Keberadaan

Keberadaan adalah kondisi memiliki eksistensi, wujud atau realitas yang berlawanan dengan ketiadaan dan ketidakberwujudan. Keberadaan sering dibedakan dari esensi: esensi atau hakikat suatu entitas adalah ciri atau kualitas esensialnya, yang dapat dipahami meskipun seseorang belum mengetahui apakah entitas itu benar-benar ada.
Ontologi adalah cabang filsafat yang mempelajari hakikat dan jenis keberadaan. Keberadaan tunggal adalah keberadaan entitas individu, sedangkan keberadaan umum merujuk pada eksistensi konsep atau universal. Entitas yang hadir dalam ruang dan waktu memiliki eksistensi konkret, berlawanan dengan entitas abstrak, seperti angka dan himpunan. Distingsi lain mencakup keberadaan mungkin, kontingen, dan niscaya, serta antara eksistensi fisik dan mental. Pandangan umum menyatakan bahwa suatu entitas ada atau tidak ada, tanpa ada keadaan di antaranya; tetapi beberapa filsuf berpendapat bahwa terdapat derajat keberadaan, yang berarti beberapa entitas ada pada tingkat yang lebih tinggi dibanding yang lain.
Posisi ortodoks dalam ontologi memandang keberadaan sebagai properti orde kedua, atau properti dari properti. Misalnya, untuk mengatakan bahwa singa ada berarti bahwa sifat "menjadi singa" dimiliki oleh suatu entitas. Pandangan lain melihat keberadaan sebagai properti orde pertama, atau properti individu, yang menyatakan bahwa keberadaan serupa dengan properti lain dari individu, seperti warna atau bentuk. Alexius Meinong dan para pengikutnya menerima gagasan ini dan menyatakan bahwa tidak semua individu memiliki properti ini; mereka berargumen bahwa terdapat individu, seperti Santa Claus, yang tidak ada. Sebaliknya, kaum universalist menolak pandangan ini; mereka memandang keberadaan sebagai properti universal dari setiap individu.
Konsep keberadaan telah dibahas sepanjang sejarah filsafat dan sudah memainkan peran dalam filsafat kuno, termasuk Filsafat pra-Sokratik di Yunani Kuno, filsafat Hindu dan Buddha di India Kuno, serta filsafat Dao di Tiongkok Kuno. Keberadaan relevan dalam bidang seperti logika, matematika, epistemologi, filsafat pikiran, filsafat bahasa, dan eksistensialisme.
Definisi dan istilah terkait
[sunting | sunting sumber]Keberadaan adalah kondisi memiliki realitas atau turut serta dalam kenyataan.[1] Keberadaan membedakan entitas nyata dari entitas imajiner,[2] dan dapat merujuk baik pada entitas individual maupun keseluruhan kenyataan.[3] Kata "existence" memasuki bahasa Inggris pada akhir abad ke-14 dari bahasa Prancis Kuno dan berakar dari istilah bahasa Latin Abad Pertengahan ex(s)istere, yang berarti "menyingsing", "muncul", dan "timbul".[4] Keberadaan dipelajari oleh cabang metafisika yang dikenal sebagai ontologi.[5][a]
Istilah "ada", "kenyataan", dan "aktualitas" sering digunakan sebagai sinonim dari "existence",[8] tetapi definisi tepat dari keberadaan dan hubungannya dengan istilah-istilah ini masih diperdebatkan.[9] Menurut metafisikawan Alexius Meinong (1853–1920), semua entitas memiliki ada tetapi tidak semua entitas memiliki keberadaan. Ia berpendapat bahwa objek yang hanya mungkin, seperti Sinterklas, memiliki ada tetapi tidak memiliki keberadaan.[10] Ontolog Takashi Yagisawa (abad 20–sekarang) membedakan keberadaan dengan kenyataan; ia memandang "kenyataan" sebagai istilah yang lebih mendasar karena berlaku untuk semua entitas, sementara keberadaan adalah istilah relatif yang menghubungkan entitas dengan dunia yang ditempatinya.[11] Menurut filsuf Gottlob Frege (1848–1925), aktualitas lebih sempit daripada keberadaan karena hanya entitas aktual yang dapat menimbulkan dan mengalami perubahan, berbeda dengan entitas non-aktual seperti bilangan dan himpunan.[12] Beberapa filsuf, seperti Edmund Husserl (1859–1938), memandang keberadaan sebagai konsep dasar yang tidak dapat didefinisikan tanpa melibatkan sirkularitas, sehingga menggambarkan hakikat keberadaan dengan cara yang bermakna menjadi sulit atau bahkan mustahil.[13]
Perdebatan mengenai hakikat keberadaan tercermin dalam perbedaan antara konsep keberadaan tipis dan konsep tebal. Konsep tipis memahami keberadaan sebagai sifat logis yang dimiliki setiap entitas yang ada, tanpa menyertakan isi substantif mengenai implikasi metafisik dari keberadaan itu. Salah satu pandangan menyatakan bahwa keberadaan sama dengan sifat logis dari hukum identitas. Pandangan ini merupakan konsep tipis karena hanya menyatakan bahwa apa yang ada identik dengan dirinya sendiri tanpa membahas sifat substantif dari keberadaan.[14] Konsep tebal melibatkan analisis metafisik mengenai apa arti keberadaan dan ciri esensial yang dimilikinya. Salah satu proposal menyatakan bahwa untuk ada berarti hadir dalam ruang dan waktu serta memiliki pengaruh pada entitas lain. Definisi ini kontroversial karena menyiratkan objek abstrak seperti bilangan tidak ada. Filsuf George Berkeley (1685–1753) menawarkan konsep tebal berbeda; ia menyatakan: "ada berarti dipersepsi", yang berarti semua keberadaan bersifat mental.[15]
Keberadaan berlawanan dengan ketidakadaan, yakni ketiadaan realitas. Apakah objek dapat dibagi menjadi entitas yang ada dan objek yang tidak ada masih menjadi perdebatan. Distingsi ini kadang digunakan untuk menjelaskan bagaimana mungkin memikirkan objek fiksi seperti naga atau unicorn, tetapi konsep objek yang tidak ada tidak diterima secara umum; beberapa filsuf menyebutnya kontradiktif.[16] Istilah terkait yang sering dikontraskan adalah ketiadaan dan ketidak-berwujudan.[17] Keberadaan umumnya dikaitkan dengan realitas yang independen dari pikiran,[18] tetapi posisi ini tidak diterima secara universal karena bisa ada bentuk keberadaan yang bergantung pada pikiran, seperti eksistensi sebuah gagasan dalam pikiran seseorang. Menurut beberapa idealis, hal ini mungkin berlaku untuk seluruh realitas.[19]
Perbedaan lain dibuat antara keberadaan dan esensi. Esensi merujuk pada hakikat intrinsik atau sifat-sifat yang menentukan suatu entitas. Esensi menentukan jenis entitas dan bagaimana perbedaannya dari entitas lain. Esensi berkaitan dengan apa sesuatu itu, sedangkan keberadaan berkaitan dengan fakta bahwa sesuatu itu ada. Misalnya, mungkin untuk memahami apa itu sebuah objek dan hakikatnya meski tidak mengetahui apakah objek itu benar-benar ada.[20] Beberapa filsuf membedakan antara entitas dan karakteristik mendasar yang membuatnya menjadi entitas tersebut.[21] Martin Heidegger (1889–1976) memperkenalkan konsep ini; ia menyebutnya perbedaan ontologis dan membedakan antara makhluk individual dengan ada. Menurut tanggapannya terhadap pertanyaan tentang keberadaan, ada bukanlah entitas, melainkan konteks latar yang membuat semua entitas individual dapat dimengerti.[22][b]
Jenis entitas yang ada
[sunting | sunting sumber]Banyak perbincangan mengenai jenis-jenis entitas yang ada berpusat pada perumusan definisi tiap jenis, ada atau tidak adanya entitas dari jenis tertentu, bagaimana hubungan antarjenis entitas, serta apakah ada jenis yang lebih mendasar dibandingkan yang lain.[24] Contohnya meliputi ada atau tidak adanya jiwa; apakah terdapat entitas abstrak, fiksional, dan universal; serta persoalan tentang eksistensi dunia mungkin dan objek-objek lain di luar dunia aktual.[25] Perdebatan ini menyinggung tentang hakikat paling dasar dari segala kenyataan serta ciri-ciri paling umum dari entitas.[26]
Tunggal dan umum
[sunting | sunting sumber]Ada pembedaan antara eksistensi tunggal dan eksistensi umum. Eksistensi tunggal adalah keberadaan entitas individual. Misalnya, kalimat "Angela Merkel ada" menyatakan keberadaan satu orang tertentu. Eksistensi umum, sebaliknya, menyangkut konsep-konsep, sifat, atau universal yang bersifat umum.[c] Sebagai contoh, kalimat "politikus ada" menyatakan bahwa istilah umum "politikus" memiliki perwujudan tanpa menunjuk kepada seorang politikus tertentu.[28]
Eksistensi tunggal dan umum saling terkait erat, dan sejumlah filsuf berusaha menjelaskan yang satu sebagai kasus khusus dari yang lain. Frege, misalnya, berpendapat bahwa eksistensi umum lebih mendasar daripada eksistensi tunggal. Salah satu argumennya adalah bahwa eksistensi tunggal dapat dirumuskan dalam kerangka eksistensi umum. Contohnya, kalimat "Angela Merkel ada" dapat dinyatakan sebagai "entitas yang identik dengan Angela Merkel ada", di mana ungkapan "identik dengan Angela Merkel" dipahami sebagai istilah umum. Sebaliknya, filsuf Willard Van Orman Quine (1908–2000) memberikan keutamaan pada eksistensi tunggal, dan berpendapat bahwa eksistensi umum justru dapat dijelaskan dalam istilah eksistensi tunggal.[29]
Pertanyaan lain yang berkaitan adalah apakah mungkin ada eksistensi umum tanpa eksistensi tunggal. Menurut filsuf Henry S. Leonard (1905–1967), suatu sifat hanya memiliki eksistensi umum jika ada sekurang-kurangnya satu objek aktual yang mengaktualisasikannya[d]. Sebaliknya, filsuf Nicholas Rescher (1928–2024) berpendapat bahwa sifat dapat ada walaupun tanpa perwujudan aktual, misalnya sifat "menjadi seekor unicorn".[31] Pertanyaan ini memiliki akar panjang dalam tradisi filsafat, terutama terkait dengan eksistensi universal. Menurut Platonisme, universal memiliki eksistensi umum sebagai bentuk Platonik yang berdiri sendiri, terlepas dari partikular[e] yang mewujudkannya. Dari sudut pandang ini, universal tentang "kemerahan" ada secara independen dari ada atau tidak adanya objek merah.[33] Aristotelianisme juga menerima keberadaan universal, tetapi menekankan bahwa keberadaan itu bergantung pada partikular yang mengaktualisasikannya, dan universal tidak mampu ada dengan sendirinya. Dalam pandangan ini, sebuah universal yang tidak hadir dalam ruang dan waktu tidaklah ada.[34] Adapun menurut nominalisme, hanya partikular yang sungguh-sungguh ada, sedangkan universal tidak memiliki keberadaan.[35]
Konkret dan abstrak
[sunting | sunting sumber]Dalam ranah ontologi, terdapat pembedaan berpengaruh antara objek konkret dan objek abstrak. Objek konkret, seperti batu, tumbuhan, dan manusia lain, hadir dalam keseharian kita. Mereka berdiam dalam ruang dan waktu, serta saling memberi akibat: batu yang jatuh menimpa tumbuhan dan merusaknya, atau sebaliknya, tumbuhan yang tumbuh menembus batu hingga memecahkannya. Objek abstrak, seperti bilangan, himpunan, dan jenis, tidak memiliki tempat dalam ruang dan waktu serta tidak memiliki daya kausal.[36] Pembedaan antara yang konkret dan yang abstrak kadang dianggap sebagai pembagian paling mendasar dari segala wujud.[37]
Keberadaan objek konkret hampir tidak pernah diperdebatkan, tetapi pandangan tentang objek abstrak terbagi. Kaum realis, seperti Plato, menerima bahwa objek abstrak memiliki keberadaan mandiri.[38] Sebagian realis berpendapat bahwa objek abstrak memiliki modus keberadaan yang sama dengan objek konkret; sebagian lain menyatakan bahwa keberadaannya berbeda.[39] Kaum anti-realis menolak keberadaan objek abstrak, biasanya dengan alasan bahwa keberadaan menuntut kedudukan dalam ruang dan waktu atau kemampuan untuk berinteraksi secara kausal.[40]
Mungkin, kontingen, dan niscaya
[sunting | sunting sumber]Pembedaan lain dalam filsafat wujud adalah antara yang semata-mata mungkin, yang kontingen, dan yang niscaya.[41] Suatu entitas memiliki keberadaan niscaya bila ia harus ada dan mustahil tiada. Artinya, entitas demikian tidak dapat diciptakan dari ketiadaan ataupun dimusnahkan. Entitas yang ada tetapi dapat tiada disebut kontingen; sementara itu, entitas yang hanya mungkin tidak hadir dalam kenyataan, tetapi bisa saja ada.[42]
Sebagian besar entitas yang dijumpai dalam keseharian, seperti telepon, tongkat, dan bunga, memiliki keberadaan kontingen.[43] Kekontingenan telepon tampak dari kenyataan bahwa ia kini ada, tetapi di masa lampau belum dikenal; artinya, keberadaannya bukanlah keharusan. Pertanyaan tetap terbuka: adakah entitas yang benar-benar memiliki keberadaan niscaya?[44] Menurut sebagian kaum nominalis, seluruh objek konkret bersifat kontingen, sementara objek abstrak memiliki keberadaan niscaya.[45]
