Toko roti

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Toko roti di Pasar Mahane Yehuda
Seorang wanita bekerja dengan oven komersial di sebuah toko roti

Sebuah toko roti adalah sebuah tempat yang memproduksi dan menjual makanan yang berbahan dasar tepung dan dipanggang di dalam oven, seperti roti, kukis, kue, pastri, dan pai.[1] Beberapa toko roti ritel juga berperan sekaligus sebagai kafe, dengan menyediakan kopi dan teh sebagai pendamping roti.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Iklan sebuah toko roti di Jerman, 1442
Etalase di depan toko roti, diisi dengan roti dan kue, 1936
Toko roti tradisional di Geyerbad dekat Oberdigisheim (Meßstetten)

Roti telah ada sejak ribuan tahun lalu. Seni pemanggangan roti telah berkembang sejak zaman Kekaisaran Roma. Seni ini begitu terkenal, karena masyarakat Roma sangat suka mengonsumsi roti, dan roti pun sering dihidangkan dalam pesta, pernikahan, dll. Oleh karena itu, sekitar 300 tahun sebelum masehi, pemanggang roti pun menjadi sebuah profesi yang terhormat di Roma. Pemanggang roti pada saat itu mempersiapkan adonan roti di rumah dengan menggunakan oven. Sekitar 168 tahun sebelum masehi, asosiasi pemanggang roti pertama terbentuk di Roma. Roti kemudian menyebar ke seantero Eropa dan Asia Timur. Pemanggang roti pun mulai membuat roti di rumah dan kemudian menjualnya di jalanan.

Roti pun makin terkenal, dan makin banyak yang menjualnya di jalanan kota Roma, Jerman, London, dsb. Pemanggang roti kemudian mulai menyediakan layanan pengiriman roti ke rumah pembeli, karena makin meningkatnya permintaan. Pemanggang roti lalu mulai mendirikan tempat di mana orang dapat datang dan membeli roti buatannya. Lalu di Paris, toko roti pertama resmi dibuka, dan sejak saat itu, toko roti menjadi cara paling umum untuk membeli roti. Pada periode modern awal, toko roti pun dipandang sebagai tempat paling ideal untuk berkumpul dan bersosialisasi.[2]

Pada tanggal 7 Juli 1928, sebuah toko roti di Chillicothe, Missouri memperkenalkan roti tawar yang telah dipotong menjadi lembaran, dengan mesin yang diciptakan oleh Otto Frederick Rohwedder. Karena roti tawar biasa susah terjual, akibat bentuknya yang kurang estetik dan lebih cepat basi,[3] roti tawar potong pun menjadi populer. Pada Perang Dunia II, mesin pemotong roti dilarang diproduksi, karena logam yang diperlukan untuk membuat mesin tersebut dialihkan untuk mendukung upaya perang. Keputusan inipun mendapat penolakan dari para ibu rumah tangga.[4]

Perang Dunia II mempengaruhi industri roti secara signifikan di Britania Raya. Sekolah pemanggangan roti ditutup, sehingga tidak ada regenerasi pemanggang terampil. Hal ini pun mendorong pengembangan metode baru untuk memenuhi permintaan roti. Metode tersebut antara lain penambahan bahan kimia ke dalam adonan, dan pembuatan mesin-mesin baru. Metode pembuatan roti tradisional pun hampir seluruhnya tergantikan oleh metode baru. Metode lama dianggap kurang efektif dan lebih mahal, sehingga pada masa itu pemanggang roti tradisional makin sulit dijumpai.

Produk[sunting | sunting sumber]

Spesialisasi[sunting | sunting sumber]

Beberapa toko roti juga menyediakan layanan untuk acara khusus (seperti pernikahan, pesta ulang tahun, hari jadi, maupun acara perusahaan) atau untuk orang yang alergi / sensitif terhadap makanan tertentu (seperti kacang, kacang tanah, susu, dan gluten). Toko roti juga dapat menyediakan berbagai macam desain roti, seperti kue lembar, kue tingkat, dan kue pernikahan. Toko roti lain juga dapat berspesialisasi pada pembuatan roti secara tradisional, yang dibuat dengan tepung, tanpa agen pemutih tepung atau agen pengembang tepung.[1]

Komersialisasi[sunting | sunting sumber]

Toko grosir dan supermarket di beberapa negara juga menjual roti dalam kemasan, kue, maupun pastri. Toko-toko ini juga dapat menyediakan hiasan kue sederhana.[2] Walaupun begitu, banyak orang masih memilih untuk membeli roti di toko roti, baik karena sudah menjadi tradisi, karena tersedia lebih banyak jenis roti, ataupun karena kualitas rotinya lebih baik.[1]

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c Yogambal Ashokkumar (2009), Theory of Bakery and Confectionary, ISBN 978-81-203-3954-5 
  2. ^ a b Rush, Morgan. "About the Bakery Business". Huston Chronicle. Diakses tanggal 2014-02-24. 
  3. ^ Latson, Jennifer (7 July 2015). "How Sliced Bread Became the 'Greatest Thing'". Time. Diakses tanggal 6 October 2017. 
  4. ^ "U.S. At War: Trouble on the Bread Line". Time. 1 February 1943. Diakses tanggal 6 October 2017. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]