Mitratel

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk
Mitratel
Perseroan terbatas
Kode emitenIDX: MTEL
IndustriTelekomunikasi
Didirikan18 Oktober 1995; 26 tahun lalu (1995-10-18)
Kantor
pusat
Jakarta, Indonesia
Wilayah operasi
Indonesia
Tokoh
kunci
Theodorus Ardi Hartoko[1]
(Direktur Utama)
Herlan Wijanarko[1]
(Komisaris Utama)
ProdukInfrastruktur telekomunikasi
PendapatanKenaikanRp 6,87 triliun (2021)[2]
KenaikanRp 1,38 Triliun (2021)[2]
Total asetKenaikanRp 57,73 triliun (2021)
Total ekuitasKenaikanRp 33,65 triliun (2021)
PemilikTelkom Indonesia
Karyawan
528 (2020)[2]
Anak
usaha
PT Persada Sokka Tama
Situs webwww.mitratel.co.id

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (berbisnis dengan nama Mitratel) adalah anak usaha Telkom Indonesia yang bergerak di bidang penyediaan infrastruktur telekomunikasi. Untuk mendukung kegiatan bisnisnya, perusahaan ini memiliki empat kantor area, yakni di Medan, Jakarta, Surabaya, dan Makassar. Hingga akhir tahun 2020, perusahaan ini memiliki 18.473 menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh Indonesia.[2][1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Perusahaan ini memulai sejarahnya pada tahun 1995[3] di Kalimantan dengan nama PT Dayamitra Malindo dan sahamnya dimiliki oleh beberapa perusahaan asal Indonesia dan luar Indonesia.[3] Struktur kepemilikan saham perusahaan ini pun sempat berubah beberapa kali.[3] Pada tanggal 3 Desember 2004, seluruh saham perusahaan ini resmi dipegang oleh Telkom Indonesia.[3] Pada tahun 2008, perusahaan ini menjadikan penyewaan menara telekomunikasi sebagai bisnis utamanya. Perusahaan ini kemudian mulai menyewakan menara telekomunikasinya ke Telkom Indonesia dan Excelcomindo Pratama. Pada tahun 2009, perusahaan ini mulai menyewakan menara telekomunikasinya ke Natrindo Telepon Seluler dan 3 Indonesia. Pada tahun 2010, penyewaan menara telekomunikasi ke Telkom Indonesia berakhir dan kemudian dilanjutkan oleh Telkomsel. Perusahaan ini lalu mendirikan sepuluh kantor regional di seluruh Indonesia dan meneken perjanjian untuk dapat menjadi agen penyewaan bagi menara telekomunikasi milik Telkom Indonesia, Telkomsel, dan XL Axiata. Perusahaan ini kemudian mulai menyediakan jasa perawatan untuk menara telekomunikasi milik Telkomsel. Pada tahun 2011, perusahaan ini mulai menyewakan menara telekomunikasinya ke Indosat dan Smartfren. Perusahaan ini juga mulai mengelola 1.401 unit menara telekomunikasi milik Divisi Infratel dan DTF dari Telkom Indonesia. Perusahaan ini kemudian mulai menyediakan jasa perawatan untuk 2.337 unit menara telekomunikasi milik Telkom Flexi. Perusahaan ini lalu mulai membangun menara IBS di sembilan gedung. Perusahaan ini kemudian mengakuisisi 913 menara IBS dan mulai menawarkan 1.300 menara IBS milik Telkomsel ke operator telekomunikasi lain. Pada tahun 2011 juga, untuk pertama kalinya, perusahaan ini membangun menara BTS di sebuah hotel di Sentul. Perusahaan ini kemudian bekerja sama dengan Telkom Indonesia untuk menyiapkan pembangunan wifi.id. Pada tahun 2012, perusahaan ini bermitra dengan Le Blanc Technologies untuk membangun 54 unit menara telekomunikasi di Timor Leste milik Telin. Perusahaan ini kemudian membeli 56 unit CDC milik Indo Matra Lestari. Pada tahun 2016, perusahaan ini menjadi yang pertama di Indonesia untuk memiliki 1.000 unit smartpole, yakni menara telekomunikasi dengan ketinggian kurang dari 20 meter. Pada tahun 2017, perusahaan ini telah memiliki 10.000 unit menara telekomunikasi. Pada tahun 2019, perusahaan ini mengakuisisi Persada Sokka Tama yang memiliki 1.017 unit menara telemunikasi[4] dan mengakuisisi 2.100 unit menara telekomunikasi milik Indosat Ooredoo.[5] Pada tahun 2020, perusahaan ini mengakuisisi 6.050 unit menara telekomunikasi milik Telkomsel.[1][2]

Mitratel bisnis penyewaan menara pemancar[sunting | sunting sumber]

Saat ini perusahaan telah menyediakan penyewaan tower untuk beberapa operator telekomunikasi antara lain: PT. Telekomunikasi Seluler, PT. XL Axiata, Tbk, PT. Indosat, Tbk, PT. Axis Telekom Indonesia, PT. Hutchison 3 CP Telecommunications, PT. Bakrie Telecom, Tbk, PT. Smartfren Telecom, Tbk, Divisi Telkom Flexi yang tersebar di wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, Banten, Jawa Timur,Bali, Nusa Tenggara, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Batam, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku dan Papua.[3]

Saat ini, Mitratel tengah mengembangkan layanan penyediaan mircrocell dan multi operator in-building solution (indoor antenna-pico).[3]

Monetisasi Mitratel[sunting | sunting sumber]

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk atau Telkom berencana merealisasikan rencana monetisasi Mitratel pada tahun 2015.[6] Aset-aset Mitratel akan dilepas ke Tower Bersama Infrastructure.[7] Pelepasan aset-aset tersebut dinilai akan merugikan negara oleh beberapa pihak, salah satunya oleh Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra).[7][8]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d "Profil Perusahaan". PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. Diakses tanggal 2 Januari 2022. 
  2. ^ a b c d e "Laporan keuangan 2021" (PDF). PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. Diakses tanggal 2 Januari 2022. 
  3. ^ a b c d e f (Indonesia) Mitratel. "About Mitratel". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-01-18. Diakses tanggal 23-Januari-2015. 
  4. ^ "Perkuat Jaringan, Anak Usaha Telkom Akuisisi Persada Sokka". cnbcindonesia.com. Diakses tanggal 9 Januari 2020. 
  5. ^ "Indosat Ooredoo Akhirnya Selesaikan Transaksi Penjualan 2.100 Menara ke Mitratel". liputan6.com. Diakses tanggal 9 Januari 2020. 
  6. ^ (Indonesia) Tempo. "Telkom Lepas Mitratel Tahun 2015". Diakses tanggal 23-Januari-2015. 
  7. ^ a b (Indonesia) Okezone. "Barter Mitratel Telkom Dinilai Rugikan Negara". Diakses tanggal 23-Januari-2015. 
  8. ^ (Indonesia) Tempo. "Pemerintah Diminta Batalkan Penjualan Mitratel". Diakses tanggal 23-Januari-2015.