Rifa'ah Al-Tahtawi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Rifa'ah Rafi' Al-Tahtawi
رفاعة رافع الطهطاوي
Rifa'a el-Tahtawi.png
Rifa'ah Al-Tahtawi
Lahir(1801-10-15)15 Oktober 1801
Tahta, Suhaj, Eyalet Mesir
Meninggal27 Mei 1873(1873-05-27) (umur 71)
Kairo, Kewalirajaan Mesir
Warga negaraMesir
AlmamaterUniversitas Al-Azhar
Dikenal atasModernisme Islam
Karier ilmiah
BidangPenerjemahan, Filsafat Islam
TerinspirasiHasan Al-Attar
MenginspirasiMuhammad Abduh, Rasyid Ridha[1][2][3]

Rifa'ah Rafi' Al-Tahtawi (Bahasa Arab: رفاعة رافع الطهطاوي‎, : Rifā‘ah Rāfi‘ al-Ṭahṭāwī) adalah seorang ulama,[4] penulis, guru, dan juga intelek Mesir yang lahir di tahun 1801 di Tahta, Mesir.[5] Dia termasuk ke dalam salah satu pembaharu pemikiran Islam kenamaan di Mesir.[6] Gagasan pemikirannya yaitu mendialogkan antara gagasan pemikiran barat yang saat itu dipengaruhi pemikiran modernisme dengan gagasan pemikiran Islam yang sering disebut sebagai Modernisme Islam, yang mana gagasan tersebut mempengaruhi beberapa ulama pembaharu lainnya seperti Muhammad Abduh. Dia menjadi kepala sekolah di sebuah sekolah kenamaan yang bernama "Sekolah Bahasa" pada tahun 1853 yang kelak nantinya akan menjadi bagian dari Universitas Ain Shams.[7]

Lahir di kota kecil di sebelah selatan Mesir yang bernama Tahta, Suhaj pada tahun 1801, Rifa'ah pada awalnya lahir dari keluarga yang berkecukupan dan terpandang. Namun, orang tuanya jatuh miskin karena hartanya diambil oleh Muhammad Ali Pasya, seorang Gubernur Mesir pada saat itu, dikarenakan beban pajak yang sangat tinggi.[8] Hal itu membuat keluarga Rifa'ah berpindah dari Tahta menuju Kota Girga. Ia kemudian ditinggal sendirian oleh ayahnya dan dititipkan pada paman dari jalur ibunya. Di sana ia bisa mengenyam pendidikan umum dan tetap dapat melanjutkan pendidikannya hingga ke Al-Azhar dengan biaya yang dikeluarkan oleh keluarga ibunya.[9][8]

Selama mengenyam pendidikan di Al-Azhar, dia menjadi anak kesayangan dari salah satu gurunya yaitu Hasan Al-Attar. Setelah lulus, ia sempat mengajar di Al-Azhar selama dua tahun dan menjadi imam untuk tentara Mesir saat itu. Pada akhirnya, dia kemudian dikirim ke Prancis pada tahun 1826 dari misi beasiswa yang diberikan oleh Muhammad Ali Pasya berkat rekomendasi dari Hasan Al-Attar sendiri.[10]

Di Prancis, Al-Tahtawi mempelajari berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti ilmu bumi, teknik, sejarah, bahkan politik.[8] Dia mempelajari beragam disiplin ilmu tersebut dikarenakan ia ingin menerjemahkan beberapa literatur bahasa Prancis ke bahasa Arab guna untuk meningkatkan transfer pengetahuan barat ke dunia Islam khususnya di Mesir. Beberapa tim penguji di Prancis benar-benar mengakui kemampuan Al-Tahtawi dalam menerjemahkan dan pada bidang inilah, Al-Tahtawi mempunyai peran besar dalam mempengaruhi pemikiran ulama Mesir berikutnya yang pada akhirnya menjadi sumbangsih terbesarnya.[11]

Al-Tahtawi terkenal dengan gagasan patriotisme tanah airnya. Dalam karyanya yang berjudul "The Extraction of Gold or an Overview of Paris" ia menggambarkan betapa pentingnya rasa persatuan untuk Mesir karena tanpa rasa persatuan itu, Mesir akhirnya mudah terkoyak oleh para penjajah. Dengan mengambil analogi dari peradaban Romawi yang sebegitu kuatnya tetapi akhirnya terbelah menjadi dua. Mesir juga dulunya kuat dan menjadi salah satu negeri yang memulai peradaban, tetapi Mesir kini mengalami sesuatu yang hina yaitu penjajahan karena kurangnya rasa persatuan diantara para warganya.[12] Selain karena itu, Al-Tahtawi juga dikenal atas idenya mengenai evolusi syariah yang dimana ia percaya bahwa syariah itu senantiasa bergerak mengikuti perkembangan zaman, bukan sebagai sesuatu yang kaku sebagaimana yang dipahami oleh orang-orang pada masanya.[13] Disamping itu, Al-Tahtawi juga berpendapat dalam bidang pendidikan bahwa pendidikan juga layak ditempuh bagi para wanita yang pada saat itu di Mesir, pendidikan bagi seorang wanita adalah hal yang masih dianggap makruh untuk dijalankan.[14][15]

Biografi[sunting | sunting sumber]

Kehidupan masa muda[sunting | sunting sumber]

Letak Kegubernuran Suhaj di Mesir. Kota Tahta yang menjadi tempat kelahiran Rifa'ah, berada di kegubernuran ini.

Rifa'ah Al-Tahtawi lahir dari pasangan Rafi' Al-Tahtawi dengan Fatimah binti Syaikh Ahmad Al-Farghali pada tanggal 15 Oktober 1801 di Kota Tahta, Mesir yang berada di bagian pusat yang agak menjorok selatan dekat dengan tepi barat sungai Nil. Al-Tahtawi terlahir dari keluarga aristokrat yang berkecukupan. Dari ayahnya, silsilahnya sampai pada Husain bin Ali yang tak lain adalah ia termasuk ke dalam Sayyid. Sedangkan dari ibunya, dia memiliki kakek yang menjadi seorang ulama yang bernama Syaikh Ahmad Al-Farghali. Silsilah kakeknya sampai pada suku Khazraj yang ada di Madinah.[16] Dia lahir ketika bertepatan dengan perginya tentara Prancis dari Mesir. Al-Tahtawi merasakan hidup berkecukupan selama empat tahun sebelum Muhammad Ali berkuasa dan menjadi Khedive di wilayah Mesir dan Sudan pada tahun 1805. Pada awal masa pengangkatnya, Muhammad Ali ditugaskan untuk mengamankan sumber aliran ekonomi Mesir yang pada saat itu mengalami peperangan. Dia mengambil semua tanah Iltizam di Mesir serta meningkatkan pajak petani kepada para tuan tanah hingga mereka tak dapat membayarnya dan kemudian menyita properti mereka.[17]

Salah satu yang terdampak dari kebijakan Muhammad Ali tersebut adalah orang tua Al-Tahtawi. Al-Tahtawi yang sebelumnya hidup dalam keadaan yang berkecukupan menjadi berbalik miskin setelah dikeluarkannya kebijakan Muhammad Ali tersebut.[8] Dengan keadaan itu, ayah Al-Tahtawi terdorong untuk berpindah dari Tahta menuju Girga untuk tinggal bersama kerabatnya yang bernama Abu Qatanah saat Al-Tahtawi berusia dua belas tahun. Meski begitu, ayahnya memilih untuk berpindah-pindah tempat lagi seperti ke Kota Qina, kemudian ke Farshut dan seterusnya hingga dia meninggalkan Al-Tahtawi sendirian dan Al-Tahtawi pun memutuskan untuk kembali ke Tahta dan tinggal bersama paman dari jalur ibunya.[18]

