Suria Alam dari Banjar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Surya Alam dari Banjar)
Jump to navigation Jump to search
Sultan Banjar
Masa kekuasaan 1700-1717
Dinobatkan 1700
Pendahulu Panembahan Kasuma Dilaga
Pengganti Sultan Hamidullah
Anak

1. ♂ Sultan Tamjidullah (ke-1)
2. ♂ Pangeran Mangku Dilaga (Pangeran Sepuh)
3. ♂ Pangeran Mangku Negara
4. ♂ Pangeran Anom Kesuma Yuda
5. ♂ Pangeran Prabu Anom
6. ♂ Pangeran Iberahim
7. ♂ Pangeran Isa
8. ♂ Pangeran Thaha

9. ♀ Ratu Sara
Wangsa Dinasti Banjarmasin
Ayah Sultan Tahlilullah

Pangeran Suria Alam (Panembahan Kuning) bergelar Sultan Tahmidillah (ke-1) (bin Sultan Tahlil-lillah) adalah Raja Banjar yang memerintah tahun 1700-1717.[1][2]

Menurut Arsip Nasional Republik Indonesia, korespondensi antara Sultan Banjar Sultan Tahmidullah I kepada VOC-Belanda terjadi sejak tanggal 27 Mei 1702 sampai 14 Maret 1713.[3]

Dimasa pemerintahannya lahir seorang anak yang kelak menjadi ulama besar dan masyhur yaitu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Sultan Tahmidillah (ke-1) mangkat dan dimakamkan di Kampung Dalam Pagar, Martapura.[4]

Sultan Tahmidillah (ke-1) merupakan pengganti Sultan Saidillah (ke-2). Menurut sumber Inggeris pada tahun 1698, Sultan Banjarmasin, Saidilah menjalin kontrak dengan Inggris. Sultan Saidillah wafat tahun 1700. Nama Saidillah atau Saidullah tersebut, sering digunakan oleh beberapa Sultan Banjar. Maka Sultan Tahmidillah (ke-1) merupakan penerus pemerintahan Sultan Saidillah.

Situasi perdagangan dengan VOC pada masa Suria Alam[sunting | sunting sumber]

