Metafisika

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Metafisik)
Lompat ke: navigasi, cari

Metafisika adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan proses analitis atas hakikat fundamental mengenai keberadaan dan realitas yang menyertainya.[1] Kajian mengenai metafisika umumnya berporos pada pertanyaan mendasar mengenai keberadaan dan sifat-sifat yang meliputi realitas yang dikaji. Pemaknaan mengenai metafisika bervariasi dan setiap masa dan filsuf tentu memiliki pandangan yang berbeda.[1] Secara umum topik analisis metafisika meliputi pembahasan mengenai eksistensi, keberadaan aktual dan karakteristik yang menyertai, ruang dan waktu, relasi antar keberadaan seperti pembahasan mengenai kausalitas, posibilitas, dan pembahasan metafisis lainnya.

Mengingat jangkauan kajian yang dipusatkannya, metafisika menjadi sebuah disiplin yang fundamental dalam kajian filsafat. Sepanjang sejarah kefilsafatan, metafisika menjangkau problem-problem klasik dalam filsafat teoretis. Umumnya kajian metafisika menjadi "batu pijakan" atas struktur gagasan kefilsafatan dan prinsip-prinsip yang lebih kompleks untuk menjelaskan problem lainnya. Sehingga, dalam pemahaman metafisika klasik, metafisika membahas pertanyaan-pertanyaan mendasar yang jawaban-jawaban atasnya dapat digunakan menjadi dasar bagi pertanyaan yang lebih kompleks. Misalnya: adakah maksud utama dalam beradanya dunia ini? Lalu apakah keberadaannya sebatas keberadaan yang "mengada" atau dependen terhadap keberadaan lainnya?; Apakah tuhan/tuhan-tuhan ada? Lalu, jika ada, apa saja hal-hal yang bisa manusia tahu/tidak tahu tentangnya?; Benarkah terdapat hal semacam intellectus, terutama dalam pembahasan mengenai pembedaan antara problem pemisahan entitas jiwa–badan?; Apakah jiwa sesuatu yang nyata, dan apakah ia berkehendak bebas?; Apakah segalanya tetap atau berubah? Apakah terdapat hal atau relasi yang selalu bersifat tetap yang bekerja dalam berbagai fenomena?; dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang sejenis.

Objek bahasan metafisika bukan semata-mata hal-hal empiri atau hal-hal yang dapat dijangkau oleh pengamatan individual, melainkan hal-hal atau aspek-aspek yang menjadi dasar atas realitas itu sendiri. Klaim-klaim atas metode dan objek kajian metafisika telah menjadi problem perenial kefilsafatan.

Pembahasan mengenai metafisika memiliki berbagai subbahasan. Misalnya pembahasan sentral metafisika adalah ontologi, yaitu proses analitis dan penggalian atas klasifikasi berdasarkan prinsip-prinsip kategori keberadaan dan relasi di antaranya. Bahasan sentral lainnya adalah kosmologi metafisik, yaitu kajian mendalam atas prinsip keberadaan dunia, realitas, asal mula, dan makna keberadaan atasnya.

Sejarah Konsep[sunting | sunting sumber]

Kata "metafisika" dicatut dari set karya Aristoteles yang terdiri dari 14 kelompok karya tentang problem-problem filosofis. Pada mulanya tidak terdapat nama untuk merujuk kajian kefilsafatan ini, hingga Andronikus dari Rodesia menyusun karya-karya filsafat Aristotelian dengan delapan buku di luar label "Fisika" dinamai τὰ μετὰ τὰ φυσικά βιβλία (tà metà tà Physika biblia; buku/karya (yang adalah) setelah/disamping Fisika). Sehingga timbul istilah "Metafisika" yang, secara turun temurun berbelok maknanya dan dimengerti sebagai "sesuatu/ilmu di balik fisika/kulit terluar (yang menutupi sesuatu)".

Terdapat berbagai pemahaman atas maksud kata Metafisika sebenarnya dan menjadi problem bagi para filsuf dan sejarawan hingga kini. Sehingga makna sebenarnya masih belum jelas, mengingat Arisoteles pun tidak menggunakan istilah tersebut untuk menamai teori-teori metafisikanya.[2] Kata "Metafisika" tidak pernah—pun jika pernah ada di masa Aristotelian—dipakai oleh Aristoteles sendiri, melainkan sering kali ia rujuk sebagai "filsafat asal".

Akan tetapi, para cendekiawan dan komentator mulai mempertanyakan dan mencari arti intrinsik di balik kepantasan atas kesesuaian nama yang diberikannya. Misalnya, metafisika dipahami oleh sebagian cendekiawan sebagai "ilmu atas dunia di luar physis (φύσις, biasanya diterjemahkan sebagai 'alam')"[3] yang, secara umum, dapat dipahami sebagai ilmu atas hal-hal imaterial. Lain halnya dengan Thomas Aquinas yang merujuk metafisika sebagai ilmu tinggi dari urutan kronologi atau pedagogi tahap studi filsafat. Sehingga ilmu metafisika dipahami sebagai "hal yang dipelajari setelah menguasai ilmu-ilmu yang berurusan dengan hal-hal fisik."[4]

Dasar-dasar[sunting | sunting sumber]

Topik bahasan metafisika[sunting | sunting sumber]

Tujuan utama kajian metafisika adalah pemahaman mengenai struktur dasar dan prinsip-prinsip realitas. Dengan pemahaman dan pandangan filsafat yang beragam, pemahaman metafisika dapat menjadi sesuatu yang khusus, yang umumnya mencakup pembahasan yang kaya.

