Suria Angsa dari Banjar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Tuan Yang Maha Mulia Paduka Seri Sultan Tahlil-Lullah / Amrullah Bagus Kasuma bin Sultan Saidullah
Masa kekuasaan 1660-1700
Dinobatkan 1660
Nama asli Raden Bagus (Sultan Amrullah Bagus Kasuma)
Pemakaman Dalam Pagar, Kesultanan Banjar[1]
AnakSultan Tahmidullah I
Wangsa Dinasti Banjarmasin
Ayah Sultan Ratu Anom
Agama Islam Sunni


Sultan Soeria Angsa (juga ditulis Surya Angsa) bergelar Tuan Kebawah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Sultan Tahlilullah bin Sultan Saidullah adalah Sultan Banjar yang memerintah tahun 1660-1700/12.[2][3]

Terlahir dengan nama Raden Bagus. Setelah mangkatnya ayahnya, ia sebagai Putera Mahkota yang belum dewasa, sehingga antara tahun 1660-1663 ia diwakili oleh Pangeran Dipati Mangkubumi/Pangeran Tapesana/Raden Halit (anak Sultan Mustain Billah) yang menjadi Wali Sultan bergelar Pangeran Ratu/Sultan Rakyatullah. Mulai tahun 1663 sampai tahun 1679, Jabatan Wali Sultan diambil paksa oleh Pangeran Dipati Anom (ke-2)/Sultan Dipati Anom (anak Sultan Inayatullah) yang kemudian bergelar Sultan Agung/Pangeran Suria Nata (ke-2).[4] Namun sebelumnya dalam keadaan krisis politik tersebut, Pangeran Ratu/Sultan Rakyatullah dan Dewan Mahkota Kesultanan Banjar masih sempat melantik Raden Bagus dengan gelar Sultan Amrullah Bagus Kasuma. Selanjutnya pada tahun 1679 Pangeran Suria Angsa/Raden Bagus dan Pangeran Suria Negara/Raden Basus (keduanya putera Sultan Ratu Anom/Sultan Saidullah) berhasil membinasakan Sultan Agung/Pangeran Suria Nata (ke-2) dan Pangeran Dipati (anak Sultan Agung). Sejak itu Pangeran Suria Angsa menjadi Kepala Negara Kesultanan Banjar hingga mangkatnya tahun 1700.[5]

Pada masa kekuasaan Sultan ini sekitar tahun 1685, Portugis mengirim seorang pastur bernama Ventigmilia.[6]

Sultan Tahlilullah mangkat dan dimakamkan di Kampung Dalam Pagar, Martapura.

Didahului oleh:
Pangeran Suryanata (ke-2)
Sultan Banjar
1660-1700
Diteruskan oleh:
Panembahan Kasuma Dilaga

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ http://www.tribunnews.com/regional/2017/11/14/makam-keramat-di-desa-telok-selong-jadi-perhatian-arkeolog
  2. ^ Regnal Chronologies Southeast Asia: the Islands
  3. ^ (Belanda) J. M. C. E. Le Rutte (1863). Episode uit den Banjermasingschen oorlog. A.W. Sythoff. hlm. 12. 
  4. ^ (Melayu)Ras, Johannes Jacobus (1990). Hikayat Banjar diterjemahkan oleh Siti Hawa Salleh. Malaysia: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 9789836212405. ISBN 983621240X
  5. ^ (Inggris)Souza, George Bryan (2004). The Survival of Empire: Portuguese Trade and Society in China and the South China Sea 1630-1754. Cambridge University Press. hlm. 126. ISBN 0-521-53135-7. ISBN 9780521531351
  6. ^ (Indonesia)J. U. Lontaan (1985). Menjelajah Kalimantan. Penerbit Baru. hlm. 91. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]