Abraham van Riebeeck - Gubernur Jenderal VOC tahun 1709-1713
Christoffel van Swol - Gubernur Jenderal VOC tahun 1713-1718
  • 1678 - Ketika Jan van Michelen dan Pieter van de Vesten berlayar ke Negeri Banjar untuk mencari lada pada tahun 1678, mendapat hasil yang jauh dari memuaskan. Oleh karena itu beberapa waktu perhatian orang-orang Belanda tidak tertuju ke wilayah Kesultanan Banjar.[5]
  • 1708 - Hubungan baru terjalin lagi pada tahun 1708 Lim Kim Ko, kapten Cina Banjar, datang ke Batavia sebagai utusan dari Sultan Suria Alam. Maksud kedatangannya itu adalah untuk menyampaikan kepada Pemerintah Pusat di Batavia bahwa mereka ingin kembali menjalin hubungan dagang dengan VOC. Dalam Perundingan itu penguasa Batavia menghendaki dilaksanakannya perdagangan bebas antara orang-orang Banjar dan penduduk Batavia. Mereka mengizinkan orang-orang Banjar untuk mengirim lada mereka ke Batavia, dan juga memberikan kebebasan kepada orang-orang Tionghoa untuk membawa lada ke Batavia, dengan harga rata-rata 5 dolar Spanyol untuk setiap pikul. Lancarnya perdagangan ini mengakibatkan bahwa Pemerintah Pusat di Batavia lebih senang mempercayakan pembelian lada kepada mereka daripada kepada pegawai-pegawainya sendiri.
  • Pada Februari 1711, Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck mencabut kebijaksanaan yang telah dijalankan sebelumnya. Diputuskan bahwa kapal The Peter and Paul akan pergi ke Banjar untuk membeli lada dan emas. Beberapa alasan diajukan untuk melakukan perubahan yang besar ini. Pertama jumlah lada yang didapat dari perdagang-pedagang Tionghoa dianggap kurang memuaskan.
  • 1709 - Pada Tahun 1709, 850,000 pon lada dikirim oleh pedagang-pedagang Tionghoa, namun jumlah ini terus berkurang. Pada tahun berikutnya jumlah lada yang diperoleh oleh para pedagang Cina yang pada bulan Agustus 1710 meninggalkan Banjar dengan 13 buah jung kedua, harga lada tidak lagi 5 dolar setiap pikul, tetapi menjual 7-8 dolar. Van Riebeeck melihat kenyataan bahwa Sultan Banjar ingin sekali memperbaharui hubungan Belanda-Banjar karena krisis politik yang sedang dialaminya. Untuk itu maka VOC harus mengambil kesempatan untuk memasuki pasar lada di Tatas (Banjarmasin) dan Kayu Tangi (Martapura), dan menghalangi pedagang Tionghoa membeli banyak lada di sana.
  • Selama periode 1700-1725 Pemerintah Pusat VOC di Belanda menambah permintaan ladanya untuk pasar di Eropa. Tetapi selama ini pemerintah di Batavia sukar untuk memenuhinya, maka hubungan baik dengan Banjar adalah merupakan kesempatan untuk menambah ladanya. Pemerintah Pusat di Batavia menyadari adanya desas-desus bahwa orang-orang Inggris bermaksud untuk kembali berdagang di Banjar. Maka untuk menjaga kepentingannya di Banjar para penguasa VOC bekerja keras untuk menghalangi kehadirannya. Antara lain dengan memerintahkan kepada Gubernurnya di pantai timur Jawa untuk menghalau kapal milik orang-orang Inggris yang bermaksud mengangkut barang-barang seperti batu kapur, beras ke Banjar. Pelayaran yang pertama dari VOC berhasil