Saat berpindah-pindah bersama ayahnya, Al-Tahtawi mulai menghafalkan Al-Qur'an. Namun sebelum hafalan tersebut tuntas, dia kembali ke keluarga pamannya dan akhirnya menuntaskan hafalan Al-Qur'annya hingga dia berusia 16 tahun. Dikarenakan latar belakang keluarga ibunya yang terkenal sebagai ulama, Al-Tahtawi juga mengenyam pendidikan agama seperti pelajaran fikih, akidah, nahwu dan saraf saat bersama pamannya serta diiringi dengan pelajaran membaca dan menulis. Selepas empat tahun belajar dengan demikian, akhirnya pada tahun 1817, Al-Tahtawi memutuskan untuk berangkat ke Kairo untuk belajar di Universitas Al-Azhar yang dimana dia menyelesaikan kuliah di institusi tersebut selama lima tahun. Diceritakan bahwa keberangkatannya menuju Kairo membutuhkan waktu dua pekan dengan menaiki kapal untuk menyusuri sungai Nil. Pada tahun keberangkatannya ke Al-Azhar juga, tak lama kemudian ayahnya meninggal dunia.[19]

Karier[sunting | sunting sumber]

Pada masa awal-awal Al-Tahtawi belajar di Al-Azhar, dia tampaknya kurang betah belajar di sana dengan bukti bahwa ia sering melakukan perjalan kembali ke Tahta. Akan tetapi, dia pun lama-lama akhirnya dapat beradaptasi dan membuka pikirannya untuk belajar lebih serius lagi di sana. Dia pun membuat progres yang begitu cepat hingga disayangi oleh salah satu dosen di sana, Hasan Al-Attar.[20][21][8]

Halaman Masjid Al-Azhar pada sekitar tahun 1900-an. Al-Azhar merupakan tempat Rifa'ah menjalani kuliahnya.

Di Al-Azhar, Rifa'ah mendapatkan bimbingan dari banyak dosen. Ketika dia mulai menunjukkan awal keseriusannya dalam belajar, Al-Tahtawi berada di bawah bimbingan Al-Faddali dan belajar kitab Sahih Bukhari. Dia juga belajar Tafsir al-Jalalain yang berada di bawah pengajaran Abdal Ghani Ad-Dimyati serta bersama guru kesayangannya, Syaikh Ibrahim Al-Baijuri, dia belajar kitab Syarah Al-Asymuni. Selepas itu, ia akhirnya dapat bertemu dengan Syaikh Hasan Al-Attar yang saat itu menjadi rektor di universitas tersebut.[20]

Hasan Al-Attar sesungguhnya merupakan seorang anak dari apoteker yang kemudian dia berkeliling ke negara-negara Islam seperti Lebanon dan Suriah untuk mempelajari berbagai bidang disiplin ilmu. Dia bahkan sering bertemu dengan ilmuwan-ilmuwan Prancis yang datang bersama dengan Napoleon saat kedatangan Kaisar Prancis tersebut ke Mesir. Dengan pertemuannya dengan ilmuwan-ilmuwan tersebut, Al-Attar mengetahui bahwa dunia Islam mengalami kemunduran atas peradaban Barat.[22][23]

Ketika Prancis berhasil diusir pergi dari Mesir dan Muhammad Ali berkuasa, Al-Attar kembali menuju Mesir dan segera bersahabat dengan Muhammad Ali. Dia mendukung kebijakan Muhammad Ali untuk mereformasi pendidikan Mesir dan menjadikan dia diangkat sebagai Rektor Universitas Al-Azhar. Karena keakrabannya dengan Al-Attar, Al-Tahtawi mendapatkan beberapa disiplin ilmu yang tak diajarkan di Al-Azhar seperti geografi, sejarah, dan juga sastra. Semua ilmu ini ia dapatkan secara percuma karena Al-Attar memang menyayangi Al-Tahtawi. Menurut J. Heyworth-Dunne dan M. Fazlurrahman Hadi, Al-Attar merupakan orang yang menginspirasi dan memotivasi Al-Tahtawi sehingga gaya pemikirannya sangat mempengaruhi Al-Tahtawi. Karena Al-Attar, dia mempunyai kesadaran bahwa umat Islam terutama di Mesir mengalami kemunduran yang sangat jauh dibandingkan dengan masyarakat Barat.[24][23]

Setelah lima tahun menempuh perkuliahan di Al-Azhar, Rifa'ah akhirnya lulus pada tahun 1821. Kelulusannya membuat Al-Tahtawi diberi kepercayaan oleh dosen sebelumnya untuk menjadi dosen pengajar di Al-Azhar selama beberapa tahun.[25] Dengan rekomendasi dari Al-Attar, dia diangkat untuk menjadi seorang imam di angkatan militer Mesir yang sepenuhnya berada dalam kontrol orang-orang Turki pada tahun 1824.[26]

Lukisan Muhammad Ali oleh Auguste Couder. Banyak kebijakannya yang kemudian berpengaruh pada karier Rifa'ah.

Pada tahun 1826, Muhammad Ali mengadakan sebuah misi untuk mengutus 144 orang supaya menjadi mahasiswa di Prancis dengan tujuan supaya mereka menjadi orang yang dapat membangun negara dengan kemampuan intelektual mereka.[10] Meski seratus empat puluh empat orang tersebut dikirim oleh Muhammad Ali, tetapi hanya lima dari mereka yang benar-benar berasal dari Mesir. Sebagian besar dari orang-orang tersebut sebenarnya berasal dari Turki dan Armenia.[26] Sekali lagi karena rekomendasi Al-Attar juga, Muhammad Ali memilih Al-Tahtawi untuk menjadi salah satu dari seratus empat puluh empat orang tersebut untuk belajar di Prancis[27] dan menjadikannya sebagai salah satu dari lima orang Mesir yang berhasil mendapatkannya.[26]

Sebelum keberangkatannya ke Prancis, Rifa'ah mempelajari bahasa Prancis dibawah didikan Masio Goomer ketika ia tiba di Kota Alexandria. Setelah dibawah didikan Goomer, dia merasa tidak puas dan memutuskan untuk langsung berangkat ke Marseille dan mencari guru lain yang dapat mengajarinya belajar bahasa Prancis. Ketika belajar di kota tersebut, Al-Tahtawi dapat menguasai bahasa Prancis dengan waktu yang begitu singkat. Dengan meningkatnnya kemampuan dia dalam berbahasa Prancis, dia mulai menerjemahkan buku-buku berbahasa Prancis ke bahasa Arab. Buku pertamanya yang dia terjemahkan merupakan sebuah buku yang membahas tentang ilmu metalurgi.[28]

Ia kemudian berpindah dari Marseille menuju Paris. Melihat kemajuan Kota Paris saat itu membuat Rifa'ah terkagum-kagum dan merasakan kesenjangan yang luar biasa antara Prancis dengan Mesir. Di kota ini juga, dia membuat sebuah karya pertamanya yang berjudul Takhlīs al-Ibriz fī Talkhīs Barīz yang kemudian populer dengan nama Rihlah (Bahasa Arab: رحلۃ).[29][30]

Menurut Majdi, orang yang menjadi penulis biografinya, kehidupan glamor di Paris hampir tidak mempengaruhi kepribadian dan tingkah laku Al-Tahtawi. Di sana, ia masih tetap menjalankan salat lima waktu, puasa, tidak bermabuk-mabukan dan tidak memakan makanan yang haram. Selain itu, dia tetap melanjutkan studi Al-Qur'annya dan bahkan mempelajari karya yang berkaitan tentang agama lain.[29]