Sejumlah pemikir berpendapat bahwa diperlukan satu atau beberapa wujud niscaya sebagai landasan penjelasan kosmos. Sebagai contoh, Avicenna (980–1037) dan Thomas Aquinas (1225–1274) menegaskan bahwa Tuhan adalah wujud yang niscaya.[46] Filsuf lain, seperti Baruch Spinoza (1632–1677), menyamakan Tuhan dengan alam, dan menegaskan bahwa seluruh entitas memiliki keberadaan niscaya demi memberikan penjelasan yang menyatu dan rasional bagi segala sesuatu.[47]
Banyak perdebatan akademis berpusat pada keberadaan entitas yang hanya mungkin. Menurut aktualisme, hanya entitas aktual yang benar-benar memiliki wujud; ini mencakup entitas kontingen maupun niscaya, tetapi menolak yang semata-mata mungkin.[48] Kaum possibilis menolak pandangan ini, dengan menyatakan bahwa entitas yang hanya mungkin juga ada di samping yang aktual.[49] Filsuf metafisika David Lewis (1941–2001), misalnya, berpendapat bahwa objek yang mungkin ada sama sungguhnya dengan objek aktual, sehingga pernyataan tentang kemungkinan dan keniscayaan memperoleh dasar yang kukuh. Menurutnya, objek yang mungkin ada berdiam di dunia-dunia mungkin, sementara objek aktual ada di dunia aktual. Lewis menyatakan bahwa satu-satunya perbedaan antara dunia mungkin dan dunia aktual adalah kedudukan sang pembicara; istilah "aktual" menunjuk pada dunia tempat si pembicara berada, sebagaimana kata "di sini" dan "kini" menunjuk pada lokasi ruang dan waktu pembicara.[50]
Persoalan mengenai keberadaan kontingen dan niscaya terkait erat dengan pertanyaan ontologis mengapa ada sesuatu alih-alih ketiadaan sama sekali. Menurut satu pandangan, keberadaan sesuatu bersifat kontingen, sehingga dunia bisa saja sepenuhnya kosong. Namun, bila ada entitas niscaya, maka mustahil mereka tidak ada. Dalam kasus demikian, ketiadaan mutlak menjadi mustahil, sebab dunia sekurang-kurangnya harus mengandung segala entitas niscaya.[51]
Fisik dan mental
[sunting | sunting sumber]Entitas yang hadir pada tataran fisik mencakup benda-benda yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, seperti batu, pepohonan, dan tubuh manusia, serta entitas yang dibicarakan dalam fisika modern, seperti elektron dan proton.[52][f] Entitas fisik dapat diamati dan diukur; ia memiliki massa serta keberadaan dalam ruang dan waktu.[54]
Entitas mental seperti persepsi, pengalaman akan nikmat dan derita, serta keyakinan, kehendak, dan emosi, termasuk dalam ranah batin; mereka terutama berkaitan dengan pengalaman sadar, tetapi juga meliputi keadaan tak-sadar seperti keyakinan, keinginan, dan ingatan yang tersembunyi.[55]
Masalah budi-tubuh menyangkut status ontologis serta hubungan antara entitas fisik dan mental, dan menjadi tema yang kerap dibicarakan dalam metafisika serta filsafat budi.[g]
Menurut materialisme, hanya entitas fisiklah yang benar-benar ada pada aras paling mendasar. Kaum materialis biasanya menjelaskan entitas mental dalam istilah proses-proses fisik; misalnya sebagai keadaan otak atau pola aktivasi saraf.[57]
Sebaliknya, idealisme,[h] sebuah pandangan minoritas dalam filsafat kontemporer,[59] menolak materi sebagai yang utama, dan justru memandang jiwa sebagai realitas terdalam.[60]
Kaum dualis seperti René Descartes (1596–1650) meyakini bahwa baik entitas fisik maupun entitas mental sama-sama hadir pada aras paling dasar keberadaan. Mereka berpendapat keduanya saling terhubung dengan berbagai cara, tetapi tidak dapat direduksi satu ke yang lain.[61]
Jenis lainnya
[sunting | sunting sumber]Entitas fiksional adalah entitas yang hadir sebagai ciptaan di dalam karya fiksi.[i] Sebagai contoh, Sherlock Holmes adalah tokoh fiksi dalam karya Arthur Conan Doyle, A Study in Scarlet; sementara karpet terbang adalah objek fiksional dalam kisah rakyat Seribu Satu Malam.[63] Menurut pandangan antirealisme, entitas fiksional tidak benar-benar membentuk bagian dari kenyataan dalam arti yang substansial. Sebaliknya, para posibilis melihat entitas fiksional sebagai subkelas dari objek-objek yang mungkin ada; sedangkan para kreasionis berpendapat bahwa ia merupakan artefak yang keberadaannya bergantung pada pengarang yang pertama kali mencetuskannya.[64]
Keberadaan intensional adalah gejala serupa yang menyangkut keberadaan objek-objek di dalam keadaan mental. Hal ini terjadi ketika seseorang mempersepsi atau memikirkan suatu objek. Dalam sebagian kasus, objek intensional itu sepadan dengan objek nyata di luar keadaan mental, misalnya ketika seseorang benar-benar melihat sebatang pohon di taman. Namun, dalam kasus lain, objek intensional tidak memiliki padanan nyata, seperti ketika seseorang membayangkan tentang Bigfoot. Masalah keberadaan intensional adalah tantangan untuk menjelaskan bagaimana mungkin seseorang memikirkan entitas yang tidak ada, sebab hal ini seolah-olah menyiratkan paradoks bahwa pemikir tersebut berada dalam suatu relasi dengan sesuatu yang sama sekali tidak eksis.[65]
Ragam dan derajat keberadaan
[sunting | sunting sumber]Terkait erat dengan persoalan tentang berbagai jenis entitas adalah pertanyaan apakah ragam keberadaan mereka pun berbeda. Inilah yang ditegaskan oleh pluralisme ontologis, yang menyatakan bahwa entitas yang termasuk ke dalam jenis berbeda tidak hanya berbeda dalam ciri-ciri hakikinya, melainkan juga dalam cara keberadaannya.[66] Pandangan ini kadang ditemukan dalam teologi; di sana ditegaskan bahwa Tuhan sama sekali berbeda dari ciptaan-Nya, dan keunikan-Nya ditegaskan dengan mengatakan bahwa perbedaan itu mencakup baik sifat-sifat Ilahi maupun cara Tuhan berada.[67]
Bentuk lain dari pluralisme ontologis membedakan keberadaan benda-benda material dari keberadaan ruang-waktu. Menurut pandangan ini, benda-benda material memiliki keberadaan yang bersifat relatif karena mereka ada di dalam ruang-waktu; sedangkan keberadaan ruang-waktu itu sendiri tidak bersifat relatif dalam pengertian ini, sebab ia sekadar ada tanpa berada di dalam ruang-waktu lain.[68]
Topik tentang derajat keberadaan berhubungan erat dengan persoalan ragam keberadaan. Gagasannya ialah bahwa sebagian entitas memiliki tingkat keberadaan yang lebih tinggi, atau "lebih sungguh ada," dibanding entitas lain, mirip dengan sifat-sifat tertentu—seperti panas dan massa—yang dapat hadir dalam kadar yang berbeda. Menurut filsuf Plato (428/427–348/347 SM), misalnya, bentuk Platonik yang tidak berubah memiliki derajat keberadaan yang lebih tinggi daripada benda-benda fisik.[69]
Pandangan bahwa terdapat berbagai jenis entitas lazim ditemui dalam metafisika. Namun, gagasan bahwa entitas-entitas itu juga berbeda dalam ragam atau derajat keberadaannya sering ditolak. Penolakan ini menyiratkan bahwa sesuatu itu hanya ada atau tidak ada, tanpa ada kemungkinan di antara keduanya.[70] Filsuf metafisika Peter van Inwagen (1942–kini) menggunakan gagasan tentang keterkaitan erat antara keberadaan dan kuantifikasi untuk menentang konsep ragam keberadaan. Kuantifikasi berhubungan dengan penghitungan objek; menurut Inwagen, jika memang terdapat ragam keberadaan, maka manusia akan memerlukan jenis angka yang berbeda untuk menghitung tiap ragam itu. Karena angka yang sama dapat digunakan untuk menghitung berbagai jenis entitas, ia menyimpulkan bahwa semua entitas memiliki ragam keberadaan yang serupa.[71]
Teori tentang hakikat keberadaan
[sunting | sunting sumber]
Teori-teori mengenai hakikat keberadaan berusaha menjelaskan apa arti "ada" bagi sesuatu. Perdebatan sentral dalam wacana akademis tentang keberadaan adalah apakah keberadaan itu sendiri merupakan sebuah sifat dari individu.[73] "Individu" di sini menunjuk pada entitas yang unik, seperti Sokrates atau sebuah apel tertentu. Sementara itu, "sifat" adalah sesuatu yang disandarkan pada suatu entitas, misalnya "menjadi manusia" atau "berwarna merah", yang biasanya mengekspresikan suatu kualitas atau ciri dari entitas tersebut.[74]
Dua teori utama tentang keberadaan adalah teori tataran-pertama dan tataran-kedua. Teori tataran-pertama memahami keberadaan sebagai sifat dari individu, sementara teori tataran-kedua menyatakan bahwa keberadaan adalah sifat tingkat kedua—yakni, sifat dari sifat-sifat.[75]
Salah satu tantangan utama dalam teori tentang hakikat keberadaan adalah memahami kemungkinan untuk secara koheren menolak keberadaan sesuatu, sebagaimana dalam pernyataan: "Santa Klaus tidak ada." Kesulitannya terletak pada bagaimana menjelaskan bahwa nama "Santa Klaus" tetap bermakna, meskipun tidak ada Santa Klaus.[76]
Teori Orde-Kedua
[sunting | sunting sumber]Teori orde-kedua memahami keberadaan bukan sebagai sifat orde-pertama, melainkan sebagai sifat orde-kedua. Pandangan ini kerap dianggap sebagai posisi ortodoks dalam ontologi.[77] Misalnya, Empire State Building adalah sebuah objek individual, dan "memiliki tinggi 4.432 meter (14.541 ft)*" merupakan sifat orde-pertama darinya. Sementara itu, "terwujud dalam kenyataan" adalah sifat dari "memiliki tinggi 443,2 meter", dan karena itu termasuk sifat orde-kedua. Menurut teori orde-kedua, berbicara tentang eksistensi berarti berbicara tentang sifat-sifat mana yang benar-benar memiliki perwujudan.[78] Sebagai contoh, pandangan ini menafsirkan kalimat "Tuhan ada" bukan sebagai "Tuhan memiliki sifat keberadaan", melainkan sebagai "Ketuhanan itu terwujud".[2]
Salah satu alasan pokok menolak pemahaman bahwa eksistensi adalah sifat dari individu ialah karena eksistensi berbeda dari sifat-sifat biasa. Sifat-sifat biasa, seperti menjadi sebuah bangunan atau bertinggi 443,2 meter, mengungkapkan bagaimana rupa suatu objek, tetapi tidak langsung menjelaskan apakah bangunan itu benar-benar ada.[79] Menurut pandangan ini, eksistensi lebih mendasar daripada sifat-sifat biasa, sebab sebuah objek tidak dapat memiliki sifat apa pun bila ia sendiri tidak ada.[80]
Bagi para pendukung teori orde-kedua, eksistensi bukan diekspresikan oleh predikat, melainkan oleh kuantor.[81] Predikat adalah ungkapan yang dilekatkan pada objek untuk menggolongkan atau menyifatkannya, seperti "seekor kupu-kupu" atau "merasa bahagia".[82] Sedangkan kuantor adalah ungkapan yang berbicara tentang jumlah objek yang memiliki sifat tertentu. Kuantor eksistensial menandakan bahwa ada sekurang-kurangnya satu objek, sebagaimana ungkapan "beberapa" atau "ada", misalnya dalam kalimat "beberapa sapi makan rumput" atau "ada bilangan prima genap".[83] Dengan demikian, eksistensi erat kaitannya dengan penghitungan, sebab menyatakan bahwa sesuatu itu ada berarti menegaskan bahwa konsep tersebut memiliki satu atau lebih perwujudan.[78]
Dari sudut pandang ini, kalimat seperti "mamalia bertelur ada" dianggap menyesatkan karena kata "ada" dipakai sebagai predikat. Pandangan orde-kedua menilai bentuk logis yang benar sebaiknya dirumuskan ulang sebagai "ada entitas yang merupakan mamalia bertelur". Dalam struktur ini, "ada" berperan sebagai kuantor, sementara "mamalia bertelur" adalah predikatnya. Dengan cara yang sama, pernyataan eksistensial negatif juga dapat dijelaskan melalui konstruksi kuantor; misalnya, kalimat "harimau yang pandai berbicara tidak ada" dapat diformulasikan sebagai "bukanlah kasus bahwa ada harimau yang pandai berbicara".[84]

Banyak ontolog menerima bahwa teori orde-kedua memberi analisis yang tepat bagi berbagai jenis kalimat eksistensial. Namun demikian, masih diperdebatkan apakah teori ini berlaku untuk semua kasus.[85] Beberapa persoalan muncul karena asumsi bahasa sehari-hari terhadap kalimat seperti "Ronald McDonald tidak ada". Kalimat jenis ini disebut eksistensial singular negatif, dan ungkapan Ronald McDonald merupakan istilah singular yang tampak seakan-akan menunjuk pada seorang individu. Namun, tidak jelas bagaimana ungkapan itu dapat merujuk pada individu jika, sebagaimana ditegaskan kalimat tersebut, individu itu tidak ada. Menurut sebuah solusi yang diajukan filsuf Bertrand Russell (1872–1970), istilah singular sesungguhnya tidak menunjuk langsung pada individu, melainkan berfungsi sebagai deskripsi tentang individu. Dengan demikian, eksistensial singular negatif tidak merujuk pada individu yang tidak ada, melainkan menolak adanya objek yang cocok dengan deskripsi tertentu. Dalam kerangka ini, kalimat "Ronald McDonald tidak ada" sejatinya mengandung makna: "tidaklah benar bahwa ada badut hamburger yang bahagia dan unik".[86]