Sebagai permisalan, metafisika klasik umumnya terdiri dari pertanyaan dasar seperti:

  • Mengapa keberadaan berada, dan bukan suatu ketiadaan?[5] (Seperti) apa realitas atas hal-hal yang "ada"—apa keberadaan dari yang "berada"?[6]

Sehingga, dapat disimpulkan, secara khusus metafisika klasik membahas topik seperti:

  • Apa konsep fundamental dan prinsip-prinsip ontologi untuk menganalisis Ada dan ketiadaan; kehendak dan nirkehendak; realitas dan kemungkinan; kebebasan dan kebutuhan; jiwa dan badan; dan lainnya?
  • Konsep apa yang menyusun setiap ide dalam pemahaman yang digunakan untuk mengkaji konsep metafisika yang diacu? Apa yang membuat hal tersebut berhubungan dengan ide yang diacu, apa yang membuatnya sahih dan valid? Misalnya:

Apa relasi antara "yang partikular" dan "yang universal" (seperti warna merah (universal) dari sekelompok mawar-mawar merah (partikular))?

Apakah kemerdekaan eksistensi individual (partikular) benar-benar ada dalam komunitas publik (universal)?

Apakah angka-angka (partikular) benar-benar ada dalam jaring-jaring realitas (universal)?

  • Apakah argumen yang diacu normatif atau deskriptif, ungkapan nilai atau pernyataan atas keberadaan? Apa berelasi dengan pemahaman atau pemahaman religius tertentu? Apa yang membuatnya benar? Apa terdapat hal-hal yang bersifat moralitas (nilai, fakta)? Bagaimana argumen yang diacu berelasi dengan elemen-elemen realitas?

Sistematika dan metodologi[sunting | sunting sumber]

Metafisika tradisional umumnya dibedakan menjadi metafisika umum dan metafisika khusus, dengan metafisika umum membahas ontologi dan metafisika khusus meliputi kajian metafisika dalam ranah spesifik seperti teologi, psikologi dan kosmologi.

  • Metafisika umum mempertanyakan klasifikasi paling umum dan, karena hal tersebut, meafisika umum berarti kajian mengenai hal-hal fundamental. Metafisika umum berurusan dengan keberadaan, karakteristik, dan relasi di antara keduanya.
  • Teologi rasional mempertanyakan causa prima, sebab pertama atas segala sesuatu. Misalnya keberadaan tuhan sebagai hal maha tinggi dan dasar dari realitas.
  • Psikologi rasional atau antropologi metafisik berurusan dengan jiwa atau esensi (manusia) sebagai substansi.
  • Kosmologi rasional berurusan dengan sifat keberadaan dunia.

Pemahaman metafisis dapat dipahami dengan metodologi yang berbeda:

  • Adalah sebuah proses deduktif atau spekulatif. Konsep metafisika dapat berawal dari sebuah perandaian yang merepresentasi realitas secara holistik. Hal tersebut misalnya Tuhan, yang-Ada, Monad, der Weltgeist, atau konsep keberadaan spekulatif lainnya.
  • Adalah sebuah proses induktif. Konsep metafisika didesain sebagai upaya untuk memahami gambaran besar dari pemahaman-pemahaman yang lebih praktis.
  • Adalah, dapat juga, sebagai sebuah proses reduktif. Konsep metafisika dipahami hanya sebagai spekulasi hiperbolis atas pemahaman atau asumsi yang telah ada.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b van Inwagen, Peter; Sullivan, Meghan (2016-01-01). Zalta, Edward N., ed. The Stanford Encyclopedia of Philosophy (Winter 2016 ed.). Metaphysics Research Lab, Stanford University. 
  2. ^ Schmidinger, H. M. (1954). Metaphysik : ein Grundkurs. Kohlhammer. ISBN 3170163086. OCLC 45542714. 
  3. ^ Lih. physis dalam Wiktionary.
  4. ^ St. Thomas Aquinas, Expositio in librum Boethii De hebdomadibus, V, 1
  5. ^ Pertanyaan ini merujuk pada "Grundfrage der Metaphysik" Martin Heidegger. Lih. Heidegger, Martin. Einführung in die Metaphysik.
  6. ^ Dalam hal ini, kata "ada" dimaknai sebagai sesuatu yang mengada secara ontologis. Terdapat berbagai pemahaman atas Ada yang dirujuk dalam filsafat Heideggerian. Untuk lebih lengkap, lihat pula berbagai problem fundamental dalam fenomenologi. Lih. Heidegger Gesamausgabe 137: "interpreted the ancient philosophy and understands the being of beings, the reality of the real, as a presence" dan 152: "what reality constituted of reality, the ideas [are] according to Plato himself the true reality."