Di Prancis, Al-Tahtawi giat menerjemahkan buku-buku bahasa Prancis ke dalam bahasa Arab dengan tujuan untuk mentransmisikan pemikiran dan pengetahuan barat ke dunia Islam terutama Mesir supaya pembangunan peradaban di sana menjadi meningkat. Al-Tahtawi hampir menerjemahkan semua buku bahasa Prancis yang ia baca ke bahasa Arab. Hampir sebagian besar karyanya adalah hasil terjemahan buku berbahasa Prancis ke bahasa Arab yang diterbitkan di Mesir.[31]

Setelah menulis karya terjemahan pertamanya, Rifa'ah kemudian menaruh perhatian pada bidang sejarah, geografi dan kemudian filsafat dan sastra Prancis. Dia diketahui mengagumi Montesquieu dan Jean-Jacques Rousseau serta menerjemahkan karya terkenal kedua orang tersebut, yaitu De l'esprit des lois milik Montesquieu dan Du contrat social karya J.J. Rousseau. Selain dari kedua orang tersebut, Al-Tahtawi juga menerjemahkan karya terjemahan lain di bidang matematika, astronomi, militer, dan juga sejarah Eropa.[32]

Pada tanggal 19 Oktober 1830, Al-Tahtawi mengambil ujian di bidang terjemahan terakhir di Paris. Tim penguji memeriksa dua belas buku hasil terjemahan Rifa'ah untuk diuji dan ia dinyatakan lulus.[11] Sama seperti lamanya ia kuliah di Al-Azhar, Al-Tahtawi menghabiskan waktu belajarnya di Prancis selama lima tahun. Dia akhirnya pulang ke Mesir pada tahun 1831. Setibanya di Kairo, Rifa'ah kemudian bekerja sebagai guru dan penerjemah di sekolah medis di pemukiman Abu Za'bal yang didirikan pada tahun 1827. Dua tahun setelah bekerja di sana, dia dipindahkan ke sekolah artileri di Turah pada tahun 1833 untuk menerjemahkan karya geometri dan ilmu militer.[29]

Pada tahun berikutnya, dia pergi menuju Tahta kembali dan tidak keluar dari kota tersebut dikarenakan adanya wabah yang menyebar di Mesir. Selama dia tinggal di Tahta, dia menerjemahkan karya Maltbrun mengenai geografi dan sekembalinya ia ke Kairo, dia mempresentasikan karyanya kehadapan Muhammad Ali yang pada akhirnya membuat Rifa'ah dipromosikan sebagai hadiahnya.[33]

Pada tahun 1837, Rifa'ah Al-Tahtawi menjadi kepala sekolah dari Sekolah Bahasa. Sekolah ini sebelumnya bernama Sekolah Penerjemah pada bulan Juni tahun 1836 dan didirikan oleh Ibrahim Efendi. Namun, sekolah itu direorganisasi pada Januari 1837 dan diubah namanya menjadi Sekolah Bahasa dengan ditunjuknya Rifa'ah sebagai kepala sekolah barunya. Meski namanya menunjukkan bahwa sekolah tersebut terkait dengan bidang bahasa, tetapi bukan hanya bahasa saja yang diajarkan di sekolah tersebut. Sekolah itu juga mengajarkan ilmu matematika, sejarah, hukum Islam, geografi dan akuntansi di samping pelajaran bahasa Arab, Turki, Prancis dan Italia.[7][34]

Ketika Abbas Pasya diangkat menjadi gubernur menggantikan ayahnya, nasib Al-Tahtawi menjadi terpuruk. Sekolah yang ia arahkan ditutup paksa. Ia lalu dipindahkan ke Khartoum, Sudan untuk mengurus sebuah sekolah dasar baru yang didirikan oleh pemerintah.[35][36] Pada saat itu, Sudan masih menjadi bagian dari Mesir. Selain karena reputasinya yang terkenal kaku dan fanatik,[37] Abbas melakukan pembuangan tersebut kemungkinan besar juga karena desakan dari sebagian ulama yang menjadi rival Rifa'ah dan memandangnya sebagai orang yang sesat.[38] Meski begitu, dia tetap menjalankan kewajibannya tersebut dengan sukarela sebagaimana ia mengajar di Sekolah Bahasa.[38]

Kematian[sunting | sunting sumber]

Selepas mengalami nasib buruk pada masa pemerintahan Abbas, Al-Tahtawi diperlakukan dengan baik oleh Sa'id Pasya. Dia ditarik kembali ke Kairo untuk bekerja di bawah departemen Eropa. Selain itu, ia juga mengajar di sebuah sekolah militer di Haud Al-Marsud. Sekolah militer tersebut selain mengajarkan ilmu kemiliteran, di sana juga diajarkan ilmu bahasa, akuntansi, dan juga arsitektur serta teknik sipil. Namun, lima tahun berselang sekolah tersebut akhirnya ditutup karena tak ada sekolah lain yang buka pada masanya. Dia akhirnya berkarir untuk terakhir kalinya di departemen penerjemahan pada masa pemerintahan Ismail Pasha hingga akhir hayatnya.[38]

Menurut Muhammad Imarah, Rifa'ah meninggal dikarenakan sebuah penyakit. Ia dinyatakan wafat pada tanggal 27 Mei 1873 pada usia 72 tahun di Kota Kairo. Jenazahnya disalatkan pada esok harinya di masjid Al-Azhar serta dikuburkan di sebuah pemakaman keluarga yang letaknya tak jauh dari universitas Al-Azhar.[39]

Karya-karya[sunting | sunting sumber]

Rifa'ah Al-Tahtawi dikenal sebagai penerjemah yang cakap dan tekun karena ia memiliki banyak sekali karya terjemahan.[35] Akan tetapi, disebabkan karena hal itulah sebagian besar dari karya-karyanya yang dia miliki sebenarnya adalah karya terjemahan yang dimana ia sebenarnya bukan penulis dari karya asli tersebut. Kebanyakan karya terjemahannya merupakan hasil penerjemahan dari buku-buku berbahasa Prancis yang dia baca. Meskipun begitu, tidak sedikit juga ia membuat karya orisinil yang berkaitan tentang tema tertentu seperti pendidikan, agama, dan sejarah serta satu karya memoarnya yang sangat terkenal.[40]

Karya terjemahan[sunting | sunting sumber]

Al-Tahtawi memulai karirnya sebagai penerjemah buku ketika ia datang ke Prancis pada tahun 1826. Tidak seperti penerjemah pada umumnya, dia tidak fokus menerjemahkan buku pada bidang ilmu tertentu saja, melainkan dia menerjemahkan buku dari berbagai bidang ilmu seperti politik, sejarah, matematika, filsafat, geografi, fisika, dll. Oleh sebab itu, buku terjemahannya memiliki tema yang beragam. Menurut Harun Nasution, Al-Tahtawi memilih untuk tidak fokus pada satu tema tertentu dikarenakan supaya "Pembaca-pembaca Arab akan dapat mengetahui ilmu-ilmu pengetahuan Barat yang ia rasa perlu mereka ketahui untuk kemajuan mereka."[41]

Sampul cetakan pertama dari buku De l'Espirit des loix karya Montesquieu. Buku ini kemudian diterjemahkan oleh Rifa'ah dalam bahasa Arab menjadi Rūh al-Qawānin.