membawa sebanyak 826 2/3 pikul lada, jumlah itu berkurang menjadi 586 1/2 pikul pada tahun 1712. N.V.D. Bosch dan I. Indus, perusahaan yang mengelola Peter and Paul mengadakan pendekatan kepada Sultan Suria Alam, agar bersedia memberi mereka muatan lada untuk memenuhi kapalnya dengan harga 4 dolar per pikul. Dalam hal ini karena VOC telah memberikan bantuan kepada para penguasa Banjar untuk menumpas pemberontakan Biaju di Negara tahun 1711. Kurang dari satu bulan Peter and Paul telah berangkat dengan muatan lada penuh.
  • 1712 - Sultan Banjar mengirim duta ke Batavia untuk mengundang VOC berdagang di Banjarmasin.[6] Sangat disayangkan, kunjungan Belanda yang kedua pada Agustus 1712 tidak sesuai dengan yang diharapkan. Dengan harapan memperoleh lada yang lebih banyak berdasar persetujuan bersama 2 orang wakil Banjar R. Aria dan Tanu Kati, yang datang ke Batavia pada awal 1712, Pemerintah Pusat di Batavia menyediakan 10.000 dolar untuk perusahaan Bosch dan Paul, yang menggantikan Indus, dan dikirim Luijtpol dan Jambl untuk menyertai Peter and Paul dalam mengangkut lada. Namun ternyata perusahaan itu tidak segera dapat membeli lada seperti dilakukan oleh para pedagang Tionghoa yang bisa membeli secara langsung dari orang-orang Banjar, dengan harga 6-7 real setiap pikul. Akibatnya, hanya Peter and Paul yang bisa memperoleh muatan sebanyak 73.312 ½ pon atau 626 1/2 pikul. Para penguasa Belanda yang kecewa dengan hasil yang tidak memadai itu tiba-tiba memutuskan untuk menghentikan pengiriman kapal-kapalnya ke Banjar.
  • Sedang di Banjar, peperangan antara orang-orang Banjar dan Biaju terus berlangsung yang mengakibatkan turunnya produksi lada. Maka kemudian Sultan Aria Alam mengutus wakilnya untuk menyampaikan kepada Gubernur Jenderal Christoffel van Swol, bahwa Sultan akan memberikan monopoli perdagangan lada kepada VOC, jika VOC bersedia untuk membantunya menghadapai orang-orang Biaju dan Bugis. Pemerintah pusat di Batavia bersedia kembali mengadakan hubungan dagang dengan Banjar karena permintaan Pemerintah Pusat di Belanda semakin tidak dapat dipenuhi oleh Banten dan Jambi yang saat itu produksi ladanya sedang merosot.
  • 1727 - Demikianlah kemudian pada pertengahan 1727 Batavia kembali mengirim kapalnya dengan mendapatkan sebanyak 3.926 pikul. Ini adalah awal yang baik bagi perusahaan Landsheer and Bround dibandingkan perusahaan sebelumnya tahun 1727-1713.
  • Pada tahun 1728 VOC mengirim 6 buah kapal yakni Miderbeek, Wolphardijk, Vol, Readhuis, Olifftak, dan Doonink, semua penuh dengan lada yang berjumlah 19785 pikul. Masih ditambah sebanyak 368.943 pon yang diangkut ke Batavia dengan kapal-kapal pedagang Banjar. Hal ini selain panen lada yang sedang baik, juga karena penguasa Banjar menekan para pedagang lada untuk menjual ladanya kepada orang-orang Belanda. Untuk selanjutnya hubungan perdagangan lada antara Belanda dan Banjar selalu mengalami masa pasang surut. Tentu saja kondisi politik tidak bisa terlepas memengaruhi kebijaksanaan dalam bidang ekonomi.

