Nuh (tokoh Al-Qur'an)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Nabi Nuh)

Dalam Al-Qur'an, Nuh adalah salah satu nabi dan rasul dengan kedudukan sebagai Ululazmi.[1] Sebanyak 43 ayat dari 28 surah di dalam Al-Qur'an membahas tentang Nuh.[2] Dakwah Nuh tiujukan kepada Bani Rasib.[3] Nuh diutus oleh Allah untuk mengajarkan tauhid. Ia berdakwah selama tiga generasi dan hanya memperoleh 70 orang pengikut dengan tambahan delapan anggota keluarganya.[4] Ajaran Nuh ditolak oleh kaumnya sehingga Allah memberikan peringatan kepada mereka dengan banjir bandang akibat hujan berkepanjangan. Kisah banjir bandang disebutkan dalam beberapa ayat di Surah Nuh dan Surah Hud.[5]

Genealogi[sunting | sunting sumber]

Nuh merupakan keturunan dari Adam dari generasi kesembilan. Nama lengkap Nuh adalah Nuh bin Lamik bin Matusylakh bin Idris bin Yarad bin Mahlayil bin Qainan bin Anusi bin Syits bin Adam. Nuh lahir sekitar 1000 tahun setelah wafatnya Adam dan hidup hingga hampir mencapai 1 milenium. Umur Nuh diketahui dari Surah Al-'Ankabut ayat 14.[2] Sementara jarak umur antara Adam dan Nuh disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Ibnu Hibban dari Abu Umamah al-Bahili dan Abdullah bin Abbas.[6]

Penyembahan berhala[sunting | sunting sumber]

Pada masa antara Nabi Adam dan Nabi Nuh, terdapat kaum-kaum yang saleh, yaitu Wudd, Suwa', Yaghuts, dan Nasr.[7] Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Jarir Ath-Thabari hingga ke Muhammad bin Qais, disebutkan bahwa keempat nama tersebut merupakan tokoh yang disembah oleh kaum Nuh. Mereka melarang Nuh untuk berhenti menyembah keempat tokoh tersebut.[8] Sementara itu, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, disebutkan bahwa keempat nama tersebut merupakan tokoh yang mempunyai pengikut yang setia. Sehingga masing-masing kaum diberi nama sesuai nama tokoh tersebut.  Keempat tokoh dan kaum ini hidup di antara masa Nabi Adam dan Nabi Nuh. Setelah keempat tokoh ini meninggal, generasi pertama dari para pengikutnya mulai menggambar sosok mereka. Lalu, pada generasi kedua, Iblis membujuk mereka untuk menyembahnya dengan mengatakan bahwa generasi pertama dahulu menyembah keempat tokoh tersebut. Iblis membujuk dengan mengatakan bahwa keempat tokoh tersebut dapat menurunkan hujan. Generasi kedua ini kemudian memulai penyembahan atas keempat tokoh tersebut.[9]

Dakwah[sunting | sunting sumber]

Nuh merupakan salah satu manusia yang diberikan wahyu oleh Allah dan dipilih olehNya sebagai rasul. Informasi kerasulan Nuh diperoleh dari Surah An-Nisa' ayat 163.[10] Kerasulan Nuh juga diketahui dari Surah Ali Imran ayat 33 dan 34.[11] Nuh merupakan rasul pertama karena ia yang pertama kali diperintah oleh Allah untuk berdakwah kepada suatu kaum. Menurut keterangan Ibnu Jarir ath-Thabari, Nuh berdakwah kepada Bani Rasib.[3] Terdapat beberapa pendapat ulama mengenai usia Nuh ketika menjadi rasul, antara lain pada usia 50, 350 atau 480 tahun.[12]

Nuh memulai dakwahnya secara sembunyi-sembunyi. Setelahnya ia berdakwah secara terang-terangan dengan memberikan motivasi dan peringatan kepada kaumnya.[13] Sejak Nuh memulai dakwahnya, kaumnya menganggap dirinya sebagai orang yang sesat. Kaum Nuh pada masanya ada yang menyakini politeisme dan ada pula yang mengadakan perbuatam syirik.[14] Nuh berdakwah kepada kaumnya selama 950 tahun. Jumlah pengikutnya tidak lebih dari 80 orang.[15]

Banjir bandang[sunting | sunting sumber]