Buku pertama yang ia terjemahkan merupakan buku yang berisi tentang ilmu metalurgi yang berjudul Principes métallurgiques atau yang ia terjemahkan kedalam bahasa Arab menjadi Mabādi’ al-‘Ulūm al-Ma’daniyah ("Prinsip-prinsip Ilmu Metalurgi" dalam bahasa Indonesia) yang dicetak di Mesir setelah ia kirim.[28]

Karya terjemahan lain yang terkenal darinya ialah Rūh al-Qawānin serta Al-Aqd Al-Ijtimā'i. Rūh al-Qawānin merupakan terjemahan dari karya Montesquieu yang judul aslinya adalah De l'espirit des Lois yang berisi tentang teori politik yang dicetuskan oleh Montesqiue. Penerjemahan buku ini ke bahasa Arab oleh Al-Tahtawi membuat ide-ide demokrasi dan modernisme berkembang cepat di Mesir. Selain buku tersebut, Al-Tahtawi juga menerjemahkan karya Jean Jacques Rousseau yang berjudul Du contrat social yang ia terjemahkan menjadi ke dalam bahasa Arab menjadi Al-Aqd Al-Ijtimā'i. Sama seperti sebelumnya, buku ini juga berisi tentang teori politik Rousseau.[42]

Saat Al-Tahtawi mengambil ujian di bidang penerjemahan ketiga pada tanggal 19 Oktober 1830, dia mempresentasikan kedua belas buku terjemahannya yang diantaranya adalah Tārikh al-Iskandar al-Akbar (Sejarah Alexander Agung), Usul al-Ma’ādin (Prinsip-Prinsip Pertambangan), Dāirat al-‘Ulūm fi Akhlāq al-Umam wa ‘Awāidahum (akhlak dan adat istiadat berbagai bangsa) dan lain sebagainya. Ia pun dinyatakan lulus setelah menunjukkan kedua belas buku terjemahannya tersebut.[41]

Muhammad Imarah membuat catatan mengenai sebagian judul buku hasil terjemahan Rifa'ah yang pernah diterbitkan di Mesir. Sebagian besar buku tersebut terbit setelah Rifa'ah pulang ke Mesir dari Prancis. Dalam catatan tersebut, terdapat satu buku yang diterbitkan saat ia berada di Prancis yang berjudul Jughrafiyah Saghirah yang terbit pada tahun 1830. Buku lainnya yang terbit pada dekade 1830-an antara lain adalah al-Ma’adin al-Nafi’ah li Tadbir Ma’ayish al-Khalaiq dan al-Ma’adin al-Nafi’ah li Tadbir Ma’ayish al-Khalaiq pada tahun 1832, Kitab Qudama’ al-Falasifah pada tahun 1836, dan al-Mantiq serta Tarikh Qudama’ al-Masriyyin yang terbit pada tahun 1838. Dicatat pula buku yang terbit pada sekitar tahun 1850-1870-an seperti Mabadi’ al-Handasah pada tahun 1854, Ta’rib al-Qanun al-Madani al-Faransawi pada tahun 1866, Risalah al-Ma’adin pada tahun 1867, Ta’rib Qanun al-Tijarah pada tahun 1868.[43]

Karya orisinil[sunting | sunting sumber]

Memoar[sunting | sunting sumber]

Sampul buku Rihlah cetakan tahun 2012 oleh penerbit Actes Sud dalam edisi bahasa Prancis.

Selepas belajar bahasa Prancis di Marseille, Al-Tahtawi memutuskan untuk berangkat ke Paris. Dia merasa sangat takjub dengan kemegahan Kota Paris yang besar dimana ia melihat banyak hal modern di sana. Saat di sana, Rifa'ah kemudian menulis sebuah buku yang berisi tentang pengalamannya dalam mencari ilmu di Kota Paris beserta beberapa profil tentang kota tersebut dari seperti sistem pemerintahan dan juga ilmu pengetahuan yang diajarkan di sana. Buku itu kemudian ia namai sebagai Takhlīs al-Ibriz fī Talkhīs Barīz dan umum dikenal sebagai Rihlah.[29] Judul dari versi bahasa Inggris dari buku ini adalah A Paris Profile dan dalam bahasa Prancis dikenal sebagai L'Or de Paris.[44]

Buku itu sebenarnya ditulis dalam rangka sebagai syarat untuk kelulusan ujiannya.[45] Di dalam buku tersebut, Al-Tahtawi menuliskan lika-liku kehidupannya selama lima tahun belajar di Paris. Bagaimana ia menjumpai apa yang namanya sendok dan garpu, kebebasan berpendapat, demokrasi, serta konstitusi. Semua hal tentang Paris seperti budaya, politik, dan pendidikan yang ia ketahui, dia tulis dalam buku ini. Di sini juga ia mencatat mengenai beberapa karya yang ia pernah baca seperti dari Condillac, Voltaire, Rousseau, Montesquieu dan Bézout.[46] Meski buku ini ditulis pada saat ia berada di Prancis, tetapi buku ini dicetak pertama kali pada tahun 1834, tiga tahun setelah kepulangannya dari Prancis. Hal tersebut dikarenakan ditambahnya beberapa bagian oleh Rifa'ah ketika ia kembali ke Mesir. Buku ini merupakan buku Al-Tahtawi yang dicetak sebanyak tiga kali. Cetakan kedua diterbitkan pada tahun 1849 dan cetakan ketiga dicetak pada tahun 1905 selepas ia meninggal.[45]

Humaniora[sunting | sunting sumber]

Rifa'ah juga pernah membuat beberapa karya yang berkaitan dengan ilmu humaniora. Beberapa buku tersebut berkaitan dengan ilmu kebahasaan, sejarah, teologi Islam, dan kependidikan. Seumur hidupnya, Rifa'ah setidaknya diketahui telah menulis dua buku yang bertemakan tentang kebahasaan, hal yang dirasa wajar mengingat latar belakangnya sebagai seorang penerjemah. Buku-bukunya yang berkaitan tentang kebahasaan semuanya berkisar mengenai bahasa Arab, bukan pada bahasa lainnya. Buku pertamanya mengenai kebahasaan adalah Jamal Al-Ajrūmiyah. Terbit pada tahun 1863, buku ini berisi tentang uraian perihal syair-syair bahasa Arab dari sisi gramatikal.[47]

Buku kebahasaan lainnya yang pernah ia terbitkan adalah al-Tuhfat al-Maktabiyah li Taqrib al-Lughah al-‘Arabiyah yang bila dialihbahasakan ke bahasa Indonesia menjadi Mahakarya Perpustakaan Untuk Mempermudah Pembelajaran Bahasa Arab. Buku ini terbit enam tahun setelah buku bertema kebahasaan pertamanya, yaitu pada tahun 1869, oleh percetakan Hajar. Tidak seperti sebelumnya, buku ini lebih menjabarkan mengenai cara-cara untuk menyederhanakan kalimat dalam bahasa Arab yang di mana dengan penyederhanaan tersebut, diharapkan dapat mempermudah pemula untuk belajar bahasa Arab dengan lebih baik.[47]

Dikarenakan sebagian besar hidupnya ia habiskan untuk menjadi guru, maka Al-Tahtawi pun juga pernah menulis satu buku mengenai hal yang bersifat pedagogis atau kependidikan. Judul buku tersebut ialah Al-Murshid al-Amīn fi Tarbiyat al-Banāt wa al-Banīn yang apabila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi "Petunjuk Pendidikan Bagi Putra dan Putri". Di dalam buku tersebut, ia mengemukakan pendapatnya bahwa tidak hanya laki-laki, para perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan yang setara dengan rekan mereka. Buku ini menerangkan perbedaan karakter antara laki-laki dan perempuan sehingga dalam menghadapi keduanya, diperlukan gaya pendidikan yang tidak sama. Selain itu, buku tersebut juga menegaskan pentingnya mengarahkan pendidikan untuk tujuan nasional. Buku ini diketahui pertama kali dicetak ketika Rifa'ah meninggal dunia pada tahun 1873.[30]

