Penerbangan 714 ke Sydney

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Penerbangan 714 ke Sydney
22 Penerbangan 714 Ke Sydney.jpg
Informasi Umum
Judul Asli (Perancis) Vol 714 pour Sydney
Terbit pertama 1968
Album ke 22
Lokasi Indonesia
Halaman 62 (Berwarna)
Informasi dari Terbitan Indira
ISBN ISBN
Informasi dari Terbitan Gramedia
Terbit pertama Desember, 2008
ISBN 10 Digit ISBN
ISBN 13 Digit ISBN
Gramedia Code GM 310.08.022
Urutan ceritanya
Sebelum Permata Castafiore
Sesudah Tintin dan Picaros

Penerbangan 714 ke Sydney, adalah sebuah album serial Kisah Petualangan Tintin yang ke 22, dari Hergé dari Belgia.

Album ini aslinya dalam bahasa Perancis disebut Vol 714 pour Sydney, yang dalam bahasa Indonesia berarti: "Penerbangan 714 menuju Sydney".

Sinopsis[sunting | sunting sumber]

Dalam perhentiannya penerbangan Qantas QF714 di Jakarta dari perjalanannya ke Sydney, Tintin, Milo, Kapten Haddock dan Profesor Lakmus, mereka bertemu dengan industrialis pesawat dan jutawan eksentrik, Laszlo Carreidas. Karena tidak dapat menolak tawaran Carreidas untuk terbang dengan pesawatnya ke Sydney, maka Tintin dan teman-temannya bergabung pada pesawat pribadinya, Carreidas 160. Tanpa sepengetahuan Carreidas dan yang lainnya, sekretarisnya Spalding dan dua pilot berkomplot untuk membajak pesawat dan membawanya ke sebuah pulau vulkanik di Kepulauan Sunda.

Dalang dari peristiwa tersebut ternyata Rastapopoulos, yang berniat mengambil uang Carreidas. Mantan teman sekapal Kapten Haddock, Allan, hadir sebagai antek Rastapopoulos itu. Warga Sondonesia juga telah dipekerjakan sebagai tentara bayaran.

Para tahanan terikat dan ditahan di bunker Jepang saat Perang Dunia II. Sementara itu Rastapopoulos membawa Carreidas ke bunker lain di mana komplotannya, Dokter Krollspell, menyuntikkan jutawan itu dengan serum kebenaran untuk memberitahu Rastapopoulos nomor rekening bank Swiss milik Carreidas itu. Sayangnya, Carreidas menjadi terlalu bersemangat untuk mengatakan kebenaran tentang hidupnya yaitu ; keserakahan, pengkhianatan, dan semuanya kecuali rekening bank Swiss nya. Karena geram, Rastapopoulos mencoba menekuk lutut Dokter Krollspell, yang masih memegang jarum suntik serum kebenaran, dan tanpa sengaja tersuntik. Dia juga menceritakan perbuatannya dengan cara membual, saat ia dan Carreidas mulai bertengkar tentang siapa yang lebih jahat. Rastapopoulos mengungkapkan bahwa hampir semua orang yang ia rekrut, termasuk Spalding, pilot pesawat terbang, dan Dokter Krollspell, akan dibunuh ketika semua ini berakhir.

Milo, setelah menemukan Tintin, dia membantu Tintin dan teman-temannya melarikan diri dengan mengalihkan dua penjaga, yang memungkinkan Tintin untuk melumpuhkan mereka, dan menemukan bunker di mana Carreidas ditahan. Tintin dan Kapten Haddock mengikat Dokter Krollspell, Rastapopoulos, dan Carreidas, serta mengantar mereka ke dataran rendah, berniat untuk menjadikan Rastapopoulos sebagai tahanan.

Dalam pelariannya, Tintin, mendapatkan bimbingan melalui telepati, untuk menemukan pintu masuk tersembunyi ke gua. Melalui lorong besar mereka menemukan sebuah kuil tersembunyi di dalam gunung berapi di pulau itu, dijaga oleh patung kuno yang memiliki semua penampilan dari astronot modern. Ketika menjelajah gunung berapi lebih jauh, Tintin dan teman-temannya bertemu Mik Kanrokitoff, seorang penulis untuk majalah Space Week, yang mengungkapkan bahwa dialah suara yang membimbing mereka, melalui pikiran dan lewat pemancar telepati. Mik Kanrokitoff memperoleh perangkat tersebut, dari ras ekstraterestrial, yang sebelumnya dipuja di pulau itu sebagai dewa dan yang menggunakan tempat pendaratan untuk menghubungi manusia.