Setelah Nuh tidak lagi meyakinkan kaumnya untuk beriman kepada Allah, perintah pembuatan kapal diberikan kepada Nuh.[16] Perintah pembuatan kapal dari Allah kepada Nuh disebutkan dalam Surah Hud ayat 37. Dalam ayat ini juga Allah memberitahukan bahwa kaum Nuh yang ingkar akan ditenggelamkan.[17] Para ahli sejarah sepakat bahwa banjir bandang yang menimpa kaum Nuh benar-benar pernah terjadi. Ini didasarkan pada banyaknya kisah banjir bandang dari berbagai agama, keyakinan dan kepercayaan, serta kebudayaan di beberapa negara. Perbedaan pendapat timbul mengenai wilayah yang terdampak banjir dan jenis hewan yang memasuki kapal yang dibuat oleh Nuh.[18] Ada yang berpendapat bahwa banjir bandang menimpa seluruh wilayah di dunia. Dalilnya pada Surah Hud ayat 42 dan 43. Ayat 42 menjelaskan bahwa ombak yang timbul akibat banjir bandang mencapai ketinggian gunung.[19] Bukti lain yang menguatkan pendapat mereka adalah penemuan fosil gajah purba di wiayah Siberia dan Kutub Utara.[20]

Sementara itu, terdapat pendapat yang menyatakan bahwa banjir bandang yang menimpa kaum Nuh hanya bersifat lokal. Dalilnya adalah bahwa setiap nabi diutus hanya kepada suatu kaum tertentu. Pendapat ini didasarkan kepada ayat-ayat Al-Qur'an yaitu Surah Ar-Ra’d ayat 7, Surah An-Nahl ayat 36, 84 dan 89, Surah Al-Mu'minun ayat 44, Surah An-Nisa' ayat 41 dan Surah Yusuf ayat 47. Pendapat ini dikuatkan oleh adanya kisah para nabi yang hidup pada zaman yang sama dengan nabi lainnya dengan kaum yang hidup di lokasi yang berjauhan. Para nabi yang hidup pada zaman yang sama antara lain Ibrahim dan Lut, Yakub dan Yusuf, Musa, Harun dan Syuaib serta Zakariyya dan Yahya. Keterangan lain yang dijadikan sebagai landasan pendapat ini adalah jumlah nabi dan rasul yang sangat banyak yaitu 124 ribu nabi dan 313 rasul. Keterangan ini diperoleh dari hadis yang diriwayat oleh Imam Bukhari.[21]

Keturunan[sunting | sunting sumber]

Setelah banjir bandang berakhir, Nuh dan para pengikutnya keluar dari kapal dan melanjutkan kehidupannya. Para pengikut Nuh tidak memiliki keturunan karena semuanya meninggal akibat wabah. Hanya keluarga Nuh yang memiliki keturunan.[22] Keterangan bahwa hanya keturunan Nuh yang meneruskan generasi umat manusia dijelaskan dalam Surah As-Saffat ayat 77.[23] Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa anak Nuh yang melanjutkan keturunan manusia ada tiga yaitu Sam, Ham dan Yafidz.[16]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Ash-Shallabi, Ali Muhammad (2020). Nuh: Peradaban Manusia Kedua. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. hlm. 119. ISBN 978-979-592-901-7. 
  2. ^ a b Hadi 2021, hlm. 115.
  3. ^ a b Aizid 2019, hlm. 72.
  4. ^ El-Fikri 2010, hlm. 25-26.
  5. ^ El-Fikri 2010, hlm. 26.
  6. ^ Aizid 2019, hlm. 71.
  7. ^ Jauzi 2020, hlm. 25.
  8. ^ Jauzi 2020, hlm. 25-26.
  9. ^ Jauzi 2020, hlm. 26.
  10. ^ Fikri 2018, hlm. 10.
  11. ^ Fikri 2018, hlm. 9-10.
  12. ^ Aizid 2019, hlm. 74.
  13. ^ Aizid 2019, hlm. 75.
  14. ^ Fikri 2018, hlm. 12-13.
  15. ^ Hadi 2021, hlm. 127-128.
  16. ^ a b Aizid 2019, hlm. 69.
  17. ^ Aizid 2019, hlm. 70.
  18. ^ El-Fikri 2010, hlm. 30.
  19. ^ El-Fikri 2010, hlm. 31-32.
  20. ^ El-Fikri 2010, hlm. 32.
  21. ^ El-Fikri 2010, hlm. 33.
  22. ^ Aizid 2019, hlm. 68.
  23. ^ Aizid 2019, hlm. 68-69.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]