Teori Orde-Pertama
[sunting | sunting sumber]Menurut teori orde-pertama, eksistensi dipandang sebagai suatu sifat yang melekat pada individu. Teori-teori ini tidak sepopuler teori orde-kedua, tetapi tetap memiliki sejumlah pendukung berpengaruh. Terdapat dua jenis teori orde-pertama: Meinongianisme dan universalisme.[87]
Meinongianisme
[sunting | sunting sumber]Meinongianisme, yang memandang eksistensi sebagai sifat dari sebagian namun bukan seluruh entitas, pertama kali dirumuskan oleh Alexius Meinong. Pokok gagasannya ialah bahwa terdapat entitas yang tidak eksis, sehingga keobjekan bersifat terlepas dari eksistensi. Contoh yang diajukan bagi objek-objek non-eksisten mencakup objek-objek yang mungkin belaka, seperti babi terbang, maupun tokoh fiksi dan mitologi seperti Sherlock Holmes dan Zeus. Menurut pandangan ini, objek-objek tersebut nyata dan memiliki keberadaan tertentu, meskipun mereka tidak eksis.[88] Meinong menyatakan bahwa ada objek bagi setiap kombinasi sifat. Sebagai contoh, terdapat sebuah objek yang hanya memiliki satu sifat, yakni "menjadi seorang penyanyi", tanpa sifat lain apa pun. Dengan demikian, atribut "memakai gaun" maupun ketiadaannya tidak berlaku pada objek tersebut. Meinong juga memasukkan objek-objek mustahil seperti persegi bulat ke dalam klasifikasi ini.[89]

Menurut para penganut Meinongianisme, kalimat yang mendeskripsikan Sherlock Holmes dan Zeus merujuk pada objek-objek non-eksisten. Kalimat-kalimat tersebut dapat bernilai benar atau salah bergantung pada apakah objek-objek itu memiliki sifat yang dilekatkan kepadanya.[90] Sebagai contoh, kalimat "Pegasus memiliki sayap" adalah benar karena "memiliki sayap" merupakan sifat Pegasus, meskipun Pegasus tidak memiliki sifat eksis.[91]
Salah satu motivasi utama Meinongianisme adalah menjelaskan bagaimana pernyataan negatif singular tentang eksistensi, seperti "Ronald McDonald tidak eksis", dapat bernilai benar. Penganut Meinongianisme menerima gagasan bahwa istilah singular seperti "Ronald McDonald" tetap merujuk pada individu. Bagi mereka, suatu pernyataan negatif singular mengenai eksistensi bernilai benar apabila individu yang dirujuk memang tidak eksis.[92]
Meinongianisme memiliki implikasi penting bagi pemahaman tentang kuantifikasi. Menurut pandangan berpengaruh yang dibela oleh Willard Van Orman Quine, ranah kuantifikasi dibatasi hanya pada objek-objek yang eksis. Pandangan ini mengandaikan bahwa kuantor mengandung komitmen ontologis mengenai apa yang ada dan apa yang tidak. Meinongianisme berbeda dengan pandangan ini karena menyatakan bahwa ranah kuantifikasi yang paling luas mencakup baik objek yang eksis maupun yang tidak eksis.[72]
Beberapa aspek dari Meinongianisme bersifat kontroversial dan telah menuai kritik yang cukup besar. Salah satu keberatan menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang jelas antara "menjadi sebuah objek" dan "menjadi objek yang eksis".[91] Kritik lain yang berkaitan erat berpendapat bahwa objek tidak mungkin memiliki sifat jika mereka tidak eksis.[91] Keberatan lain menyatakan bahwa Meinongianisme menimbulkan "semesta yang terlalu padat" karena selalu ada objek untuk setiap kombinasi sifat.[72] Kritik yang lebih spesifik menolak gagasan bahwa terdapat objek yang tidak lengkap maupun yang mustahil.[93]
Universalisme
[sunting | sunting sumber]Kaum universalis sependapat dengan para pengikut Meinong bahwa keberadaan adalah sifat yang melekat pada individu. Namun, mereka menolak gagasan tentang adanya entitas yang tidak-ada. Bagi kaum universalis, keberadaan adalah suatu sifat universal; semua entitas memilikinya, sehingga segala sesuatu, tanpa kecuali, eksis. Salah satu pendekatan untuk menjelaskan hal ini adalah dengan mengatakan bahwa keberadaan itu identik dengan kesepadanan diri. Menurut hukum identitas, setiap objek adalah identik dengan dirinya sendiri, atau dengan kata lain, memiliki sifat kesepadanan diri. Dalam logika predikat, hal ini dapat dinyatakan sebagai .[94]
Salah satu argumen yang berpengaruh dalam mendukung universalisme adalah bahwa penolakan terhadap keberadaan sesuatu mengandung kontradiksi. Kesimpulan ini berpangkal pada premis bahwa seseorang hanya dapat menyangkal keberadaan sesuatu dengan merujuk pada entitas tersebut, dan bahwa rujukan hanya mungkin kepada entitas yang memang ada.[94]
Kaum universalis mengajukan berbagai cara dalam menafsirkan kalimat eksistensial tunggal-negatif. Menurut salah satu pandangan, nama dari tokoh-tokoh fiksi seperti "Ronald McDonald" sesungguhnya merujuk pada objek abstrak, yang tetap eksis meskipun tidak berada dalam ruang dan waktu. Dari sudut pandang ini, setiap pernyataan eksistensial tunggal-negatif adalah salah, termasuk klaim bahwa "Ronald McDonald tidak ada". Namun, kaum universalis dapat menafsirkan kalimat semacam itu secara lebih longgar bergantung pada konteks. Dalam percakapan sehari-hari, misalnya, ketika seseorang berkata "Ronald McDonald tidak ada", maksudnya adalah bahwa Ronald McDonald tidak ada sebagai objek konkret, dan pernyataan ini memang benar.[95] Pendekatan lain menafsirkan kalimat eksistensial tunggal-negatif sebagai sesuatu yang tidak benar maupun tidak salah, melainkan tak bermakna, sebab istilah tunggal di dalamnya tidak merujuk pada apa pun.[96]
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Filsafat Barat
[sunting | sunting sumber]Filsafat Barat berakar pada para filsuf pra-Sokratik, yang berusaha menggantikan penjelasan mitologi Yunani tentang alam semesta dengan uraian rasional yang bertumpu pada prinsip-prinsip dasar segala keberadaan. Beberapa di antara mereka, seperti Thales (sekitar 624–545 SM) dan Herakleitos (sekitar 540–480 SM), mengajukan bahwa prinsip-prinsip konkrit seperti air dan api merupakan akar dari segala yang ada. Anaximandros (sekitar 610–545 SM) menentang pandangan ini; baginya, sumber sejati mesti terletak pada asas abstrak yang melampaui jangkauan persepsi manusia.[97]

Plato (428/427–348/347 SM) berpendapat bahwa berbagai jenis entitas memiliki derajat keberadaan yang berbeda: bayangan dan citra hanya ada dalam arti yang lebih lemah dibanding benda material. Menurutnya, bentuk Platonik yang tak berubah memiliki tingkat keberadaan tertinggi, sementara benda-benda material hanyalah salinan rapuh dan fana dari bentuk-bentuk Platonik itu.[98]
Filsuf Aristoteles (384–322 SM) menerima perbedaan Plato antara bentuk dan materi, namun ia menolak gagasan bahwa bentuk memiliki taraf keberadaan lebih tinggi. Menurutnya, bentuk tak mungkin ada tanpa materi.[99] Aristoteles menegaskan bahwa "ada" dikatakan dalam banyak cara, lalu meneliti bagaimana tiap jenis entitas memiliki modus keberadaan yang berbeda. Ia, misalnya, membedakan antara substansi dan aksiden, serta antara potensialitas dan aktualitas.[100][j]
Kaum Neoplatonis seperti Plotinos (204–270 M) mengajukan bahwa realitas memiliki struktur hierarkis. Mereka meyakini adanya entitas transenden yang disebut "Sang Esa" atau "Yang Baik", yang menjadi sumber segala keberadaan. Dari-Nya memancar akal budi, yang kemudian melahirkan jiwa dan akhirnya dunia material.[102]

Dalam filsafat abad pertengahan, Anselm dari Canterbury (1033–1109 M) merumuskan argumen ontologis yang berpengaruh, yakni upaya menurunkan keberadaan Tuhan dari gagasan tentang Tuhan itu sendiri. Anselm mendefinisikan Tuhan sebagai makhluk yang paling mungkin dipikirkan. Ia menalar bahwa makhluk yang hanya ada dalam pikiran tak dapat disebut sebagai yang paling agung, sehingga menyimpulkan bahwa Tuhan sungguh ada.[103]
Thomas Aquinas (1224–1274 M) membedakan antara esensi suatu hal dengan keberadaannya. Menurutnya, esensi menyatakan hakikat terdalam suatu benda. Ia menekankan bahwa seseorang dapat memahami apa suatu benda itu tanpa harus mengetahui apakah benda itu sungguh ada. Dari sini ia menyimpulkan bahwa keberadaan bukan bagian dari kualitas benda, melainkan sifat yang terpisah.[73] Aquinas juga menelaah persoalan penciptaan dari ketiadaan, dan menegaskan hanya Tuhan yang mampu menghadirkan sesuatu ke dalam keberadaan secara mutlak. Pemikiran ini kemudian mengilhami filsuf Gottfried Wilhelm Leibniz (1646–1716), yang berpendapat bahwa mencipta berarti menganugerahkan keberadaan nyata pada objek-objek yang mungkin.[104]
Para filsuf David Hume (1711–1776) dan Immanuel Kant (1724–1804) menolak pandangan bahwa keberadaan adalah sebuah sifat. Bagi Hume, benda hanyalah himpunan kualitas. Ia menegaskan bahwa keberadaan bukanlah sifat karena tak ada kesan terpisah tentang "ada" selain sekumpulan kualitas itu.[105] Kant sampai pada kesimpulan serupa dalam kritiknya terhadap argumen ontologis: bukti itu gagal karena dari definisi suatu konsep tak dapat diturunkan apakah entitas yang dideskripsikan benar-benar ada. Menurutnya, keberadaan tidak menambahkan apapun pada konsep benda; ia hanya menandakan bahwa konsep itu terejawantah.[106] Sementara itu, filsuf Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770–1831) berpendapat tidak ada "ada murni" atau "tiada murni", yang ada hanyalah "menjadi".[107]

Filsuf sekaligus psikolog Franz Brentano (1838–1917) sejalan dengan kritik Kant, menolak gagasan bahwa keberadaan adalah predikat nyata. Ia membangun teori penilaiannya berdasarkan hal ini: semua penilaian bersifat eksistensial, yakni mengafirmasi atau menafikan keberadaan sesuatu. Baginya, pernyataan seperti "beberapa zebra bergaris" sesungguhnya berbentuk "ada zebra bergaris", sementara pernyataan "semua zebra bergaris" berarti "tidak ada zebra yang tak bergaris".[108]
Gottlob Frege (1848–1925) dan Bertrand Russell (1872–1970) berupaya memperhalus pemahaman tentang keberadaan sebagai sesuatu yang bukan sekadar sifat biasa. Mereka membedakan antara sifat-sifat tingkat pertama yang dimiliki individu dengan sifat-sifat tingkat kedua yang dimiliki oleh sifat itu sendiri. Menurut pandangan mereka, keberadaan adalah sifat tingkat kedua berupa "terinstansiasi".[109] Russell kemudian menekankan bahwa kalimat umum seperti "singa itu ada" pada hakikatnya menyatakan bahwa ada individu yang merupakan singa.[110]
Willard Van Orman Quine (1908–2000) mengikuti jejak Frege dan Russell dalam menerima keberadaan sebagai sifat tingkat kedua. Ia menautkan erat keberadaan dengan peran kuantifikasi dalam logika formal.[111] Gagasannya ini diterapkan pada teori ilmiah: suatu teori berkomitmen secara ontologis terhadap keberadaan entitas jika teori itu mengkuantifikasi entitas tersebut. Misalnya, bila sebuah teori biologi menyatakan "ada populasi dengan keragaman genetik", maka teori itu terikat pada keberadaan populasi dengan keragaman genetik.[112]
Sebaliknya, Alexius Meinong (1853–1920) tampil sebagai pengkritik berpengaruh atas teori sifat tingkat kedua, dengan pandangan alternatif bahwa keberadaan adalah sifat individu, dan tidak semua individu memiliki sifat ini.[113]
Filsafat Timur
[sunting | sunting sumber]
Banyak aliran pemikiran dalam filsafat Timur membicarakan persoalan keberadaan dan segala implikasinya. Misalnya, aliran kuno Hindu Samkhya merumuskan suatu dualisme metafisis, di mana keberadaan terdiri atas dua asas: kesadaran murni (Purusha) dan materi (Prakriti). Samkhya menjelaskan lahirnya jagat raya sebagai hasil interaksi dari dua prinsip tersebut.[114] Sementara itu, filsuf Veda Adi Shankara (sekitar 700–750 M) mengembangkan pendekatan berbeda dalam mazhabnya, Advaita Vedanta. Shankara membela monisme metafisis dengan menetapkan yang ilahi (Brahman) sebagai realitas tertinggi dan satu-satunya yang benar-benar ada. Menurut pandangannya, kesan bahwa alam semesta tersusun atas banyak entitas yang berbeda hanyalah ilusi (Maya).[115] Hakikat realitas tertinggi ini digambarkan dengan istilah Sat Chit Ananda—yang berarti keberadaan, kesadaran, dan kebahagiaan sejati.[116]