Ledakan yang dipicu Rastapopoulos dan anak buahnya memicu letusan gunung berapi. Meskipun perilaku Carreidas yang kacau, Tintin dan teman-temannya akhirnya mencapai tempat aman di dalam kawah gunung berapi. Sementara itu, Rastapopoulos dan kaki tangannya melarikan diri dari letusan dengan menuruni luar gunung berapi dan menggunakan perahu karet dari jet Carreidas, Carreidas 160.

Setelah Tintin dan teman-temannya menemukan jalan keluar dari gunung berapi, Mik Kanrokitoff menghipnosis mereka dan memanggil sebuah piring terbang yang dikemudikan oleh makhluk luar angkasa. Grup yang terhipnotis tersebut naik ke UFO, melarikan diri dari letusan gunung berapi. Mik Kanrokitoff melihat perahu karet dan menempatkan Tintin dan teman-temannya (kecuali Dokter Krollspell, yang dibawa kembali ke markasnya di Kairo dengan hipnotis-induksi amnesia), sedangkan untuk Allan, Spalding, Rastapopoulos, dan pilot berbahaya, dibawa pergi oleh UFO ke tempat yang tidak diketahui. Besoknya kelompok ini terbangun dari hipnosis dan tidak ingat apa yang terjadi pada mereka.

Profesor Lakmus memiliki buah tangan, sebuah batangan besi yang dibuat dari paduan kobalt, besi, dan nikel, yang telah ditemukan di gua. Kobalt dalam kondisi mustahil di Bumi, dan merupakan satu-satunya bukti pertemuan dekat dengan pembuatnya. Hanya Milo, yang tidak dapat berbicara, mengingat pembajakan pesawat dan penculikan alien.

Cerita berakhir dengan Tintin, Carreidas, dan teman-temannya akhirnya menaiki Penerbangan 714 ke Sydney.

Dunia Penerbangan[sunting | sunting sumber]

Komik ini memberikan pengetahuan baru di dunia penerbangan, khususnya pesawat supersonik dengan sayap sayungnya, yang untuk pertama kalinya didesain untuk penumpang, yang dinamai dengan nama Carreidas 160 dan akhirnya terwujud di dunia nyata dengan Concorde.[1]

Qantas Boeing 707[sunting | sunting sumber]

Salah satu Boeing 707 VJet

Pada panel pertama komik ini, digambarkan sebuah pesawat Qantas Boeing 707 dengan nomor penerbangan QF 714 yang dinaiki Tintin dan kawan-kawan dalam penerbangannya dari Eropa ke Australia dalam rangka menemani Prof. Lakmus menghadiri suatu acara keilmuan, sedang mendarat di bandara Kemajoran, Jakarta.[2] Pada tahun 60-an, setiap penerbangan dari benua Eropa ke Australia pasti akan singgah di bandara ini untuk melakukan penurunan penumpang ataupun untuk pengisian bahan bakar. Pada masa itu, bandar udara Changi belum ada, sehingga posisi bandara Kemajoran ini menjadi strategis dan penting.

Pesawat Boeing 707 ini juga merupakan penanda era baru bagi Qantas, yaitu era Jet Age. Pada bulan Juli sampai dengan September 1959, Qantas merupakan salah satu perusahaan penerbangan di luar Amerika Serikat yang mulai mendapatkan tujuh Boeing 707, tepatnya Boeing 707-138. Mulai bulan Oktober 1959, penerbangan Qantas, Sydney - London mulai dijalankan dengan transit di India.[3]

Julukan V-Jets disematkan karena merupakan modifikasi dari Boeing 707 dengan mesin baru Turbofan, tepatnya Boeing 707 - 138B. Huruf V sendiri berasal dari bahasa Latin vannus yang artinya fan. Pesawat ini ditenagai oleh mesin turbofan yang dibangun dan dikembangkan oleh Pratt & Whitney. Salah satu keuntungan mesin ini adalah ia menawarkan pemakaian bahan bakar yang lebih hemat, jarak untuk tinggal landas yang lebih pendek, beban muatan lebih banyak dengan jarak tempuh yang lebih jauh dengan kecepatan rata-rata di ketinggian optimum, 960 km/h.[3]

Dan dengan data inilah nampaknya Herge menampilkan pesawat Boeing 707 dalam kisah komik ini.

Carreidas 160[sunting | sunting sumber]

Pesawat Carreidas 160

Carreidas 160 adalah prototipe pesawat supersonik bisnis yang pertama ada di jamannya.[1] Pesawat ini didesain oleh Roger Leloup, saat menjadi asisten Studio Herge. Leloup sebelumnya memproduksi sketsa pesawat dalam komik Tintin sebelumnya Pulau Hitam.