Situasi perdagangan dengan Inggris pada masa Surya Alam[sunting | sunting sumber]

  • Sejak diusirnya dalam perang Banjar-Inggris pada 1707, orang-orang Inggris mencoba datang kembali ke Kesultanan Banjar pada tahun 1713. Mereka mengharap bahwa kurangnya persediaan lada dari Malabar bisa dipenuhi oleh Banjar. Mereka berusaha meyakinkan Sultan Aria Alam atas kedatangannya untuk mengadakan kembali hubungan perdagangan, dan tidak untuk membicarakan peristiwa tahun 1707. Dengan muatan perak seharga masing-masing f 4,351 dan 4,313, Eagle Gallery dan Borneo berlayar ke Banjar tahun 1713. Pada kedatangannya di Tatas, pedagang-pedagang Inggris menjumpai orang-orang Banjar yang tetap menyembunyikan kemarahan. Sementara para bangsawan Banjar, Kiai Raden Taka (Cay Rouden Tacka) dan Kiai Citra Yuda (Cay Chetra Uday) dengan ragu-ragu menyambut kedatangan kapal itu sampai mereka yakin bahwa yang datang itu adalah kapal-kapal pedagang individu bukan orang-orang EIC. Pada mulanya kapal-kapal itu tidak bisa memperoleh lada, karena Inggris tidak menyetujui atas harga 15 dolar Spanyol untuk setiap pikulnya. Demikianlah setelah diadakan perundingan, Inggris bersedia untuk menyerahkan 20 tahanan dan 2 drum serbuk mesiu kepada Sultan untuk membantunya dalam perang Bugis-Banjar. Para penguasa Banjar kemudian mengirim sebanyak 4.000 pikul lada untuk Inggeris dengan harga 4 ½ dolar per pikul, ditambah sebesar suku atau ¼ real untuk pajak. Dalam transaksi perdagangan mereka, kapal-kapal itu menyewa rumah kayu kecil sebagai gudang untuk menyimpan ladanya yang dikirim oleh perahu-perahu Banjar sebanyak 4-5 pikul sekali angkut. Alasan orang-orang Banjar untuk tidak memberikan lada sekaligus dalam jumlah besar karena ketika itu di pedalaman sedang terjadi perang dengan orang-orang Biaju dan juga Bugis, selain itu pada musim hujan produksinya agak berkurang. Disamping itu kapal-kapal Inggris masih mempunyai kesulitan untuk mendapatkan lada karena persaingannya dengan pedagang jung yang datang setiap bulan Maret dengan harga yang lebih tinggi.[7]
  • Pada September 1714, tak lama sebelum Eagle Gallery dan Borneo sampai di Tatas (Banjarmasin), pedagang-pedagang Inggris hanya dapat mengumpulkan lebih sedikit lada daripada tahun muatan penuh ketika berangkat dari Banjarmasin pada 10 Desember 1714. Pada waktu pelabuhan Tatas terancam serangan orang-orang Bugis, para penguasa Banjar menghendaki agar kapal-kapal Inggris tidak meninggalkan pelabuhan, agar bisa membantu mempertahankan pelabuhan itu. Namun Reid salah seorang wakil dari pedagang-pedagang Inggris menyatakan, bahwa mereka bersedia tetap menempatkan kapalnya di pelabuhan Tatas jika mereka bisa membeli lada seharga 4 3/4 dolar per pikul seperti Eagle Gallery dan Borneo. Namun para pangeran Banjar mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai hak kekuasaan untuk mengatur harga lada di pelabuhan bebas seperti Tatas (Banjarmasin). Disamping itu mereka juga tidak bisa melarang para pedagang lada menjual ladanya kepada pedagang individu maupun kepada perusahaan. Orang-orang Biaju memberontak karena para bangsawan mencoba untuk mencampuri pengiriman lada dan melakukan penarikan pajak. Para pedagang Banjar menambahkan bahwa orang-orang Inggris tidak dapat mengatur harga seperti ketika mereka mempunyai kekuatan penuh di Banjar, sekarang mereka hanyalah para pedagang yang harus tunduk kepada kondisi yang ada, yakni membeli lada dengan harga yang ditetapkan oleh pedagang-pedagang Banjar. Selanjutnya para bangsawan tidak mau lagi membujuk Reid untuk membawa kapal-kapalnya ke Tatas (Banjarmasin). Disamping itu Reid sendiri juga merasa tidak ada gunanya untuk mengadakan perundingan dengan orang-orang Banjar mengenai pembelian lada, sejak seorang pangeran yang berkuasa disitu memberitahukan bahwa pedagang- pedagang jung telah mendapatkan kontrak untuk mendapatkan lada pada musim tahun itu. Jadi kemungkinan untuk mendapatkan lada adalah sangat sedikit dan harganya mahal. Reid merasa bahwa jika dia mau membayar harga yang sama dengan orang-orang Tionghoa yakni 9-10 dolar per pikul, dia juga sangsi untuk bisa memperoleh lebih dari 20 pikul karena orang-orang Banjar selalu menukarkan lada dengan barang-barang Cina, bukan dengan uang. Setelah usahanya yang sia-sia untuk mengadakan perundingan dengan para penguasa Banjar, Reid meninggalkan Banjar tanpa lada. Demikianlah bahwa kepentingan Inggris atas lada di Banjar selalu harus berhadapan dengan pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama.[8]

Keraton Kayu Tangi[sunting | sunting sumber]

Majunya perdagangan Banjar membawa kemakmuran dengan kemegahan istana serta perangkat-perangkatnya, dan dikenalnya mata uang kian meluas telah mendorong iklim usaha dan produksi lada, rotan dan damar semakin pesat guna memenuhi permintaan pasar.

Jean Andreas Paravicini utusan yang dikirim VOC untuk audiensi dengan Sultan Banjarmasin saat itu menulis laporannya tentang keraton Sultan di Kayu Tangi :

Didahului oleh:
Panembahan Kusuma Dilaga
Sultan Tahmidullah I
1700-1717
Diteruskan oleh:
Sultan il-Hamidullah

Referensi[sunting | sunting sumber]