Salah satu doktrin utama dalam filsafat Buddha dikenal sebagai "tiga corak keberadaan" (aniccā, anattā, dan dukkha). Aniccā menegaskan bahwa segala sesuatu tunduk pada perubahan—tidak ada yang kekal, semua akan berubah pada waktunya. Anattā menyatakan bahwa manusia tidak memiliki inti diri yang abadi atau suatu jati diri yang terpisah. Ketidaktahuan akan aniccā dan anattā inilah yang dianggap sebagai akar dukkha, karena melahirkan keterikatan yang pada akhirnya menimbulkan penderitaan.[117]

Gagasan pokok dalam banyak aliran filsafat Tiongkok, seperti Daoisme dari Laozi (abad ke-6 SM), adalah bahwa terdapat prinsip mendasar yang dikenal dengan sebutan dao, sumber dari seluruh wujud. Istilah ini kerap diterjemahkan sebagai "jalan", dan dipahami sebagai kekuatan kosmik yang menata hukum alam semesta. Para metafisikus Tiongkok memperdebatkan apakah dao merupakan bentuk keberadaan itu sendiri, ataukah justru, sebagai sumber keberadaan, ia berada di ranah ketiadaan.[118]
Konsep keberadaan juga menempati posisi sentral dalam filsafat Arab-Persia. Para pemikir Islam seperti Avicenna (980–1037 M) dan Al-Ghazali (1058–1111 M) membahas hubungan antara wujud dan hakikat, serta menegaskan bahwa hakikat sesuatu mendahului keberadaannya. Agar sesuatu benar-benar ada, hakikatnya harus diwujudkan terlebih dahulu. Namun, filsuf Mulla Sadra (1571–1636 M) menolak gagasan prioritas hakikat atas keberadaan. Baginya, hakikat hanyalah konsep yang digunakan akal budi untuk memahami wujud, sementara keberadaan itu sendiri mencakup keseluruhan realitas.[119]
Tradisi lainnya
[sunting | sunting sumber]Filsafat masyarakat pribumi Amerika cenderung menekankan keterhubungan segala wujud serta pentingnya menjaga keseimbangan dan harmoni dengan alam. Hal ini sering dipadukan dengan pandangan animistis, yang mengakui adanya jiwa atau esensi spiritual dalam sebagian atau seluruh entitas, termasuk tumbuhan, batu, dan bahkan tempat-tempat tertentu.[120]
Perhatian terhadap aspek relasional dari keberadaan juga tampak dalam filsafat Afrika, yang mengeksplorasi bagaimana segala sesuatu saling terhubung secara kausal membentuk suatu tatanan kosmos. Filsafat Afrika juga menyoroti gagasan tentang adanya daya hidup yang mendasari dan menjiwai segala sesuatu, memungkinkan entitas untuk saling memengaruhi dalam jejaring kehidupan.[121]
Dalam berbagai disiplin ilmu
[sunting | sunting sumber]Logika formal
[sunting | sunting sumber]Logika formal menelaah argumen yang sah secara deduktif.[122] Dalam logika orde-pertama, yang merupakan sistem logika formal paling umum digunakan, keberadaan dinyatakan melalui kuantor eksistensial (). Misalnya, rumus dapat dipakai untuk menyatakan bahwa kuda ada. Variabel x merentang atas seluruh unsur dalam domain kuantifikasi, dan kuantor eksistensial menegaskan bahwa setidaknya terdapat satu unsur dalam domain tersebut yang merupakan kuda. Dalam logika orde-pertama, semua istilah tunggal seperti nama menunjuk pada objek dalam domain dan mengandaikan keberadaan objek itu. Karena itu, dari pernyataan (Bill jujur) dapat diturunkan (ada seseorang yang jujur).[123] Jika hanya ada satu objek yang memenuhi deskripsi tertentu, maka digunakan kuantor eksistensial unik .[124]
Banyak sistem logika yang berakar pada logika orde-pertama juga mengikuti gagasan ini. Logika bebas merupakan pengecualian, karena ia mengizinkan adanya nama kosong yang tidak menunjuk pada objek manapun dalam domain.[125] Dengan modifikasi ini, penalaran logis dapat diterapkan pada entitas fiksi, tidak hanya pada objek nyata.[126] Dalam logika bebas, seseorang dapat mengekspresikan bahwa Pegasus adalah seekor kuda bersayap dengan rumus . Namun, konsekuensinya adalah dari pernyataan semacam ini tidak bisa ditarik kesimpulan bahwa sesuatu sungguh ada. Artinya, inferensi dari menuju dianggap tidak sah dalam logika bebas, meskipun sah dalam logika orde-pertama.
Logika bebas menambahkan predikat eksistensi khusus () untuk menyatakan bahwa suatu istilah tunggal merujuk pada objek yang benar-benar ada. Sebagai contoh, rumus dapat dipakai untuk menyatakan bahwa Homer ada, sementara menegaskan bahwa Pegasus tidak ada.[127]
Lain-lain
[sunting | sunting sumber]Bidang-bidang seperti epistemologi, filsafat pikiran, dan filsafat bahasa membahas representasi mental maupun linguistik dalam upaya memahami hakikat pengetahuan, pikiran, serta bahasa. Dari sini lahirlah persoalan tentang referensi, yakni bagaimana representasi dapat merujuk pada objek yang sungguh ada. Contoh representasi tersebut mencakup keyakinan, pikiran, persepsi, kata-kata, dan kalimat. Sebagai misal, dalam pernyataan "Barack Obama adalah seorang Demokrat", nama "Barack Obama" menunjuk kepada individu tertentu. Persoalan referensi ini juga menyentuh epistemologi persepsi, terutama mengenai apakah kesan indrawi membentuk kontak langsung dengan realitas.[128]
Persoalan referensi erat kaitannya dengan hubungan antara representasi yang benar dan keberadaan. Menurut teori pembuat-kebenaran (truthmaker theory), setiap representasi yang benar menuntut adanya "pembuat kebenaran", yakni suatu entitas yang keberadaannya menjadikan representasi itu benar. Misalnya, kalimat "kanguru hidup di Australia" benar karena memang ada kanguru di Australia; keberadaan kanguru itulah yang menjadi pembuat kebenaran dari kalimat tersebut. Teori ini menegaskan adanya jalinan erat antara kebenaran dan eksistensi: untuk setiap representasi yang benar, terdapat pula pembuat kebenarannya.[129]
Berbagai disiplin ilmu pun memusatkan perhatian pada keberadaan jenis-jenis entitas tertentu beserta hukum yang mengatur mereka—misalnya benda fisik dalam fisika dan makhluk hidup dalam biologi.[130] Ilmu alam menggunakan beragam konsep untuk mengklasifikasi entitas; kategori ini disebut jenis alami, mencakup proton, emas, maupun gajah. Bagi realis ilmiah, entitas-entitas itu memiliki keberadaan yang independen dari pikiran manusia. Sebaliknya, anti-realis ilmiah berpendapat bahwa keberadaan kategori tersebut berakar pada persepsi, teori, serta konstruksi sosial manusia.[131]
Persoalan serupa muncul mengenai eksistensi jenis-jenis sosial, yakni konsep-konsep dasar dalam ilmu sosial seperti ras, gender, disabilitas, uang, dan negara-bangsa.[132] Jenis-jenis sosial ini kerap dipahami sebagai konstruksi sosial yang, meski berguna untuk menjelaskan kerumitan kehidupan manusia, tidak termasuk ke dalam realitas objektif pada tataran paling mendasar.[133] Menurut hipotesis kontroversial Sapir–Whorf, lembaga sosial berupa bahasa memengaruhi, bahkan mungkin sepenuhnya menentukan, cara manusia memandang dan memahami dunia.[134]
Eksistensialisme adalah aliran pemikiran yang menelaah hakikat keberadaan manusia. Salah satu gagasan pokoknya ialah bahwa eksistensi mendahului esensi. Artinya, eksistensi lebih mendasar daripada esensi. Maka, kodrat dan tujuan manusia tidak hadir terlebih dahulu, melainkan terbentuk seiring dengan proses hidup itu sendiri. Dalam pandangan ini, manusia dilemparkan ke dalam dunia yang tidak memiliki makna batiniah yang telah ditentukan sejak awal. Mereka sendirilah yang harus menentukan tujuan dan makna hidupnya.[135] Eksistensialisme feminis mengkaji pengaruh gender terhadap eksistensi manusia, misalnya terhadap pengalaman kebebasan.[136] Tokoh-tokoh eksistensialis berpengaruh antara lain Søren Kierkegaard (1813–1855), Friedrich Nietzsche (1844–1900), Jean-Paul Sartre (1905–1980), dan Simone de Beauvoir (1908–1986).[137] Pemikiran eksistensialis juga berpengaruh dalam refleksi sosiologis tentang peran eksistensi manusia. Sosiologi eksistensial mengkaji cara manusia mengalami dunia sosial serta membangun realitas.[138] Teori eksistensi, yang lebih baru, menitikberatkan pada dimensi temporal eksistensi dalam masyarakat, dengan menelaah bagaimana tonggak-tonggak eksistensial yang ingin dicapai manusia memengaruhi jalan hidup mereka.[139]
Para matematikawan pun kerap menaruh perhatian pada keberadaan objek matematika tertentu.[140] Misalnya, ahli teori bilangan menanyakan berapa banyak bilangan prima terdapat dalam suatu interval tertentu.[141] Pernyataan bahwa terdapat sekurang-kurangnya satu objek matematika yang memenuhi suatu deskripsi tertentu disebut teorema eksistensi.[142] Metafisikawan matematika menelaah apakah objek-objek matematika ada tidak hanya dalam kaitannya dengan aksioma matematika, tetapi juga sebagai bagian dari struktur fundamental realitas. Posisi ini ditegaskan oleh platonis, sedangkan nominalis beranggapan bahwa objek matematika tidak memiliki wujud eksistensi yang lebih substansial, misalnya karena mereka hanyalah fiksi yang berguna.[143]
Banyak perdebatan dalam teologi berkisar pada eksistensi Yang Ilahi, dengan argumen yang diajukan baik untuk mendukung maupun menentangnya. Argumen kosmologis menyatakan bahwa Tuhan harus ada sebagai sebab pertama untuk menjelaskan fakta-fakta tentang keberadaan serta aspek-aspek alam semesta.[144] Menurut argumen teleologis, satu-satunya penjelasan bagi keteraturan dan kompleksitas alam semesta serta kehidupan manusia adalah dengan merujuk pada Tuhan sebagai perancang cerdas.[145] Sebaliknya, argumen yang berpengaruh menentang keberadaan Tuhan berakar pada masalah kejahatan, sebab tampak sukar menjelaskan bagaimana kejahatan dapat ada jika Tuhan bersifat mahakuasa, mahatahu, dan mahabijaksana.[146] Argumen lain menunjuk pada ketiadaan bukti konkret mengenai eksistensi Tuhan.[147]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]Catatan
[sunting | sunting sumber]- ↑ Metafisika adalah cabang filsafat yang meneliti aspek paling mendasar dari kenyataan, seperti keberadaan, objek dan sifatnya, kemungkinan dan kebutuhan, ruang dan waktu, kausalitas, materi, dan pikiran.[6] Sebagai subdisiplin, ontologi menelaah hakikat keberadaan dan kategori makhluk.[7]
- ↑ Dalam terminologinya sendiri, Heidegger menggunakan istilah "Existenz" dan "Ek-sistenz" untuk menggambarkan cara keberadaan Dasein, yang merupakan mode keberadaan khas manusia.[23]
- ↑ Universal adalah ciri umum yang menjelaskan keserupaan antara entitas yang berbeda. Misalnya, sebuah pisang dan sebuah bunga matahari adalah entitas individual yang keduanya menampilkan universal kuning.[27]
- ↑ Sebuah sifat dikatakan teraktualisasi jika suatu entitas benar-benar memilikinya.[30]
- ↑ Partikular adalah entitas tunggal yang unik, seperti Sokrates atau Bulan. Tidak seperti universal, partikular tidak bisa hadir di banyak tempat sekaligus.[32]
- ↑ Menurut Model Standar dalam fisika partikel, partikel elementer bersama dengan empat gaya fundamental yang bekerja atasnya merupakan unsur paling dasar dari jagat raya. Teori dawai menghadirkan penjelasan alternatif dengan menitikberatkan pada dawai berdimensi-satu dan interaksinya.[53]
- ↑ Filsafat jiwa adalah cabang filsafat yang menyelidiki hakikat gejala-gejala mental dan bagaimana ia berhubungan dengan dunia fisik.[56]
- ↑ Sebagian pemikir menggunakan istilah "idealisme ontologis" untuk membedakannya dari pandangan idealis dalam epistemologi.[58]
- ↑ Beberapa filsuf empirisis juga memasukkan entitas yang tak dapat diamati secara langsung, seperti daya atau kewajiban moral.[62]
- ↑ Tidak seperti kemungkinan abstrak, potensialitas adalah daya nyata yang dimiliki suatu benda untuk berubah. Sebuah biji pohon ek misalnya, berpotensi tumbuh menjadi pohon ek dewasa, tetapi tak mungkin menjadi pohon elm.[101]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- ↑
- 1 2 Lowe 2005, Existence
- ↑
- ↑ Hoad 1993, hlm. 160
- ↑
- Lowe 2005, hlm. 277
- Sorensen 2023, Lead Section
- Vallicella 2010, hlm. xi
- ↑
- Carroll & Markosian 2010, hlm. 1–3
- Koons & Pickavance 2015, hlm. 1–2
- Mumford 2012, § What Is an Introduction?