Selain dari ketiga buku tersebut, Al-Tahtawi menulis buku bertemakan sejarah dengan judul Anwār Taufiq al-Jalīl fi Akhbar Misra wa Tauthiqi Bani 'Ismā'il dan penerjemahan ke dalam bahasa Indonesianya menjadi "Cahaya Kedamaian Agung Mengenai Berita-berita Mesir dan Pengukuhan Keturunan Ismail". Buku tersebut sebenarnya adalah sebuah ensiklopedia yang berisi dua jilid yang di mana jilid kedua dari buku tersebut memiliki judul yang berbeda. Jilid pertama dari buku tersebut diterbitkan pada tahun 1868, berisi tentang sejarah negeri Mesir dari zaman Firaun, Makedonia, Romawi, hingga pada kelahiran Nabi Muhammad yang kemudian dengan para sahabat beliau membuat ekspansi Arab berlanjut ke Mesir.[48] Sedangkan jilid kedua dari buku itu diberi judul Nihāyat al-Ijāz fi Sirah Sākin al-Hijāz yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi "Akhir Sejarah Singkat Penduduk Hijaz" dan diterbitkan pada tahun 1873 ketika ia meninggal. Jilid kedua berisi tentang penjabaran sejarah Nabi Muhammad serta struktur politik, peradilan, dan sistem administrasi yang ada pada kota Madinah di zaman Rasul.[47]

Ia juga menulis buku mengenai teologi pembaharuan yang berjudul Manāhij al-Albāb al-Misriyah fi Mabāhij al-Adāb al-Asriyah atau dalam bahasa Indonesianya adalah "Metode Bagi Orang Mesir untuk Mengetahui Literatur Modern". Terbit pada tahun 1869, buku dengan tebal 450 halaman tersebut berisi tentang pendapat Al-Tahtawi mengenai modernisasi. Dalam buku itu ia mencoba untuk menjelaskan tentang pentingnya modernisasi untuk kemajuan dalam seluruh bidang, utamanya di bidang ekonomi dengan harapan supaya umat Islam dan khususnya bangsa Mesir dapat merasakan kesejahteraan hidup.[48]

Dalam hal keislaman, ia menulis sebuah buku berjudul Al-Qaul al-Sadīd fi al-Ijtihad wa al-Taqlid yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi Perkataan yang Benar Mengenai Ijtihad dan Taklid. Buku ini menjelaskan tentang pemikiran Rifa'ah perihal macam-macam Ijtihad beserta syarat-syarat yang harus dijalani seperti ijtihad mutlak, ijtihad fatwa, serta ijtihad dalam rangka mazhab. Buku ini sebenarnya merupakan buku yang dipersiapkan untuk memperkuat argumentasinya pada bukunya yang berjudul Manāhij al-Albāb.[48]

Puisi[sunting | sunting sumber]

Selain membuat buku, Rifa'ah juga kedapatan membuat beberapa puisi yang biasanya dia persembahkan kepada para Khedive Mesir saat itu. Berbagai puisinya tergabung ke dalam tema nasionalisme yang ia beri judul Qasidah Wataniyah Misriyah (Bahasa Indonesia: Puisi Kebangsaan Mesir) yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Egyptian patriotic lyrics. Beberapa puisi tersebut digunakan sebagai persembahan Al-Tahtawi kepada gubernur Muhammad Sa'id Pasya pada tahun 1855.[47] Salah satu puisinya yang terkenal adalah Ya ṣāḥi ḥubbul waṭan.[49]

Berikut ini adalah lirik dari puisinya yang berjudul Ya ṣāḥi ḥubbul waṭan:[49]

Pemikiran[sunting | sunting sumber]

Nasionalisme dan politik[sunting | sunting sumber]

Ideologi nasionalisme memasuki Mesir pada sekitar akhir abad kedelapan belas dan awal abad kesembilan belas bersamaan dengan pendudukan Mesir oleh Napoleon dari Prancis.[50] Ideologi nasionalisme sebenarnya masih relatif baru bagi umat Islam saat itu. Al-Tahtawi merupakan seorang pemikir dari sekian cendikiawan Mesir yang menerima dan menganjurkan nasionalisme yang saat itu ia sebut sebagai patriotisme.[51]

Nasionalisme yang dikenalkan oleh Rifa'ah didasarkan pada gagasan cinta tanah air dan kebangsaan. Rifa'ah mengatakan bahwa kebijaksanaan seorang raja dapat dianggap sesuai apabila semua rakyat dapat dipersatukan oleh satu bahasa mereka, kesetiaan mereka terhadap pemerintah yang sah, dan juga oleh syariat Allah. Meskipun Rifa'ah menekankan pentingnya syariat menjadi dasar negara, tetapi Rifa'ah tidak menghendaki diskriminasi antar agama dan berharap justru dengan diletakkannya syariah, kedudukan semua warga negara setara.[52]

Dalam nasionalisme yang diusung Rifa'ah, ia tidak menghendaki adanya perasaan partisanisme yang membuat bangsa Mesir menjadi terpecah-belah di dalam permusuhan. Dia mengatakan bahwa sudah menjadi ketentuan Tuhan untuk membuat manusia bersatu dengan harapan bahwa persatuan tersebut dapat membuat manusia saling bekerjasama untuk membangun tanah air mereka. Menurutnya, dengan syariat seharusnya negara tidak membeda-bedakan putra tanah air berdasarkan agama mereka, apalagi memecah belah mereka, karena mereka sama kedudukannya.[53]

Al-Tahtawi juga mengkritik beberapa penguasa terdahulu yang memiliki sikap anti-kritik. Beberapa penguasa yang bersikap semacam itu menurutnya membuat warga negara tak mendapatkan hak-hak perlindungan dari negaranya. Apabila yang terjadi kemudian, maka kestabilan negara akan menjadi terganggu. Rakyat tak akan lagi mau menanggung kewajiban untuk membela negara dan membangunnya karena hak mereka, tidak mereka dapatkan dari negara disebabkan oleh pemerintah yang tirani. Akan tetapi, Rifa'ah di sisi lain juga menganjurkan bahwa daripada selalu menuntut hak, warga negara yang dianggap patriot lebih menuntut kewajiban mereka dalam membela dan membangun tanah air.[53]

Dalam karyanya yang berjudul "The Extraction of Gold or an Overview of Paris", ia juga menekankan pentingnya patriotisme. Menggunakan contoh dari kerajaan Romawi, Al-Tahtawi menulis bahwa dikarenakan penguasa yang tiran, kualitas patriotisme warga negaranya menjadi menurun. Hal itu mengakibatkan mundurnya Romawi dan membuatnya terpecah belah. Setelah sekian lama berjaya, kerajaan tersebut akhirnya runtuh hanya dengan berkurangnya kesetiaan rakyatnya yang diakibatkan oleh penguasa yang buruk. Al-Tahtawi memberikan pendapat bahwa masyarakat Mesir tidak perlu sungkan untuk melihat realitas kekaisaran Romawi yang runtuh sebagai pelajaran dan meniru kebangkitan Eropa setelah runtuhnya kekaisaran Romawi tersebut melalui rasa cinta terhadap tanah air.[12]

Islam[sunting | sunting sumber]

Perjanjian Tahtawi dengan istrinya untuk tidak menikahi wanita lain. Saat itu, poligami adalah sesuatu yang lumrah di Mesir. Namun, Rifa'ah justru memilih untuk bermonogami karena pandangan modernisme yang dia anut.

