adam dan Sukati binti Raden Setjodiwiryo. Kakeknya merupakan menteri perairan zaman kolonial Belanda di Depok. Dia lahir di Gang Kembang, Ratu Jaya, Kota Depok.[2]

Tole gugur saat berperang dengan Sekutu di Cikasintu, Sukabumi, Jawa Barat, pada 1947 bersama Batalion 8. Saat gugur pangkatnya Letnan Dua. Kini makam Tole Iskandar berada di Taman Makam Pahlawan Dreded, Kota Bogor, setelah dipindahkan dari Sukabumi. Saat gugur Tole Iskandar berusia 25 tahun. Keluarga besar Tole Iskandar sekarang bermukim di wilayah Ratu Jaya, Depok.[3]

Perjuangan[sunting | sunting sumber]

Kakek Tole Iskandar
Barisan Tole Iskandar pada Masa Perjuangan

Tole Iskandar memiliki catatan perjuangan tertulis dalam Laskar Pemuda Depok. Laskar itu tersohor dengan sebutan Kelompok 21. Pada September 1945, diadakan rapat pertama kali di sebuah rumah di Jalan Citayam (sekarang Jalan Kartini), Tole berikut tujuh bekas anggota Heiho dan 13 anggota Pemuda Islam Depok mengadakan rapat dan diputuskan membentuk Barisan Keamanan Depok. Tole Iskandar akhirnya terpilih menjadi komandan. Merekalah cikal bakal perjuangan di Depok. Ide pembentukan Barisan Keamanan Depok karena sehabis kemerdekaan situasi di sana tidak menentu. Semua hal berbau belanda dan tidak mau memasang bendera merah putih dianggap musuh.[4]

Buntutnya, pecah insiden di Jalan Pemuda. Masyarakat kampung merebut semua harta melalui peristiwa Gedoran Depok. Mereka menawan para keturunan Belanda Depok ke Bogor. Belanda Depok merupakan mantan pekerja Cornelis Chastelein. Mereka mendapatkan jatah harta warisan Cornelis berupa tanah untuk dikelola

Pekerja itu didatangkan dari Sulawesi, Kalimantan, Timor dan Bali. Cornelis kemudian membentuk 12 marga untuk mereka setelah penghapusan perbudakan pada 1714.

Dua belas marga itu ialah Laurenz, Loen, Leander, Jonathans, Toseph, Yakob, Sudira, Samuel, Sadok, Isac, Bakas, dan Tholence. Kini keturunan mereka umumnya tinggal di kawasan Depok Lama.

Kelompok 21 dipimpin Tole Iskandar mengumpulkan Belanda Depok di sebuah tempat dekat Stasiun Depok Lama agar tidak menjadi korban dendam terhadap Belanda. Tole juga ikut mengusir pendudukan Belanda di Depok dan terlibat perang di Kalibata serta Bogor.

Saat itu, senjata yang dimiliki Barisan Keamanan ini hanya empat pucuk carabine Jepang. Itu pun hasil rampasan dari polisi Jepang yang bertugas di Depok. Kolonel Samuan, salah satu tim penyusun sejarah perjuangan di Bogor, ke 21 orang ini diberi nama Kelompok 21. Pada 15 Oktober 1945, di Bogor dibentuk BKR resimen II membawahi empat batalion, yaitu Batalion I Depok, Batalion II Leuwiliang, Batalion III Cileungsi, dan Batalion IV Kota Bogor.

Laskar Rakyat Depok (kelompok 21) yang dipimpin oleh Tole Iskandar langsung meleburkan diri ke dalam Batalion I Depok. Setelah batalion masuk di Depok, berpuluh-puluh pemuda Islam setempat mendaftarkan diri menjadi TKR. Mereka berkali-kali menyerang pasukan Inggris di Pasar Minggu dan markas mereka di pabrik Sepatu Bata Jalan Kalibata Raya.

Saat terjadi pertempuran dengan tentara Belanda di perkebunan Cikasindu, Tole Iskandar gugur setelah sebelumnya melakukan penyerbuan di Bojonggede, melawan pasukan Gurkha di di Citayam dan Pabuaran. Begitu hebatnya perjuangan Tole Iskandar, hingga ketika ia gugur merupakan pukulan berat bagi rekan-rekannya yang bertahun-tahun berjuang bersama.