- ↑
- Loux & Crisp 2017, hlm. 10–14
- Van Inwagen, Sullivan & Bernstein 2023, § 1. The Word 'Metaphysics' and the Concept of Metaphysics
- Campbell 2006, § The Categories Of Being
- ↑
- ↑
- Prior 2006, hlm. 493
- Van Inwagen 2023
- Nelson 2022, Lead Section, §2. Meinongianism
- ↑
- Van Inwagen 2023
- Nelson 2022, Lead Section, §2. Meinongianism
- Jubien 2004, hlm. 49
- ↑
- Divers 2011, hlm. 570–574
- Yagisawa 2011, hlm. 270–272
- ↑ Chakrabarti 2013, hlm. 106–107
- ↑
- Gibson 1998, hlm. 1–2
- Vallicella 2010, hlm. 16
- Jubien 2004, hlm. 47–48
- ↑
- Robinson 2008, hlm. 139
- Vallicella 2014, hlm. 46–47
- Berto 2012, hlm. 31–32
- Van Inwagen 2013, hlm. 126
- ↑
- Robinson 2008, hlm. 139
- Vallicella 2014, hlm. 46–47
- Berto 2012, hlm. 31–32
- Mumford 2014, hlm. 9
- ↑
- ↑
- Shūzō 2011, hlm. 830
- Leclerc 2002, hlm. 49
- Sorensen 2023, Lead Section
- ↑ Merriam-Webster 2024
- ↑
- Waxman 2014, hlm. 211
- Gibson 1998, hlm. 30, 33–34
- ↑
- Gibson 1998, hlm. 2
- Ceylan 1993, hlm. 329–337
- Nelson 2022, Lead Section
- ↑
- Nicholson 1996, hlm. 357–374
- Wheeler 2020, §2.2.1 The Question
- Vallicella 2010, hlm. 1
- ↑
- Nicholson 1996, hlm. 357–358
- Wheeler 2020, §2.2.1 The Question
- Inwood 1999, hlm. 89–100
- ↑
- Reck 2000, hlm. 155–156
- Aho 2021, hlm. 268–270
- Inwood 1999, hlm. 60
- ↑
- Van Inwagen 2023
- Hofweber 2023, § 3.1 Different Conceptions of Ontology
- Livingston & Cutrofello 2015, hlm. 63–64
- Gibson 1998, hlm. 3–4
- ↑
- Van Inwagen 2023
- Prior 2006, hlm. 493
- Gibson 1998, hlm. 3–4
- ↑ Hofweber 2023, § 3.1 Different Conceptions of Ontology
- ↑
- MacLeod & Rubenstein, Lead Section
- Cowling 2019, Lead Section
- Loux & Crisp 2017, hlm. 17–19
- ↑
- Lambert 1994, hlm. 3–4
- Rescher 1957, hlm. 65–69
- Jubien 2004, hlm. 52–53
- ↑ Lambert 1994, hlm. 3–4
- ↑ Orilia & Paolini Paoletti 2022, Lead Section
- ↑
- Rescher 1957, hlm. 65–69
- Hailperin 1967, hlm. 251
- ↑
- MacLeod & Rubenstein, Lead Section, § 1a. The Nature of Universals
- Campbell 2006, § Particularity and Individuality
- Maurin 2019, Lead Section
- ↑
- Gibson 1998, hlm. 133–134
- Balaguer 2016, § 1. What is Platonism?
- ↑ Gibson 1998, hlm. 138
- ↑ Gibson 1998, hlm. 3–4, 137
- ↑
- Mackie 1998, Lead Section
- Falguera, Martínez-Vidal & Rosen 2022, lead section, § 1. Introduction
- Faye 2013, hlm. 89–91
- Prior 2006, hlm. 498–499
- ↑ Lowe 2005a, hlm. 670–671
- ↑
- Belfiore 2016, hlm. 110
- Faulkner & Gregersen 2017, hlm. 298
- Prior 2006, hlm. 498–499
- ↑
- Van Inwagen 2023
- Prior 2006, hlm. 493, 498–499
- ↑
- Casati & Fujikawa, §2a. Meinongianism
- Plebani 2013, hlm. 5
- ↑
- Mackie 1998, Lead Section
- Gibson 1998, hlm. 157–158
- Jubien 2004, hlm. 49, 52
- ↑
- Gibson 1998, hlm. 157–158
- Pruss & Rasmussen 2018, hlm. 1–2
- Jubien 2004, hlm. 52
- ↑ Pruss & Rasmussen 2018, hlm. 1–2
- ↑ Pruss & Rasmussen 2018, hlm. 1–4
- ↑ Cowling 2017, hlm. 82–83
- ↑
- Gibson 1998, hlm. 157–158
- Pruss & Rasmussen 2018, hlm. 1–6
- Haan 2020, hlm. 381
- Turner 2004, hlm. 238
- ↑
- Lin 2018, hlm. 152
- Nadler 2023, § 2.1 God or Nature
- ↑
- Nelson 2022, §3. An Anti-Meinongian First-Order View
- Jubien 2004, hlm. 49–50
- ↑
- Nelson 2022, §2. Meinongianism
- Jubien 2004, hlm. 49–50
- ↑
- Lowe 2005, Existence
- Weatherson 2021, § 6. Modal Metaphysics
- ↑
- Lowe 2005, Existence
- Casati & Fujikawa, Lead Section, §4. Why Is There Something Rather Than Nothing?
- Sorensen 2023, Lead Section, §1. Why Is There Something Rather Than Nothing?
- Pruss & Rasmussen 2018, hlm. 4–5
- ↑ Mackie 1998, Lead Section
- ↑
- Martin & Wells 2022, hlm. 1–4
- Schwichtenberg 2017, hlm. 7–8
- Chang 2024, hlm. 247
- ↑
- Smart 2023, Lead Section, §Types of Materialist Theory
- Markosian 2009, hlm. 486–487, Physical Object
- ↑
- Kim 2006, § 1. Introduction
- Addis 2013, hlm. 49–50
- Searle 2004, hlm. 183
- ↑
- Lowe 2000, hlm. 1–2
- Crumley 2006, hlm. 2–3
- ↑
- Kelly 2004, hlm. 87–88
- Smart 2023, Lead Section, § Types of Materialist Theory
- ↑ Berendzen 2023, hlm. 17
- ↑ Guyer & Horstmann 2023, § 9. The Fate of Idealism in the Twentieth Century
- ↑ Sprigge 1998, Lead Section
- ↑
- Kelly 2004, hlm. 87–88
- Calef, Lead Section, § 3. Descartes’ Dualism
- ↑ Lamarque 1998, Lead Section
- ↑
- Kroon & Voltolini 2023, Lead Section
- Lamarque 1998, Lead Section
- Prior 2006, hlm. 493
- ↑
- Kroon & Voltolini 2023, § 1. The Metaphysics of Fictional Entities
- Lamarque 1998, § 2. Deflationary theories, § 3. Hospitable theories
- ↑
- Jacob 2023, 2. Intentional inexistence
- Kriegel 2007, hlm. 307–308
- O’Madagain, § 2. Intentional Objects
- ↑
- Casati & Fujikawa, Lead Section, §3. How Many Ways of Being Existent?
- McDaniel 2017, hlm. 77
- ↑
- Casati & Fujikawa, Lead Section, §3. How Many Ways of Being Existent?
- McDaniel 2017, hlm. 5–6
- ↑ Casati & Fujikawa, §3. How Many Ways of Being Existent?
- ↑
- ↑
- Casati & Fujikawa, §3. How Many Ways of Being Existent?
- Gibson 1998, hlm. 5–8
- ↑
- Casati & Fujikawa, §3. How Many Ways of Being Existent?