Al-Tahtawi mencatat bahwa tugas dari semua rasul yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan prinsip agama adalah bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang beradab dan jauh dari kebiadaban. Dia percaya bahwa prinsip nilai Islam itu sempurna bahkan para pemikir barat dengan segala upayanya, menurut Rifa'ah masih belum dapat menyaingi hukum Islam. Dari prinsip nilai tersebutlah kemudian turun menjadi ilmu fikih dan segala cabang-cabangnya.[54]

Bagi Rifa'ah, hukum Islam atau yang umum disebut fikih merupakan suatu hukum yang ia anggap sebagai hukum yang rasional. Hukum Islam dipercaya oleh Rifa'ah setara dengan hukum-hukum moral atau naluri dalam pemikiran barat. Dalam fikih, banyak sekali penilaian terhadap baik dan buruk suatu perbuatan serta norma-norma yang tercipta, dengan tujuan untuk menciptakan keteraturan sipil yang nantinya akan melahirkan peradaban. Rifa'ah menjelaskan mengenai peran pengetahuan manusia yang dapat menyelamatkannya dari bencana. Tuhan menurutnya telah menciptakan nilai-nilai intrinsik dalam semua benda yang dimana benda-benda tersebut akan mempunyai karakteristiknya sendiri. Api bersifat panas, air yang dalam akan menenggelamkan, racun yang mematikan, semua itu adalah contoh dari karakteristik dalam sebuah benda. Syariat Islam menurut Rifa'ah sangat sesuai dengan karakteristik yang terkandung dalam hukum alam tersebut.[55]

Selain daripada semua itu, Rifa'ah juga meyakini bahwa syariat dapat berubah mengikuti zaman yang dialami oleh manusia. Dia menganggap bahwa syariat sebagai dasar agama Islam bukanlah sesuatu yang statis.[13][9] Dikatakan dalam bukunya yang berjudul Al-Qaul al-Sadīd fi al-Ijtihad wa al-Taqlid, Al-Tahtawi berpendapat bahwa syariat dapat berkembang dengan dibukanya pintu ijtihad. Akan tetapi, Rifa'ah sendiri tak pernah mengatakan dengan terbuka akan terbukanya pintu ijtihad karena pada masa itu, gagasan tersebut dianggap sangat radikal.[56]

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Pemikiran ekonomi Rifa'ah menekankan pada beberapa hal yang menjadi tumpuan. Dia mengatakan bahwa sumber peradaban manusia lahir ketika terpenuhinya dua kebutuhan, yaitu spiritual dan material. Kebutuhan pertama dapat dipenuhi dari ketaatan moral terhadap ajaran agama yang dibawa oleh para Nabi, sedangkan yang kedua didapatkan dari kekayaan dan pembangunan ekonomi. Menurutnya, pemenuhan kebutuhan spiritual melahirkan kebahagiaan dan pemenuhan kebutuhan material menghasilkan kesejahteraan. Kesejahteraan bagi Al-Tahtawi dapat dicapai dari peningkatan atau signifikansi atas industri. Rifa'ah mendefinisikan industri sebagai teknik yang mana sebuah atau beberapa barang mentah yang masih belum dapat diambil manfaatnya oleh manusia menjadi diolah sedemikian rupa sehingga manusia dapat mengambil manfaat dari benda-benda tersebut dan dari hal tersebut kebutuhan mereka dapat terpenuhi. Penguasaan akan industri tersebut merujuk pada pemikiran Rifa'ah mencakup pada tiga sektor, yaitu pertanian, perdagangan dan manufaktur. Seiring dengan berkembangnya penguasaan industri, masyarakat membuat kemajuan. Sektor pertanian, perdagangan dan manufaktur juga dapat berkembang dengan bantuan dan kerjasama dari pihak pemerintahan.[57]

Mengenai sektor perbankan, dalam bukunya yang berjudul Rihlah, Rifa'ah memuji sistem bank di Paris. Ia menjumpai dua model bank di kota tersebut, yaitu bank negara dengan bank swasta. Dia sangat memuji bank negara karena keterjaminan dan kredibilitasnya dibandingkan bank swasta. Perihal mengenai riba, Rifa'ah menganggap bahwa bunga bank yang tidak melebihi ketentuan undang-undang negara tidak dianggap sebagai bagian dari riba. Akan tetapi, di sisi lain Rifa'ah juga secara umum menentang keberadaan bunga dalam sistem perbankan saat itu.[58]

Selain dalam hal perbankan, Rifa'ah juga pernah sekilas dalam membahas asuransi. Mengenai asuransi, ia mendefinisikannya sebagai "mitra penjamin" yang dimana mitra tersebut dapat menjamin kepada mereka yang memberikan kontribusi atau premi jika terjadi bencana atau kecelakaan. Dia sebenarnya tidak memberikan pendapat yang lebih lanjut mengenai hal ini. Rifa'ah menyematkan pandangan Ibnu Abidin mengenai asuransi yang menurut ulama tersebut adalah haram dalam beberapa pertimbangan fikih tertentu, meski di kemudian hari para ulama modern ternyata membolehkan praktik dari asuransi tersebut.[59]

Dalam sektor perpajakan, Al-Tahtawi diketahui sangat mendukung perpajakan dan reformasinya. Menurutnya, zakat, harta rampasan perang, dan jizyah benar-benar tidak cukup untuk mendanai biaya pembangunan negara dan untuk publik secara keseluruhan. Apalagi setelah diketahui bahwa kebanyakan pemerintah muslim saat itu tak dapat mengelola ketiga sumber ekonomi tersebut secara lebih baik. Dia menyarankan agar dunia muslim dapat mencontoh negara-negara Eropa dalam hal perpajakan. Selain itu, dia juga mengagumi usaha pemerintah dari negara-negara Eropa dalam meminjam dana untuk menutup defisit negara karena pada saat itu, dunia muslim tidak mengenal hal yang demikian. Kebanyakan pemerintah muslim saat itu banyak berhutang atas nama pribadi dan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dibandingkan untuk memenuhi kebutuhan negara.[60]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Rifa'ah meyakini bahwa pendidikan itu bersifat universal dan diperuntukkan untuk berbagai kalangan, baik laki-laki maupun perempuan. Pada saat itu, banyak orang Mesir yang menganggap bahwa pendidikan untuk wanita adalah hal yang tidak diperlukan. Bahkan, kebanyakan dari mereka masih mempertanyakan hukum bagi wanita untuk belajar membaca dan menulis. Bagi masyarakat Mesir saat itu, makruh hukumnya bagi wanita untuk berangkat pergi ke sekolah. Rifa'ah mengutarakan ide mengenai pendidikan wanita menggunakan dua aksioma. Aksioma pertamanya ia sampaikan dengan argumen bahwa pendidikan perempuan itu diperlukan karena hal itu justru merupakan tradisi yang dilakukan oleh Nabi Muhammad sendiri. Hal ini membantah pendapat kaum ulama tradisionalis saat itu bahwa ide mengenai pendidikan wanita berasal dari barat. Yang kedua, dia mengatakan bahwa pendidikan perempuan memiliki implementasi yang bermaslahat bagi umat alih-alih membawa keburukan pada umat.[61] Untuk memperkuat argumennya tersebut, ia memberikan contoh dengan pendidikan wanita pada masa Yunani kuno:

Bahwasanya orang-orang Yunani telah mengatur agar para wanita mendapatkan pendidikan, maka mereka memperoleh didikan yang lebih baik dari para kaum pria, juga badan yang sehat. Sehingga mereka memiliki kedudukan yang mulia di setiap hati masyarakatnya, disebabkan oleh pendidikan dan edukasi mereka yang baik, mencakup segala macam ilmu pengetahuan. Tak mengherankan, jika kemudian di negara tersebut terdapat banyak pahlawan-pahlawan dari golongan wanita yang juga sangat berkesan pada hati para suaminya.