Pada tanggal 16 Juni 1946, Depok diserang secara besar-besaran oleh tentara gabungan Inggris dan Belanda. Perjanjian Renville, 17 Januari 1948, Jawa Barat harus dikosongkan pejuang. Pasukan Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah. Untuk mengisi kekosongan pejuang di Jawa Barat, Jenderal Sudirman dan Tan Malaka berunding. Hasilnya, dibentuklah pasukan rahasia yaitu Devisi Bambu Runcing (BR) dibawah pimpinan Sutan Akbar (mahasiswa kedokteran yang mendirikan Angkatan Pemuda Indonesia (API) bersama pemuda yang mondok di asrama menteng 31 sekarang Gedung Juang).

11 Oktober 1949, Bambu Runcing mengeluarkan maklumat yang menentang seluruh perundingan dengan Belanda karena menilai seluruh hasil dari perundingan-perundingan tersebut hanya merongrong dan menggerogoti cita-cita kemerdekaan. Mereka menginginkan kemerdekaan 100 %. Mau tak mau mereka berhadap-hadapan dengan republik yang masih seumur jagung. Seteru semakin menjadi-jadi menyusul pemberlakuan Restrukturisasi dan Rasionalisasi (RERA) di tubuh angkatan bersenjata.

Perang saudara meletus. Daerah yang dikuasai Bambu Runcing bergolak, termasuk Depok. Bambu Runcing Depok yang dipimpin seorang jawara bernama Sengkud bermarkas di Bulak Garong (sekarang Perumahan Pesona Kahyangan). Sengkud tersohor. Sebelum memimpin Bambu Runcing dia pernah bergabung bersama Pertahanan Desa (PD). Pramoedya Ananta Toer, sastrawan legendaris itu juga pernah aktif di Pertahanan Desa.

Depok pun mencekam. Pembunuhan terjadi hampir setiap hari. Laskar rakyat yang tadinya bergerilya menggencarkan serangan sporadis terhadap pasukan penjajah berubah menjadi perampok yang sadis. Hanya saja yang dirampok orang-orang yang dianggap berseberangan dengan mereka, tiap malam ada saja yang digedor pintu rumahnya.[5]

Nama jalan[sunting | sunting sumber]

Jalan Tole Iskandar Kota Depok

Bagi masyarakat Depok, khususnya warga Depok Dua Tengah dan Depok Dua Timur, Jalan Tole Iskandar bukan lah nama asing. Sebab, sebelum Jalan Merdeka dan Jalan Keadilan dibuka, Jalan Tole Iskandar merupakan akses satu-satunya menuju Stasiun Depok maupun Terminal Depok. Setiap hari jalan itu dilintasi warga untuk menuju ke Jakarta. Baik oleh pengguna jasa angkutan kereta api, bus, angkot, maupun kendaraan pribadi. Aneh rasanya kalau warga Depok Dua Tengah dan Depok Dua Timur tak kenal dengan nama jalan itu. Namun, bukan berarti setiap orang yang melintas di Jalan Tole Iskandar mahfum dengan si pemilik nama tersebut.

Apalagi dulu Jalan Proklamasi dan Jalan Merdeka di Depok II belum ada. Akses ke Jakarta saat itu hanya melalui Jalan Tole Iskandar menuju Jalan Raya Bogor. Bukan Jalan Margonda Raya seperti saat ini. Letak Jalan Tole Iskandar sekitar dua kilometer dari Jalan Pemuda melintasi jembatan Vanus peninggalan Belanda. Nama Tole Iskandar dikukuhkan dalam Peraturan Daerah Nomor 1/1999 tentang hari jadi dan lambang Kota Depok. Dia salah satu pahlawan perjuangan Kota Depok selain Margana atau lebih dikenal dengan Margonda.[6]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Tole Iskandar Pahlawan Kota Depok depokgo.com, Diakses 18 Desember 2013
  2. ^ Pahlawan Dari Gang Kembang merdeka.com, Diakses 8 Januari 2014
  3. ^ Menguak Jejak Langkah Tole Iskandar Dalam Sejarah Depok depokterkini.com, Diakses 14 April 2013
  4. ^ Tole Iskandar Diam-Diam Jadi Tentara merdeka.com, Diakses 8 Januari 2014
  5. ^ Sebuah Reportase Sejarah: 'GEDORAN DEPOK' Revolusi Sosial di Tepi Jakarta 1945-1955 investigasi.seruu.com, Diakses 18 Juni 2012
  6. ^ Kisah Margonda dan Tole Iskandar republika.co.id,Diakses 15 April 2013

Pranala luar[sunting | sunting sumber]