- Berto & Plebani 2015, hlm. 60
- 1 2 3 Casati & Fujikawa, §2a. Meinongianism
- 1 2 Nelson 2022, Lead Section
- ↑
- Orilia & Paolini Paoletti 2022, Lead Section
- Lowe 2005, hlm. 683
- Bigelow 1998, Lead Section
- ↑
- Nelson 2022, Lead Section
- Mackie 1998, Lead Section
- Casati & Fujikawa, Lead Section
- Blackburn 2008, Existence
- ↑
- Mackie 1998, §1 Objects and Existence
- Nelson 2022, Lead Section, § 1. Frege and Russell: Existence Is Not a Property of Individuals
- ↑
- Casati & Fujikawa, Lead Section, §1. Existence as a Second-Order Property and Its Relation to Quantification
- Blackburn 2008, Existence
- 1 2
- Blackburn 2008, Existence
- Casati & Fujikawa, §1. Existence as a Second-Order Property and Its Relation to Quantification
- ↑
- Casati & Fujikawa, §1. Existence as a Second-Order Property and Its Relation to Quantification
- Lowe 2005, Existence
- ↑ Nelson 2022, § 1. Frege and Russell: Existence Is Not a Property of Individuals
- ↑
- Casati & Fujikawa, Lead Section, §1. Existence as a Second-Order Property and Its Relation to Quantification
- Mackie 1998, §2 The Quantifier Account of Existence
- Blackburn 2008, Existence
- Lowe 2005, Existence
- ↑
- Portner 2006, hlm. 141–143
- Ellis 2014, hlm. 39–40
- ↑
- Magnus 2005, hlm. 52–53
- Uzquiano 2022, Lead Section
- ↑ Mackie 1998, §2 The Quantifier Account of Existence
- ↑
- Mackie 1998, §2 The Quantifier Account of Existence
- Blackburn 2008, Existence
- ↑
- Nelson 2022, § 1. Frege and Russell: Existence Is Not a Property of Individuals
- Mackie 1998, §2 The Quantifier Account of Existence
- Nelson 2022, § 1. Frege and Russell: Existence Is Not a Property of Individuals
- ↑
- Casati & Fujikawa, Lead Section, §2. Existence as a First-Order Property and Its Relation to Quantification
- Nelson 2022, Lead Section
- ↑
- Casati & Fujikawa, §2a. Meinongianism
- Lowe 2005, Existence
- ↑
- Nelson 2022, § 2. Meinongianism
- Casati & Fujikawa, §2a. Meinongianism
- ↑
- Casati & Fujikawa, §2a. Meinongianism
- Lowe 2005, Existence
- Küng 2012, hlm. 208
- 1 2 3 Mackie 1998, §1 Objects and Existence
- ↑
- Nelson 2022, § 2. Meinongianism
- Mackie 1998, §1 Objects and Existence
- ↑
- Nelson 2022, § 2. Meinongianism
- Casati & Fujikawa, §2a. Meinongianism
- Casati & Fujikawa, §2a. Meinongianism
- Jacquette 2015, hlm. 78–79, 180
- 1 2 Casati & Fujikawa, §2b. Universalism
- ↑
- Nelson 2022, § 3. An Anti-Meinongian First-Order View
- Casati & Fujikawa, §2b. Universalism
- ↑ Nelson 2022, § 3. An Anti-Meinongian First-Order View
- ↑
- Graham, Lead Section, § 1. Presocratic Thought
- Duignan 2010, hlm. 9–11
- ↑
- ↑
- Trott 2019, hlm. 109–110
- Grayling 2019, § Aristotle
- ↑
- ↑
- Cohen & Reeve 2021, § 12. Actuality and Potentiality
- Ackrill 2005, hlm. 34
- ↑
- Graham, § 6. Post-Hellenistic Thought
- Adamson 2015, hlm. 209–215
- Emilsson 2005, hlm. 357–388
- Lawson 2004, hlm. 200
- ↑
- Grayling 2019, § Anselm
- Dehsen 2013, hlm. 10
- Prior 2006, hlm. 493–494
- ↑ Prior 2006, hlm. 494
- ↑
- Nelson 2022, Lead Section
- Prior 2006, hlm. 495
- ↑
- Nelson 2022, Lead Section
- Casati & Fujikawa, §1. Existence as a Second-Order Property and Its Relation to Quantification
- ↑
- Rosen 2014, hlm. 15, 113–114
- Magee 2010, hlm. 47–48
- ↑
- Kriegel 2018, hlm. 103–104, 119
- Brandl & Textor 2022, Lead Section, §1.3 Part III: Existential Judgements, §2. Brentano and His Precursors on Existential Judgement
- Rollinger 2013, hlm. 226
- Husserl 2019, hlm. 184
- ↑
- Nelson 2022, Lead Section
- Blackburn 2008, Existence
- ↑ Prior 2006, hlm. 496–498
- ↑
- Lowe 2005, Existence
- Casati & Fujikawa, §2a. Meinongianism
- ↑ Casati & Fujikawa, §1. Existence as a Second-Order Property and Its Relation to Quantification, §2a. Meinongianism
- ↑
- Nelson 2022, Lead Section
- Casati & Fujikawa, §2a. Meinongianism
- ↑
- Leaman 2002, hlm. 77–78
- Perrett 2016, § The Classical Period of Indian Philosophy
- Ruzsa 2023, Lead Section, §4. Metaphysics
- Eraly 2011, hlm. 514–516
- ↑
- Perrett 2016, § The Medieval Period of Indian Philosophy
- Dalal 2021, Lead Section, § 1. Life and Works
- Menon, Lead Section
- Dalal 2010, hlm. 6
- ↑
- Vanamali 2015, hlm. 53–54
- Reddy 2020, hlm. 110
- Sastry 2022, hlm. 38
- ↑
- Smith & Worden 2003, hlm. 18
- Gómez 2007, hlm. 110
- Allen 2015, hlm. 114
- ↑
- Perkins 2019, Lead Section, §3.1 Monism
- EB staff 2017, § Periods of Development of Chinese Philosophy
- Wang, Bao & Guan 2020, hlm. 6–8
- Blishen 2023, hlm. 7–8
- ↑
- Leaman 2002, hlm. 77–78
- DeGrood 1976, hlm. 37
- Dalal 2010a, hlm. 41–42
- ↑
- Pack 2022, hlm. 162–163
- Sinclair 2022, hlm. 96–97
- Eyghen 2023, hlm. 131–134
- Cohan 2010, hlm. 49
- ↑
- Lajul 2017, hlm. 29
- Iyare 2023, hlm. 478
- ↑
- MacFarlane 2017
- Corkum 2015, hlm. 753–767
- Blair & Johnson 2000, hlm. 93–95
- Magnus 2005, hlm. 12–14, § 1.6 Formal Languages
- ↑
- Shapiro & Kouri Kissel 2022, §2.1 Building Blocks
- Cook 2009, hlm. 111
- Montague 2018, hlm. 214
- Casati & Fujikawa, Lead Section, §1. Existence as a Second-Order Property and Its Relation to Quantification
- ↑
- Roberts 2009, hlm. 52
- Johar 2024, hlm. 38
- ↑ Nolt 2021, Lead Section, §1. The Basics
- ↑ Nolt 2021, §5.4 Logics of Fiction
- ↑
- Lenzen 2013, hlm. 118
- Nolt 2021, Lead Section, §1. The Basics, §5.4 Logics of Fiction
- Sider 2010, hlm. 129
- ↑
- Urban 2014, hlm. 33
- Raftopoulos & Machamer 2012, hlm. 1–2, 142
- Michaelson & Reimer 2022, Lead Section, § 1. Introduction
- Audi 2006, § Epistemology, § Philosophy of Mind, § Philosophy of Language
- ↑
- Asay, Lead Section
- Smith, Mulligan & Simons 2013, hlm. 9–10
- ↑ Ney 2014, hlm. xiii
- ↑
- Brzović, Lead Section, § 3. Metaphysics of Natural Kinds
- Bird & Tobin 2024, Lead Section, § 1.2 Natural Kind Realism
- Liston, Lead Section
- ↑
- ↑
- ↑
- Trask 2007, hlm. 154
- Parkin 2013, hlm. 238
- ↑
- Burnham Papandreopoulos, Lead Section, §1c. Freedom, §1e. Existence, §1f. Irrationality/Absurdity
- Aho 2023, Lead Section
- ↑
- ↑
- Burnham Papandreopoulos, § Key Existentialist Philosophers
- Aho 2023, Lead Section
- ↑ Melnikov & Kotarba 2015, Existential Sociology
- ↑
- Baert, Morgan & Ushiyama 2022, hlm. 7–8
- Flisbäck & Bengtsson 2024, hlm. 1–2
- ↑
- Chihara 1990, hlm. 3
- Lucas 1990, hlm. 75
- ↑
- Vinogradov & Karatsuba 1986, hlm. 8
- Borwein et al. 2008, hlm. 63
- ↑ Lucas 1990, hlm. 75
- ↑
- Azzouni 2015, hlm. 133
- Chihara 1990, hlm. 3–4
- Lucas 1990, hlm. 75–76
- Balaguer 2023, Lead Section
- ↑
- Reichenbach 2023, Lead Section
- Ratzsch & Koperski 2023, § 1. Introduction
- ↑ Ratzsch & Koperski 2023, § 1. Introduction
- ↑ Beebe, Lead Section
- ↑ Clark, § 2. The Evidentialist Objection to Belief in God
Sumber
[sunting | sunting sumber]- Ackrill, J. L. (2005). "Aristotle". Dalam Ree, Jonathan; Urmson, J. O. (ed.). The Concise Encyclopedia of Western Philosophy and Philosophers (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-89779-7.
- Adamson, Peter (2015). Philosophy in the Hellenistic and Roman Worlds. A History of Philosophy Without Any Gaps (dalam bahasa Inggris). Vol. 2. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-872802-3.
- Addis, Laird (2013). Mind: Ontology and Explanation: Collected Papers 1981–2005 (dalam bahasa Inggris). Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-032715-1.
- AHD staff (2022). "Existence". American Heritage Dictionary. HarperCollins. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 August 2023. Diakses tanggal 10 August 2023.
- Aho, Kevin (2021). "Ek-sistence (Ek-sistenz)". Dalam Wrathall, Mark A. (ed.). The Cambridge Heidegger Lexicon. Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-00274-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-12-27. Diakses tanggal 2023-12-27.
- Aho, Kevin (2023). "Existentialism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 October 2019. Diakses tanggal 14 August 2023.
- Allen, Douglas (2015). "Traditional Philosophies and Gandhi's Approach to the Self in Pain". Dalam George, Siby K.; Jung, P. G. (ed.). Cultural Ontology of the Self in Pain (dalam bahasa Inggris). Springer India. ISBN 978-81-322-2601-7.
- Asay, Jamin. "Truthmaker Theory". Internet Encyclopedia of Philosophy. ISSN 2161-0002. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 November 2020. Diakses tanggal 14 August 2023.
- Ásta (2017). "Social Kinds". Dalam Jankovic, Marija; Ludwig, Kirk (ed.). The Routledge Handbook of Collective Intentionality. Routledge. hlm. 290–299. doi:10.4324/9781315768571-27. ISBN 978-1-315-76857-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 26, 2024. Diakses tanggal April 8, 2024.
- Audi, Robert (2006). "Philosophy". Dalam Borchert, Donald M. (ed.). Encyclopedia of Philosophy. Vol. 7 (Edisi 2.). Macmillan Reference USA. ISBN 978-0-02-865787-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-02-14.
- Azzouni, Jody (2015). "Nominalism, the Nonexistence of Mathematical Objects". Dalam Davis, Ernest; Davis, Philip J. (ed.). Mathematics, Substance and Surmise: Views on the Meaning and Ontology of Mathematics (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-319-21473-3.
- Baert, Patrick; Morgan, Marcus; Ushiyama, Rin (2022). "Existence Theory: Outline for a Theory of Social Behaviour". Journal of Classical Sociology. 22 (1): 7–29. doi:10.1177/1468795X21998247. hdl:1983/91f1de7b-a197-43a2-9805-84d3991e28d1. ISSN 1468-795X. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 16, 2024. Diakses tanggal April 16, 2024.
- Balaguer, Mark (2016). "Platonism in Metaphysics". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2019-04-28. Diakses tanggal 2023-09-01.
- Balaguer, Mark (2023). "Fictionalism in the Philosophy of Mathematics". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 24, 2018. Diakses tanggal 8 April 2024.
- Beebe, James R. "Logical Problem of Evil". Internet Encyclopedia of Philosophy. ISSN 2161-0002. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 12, 2019. Diakses tanggal 8 April 2024.
- Belfiore, Francesco (2016). The Triadic Structure of the Mind: Outlines of a Philosophical System (dalam bahasa Inggris). Rowman & Littlefield. ISBN 978-0-7618-6857-6.
- Berendzen, Joseph (2023). Embodied Idealism: Merleau-Ponty's Transcendental Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-287476-4.
- Berto, Francesco (2012). Existence as a Real Property: The Ontology of Meinongianism (dalam bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. ISBN 978-94-007-4206-2.
- Berto, Francesco; Plebani, Matteo (2015). Ontology and Metaontology: A Contemporary Guide (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. ISBN 978-1-4725-7330-8.
- Bigelow, John C. (1998). "Particulars". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. doi:10.4324/9780415249126-N040-1. ISBN 978-0-415-25069-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 25, 2024. Diakses tanggal 24 March 2024.
- Bird, Alexander; Tobin, Emma (2024). "Natural Kinds". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 16, 2024. Diakses tanggal 26 March 2024.
- Blackburn, Simon (2008). "Existence". The Oxford Dictionary of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-954143-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 August 2023. Diakses tanggal 1 September 2023.
- Blair, J. Anthony; Johnson, Ralph H. (2000). "Informal Logic: An Overview". Informal Logic. 20 (2). doi:10.22329/il.v20i2.2262. ISSN 2293-734X. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 December 2021. Diakses tanggal 29 December 2021.
- Blishen, Tony (2023). "Translator's Note". The Way to Inner Peace: Finding the Wisdom of the Tao through the Sayings of Zhuangzi (dalam bahasa Inggris). Shanghai Press. ISBN 978-1-938368-92-9.
- Borwein, Peter B.; Choi, Stephen; Rooney, Brendan; Weirathmueller, Andrea (2008). The Riemann Hypothesis: A Resource for the Afficionado and Virtuoso Alike (dalam bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. ISBN 978-0-387-72125-5.
- Brandl, Johannes L.; Textor, Mark (2022). "Brentano's Theory of Judgement". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 16, 2024. Diakses tanggal 16 August 2023.
- Brzović, Zdenka. "Natural Kinds". Internet Encyclopedia of Philosophy. ISSN 2161-0002. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 13, 2024. Diakses tanggal 26 March 2024.
- Burnham, Douglas; Papandreopoulos, George. "Existentialism". Internet Encyclopedia of Philosophy. ISSN 2161-0002. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 November 2020. Diakses tanggal 14 August 2023.
- Calef, Scott. "Dualism and Mind". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 17, 2024. Diakses tanggal 9 June 2024.
- Campbell, Keith (2006). "Ontology". Dalam Borchert, Donald M. (ed.). Encyclopedia of Philosophy. Vol. 7 (Edisi 2.). Macmillan Reference USA. ISBN 978-0-02-865787-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 29, 2021. Diakses tanggal March 25, 2024.
- Carroll, John W.; Markosian, Ned (2010). An Introduction to Metaphysics (Edisi 1). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-82629-7.
- Casati, Filippo; Fujikawa, Naoya. "Existence". Internet Encyclopedia of Philosophy. ISSN 2161-0002. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 August 2023. Diakses tanggal 7 August 2023.
- Ceylan, Yasin (1993). "A Critical Approach to the Avicennian Distinction of Essence and Existence". Islamic Studies. 32 (3): 329–337. ISSN 0578-8072. JSTOR 20840134. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-08-11. Diakses tanggal 2023-09-01.
- Chakrabarti, Arindam (2013). Denying Existence: The Logic, Epistemology and Pragmatics of Negative Existentials and Fictional Discourse (dalam bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. ISBN 978-94-017-1223-1.
- Chang, Donald C. (2024). On the Wave Nature of Matter: A New Approach to Reconciling Quantum Mechanics and Relativity (dalam bahasa Inggris). Springer Nature. ISBN 978-3-031-48777-4.
- Chihara, Charles S. (1990). Constructibility and Mathematical Existence (dalam bahasa Inggris). Clarendon Press. ISBN 978-0-19-152000-6.