— Rifa'ah, [62]

Al-Tahtawi berpendapat bahwa apabila para wanita dapat belajar untuk membaca, menulis, dan berargumen dengan baik, maka itu dapat membuat wanita dianggap tidak remeh dan akhirnya dapat bekerja di banyak sektor. Rifa'ah menganggap bahwa dengan bekerjalah, para wanita dapat mengangkat derajat dirinya. Bekerja dapat membuat seorang wanita tidak lagi bergantung pada pemberian orang lain sekaligus membuatnya menjauhi perkara yang tidak berguna seperti menggunjing atau melakukan gibah dengan sesama wanita lain yang akhirnya menjerumuskan mereka pada tindakan dosa.[63]

Dalam hal pendidikan, Rifa'ah juga meyakini bahwa kunci pendidikan yang paling utama menurutnya terletak pada keluarga. Orang tua dituntut untuk memberikan pendidikan terbaik bagi putra dan sekaligus putrinya. Pendidikan bagi anak lelaki maupun anak perempuan menurut Rifa'ah harus disetarakan dan diseimbangkan, karena dengan hal itu, membuat para wanita dan laki-laki dapat bergaul dengan baik tanpa adanya kesalahpahaman.[64]

Rifa'ah dalam bukunya yang berjudul Al-Murshid al-Amīn fi Tarbiyat al-Banāt wa al-Banīn menganjurkan adanya kurikulum pendidikan yang pada saat itu, beberapa institusi pendidikan seperti Al-Azhar tidak pernah mendidik para pelajarnya secara sistematis. Dia mengatakan bahwa dasar dari kurikulum pendidikan bertumpu pada dua hal, yaitu kebutuhan masyarakat setempat dan minat peserta didik. Pendidikan berdasarkan kebutuhan masyarakat setempat menurutnya dapat membuat seorang peserta didik menjadi seorang yang berguna bagi masyarakat tersebut. Sedangkan di sisi lain, pendidikan berbasis minat peserta didik baginya juga memiliki dasar yang sama, yaitu supaya anak tersebut dapat menjadi orang yang dapat berkontribusi pada perkembangan negara dan peradaban. Al-Tahtawi sangat menyayangkan apabila seorang peserta didik menjalani pendidikan yang tidak sesuai minatnya. Dia beranggapan bahwa jika hal itu terjadi, maka anak tersebut tak dapat berkontribusi secara optimal yang justru malah memberikan dampak negatif kepada anak tersebut. Di sini dia menekankan pentingnya peran orang tua. Orang tua baginya harus mengerti apa minat dan bakat anak tersebut supaya anak itu dapat menjadi orang yang berguna bagi masyarakat.[65]

Warisan[sunting | sunting sumber]

An-Nahdah[sunting | sunting sumber]

An-Nahdah merupakan sebuah gerakan kebudayaan yang berkembang pada paruh waktu abad kesembilan belas hingga awal abad keduapuluh di negara berbahasa Arab seperti Mesir, Lebanon, dan Suriah yang mereka pernah menjadi wilayah dari kekaisaran Utsmaniyah. Gerakan ini juga umum dinamai sebagai "Kebangkitan Arab".[66] Gerakan tersebut muncul sebagai reaksi atas keterkejutan budaya di saat Napoleon Bonaparte melakukan invasi ke Mesir dan membawa kebudayaan Prancis yang modern ke sana. Pada saat itu, orang-orang Arab di Mesir merasa sadar bahwa diri mereka mengalami ketertinggalan dalam banyak bidang akibat dari datangnya kebudayaan barat yang dibawa oleh Napoleon. Ditambah dengan reformasi pendidikan yang digalangkan oleh Muhammad Ali, maka lahirlah beberapa tokoh-tokoh yang terkenal berkontribusi atas kebangkitan pengetahuan bangsa Arab saat itu.[67] Salah satunya adalah Rifa'ah Al-Tahtawi.

Kemampuannya dalam bahasa Prancis mengantarkannya sebagai seorang penerjemah ulung yang berperan dalam transmisi ilmu pengetahuan barat ke dunia Arab saat itu. Beberapa karya penerjemahannya menjadi kunci atas terbukanya orang Arab terhadap pengetahuan dari barat khususnya dari Prancis dan menginspirasi beberapa gerakan pendidikan dan modernisme Islam. Salah satu karya orisinilnya yang berjudul Takhlīs al-Ibriz fī Talkhīs Barīz menjadi salah satu karyanya yang terkenal.[68] Dia menuliskan pandangan hidupnya di dalam buku itu. Buku tersebut menjelaskan saran dari Rifa'ah supaya Mesir tidak perlu segan untuk belajar dari peradaban lain terutama peradaban Eropa. Dia sangat mendukung reformasi dalam berbagai bidang di Mesir dan pentingnya penyesuaian reformasi tersebut dengan budaya Islam. Beberapa karya terjemahannya juga memiliki pengaruh dalam menjembatani Mesir ke dalam gerakan An-Nahdah.[69]

Universitas Ain Shams[sunting | sunting sumber]

Bangunan dari Fakultas Al-Alsun saat ini.

Universitas Ain Shams merupakan sebuah badan perguruan tinggi yang dibangun pada tahun 1950 di Kairo, Mesir. Pada awalnya, universitas ini bernama Universitas Ibrahim Pasha dan perguruan tinggi ini termasuk ke dalam perguruan tinggi tertua ketiga di Mesir.[70]

Universitas ini menyediakan 14 fakultas, yang salah satunya adalah fakultas kebahasaan atau dalam bahasa aslinya disebut sebagai Kulliyāt Al-Alsun (Bahasa Arab: كلية الالسن).[71] Fakultas mengajarkan berbagai banyak bahasa seperti bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Prancis, bahasa Spanyol, Italia, Jerman, Cina, Korea, Jepang dan berbagai rumpun bahasa lain seperti rumpun bahasa Slavia, dan rumpun bahasa Semitik serta masih banyak lagi.[72] Ia didirikan pada tahun 1973, tetapi fakultas ini berdiri dari dasar "Sekolah Bahasa" yang dikepalai oleh Rifa'ah Al-Tahtawi.[73]

Banyak sumber yang menyebutkan bahwa mengenai pendirian Sekolah Bahasa, Rifa'ah sering dikreditkan sebagai pendiri asalnya. Akan tetapi menurut Heyworth-Dunne, pernyataan itu bukanlah pernyataan yang benar. Sekolah Bahasa sebenarnya didirikan pada bulan Juni tahun 1836 oleh Ibrahim Efendi dengan nama "Sekolah Penerjemah" di bekas bangunan istana Mohammed Bey Al-Alfi[7] yang didirikan pada tahun 1790-an dan pernah menjadi tempat tinggal Napoleon saat ia menginvasi Mesir.[74]

Sekolah ini kemudian mengalami penataan kembali pada Januari tahun 1837 dengan diganti namanya menjadi Sekolah Bahasa dan sekaligus ditunjuknya Rifa'ah menjadi kepala sekolah oleh dewan sekolah tersebut. Sekolah ini kemudian menampung para pelajar dari berbagai tempat di Mesir serta luar negeri dan dilengkapi dengan para pengurus dari Eropa dan para penutur bahasa ibu dari bahasa Prancis, Turki, Italia, Inggris, serta Arab yang siap mengajarkan bahasa itu. Meski dinamai dengan "Sekolah Bahasa", tetapi pada nyatanya sekolah tersebut juga mengajarkan ilmu lain seperti matematika, sejarah, dan juga geografi serta menjadi salah satu dari sedikit sekolah di Mesir saat itu yang kurikulumnya tidak bergantung pada kebutuhan militer. Pengajaran hukum Islam dan akuntansi ditambahkan pada tahun 1842 setelah adanya kebijakan pemerintah untuk membatasi jumlah sekolah yang mengakibatkan beberapa sekolah seperti "Sekolah Hukum Islam" dan "Sekolah Akuntansi" bergabung dengan Sekolah Bahasa yang mengakibatkan perubahan namanya menjadi "Sekolah Bahasa dan Akuntansi".[7] Sekolah ini kemudian dirubah menjadi bagian dari Universitas Ain Shams sebagai fakultas linguistik pada tahun 1973.[72]

Dalam budaya populer[sunting | sunting sumber]

Patung Rifa'ah yang berada di depan Universitas Suhaj.