Hergé menginginkan Carreidas 160 dalam kisah ini, memiliki bentuk yang sedetail mungkin, sebagaimana yang dia lakukan untuk berbagai kendaraan fiksi dalam kisah-kisah lain karyanya, seperti kapal Unicorn dalam kisah Rahasia Unicorn (1943) hingga roket yang membawa para jagoan kita mendarat di bulan dan kembali ke bumi dalam kisah Petualangan di Bulan (1954).

Pesawat jet berkecepatan supersonik menjadi topik baru dari kisah Petualangan Tintin, walaupun tetap tidak meninggalkan unsur menyenangkan dalam kisahnya dan juga harus memenuhi beberapa standar yang sudah ditetapkan oleh Hergé. Ketika memulai cerita ini, ia sudah memasuki usia 60-an, dan kemampuan menggambarnya sudah banyak berkurang karena penyakit eczema yang dideritanya, akhirnya menyerahkan proses penggambaran detail dari pesawat jet ini pada Roger Leloup, rekannya yang paling muda di Studios Hergé dan juga nantinya adalah ayah dari kisah Yoko Tsuno.[2]

Spesifikasi Teknis[sunting | sunting sumber]

Bagian terpenting dari Carreidas 160 adalah bentuk sayapnya yang berupa sayap sayung, sayap yang bisa berubah sesuai dengan kebutuhannya dalam meningkatkan kecepatannya hingga supersonik. Sayap sayung itu bisa berubah dalam penerbangan. Untuk kebutuhan kecepatan tinggi, atau supersonik maka sayapnya akan membentuk seperti anak panah dengan sudut maksimal 60° sehingga bentangan sayapnya hanya selebar 12,83 meter saja.[1] Sedangkan pada kecepatan biasa, pada saat lepas landas dan mendarat, maka sayapnya akan membentuk sudut 16° dengan bentangan sayap hingga 20,59 meter.[1] Di jamannya pesawat di dunia nyata yang memiliki kemampuan mirip adalah pesawat pengebom buatan General Dynamics F-111, dan bentuk sayap dari Carreidas 160 memang terinsipirasi dari pesawat pengebom ini.

Garuda Indonesia Convair 990[sunting | sunting sumber]

Salah satu pesawat Garuda Indonesia seri Convair 990

Pesawat Garuda Indonesia jenis Convair 990 memang tidak secara langsung terlibat dalam kisah komik ini, namun pesawat ini nampak terparkir di apron Bandara Kemajoran Jakarta ketika pesawat Qantas QF 714 yang ditumpangi oleh Tintin dan kawan-kawan, mendarat di Bandara Kemajoran.

Sebagaimana Qantas, di seputaran tahun 60-an, GA juga memasuki babak baru mesin penerbangan, era mesin jet. Hal ini dimulai pada tahun 1964, dimana mereka mendatangkan tiga pesawat baru bermesin jet Convair 990A yang diberi nama "Majapahit", "Pajajaran" dan "Sriwijaya". Penamaan ini didasarkan pada nama-nama kerajaan kuno di Indonesia. Dengan kedatangan pesawat-pesawat jet tersebut menjadikan GA sebagai maskapai pertama di Asia Tenggara yang mengoperasikan pesawat jet subsonik. Di masa itu, pesawat jenis ini adalah pesawat yang disematkan teknologi tinggi di jamannya dan memiliki kecepatan tertinggi dibandingkan dengan Boeing 707, maupun Douglas DC-8. Dengan pesawat ini pulalah GA membuka rute antar benua, Jakarta ke Amsterdam, dengan transit di Bangkok - Mumbai - Karachi - Kairo - Roma - Frankfurt.

Layaknya seorang Herge menampilkan pesawat ini di panel pertama dari kisah komik ini, karena dua pesawat ini, Convair 990 milik Garuda Indonesia dan Boeing 707 Qantas menandai era baru kedua maskapai dan lompatan besar di jamannya.

Galeri[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d de la Viuda Sainz, José Miquel (January 2014). bahasa Perancis: 'Le Carreidas 160 De Vol 714 Pour Sydney'. Brussel, Belgia: Édition Moulinsart. hlm. 6. 
  2. ^ a b "Flight 714". Hergé/Moulinsart. Hergé/Moulinsart. 2018. Diakses tanggal 2018-06-23. 
  3. ^ a b "Entering the Jet Age". Qantas. Diakses tanggal 2018-07-11. 

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]