- Clark, Kelly James. "Religious Epistemology". Internet Encyclopedia of Philosophy. ISSN 2161-0002. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 21, 2022. Diakses tanggal 8 April 2024.
- Cohan, John Alan (2010). The Primitive Mind and Modern Man (dalam bahasa Inggris). Bentham Science Publishers. ISBN 978-1-60805-087-1.
- Cohen, S. Marc; Reeve, C. D. C. (2021). "Aristotle's Metaphysics". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 11, 2020. Diakses tanggal 5 June 2024.
- Cook, Roy T. (2009). Dictionary of Philosophical Logic (dalam bahasa Inggris). Edinburgh University Press. ISBN 978-0-7486-3197-1.
- Corkum, Philip (2015). "Generality and Logical Constancy". Revista Portuguesa de Filosofia. 71 (4): 753–768. doi:10.17990/rpf/2015_71_4_0753. ISSN 0870-5283. JSTOR 43744657.
- Cowling, Sam (2017). Abstract Entities (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. ISBN 978-1-351-97063-1.
- Cowling, Sam (2019). "Universals". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. doi:10.4324/9780415249126-N065-2. ISBN 978-0-415-25069-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 March 2024. Diakses tanggal 25 March 2024.
- Crumley, Jack S (2006). A Brief Introduction to the Philosophy of Mind (dalam bahasa Inggris). Rowman & Littlefield Publishers. ISBN 978-0-7425-7212-6.
- CUP staff. "Existence". Cambridge Dictionary. Cambridge University Press. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 May 2023. Diakses tanggal 10 August 2023.
- Dalal, Roshen (2010). Hinduism: An Alphabetical Guide (dalam bahasa Inggris). Penguin Books India. ISBN 978-0-14-341421-6.
- Dalal, Roshen (2010a). The Religions of India: A Concise Guide to Nine Major Faiths (dalam bahasa Inggris). Penguin Books India. ISBN 978-0-14-341517-6.
- Dalal, Neil (2021). "Śaṅkara". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 January 2022. Diakses tanggal 19 June 2023.
- Daly, Chris (2009). "To Be". Dalam Poidevin, Robin Le; Peter, Simons; Andrew, McGonigal; Cameron, Ross P. (ed.). The Routledge Companion to Metaphysics (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-15585-9.
- DeGrood, David H. (1976). Philosophies of Essence: An Examination of the Category of Essence (dalam bahasa Inggris). John Benjamins Publishing. ISBN 978-90-6032-076-1.
- Dehsen, Christian von (2013). "Anselm of Canterbury, Saint". Dalam Dehsen, Christian von (ed.). Philosophers and Religious Leaders (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-135-95102-3.
- Divers, John (2011). "Worlds and Individuals, Possible and Otherwise, by Takashi Yagisawa". Mind. 120 (478): 570–574. doi:10.1093/mind/fzr027. ISSN 0026-4423. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-08-30. Diakses tanggal 2023-09-01.
- Duignan, Brian, ed. (2010). Ancient Philosophy: From 600 BCE to 500 CE (dalam bahasa Inggris). The Rosen Publishing Group, Inc. ISBN 978-1-61530-141-6.
- EB staff (2017). "Chinese Philosophy". Encyclopædia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 May 2015. Diakses tanggal 12 June 2023.
- Ellis, Brian (2014). The Philosophy of Nature: A Guide to the New Essentialism (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-48949-8.
- Emilsson, Eyjólfur K. (2005). "Neo-Platonism". Dalam Furley, David (ed.). II. From Aristotle to Augustine. Routledge History of Philosophy. Routledge. ISBN 978-0-203-02845-2.
- Eraly, Abraham (2011). The First Spring: The Golden Age of India (dalam bahasa Inggris). Penguin Books India. ISBN 978-0-670-08478-4.
- Eyghen, Hans Van (2023). The Epistemology of Spirit Beliefs (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. ISBN 978-1-000-86826-5.
- Falguera, José L.; Martínez-Vidal, Concha; Rosen, Gideon (2022). "Abstract Objects". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 January 2021. Diakses tanggal 12 August 2023.
- Faulkner, Nicholas; Gregersen, Erik (2017). The History of Mathematics (dalam bahasa Inggris). The Rosen Publishing Group, Inc. ISBN 978-1-68048-777-0.
- Faye, Jan (2013). "Is Time an Abstract Entity?". Dalam Stadler, Friedrich; Stöltzner, Michael (ed.). Time and History: Proceedings of the 28. International Ludwig Wittgenstein Symposium, Kirchberg am Wechsel, Austria 2005 (dalam bahasa Inggris). Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-033321-3.
- Flisbäck, Marita; Bengtsson, Mattias (2024). "A Sociology of Existence for a Late Modern World. Basic Assumptions and Conceptual Tools". Journal for the Theory of Social Behaviour. 54 (2): 229–246. doi:10.1111/jtsb.12416. ISSN 0021-8308.
- Gibson, Q. B. (1998). The Existence Principle (dalam bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. ISBN 978-0-7923-5188-7.
- Gómez, Luis O. (2007). "Pain and the Suffering Consciousness: The Alleviation of Suffering in Buddhist Discourse". Dalam Coakley, Sarah; Shelemay, Kay Kaufman (ed.). Pain and Its Transformations: The Interface of Biology and Culture (dalam bahasa Inggris). Harvard University Press. ISBN 978-0-674-02456-4.
- Graham, Jacob N. "Ancient Greek Philosophy". Internet Encyclopedia of Philosophy. ISSN 2161-0002. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 August 2022. Diakses tanggal 16 August 2023.
- Grayling, A. C. (2019). The History of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Penguin UK. ISBN 978-0-241-98086-6.
- Guyer, Paul; Horstmann, Rolf-Peter (2023). "Idealism". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 3, 2018. Diakses tanggal 10 June 2024.
- Haan, Daniel D. De (2020). Necessary Existence and the Doctrine of Being in Avicenna's Metaphysics of the Healing (dalam bahasa Inggris). Brill. ISBN 978-90-04-43452-3.
- Hailperin, Theodore (1967). "Nicholas Rescher. Definitions of "Existence." Philosophical Studies (Minneapolis), Vol. 8 (1957), pp. 65–69. – Karel Lambert. Notes on "E!". Philosophical Studies (Minneapolis), Vol. 9 (1958), pp. 60–63". Journal of Symbolic Logic. 32 (2). doi:10.2307/2271672. ISSN 0022-4812. JSTOR 2271672. S2CID 121302904.
- Hoad, T. F. (1993). The Concise Oxford Dictionary of English Etymology. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-283098-2.
- Hofweber, Thomas (2023). "Logic and Ontology". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 December 2021. Diakses tanggal 19 August 2023.
- Husserl, Edmund (2019) [1996]. Logic and General Theory of Science (dalam bahasa Inggris). Diterjemahkan oleh Hill, Claire Ortiz. Springer Nature. ISBN 978-3-030-14529-3.
- Inwood, Michael (1999). A Heidegger Dictionary. John Wiley & Sons. ISBN 978-0-631-19094-3.
- Iyare, Austine E. (2023). "Key Concerns in African Existentialism". Dalam Imafidon, Elvis; Tshivhase, Mpho; Freter, Björn (ed.). Handbook of African Philosophy (dalam bahasa Inggris). Springer Nature. ISBN 978-3-031-25149-8.
- Jacob, Pierre (2023). "Intentionality". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal August 29, 2018. Diakses tanggal 28 April 2024.
- Jacquette, Dale (2015). Alexius Meinong, The Shepherd of Non-Being. Springer. ISBN 978-3-319-18074-8.
- Johar, Syafiq (2024). The Big Book of Real Analysis: From Numbers to Measures (dalam bahasa Inggris). Springer Nature. ISBN 978-3-031-30832-1.
- Jubien, Michael (2004). "Metaphysics". Dalam Shand, John (ed.). Fundamentals of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-58831-2.
- Kelly, Eugene (2004). The Basics of Western Philosophy (dalam bahasa Inggris). Greenwood Publishing Group. ISBN 978-0-313-32352-2.
- Killmister, Suzy (2020). "Dignity, Respect, and Cognitive Disability". Dalam Cureton, Adam; Wasserman, David (ed.). The Oxford Handbook of Philosophy and Disability (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-062289-3.
- Kim, Jaegwon (2006). "1. Introduction". Philosophy of Mind (Edisi 2nd). Westview Press. ISBN 978-0-8133-4458-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-06-02. Diakses tanggal 2021-06-01.
- Koons, Robert C.; Pickavance, Timothy H. (2015). Metaphysics: The Fundamentals (Edisi 1). Wiley-Blackwell. ISBN 978-1-4051-9574-4.
- Kriegel, Uriah (2007). "Intentional Inexistence and Phenomenal Intentionality". Philosophical Perspectives. 21 (1): 307–340. doi:10.1111/j.1520-8583.2007.00129.x. ISSN 1520-8583.
- Kriegel, Uriah (2018). Brentano's Philosophical System: Mind, Being, Value (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-250910-9.
- Kroon, Fred; Voltolini, Alberto (2023). "Fictional Entities". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 17, 2024. Diakses tanggal 28 April 2024.
- Kung, Joan (1986). "Aristotle on "Being Is Said in Many Ways"". History of Philosophy Quarterly. 3 (1): 3–18. ISSN 0740-0675. JSTOR 27743750. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 16, 2024. Diakses tanggal April 11, 2024.
- Küng, Guido (2012). "Ingarden on Language and Ontology (A Comparison with some Trends in Analytic Philosophy)". Dalam Tymieniecka, Anna-Teresa (ed.). The Later Husserl and the Idea of Phenomenology: Idealism-Realism, Historicity and Nature Papers and Debate of the International Phenomenological Conference Held at the University of Waterloo, Canada, April 9–14, 1969 (dalam bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. ISBN 978-94-010-2882-0.
- Lajul, Wilfred (2017). "African Metaphysics: Traditional and Modern Discussions". Dalam Ukpokolo, Isaac E. (ed.). Themes, Issues and Problems in African Philosophy (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-319-40796-8.
- Lamarque, Peter (1998). "Fictional entities". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. doi:10.4324/9780415249126-M021-1. ISBN 978-0-415-25069-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 28, 2024. Diakses tanggal 24 March 2024.
- Lambert, Karel (1994). "A Note on Singular and General Existence". Kriterion – Journal of Philosophy. 7 (1): 3–4. doi:10.1515/krt-1994-010704. ISSN 2750-977X. S2CID 251981034.
- Lawson, Russell M. (2004). Science in the Ancient World: An Encyclopedia (dalam bahasa Inggris). ABC-CLIO. ISBN 978-1-85109-534-6.
- Leaman, Oliver (2002). Key Concepts in Eastern Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-68905-7.
- Leclerc, Ivor (2002). The Nature of Physical Existence (dalam bahasa Inggris). Psychology Press. ISBN 978-0-415-29561-1.
- Lenzen, Wolfgang (2013). "Free Epistemic Logic". Dalam Morscher, E.; Hieke, A. (ed.). New Essays in Free Logic: In Honour of Karel Lambert (dalam bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. ISBN 978-94-015-9761-6.
- Lin, Martin (2018). "The Principle of Sufficient Reason in Spinoza". Dalam Rocca, Michael Della (ed.). The Oxford Handbook of Spinoza (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-533582-8.
- Liston, Michael. "Scientific Realism and Antirealism". Internet Encyclopedia of Philosophy. ISSN 2161-0002. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 14, 2024. Diakses tanggal 29 March 2024.
- Livingston, Paul; Cutrofello, Andrew (2015). The Problems of Contemporary Philosophy: A Critical Guide for the Unaffiliated (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-1-5095-0144-1.
- Loux, Michael J.; Crisp, Thomas M. (2017). Metaphysics: A Contemporary Introduction (Edisi 4). Routledge. ISBN 978-1-138-63933-1.
- Lowe, E. J. (2000). An Introduction to the Philosophy of Mind (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-65428-9.
- Lowe, E. J. (2005). "Existence". Dalam Honderich, Ted (ed.). The Oxford Companion to Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-926479-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 February 2024. Diakses tanggal 1 September 2023.
- Lowe, E. J. (2005a). "Ontology". Dalam Honderich, Ted (ed.). The Oxford Companion to Philosophy. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-926479-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 January 2021. Diakses tanggal 2 January 2022.
- Lucas, John F. (1990). Introduction to Abstract Mathematics (dalam bahasa Inggris). Rowman & Littlefield. ISBN 978-0-912675-73-2.
- MacFarlane, John (2017). "Logical Constants". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 March 2020. Diakses tanggal 21 November 2021.
- Mackie, Penelope (1998). "Existence". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISSN 2161-0002. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 August 2023. Diakses tanggal 7 August 2023.
- MacLeod, Mary C.; Rubenstein, Eric M. "Universals". Internet Encyclopedia of Philosophy. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 February 2024. Diakses tanggal 24 March 2024.
- Magee, Glenn Alexander (2010). The Hegel Dictionary. Continuum. ISBN 978-1-84706-590-2.
- Magnus, P. D. (2005). Forall X: An Introduction to Formal Logic. State University of New York Press. ISBN 978-1-64176-026-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 December 2021. Diakses tanggal 29 December 2021.