Di dalam bukunya yang berjudul Muslims in Global Politics: Identities, Interests, and Human Rights, Mahmood Monshipouri mengategorikan Rifa'ah ke dalam salah satu pemikir Islam modernis kenamaan bersama dengan Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Rasyid Ridha, Muhammad Iqbal, Muhammad Khatami, dan Nurcholish Madjid.[75] Karya Peter Hill mengenai gerakan An-Nahdah yang berjudul Utopia and Civilization in the Arab Nahda mengangkat Rifa'ah Al-Tahtawi beserta Sekolah Bahasa miliknya sebagai lingkaran yang berpengaruh dalam melahirkan bibit-bibit nasionalisme di Mesir melalui gerakan literasi publik.[76] Husain Ahmad Amin dalam bukunya yang berjudul "Seratus Tokoh Dalam Sejarah Islam" memasukkan Rifa'ah juga ke dalam seratus tokoh berpengaruh dalam sejarah Islam. Rifa'ah dalam buku tersebut masuk ke dalam urutan ke-91 setelah Muhammad Ali dan sebelum Abdul Qadir Jaza'iri.[77] Kisah hidup Rifa'ah juga pernah diangkat ke dalam film yang berjudul Rifa'a Al-Tahtawi. Film tersebut merupakan film besutan Nour El-Demerdash pada tahun 1987 dan berdurasi sekitar 45 menit. Film tersebut menceritakan tentang kehidupan Al-Tahtawi dari ia lahir hingga ia dapat membuat karya untuk kegemilangan Mesir yang dirangkum ke dalam 20 episode.[78] Untuk mengenang jasanya juga, patung Rifa'ah juga dibuat di depan gedung Universitas Suhaj.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Quadri 2021, hlm. 113.
  2. ^ Ahmad 2019, hlm. 71-72.
  3. ^ Ibrahim, Mahmoud A. A. (26 April 2018). "Al-Tahtawi, Rifa'a (1801–1873) - Routledge Encyclopedia of Modernism". www.rem.routledge.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-01-29. 
  4. ^ El-Ariss, Tarik (2013). "Fantasy of the Imam". Fordham Scholarship Online. Diakses tanggal 29 Januari 2022. 
  5. ^ Iggers 2013, hlm. 88.
  6. ^ Gesink 2009, hlm. 28-29.
  7. ^ a b c d Heyworth 1939, hlm. 965-966.
  8. ^ a b c d e Supardjo 1975, hlm. 64.
  9. ^ a b Mustahdi 2014, hlm. 172.
  10. ^ a b Hadi 2018, hlm. 26-27.
  11. ^ a b Hadi 2018, hlm. 28-29.
  12. ^ a b Gelvin 2016, hlm. 178-179.
  13. ^ a b Maryanto 2018, hlm. 10.
  14. ^ Khoiro 2019, hlm. 45.
  15. ^ Hadi 2018, hlm. 67.
  16. ^ Hadi 2018, hlm. 21-22.
  17. ^ Vatikiotis 1991, hlm. 54-55.
  18. ^ Hadi 2018, hlm. 23.
  19. ^ Hadi 2018, hlm. 24.
  20. ^ a b Heyworth 1939, hlm. 961-962.
  21. ^ Hadi 2018, hlm. 25-26.
  22. ^ Hadi 2018, hlm. 25.
  23. ^ a b Heyworth 1939, hlm. 962.
  24. ^ Hadi 2018, hlm. 25-26 dan 83.
  25. ^ Hadi 2018, hlm. 26.
  26. ^ a b c Heyworth 1939, hlm. 963.
  27. ^ Quadri 2021, hlm. 128.
  28. ^ a b Hadi 2018, hlm. 27.
  29. ^ a b c d Heyworth 1939, hlm. 964.
  30. ^ a b Hadi 2018, hlm. 30.
  31. ^ Heyworth 1939, hlm. 963-964.
  32. ^ Gelvin 2016, hlm. 153.
  33. ^ Heyworth 1939, hlm. 965.
  34. ^ Hadi 2018, hlm. 29.
  35. ^ a b "Rifāʿah Rāfiʿ al-Ṭahṭāwī | Egyptian scholar | Britannica". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-12-18. 
  36. ^ Hill 2020, hlm. 57.
  37. ^ Thorne 1984, hlm. 8.
  38. ^ a b c Heyworth 1939, hlm. 967.
  39. ^ Hadi 2018, hlm. 23-24.
  40. ^ Gran, Peter (19 Januari 2006). "Tahtawi in Paris". web.archive.org. Archived from the original on 2006-01-19. Diakses tanggal 2022-01-29. 
  41. ^ a b Hadi 2018, hlm. 28.
  42. ^ Hadi 2018, hlm. 27-28.
  43. ^ Hadi 2018, hlm. 33.
  44. ^ Massad 2008, hlm. 31-32.
  45. ^ a b Hadi 2018, hlm. 30-31.
  46. ^ Vatikiotis 1991, hlm. 113.
  47. ^ a b c d Hadi 2018, hlm. 32.
  48. ^ a b c Hadi 2018, hlm. 31.
  49. ^ a b Dahlan 2011, hlm. 106-110.
  50. ^ Agusta 2011, hlm. 42-43.
  51. ^ Agusta 2011, hlm. 47.
  52. ^ Esposito 2007, hlm. 19-10.
  53. ^ a b Esposito 2007, hlm. 10.
  54. ^ Esposito 2007, hlm. 11-12.
  55. ^ Esposito 2007, hlm. 12.
  56. ^ Khoiro 2019, hlm. 41-42.
  57. ^ Islahi 2012, hlm. 03.
  58. ^ Islahi 2012, hlm. 08-09.
  59. ^ Islahi 2012, hlm. 09-10.
  60. ^ Islahi 2012, hlm. 08.
  61. ^ Hadi 2018, hlm. 47.
  62. ^ Hadi 2018, hlm. 48.
  63. ^ Khoiro 2018, hlm. 44.
  64. ^ Khoiro 2018, hlm. 43-44.
  65. ^ Hadi 2018, hlm. 51-52.
  66. ^ Selim 2019, hlm. 02.
  67. ^ "Nahda ("Awakening," in Arabic) | Encyclopedia.com". www.encyclopedia.com. Diakses tanggal 2022-01-03. 
  68. ^ Gesink 2009, hlm. 29.
  69. ^ Gran 2020, hlm. 68.
  70. ^ "Ain Shams University". Times Higher Education (THE) (dalam bahasa Inggris). 2021-11-27. Diakses tanggal 2021-12-18. 
  71. ^ "Statistics-Ain Shams University". web.archive.org. 2009-08-15. Archived from the original on 2009-08-15. Diakses tanggal 2021-12-18. 
  72. ^ a b "Faculty of Alsun". www.dbse.co (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2022-01-03. 
  73. ^ "Prof. Dr. Salwa Rashad, Dean of Faculty of Al-Alsun, Ain Shams University". Ain Shams University. 
  74. ^ "Historic House Museums: Conserving and restoring the Harawi and Al-Sinnari houses in Cairo" (PDF). Museum International. April 2001. hlm. 22-35. Diakses tanggal 03 Januari 2022. 
  75. ^ Monshipouri 2011, hlm. 33.
  76. ^ Hill 2020, hlm. 58-59.
  77. ^ Amin 2019, hlm. 88 dan 91.
  78. ^ Series - Rifa'a al-Tahtawi - 1987 Cast، Video، Trailer، photos، Reviews، Showtimes (dalam bahasa Inggris), diakses tanggal 2021-12-18 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]