- Markosian, Ned (2009). "Physical Object". Dalam Kim, Jaekwon; Sosa, Ernest; Rosenkrantz, Gary S. (ed.). A Companion to Metaphysics (dalam bahasa Inggris). John Wiley & Sons. ISBN 978-1-4051-5298-3.
- Martin, Stephen P.; Wells, James D. (2022). Elementary Particles and Their Interactions (dalam bahasa Inggris). Springer Nature. ISBN 978-3-031-14368-7.
- Maurin, Anna-Sofia (2019). "Particulars". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge Encyclopedia of Philosophy. doi:10.4324/9780415249126-N040-2. ISBN 978-0-415-25069-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 March 2024. Diakses tanggal 29 March 2024.
- McDaniel, Kris (2017). The Fragmentation of Being (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-103037-6.
- Melnikov, Andrey; Kotarba, Joseph A. (2015). "Existential Sociology". Dalam Ritzer, George (ed.). The Blackwell Encyclopedia of Sociology (dalam bahasa Inggris). Wiley. doi:10.1002/9781405165518.wbeose083.pub2. ISBN 978-1-4051-2433-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 30, 2024. Diakses tanggal April 30, 2024.
- Menn, Stephen (2021). "Aristotle On The Many Senses Of Being". Dalam Caston, Victor (ed.). Oxford Studies in Ancient Philosophy. Vol. 59. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-189162-5.
- Menon, Sangeetha. "Vedanta, Advaita". Internet Encyclopedia of Philosophy. ISSN 2161-0002. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 June 2023. Diakses tanggal 15 August 2023.
- Merriam-Webster (2024). "Definition of Existence". Merriam-Webster Dictionary (dalam bahasa Inggris). Merriam-Webster. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 22, 2023. Diakses tanggal 10 April 2024.
- Michaelson, Eliot; Reimer, Marga (2022). "Reference". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 December 2021. Diakses tanggal 15 August 2023.
- Montague, Michelle (2018). "Intentionality: From Brentano to Representionalism". Dalam Kind, Amy (ed.). Philosophy of Mind in the Twentieth and Twenty-First Centuries: The History of the Philosophy of Mind (dalam bahasa Inggris). Vol. 6. Routledge. ISBN 978-0-429-01938-8.
- Mumford, Stephen (2012). Metaphysics: A Very Short Introduction (Edisi 1). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-965712-4.
- Mumford, Stephen (2014). David Armstrong (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-49325-9.
- Nadler, Steven (2023). "Baruch Spinoza". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 April 2020. Diakses tanggal 23 January 2024.
- Nelson, Michael (2022). "Existence". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 September 2018. Diakses tanggal 6 August 2023.
- Ney, Alyssa (2014). Metaphysics: An Introduction. Routledge. ISBN 978-0-415-64074-9.
- Nicholson, Graeme (1996). "The Ontological Difference". American Philosophical Quarterly. 33 (4): 357–374. ISSN 0003-0481. JSTOR 20009875. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-08-19. Diakses tanggal 2023-09-01.
- Nolt, John (2021). "Free Logic". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 December 2022. Diakses tanggal 15 August 2023.
- Orilia, Francesco; Paolini Paoletti, Michele (2022). "Properties". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 16, 2024. Diakses tanggal 3 April 2024.
- O’Madagain, Cathal. "Intentionality". Internet Encyclopedia of Philosophy. ISSN 2161-0002. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 28, 2024. Diakses tanggal 28 April 2024.
- Pack, Justin (2022). Environmental Philosophy in Desperate Times (dalam bahasa Inggris). Broadview Press. ISBN 978-1-77048-866-3.
- Parkin, Alan J. (2013). Essential Cognitive Psychology (dalam bahasa Inggris) (Edisi Classic). Psychology Press. ISBN 978-1-135-00511-5.
- Perkins, Franklin (2019). "Metaphysics in Chinese Philosophy". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 February 2024. Diakses tanggal 16 August 2023.
- Perrett, Roy W. (2016). An Introduction to Indian Philosophy (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-85356-9.
- Plebani, Matteo (2013). "Introduction". Dalam Camposampiero, Favaretti Matteo; Plebani, Matteo (ed.). Existence and Nature: New Perspectives (dalam bahasa Inggris). Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-032180-7.
- Portner, Paul (2006). "Meaning". Dalam Fasold, Ralph; Connor-Linton, Jeffrey (ed.). An Introduction to Language and Linguistics (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-1-107-71766-4.
- Prior, A. N. (2006). "Existence". Dalam Borchert, Donald (ed.). Encyclopedia of Philosophy. Vol. 3 (Edisi 2nd). Macmillan Reference USA. ISBN 978-0-02-865790-5.
- Pruss, Alexander R.; Rasmussen, Joshua L. (2018). Necessary Existence (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-874689-8.
- Quinan, Christine L. (2016). "Feminism, Existential". The Wiley Blackwell Encyclopedia of Gender and Sexuality Studies (dalam bahasa Inggris) (Edisi 1). Wiley. hlm. 1–3. doi:10.1002/9781118663219.wbegss665. ISBN 978-1-4051-9694-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 17, 2024. Diakses tanggal May 23, 2024.
- Raftopoulos, Athanassios; Machamer, Peter (2012). "Reference, Perception, and Realism". Perception, Realism, and the Problem of Reference (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-19877-6.
- Ratzsch, Del; Koperski, Jeffrey (2023). "Teleological Arguments for God's Existence". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 29, 2020. Diakses tanggal 8 April 2024.
- Rea, Michael C. (2021). Metaphysics: The Basics (Edisi 2). Routledge. ISBN 978-0-367-13607-9.
- Reck, Johann Georg (2000). "Ek-sistenz". Wörterbuch der Psychotherapie. Springer. hlm. 155–156. doi:10.1007/978-3-211-99131-2_412. ISBN 978-3-211-99130-5.
- Reddy, V. Ananda (2020). "The Metaphysical Foundations of Sri Aurobindo's Vision of the Future of Humanity". Dalam Mahapatra, Debidatta Aurobinda (ed.). The Philosophy of Sri Aurobindo: Indian Philosophy and Yoga in the Contemporary World (dalam bahasa Inggris). Bloomsbury Publishing. ISBN 978-1-350-12487-5.
- Reichenbach, Bruce (2023). "Cosmological Argument". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 20, 2019. Diakses tanggal 8 April 2024.
- Reicher, Maria (2022). "Nonexistent Objects". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 February 2024. Diakses tanggal 10 August 2023.
- Rescher, Nicholas (1957). "Definitions of "Existence"". Philosophical Studies. 8 (5): 65–69. doi:10.1007/bf02304902. ISSN 1573-0883. S2CID 170408608.
- Ritzer, George; Stepnisky, Jeffrey (2017). Modern Sociological Theory (dalam bahasa Inggris). SAGE. ISBN 978-1-5063-2561-3.
- Roberts, Charles (2009). Introduction to Mathematical Proofs: A Transition (dalam bahasa Inggris). CRC Press. ISBN 978-1-4200-6956-3.
- Robinson, Howard (2008). "7. Can We Make Sense of the Idea That God's Existence Is Identical to His Essence?". Dalam Stone, Martin William Francis (ed.). Reason, Faith and History: Philosophical Essays for Paul Helm. Ashgate Publishing. ISBN 978-0-7546-0926-1.
- Rollinger, Robin D. (2013). Husserl's Position in the School of Brentano (dalam bahasa Inggris). Springer Science & Business Media. ISBN 978-94-017-1808-0.
- Rosen, Stanley (2014). The Idea of Hegel's Science of Logic. The University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-06588-5.
- Ruzsa, Ferenc (2023). "Sankhya". Internet Encyclopedia of Philosophy. ISSN 2161-0002. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 May 2019. Diakses tanggal 9 June 2023.
- Sastry, Trilochan (2022). The Essentials of Hinduism: An Introduction to All the Sacred Texts (dalam bahasa Inggris). Penguin Random House India. ISBN 978-93-5492-790-4.
- Schwichtenberg, Jakob (2017). Physics from Symmetry (dalam bahasa Inggris). Springer. ISBN 978-3-319-66631-0.
- Searle, John R. (2004). Mind: A Brief Introduction (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-988268-7.
- Shapiro, Stewart; Kouri Kissel, Teresa (2022). "Classical Logic". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 May 1998. Diakses tanggal 15 August 2023.
- Shūzō, Kuki (2011). "Contingency". Dalam Heisig, James W.; Kasulis, Thomas P.; Maraldo, John C. (ed.). Japanese Philosophy: A Sourcebook (dalam bahasa Inggris). University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-3707-5.
- Sider, Theodore (2010). Logic for Philosophy (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-265881-4.
- Sinclair, Rebekah (2022). "Righting Names: The Importance of Native American Philosophies of Naming for Environmental Justice". Dalam Dhillon, Jaskiran (ed.). Indigenous Resurgence: Decolonialization and Movements for Environmental Justice (dalam bahasa Inggris). Berghahn Books. ISBN 978-1-80073-247-6.
- Smart, John Jamieson Carswell (2023). "Materialism". Encyclopædia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 October 2023. Diakses tanggal 17 August 2023.
- Smith, Barry; Mulligan, Kevin; Simons, Peter (2013). "Truth-Makers". Dalam Monnoyer, Jean-Maurice (ed.). Metaphysics and Truthmakers (dalam bahasa Inggris). Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-032691-8.
- Smith, Peter; Worden, David (2003). Key Beliefs, Ultimate Questions and Life Issues (dalam bahasa Inggris). Heinemann. ISBN 978-0-435-30699-1.
- Sorensen, Roy (2023). "Nothingness". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 August 2006. Diakses tanggal 17 August 2023.
- Sprigge, T. L. S. (1998). "Idealism". Routledge Encyclopedia of Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 4, 2019. Diakses tanggal 9 June 2024.
- Trask, Robert Lawrence (2007). Language and Linguistics: The Key Concepts (dalam bahasa Inggris). Taylor & Francis. ISBN 978-0-415-41359-6.
- Trott, Adriel M. (2019). Aristotle on the Matter of Form: I Feminist Metaphysics of Generation (dalam bahasa Inggris). Edinburgh University Press. ISBN 978-1-4744-5525-1.
- Turner, Denys (2004). Faith, Reason and the Existence of God (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-60256-3.
- Urban, Wilbur Marshall (2014). Language and Reality: The Philosophy of Language and the Principles of Symbolism (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-85195-0.
- Uzquiano, Gabriel (2022). "Quantifiers and Quantification". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 17, 2024. Diakses tanggal 30 April 2024.
- Vallicella, William F. (2010). A Paradigm Theory of Existence: Onto-Theology Vindicated. Kluwer Academic. ISBN 978-90-481-6128-7.
- Vallicella, William F. (2014). "Existence: Two Dogmas of Analysis". Dalam Novotný, Daniel D.; Novák, Lukáš (ed.). Neo-Aristotelian Perspectives in Metaphysics (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-63009-7.
- Van Inwagen, Peter (2013). "McGinn on Existence". Dalam Bottani, Andrea; Davies, Richard (ed.). Modes of Existence: Papers in Ontology and Philosophical Logic (dalam bahasa Inggris). Walter de Gruyter. ISBN 978-3-11-032753-3.
- Van Inwagen, Peter (2023). "Existence". Encyclopædia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 June 2023. Diakses tanggal 7 August 2023.
- Van Inwagen, Peter; Sullivan, Meghan; Bernstein, Sara (2023). "Metaphysics". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 16, 2018. Diakses tanggal 17 March 2024.
- Vanamali (2015). The Science of the Rishis: The Spiritual and Material Discoveries of the Ancient Sages of India (dalam bahasa Inggris). Simon and Schuster. ISBN 978-1-62055-387-9.
- Vinogradov, I. M.; Karatsuba, A. A. (1986). "The Method of Trigonometric Sums in Number Theory". Algebra, Mathematical Logic, Number Theory, Topology (dalam bahasa Inggris). American Mathematical Society. ISBN 978-0-8218-3096-3.
- Wang, Yueqing; Bao, Qinggang; Guan, Guoxing (2020). History of Chinese Philosophy Through Its Key Terms (dalam bahasa Inggris). Springer Nature and Nanjing University Press. ISBN 978-981-15-2572-8.
- Waxman, Wayne (2014). Kant's Anatomy of the Intelligent Mind (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-932831-4.
- Weatherson, Brian (2021). "David Lewis". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 27, 2024. Diakses tanggal 12 April 2024.
- Wheeler, Michael (2020). "Martin Heidegger". The Stanford Encyclopedia of Philosophy. Metaphysics Research Lab, Stanford University. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 February 2022. Diakses tanggal 18 August 2023.
- Yagisawa, Takashi (2011). "Précis of Worlds and Individuals, Possible and Otherwise". Analytic Philosophy. 52 (4): 270–272. doi:10.1111/j.2153-960X.2011.00534.x. ISSN 2153-9596. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-08-30. Diakses tanggal 2023-09-01.
- Yao, Zhihua (2014). "The Cognition of Nonexistent Objects: Five Yogācāra Arguments". Dalam Liu, Jeeloo; Berger, Douglas (ed.). Nothingness in Asian Philosophy (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-317-68383-4.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]
Kutipan tentang Keberadaan di Wikikutip- The Concept of Existence: History and Definitions from Leading Philosophers